BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.2. Saran
Dalam menunjang pelayanan kefarmasian yang dilaksanakan di Apotek Arafah, maka diperlukan tempat khusus untuk kegiatan konseling pasien oleh apoteker. Selain itu, untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan, perlu disediakan poster-poster kesehatan di ruang tunggu apotek. Perlu dilakukan evaluasi tingkat kepuasan pasien/konsumen terhadap pelayanan dan kinerja apotek setiap periode tertentu yang ditetapkan.
56
DAFTAR ACUAN
Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2004). Surat keputusan kepala BPOM RI
No. Hk.00.05.4.2411 tentang: Ketentuan pokok pengelompokkan dan penandaan obat bahan alam indonesia. Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1993). Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2002). Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/MenKes/SK/X/2002 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.922/MenKes/Per/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Pedoman Pengelolaan
Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Pedoman Penggunaan Obat
Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta: Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan
Klinik Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Presiden Republik Indonesia. (1980). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 25 Tahun 1980 Tentang Perubahan Atas PP No.26 Tahun 1965 Tentang Apotek. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (1997). Undang Undang Nomor 5 Tahun 1997
Tentang Psikotropika. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009
Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang No.39 Tahun 2009 tentang
Kesehatan. Jakarta.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. (2010). Buku Pedoman Pengelolaan
Narkotika dan Psikotropika di Apotek. Jawa Timur: Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Timur.
Quick, J. (1997). Managing Drug Supply, The selection, Procurement,
Distribution, and Use of Pharmaceuticals, 2nd ed. Revised and Expanded.
Kumarian Press.
Seto, S., Yunita, N., & T, L. (2004). Manajemen Farmasi. Jakarta: Airlangga University Press.
Umar, M. (2011). Manajemen Apotek Farmasi. Jakarta : Wira Putra Kencana.
58
60
62
64
66
68
70
72
Lampiran 8. Peta Lokasi Apotek Arafah
Apotek Arafah Villa Ilhami
74
Lampiran 9. Denah Apotek Arafah
1 2 9 4 3 5 8 6 9 7 KETERANGAN :
1. Etalase Kosmetik 9. R. Apoteker
2. Etalase Perbekalan Kesehatan 10. R. Tunggu 3. Etalase OTC
4. Etalase OTC
5. Etalase Obat Ethical 6. Kulkas
7. Meja Racik 8. Kasir
76
78
80
82 L amp ir an 1 7. L ap o ra n Pe nggun aa n N arkotika Ap o tek
L amp ir an 18. L ap o ra n Pe nggun aa n P siko tropika A potek
UNIVERSITAS INDONESIA
LAPORAN TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI
APOTEKER DI PERUMAHAN VILLA RIZKI ILHAMI A10/12
BOJONG NANGKA, KELAPA DUA, TANGERANG – BANTEN
PERIODE 20 FEBRUARI – 28 MARET 2013
PENILAIAN KELAYAKAN LOKASI DAN ANALISIS
KEUANGAN APOTEK RIZKI SEBAGAI STUDI KELAYAKAN
APOTEK
KARTIKA WIDYANTY, S.Farm.
