i SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I)
Oleh:
Usep Syafii Sanjabil Ms.Sy NIM: 105045101502
Pembimbing:
Dr. Asmawi, M.Ag NIP: 1955725 200012 2 001
KONSENTRASI KEPIDANAAN ISLAM PROGRAM STUDI JINAYAH SYAR’IYAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
ii
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam (S.H.I)
Oleh:
Usep Syafii Sanjabil Ms.Sy NIM: 105045101502
Pembimbing:
Dr. Asmawi, M.Ag NIP: 1955725 200012 2 001
KONSENTRASI KEPIDANAAN ISLAM
PROGRAM STUDI JINAYAH SYAR’IAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI)
Oleh:
Usep Syafii Sanjabil Ms.Sy NIM: 105045101502
KONSENTRASI KEPIDANAAN ISLAM
PROGRAM STUDI JINAYAH SYAR’IAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Hidayatullah Jakarta pada tanggal 23 Juni 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Syariah (S.Sy).
Jakarta, 23 Juni 2011
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum
Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM
NIP: 195505051982031012
Panitia Ujian Munaqasyah
Ketua : Dr. Asmawi, M. Ag (...)
NIP: 197210101997031008
Sekretaris : Afwan Faizin, M. Ag (...)
NIP: 197210262003121001
Pembimbing : Dr. Asmawi, M. Ag (...)
NIP: 197210101997031008
Penguji I : Drs. Abu Tamrin, SH, MH (...)
NIP: 196509081995031001
Penguji II : Afwan Faizin, M. Ag (...)
iii
PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Usep Syafii Sanjabil Ms.Sy
NIM : 105045101502
Tempat/Tgl. Lahir : Bekasi, 02/September/1985 Program Studi : Kepidanaan Islam
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi dengan judul: “Pidana Rajam Menurut Hukum Islam dan HAM” adalah karya ilmiah saya, kecuali kutipan-kutipan yang disebutkan sumbernya.
Sekiranya terdapat kesalahan dan kekeliruan di dalamnya, maka sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.
Jakarta, 20 Juni 2011
iv
Alhamdulillah, segala puji syukur kehadirat Allah SWT. Tuhan yang selalu melimpahkan Kasih dan Sayang-Nya kepada seluruh makhluk. Dengan kuasa-Nya
kita dapat bernapas, bergerak, berpikir dan hidup dengan penuh makna dan
kebahagiaan atas nikmat yang indah. Segala puji bagi Allah yang Maha Kuasa. Maha
Pengasih yang tidak pilih kasih. Maha Penyayang, yang kasih sayang-Nya tiada
terbilang oleh dimensi ruang dan waktu. Dengan penuh keikhlasan hati, Penulis
bersyukur atas kehidupan yang telah diberi. Alhamdulillah, Allah telah memberikan
kita potensi berpikir, bertindak, berusaha, berjuang, dan berevolusi.
Shalawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada baginda Rasulullah
Muhammad SAW. Nabi yang membawa risalah suci untuk disampaikan pada seluruh
umat manusia. Nabi yang diutus untuk menjadi rahmatan lil alamin. Kesejahteraan
dan keselamatan semoga selalu tercurahkan untuknya, para keluarga, seluruh sahabat,
dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Alhamdulillah, penulis panjatkan kepada Allah. Tiadalah kemampuan
melainkan apa yang telah Allah SWT berikan. Atas Ridha-Nya pula disertai dengan
kesungguhan, maka penulis dapat menyelesaikan salah satu syarat untuk
menyelesaikan studi dan mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) di Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan menghasilkan sebuah karya tulis ilmiah
v
penulis, baik menyangkut soal pengaturan waktu, pengumpulan bahan (data) maupun
soal pembiayaan dan lain sebagainya. Namun, berkat kesungguhan hati dan kerja
keras disertai dorongan dan bantuan dari semua pihak, maka semua kesulitan dan
kendala itu dapat diatasi dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, seyogyanyalah
penulis memanjatkan puji syukur yang sedalam-dalamnya ke hadirat Allah Yang
Maha Agung, dan mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga serta
menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah
membantu atas terselesaikannya skripsi ini: Dr. Asmawi, MAg. yang dengan tulus,
ikhlas dan penuh perhatian telah membimbing, mengarahkan dan memberi
petunjuk-petunjuk serta nasihat-nasihat yang sangat berharga kepada penulis.
Selanjutnya, ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada Yth:
1. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM., Dekan
Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, beserta
para pembantu Dekan.
2. Bapak Dr. Asmawi, M.Ag., Ketua Program Studi jinayah Siasah Jurusan
Pidana Islam dan kepada Bapak Afwan Faizin, MA., Sekretaris Program
Studi jinayah Siasah Jurusan Pidana Islam.
3. Bapak Dr. Asmawi, MAg., Pembimbing penulis sekaligus Ketua Program
vi
4. Bapak Zainal, MA., Penasehat akademik yang telah membantu penulis
dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Seluruh Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah,
pimpinan dan seluruh karyawan perpustakaan di lingkungan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
6. Kepala Perpustakaan Umum dan Fakultas UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, Nasional, Iman Jama, perpustakaan pribadi K.H. Bunyamin dan
K.H. Zuhri Yakub.
7. Kepada Ayah dan Ibu ku tercinta, Ayah. Djayadi Husni dan Ibu. Rum
Hasanah yang telah berusaha payah membesarkan dan mengarahkan
pendidikan penulis, sehingga tanpa hal tersebut sulit kiranya penulis dapat
mencapai apa yang diperoleh saat ini.
8. Kepada keluarga atau Saudara-saudara ku tercinta, Tatang Zainuddin
selaku Kakak Pertama, Cecep Rusli Bahtiar selaku Kakak Kedua, Nina
Hasanah selaku Kakak Ketiga dan Pipih Alfiah sebagai Adik yang selalu
mendorong dan memotivasi penulis untuk selalu sabar dan tabah dalam
menyelesaikan skripsi ini, terutama yang sudah pernah meminjamkan
vii
Abdul Hasan Mughni, Edi Supriadi yang secara tidak langsung memicu
penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini, khususnya kepada Zaki
Tsani S.HI., yang telah banyak membantu penulis dalam mencari
tambahan data.
10.Teman kosan, Muhammad Ihya Ulumuddin S.Th.I., Radent Asep
Imaduddin, Adli Bahrun S.Th.I., Ardian Maksal Lintang S.Th.I., dan
rekan-rekan Amunisi Welcover yang selalu memberikan keluangan
waktunya untuk berdiskusi, khususnya kepada Muhammad Kajuddin,
yang selalu memotivasi penulis untuk segera menyelesaikan studi ini.
Terima kasih atas dorongannya.
11.Kepada seluruh rekan-rekan kelas PI angkatan 2005, Reizak, Azharianto
S.HI., Yazid Syukri. S.HI., Miftahul Khoirina. S. HI., Zaki Tsani. S.HI.,
Khusnul Anwar. S.HI., Muhammad Sanusi, Abdul Malik, serta
rekan-rekan lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Terima
kasih atas kebaikan kalian yang selalu membuat semangat muda penulis
bergejolak, layaknya pejuang yang tak kenal lelah mencari sesuap nasi
dibawah terik panasnya matahari.
