BAB II: PIDANA RAJAM MENURUT HUKUM ISLAM
A. Pengertian dan Tarikh Berlakunya Pidana Rajam
Rajam merupakan salah satu hukum pidana yang diterapkan dan diatur dalam
hukum Islam. Secara etimologi kata rajam berasal dari bahasa arab yang akar katanya
)
ج - ج ي - ج
( yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadimelempar dengan batu (
جح ي
) 1. Adapun menurut istilah bahasa Indonesia kata rajam digunakan untuk arti hukuman siksa badan (karena berbuat maksiat berat)2.Adapun defenisi rajam ditinjau dari sudut terminologi ialah hukuman yg berupa ditanam dalam tanah yang dilempari dengan batu sedang (
ع جح
)sampai terhukum mati3. Hukuman rajam adalah hukuman mati dengan cara dilempari batu oleh segenap warga yang menyaksikannya. Cara menghukum seperti ini tidak
dilakukan kecuali dalam kasus yang sangat tercela dan hanya bila penerima hukuman
1
Atabik Ali A. Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, (Jogjakarta: Multi karya Grafika pondok krapyak, 1998), h. 962, dan lihat juga pada Darul Masriq Beirut, Kamus al-
Munjid fi al- lughah wa al A’lam, (Beirut lebanon: Maktabah Syarqiyah, 1986), h. 252.
2
Pius A Partanto, M. Dahlan AL Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), h. 650.
3
Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), cet ke-1, h. 32.
benar-benar terbukti dengan teramat meyakinkan melakukan sebuah larangan yang
berat.
Rajam juga merupakan hukuman yang mengutuk pelakunya dari dosa yang
besar untuk dicuci dan disucikan dari dosanya sebelum menghadap pada Pencipta.
Seperti makna yang terkandung dalam kamus Al-munjid yang mana pidana rajam juga dapat diartikan sebagai
ج ا - ط ا - ش ا - ع
(la’nun, aw syatmun, aw thardun, aw hijrun) yang berarti kutukan (laknat), caciaan atau celaan, pengusiran dan meninggalkan4. Allah mengharamkan perzinahan serta mengancam pelakunya apabila ia seorang yang belum pernah menikah dengan hukuman dicambuk seratuskali dan diasingkan setahun sedangkan apabila pelakunya adalah seorang yang pernah
menikah maka hukumannya adalah dirajam5, istilah muhshan diambil dari kalimat
ihshan yang berarti suci yang secara istilah dapat disimpulkan orang baik laki-laki atau perempuan yang telah menikah6. Perzinahan di luar nikah adalah perkara yang sangat dikutuk oleh agama, tidak ubahnya zina adalah perbuatan yang sering
dilakukan layaknya binatang atau hewan yang hidup tanpa aturan oleh karena itu
hukuman dari zina bagi yang telah menikah itu sendiri dalam hukum Islam disebut
dengan hukuman rajam sama seperti gelar syaitan yang diberikan kepada Allah
4
Darul Masriq Beirut, Kamus al-Munjid Fii al-Lughah wa al-A’lam, (Beirut lebanon: Maktabah syarqiyah, 1986), h. 252.
5
Muhammad Abduh Malik, Perilaku Zina Menurut Pandangan Hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit Buana, 2003), h. 88, yang dikutip dari As-San’ani, Subul al-Salam, Jilid 4, h. 4.
6
Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005 ), cet ke-1, h. 31.
sebagai sifat yang membuat manusia menjadi terkutuk yaitu gelar Rajim yang berarti dilaknat atau terkutuk.
b. Tarikh Berlakunya Pidana Rajam
Membahas tentang pidana rajam jika kita menoleh kebelakang sebenarnya
sudah ada sejak zaman para nabi dan rasul di masa lalu sebelum era umat nabi
Muhammad SAW. Hukuman seperti itu berlaku secara resmi di dalam syariat Yahudi
dan Nasrani7. Dan tidak dikutuk umat terdahulu kecuali karena mereka meninggalkan hukum dan syariat yang telah Allah tetapkan. Seperti apa yang telah tersirat dalam
kitab suci Al-Qur’an :
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (QS. Al-Maidah 44).