1206313261
ANGKATAN LXXVI
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM STUDI APOTEKER
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
JUNI 2013
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR LAMPIRAN ... iii BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan... 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA... 3 2.1 Studi Kelayakan ... 3 2.2 Proses Pembuatan Studi Kelayakan ... 4 2.3 Penilaian Aspek Teknis ... 7 2.4 Penilaian Aspek Keuangan... 9 BAB 3 METODOLOGI TUGAS KHUSUS... 13 3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian ... 13 3.2 Metode Pengkajian ... 13 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 14 4.1 Analisis Lokasi dari Aspek Teknis Apotek Rizki ... 14 4.2 Analisis PP, ROI dan BEP dari Aspek Keuangan Apotek Rizki ... 15 4.3 Penilaian Studi Kelayakan Apotek Rizki dari Aspek Teknis dan Aspek
Keuangan... 20 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 23 5.1 Kesimpulan... 23 5.2 Saran ... 23 DAFTAR ACUAN... 24
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Peta Lokasi Apotek Rizki ... 24 Lampiran 2. Foto Bangunan Apotek Rizki ... 25 Lampiran 3. Pembangunan Masjid yang Berhadapan dengan Apotek Rizki... 26
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini masalah kesehatan menjadi salah satu perhatian utama bagi masyarakat. Banyaknya kasus mengenai berbagai penyakit yang timbul membuat masyarakat menjadi lebih memperhatikan masalah kesehatan. Jika semua kebutuhan akan kesehatan lebih dititikberatkan pada upaya penyembuhan, kini telah berangsur-angsur berkembang menuju upaya kesehatan yang menyeluruh, yakni upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif). Apoteker sebagai pengelola apotek dan sumber informasi bagi masyarakat harus selalu meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya baik dalam bidang farmasi sendiri maupun bidang manajerial serta hubungan antar personal dengan kemampuan tersebut diharapkan apoteker dapat menjadi sumber informasi obat yang terpercaya bagi masyarakat luas.
Apotek merupakan tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Pekerjaan kefarmasian yang dimaksud dalam hal ini adalah penjaminan mutu sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lainnya, yang dimulai dari proses pengadaan, penyimpanan, pendistribusian obat dan alat kesehatan, termasuk juga pelayanan obat atas resep dokter.
Apotek juga merupakan perusahaan yang didirikan untuk tujuan profit dan bisnis. Apotek sebagai suatu perusahaan yang didirikan untuk tujuan profit yang paling utama adalah perlu diperkirakan seberapa lama pengembalian dana yang ditanam di proyek tersebut agar segera kembali. Artinya sebelum perusahaan dijalankan maka terlebih dahulu perlu dinilai apakah proyek atau usaha yang dijalankan benar-benar dapat mengembalikan uang diinvestasikan dalam proyek tersebut dalam jangka waktu tertentu dan dapat memberikan keuntungan finansial lainnya seperti yang diharapkan (Umar, 2011).
Selain masalah pengelolaan administrasi dan keuangan yang baik, masalah pemilihan lokasi apotek dapat menentukan perkembangan suatu apotek. Suatu apotek hendaknya berdiri di tempat yang banyak diketahui oleh masyarakat
2
misalnya di pemukiman padat penduduk atau dekat dengan sarana pelayanan publik misalnya dekat dengan pusat perbelanjaan, terminal, rumah sakit dan sebagainya. Aspek keuangan juga tidak kalah penting karena menjadi faktor utama suatu proyek tersebut layak didirikan atau tidak. Oleh sebab itu, penilaian terhadap potensi suatu lokasi dan analisis keuangan untuk didirikan apotek menjadi sangat penting dalam menunjang perkembangan apotek. Dalam laporan tugas khusus Praktek Kerja Profesi Apoteker ini, diuraikan mengenai pembuatan dan penyusunan studi kelayakan apotek baru bernama Apotek Rizki yang akan didirikan dilokasi berbeda dengan Apotek Arafah yang sebelumnya telah didirikan pada tahun 2011.
1.2 Tujuan
Mempelajari dan memahami metode penilaian kelayakan lokasi dan analisis keuangan untuk berdirinya Apotek Rizki di Perumahan Villa Rizki Ilhami A10/12, Bojong Nangka – Kelapa Dua, Tangerang.
3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Studi Kelayakan (Umar, 2011)
Istilah studi kelayakan atau Feasibility Study (FS) adalah suatu metode penjajakan gagasan (idea) suatu proyek mengenai kemungkinan layak atau tidaknya untuk dilaksanakan. Tingkat keberhasilan dalam studi kelayakan dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu kemampuan sumber daya internal (meliputi kecakapan manajemen, kualitas pelayanan, produk yang dijual dan kualitas karyawan) serta lingkungan eksternal yang tidak dapat dipastikan (pertumbuhan pasar, pesaing, pemasok dan perubahan peraturan).
Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap FS antara lain yaitu:
a. Pengusaha: untuk dapat mengetahui apakah gagasan usahanya layak untuk dilaksanakan, karena dengan FS pengusaha dapat mengambil peluang atau dapat menghindari resiko kerugian.
b. Kreditor: untuk dapat mengkaji apakah proyek tersebut pantas diberikan kredit atau tidak. Meskipun ada faktor-faktor lain yang dijadikan yang dijadikan pertimbangan seperti besarnya nilai jaminan, bonafiditas pengusahanya, tingkat hubungan kedua belah pihak.
c. Investor: untuk dapat menganalisis apakah menanamkan modal pada proyek tersebut dapat memberikan keuntungan atau tidak.
Tujuan dari studi kelayakan adalah agar apoteker pengelola apotek (APA) dapat mengerti dan memahami mengenai:
a. Bagaimana cara membuat studi kelayakan pendirian sebuah apotek,
b. Aspek-aspek apa saja yang menjadi penilaian dalam studi kelayakan pendirian sebuah apotek,
c. Kapan suatu studi kelayakan pendirian sebuah apotek dapat dikatakan layak atau tidak layak untuk dilaksanakan, dan
d. Bagaimana cara membuat analisis Break Even Point dalam studi kelayakan pendirian sebuah apotek.
4
2.2 Proses Pembuatan Studi Kelayakan (Umar, 2011)
Tahapan (proses) dalam membuat sebuah studi kelayakan pendirian apotek, dapat terdiri dari lima tahapan yaitu:
2.2.1 Tahap pertama: penemuan suatu gagasan
Gagasan adalah sebuah pemikiran terhadap sesuatu yang ingin sekali untuk dilaksanakan. Gagasan ini biasanya muncul dari pemikiran seseorang dalam suatu organisasi yang mempunyai keinginan untuk melaksanakan sesuatu. Gagasan yang baik untuk didiskusikan, dianalisis dan dilaksanakan adalah gagasan yang memenuhi kriteria diantaranya yaitu bahwa ide harus:
a. Sesuai dengan visi organisasi, b. Dapat menguntungkan organisasi,
c. Sesuai dengan kemampuan sumber daya yang dimiliki apotek, d. Tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku, dan e. Aman untuk jangka panjang.
2.2.2 Tahap kedua: penelitian
Gagasan yang telah disetujui kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan penelitian di lapangan. Untuk keperluan tersebut, data yang dibutuhkan adalah data ilmiah dan data non ilmiah. Data non ilmiah diperoleh melalui instuisi atau
feeling yang diperoleh setelah melihat lokasi dan kondisi lingkungan di
sekitarnya. Sedangkan data ilmiah diperoleh dari analisis data-data bisnis mengenai kondisi lingkungan eksternal yang ada di sekitar lokasi yang ditetapkan seperti:
a. Nilai strategis sebuah lokasi, b. Data kelas konsumen,
c. Peraturan yang berlaku di daerah tersebut, dan d. Tingkat persaingan yang ada saat ini.
2.2.3 Tahap ketiga: evaluasi
Dalam melakukan evaluasi terhadap data hasil penelitian di lapangan, dapat dilakukan dengan cara memperhatikan beberapa faktor yang berpengaruh dan membuat usulan proyek (project appraisal). Faktor yang berpengaruh antara lain:
a. Data lingkungan di sekitar lokasi (external factor) yaitu apakah hasil analisis terhadap data eksternal yang ada saat ini perspektif yang baik atau tidak bagi perusahaan di masa mendatang, seperti tipe konsumen yang akan dilayani (pemukiman, perkantoran), tingkat keuntungan yang akan diperoleh, kondisi keamanan, peraturan tentang pengembangan tata kota (pelebaran jalan) di tempat lokasi yang ditetapkan dan kondisi keamanan di sekitar lokasi yang ditetapkan.
b. Data kemampuan sumber daya yang dimiliki (internal factor): apakah sumber daya yang ada saat ini mempunyai kemampuan untuk merealisasi gagasan pada lokasi yang ditetapkan, seperti kemampuan keuangan; ketersediaan tenaga kerja; ketersediaan produk; dan kemampuan pengelolaan (manajemen).