viii
sebagai kajian ilmiah, penulis sangat menyadari keterbatasan kemampuan penulis,
serta mengakui sifat kemanusiaan yang banyak kekurangan dan kesalahan. Segala
petunjuk dari para pembaca sangat diharapkan demi pembenaran dan kesempurnaan
skripsi ini dan semoga membawa manfaat khususnya bagi penulis dan para pembaca
semua. Amin
Jakarta, 20 Juni 2011 Penulis
PERNYATAAN KEASLIAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... ix
BAB I: PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 9
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 13
D. Metode Penelitian ... 14
E. Sistematika Penulisan ... 15
BAB II: PIDANA RAJAM MENURUT HUKUM ISLAM ... 17
A. Pengertian dan Tarikh Berlakunya Pidana Rajam ... 17
a. Pengertian Pidana Rajam ... 17
b. Tarikh Berlakunya Pidana Rajam ... 19
B. Kandungan Nash tentang Pidana Rajam ... 29
C. Pandangan Ulama tentang Pemberlakuan Pidana Rajam .... 37
a. Ulama yang Setuju dengan Pemberlakuan Pidana Rajam ... 37
b. Ulama yang tidak Setuju dengan Pemberlakuan Pidana Rajam ...... 40
D. Pelaksanaan Pidana Rajam Dalam Hukum Islam ... 46
a. Pidana Rajam Sebagai Hukuman bagi Pelaku Zina Muhshan ... 46
b. Adanya Saksi yang Bersumpah ... 57
2. Tempat Pelaksanaan Pidana Rajam ... 62
3. Penggalian Lubang dalam Pidana Rajam ... 62
4. Kehadiran Imam dan Saksi dalam Eksekusi Pidana Rajam ... 63
BAB III: KONSEP HAM INTERNASIONAL TERKAIT PEMIDANAAN DAN HAM DALAM ISLAM ... 66
A. Pengertian dan Latar Belakang Lahirnya HAM ... 66
B. Kandungan HAM Tentang Konvensi Anti Penyiksaan Dan Hukuman Mati ... 72
a. Latar Belakang Konvensi ... 72
b. Ruang Lingkup Konvensi ... 75
c. Larangan Penyiksaan dan Hukuman Mati ... 76
C. Pelaksanaan Pidana Rajam dan HAM di Indonesia ... 83
a. Peluang Pidana Rajam di Indonesia ... 83
b. UU HAM di Indonesia ... 85
D. HAM Dalam Islam ... 87
BAB IV: PERBANDINGAN HUKUM ISLAM DAN HAM TENTANG PIDANA RAJAM ... 99
A. Titik Persamaan dan Perbedaan Hukum Islam dan HAM Tentang Pidana Rajam ... 99
B. Kompatibelitas Hukum Tuhan ... 105
1 A. Latar Belakang
Dalam hal moderenitas dewasa ini banyak stigma hukum yang telah dicetuskan
dalam rangka memelihara kedamaian dan kesejahteraan manusia. Tidak ubahnya
setiap kepala negara ingin mewujudkan segala sesuatu seperti apa yang diinginkan
rakyat atau masyarakat kebanyakan. Salah satu dari apa yang telah terealisasikan
adalah tentang kebebasan dan kemerdekaan hak hidupnya.
Oleh karena setiap kepala dimuka bumi ini ingin mendapatkan hak-hak yang
telah ada secara alamiah sejak lahir tanpa dibatasi oleh pihak manapun maka
tercetuslah sebuah azas moderenitas yang dikenal dengan Hak Asasi Manusia yang disingkat menjadi HAM. Dari berbagai apresiasi buah fikir dan rasa kepedulian
terhadap arti sebuah kenyamanan atas segala tekanan kemudian azas tersebut berbuah
menjadi sebuah perjanjian internasional yang mempunyai kekuatan hukum yang
disepakati oleh negara-negara serikat guna untuk melindungi segala hak dan kebijakan
yang direnggut oleh pihak lain.
Dalam hal ini HAM mempunyai dua basis yang berbeda, diantaranya adalah
HAM menurut pandangan Islam dan HAM menurut barat. HAM menurut Islam
merupakan wahyu Ilahi (God Law). Adapun HAM menurut barat dari segi sumbernya berasal dari apa yang dicerna oleh buah fikiran manusia atas perkembangan peradaban
tentang kemanusiaan.
Pada kedua basis HAM tersebut banyak terdapat ketentuan yang sejalan,
namun disamping itu terdapat pula ketentuan yang saling bertentangan. Seperti
lahirnya konvensi anti penyiksaan dan hukuman mati dalam deklarasi umum tentang
HAM tahun 1948, dalam konvensi tersebut melarang bagi setiap negara yang
berserikat untuk memberlakukan sanksi atau hukuman yang bersifat merendahkan
martabat, menyiksa dan menghilangkan nyawa, dalam hukum barat hal tersebut
merupakan bagian dari kovenant pelanggaran HAM.
Tentu kebijakan tersebut menjadi sebuah ketentuan dan polemik yang
bertentangan dengan apa yang telah ada dalam ketentuan hukum Islam yang mana di
dalamnya terdapat jenis hukum pidana cambuk dan rajam. Kedua hukuman tersebut
adalah hukuman yang bersifat menjerahkan fisik bagi pelaku yang berbuat dosa.
Hukum pidana rajam adalah salah satu hukum pidana yang diatur dalam
hukum Islam, yang mana hukuman tersebut dikenakan pada pelaku tindak pidana
perzinahan bagi orang yang telah menikah (zina muhshan). Hukum pidana rajam ini mulai diterapkan pada zaman berdirinya Islam dengan mengadopsi dari hukum
Dengan adanya beberapa penerapan yang terjadi di zaman Rasul SAW tentang
penjatuhan hukuman rajam pada pelaku-pelaku zina yang dijatuhi hukuman rajam
adalah hukuman yang diatur secara tegas dalam Islam sebagai sanksi pidana untuk
pelaku tindak pidana zina muhshan.
Adapun definisi dari rajam itu sendiri adalah hukuman siksa badan1 namun dalam sudut pandang yang lebih luas adalah hukuman yang berupa ditanam di dalam
tanah sampai leher kemudian dilempari batu yang sedang (mu’tadalah) sampai
meninggal2.
Islam mengatur hukuman pidana rajam tersebut sesuai dengan firman Allah
swt yang mengharamkan tentang perzinahan serta mengancam pelakunya apabila dia
seorang yang belum pernah menikah dengan hukuman dicambuk seratus kali dan di
saksikan orang banyak serta diasingkan selama setahun, sedangkan apabila pelakunya
adalah seorang yang pernah menikah maka hukumannya adalah dirajam3 sampai mati, sebagaimana dalil berikut dalam al qur’an surat An-nuur ayat 24:
1
Pius A Partanto, M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), h. 650.
2
Zainuddin Ali, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 50. 3
Muhammad Abduh Malik, Perilaku Zina Menurut Pandangan Hukum Islam Dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit Buana, 2003), h. 89-108.
4
Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah berbelas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhir, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman” (QS An-Nuur :2).
Dan Hadist Nabi SAW5:
لاق تماَّلا نْب دابع ْنع
:
مَسو هلاو هْي ع ها ى ص ها لْ س لاق
:
ّْق ىِنع اْو خ ىِنع اْو خ
اًْيبس َن ل ها لعج
.