7
Zainudin Ali, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 39, lihat juga pada Abujamin Roham, Pembicaraan disekitar Bible dan Qur’an Dalam Segi Isi dan Riwayat Penulisnya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 29.
Allah SWT kemudian menghapus berbagai macam syariat yang pernah
diturunkanNya kepada sekian banyak kelompok umat kemudian diganti dengan satu
syariat saja, yaitu yang diturunkan kepada umat nabi Muhammad SAW. Namun
ternyata Allah SWT masih memberlakukan hukuman rajam dari beberapa contoh
yang dilakukan nabi Muhammad SAW terhadap pelaku zina yang telah menikah.
Walaupun dengan pendekatan yang jauh lebih moderat dan manusiawi.
a. Pidana Rajam di Era Sebelum Nabi Muhammad
Hukum rajam pernah berlaku pada zaman nabi Musa A.S. Dalam Perjanjian
Lama, Keluaran ayat 22 pasal 19 disebutkan8 :
Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati, laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.
Bahkan seorang gadis perawan pun ketika berzina harus dihukum mati yaitu
dijatuhi hukuman rajam. Disebutkan dalam keluaran ayat 23 dalam pasal 19 dan
surat yang sama Perjanjian Lama9 :
Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu
8
Abujamin Roham, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an Dalam Segi Isi dan Riwayat
Penulisnya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 29. Lihat juga pada Al-Kitab, (Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Kitab Indonesia, 1995), h. 88.
9
Al-Kitab, (Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Kitab Indonesia, 1995), h. 88. Dan lihat pada Abujamin Roham, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an Dalam Segi Isi dan Riwayat Penulisnya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 29.
lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari tengah-tengah mereka.
Bahkan dizaman sebelum era Nabi Muhammad SAW wanita atau laki-laki yang
kedapatan berzina dengan hewan atau binatang dapat dihukum mati dengan cara
rajam karna itu ada pada kitab mereka yang berbunyi10 :
Siapa yang tidur (bersetubuh) dengan seekor binatang, pastilah dia dihukum mati (dirajam). (Keluaran 22:17).
Dalam perjanjian lama juga disebutkan tentang ayat bagi seseorang yang
menghujat Tuhan dapat dikenakan hukuman rajam pada masa itu seperti apa yang
difirmankan pada perjanjian lama11 :
Siapa yang menghujat Nama Tuhan, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu (rajam) oleh seluruh jemaat (Imamat ayat 18 pasal 28-29).
Pada zaman nabi Isa dalam Kitab Perjanjian Baru perkara ini dibicarakan
sebagaimana terkandung dalam Al-Kitab12:
Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepadanya. Ia (Yesus) duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepadanNya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata
kepada Yesus. “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat
zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian (Pen: dirajam). Apakah pendapatMu tentang hal itu?”
10
Al-Kitab, (Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Kitab Indonesia, 1995), h. 88. 11
Abujamin Roham, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an Dalam Segi Isi dan Riwayat
Penulisnya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 26. Dan lihat pada Al-Kitab, (Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Kitab Indonesia, 1995), h. 137.
12
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia (Yesus), supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menjalankanNya (Yohanes ayat 8 pasal: 2-7).
Iapun (Yesus) bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. (Yohanes 8:8)
Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. (Yohanes 8:9-10)
Dari ayat di atas sebenarnya Yesus hendak menegakkan hukum rajam seperti
apa yang ada pada kitab sebelumnya (Taurat), tetapi tidak satupun ahli-ahli Taurat
yang mau melakukannya karena tidak satupun yang merasa tidak berdosa13, semua orang pasti pernah berdosa, tetapi tentunya bukan karena dosa zina, sehingga dapat
saja melakukan hukum rajam itu bagi penzina.
