BAB III: KONSEP HAM INTERNASIONAL TERKAIT PEMIDANAAN
A. Pengertian dan Latar Belakang Lahirnya HAM
Di dalam kamus besar bahasa Indonesia, hak asasi diartikan sebagai hak dasar
atau hak pokok seperti hak hidup dan hak mendapatkan perlindungan1. Hak-hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimilki manusia secara penuh menurut kodratnya, yang tidak dapat dipisahkan dari hakekatnya (diri manusia) dan oleh karena itu hak tersebut bersifat suci.2
Sementara itu Jan Materson, seperti apa yang dikutip Baharuddin lopa
mengartikan hak asasi manusia sebagai hak yang melekat pada manusia, yang mana
tanpa dengannya manusia mustahil hidup sebagai manusia namun Baharuddin Lopa
mengomentari bahwa kalimat: mustahil hidup sebagai manusia hendaklah diartikan mustahil dapat hidup sebagai manusia disamping mempunyai hak juga harus bertanggung jawab atas segala yang dilakukannya3.
Sejarah HAM tumbuh dan berkembang pada waktu hak-hak manusia tersebut
oleh manusia mulai diperhatikan dan diperjuangkan terhadap serangan-serangan atau
1
Tim Penyusun kamus Besar Departemen pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesai R.I , (Jakata: tnp, 1988), h. 292.
2
Kuntjoro Purbopranoto, Hak-Hak Asasi Manusia dan Pancasila, (Jakarta: Pradya Paramitra, 1982), h. 19.
3
Ahmad Kosasih, HAM dalam Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 18.
bahaya yang timbul dari kekuasaan suatu masyarakat atau negara. Pada hakikatnya
persoalan mengenai hak-hak asasi manusia itu berkisar pada hubungan antara
manusia sebagai individu dan masyarakat4.
Sebab manakala suatu negara semakin .kuat dan meluas secara terpaksa ia
akan mengintervensi lingkungan sementara hak-hak pribadi semakin berkurang. Pada
saat yang bersamaan maka terjadilah persengketaan antara individu dan kekuasaan
negara. Pada saat itu rakyat terkalahkan dan perlindungan terhadap hak-hak individu
yang bersifat hak asasi manusia dibutuhkan.
Bila ditelusuri sejarah lahirnya HAM umumnya para pakar di eropa
berpendapat bahwa cikal bakal HAM itu sebenarnya telah lahir sejak Maghna Charta
1215 di kerajaan inggris. Dalam Maghna Charta itu disebutkan antara lain bahwa raja
yang memiliki kekuasaan absolut atau mutlak dapat dibatasi kekuasaan dan dimintai
pertanggung jawabannya di muka hukum. Dari itu lahir doktrin raja tidak kebal
hukum dan harus bertanggung jawab terhadap rakyat5.
Semangat Maghna Charta inilah yang kemudian melahirkan undang-undang
dalam kerajaan inggris tahun 1689 yang dikenal dengan undang-undang hak (Bill of Right). Peristiwa ini dianggap keberhasilan rakyat inggris melawan kecongkakan raja John sehingga timbul suatu adagium yang berintikan “Manusia sama di muka hukum
4
Ahmad Kosasih, HAM dalam Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 20.
5
Kuntjoro Purbopranoto, Hak-Hak Asasi Manusia dan Pancasila, (Jakarta: Pradya Paramitra, 1982), h. 16, lihat juga pada Ahmad Kosasih, Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 20.
(equality before the law)6, adagium ini memperkuat dorongan timbulnya negara hukum dan demokrasi yang mengakui dan menjamin asas persamaan dan kebebasan
sebagai warga negara. Asas ini pula yang nantinya menjadi dasar hak-hak asasi
manusia seperti kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia sebagaimana tercermin
dalam konsiderans mukaddimah deklarasi sedunia tentang Hak-hak Asasi Manusia 1948. Untuk mewujudkan tindakan konkrit dalam kehidupan masyarakat dan
kenegaraan pemikiran dua tokoh, Pendapat Rousseo tentang kontrak sosialnya dan
Montesquieu7 dengan trias politikanya telah memberikan kontribusi yang amat besar, maka trias politika yang lahirnya didorong oleh sebuah keinginan untuk mencegah
tirani yang pada intinya membuat pemisahan antara legislatif, eksekutif dan yudikatif
sehingga seorang raja tidak bisa bertindak semena-mena.
Hak Asasi Manusia (HAM) telah menjadi arus utama dalam peradaban dunia.
Pencapaian tersebut adalah puncak dari perjuangan kemanusiaan yang telah bersemi
sejak awal peradaban manusia, baik pada tataran pemikiran sosial maupun pada
praktek kehidupan.
Pemikiran tentang HAM dapat dilacak sejak masa yunani kuno, baik dalam
konteks sebagai tujuan dan orientasi utama kehidupan sosial (bernegara) maupun
6
Ahmad Kosasih, HAM dalam Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 21.
