• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelayanan Kefarmasian di Apotek

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 31-36)

BAB 2 TINJAUAN UMUM

2.11 Pelayanan Kefarmasian di Apotek

Gambar 2.7 Penandaan untuk Fitofarmaka

2.11 Pelayanan Kefarmasian di Apotek

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical care) adalah bentuk pelayanan dan tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya dari obat ke pasien yang mengacu kepada pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care). Kegiatan pelayanan kefarmasian yang semula hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi, sekarang menjadi pelayanan yang komprehensif dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien. Pelayanan kefarmasian di dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004, terdiri dari pelayanan resep, pemberian informasi obat, konseling, pemantauan penggunaan obat, promosi dan edukasi, serta Pelayanan Residensial (Home Care).

2.11.1 Pelayanan Resep a. Skrining resep

Apoteker melakukan skrining resep meliputi persyaratan administratif (nama,SIP dan alamat dokter, tanggal penulisan resep, tanda tangan/paraf dokter penulis resep, nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien), kesesuaian farmasetik (bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian), pertimbangan klinis (adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian dosis, durasi, jumlah obat dan lain- lain).

b. Penyiapan obat

Penyiapan obat terdiri dari peracikan, penulisan etiket, pengemasan, serta penyerahan obat. Peracikan merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat harus dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis dan jumlah obat serta penulisan etiket yang benar. Penulisan etiket harus jelas dan dapat dibaca. Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya. Sebelum obat diserahkan pada pasien, harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep.Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien.

2.11.2 Pemberian Informasi Obat

Apoteker harus memberikan informasi yang benar, mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada pasien sekurang-kurangnya meliputi cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.

2.11.3 Konseling

Konseling adalah suatu proses komunikasi dua arah yang sistematik antara apoteker dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat dan pengobatan. Apoteker harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan salah sediaan farmasi atau perbekalan kesehatan lainnya. Pada penderita penyakit tertentu, seperti kardiovaskular, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara berkelanjutan.

Konseling pasien adalah bagian kompetensi apoteker dalam proses pelayanan kefarmasian. Apoteker berada dalam posisi yang sangat terlihat dan tersedia untuk menjawab pertanyaan pasien tentang obat dan pengobatan alternatif

24

yang mereka tahu dari sumber informasi lain. Seorang apoteker harus mengembangkan, menerapkan dan memantau kemajuan pasien terhadap hasil terapeutik yang diinginkan. Secara rutin dan akurat mengidentifikasi jumlah dan jenis konseling yang diinginkan/diperlukan oleh pasien untuk memaksimalkan peluang menyelesaikan atau mencegah masalah dalam pengobatan. Selain itu, apoteker mengidentifikasi tingkat pengawasan yang diperlukan oleh pasien sesuai dengan risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh obat pasien, masalah terkait obat, atau penyakit.

Pada proses konseling farmasi apoteker bertindak sebagai konselor dan pasien bertindak sebagai klien. Konseling harus bersifat rahasia, sukarela, dan pengambilan keputusan dilakukan oleh klien sendiri. Ciri khas dari konseling adalah:

a. Tatap muka

Banyak hal pada klien dapat terlihat dan terawasi langsung yang tidak diungkapkan dalam percakapan, misalnya sikap, ekspresi wajah, dan emosi yang dapat diketahui saat bertatap muka.

b. Terencana

Konseling tidak dapat dilakukan secara mendadak, harus direncanakan atau disegaja agar konselor dapat menyiapkan hal-hal yang diperlukan, termasuk menyiapkan situasi dan dirinya sendiri.

c. Mempunyai tujuan

Secara umum tujuan konseling adalah membantu klien melihat permasalahannya secara lebih jelas, baik mengenai dirinya, sikapnya, maupun keinginannya sehingga dapat memilih sendiri pemecahan masalahnya.

d. Lebih dari satu pertemuan

Pada umumnya, konseling dilakukan sampai beberapa kali tergantung pada kebutuhan. Konselor juga harus memantau dan menanyakan kembali hasil dari konseling yang dilakukan.