Sebenarnya kunci permasalahan dalam hal ini adalah wanita itu belum dapat
dihukum secara adil, sebab jika dia berzina, paling tidak laki-laki yang ikut berzina
juga dihadapkan kepada Yesus, agar keduanya sama-sama dihukum pidana rajam
secara adil sesuai hukum Taurat, jadi bukan hanya wanitanya saja yang dihukum lihat
Perjanjian Lama kitab Ulangan 22:24 di atas14.
Berdasar kepada dalil-dalil tersebut, setidaknya menjelaskan kepada kita
bahwasanya hukuman rajam telah ada dan diberlakukan oleh umat Yahudi dan
Nasrani yang menjadi syariat yang berlaku sebelum Islam
ع ش
(syar’un man13
Abujamin Roham, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an Dalam Segi Isi dan Riwayat
Penulisnya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 27. 14
Abujamin Roham, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an Dalam Segi Isi dan Riwayat
qoblana)15. Maka berdasarkan dalil-dalil tersebut baik dari Al-Qur’an dan Hadist, maupun kitab umat Yahudi dan Nasrani menjelaskan bahwasanya rajam adalah jenis
hukuman yang ditetapkan oleh Tuhan kepada umat karena telah ada dalam kitab
masing-masing yang mesti diterapkan bagi pemeluknya bahkan Yahudi dan Nasrani
sekalipun
b. Praktek Pidana Rajam di Masa Nabi Muhammad
Ketika era nabi Muhammad SAW sendiri pidana rajam dilestarikan sebagai
sanksi hukuman zina muhshan16, di Madinah Rasulullah SAW pernah merajam laki-laki dan perempuan Yahudi yang berzina17. Hal iti karena pidana rajam telah ada dan diberlakukan semenjak zaman nabi Musa dan tertulis di kitab orang Yahudi dan
Nasrani. Dalam hal ini As-Syafii dan Ahamad berpendapat bahwa islam bukan
merupakan syarat ihshan untuk diberlakukannya pidana rajam bagi pelaku zina,
sedangkan Abu Hanifah dah Malik berpegang bahwa Islam merupakan syarat untuk
ihshan18.
15
Abdul Hamid Hakim, Ushul al-Fiqh, (Ponorogo: Darussalam Press, tnp), h. 52. 16
Muhammad Abduh malik, Perilaku Zina Menurut Pandangan Hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit Buana, 2003), h. 88, lihat juga pada As- San’ani, Subul al-Salam, Jilid 4, h. 4.
17
Lihat pada Ibnu Hajar Al-‘Atsqolani (w. 852 H), yang dikembalikan oleh Mahmud Amin
Nawawi, Bulugh al-Maram min Adillati al-Ahkam, (Surabaya: Maktabah Shahabat Ilmu, 1378 H), hadist No. 9, pada kitab Hudud, h. 272.
18
Ibnu Hajar Al-‘Atsqolani (w. 852 H), yang dikembalikan oleh Mahmud Amin Nawawi,
Bulugh al-Maram min Adillati al-Ahkam, (Surabaya: Maktabah Shahabat Ilmu, 1378 H), hadist No. 9, pada kitab Hudud, h. 272.
Disamping itu juga di masa Rasullullah banyak terjadi hukuman rajam yang
dikenakan pada pemeluk yahudi dan Islam termasuk pada sahabat-sahabat Nabi
sendiri yang mengakui akan dosanya seperti yang terjadi pada kisah Ma’iz bin
Malik19 yang mana dalam riwayat yang lengkap bahwa Ma’iz bin Malik datang
kepada Rasulullah saw. Dan berkali-kali mengaku bahwa dia telah berzina, Maka
rasulullah saw memerintahkan untuk merajamnya20.
Disamping kisah Ma’iz juga terdapat kisah perempuan yahudi yang datang kepada Nabi dan mengakui akan perbuatan zina nya terhadap laki-laki sedangkan
perempuan yahudi itu telah menikah, adapun dalam salah satu kitab perempuan itu
bernama juhainah21, maka dengan pengakuan dan berdasarkan apa yang ada pada kitabnya maka Rasulullah menghukumnya dengan pidana rajam.