Pada pembuatan usulan proyek/project appraisal, isi dari proposal tersebut meliputi:
2.2.3.1 Pendahuluan
Pendahuluan berisi mengenai latar belakang atau munculnya gagasan dan tujuan sebagai sesuatu yang akan dicapai dari rencana pelaksanaan suatu gagasan tersebut. Contohnya dengan menambah jumlah apotek pada suatu wilayah tertentu diharapkan akan dapat melayani konsumen lebih dekat dan lebih banyak, sehingga penjualan dan laba bertambah besar.
2.2.3.2 Analisis teknis
a. Peta lokasi dan lingkungan di sekitarnya: keterangan mengenai lokasi-lokasi yang menjadi target pendirian apotek baru. Situasi lingkungan yang ada di sekitar lokasi yang menjadi target, seperti situasi fasilitas transportasi, jenis konsumen, jumlah praktek dokter dan apotek pesaing.
b. Desain interior dan eksterior: warna dan bentuk gedung serta billboard harus dapat memberikan identitas tersendiri yang dapat membedakannya dengan apotek pesaing. Warna dan bentuk gedung serta billboard harus dapat menarik perhatian konsumen.
c. Jenis produk: dominan ethical produk atau produk OTC, serta jumlah lini produk (kelengkapan produk) yang tersedia.
6
2.2.3.3 Analisis pasar
a. Jenis pasar dan strategi persaingan, yaitu gambaran mengenai: pasar monopoli, pasar oligopoli atau pasar persaingan bebas.
b. Potensi pasar: jenis konsumen yang mana yang memiliki daya beli tinggi terhadap apotek.
c. Target pasar: jenis konsumen yang menjadi sasaran dan yang bukan menjadi sasaran.
2.2.3.4 Analisis manajemen
a. Bentuk badan usaha, yaitu gambaran mengenai bentuk usaha apotek berupa perseroan terbatas (PT) atau berupa koperasi.
b. Struktur organisasi, yaitu gambaran mengenai apakah berdiri sendiri, atau bagian dari apotek lain.
c. Jenis pekerjaan, yaitu gambaran mengenai apakah mengerjakan seluruh fungsi kegiatan yang ada atau hanya sebagian saja.
d. Jumlah kebutuhan tenaga kerja, yaitu gambaran mengenai berapa karyawan yang dibutuhkan untuk mencapai omset tertentu serta jenis karyawan yang dibutuhkan.
e. Program kerja, yaitu gambaran mengenai langkah-langkah penting apa yang menjadi prioritas untuk dikerjakan dalam memperoleh sasaran yang ditetapkan serta kapan program tersebut dilaksanakan.
2.2.3.5 Analisis keuangan
a. Jumlah biaya investasi dan model kerja mengenai: berapa jumlah biaya investasi yang dibutuhkan dan digunakan untuk keperluan apa saja. Berapa lama waktu pengembalian (payback period), serta berapa besar tingkat pengembalian internal yang aman (internal rate of return).
b. Sumber pendapatan: dari mana sumber pendapatan tersebut diperoleh, berapa tingkat efisiensinya dibandingkan sumber lain, serta jenis pinjamannya (jangka pendek atau jangka panjang).
c. Aliran kas: bagaimana situasi aliran kasnya selama periode investasi, apakah negatif atau positif dan langkah apa saja yang perlu dilakukan apabila selama periode investasi aliran kasnya negatif.