Beberapa prinsip dasar konseling yang harus diperhatikan apoteker dalam memberikan konseling antara lain:

a. Menciptakan hubungan yang baik dengan klien

Hubungan yang baik antara konselor dengan klien akan memberikan kepercayaan klien pada konselor, rasa aman dan merasa rahasianya terjamin, sehingga dalam proses penggalian informasi, konselor akan lebih banyak mendapatkan informasi dari klien. Beberapa persyaratan sebagai konselor, antara lain mempunyai kepribadian yang mantap dan penampilan meyakinkan; mempunyai minat terhadap permasalahan klien; menguasai teknis komunikasi dan konseling; menunjukkan rasa empati; menumbuhkan rasa aman dan dapat menjamin kerahasiaan isi pembicaraan; menjadi pendengar yang baik sehingga dapat menangkap dan memahami isi dan suasana pembicaraan dengan tepat; dan mampu meningkatkan status klien dari orang yang memerlukan bantuan menjadi orang yang menentukan dalam membuat keputusan.

b. Menentukan kebutuhan

Konseling tidak dapat terjadi bila klien datang tanpa tahu apa yang dibutuhkan. Sering kali klien datang tanpa dapat mengungkapkan dengan pasti kebutuhannya. Adakalanya klien diminta oleh pihak lain yang merasa perlu klien diberi penyuluhan, sehingga perlu pendekatan lebih awal untuk mengarahkan pembicaraan kearah pencarian masalah atau kebutuhan. Ketika masalah dan tujuan sudah jelas selanjutnya digali kemungkinan pemecahan masalahnya.

c. Partisipasi

Partisipasi konselor lebih banyak dalam menggali masalah. Konselor membantu klien dalam mengidentifikasi faktor yang menimbulkan masalah dan memilihkan pemecahan masalah yang sesuai. Keputusan pemecahan masalah dibuat oleh klien sendiri dan merupakan bagian dari tanggung jawab klien.

d. Perasaan

Konselor membantu klien dalam menumbuhkan kesadaran tentang perasaannya. Oleh karena itu konselor harus dapat mengerti dan menerima perasaan klien (berempati) dan bukan ikut larut dalam perasaan klien (bersimpati).

26

e. Kerahasiaan

Seringkali apa yang diungkapkan klien merupakan masalah yang sangat pribadi. Kerahasiaan pembicaraan harus dijaga dengan sungguh-sungguh oleh konselor agar klien percaya kepada konselor.

f. Pemberi informasi

Selama pembicaraan, konselor harus memberikan fakta sederhana untuk membantu klien melihat masalahnya. Konselor harus menguasai hal-hal teknis cara pemberian informasi yang baik.

Manfaat dilakukannya konseling dapat dirasakan oleh pasien maupun apoteker. Bagi pasien, konseling dapat mengurangi kesalahan penggunaan obat, menurunkan ketidakpatuhan, mengurangi reaksi obat yang tidak diinginkan, menjamin keamanan dan efektifitas pengobatan, membantu dalam perawatan kesehatan sendiri, membantu pemecahan masalah dalam situasi tertentu dan dapat menurunkan biaya pengobatan. Bagi apoteker, konseling dapat meningkatkan citra farmasi sebagai bagian dari tim pelayanan kesehatan, meningkatkan kepuasan kerja, menarik pelanggan dan membantu dalam meraih pasar, serta dapat meningkatkan pendapatan melalui peningkatan penjualan obat. Dalam melakukan konseling, beberapa hal yang harus diperhatikan terkait dengan pasien, yaitu jenis penyakit pasien, jenis pengobatan dan kondisi pasien.

2.11.4 Pemantauan Penggunaan Obat

Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu, seperti penyakit

cardiovascular, diabetes , TBC, asma dan penyakit kronis lainnya. Pemantauan

dilakukan terhadap khasiat obat serta efek samping yang kemungkinan dapat terjadi.

2.11.5 Promosi dan Edukasi

Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu diseminasi (penyebarluasan) informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet / brosur, poster dan penyuluhan.

2.11.6 Pelayanan Residensial (Home Care)

Pelayanan residensial (Home Care) adalah pelayanan apoteker sebagai

care giver dalam pelayanan kefarmasian di rumah-rumah khususnya untuk

kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan terapi kronis lainnya. Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Pada aktivitas ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication record).

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 31-36)

Dokumen terkait