• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Pidana Rajam dan HAM di Indonesia

Dalam dokumen Pidana Rajam menurut Hukum Islam dan HAM (Halaman 96-100)

BAB III: KONSEP HAM INTERNASIONAL TERKAIT PEMIDANAAN

C. Pelaksanaan Pidana Rajam dan HAM di Indonesia

Pelaksanaan hukum rajam di Indonesia dinilai melanggar semangat

perlindungan Hak Asasi Manusia dan akan menurunkan martabat manusia. Salah satu

uqubat (hukuman) rajam kini termaktub dalam Qanun Jinayat yang telah disahkan DPRA.

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ifdhal Kasim

mengatakan pemberlakuan hukum rajam, selain melanggar Konvensi Internasional

Anti Penyiksaan yang diratifikasi pada 1998 juga melanggar hukum positif yang

berlaku di Indonesia. Produk hukum yang menyiksa tersebut dipandang melanggar

HAM35.

Eksekusi dengan pidana rajam juga dipandang bertentangan dengan semangat

konstitusi amandemen kedua HAM tentang jaminan perlindungan hak asasi, termasuk

tidak boleh diberlakukannya hukuman yang kejam.

Dalam draf Qanun Jinayat yang disahkan DPRA, ditetapkan hukum rajam

bagi penzina yang telah menikah. Pro dan kontra kemudian muncul terkait hal

tersebut. Sejumlah LSM, termasuk Pemerintah Aceh menolak klausul rajam.Pasal

yang menjadi pro dan kontra tersebut, yakni pasal 24 ayat (1) menetapkan hukuman

seratus kali cambuk bagi pelaku zina yang belum menikah dan hukuman rajam bagi

35

pelaku zina yang sudah menikah. Di ayat (2) disebutkan bagi pelaku jarimah seperti yang disebutkan di ayat (1) bisa juga dikenakan hukuman penjara 40 bulan36.

Hukum apabila dilihat dari artinya merupakan peraturan-peraturan yang

bersifat memaksa yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkunagan

masyarakat yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib. Pelanggaran apapun

terhadap peraturan-peraturan tersebut berakibatkan diambilnya tindakan, yaitu

dengan hukuman tertentu. Pendapat ini dikemukakan oleh J.C.T Simorangkir.

Dari azas hukum yang lain yaitu “lex specialist derohgat lex generalist

dapat disimpulkan bahwa aturan hukum 37yang khusus dapat mengeyampingkan aturan hukum yang berlaku umum, dalam kontek ini hukum pidana yang berlaku

umum dapat dikesampingkan oleh Qanun Jinayat dalam yang khusus karena berlaku secara teritorial dan individual terutama muslim untuk provinsi Aceh, dan juga

diberikan pilihan kapada non muslim untuk memilih aturan hukum yang mana dari

kedua aturan hukum tersebut, disebut dengan istilah “penundukan hukum”.

Namun dari sudut pandang Ulama “kalau kita memberikan hukuman bagi

orang yang belum diberitahukan sebelumnya tentang hukuman yang bakal dijatuhkan

kepadanya, sama halnya kita telah bertindak zalim kepada orang tersebut”. Pemikiran

tersebut tentu ada benarnya, karena pemeritah juga dengan memberlakukan sebuah

aturan hukum yaitu baik Undang-Undang maupun Qanun tidak serta merta biasanya

36

tabloid harian aceh, Selasa (15/9/2009). 37

R. Soenarto soerodibroto, KUHP dan KUHAP dilengkapi Yurisprudensi Mahkamah Agung dan Hoge Raad, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), ed-5, h. 8-9.

langsung berlaku pada saat detik, jam, hari dan tanggal itu juga. Akan tetapi

kebiasaannya dibutuhkan waktu sosialiasi yang kemungkinan sampai berbulan-bulan

dan bahkan bertahun-tahun untuk diketahui oleh hal layak masyarakat.