2.2.4 Tahap Keempat: rencana pelaksanaan
Setelah usulan proyek disetujui, kemudian menetapkan waktu (time schedule) untuk memulai pekerjaan sesuai dengan skala prioritas:
a. Menyediakan dana biaya investasi dan modal kerja, b. Mengurus izin,
c. Membangun atau merehabilitasi gedung, d. Merekrut karyawan,
e. Menyiapkan barang dagangan dan sarana pendukung, dan f. Memulai operasional.
2.2.5 Tahap kelima: pelaksanaan
Dalam melaksanakan setiap pekerjaan, dibuatkan suatu format yang berisi tentang:
a. Jadwal pelaksanaan setiap jenis pekerjaan, b. Mencatat setiap penyimpangan yang terjadi, dan c. Membuat evaluasi serta solusi penyelesaiannya.
2.3 Penilaian Aspek Teknis (Umar, 2011)
Beberapa hal penting yang menjadi pertimbangan pada penilaian aspek teknis antara lain yaitu:
2.3.1 Lokasi dan lingkungan disekitarnya
Arti strategis suatu lokasi adalah berkaitan dengan beberapa hal yang menjadi pertimbangan, meliputi:
a. Jarak lokasi dengan pemasok: relatif dekat dan mudah dicapai.
b. Jarak lokasi dengan domisili konsumennya: relatif dekat dan mudah dicapai dengan berbagai macam jenis alat transportasi.
c. Bentuk dan luas lahan (bangunan): mudah untuk mengembangkan usaha, seperti praktek dokter atau lab. klinik.
d. Nyaman dan aman: daerahnya tidak kotor, tidak macet dan sempit, serta tingkat kriminalnya rendah (bukan daerah premanisme).
e. Prospek pertumbuhan pasarnya relatif cepat dan besar: jumlah konsumen dan daya beli (income per kapita) relatif tinggi.
8
2.3.2 Bentuk kepemilikan bisnis (Anoraga, 2009)
Pemilihan bentuk kepemilikan bisnis merupakan langkah awal dalam menjalankan kegiatan bisnis, sebab berhasil tidaknya bisnis yang dijalankan juga tergantung dari keputusan tersebut. Bentuk kepemilikan bisnis atau badan usaha diantaranya usaha perseorangan, firma, persekutuan komanditer/Comanditer
Venonscaft (CV), perseroan terbatas (PT), badan usaha milik negara (BUMN),
dan bentuk usaha lainnya (misalnya koperasi). Badan usaha yang ditetapkan dapat memiliki tujuan tertentu, misalnya:
a. Memperoleh fasilitas kemudahan dalam konsumen, investor dan kreditor tertentu (contohnya koperasi).
b. Memperoleh perhatian dari kalangan konsumen, investor dan kreditor tertentu, tetapi dalam mengurus izin dikenakan biaya yang relatif mahal dibandingkan dengan koperasi (contohnya perseroan terbatas).
Bentuk kepemilkan bisnis apotek sebagian besar merupakan usaha perseorangan yang merupakan suatu bisnis yang dimiliki dan dikelola oleh seorang individu. Perusahaan perseorangan memiliki kelebihan dalam hal :
a. Mudah untuk memulai,
b. Adanya kebebasan dan fleksibilitas,
c. Pemilik memiliki seluruh laba yang dihasilkan melalui aktivitas bisnisnya, d. Kerahasiaan usaha relatif lebih terjamin, dan
e. Mudah untuk membubarkan.
Perusahaan perseorangan juga memiliki kelemahan dalam hal : a. Tanggung jawab pemilik tidak terbatas,
b. Keterbatasan dalam kemampuan manajerial, c. Keterbatasan sumber keuangan, dan
d. Menyita banyak waktu. 2.3.3 Struktur organisasi
Pembentukan secara rinci dan jelas struktur organisasi dalam suatu perusahaan atau kepemilikan bisnis dimaksudkan untuk memberi gambaran mengenai:
a. Jumlah jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan.
c. Persyaratan jabatan pada setiap jenis pekerjaan. d. Hierarki dalam pengambilan keputusan.
