HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Pelaksanaan Program Pembaruan Agraria Nasional di Kab. Asahan
Di Propinsi Sumatera Utara banyak ditemukan areal perkebunan kelapa sawit yang dikelola Perusahan Nasional maupun Perusahan Swasta. Akan tetapi sering terjadi klaim masyarakat terhadap areal perusahan perkebunan dengan dalih tanah masyarakat diserobot oleh perusahaan. Inilah awal dari sengketa pertanahan antara pihak petani penggarap dengan pihak perusahaan perkebunan.
Kasus seperti ini selalu muncul pada saat perusahaan perkebunan mengajukan permohonan perpanjangan Hak Guna Usaha. Demikian juga terjadi terhadap permohonan perpanjangan Hak Guna Usaha No. 1 / Desa Sungai Balai seluas 1797,4 Ha atas nama PT. PUSKOPAD DAM I Bukit Barisan di Kabupaten Asahan.
Areal perkebunan seluas 1797,4 Ha tersebut ditanami dengan komoditi kelapa sawit di klaim oleh masyarakat tani seluas 596 Ha yang mengatas namakan Kelompok Tani Mandiri dan Kelompok Tani Tenera seluas 272 Ha dengan jumlah penggarap sebanyak ± 142 ( 172 + 62 ) Kepala Keluarga.
Sengketa ini memakan waktu selama hampir 15 tahun tidak kunjung selesai, persoalan ini telah ditangani oleh Pemerintah daerah setempat, DPR tingkat I Sumatera Utara maupun DPR pusat, akan tetapi hasilnya nihil bahkan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Untuk mencegah sengketa ini agar tidak berkepanjangan maka pihak Badan Pertanian Nasional Propinsi Sumatera Utara melakukan mediasi antara pemerintah dengan masyarakat dengan cara mengundang kedua belah pihak dan dipertemukan di Kantor Wilayah Badan Pertahanan Nasional Propinsi Sumatra Utara.
Setelah dilakukan dialog yang dipimpin oleh Kanwil BPN Propinsi Sumatra Utara maka pihak Perusahan Perkebunan PUSKOPAD bersedia melepaskan areal yang dipermasalahkan tersebut dan diberikan kepada kedua kelompok masyarakat tani yaitu Tenera dan Mandiri.
Dengan dilepaskan oleh perusahan timbul kembali masalah terhadap pembagian areal kepemilikan masing – masing tanah tersebut. Untuk mencegah sengketa antara petani penggarap terhadap penguasaan dan kepemilikan maka pihak BPN menawarkan pembagian tanah secara adil dengan cara penataan kembali sekaligus dengan melengkapi sarana jalan. Kemudian semua bidang tanah harus menghadap ke jalan yang dibangun dari sebagian areal yang di klaim. Ternyata pola penyelesaian ini disetujui oleh petani. Pola penyelesaian ini disebut dengan Model Konsolidasi Tanah Petani. Akhirnya masyarakat mau menerima dan pihak Perkebunan PUSKOPAD bersedia melepaskan tanpa ganti rugi.
4.2.1 Lokasi Yang Dijadikan Objek Revorma
Lokasi yang dijadikan objek terletak di Desa Sei Balai Kecamatan Balai Kabupaten Asahan.
Perkebunan Kelapa Sawit milik PUSKOPAD telah beroperasi sejak tahun 1976 dan berakhir haknya pada tahun 2006. Penggunaan tanah saat itu merupakan perkebunan kelapa sawit dan telah berproduksi. Pada saat perkebunan memohonkan perpanjangan hak pihak pengggarap melakukan klaim terhadap tanah seluas 355 KK. Setatus tanah adalah tanah negara bekas HGU PT. PUSKOPAD.
4.2.2 Konsep Model Konsolidasi
Penataan P4T
Gambar. 4.4 Skema Model Penyelesain Sengketa
Dengan Pola Konsolidasi
HGU NO. 1 SEI BALAI BERAKHIR 21 APRIL 2006 SENGKETA Dikeluarkan KONSOLIDASI jalan JALAN JALAN
Gambar 4.5 Salah satu bentuk konsolidasi dengan didirikannya koperasi dan pembangunan jalan disekitar perkebunan
Model ini merupakan penataan kembali tanah yang digarap oleh masyarakat dan tanah yang sudah dikeluarkan dari areal HGU Perusahaan Perkebunan PT. PUSKOPAD.