مْج لاو ئام ّْج بِيثلاب بيثلاو نس ىْفنو ئ ام ّْج ْ بْلاب ْ بلْا
)
هاو
يئاسنلاو ا بلا اا عامجلا
(
Artinya: Dari ubaidah ibn Ash-Shamit ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Ambillah dariku, ambillah dariku, sesungguhnya Allah telah memberikan jalan keluar (hukuman) bagi mereka (penzina). Jejaka dan gadis hukumannya dera seratus kali dan pengasingan selama satu tahun sedangkan duda dan janda dera seratus kali dan rajam” (diriwayatkan oleh jama’ah: Muslim, Abu daud dan Tirmidzi, kecuali Bukhari dan Nasa’i)
Rajam merupakan sanksi hukuman yang berupa hukuman dengan dilempari
batu sampai mati yang mana dalam al-Qur’an, ayat rajam tak tercantum. Namun
sejumlah kitab fikih menurut Ismaily menjelaskan bahwa pada mulanya ayat rajam itu
5
Imam Nawawi, dari kitab Imam Abu Hasan Muslim Ibnu Hajaji Al-Quraisy An-Naisaburi w 206-261 M, Shahih Muslim, (Darul Fikri : juz ke 2, 1993), h. 108. Hadist no: 3201. Lihat juga dalam Zainuddin Ali, Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 42, lihat juga Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Atsqolani (w. 852 H) yang dikembalikan oleh Mahmud Amin Nawawi, Bulughul Maram
min Adillati al-Ahkam, (Surabaya: Maktabah Shahabat Ilmu, tnp th), h. 270. Lihat juga A. Hassan,
Tarjamah Bulughul-Maram Ibnu Hajar Al-‘Astsqolani, (Bandung: Diponegoro, 1999), cet ke- 23,
temaktub dalam al-Qur’an. Dalam perkembanganya, ayat itu dihapuskan namun
hukumnya tetap berlaku (naskh al-rasm wa baqa’ al-hukm). Ayat tersebut berbunyi6:
اين ا إ ْيشلاو خْيشلا
اف
تبلا امهاْ مجْ
ها نم اًلا ن
Laki-laki renta dan perempuan renta yang berzina keduanya, maka rajamlah keduanya secara sekaligus,sebagai balasan dari Allah
Menurut An- Nasa’i ayat tersebut tepatnya dalam surat al-Ahzab, al-Muwattha’
mencantumkan hadist itu bersumber dari Yahya bin Said dari Ibnu Musayyab7 ayat inilah yang menjadi pegangan para ulama tentang hukum rajam. Bahwa sesungguhnya
rajam itu ada di dalam Kitabullah, yang wajib diberlakukan buat laki-laki dan
perempuan yang berzina muhshan, ketika sudah cukup bukti, atau sudah hamil atau
mengaku berzina.
Dalam Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia diputuskan dalam pasal 5
yang berbunyi:
Tidak seorang pun boleh mendapat siksaan, atau perlakuan atau hukuman yang kejam, melanggar perikemanusiaan, atau yang menghinakan8.
Dengan adanya deklarasi Internasional ini lahirlah sebuah ketentuan yang
sangat erat sekali hubungannya dengan moderenitas dimana hukum yang harus
diberlakukan pada setiap negara terlebih harus selaras dengan nafas-nafas HAM (Hak
6
Muhammad Abduh Malik, Perilaku Zina Menurut Pandangan Hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit buana, 2003), h.101. lihat juga pada catatan kaki kitab Ibnu Hajar Al-‘Atsqolani, Buluhgul-Maram min Adillati al-Ahkam, (Surabaya: Maktabah Shahabat Ilmu, tnp th), h. 270. Catatan kaki No.2 tentang bacaan yang dinasakh dan hukumnya tetap.
7
Muhammad Abduh Malik, Perilaku Zina Menurut Pandangan Hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit buana, 2003), h.101.
8Maulana Abdul A’la Maududi,
Asasi Manusia), yang mana manusia mempunyai martabat, mempunyai hak untuk
hidup yang sama dengan yang lain, dan manusiapun tidak patut dihina, dipermalukan,
dan disiksa dalam ketentuan apapun, hukum Internasional menjamin akan HAM yang
dimiliki oleh manusia termasuk bentuk hukuman yang sadis terlebih hukuman mati
yang berbentuk penyiksaan pada pelaku. Dalam negara Indonesia sendiri yang
menganut sistem eropa kontinental yang memberlakukan hukum atas apa yang telah
disahkan menjadi undang-undang tertulis menjadi hukum positif seperti KUHP tidak
memberlakukan hukuman rajam dalam delik perzinahan seperti yang tertera dalam
pasal 284:
a. Laki-laki yang beristri berzina sedang diketahuinya, bahwa pasal 27 BW
berlaku baginya.
b. Perempuan yang bersuami yang berzina, padahal diketahuinya bahwa
pasal 27 BW berlaku baginya 9.
Adapun pelaku perbuatan tersebut diancam dengan hukuman penjara paling
lama sembilan bulan.
Dalam hal ini banyak terdapat titik tengkar antara pandangan hukum Islam dan
HAM dalam skala hukum Internasional, yang mana dalam hukum Islam sendiri
memberlakukan hukuman rajam bagi pelaku perzinahan yang sudah menikah atas
dasar ketentuan Al-qur’an dan Hadist yang merupakan hak Allah (hududullah), sedangkan dalam HAM sendiri mermpunyai dasar dan asas hak hidup dan anti
9
penyiksaan yang harus diberikan dan diberlakukan kepada manusia, tidak ada bentuk
penyiksaan fisik dalam penghukuman yang berupa menistakan manusia terutama pada
pasal 5 seperti di atas. Hukum Islam yang memusatkan segala aturan berbasis pada
ketuhanan, sedangakan HAM segalanya berbasis pada kemanusiaan merupakan dua
tolak ukur yang mempunyai barometer yang berbeda.
Berbicara tentang rajam terkait dengan hukuman mati, dan cara melaksanakan
hukuman rajam, itulah hal yang menjadi kontroversi antara Islam dan HAM. Atas
dasar semangat akademis dalam meniti jangkar dari permasalahan awal untuk
menemukan solusi dari berbagai titik tengkar kedua pandangan tersebut, sebagai
mahasiswa syariah dan hukum penulis merasa sangat berkepentingan dan terpanggil
untuk mengerahkan kemampuan dan pemikiran dalam mengkaji dan menulis seluruh
hal-hal yang ada dalam pandangan hukum Islam dan HAM di Indonesia dengan
mengangkat suatu kajian tentang hukum pidana rajam bagi orang yang sudah menikah
yang dianggap sebagai hukuman yang tidak berprikemanusiaan (humanis) dan
melanggar HAM sehingga menjadi jelas dari adanya perbedaan layak mempunyai
tempat khusus dan baku untuk menambal kekurangan pandangan masyarakat serta
dapat mengakomodir seluruh keperluan masyarakat umum dan menjadi sebuah
rujukan yang mempunyai kekuatan absolute agar dapat diberlakukan. Dengan harapan
yang demikian ini penulis mengangkat judul tentang “Pidana Rajam Menurut
Hukum Islam dan HAM”.
Masalah ini sangat menarik untuk dilakukan penelitian dan kajian karena
Yang sudah semestinya umat Islam di Indonesia kebanyakan mengerti dan memahami
tentang hukum yang ditentukan oleh syariat Islam sendiri.
Masalah ini adalah masalah tentang perbedaan pandangan yang nyata antara
hukum pidana rajam dalam Islam dan hukum HAM Internasianal, artinya ini adalah
permasalahan hukum pidana Islam dengan dunia internasional termasuk Negara
Indonesia sendiri. Dimana hukum pidana rajam adalah hukum pidana yang diatur dan
disyariatkan oleh Islam namun dalam hal ini ditentang oleh pandangan hukum
Internasional dalam asas moderenitas hukum yang berbasis pada fikiran manusia.
Umat Islam adalah umat yang menyebar dan ada pada setiap negara termasuk pada
negara-negara barat yang sangat kental berasaskan HAM, namun hal ini merupakan
suatu masalah yang besar dimana umat Islam dilarang atau tidak diperkenankan untuk
menjalankan hukum Islamnya sendiri bahkan diseru untuk membenci hukumnya
sendiri karena dianggap sadis untuk kemanusiaan namun pidana rajam merupakan
kewajiban untuk menjalankan dan melestarikannya. Disisi lain masyarakat Indonesia
juga adalah masyarakat yang sangat menyoroti sisi keluarga dan arti sebuah
pernikahan. Di Indionesia masyarakat diberi kebebasan menjalankan agamanya sesuai
dengan kepercayaannya masing-masing. Agama Islam yang mayoritas dianut oleh
masyarakat Indonesia memandang perzinahan yang sudah menikah sebagai perbuatan
yang sangat buruk dan keji sehingga pelakunya mesti dihukum dengan hukuman yang
berat.