Berkaitan dengan sikap keras Gubernur Irwandi Yusuf seperti dikutip sebuah

koran lokal (Sabtu, 24/10/2009) yang menolak menandatangani draft Qanun Jinayat

yang disodorkan oleh DPRA disebabkan adanya poin hukuman rajam dalam qanun

tersebut yang tidak beliau setujui. Dalam pandangan beliau hukuman rajam itu

melanggar HAM dan tidak sesuai dengan hukum dalam konteks Nasional dan

Internasional

Demikianlah sedikit ulasan bagaimana pemberlakuan rajam yang termuat

dalam materi Qanun Jinayat yang akan di berlakukan di Aceh sebagai hukuman bagi

pelaku zina muhshan yang banyak di tolak oleh beberapa kalangan di Indonesia.

b. UU HAM di Indonesia

Berbicara tentang HAM di Indonesia tidak terlepas dari pembicaraan tentang

sejarah perumusan konstitusi dasar negara RI, UUD 1945. Bila kita kembali merujuk

kepada UUD tersebut akan ditemukan 7 pasal yang terkait langsung dengan hak-hak

asasi manusia. UUD negara RI sudah lahir sejak bulan Agustus 1945 sedangkan

UDHR dideklarasikan pada tanggal 10 Desember 1948, jadi umur kemerdekaan

sangatlah tertinggal karena negara-negara lain telah memiliki 30 pasal tentang

HAM.38

Diakui memang dalam rentang waktu yang cukup lama setelah proklamasi

negara RI, banyak kejadian yang di negara maju dianggap sebagai pelanggaran yang

serius terhadap hak-hak asasi manusia, namun di indonesia dipandang adalah hal

yang biasa saja. Misalnya, kebebasan beebicara dan menyatakan pendapat,

berkumpul dan berserikat. Di kala itu kebebasan mimbar sangatlah di batasi, apalagi

jika sudah berisi kritikan kebijakan-kebijakan pemerintah, dengan mudah dituduh

sebagai kegiatan subversi.39

Dalam contoh hal ini seperti apa yang dialami oleh kelompok Petisi 50, dan

yang dialami oleh korban peristiwa tanjung priok 1984. Seiring dengan

berkembangnya kemajuan yang dibawa oleh barat dari adanya kecenderungan

perubahan dalam perpolitikan Indonesia pada akhir dekade delapan puluhan telah

membawa perubahan kemajuan dalam perkembangan demokrasi.40

Maka sejak tahun 1989, presiden memasukan isu tentang HAM dan toleransi

terhadap perbedaan-perbedaan pendapat di dalam pidato kenegaraan, yang mana hal

tersebut sangat berpengaruh terhadap politik penegakan hukum di Indonesia. Di tahun

38

Adnan Buyung Nasution, Diseminasi Hak-hak Asasi Manusia, Editor, E. Shobirin Nadj dan Naning Mardiniyah, (Jakarta: LP3ES, 2000), h. 23

39

Ahmad Kosasih, HAM Dalam Persfektif Islam, (Jakarta: Salemba Diniyah, Edisi Pertama, 2003), h. 102

40

Ahmad Kosasih, HAM Dalam Persfektif Islam, (Jakarta: Salemba Diniyah, Edisi Pertama, 2003), h. 103

1993 diselenggarakan konferensi dunia tentang HAM yang dihasilkan Sekjen Wina

sebagai penegasan HAM di seluruh dunia termasuk Indonesia. Dalam konferensi

itulah Sekjen PBB Boutros Ghali menyatakan “Bahwa yang menyetujui Deklarasi

Vienna dan Piagam Aksi itu, adalah mereka yang memahami komitment masyarakat

Internasional dalam memajukan dan melindungi hak-hak asasi manusia”.41

Indonesia merupakan salah satu negara yang bergabung dalam keanggotaan

PBB dan telah resmi menjadi anggota Komisi Hak-Hak Asasi Manusia yang berpusat

di Jenewa sejak januari 1991, menyambut deklarasi wina tersebut. Maka pada tahun

1993, melalui KEPPRES RI No. 50/1993, dibentuklah Komisi Nasional Hak-Hak

Asasi Manusia (Komnas HAM). Keputusan tersebut segera disusul dengan

KEPPRES No. 476 tahun 1993 tentang susunan organisasi dan personilnya.42 Sejalan dari terbentuk pula sebuah Undang-undang Republik Indonesia tentang Hak Asasi

Manusia (HAM) No. 39 Tahun 1999.

Dalam dokumen Pidana Rajam menurut Hukum Islam dan HAM (Halaman 96-100)

Dokumen terkait