• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

F. Pelibatan Lembaga/Komunitas Masyarakat Sipil/Lokal

Keterlibatan masyarakat dalam program pembangunan tentunya merupakan hal yang paling penting dalam penyelenggaran program pendanaan internasional. Hal ini sangat berhubungan dengan beberapa prinsip yang telah dijelaskan sebelumnya seperti transparansi, kepemilikan dan harmoniasasi.

Keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan program tentunya akan berdampak banyak pada keberhasilan program. Keterlibatan yang dimaksud bukan hanya seperti keterlibatan teknis di lapagan, tetapi juga menyangkut keterlibatan strategis masyarakat dalam merencakan dan pengambilan keputusan.

Dalam kasus program Burung Indonesia, berdasarakan keterangan yang diperoleh dari SCF keterlibatan strategis mayarakat dan kelompok masyarakat sipil masih terbilang minim.

“Kami harus mengakui, kalau soal keterlibatan masih warga setempat melalui KTH masih boleh dikatakan minim. Masyarakat cenderung pasif dan tidak menaruh begitu banyak perhatian pada program. Hal ini bisa jadi ada hubungannya dengan posisi pembentukan program. Sudah final sebelum turun duselenggarakan. Jadi warga tidak punya ruang lagi untuk menaruh gagasannya,”

(Mulyadi, Anggota Knowledge Management dan Capacity Building Sulawesi Community Foundation. Wawancara 23 Januari 2021)

Semetara dalam dalam setiap proses koordinasi, hal yang berlangsung hanyalah proses sosialisasi terhadap rencana program. Hal ini dikarenakan gagasan program telah selesai dirumuskan dilevel donor dan pelaksana progeam.

Sehingga masyarakat tak memiliki ruang lagi untuk menyalurkan aspirasi dan gagasannya terhadap program. Hasilnya, masyarakat cenderung tak begitu menaruh perhatian lebih terhadap program ini.

“Iya benar. Anggota lain kurang terlibat bantu-bantu. Saya jadi tidak enak sama orang-orang SCF, yang sudah sedikan kita kegiatan,”

(Marsan, Ketua Kelompok Tani Tabuakkang I. Wawancara 25 Januari 2021)

Dalam penyelenggaraannya, program paling tidak hanya bertumpu besar pada peran para ketua KTH dan kepala desa. Begitu pula pada level masyarakat yang bukan anggota KTH, berdasarkan hasil penelusuran diketahui masyarakat setempat, yang tidak terdaftar sebagai anggota KTH, sama sekali tak pernah dilibatkan dalam penyelenggaraan dan perencanaan program.

“Kalau program dari SCF, cuman anggota KTH yang terlibat. Saya tidak. Pak Dusun juga tahu itu, karena beliau terlibat. Tapi kalau dibilang perubahan diberikan, kami pun rasa. Karena dulu itu, sebelum ada kopi dari SCF, kami belum tahu bagaimana cara tanam.

Ternyata harus tanam dulu tumbuhan tegakan. Karena kopi tidak boleh kena sinar matahari langsung. Itu juga mungkin alasannya. Kita yang bukan anggota KTH tidak kebagian benih,” Aco, Masyarakat Desa Kahayya. Wawancara 1 Maret 2021

Namun, diketahui masyarakat setempat cukup memahami dampak dari kahadiran program bantuan ini. Melalui sejumlah perubahan pola pengelolaan hutan di Desa Kahayya. Kesadaran akan pentingnya menamam kopi agar dapat memberi kesejahteraan bagi petani dan mendorong tanaman tegakan hutan tetap berdiri, setidak telah disadari sebagai hal yang positif di tengah masyarakat.

Sementara, salah satu ketua KTH setempat menjelaskan bahwa sebenarnya masyarakat memiliki keterlibatan dalam program ini. Namun, keterlibatan tersebut belum sampai pada level keterlibatan dalam perencanaan.

Sebab, proses penyedaran pentingnya menanam kopi, program pada mula

menyasar hanya para anggota KTH di tiap dusun. Tetapi, setiap KTH diberi tanggung jawab untuk menyebarluaskan pemahaman itu kepada seluruh masyarakat.

“Memang hanya kami para anggota KTH yang menerima pelatihan dan bibit kopi. Tetapi secara tidak langsung masyarakat juga terkena dampaknya. Karena kami diberi tanggung jawab untuk menyebarluaskan pengetahuan tersebut kepada seluruh warga. Di setiap kesempatan yang ada. Seprti ketika acara-acara di balai desa dan lain-lain. Sehingga, semua masyarakat di sini sudah paham kalau cara paling tepat untuk menjaga hutan dan memanfaatkan hutan, ialah menanam kopi,” (Ansar, Ketua Kelompok Tani Tabuakkang I. Wawancara 25 Januari 2021) Perhatian masyarakat setidaknya juga dapat terlihat dari pada kegiatan pengembangan ekosistem wisata. Pada kasus ini, pelibatan masyarat merupakan kunci dari penyeleggaraan. Sebab terbentuknya kelompok sadar wisata merupakan indikator keberhasilan dari sasaran ini. Partisipasi aktif kelompok sadar wisata dapat dilihat dari antusias warga dalam menyukseskan event tahunan yang bertajuk: “Senandung Kopi Kahayya”. Dimana salah satu tujuan dari event ini ialah memperkenalkan Desa Kahayya melalui keunggulan komoditas kopi dan panorama alamnya.