Tujuan dari model ini sekaligus menyelesaikan sengketa dan menata kembali agar pemilikan tanah dapat teratur dan masing – masing mengahadap kejalan. Dengan pola ini diharapkan agar sengketa dapat dan tanah bermanfaat, sekaligus petani penggarap memperoleh penguatan hak atas tanahnya.
Mengingat bahwa Program Pembaruan Agaria Nasional ( PPAN ) mempunyai tujuan antara lain :
1. Menata kembali ketimpangan P4T
2. Memperbaiki akses rakyat kepada sumber ekonomi 3. Mengurangi sengketa konflik
4. Meningkatkan ketahanan pangan 5. Mengurangi kemiskinan
6. Memperbaiki kwalitas lingkungan 7. Menciptakan lapangan kerja
Ketujuh kriteria yang menjadi tujuan PPAN dalam kegiatan konsolidasi ini telah terpenuhi. Oleh sebab itu maka penyelesaian sengketa ini merupakan salah satu model reforma agraria yang menjadi tujuan PPAN.
4.2.3 Prosedur Penyelesaian dan Penataan
Pola konsolidasi ini dilaksanakan dengan mengikuti sistem yang telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pertahanan Nasional No. 4 Tahun 1991, sebelum tanah dijadikan objek konsolidasi pihak masyarakat harus melepaskan terlebih dahulu dengan berita acara pelepasan hak kepada pemerintah dalam hal ini Badan Pertahanan Nasional. Kemudian lokasi ditetapkan terlebih dahulu oleh Kakanwil sebagai objek konsolidasi. Kemudian dilakukan pengukuran dan selanjutnya ditata ulang bentuk kapling dan tata letak pemilikan.
4.2.4 Pembiayaan
Kegiatan ini tentunya membutuhkan dana,baik dalam penyelesaian proses sertifikasi tanah yang menyangkut BPHTB maupun pembangunan sarana jalan.
Untuk mengatasi ini maka dibangun kerjasama dengan pihak lembaga keuangan dalam hal ini Bank BPDSU dan Bank BRI yang telah bersedia menanggulangi modal awal dengan catatan sertifikasi menjadi agunan dibayar dengan cara angsuran hasil tanaman.
Kerjasama antar lembaga ini sangat penting untuk membangun kepercayaan masyarakat petani terhadap pemerintah. Oleh karena itu dibutuhkan sosialisasi
terlebih dahulu kepada petani agar mereka mengerti tujuan dan maksud dari kerjasama ini.
4.2.5 MOU
Untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan tersebut agar semua lembaga turut membantu terlaksananya kegiatan ini, maka diiakat dalam satu kerjasama ( MOU ). Didalam MOU ditulsikan masing – masing kewajiban lembaga baik BPN, pihak Perbankan dan masyarakat agar kelangsungan kerjasamaini terbina dan terlaksana secara berkeseimbangan. Hasil dari pada perkebunan ditampung oleh PT. Bakri sebagai pengelola CPO di Kabupaten Asahan. Secara sekematis kerjasama dapat digambarkan sebagai berikut :
PT BAKRI PENAMPUNG HASIL PETANI KELAPA SAWIT BPN PENGUATAN HAK BANK SUMUT BRI
Gambar 4.6 Kerjasama Saling Menguntungkan
Kerjasama :
1. PT. Bakri Menampung Hasil ( Surat Terlampir )
2. BPN Memberikan Kepastian Hak – Hak Kepada Petani 3. Bank BRI Memberikan Bantuan Dana ( Surat Terlampir ) 4. Bank Sumut Memberikan Bantuan Dana ( Surat Terlampir )
Hasil kegiatan Program Pembaruan Agraria Nasional yang telah dilaksanakan di Desa Sei Balai adalah:
1. Terselesaikannya konflik/sengketa tanah antara perusahaan dengan petani penggarap;
2. Terlaksananya redistribusi tanah seluas 600 Ha kepada 150 KK petani pengggarap;
3. Terlaksananya penataan penguasaan/penggunaan tanah serta terjalinnya pola kerjasama permodalan antara masyarakat penggarap dengan lembaga penyedia modal.
4. Hasil lainnya yang tidak kalah penting dari pelaksanaan Reforma Agraria di Desa Sei Balai Kecamatan Sei Balai Kabupaten Asahan adalah terbentuknya Koperasi yang berfungsi dalam penyedian sarana produksi dan pemasaran hasil para petani.