TINJAUAN PUSTAKA
10. Pembiayaan program-program pembaruan agraria
2.3 Pengembangan Wilayah Pedesaan
Pengembangan wilayah pedesaan di Indonesia telah banyak dilakukan sejak dari dahulu hingga saat ini, namun hasilnya belum memuaskan terhadap peningkatan
kesejahteraan masyarakat pedesaan. Pengembangan wilayah desa seharusnya dilihat bukan hanya sebagai objek tetap juga harus dilihat sebagai subjek pengembangan.
Pengembangan wilayah desa harus dapat dilihat sebagai :
1. Upaya mempercepat pengembangan wilayah pedesaan melalui penyediaan prasarana dan sarana untuk memberdayakan masyarakat;
2. Upaya mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kokoh. Pengembangan wilayah pedesaan bersifat multi aspek oleh karena itu perlu di analisis/secara lebih terarah dan serba keterkaitan dengan bidang sektor, dan aspek di luar pedesaan (fisik dan non fisik, ekonomi dan non ekonomi, sosbud dan non sosbud spesial dan non spasial).
Terdapat berbagai definisi pengembangan wilayah pedesaan yang di dapatkan dari literatur antara lain:
1. Pembangunan usaha tani atau pembangunan pertanian (Mosher, 1974; Bertrand 1958).
2. Pembangunan wilayah pedalaman terintegrasi (Friedman and Douglas, 1971).
3. Perubahan sosial di wilayah pedesaan (Rostow, David, Inkeles).
4. Modernisasi pertanian dan industrialisasi pedesaan (Mosher, 1974; Merton 1984).
5. Meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat pedesaan (Hansen, 1981).
6. Proses rekayasa sosial atau rancang bangun masyarakat pedesaan (Less dan Preslley).
7. Perubahan orientasi dari pertanian produksi ke bisnis seluas-luasnya (Collier dkk, 1996).
8. Proses pemberdayaan komunitas dan potensi produktif di wilayah pedesaan (Craig and Mayo, 1999).
Tujuan pengembangan wilayah pedesaan jangka panjang adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan secara langsung melalui peningkatan kesempatan kerja, kesempatan berusaha dan peningkatan pendapatan berdasarkan pendekatan bina lingkungan, bina usaha dan bina manusia, dan secara tidak langsung adalah meletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi pembangunan nasional.
Tujuan pembanguan pedesaan jangka pendek adalah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan ekonomi dan pemanfaatan sumber daya manusia dan sumberdaya alam.
Tujuan pembanguan pedesaan secara spasial adalah terciptanya kawasan pedesaan yang mandiri, berwawasan lingkungan, selaras, serasi, dan bersinergi dengan kawasan-kawasan lain melalui pembangunan holistik dan berkelanjutan untuk mewujudkan masyarakat yang damai, demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera.
Sasaran pengembangan wilayah pedesaan yang ingin tercipta pada dasarnya adalah:
a. Peningkatan produksi dan produktivitas b. Percepatan pertumbuhan desa
c. Peningkatan keterampilan dalam berproduksi dan pengembangan lapangan kerja dan lapangan usaha produktif.
d. Peningkatan prakarsa dan partisipasi masyarakat. e. Perkuatan kelembagaan.
f. Pengembangan wilayah pedesaan yang dilaksanakan harus sesuai dengan masalah yang dihadapi, potensi yang dimiliki, serta aspirasi dan prioritas masyarakat pedesaan.
g. Pengembangan pedesaan mempunyai ruang lingkup, yakni:
h. Pembangunan sarana dan prasarana pedesaan (meliputi pengairan, jaringan jalan, lingkungan permukiman dan lainnya).
i. Pemberdayaan masyarakat.
j. Pengelolaan sumberdaya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). k. Penciptaan lapangan kerja, kesempatan berusaha, peningkatan pendapatan
(khususnya terhadap kawasan-kawasan miskin).
l. Penataan keterkaitan antar kawasan pedesaan dengan kawasan perkotaan (interrural-urbanrelationship).