2.4 Penilaian Aspek Keuangan
Pertimbangan dalam menilai aspek keuangan dapat meliputi penilaian terhadap sumber pendanaan untuk investasi dan perhitungan aliran kas (cash flow) yang akan diperoleh selama investasi dengan analisis keuangan.
2.4.1 Penilaian sumber pendanaan
Penilaian sumber pendanaan berguna untuk pendanaan untuk kebutuhan membeli aktiva tetap seperti tanah, bangunan, peralatan interior (komputer, meja, kursi dan rak obat) serta peralatan eksterior (billboard). Selain itu juga berfungsi sebagai pendanaan untuk kebutuhan modal kerja untuk aktiva lancar seperti kas, rekening di bank, maupun membeli barang dagangan (stok obat).
Pertimbangan dalam memilih sumber dana adalah biaya yang paling rendah atau efisien dengan masa tenggang pengembalian yang lebih lama dibandingkan dengan Payback Period proyeknya. Beberapa sumber dana yang dapat digunakan yaitu berupa modal pemilik perusahaan (modal yang disetor), modal dari bank (kreditor), modal dari investor atau lembaga non bank/leasing. 2.4.2 Penilaian analisis keuangan
Dalam melakukan penilaian aspek keuangan terhadap kelayakan suatu proyek dapat dilakukan dengan beberapa metode analisis, antara lain:
2.4.2.1 Metode analisis Payback Period (PP)
Payback Period adalah pengukuran periode yang diperlukan dalam
menutup kembali biaya investasi (initial cash investment) dengan menggunakan aliran kas (laba bersih) yang akan diterima.
� � � � � � � � � � = � � � � ℎ � � � � � � � � � � � 1 � � ℎ� n
...(1)
� � � � ℎ � � � � � � � � � � � � � � � � ℎ � �
Indikatornya adalah:
10 ditetapkan, maka proyek tersebut layak dilaksanakan .
b. Bila PP yang diperoleh waktunya > lama dari maximum PP yang ditetapkan, maka proyek tersebut tidak layak dilaksanakan.
c. Bila PP yang diperoleh waktunya = maximum PP yang ditetapkan, maka proyek tersebut dikatakan boleh dilaksanakan dan juga boleh tidak.
Kelemahan dari analisis ini adalah bahwa jumlah laba yang akan diterima, nilainya tidak disekarangkan/Net Present Value (NPV) sehingga nilainya tidak sama dengan nilai uang investasi yang dikeluarkan pada saat sekarang.
2.4.2.2 Metode analisis Return on Investment (ROI)
Analisis Return On Investment adalah pengukuran besaran tingkat
return (%) yang akan diperoleh selama periode investasi dengan cara
membandingkan jumlah nilai laba bersih per tahun dengan nilai investasi. Rumus :
ROI Nilai laba bersih x100%
Nilai investasi ...(2)
Indikatornya adalah :
a. Bila ROI yang diperoleh > dari bunga pinjaman, maka proyek dikatakan layak dilaksanakan.
b. Bila ROI yang diperoleh < dari bunga pinjaman, maka proyek dikatakan tidak layak dilaksanakan.
c. Bila ROI yang diperoleh = bunga pinjaman, maka proyek boleh dilaksanakan dan boleh juga tidak.
Kelemahan dari analisis ini adalah bahwa nilai jumlah kas yang akan diterima (masuk), nilainya tidak disekarangkan (NPV - net present value) sehingga nilainya tidak sama dengan nilai uang investasi yang dikeluarkan pada saat ini.