Berdasarkan berbagai teori dari aliran-aliran filsafat hukum seperti aliran
Yurisprudense menyatakan bahwa norma aturan hukum dari suatu negara harus
mencerminkan dan dibuat berdasarkan norma hukum moral atau rasa keadilan hukum
yang hildup dalam masyarakat10. Oleh karena itu apa yang dirumuskan dalam pandangan berbagai pihak dalam masalah hendak berfikir dengan kesadaran hukum
masyarakat Indonesia. Oleh karena pandangan-pandang yang kontroversi tersebut
hendaknya dikerucutkan menjadi satu pangkal yang selaras dengan keimanan, ketaatan
dan perbaikan untuk masyarakat banyak umumnya.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Rajam adalah hukuman yang diatur dalam hukum Islam dengan cara dipendam
setengah badan dan dilempari batu sedang sampai mati karena telah melukan
perzinahan dan pelaku telah menikah, hukuman rajam ini berupa penjerahan pada
badan dan kematian. Namun adanya pandangan lain dari deklarasi Internasional yang
melahirkan tentang konvensi anti penyiksaan dan hukuman mati yang juga membahas
tentang etika penghukuman dimana tidak ada bentuk penyiksaan dan penghinaan
dalam penghukuman hal ini menjadi sebuah titik tengkar pandangan antara hukum
Islam dan HAM Internasional. Hal inilah yang menyebabkan hukuman rajam
cenderung dianggap sebagai hukuman yang tidak layak untuk diterapkan di masa ini
dalam hukum Indonesia. Sementara perbedaan pandangan yang datang dari umat
Islam sendiri atau dari kalangan barat, namun tak lain hal ini dilatar belakangi dari
perbedaan pandangan akan cara penghukuman rajam yang cederung dinilai menyiksa
10
dan membunuh terhukum yang mana dalam hal ini HAM tidak membenarkannya.
Dengan uraian yang ada di atas penulis membatasi penelitian ini agar permasalahan
menjadi lebih jelas dan mengarah kepada titik permasalahan serta agar ruang lingkup
pembahasan yang akan dibahas tidak terlalu meluas dan melebar, akan tetapi terfokus
pada satu masalah yang menjadi akar permasalahan sehingga pembahasan dan analisa
permasalahan dapat dirincikan secara mendalam.
Dalam pembahasan dan kajian ini adalah pidana rajam menurut pandangan
hukum Islam yang dibatasi pada pengertian dari hukum rajam itu sendiri, kemudian
penulis juga membahas perihal yang berkenaan dengan sejarah rajam di zaman Rasul.
Dalam hal ini juga hanya membatasi pada kandungan nash yang berkenaan dengan
pidana rajam, berikut pandangan ulama Islam tentang pidana rajam. Sanksi pidana
rajam dijatuhkan untuk orang yang sudah menikah karena melakukan zina atau
pemerkosaan. Tidak termasuk ke dalam pembahasan ini hukuman cambuk seratus kali,
dan pengasingan selama setahun. Pemerkosaan lebih berat dari perzinahan bagi
pelakunya karena perbuatan zinanya dan tindakan memaksanya yang berdampak
menyakiti segi fisik atau pun psikhis dari korban, dan bagi korbannya tidak dikenai
hukuman karena dia dalam keadaan dipaksa dan tidak berdaya. Adapun pelaku
perzinahan dari wanita atau lelaki yang belum menikah tidak dibahas karena tidak
masuk dalam kategori dirajam, penulis membahas sedikit tentang perzinahan orang
yang telah menikah ini dalam mengkaitkan kepada titik dan akar permasalahan.
Demikian juga halnya dengan tindak pidana yang lain dalam hukum pidana Islam
diyat dan ta’zir yang hukumannya selain pidana rajam atau sanksi pidana yang lain
dalam hukum Islam penulis tidak membahas dalam penelitian ini.
Selanjutnya penulis membatasi pembahasan ini pada latar belakang lahir nya
HAM, dan membahas kandungan HAM tentang konvensi anti penyiksaan dan
hukuman mati, dengan mengasumsi hasil deklarasi hukum Internasional tentang HAM
dan ketentuan atas hukuman yang berbentuk penyiksaan, kematian dan penghinaan
terhadap badan dan martabat, serta membahas HAM menurut Islam dalam sorotan
piagam madinah, dan tidak membahas tentang keputusan HAM yang lain selain terkait
pada ketentuan anti penyiksaan dan hukuman mati. Penulis tidak membahas tentang
keputusan HAM pada Deklarasi lain selain deklarasi universal hukum Internasional
tentang HAM terkait larangan bentuk hukuman yang menyiksa. Dalam hal ini juga
penulis akan membahas tentang aplikasi HAM di negara Indonesia.
Selanjutnya penulis juga mengemukakan tentang suatu perbandingan antara
pandangan hukum Islam dan HAM tentang pidana rajam, bagaimana hukum Islam
mengatur tentang pidana rajam dan bagaimana HAM mengatur tentang penyiksaan
dalam hukuman mati yang mana keduanya saling bertolak belakang. Maka dalam hal
ini penulis hanya memasukkan berbagai sebab yang menjadi latar belakang titik
tengkar perbedaan dan juga persamaannya dari hukum Islam dan HAM. Kemudian
juga penulis akan menguraikan tentang kompatibelitas hukum tuhan yang mana pidana
rajam menurut pandangan hukum Islam adalah produk hukum Tuhan. Di samping itu
Perbandingan antara keduan pandangan tersebut dalam hal titik tengkarnya
menyikapi tentang hukum pidana rajam dan penyiksaan dalam hukuman penulis akan
membahas tentang titik persamaan antara Islam dan HAM, dan juga sisi perbedaannya.
Berikut dengan teori-teori yang ada dalam Islam dan HAM serta sumber akan kedua
hukum tersebut diambil. Serta menarik kesimpulan dari perbandingan kedua
pandangan antara hukum Islam dan HAM tentang hukum pidana rajam.
Jadi penelitian dan pembahasan masalah pidana rajam dalam pandangan
hukum Islam dan HAM pada analisa ini dilakukan dengan metode pendekatan
normative atau study pustaka. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan normatif
sebagaimana kita ketahui bersama merupakan pendekatan melalui aturan hukum
pidana Islam (Al-Qur’an dan Hadist), KUHP dan RUU KUHP, Deklarasi Universal
Tentang HAM, Piagam Madinah serta buku lainnya, kemudian jalur pustaka terkait
masalah pandangan hukum Islam dan HAM dalam hukum pidana rajam.
Dengan adanya pembatasan masalah seperti disebutkan di atas maka
pokok-pokok masalah atau pembahasan yang akan diteliti dan dibahas dalam analisa ini perlu
dirumuskan dengan perumusan sebagai berikut:
a. Bagaimana hukum Islam mengatur tentang pidana rajam?
b. Bagaimana HAM dalam Islam dan HAM Internasional mengatur tentang
pemidanaan terkait penyiksaan dan hukuman mati?
c. Bagaimana perbandingan antara hukum Islam dan HAM tentang pidana rajam?
Selanjutnya mengenai subpokok masalah yang dibahas dalam pembahasan ini
bagaimana cara dan etika melakukan pidana rajam? Apakah syarat-syarat untuk
diberlakukannya rajam? Mengapa terjadi perbedaan pendapat dalam masalah rajam
baik dalam ulama Islam maupun kaum barat? Jika demikian halnya maka bagaimana
pandangan HAM terhadap hukuman rajam? Dan beberapa kovenant HAM terkait
pemidanaan.
Demikianlah kira-kira ruang lingkup permasalahan yang diteliti dan akan
dibahas dalam karya ilmiah ini selanjutnya. Pembahasan dan analisa masalah yang
akan dilakukan melalui pendekatan dalil-dalil naqli (ayat-ayat Alqur’an dan hadist)
serta dalil-dalil aqli dan berbagai pendapat para ulama dan beberapa dokumen tentang
HAM.
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Dari latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas,
dapat diketahui bahwa tujuan umum dari penulisan ini adalah:
1. Untuk menjelaskan, memberi pemahaman dan mengangkat kepermukaan
warga Indonesia bagaimana Islam mengatur tentang hukum pidana rajam,
dan bagaimana HAM mengatur tentang pemidanaan.