Banyak sarjana yang telah berkata karena tidak ada dalam ayat Al-Qur’an yang
menjelaskan tentang hukuman rajam sampai mati, maka hukuman ini tidak dapat
19
Lihat pada keterangan Hadist No. 1233-1234 dalam A. Hassan, Tarjamah Bulugul Maram, (Bandung: Diponogoro, 1999), h. 552, dan juga lihat pada Ibnu Hajar Al-‘Atsqolani (w. 852 H), yang
dikembalikan oleh Mahmud Amin Nawawi, Bulugh al-Maram min Adillati al-Ahkam, (Surabaya: Maktabah Shahabat Ilmu, 1378 H), hadist No. 9, pada kitab Hudud, h. 272
20
Lihat pada keterangan Hadist No. 1233-1234 dalam A. Hassan, Tarjamah Bulugul Maram, (Bandung: Diponogoro, 1999), h. 552.
21
Lihat pada catatan kaki No. 5, yang terdapat dalam Ibnu Hajar Al-‘Atsqolani (w. 852 H),
yang dikembalikan oleh Mahmud Amin Nawawi, Bulugh al-Maram min Adillati al-Ahkam, (Surabaya: Maktabah Shahabat Ilmu, 1378 H), hadist No.8 dan 9, pada kitab Hudud, h. 272
dibenarkan. Hal ini persis seperti yang telah diduga oleh khalifah Umar bin Khatab22 yang secara kandungan isi:
ا ع
ّ ا ا ع
ع ها ي
ف ّخ أ
:
ي ع ها ص ا ح ع ها إ
ج ف ع يع أ ج ا يأ ي ع أا يف ف ا ي ع أ ح س
ع ج س ي ع ها ص ها س
,
ح ّت ا تيشخ ع
ا يف ها ف ج ا يا ج ا ئ ي
ت
ف
ي
ها أ
,
ج ا أ اأ
ها ف
ع ٌ ح
ا إ
حأ
ء س ا ج ا
ي ا ت ا إ
,
ح ا ت أ
,
ف ا ع إا أ
(
ا ا
س
)
Artinya: Diriwayatkan oleh ibnu Umar Bin Khatab r.a berkata; Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad SAW dengan sebenar-benarnya dan menerunkan kepadanya kitab suci (Al-Qur’an) maka dari sebagian yang diturunkan kepadanya adalah ayat tentang rajam dan kami membacanya, memeliharanya dan mencernanya maka Rasulullah SAW pun memberlakukan rajam dan kami melakukan setelahnya, aku khawatir bahwa telah berlalu waktu yang panjang, ada orang yang mungkin akan berkata; “kami tidak menemukan ayat tentang hukum rajam dalam Kitabullah”, sehingga akibatnya mereka akan tersesat dengan meninggalkan kewajiban yang telah diwahyukan Allah, ketahuilah bahwasanya hukuman rajam itu benar di dalam kitab Allah ditimpakan atas orang yang melakukan hubungan kelamin yang terlarang (berzina) sedangkan dia telah menikah dari laki-laki dan wanita, dan perbuatan itu dibuktikan oleh saksi-saksi,adanya kehamilan, atau pengakuan”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Menelaah akan hadist di atas adalah sebuah keharusan bagi umatnya untuk
menegakkan pidana rajam bagi pelaku zina yang sudah menikah, sebagaimana hal
22
Imam Abu Hasan Muslim Ibnu Hajjaji Al-Quraisy An-Naisaburi w 206-261, Shahih
Muslim, (Darul Fikri: juz ke 2, 1998), h. 107, hadist no: 3201. Lihat juga pada Zainudin Ali, Hukum
Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 41 yang dikutip dari CD Holy Qur’an dan Hadist,
Kumpulan Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, Th 2002, Hadist, No. 997 lihat juga pada Muhammad Abduh Malik Op. Cit, h. 89, yang dikutip dari As-San’ani, Subul al- Salam, Jilid. 4, h. 8. Dan Sayid Sabiq, fiqh al- Sunnah, Jilid. 2, h. 374.