2.4.2.3 Metode analisis Break Even Point (BEP)
Analisis pulang pokok atau analisis impas (analisis break even) adalah teknik analisis untuk mempelajari hubungan antara biaya, laba dan volume penjualan (cost – profit – volume analysis). Biaya yang diperhitungkan adalah biaya total yang terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel. Secara umum, tujuan
12
1 �
bisnis adalah berusaha untuk memperoleh laba yang maksimal untuk kemakmuran pemilik modal dengan memanfaatkan sumber-sumber ekonomi yang dimiliki. Akan tetapi diketahui bahwa untuk memperoleh laba tersebut harus ada biaya, baik biaya operasional maupun biaya saat investasi awal. Laba perusahaan didapat dari selisih antara penghasilan (pendapatan) yang diperoleh (misalnya dari hasil penjualan produk) dikurangi biaya yang dikeluarkan oleh pemilik modal (Harjito dan Martono, 2012). Konsep analisis break-even (titik impas) penting dalam pengambilan keputusan bisnis dengan tujuan menentukan kuantitas break-even dengan mempelajari hubungan antara struktur biaya , volume output dan laba perusahaan (Keown, Martin, Petty & Scott, 2010).
Break Event Point (BEP) adalah suatu titik yang menggambarkan bahwa
keadaan kinerja apotek berada pada posisi yang tidak memperoleh keuntungan dan juga tidak mengalami kerugian. Rumus memperoleh BEP adalah :
� � = � �
− ...(3)
Keterangan:
a. Biaya tetap atau fixed cost (FC) adalah jenis biaya yang secara total akan tetap, walaupun terjadi perubahan pada volume penjualan atau jumlah produksi. Contoh biaya tetap yaitu biaya gaji pegawai, biaya tak langsung (biaya listrik, telepon dan air), biaya bunga pinjaman.
b. Biaya variabel atau variable cost (VC) adalah suatu jenis biaya yang secara proporsional berubah-ubah sesuai dengan perubahan jumlah (volume) penjualan atau produksi. Bila jumlah penjualan naik, maka biaya ini juga akan naik atau sebaliknya. Contoh biaya variabel yaitu biaya pembelian barang dagangan, bahan baku.
c. Total pendapatan atau total revenue (TR) adalah jumlah penjualan yang diperoleh dalam periode tertentu.
Analisis Break Event Point digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel pendapatan (revenue), fixed cost dan variable cost, dan keuntungan yang dihasilkan perusahaan pada suatu periode tertentu. Fungsi analisis BEP antara lain adalah untuk merencanakan jumlah:
a. Penjualan: pada tingkat penjualan berapa, labanya dapat menutup biaya
variable dan biaya tetap yang dikeluarkan oleh apotek.
b. Laba dan rugi: berapa jumlah keuntungan dan kerugian yang akan diperoleh apotek, ketika jumlah penjualan dan jumlah biaya tercapai pada tingkat tertentu.
13
BAB 3
METODOLOGI TUGAS KHUSUS 3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian
Survei dilakukan terhadap Apotek Rizki di Perumahan Villa Rizki Ilhami A10/12, Bojong Nangka – Kelapa Dua, Tangerang pada tanggal 20 Februari – 28 Maret 2013.
3.2 Metode Pengkajian
Dengan metode pengumpulan data untuk: a. Data kepadatan penduduk.
b. Penilaian lokasi dilakukan berdasarkan kemudahan akses, tingkat kepadatan penduduk, jarak lokasi dengan pusat keramaian serta fasilitas umum.
c. Pengumpulan data apotek pesaing, klinik dan apotek dokter diambil dalam radius sekitar 3 kilometer dari lokasi.
d. Pengumpulan data rumah sakit dilakukan dalam radius sekitar 5 kilometer. e. Perhitungan BEP dan ROI dengan kisaran data yang diperoleh.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Lokasi dari aspek teknis Apotek Rizki 4.2.1 Penentuan lokasi
Survei dilakukan di Jalan Bojong Nangka dekat Perumahan Villa Rizki Ilhami A10/12, Bojong Nangka – Kelapa Dua, Tangerang.
4.2.2 Latar belakang pemilihan lokasi