2. Untuk menjelaskan dan memberi pemahaman kepada masyarakat tentang
perbandingan dari pandangan hukum Islam dan HAM tentang pidana
rajam.
3. Memberikan sumbangan pemikiran dan solusi titik terang antara perbedaan
dan titik tengkar dari pandangan hukum Islam dan HAM tentang pidana
D. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini pengumpulan data, pendekatan, dan analisa data
dilakukan melalui:
1. Jenis penelitian
Sesuai dengan sifatnya penelitian merupakan penelitian kulitatif, yaitu berupa
kata-kata ungkapan, norma atau aturan-aturan serta doktrin. Adapun dalam bentuknya
penelitian ini bersifat deskriptif yaitu menggambarkan masalah, mengumpulkan,
menyusun, dan menyeleksi data penelitian, penelitian ini juga merupakan penelitian
hukum normatif doktriner.
2. Sumber data
Sumber data sekunder meliputi:
a. Bahan hukum primer yaitu: KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana)
Undang-undang, hasil deklarasi hukum Internasional tentang HAM.
b. Bahan hukum sekunder yaitu: Al-Qur’an, Hadist dan buku-buku yang
membahas langsung permasalahan yang dibahas oleh penulis.
3. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam memperoleh informasi
yang diperlukan tentang masalah yang diteliti melalui studi dokumenter, yaitu merujuk
kepada tulisan-tulisan ilmiah yang diperoleh dari literatur dan referensi yang
berhubungan dan berkenaan dengan judul skripsi ini.
Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif
komparatif yaitu membandingkan antara beberapa sistem hukum khususnya antara
hukum Islam dengan HAM dalam mengatur masalah pidana rajam.
E. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan dalam urutan berfikir di dalam penganalisaan masalah
dalam beberapa bab.
Bab I berisi pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah penelitian,
batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode yang digunakan
dalam penelitian.
Bab II menguraikan pidana rajam menurut hukum Islam. Bab ini dimulai
dengan pengertian rajam dan tarikh berlakunya rajam, kandungan Nash tentang pidana
rajam, pandangan ulama tentang pidana rajam, yang mana menguraikan pendapat
ulama yang setuju dengan pemberlakuan pidana rajam dan ulama yang tidak setuju
dengan pemberlakuan pidana rajam dan beberapa uraian tentang pelaksanaan pidana
rajam dalam hukum Islam dan pelaksanaan pidana rajam di Indonesia.
Bab III membahas tentang konsep HAM Internasional terkait pemidanaan dan
HAM dalam Islam. Pada bab ini membahas tentang pengertian HAM, latar belakang
lahirnya HAM, kandungan HAM tentang konvensi anti penyiksaan dan hukuman mati,
HAM di Indonesia,yang mana pada sub judul ini menguraikan tentang UU HAM di
Bab IV mengenai pengemukaan perbandingan hukum Islam dan HAM tentang
pidana rajam. Maka pada bab ini penulis menguraikan titik persamaan dan perbedaan
antara hukum Islam dan HAM tentang pidana rajam, kompatibelitas hukum tuhan dan
aspek mashlahat yang terkandung dalam pidana rajam.
Bab V merupakan bab penutup yang kemudian diisi dengan menarik
kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini lalu dilanjutkan dengan
mengemukakan beberapa saran yang dipandang perlu dalam mewujudkan hasil
17
A. Pengertian dan Tarikh Berlakunya Pidana Rajam a. Pengertian Pidana Rajam
Rajam merupakan salah satu hukum pidana yang diterapkan dan diatur dalam
hukum Islam. Secara etimologi kata rajam berasal dari bahasa arab yang akar katanya
)
ج
-
ج ي
-
ج
( yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadimelempar dengan batu (
جح ي
) 1. Adapun menurut istilah bahasa Indonesia kata rajam digunakan untuk arti hukuman siksa badan (karena berbuat maksiat berat)2.Adapun defenisi rajam ditinjau dari sudut terminologi ialah hukuman yg
berupa ditanam dalam tanah yang dilempari dengan batu sedang (
ع جح
)sampai terhukum mati3. Hukuman rajam adalah hukuman mati dengan cara dilempari batu oleh segenap warga yang menyaksikannya. Cara menghukum seperti ini tidak
dilakukan kecuali dalam kasus yang sangat tercela dan hanya bila penerima hukuman
1
Atabik Ali A. Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, (Jogjakarta: Multi karya Grafika pondok krapyak, 1998), h. 962, dan lihat juga pada Darul Masriq Beirut, Kamus al-
Munjid fi al- lughah wa al A’lam, (Beirut lebanon: Maktabah Syarqiyah, 1986), h. 252.
2
Pius A Partanto, M. Dahlan AL Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), h. 650.
3
benar-benar terbukti dengan teramat meyakinkan melakukan sebuah larangan yang
berat.
Rajam juga merupakan hukuman yang mengutuk pelakunya dari dosa yang
besar untuk dicuci dan disucikan dari dosanya sebelum menghadap pada Pencipta.
Seperti makna yang terkandung dalam kamus Al-munjid yang mana pidana rajam juga
dapat diartikan sebagai
ج ا
-
ط ا
-
ش ا
-
ع
(la’nun, aw syatmun, awthardun, aw hijrun) yang berarti kutukan (laknat), caciaan atau celaan, pengusiran dan meninggalkan4. Allah mengharamkan perzinahan serta mengancam pelakunya apabila ia seorang yang belum pernah menikah dengan hukuman dicambuk seratus
kali dan diasingkan setahun sedangkan apabila pelakunya adalah seorang yang pernah
menikah maka hukumannya adalah dirajam5, istilah muhshan diambil dari kalimat
ihshan yang berarti suci yang secara istilah dapat disimpulkan orang baik laki-laki atau perempuan yang telah menikah6. Perzinahan di luar nikah adalah perkara yang sangat dikutuk oleh agama, tidak ubahnya zina adalah perbuatan yang sering
dilakukan layaknya binatang atau hewan yang hidup tanpa aturan oleh karena itu
hukuman dari zina bagi yang telah menikah itu sendiri dalam hukum Islam disebut
dengan hukuman rajam sama seperti gelar syaitan yang diberikan kepada Allah
4
Darul Masriq Beirut, Kamus al-Munjid Fii al-Lughah wa al-A’lam, (Beirut lebanon: Maktabah syarqiyah, 1986), h. 252.
5
Muhammad Abduh Malik, Perilaku Zina Menurut Pandangan Hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit Buana, 2003), h. 88, yang dikutip dari As-San’ani, Subul al-Salam, Jilid 4, h. 4.
6
sebagai sifat yang membuat manusia menjadi terkutuk yaitu gelar Rajim yang berarti dilaknat atau terkutuk.
b. Tarikh Berlakunya Pidana Rajam
Membahas tentang pidana rajam jika kita menoleh kebelakang sebenarnya
sudah ada sejak zaman para nabi dan rasul di masa lalu sebelum era umat nabi
Muhammad SAW. Hukuman seperti itu berlaku secara resmi di dalam syariat Yahudi
dan Nasrani7. Dan tidak dikutuk umat terdahulu kecuali karena mereka meninggalkan hukum dan syariat yang telah Allah tetapkan. Seperti apa yang telah tersirat dalam
kitab suci Al-Qur’an :
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (QS. Al-Maidah 44).
7
Allah SWT kemudian menghapus berbagai macam syariat yang pernah
diturunkanNya kepada sekian banyak kelompok umat kemudian diganti dengan satu
syariat saja, yaitu yang diturunkan kepada umat nabi Muhammad SAW. Namun
ternyata Allah SWT masih memberlakukan hukuman rajam dari beberapa contoh
yang dilakukan nabi Muhammad SAW terhadap pelaku zina yang telah menikah.
Walaupun dengan pendekatan yang jauh lebih moderat dan manusiawi.
a. Pidana Rajam di Era Sebelum Nabi Muhammad
Hukum rajam pernah berlaku pada zaman nabi Musa A.S. Dalam Perjanjian
Lama, Keluaran ayat 22 pasal 19 disebutkan8 :
Apabila seseorang kedapatan tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati, laki-laki yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.