yang telah dilaksanakan oleh Rasul sendiri dan para Shahabat di zaman awal mula
Islam dan juga sebagaimana bentuk kekhawatiran seorang sayyidina Umar bin
Khatab dan ‘Abbas akan hilangnya hukuman rajam dari muka bumi karena banyak
dari kaum muslim sendiri telah melupakannya23. Hal berikut adalah kulasan tentang perguliran dari pemberlakuan pidana rajam dari zaman pra Islam maupun sebelum
Islam dan beberapa isyarat dari hadist tentang kekhawtiran akan kemunduran dan
hilangnya pidana rajam dalam syariat Islam.
c. Praktek Pidana Rajam di Masa Shahabat
Pidana rajam adalah hukuman yang masih dilestarikan pemberlakuannya pada
zaman setelah wafat nya nabi Muhammad saw. Pada masa Umar bin Khatab khalifah
yang ke-3 ini mengalami kekhawatiran akan hilangnya pidana rajam ini karena
dinasakh dari Al-Qur’an sehingga banyak golongan yang meninggalkannya dan tidak
memberlakukannya lalu kemudian Umar bin Khatab setelah menunaikan ibadah haji
di akhir hajinya yang beliau lakukan beliau berdiri di atas mimbar dan berkhutbah
dengan khutbah yang panjang untuk menyampaikan perintah rasul tentang ayat rajam
dan pesan tentang pemberlakuan pidana rajam24.
23
Muhammad Abduh Malik, Perilaku ZinaMenurut Pandangan hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit Buana, 2003), h. 89 yang di kutip dari as-San’ani, Subul al- Salam, Jilid. 4, h. 8. Dan Sayid Sabiq, fiqh al- Sunnah, Jilid. 2, h. 374
24
Imam Al- Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, (Jakarta: Pustaka Amani, 2001), Jilid 1&2, cet ke-1, h. 546, hadist No, 1037, hadist ini diriwayatkan oleh Bukhari, hadist No. 6830, lihat juga pada catatan kaki No. 1, h. 271, pada Ibnu Hajar Al-‘Atsqolani (w. 852 H), yang dikembalikan oleh Mahmud Amin Nawawi, Bulughub al-Maram min Adillati al-Ahkam, (Surabaya: Maktabah Shahabat Ilmu, 1378 H)
Pada masa Ali bin Abi Thalib diriwayatkan pernah memberlakukan pidana
rajam pada zaman ketika beliau menjadi khalifah ke-4. Pidana rajam tersebut
dilakukan terhadap perempuan yang bernama Surakhah karena telah berbuat zina
namun perempuan tersebuat adalah perempuan yang telah menikah, lalu kemudian
khalifah Ali bin Abi Thalib menghukum cambuk Surakhah pada hari kamis lalu
merajamnya pada hari jumat25. Al-Hazimi (w. 584 H), Ahmad (w. 241 H), Ishaq (w.212 H), Daud (w. 275 H) sepakat akan penggabungan hukum tersebut
sebagaimana shahabat Ali bin Abi Thalib lakukan26. Beliau mempertahankan pendapatnya bahwa dia mencambuk sesuai dengan perintah Allah lalu merajamnya
sesuai dengan perintah Rasulullah27. Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib menggabungkan memandang dera seratus kali adalah perintah dan hak Allah dan
merajamnya karena sunnah Rasulullah seperti apa yang dipaparkan dalam hadist di
bawah28:
ا ع ع
ت
:
س ا ي ع ها ص ها س
:
ع ا خ ع ا خ
ها عج
ي س
.