Pengembangan wilayah pedesaan seharusnya menerapkan pninsip-prinsip yaitu: (1) transaparansi (keterbukaan);
(2) partisipatif;
(3) dapat dinikmati mayarakat;
(4) dapat dipertanggungjawabkan (akuntabilitas); dan (5) berkelanjutan (sustainable).
Kegiatan-kegiatan pembangunan yang dilakukan dapat dilanjutkan dan dikembangkan ke seluruh pelosok daerah, untuk seluruh lapisan masyarakat. Pembanguan itu pada dasarnya adalah dari, oleh dan untuk seluruh rakyat. Oleh karena itu pelibatan masyarakat seharusnya diajak untuk menentukan visi (wawasan) pengembangan wilayah masa depan yang akan diwujudkan. Masa depan merupakan impian tentang keadaan masa depan yang lebih baik dan lebih mudah dalam arti tercapainya tingkat kemakmuran yang lebih tinggi.
Pengembangan wilayah pedesaan dilakukan dengan pendekatan secara multisektoral (holistik), partisipatif, berlandaskan pada semangat kemandirian, berwawasan lingkungan dan berkelanjutan serta melaksanakan pemanfaatan sumberdaya pengembangan wilayah secana serasi dan selaras dan sinergis sehingga tercapai optimalitas.
Ada tiga prinsip pokok pengembangan wilayah pedesaan, yaitu:
1. Kebijaksaan dan langkah-langkah pengembangan wilayah di setiap desa mengacu kepada pencapaian sasaran pengembangan wilayah berdasarkan Trilogi Pembangunan. Ketiga unsur Trilogi Pengembangan wilayah tersebut
yaitu (a) pemerataan pengembangan wilayah dan hasil-hasilnya, (b) pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, dan (c) stabilitas yang sehat dan dinamis, diterapkan di setiap sektor, temasuk desa dan kota, di setiap wlayah dan antar wilayah secara saling terkait,serta dikembangkan secara selaras dan terpadu.
2. Pengembangan wilayah desa dilaksanakan dengan prinsip-prinsip pengembangan wilayah yang berkelanjutan. Penerapan prinsip pengembangan wilayah berkelanjutan mensyaratkan setiap daerah lebih mengandalkan sumber-sumber alam yang terbaharui sebagai sumber pertumbuhan. Disamping itu setiap desa perlu memanfaatkan SDM secara luas, memanfaatkan modal fisik, prasarana mesin-mesin, dan peralatan seefisien mungkin.
3. Ketiga, Meningkatkan efisiensi masyarakat melalui kebijaksanaan deregulasi, debirokratisasi dan desentralisasi dengan sebaik-baiknya.
Disadari bahwa pengembangan wilayah pedesaan telah dilakukan secara luas, tetapi hasilnya dianggap belum memuaskan dilihat dari pelibatan peran serta masyarakat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Pengembangan wilayah pedesaan bersifat multidimensional dan multi aspek, oleh karena itu perlu dilakukan analisis atau pembahasan yang lebih terarah dan dalam konteks serba keterkaitan dengan bidang atau sektor dan aspek di luar pedesaan (fisik dan non fisik, ekonomi dan non ekonomi, sosial-budaya, spasial, internal dan eksternal).
Rencana pengembangan wilayah daerah harus disusun berdasarkan pada potensi yang dimiliki dan kondisi yang ada sekarang. Kondisi yang ada itu meliputi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya modal, prasarana dan sarana pembangunan, teknologi, kelembagaan, aspirasi masyarakat setempat, dan lainnya. Karena dana anggaran pengembangan wilayah yang tersedia terbatas, sedangkan program pengembangan wilayah yang dibutuhkan relatif banyak, maka perlu dilakukan: (1) penentuan prioritas program pengembangan wilayah yang diusulkan, penentuan prioritas program pengembangan wilayah harus dilakukan berdasarkan kriteria yang terukur, dan (2) didukung oleh partisipasi masyarakat untuk menunjang implementasi program pengembangan wilayah tersebut.
