• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian dan Latar Belakang Lahirnya HAM

Dalam dokumen Pidana Rajam menurut Hukum Islam dan HAM (Halaman 79-85)

BAB III: KONSEP HAM INTERNASIONAL TERKAIT PEMIDANAAN

A. Pengertian dan Latar Belakang Lahirnya HAM

Di dalam kamus besar bahasa Indonesia, hak asasi diartikan sebagai hak dasar

atau hak pokok seperti hak hidup dan hak mendapatkan perlindungan1. Hak-hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimilki manusia secara penuh menurut kodratnya, yang tidak dapat dipisahkan dari hakekatnya (diri manusia) dan oleh karena itu hak tersebut bersifat suci.2

Sementara itu Jan Materson, seperti apa yang dikutip Baharuddin lopa

mengartikan hak asasi manusia sebagai hak yang melekat pada manusia, yang mana

tanpa dengannya manusia mustahil hidup sebagai manusia namun Baharuddin Lopa

mengomentari bahwa kalimat: mustahil hidup sebagai manusia hendaklah diartikan mustahil dapat hidup sebagai manusia disamping mempunyai hak juga harus bertanggung jawab atas segala yang dilakukannya3.

Sejarah HAM tumbuh dan berkembang pada waktu hak-hak manusia tersebut

oleh manusia mulai diperhatikan dan diperjuangkan terhadap serangan-serangan atau

1

Tim Penyusun kamus Besar Departemen pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesai R.I , (Jakata: tnp, 1988), h. 292.

2

Kuntjoro Purbopranoto, Hak-Hak Asasi Manusia dan Pancasila, (Jakarta: Pradya Paramitra, 1982), h. 19.

3

Ahmad Kosasih, HAM dalam Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 18.

bahaya yang timbul dari kekuasaan suatu masyarakat atau negara. Pada hakikatnya

persoalan mengenai hak-hak asasi manusia itu berkisar pada hubungan antara

manusia sebagai individu dan masyarakat4.

Sebab manakala suatu negara semakin .kuat dan meluas secara terpaksa ia

akan mengintervensi lingkungan sementara hak-hak pribadi semakin berkurang. Pada

saat yang bersamaan maka terjadilah persengketaan antara individu dan kekuasaan

negara. Pada saat itu rakyat terkalahkan dan perlindungan terhadap hak-hak individu

yang bersifat hak asasi manusia dibutuhkan.

Bila ditelusuri sejarah lahirnya HAM umumnya para pakar di eropa

berpendapat bahwa cikal bakal HAM itu sebenarnya telah lahir sejak Maghna Charta

1215 di kerajaan inggris. Dalam Maghna Charta itu disebutkan antara lain bahwa raja

yang memiliki kekuasaan absolut atau mutlak dapat dibatasi kekuasaan dan dimintai

pertanggung jawabannya di muka hukum. Dari itu lahir doktrin raja tidak kebal

hukum dan harus bertanggung jawab terhadap rakyat5.

Semangat Maghna Charta inilah yang kemudian melahirkan undang-undang

dalam kerajaan inggris tahun 1689 yang dikenal dengan undang-undang hak (Bill of Right). Peristiwa ini dianggap keberhasilan rakyat inggris melawan kecongkakan raja John sehingga timbul suatu adagium yang berintikan “Manusia sama di muka hukum

4

Ahmad Kosasih, HAM dalam Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 20.

5

Kuntjoro Purbopranoto, Hak-Hak Asasi Manusia dan Pancasila, (Jakarta: Pradya Paramitra, 1982), h. 16, lihat juga pada Ahmad Kosasih, Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 20.

(equality before the law)6, adagium ini memperkuat dorongan timbulnya negara hukum dan demokrasi yang mengakui dan menjamin asas persamaan dan kebebasan

sebagai warga negara. Asas ini pula yang nantinya menjadi dasar hak-hak asasi

manusia seperti kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia sebagaimana tercermin

dalam konsiderans mukaddimah deklarasi sedunia tentang Hak-hak Asasi Manusia 1948. Untuk mewujudkan tindakan konkrit dalam kehidupan masyarakat dan

kenegaraan pemikiran dua tokoh, Pendapat Rousseo tentang kontrak sosialnya dan

Montesquieu7 dengan trias politikanya telah memberikan kontribusi yang amat besar, maka trias politika yang lahirnya didorong oleh sebuah keinginan untuk mencegah

tirani yang pada intinya membuat pemisahan antara legislatif, eksekutif dan yudikatif

sehingga seorang raja tidak bisa bertindak semena-mena.

Hak Asasi Manusia (HAM) telah menjadi arus utama dalam peradaban dunia.

Pencapaian tersebut adalah puncak dari perjuangan kemanusiaan yang telah bersemi

sejak awal peradaban manusia, baik pada tataran pemikiran sosial maupun pada

praktek kehidupan.

Pemikiran tentang HAM dapat dilacak sejak masa yunani kuno, baik dalam

konteks sebagai tujuan dan orientasi utama kehidupan sosial (bernegara) maupun

6

Ahmad Kosasih, HAM dalam Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 21.