Bahkan seorang gadis perawan pun ketika berzina harus dihukum mati yaitu
dijatuhi hukuman rajam. Disebutkan dalam keluaran ayat 23 dalam pasal 19 dan
surat yang sama Perjanjian Lama9 :
Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu
8
Abujamin Roham, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an Dalam Segi Isi dan Riwayat Penulisnya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 29. Lihat juga pada Al-Kitab, (Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Kitab Indonesia, 1995), h. 88.
9
lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kau hapuskan yang jahat itu dari tengah-tengah mereka.
Bahkan dizaman sebelum era Nabi Muhammad SAW wanita atau laki-laki yang
kedapatan berzina dengan hewan atau binatang dapat dihukum mati dengan cara
rajam karna itu ada pada kitab mereka yang berbunyi10 :
Siapa yang tidur (bersetubuh) dengan seekor binatang, pastilah dia dihukum mati (dirajam). (Keluaran 22:17).
Dalam perjanjian lama juga disebutkan tentang ayat bagi seseorang yang
menghujat Tuhan dapat dikenakan hukuman rajam pada masa itu seperti apa yang
difirmankan pada perjanjian lama11 :
Siapa yang menghujat Nama Tuhan, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu (rajam) oleh seluruh jemaat (Imamat ayat 18 pasal 28-29).
Pada zaman nabi Isa dalam Kitab Perjanjian Baru perkara ini dibicarakan
sebagaimana terkandung dalam Al-Kitab12:
Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepadanya. Ia (Yesus) duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepadanNya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata
kepada Yesus. “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat
zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian (Pen: dirajam). Apakah pendapatMu tentang hal itu?”
10
Al-Kitab, (Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Kitab Indonesia, 1995), h. 88. 11
Abujamin Roham, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an Dalam Segi Isi dan Riwayat Penulisnya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 26. Dan lihat pada Al-Kitab, (Jakarta: Lembaga Percetakan Al-Kitab Indonesia, 1995), h. 137.
12
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia (Yesus), supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menjalankanNya (Yohanes ayat 8 pasal: 2-7).
Iapun (Yesus) bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. (Yohanes 8:8)
Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. (Yohanes 8:9-10)
Dari ayat di atas sebenarnya Yesus hendak menegakkan hukum rajam seperti
apa yang ada pada kitab sebelumnya (Taurat), tetapi tidak satupun ahli-ahli Taurat
yang mau melakukannya karena tidak satupun yang merasa tidak berdosa13, semua orang pasti pernah berdosa, tetapi tentunya bukan karena dosa zina, sehingga dapat
saja melakukan hukum rajam itu bagi penzina.
Sebenarnya kunci permasalahan dalam hal ini adalah wanita itu belum dapat
dihukum secara adil, sebab jika dia berzina, paling tidak laki-laki yang ikut berzina
juga dihadapkan kepada Yesus, agar keduanya sama-sama dihukum pidana rajam
secara adil sesuai hukum Taurat, jadi bukan hanya wanitanya saja yang dihukum lihat
Perjanjian Lama kitab Ulangan 22:24 di atas14.
Berdasar kepada dalil-dalil tersebut, setidaknya menjelaskan kepada kita
bahwasanya hukuman rajam telah ada dan diberlakukan oleh umat Yahudi dan
Nasrani yang menjadi syariat yang berlaku sebelum Islam
ع ش
(syar’un man
13
Abujamin Roham, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an Dalam Segi Isi dan Riwayat Penulisnya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 27.
14
qoblana)15. Maka berdasarkan dalil-dalil tersebut baik dari Al-Qur’an dan Hadist, maupun kitab umat Yahudi dan Nasrani menjelaskan bahwasanya rajam adalah jenis
hukuman yang ditetapkan oleh Tuhan kepada umat karena telah ada dalam kitab
masing-masing yang mesti diterapkan bagi pemeluknya bahkan Yahudi dan Nasrani
sekalipun
b. Praktek Pidana Rajam di Masa Nabi Muhammad
Ketika era nabi Muhammad SAW sendiri pidana rajam dilestarikan sebagai
sanksi hukuman zina muhshan16, di Madinah Rasulullah SAW pernah merajam laki-laki dan perempuan Yahudi yang berzina17. Hal iti karena pidana rajam telah ada dan diberlakukan semenjak zaman nabi Musa dan tertulis di kitab orang Yahudi dan
Nasrani. Dalam hal ini As-Syafii dan Ahamad berpendapat bahwa islam bukan
merupakan syarat ihshan untuk diberlakukannya pidana rajam bagi pelaku zina,
sedangkan Abu Hanifah dah Malik berpegang bahwa Islam merupakan syarat untuk
ihshan18.
15
Abdul Hamid Hakim, Ushul al-Fiqh, (Ponorogo: Darussalam Press, tnp), h. 52. 16
Muhammad Abduh malik, Perilaku Zina Menurut Pandangan Hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit Buana, 2003), h. 88, lihat juga pada As- San’ani, Subul al-Salam, Jilid 4, h. 4.
17
Lihat pada Ibnu Hajar Al-‘Atsqolani (w. 852 H), yang dikembalikan oleh Mahmud Amin Nawawi, Bulugh al-Maram min Adillati al-Ahkam, (Surabaya: Maktabah Shahabat Ilmu, 1378 H), hadist No. 9, pada kitab Hudud, h. 272.
18
Disamping itu juga di masa Rasullullah banyak terjadi hukuman rajam yang
dikenakan pada pemeluk yahudi dan Islam termasuk pada sahabat-sahabat Nabi
sendiri yang mengakui akan dosanya seperti yang terjadi pada kisah Ma’iz bin
Malik19 yang mana dalam riwayat yang lengkap bahwa Ma’iz bin Malik datang kepada Rasulullah saw. Dan berkali-kali mengaku bahwa dia telah berzina, Maka
rasulullah saw memerintahkan untuk merajamnya20.
Disamping kisah Ma’iz juga terdapat kisah perempuan yahudi yang datang
kepada Nabi dan mengakui akan perbuatan zina nya terhadap laki-laki sedangkan
perempuan yahudi itu telah menikah, adapun dalam salah satu kitab perempuan itu
bernama juhainah21, maka dengan pengakuan dan berdasarkan apa yang ada pada kitabnya maka Rasulullah menghukumnya dengan pidana rajam.
Banyak sarjana yang telah berkata karena tidak ada dalam ayat Al-Qur’an yang
menjelaskan tentang hukuman rajam sampai mati, maka hukuman ini tidak dapat
19
Lihat pada keterangan Hadist No. 1233-1234 dalam A. Hassan, Tarjamah Bulugul Maram, (Bandung: Diponogoro, 1999), h. 552, dan juga lihat pada Ibnu Hajar Al-‘Atsqolani (w. 852 H), yang dikembalikan oleh Mahmud Amin Nawawi, Bulugh al-Maram min Adillati al-Ahkam, (Surabaya: Maktabah Shahabat Ilmu, 1378 H), hadist No. 9, pada kitab Hudud, h. 272
20
Lihat pada keterangan Hadist No. 1233-1234 dalam A. Hassan, Tarjamah Bulugul Maram, (Bandung: Diponogoro, 1999), h. 552.