7
Ahmad Kosasih, HAM dalam Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 21.
sebagai hak untuk bebas dari segala penindasan8. Di sisi lain, praktek pelanggaran HAM menjadi sisi suram dalam peradaban manusia karena tindak kekerasan
kelompok, perang sipil, maupun penindasan yang dilakukan oleh negara. Dari
pengalaman sejarah umat tersebut memunculkan sebuah kesadaran umat manusia dan
sebuah pengakuan terhadap martabat manusia serta hak yang melekat pada setiap
manusia sebagai dasar kebebasan, keadilan, dan perdamaian dunia.
Dari berbagai macam pertimbangan kalangan tentang kebebasan tersebut
muncul berbagai alasan bahwasanya9 :
1. Pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan tidak terasingkan
dari semua anggota keluarga kemanusiaan, adalah dasar dari kemerdekaan,
kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia.
2. Mengabaikan dan memandang rendah pada hak asasi manusia telah
mengakibatkan perbuatan-perbuatan kasar yang menimbulkan rasa kemarahan
dalam hati kemanusiaan.
8
Plato (427-348 BC) membangun pemikiran awal universalisme standar etis yang mengharuskan perlakuan yang sama terhadap setiap orang, baik warga negara maupun bukan warga negara. Aristoteles (384-322 BC) banyak mendiskusikan pentingnya nilai, keadilan, dan hak dalam suatu kewarganegaraan dan bermasyarakat. Sophocles (495-406 BC) mengemukakan pemikiran awal
hak individu untuk tidak ditindas oleh negara. Darren J. O’Byrne, Humen Rights An Introduction, (Delhi : Pearson Wducation Limited, 2003), h. 28
9
Ian Brownlie, Dokumen-dokumen Pokok Mengenai Hak Asasi Manusia, (Jakarta: UI-Press, 1993), Cet Ke-1, h. 27, yang dikutip oleh Ahmad Kosasih, HAM dalam Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 22-23.
3. Persahabatan antara negara perlu dianjurkan tanpa memandang status kelemahan
dari negara tersebut dan dari perserikatan bangsa-bangsa telah berjanji untuk
mencapai perbaikan tersebut.
4. Untuk mencapai tingkat kemajuan sosial dan kehidupan yang lebih baik dalam
kemerdekaan yang lebih luas butuh akan pengakuan dan penghargaan terhadap
martabat dan hak-hak seseorang.
Maka dari hal diatas dan berbagai macam alasan untuk melindungi hak-hak
asasi manusia digelarlah deklarasi umum oleh majelis perserikatan bangsa-bangsa
yang kemudian menerima pernyataan sedunia tentang Hak-hak Asasi Manusia
(Universal Declaration Of Human Right) (U N. Doc. A/811) pada tanggal 10 Desember 194810.
Pengadopsian ini dan proklamasi Universal Declaration Of Human Rights
(UDHR) pada 10 Desember 1948 oleh majelis umum PBB adalah puncak pengakuan
terhadap HAM sebagai standar perlindungan manusia bersama dan pemajuan HAM
bagi setiap orang dan setiap negara (as common standar of achievement for all people and all nations )11. Dalam dokumen tersebut tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat (not alegally a binding document) namun ia menjadi dasar utama dalam
10
Ibid 27, lihat juga pada Ahmad Kosasih, HAM dalam Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 23.
11
Salah satu konsideran Universal Declaration of Human Rights menyatakan : “ Now
therefore the general Assembly proclaim this UDHR as a common standartd of achivement for all peoples and all nations, to the end that every individual and every organ of society, keeping this declaration constantly in mind, shall strive by teaching and education to secure their universal and effective recognition and obsevance, both among the peoples of member state themselves and among
perlindungan dan pemajuan HAM, serta menjadi dasar bagi dokumen HAM lain yang
memiliki kekuatan hukum mengikat seperti International Covenant on Economic,
Social, and Cultural Rights.
Adapun konsepsi dasar HAM adalah12 seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat. Dalam hal ini semua manusia dikaruniai akal budi dan hati nurani untuk saling berhubungan dalam semangat persaudaraan. Konsepsi dasar itu
melahirkan tiga prinsip tentang keberadaan HAM 13,
1. HAM bersifat universal, yang mana melekat pada setiap diri manusia tanpa
memandang perbedaan etnis, ras, gender, usia, agama, politik, maupun bentuk
pemerintahan.
2. HAM tidak dapat dibantah karena bukan merupakan pemberian negara sehingga
tidak dapat dihilangkan atau ditolak oleh otoritas politik apapun.
3. HAM bersifat subjektif yang dimiliki secara individual karena kapasitasnya
sebagai manusia rasional dan otonom.
12
Undang-Undang HAM 1999, UU RI No. 39 Th. 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2000), h. 3.
13
Pasal 1 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, di tetapkan oleh Majelis Umum PBB dalam resolusi 217A (III), tertanggal 10 Desember 1948.