7

Ahmad Kosasih, HAM dalam Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 21.

sebagai hak untuk bebas dari segala penindasan8. Di sisi lain, praktek pelanggaran HAM menjadi sisi suram dalam peradaban manusia karena tindak kekerasan

kelompok, perang sipil, maupun penindasan yang dilakukan oleh negara. Dari

pengalaman sejarah umat tersebut memunculkan sebuah kesadaran umat manusia dan

sebuah pengakuan terhadap martabat manusia serta hak yang melekat pada setiap

manusia sebagai dasar kebebasan, keadilan, dan perdamaian dunia.

Dari berbagai macam pertimbangan kalangan tentang kebebasan tersebut

muncul berbagai alasan bahwasanya9 :

1. Pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan tidak terasingkan

dari semua anggota keluarga kemanusiaan, adalah dasar dari kemerdekaan,

kebebasan, keadilan dan perdamaian dunia.

2. Mengabaikan dan memandang rendah pada hak asasi manusia telah

mengakibatkan perbuatan-perbuatan kasar yang menimbulkan rasa kemarahan

dalam hati kemanusiaan.

8

Plato (427-348 BC) membangun pemikiran awal universalisme standar etis yang mengharuskan perlakuan yang sama terhadap setiap orang, baik warga negara maupun bukan warga negara. Aristoteles (384-322 BC) banyak mendiskusikan pentingnya nilai, keadilan, dan hak dalam suatu kewarganegaraan dan bermasyarakat. Sophocles (495-406 BC) mengemukakan pemikiran awal

hak individu untuk tidak ditindas oleh negara. Darren J. O’Byrne, Humen Rights An Introduction, (Delhi : Pearson Wducation Limited, 2003), h. 28

9

Ian Brownlie, Dokumen-dokumen Pokok Mengenai Hak Asasi Manusia, (Jakarta: UI-Press, 1993), Cet Ke-1, h. 27, yang dikutip oleh Ahmad Kosasih, HAM dalam Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 22-23.

3. Persahabatan antara negara perlu dianjurkan tanpa memandang status kelemahan

dari negara tersebut dan dari perserikatan bangsa-bangsa telah berjanji untuk

mencapai perbaikan tersebut.

4. Untuk mencapai tingkat kemajuan sosial dan kehidupan yang lebih baik dalam

kemerdekaan yang lebih luas butuh akan pengakuan dan penghargaan terhadap

martabat dan hak-hak seseorang.

Maka dari hal diatas dan berbagai macam alasan untuk melindungi hak-hak

asasi manusia digelarlah deklarasi umum oleh majelis perserikatan bangsa-bangsa

yang kemudian menerima pernyataan sedunia tentang Hak-hak Asasi Manusia

(Universal Declaration Of Human Right) (U N. Doc. A/811) pada tanggal 10 Desember 194810.

Pengadopsian ini dan proklamasi Universal Declaration Of Human Rights

(UDHR) pada 10 Desember 1948 oleh majelis umum PBB adalah puncak pengakuan

terhadap HAM sebagai standar perlindungan manusia bersama dan pemajuan HAM

bagi setiap orang dan setiap negara (as common standar of achievement for all people and all nations )11. Dalam dokumen tersebut tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat (not alegally a binding document) namun ia menjadi dasar utama dalam

10

Ibid 27, lihat juga pada Ahmad Kosasih, HAM dalam Persfektif Islam Menyingkap Persamaan dan Perbedaan antara Islam dan Barat, (Jalarta: Salemba Diniyah, 2003), edisi pertama, h. 23.

11

Salah satu konsideran Universal Declaration of Human Rights menyatakan : “ Now

therefore the general Assembly proclaim this UDHR as a common standartd of achivement for all peoples and all nations, to the end that every individual and every organ of society, keeping this declaration constantly in mind, shall strive by teaching and education to secure their universal and effective recognition and obsevance, both among the peoples of member state themselves and among

perlindungan dan pemajuan HAM, serta menjadi dasar bagi dokumen HAM lain yang

memiliki kekuatan hukum mengikat seperti International Covenant on Economic,

Social, and Cultural Rights.

Adapun konsepsi dasar HAM adalah12 seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugrah yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat. Dalam hal ini semua manusia dikaruniai akal budi dan hati nurani untuk saling berhubungan dalam semangat persaudaraan. Konsepsi dasar itu

melahirkan tiga prinsip tentang keberadaan HAM 13,

1. HAM bersifat universal, yang mana melekat pada setiap diri manusia tanpa

memandang perbedaan etnis, ras, gender, usia, agama, politik, maupun bentuk

pemerintahan.

2. HAM tidak dapat dibantah karena bukan merupakan pemberian negara sehingga

tidak dapat dihilangkan atau ditolak oleh otoritas politik apapun.

3. HAM bersifat subjektif yang dimiliki secara individual karena kapasitasnya

sebagai manusia rasional dan otonom.

12

Undang-Undang HAM 1999, UU RI No. 39 Th. 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2000), h. 3.

13

Pasal 1 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, di tetapkan oleh Majelis Umum PBB dalam resolusi 217A (III), tertanggal 10 Desember 1948.

Dalam dokumen Pidana Rajam menurut Hukum Islam dan HAM (Halaman 79-85)

Dokumen terkait