ج ا ئ ج ي ي ا س ئ ج ا
(
ا
ا اا ع ج ا
يئ س ا
)
25Abdurrahman I, Tindak Pidana Dalam Syariat Islam, Rineka Cipta Jakarta,1991.Hal 36-37. 26
Ahmad Wardi Muslich, Op. Cit, h. 35, lihat juga pada Muhammad Abduh Malik, Perilaku Zina Menurut Pandangan hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit Buana, 2003), h. 89 yang di kutip dari as-San’ani, Subul al- Salam, Jilid. 4, h. 8. Dan Sayid Sabiq, fiqh al- Sunnah, Jilid. 2, h. 374.
27
Abdurrahman I. Tindak Pidana Dalam Syariat Islam,( Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h. 36-37.
28
Imam Abu Hasan Muslim Ibnu Hajjaji Al-Quraisy An-Naisaburi w 206-261, Shahih
Muslim, (Darul Fikri: juz ke 2, 1998), h. 108, hadist no: 3211, lihat jg pada A. Hassan, Tarjamah
Artinya: Dari ubaidah ibn Ash-Shamit ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Ambillah dariku, ambillah dariku, sesungguhnya Allah telah memberikan jalan keluar (hukuman) bagi mereka (penzina). Jejaka dan gadis hukumannya dera seratus kali dan pengasingan selama satu tahun sedangkan duda dan janda dera seratus kali dan rajam. (diriwayatkan
oleh jama’ah: Muslim, Abu daud dan Tirmidzi, kecuali Bukhari dan
Nasa’i dalam lafadz yang berbeda).
d. Praktek Pidana Rajam di Indonesia
Sejauh ini pidana rajam pernah diberlakukan di Indonesia khususnya pada kota
Ambon seperti apa yang telah diuraikan oleh Abduh malik (Dosen UIN Syarif
Hidayaullah) tentang pelaksanaan rajam di Ambon29. Pada tanggal 27 maret 2001, terhadap Abdullah (31) ayah dari tiga anak salah satu anggota laskar jihad ahlu sunnah wal jamaah. Abdullah yang menjabat sebagai anggota laskar jihad ahlu
sunnah wal jama’ah ini melakukan perbuatan zina muhshan secara paksa setelah saling berkirim surat oleh seorang gadis (13) yang bekerja sebagai pengasuh bayi
yang tinggal di gang ponegoro ambon30.
Setelah perbuatan Abdullah diketahui maka berdasarkan musyawarah para
penasehat laskar jihad ahlu sunnah wal jama’ah pun menghukumnya dengan pidana
rajam. Eksekusi ini dilakukan pada tanggal 27 maret 2001, yang dipimpin oleh
Ustadz Ja’far Umar Thalib (pemimpin laskar jihad)31
. Dari berita ini diketahui
29
Muhammad Abdul Malik, Perilaku Zina Menurut Pandangan Hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit Buana, 2003), h. 223.
30
Harian Republika, pada bulan Mei, 11 dan 12 mei 2001. 31
wawancara Abduh Malik terhadap saudara Hardi Ibnu Harun, kepala devisi penerangan laskar jihad ahlu sunnah wal jamaah, pada hari kamis, 28 juni 2001, jam 11.30-13.00WIB.di kantor laskar jihad ahlu sunnah wal jamaah, jalan cempaka putih tengah 26 B No. 78, Jakarta pusat, lihat pada Muhammad Abdul Malik, Perilaku Zina Menurut Pandangan Hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit Buana, 2003), h. 223.
bahwasanya masih ada umat Islam yang sejati memeluk hukum agamanya dengan
memberlakukan pidana rajam bagi anggotanya yang melakukan zina muhshan. Hal
ini diyakini oleh para kelompok laskar jihad ahlu sunnah wal jama’ah karena lebih
baik dan lebih mempunyai nilai mashlahat bagi masyarakat yang mana bukan hanya
mematuhi perintah Al-Qur’an dan sunnah namun juga sebagai pembersihan dan
pensucian bagi pelaku dan masyarakat sekitarnya.