21
dibenarkan. Hal ini persis seperti yang telah diduga oleh khalifah Umar bin Khatab22 yang secara kandungan isi:
ا ع
ّ ا ا ع
ع ها ي
ف ّخ أ
:
ي ع ها ص ا ح ع ها إ
ج ف
ع يع أ ج ا يأ ي ع أا يف ف
ا ي ع أ ح س
ع ج س ي ع ها ص ها س
,
ح
ّت ا تيشخ
ع
ا
يف ها ف ج ا يا ج ا ئ ي
ت
ف
ي
ها أ
,
ج ا أ اأ
ها
ف
ع ٌ ح
ا إ
حأ
ء س ا ج ا
ي ا ت ا إ
,
ح ا ت أ
,
ف ا ع إا أ
(
ا ا
س
)
Artinya: Diriwayatkan oleh ibnu Umar Bin Khatab r.a berkata; Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad SAW dengan sebenar-benarnya dan menerunkan kepadanya kitab suci (Al-Qur’an) maka dari sebagian yang diturunkan kepadanya adalah ayat tentang rajam dan kami membacanya, memeliharanya dan mencernanya maka Rasulullah SAW pun memberlakukan rajam dan kami melakukan setelahnya, aku khawatir bahwa telah berlalu waktu yang panjang, ada orang yang mungkin akan berkata; “kami tidak menemukan ayat tentang hukum rajam dalam Kitabullah”, sehingga akibatnya mereka akan tersesat dengan meninggalkan kewajiban yang telah diwahyukan Allah, ketahuilah bahwasanya hukuman rajam itu benar di dalam kitab Allah ditimpakan atas orang yang melakukan hubungan kelamin yang terlarang (berzina) sedangkan dia telah menikah dari laki-laki dan wanita, dan perbuatan itu dibuktikan oleh saksi-saksi,adanya kehamilan, atau pengakuan”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Menelaah akan hadist di atas adalah sebuah keharusan bagi umatnya untuk
menegakkan pidana rajam bagi pelaku zina yang sudah menikah, sebagaimana hal
22
Imam Abu Hasan Muslim Ibnu Hajjaji Al-Quraisy An-Naisaburi w 206-261, Shahih
Muslim, (Darul Fikri: juz ke 2, 1998), h. 107, hadist no: 3201. Lihat juga pada Zainudin Ali, Hukum
Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 41 yang dikutip dari CD Holy Qur’an dan Hadist,
yang telah dilaksanakan oleh Rasul sendiri dan para Shahabat di zaman awal mula
Islam dan juga sebagaimana bentuk kekhawatiran seorang sayyidina Umar bin
Khatab dan ‘Abbas akan hilangnya hukuman rajam dari muka bumi karena banyak
dari kaum muslim sendiri telah melupakannya23. Hal berikut adalah kulasan tentang perguliran dari pemberlakuan pidana rajam dari zaman pra Islam maupun sebelum
Islam dan beberapa isyarat dari hadist tentang kekhawtiran akan kemunduran dan
hilangnya pidana rajam dalam syariat Islam.
c. Praktek Pidana Rajam di Masa Shahabat
Pidana rajam adalah hukuman yang masih dilestarikan pemberlakuannya pada
zaman setelah wafat nya nabi Muhammad saw. Pada masa Umar bin Khatab khalifah
yang ke-3 ini mengalami kekhawatiran akan hilangnya pidana rajam ini karena
dinasakh dari Al-Qur’an sehingga banyak golongan yang meninggalkannya dan tidak
memberlakukannya lalu kemudian Umar bin Khatab setelah menunaikan ibadah haji
di akhir hajinya yang beliau lakukan beliau berdiri di atas mimbar dan berkhutbah
dengan khutbah yang panjang untuk menyampaikan perintah rasul tentang ayat rajam
dan pesan tentang pemberlakuan pidana rajam24.
23
Muhammad Abduh Malik, Perilaku ZinaMenurut Pandangan hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit Buana, 2003), h. 89 yang di kutip dari as-San’ani, Subul al- Salam, Jilid. 4, h. 8. Dan Sayid Sabiq, fiqh al- Sunnah, Jilid. 2, h. 374
24
Pada masa Ali bin Abi Thalib diriwayatkan pernah memberlakukan pidana
rajam pada zaman ketika beliau menjadi khalifah ke-4. Pidana rajam tersebut
dilakukan terhadap perempuan yang bernama Surakhah karena telah berbuat zina
namun perempuan tersebuat adalah perempuan yang telah menikah, lalu kemudian
khalifah Ali bin Abi Thalib menghukum cambuk Surakhah pada hari kamis lalu
merajamnya pada hari jumat25. Al-Hazimi (w. 584 H), Ahmad (w. 241 H), Ishaq (w.212 H), Daud (w. 275 H) sepakat akan penggabungan hukum tersebut
sebagaimana shahabat Ali bin Abi Thalib lakukan26. Beliau mempertahankan pendapatnya bahwa dia mencambuk sesuai dengan perintah Allah lalu merajamnya
sesuai dengan perintah Rasulullah27. Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib menggabungkan memandang dera seratus kali adalah perintah dan hak Allah dan
merajamnya karena sunnah Rasulullah seperti apa yang dipaparkan dalam hadist di
bawah28:
ا ع ع
ت
:
س ا ي ع ها ص ها س
:
ع ا خ ع ا خ
ها عج
ي س
.
ج ا ئ ج ي ي ا س
ئ ج
ا
(
ا
ا اا ع ج ا
يئ س ا
)
25
Abdurrahman I, Tindak Pidana Dalam Syariat Islam, Rineka Cipta Jakarta,1991.Hal 36-37. 26
Ahmad Wardi Muslich, Op. Cit, h. 35, lihat juga pada Muhammad Abduh Malik, Perilaku Zina Menurut Pandangan hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit Buana, 2003), h. 89 yang di kutip dari as-San’ani, Subul al- Salam, Jilid. 4, h. 8. Dan Sayid Sabiq, fiqh al- Sunnah, Jilid. 2, h. 374.
27
Abdurrahman I. Tindak Pidana Dalam Syariat Islam,( Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h. 36-37.
28
Imam Abu Hasan Muslim Ibnu Hajjaji Al-Quraisy An-Naisaburi w 206-261, Shahih
Muslim, (Darul Fikri: juz ke 2, 1998), h. 108, hadist no: 3211, lihat jg pada A. Hassan, Tarjamah
Artinya: Dari ubaidah ibn Ash-Shamit ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Ambillah dariku, ambillah dariku, sesungguhnya Allah telah memberikan jalan keluar (hukuman) bagi mereka (penzina). Jejaka dan gadis hukumannya dera seratus kali dan pengasingan selama satu tahun sedangkan duda dan janda dera seratus kali dan rajam. (diriwayatkan
oleh jama’ah: Muslim, Abu daud dan Tirmidzi, kecuali Bukhari dan
Nasa’i dalam lafadz yang berbeda).
d. Praktek Pidana Rajam di Indonesia
Sejauh ini pidana rajam pernah diberlakukan di Indonesia khususnya pada kota
Ambon seperti apa yang telah diuraikan oleh Abduh malik (Dosen UIN Syarif
Hidayaullah) tentang pelaksanaan rajam di Ambon29. Pada tanggal 27 maret 2001, terhadap Abdullah (31) ayah dari tiga anak salah satu anggota laskar jihad ahlu sunnah wal jamaah. Abdullah yang menjabat sebagai anggota laskar jihad ahlu
sunnah wal jama’ah ini melakukan perbuatan zina muhshan secara paksa setelah
saling berkirim surat oleh seorang gadis (13) yang bekerja sebagai pengasuh bayi
yang tinggal di gang ponegoro ambon30.
Setelah perbuatan Abdullah diketahui maka berdasarkan musyawarah para
penasehat laskar jihad ahlu sunnah wal jama’ah pun menghukumnya dengan pidana
rajam. Eksekusi ini dilakukan pada tanggal 27 maret 2001, yang dipimpin oleh
Ustadz Ja’far Umar Thalib (pemimpin laskar jihad)31
. Dari berita ini diketahui
29
Muhammad Abdul Malik, Perilaku Zina Menurut Pandangan Hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit Buana, 2003), h. 223.
30
Harian Republika, pada bulan Mei, 11 dan 12 mei 2001. 31
bahwasanya masih ada umat Islam yang sejati memeluk hukum agamanya dengan
memberlakukan pidana rajam bagi anggotanya yang melakukan zina muhshan. Hal
ini diyakini oleh para kelompok laskar jihad ahlu sunnah wal jama’ah karena lebih
baik dan lebih mempunyai nilai mashlahat bagi masyarakat yang mana bukan hanya
mematuhi perintah Al-Qur’an dan sunnah namun juga sebagai pembersihan dan
pensucian bagi pelaku dan masyarakat sekitarnya.