Penentuan program pengembangan wilayah oleh masyarakat yang bersangkutan merupakan bentuk perencanaan dari bawah, dan akar rumput bawah atau sering disebut sebagai bottom-up planning. Peningkatan partisipasi masyarakat merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat (social empowering) secara nyata dan terarah.
Pendekatan pengembangan wilayah pedesaan cukup banyak, dengan pemberian penekanan yang berbeda-beda. Dalam menerapkan pendekatan diharapkan jangan bersifat sempit atau kaku, tetapi hendaknya secara lebih luas dan bersifat fleksibel untuk mewujudkan pertumbuhan pedesaan yang cepat dan kokoh untuk mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat pedesaan yang semakin tinggi.
Memperhatikan kekurangan dan kegagalan perencanaan pengembangan wilayah pedesaan pada masa yang lalu, maka perlu dilakukan penyempurnaan terhadap
pendekatan pengembangan wilayah pedesaan yang sesuai dengan dinamika perkembangan dan kompleksitas pengembangan wilayah serta aspirasi masyarakat. Konsep pendekatan pengembangan wilayah yang lalu yang bersifat sentralistik harus direformasi menjadi desentralistik, disesuaikan dengan masalah, potensi, kondisi, dan kebutuhan masyarakat setempat, secara spasial dan terpadu, tetapi harus pula berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Setelah memperhatikan berbagai pendekatan pengembangan wilayah pedesaan yang cukup banyak seperti dikemukakan di atas, maka pendekatan perencanaan pengembangan wilayah pedesaan pada masa depan sekurang-kurangnya menggunakan pendekatan bottom-up, spasial, multisektoral/terpadu/holistik, partisipatif dan berkelanjutan; dan diantaranya adalah pendekatan partisipasi yang perlu mendapat penekanan.
Pengembangan wilayah pedesaan yang partisipatif merupakan suatu konsep fundamental yang berlaku dan diterapkan sejak dahulu hingga sekarang dan tetap relevan untuk masa depan. Partisipasi masyarakat itu mengikuti perkembangan zaman dari sistem pemerintahan yang berlangsung dalam suatu kurun waktu. Dalam sistem pemerintahan yang sentralistik, mekanisme perencanaan pembangunannya adalah top-down, dan partisipasi masyarakatnya adalah bersifat mobilisasi atau pengerahan massa. Sedangkan dalam sistem pemerintahan yang desentralistik (otonomi daerah), mekanisme perencanaan pembangunannya adalah bottom up dan partisipasi rnasyarakatnya dilakukan dengan kesadaran dan kebersamaan yang tinggi.
Dalam pengembangan wilayah masa depan (beberapa dekade setelah tahun 2000) dimana pemerintah dan bangsa Indonesia menghadapi banyak tantangan (ekonomi,
sosial dan politik) yang berat dan berkepanjangan, maka partisipasi masyarakat sangat diperlukan sebagai kekuatan dinamis dan merupakan perekat masyarakat akar bawah (pedesaan) untuk menunjang pengembangan wilayah pedesaan.
Keberhasilan pengembangan wilayah dalam masyarakat tidak selalu ditentukan oleh tersedianya sumberdana keuangan dan manajemen keuangan yang memadai, tetapi banyak dipengaruhi oleh peran serta dan respons masyarakat terhadap pengembangan wilayah atau dapat disebut sebagai partisipasi masyarakat. Untuk mencapai keberhasilan partisipasi masyarakat dalam pengembangan wilayah diperlukan kepemimpinan lokal yang cakap, berwibawa dan diterima oleh masyarakat (capable and acceptable local leadership) yang mampu mensinergikan tradisi sosial budaya dengan proses manajemen modern.