B. Kandungan Nash tentang Pidana Rajam
Syariat Islam mengatur rajam sebagai mana hukum terdahulu sebelum Islam
mengatur dan memberlakukannya (syar’un qoblana)32, yang mana semua itu ditujukan karena kepatuhan seluruh umat Islam terhadap ketetapan yang telah
ditetapkan oleh Allah ‘azza wa jalla jalaaluhu. Kepatuhan tersebut memang karena
telah ada ketentuan tentang dalil-dalil yang mengharuskan umat Islam untuk
memberlakukan pidana rajam. Seperti apa yang telah diterangkan di atas bahwasanya
hukuman rajam dikenakan pada pelaku zina Muhshan (orang yang telah menikah) hal ini telah ditegaskan dalam hadist nabi Muhammad saw yang berbunyi33 :
32
Abdul Hamid Hakim, Ushul al-Fiqh, (Ponorogo: Darussalam Press dan Maktabah
Sa’adiyah Peteran,1927), h. 52.
33
Imam Abu Hasan Muslim Ibnu Hajjaji Al-Quraisy An-Naisaburi w 206-261, Shahih Muslim, (Darul Fikri: juz ke 2, 1998), h. 108, hadist no: 3211, lihat juga pada Zainudin Ali, Hukum
Pidana Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 42 Hadist yang dikutip dari CD Holy Qur’an da Hadist
ا ع ع
ت
:
س ا ي ع ها ص ها س
:
ع ا خ ع ا خ
ها عج
ي س
.
ج ا ئ ج ي ي ا س
ئ ج
ا
(
ا
ا اا ع ج ا
يئ س ا
)
Artinya: Dari ubaidah ibn Ash-Shamit ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Ambillah dariku, ambillah dariku, sesungguhnya Allah telah memberikan jalan keluar (hukuman) bagi mereka (penzina). Jejaka dan gadis hukumannya dera seratus kali dan pengasingan selama satu tahun sedangkan duda dan janda dera seratus kali dan rajam. (diriwayatkan oleh
jama’ah: Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi kecuali Bukhari dan Nasa’i).
Sebagaimana kita ketahui bahwasanya salah satu dari fungsi hadist adalah
juga sebagai tafsir atau bayan dari ayat Al-Qur’an atau keterangan yang berupa perincian dari ayat Al-Qur’an yang bersifat global34. Dalam hadist ini menjelaskan tentang ketentuan hukuman cambuk bagi pelaku zina yang belum menikah sebanyak
seratus kali dera, adapun pelaku zina yang telah menikah di hukum dengan hukuman
rajam35. Hadist ini menjelaskan tentang kandungan Nash Al-Qur’an yang berbunyi :
Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah
34
Muhammad Abduh Malik, Perilaku Zina pandangan Hukum Islam dan KUHP, (Jakarta: Bulan Bintang dan Satelit Buana), h. 94.
35
(pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.36(QS. An Nuur : 2)
Dalam ayat ini juga dijelaskan selain hukuman cambuk dan rajam yang
dikenakan pada pelaku disamping itu juga ada kesempurnaan hukuman yang mana
mesti tidak ada belaskasihan terhadap pelaku dan disaksikan orang banyak, hal ini
merupakan bagian dari hukuman tersebut yang mempunyai daya pencegahan untuk
yang lainnya37.
Dan ayat lain yang berkaitan dengan hal ini antara lain :
Artinya: Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (QS. An-Nisa’: 65).
Surat An-Nisaa’ ayat 15
36
Yayasan Penyelenggara Penterjemah, Dep. Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, 1985), h. 543.
37
Artinya: dan (terhadap) Para wanita yang mengerjakan perbuatan keji38, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, Maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya39.(Q.S.
An-Nisa’:15)
Ayat ini juga menjelaskan tentang para utusan Allah dari para nabi yang
memimpin umat nya dengan segala ketentuan yang telah ditetapkan Allah pada
mereka, namun dikala itu umat mereka menerima dan memberlakukan hukum rajam
dalam bermasyarakat. Bahkan dalam kitab injil sekalipun Allah telah memberlakukan
hukum rajam tersebut sama hal nya sepeti hukum salib sampai mati, namun
kebanyakan hal tersebut tidak dihiraukan oleh pemeluknya untuk dijadikan hukum
agama seperti apa yang di jelaskan dalam Al-Qur’an :
Artinya: Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik (QS. Al-Maidah : 47).
38
Perbuatan keji: menurut jumhur mufassirin yang dimaksud perbuatan keji ialah perbuatan zina, sedang menurut Pendapat yang lain ialah segala perbuatan mesum seperti : zina, homo sek dan yang sejenisnya. menurut Pendapat Muslim dan Mujahid yang dimaksud dengan perbuatan keji ialah musahaqah (homoseks antara wanita dengan wanita). Lihat Al-Qur’an dan Terjemahannya, Op, Cit, No. 275
39
Pengikut Injil itu diharuskan memutuskan perkara menurut apa yang
diturunkan Allah di dalam Injil sampai pada masa diturunkan Al-Qu’ran. Orang yang
tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah, ada tiga macam40:
a) karena benci dan ingkarnya kepada hukum Allah, orang yang semacam ini
kafir (surat Al Maa-idah ayat 44).
b) karena menurut hawa nafsu dan merugikan orang lain dinamakan zalim (surat
Al Maa-idah ayat 45).
c) karena dirinya telah fasik (Al-Maa-idah ayat 47).
Di antara dalil dan aturan yang mengarahkan umat Islam untuk melaksanakan
pidana rajam adalah dalil dari hadist nabi muhammad SAW yang berupa hadist41
fi’liydan Qouly yang berbunyi :
س ي ع ها ي ص ها س ا س ا ج ع
:
ا ج ي
ع ج
Artinya: Tentang jabir ibnu samarah berrkata bahwasanya Rasulullah SAW melakukan rajam terhadap Ma’iz bin Malik dan beliau tidak mengungkit tentang hukuman cambuk (dera seratus kali) (HR. Muslim)42.
40
Kata sambutan Bismar Siregar (mantan Hakim Agung R.I) pada buku Ahmad Kosasih, HAM dalam Persfektif Islam Menyingkap persamaan dan perbedaan Antara Islam dan Barat,(Jakarta: Salemba Diniyah, 2003), ed ke-1, h. xiii
41
Zainuddin Ali, Hukum Pidana Islam,(Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h. 43. 42
Dan hadist ini menjelaskan tentang apakah tidak perlu hukuman cambuk
untuk pelaku yang akan dirajam, karena pada akhirnya pelaku akan mengalami
kematian.
Berikut dalil lain yang mewajibkan untuk merajam penzina muhshan43:
ع ها
ها ع
س ع
:
حي ا س ي ع ها ص ها س
اإ س
ا ح أ
:
ا ج
,
ت ج
,
ع ج ا ع ت ج
(
س ا
)
Artinya: Dari Masruq dari Abdillah ra. berakta bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina, orang yang membunuh dan orang yang murtad dan keluar dari jamaah (HR. Muslim).
Dan hadist yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah salah satu istri Rasulullah saw44:
ها س ع ع ها ي
شئ ع ع
س ي ع ها ص
:
ح اإ س حيا
خ ا
:
ج يف
ح ا
,
يف ا ع س ي ج
,
اسإا
ي ج
أا ي أ
ي أ يف س ها
حيف
(
ححص س ا ا أ ا
ح ا
.
Artinya: Dari ‘Aisyah r.a, dari Rasulullah saw. Bersabda: tidak halal membunuh seorang muslim melainkan lantaran tiga perkara: muhshan yang berzina maka dirajam dia, dan seorang muslim yang membunuh seorang muslim dengan sengaja maka dia dibalas dengan dibunuh, dan seorang laki-laki ya