“Antusias anak muda sangat terlihat pas digelar kegiatan senandung kopi. Anak muda senang karna kampung bisa bikin kegiatan meriah. Orang datang dari kota untuk menyaksikan keindahan Kahayya dan kopinya.”

(Ansar, Ketua Kelompok Tani Tabuakkang I. Wawancara 25 Januari 2021)

Sebagaimana diketahui, Desa Kahayya merupakan salah satu wilayah yang ditunjuk oleh pemerintah Kabupaten Bulukumba sebagai salah satu

destinasi wisata di Kabupaten Bulukumba. Hal ini inilah yang mendasari terbentuknya kelompok sadar wisata, dan kelompok ini pun banyak terlibat untuk membangun gagasan dan aktivitas pengembangan wisata di Desa Kahayya. Lewat berbagai pembangunan fasilitas wisata di puncak bukit Kahayya dan keterlibatan aktif di berbagai event pengenalan kawasan wisata di Kahayya.

Keterlibatan ini diharapkan dapat menciptakan rasa kepemilikan masyarakat terhadap program, khusus salah satu gagasan program terkait pembangunan ekosistem wisata dalam rangka mendukung keberlangsungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Penelitian menganalisis efektifitas bantuan melalui, enam prinsip bantuan internasional yang dikemukakan oleh Deepthi Wickremasinghe (2018). Dari keenam prinsip yang digunakan, terdapat empat prinsip yang telah terpenuhi, yakni kepemilikan negara atas kebijakan, keselarasan program dengan prioritas negara, upaya harmonisasi program, dan perhatian atas transparasi dan akuntabiltas, kepastian dana jangka panjang. Meski demikian, masih terdapat satu prinsip yang belum berjalan secara maksimal, yakni dan keterlibatan masyarakat dalam program.

Pemenuhan prinsip kepemilikan negara atas kebijakan dapat dilihat dari kehadiran Undang-Undang (UU) Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yang mengatur tentang pentingnya keberadaan hutan dalam sebuah wilayah kabupaten/kota, melaui ketetuan 30% ruang terbuka hijau. Sehingga upaya perlindungan hutan di Desa Kahayya telah menjadi salah satu poin kebijakan dalam Roadmap Pengelolaan Sumber Daya Alam Kabupaten Bulukumba.

Sementara, pada prinsip keselarasan program dengan prioritas negara, ditemukan bahwa dalam roadmap pemanfaatan SDA Kabupaten Bulukumba, upaya perlindungan kawasan hutan di Desa Kahayya telah masuk dalam intervensi prioritas di sektor hulu. Di mana keberadaan hutan di wilayah ini, sangat menentukan keberadaan pasokan air di Kabupaten Bulukumba, sehingga

berbagai upaya yang berhubunngan dengan perlindungan dan pengelolaan hutan tentunya sangat berkesempatan untuk memperoleh dukungan dari pemerintah setempat.

Selanjutnya, pada prinsip upaya harmonisasi program, ditemukan bahwa dalam menjalan program perlindungan dan pengembangan kawasan hutan, SCF senantiasa mengedapankan metode fasilitasi, di mana pada level pemerintah kabupaten, melalui Pokja Pengelolaan SDA. Hingga pada level pemerintah desa, melalui serangkaian upaya intervensi kebijakan, termasuk mendorong pemerintah desa untuk menjadikan pengelolaam ekowisata sebagai prioritas pembangunan.

Lalu, pada prinsip perhatian atas transparasi dan akuntabiltas, ditemukan bahwa proses pertanggung jawaban pada program ini hanya melibatkan pihak pendonor dan penyelenggara. Meski demikian, karena program memiliki keterikatan dengan kebijakan pemerintah setempat, maka program ini senantiasa memperoleh perhatian dari forum pengawasan bersama yang diikuti oleh pihak penyelenggara dan para anggota Pokja SDA.

Kemudian, pada prinsip kepastian dana jangka panjang, diketahui bahwa sejak bergulirnya program, SCF sebagai pihak penyelenggara telah mengetahui bahwa usia kemitraan bersama CEPF hanya dapat berlangsung dalam satu tahun, dan tak akan ada proses penpanjangan kemitraan. Sebab, program ini hadir tepat di gelmobang akhir, periode bantuan CEPF di Indonesia. Sehingga dalam

mengantisipasi hal tersebut, pihak SCF mengaku telah membangun kemitraan dengan pemerintah setempat untuk menjaga keberlangsungan program.

Sementara, pada prinsip Keterlibatan Masyarakat, Pihak SCF mengakui bahwa program ini hanya melibatkan para anggota kelompok tani hutan (KTH), itu pun keterlibatan belum berlangsung secara massif, dan belum dilibatkan dalam proses perencanaan strategis program.

Melalui analisis tersebut ditemukan bahwa pelaksanaan bantuan pembangunan internasional, melalui program pengembangan dan perlindungan hutan kemasyarakatan di Desa Kahayya, Kabupaten Bulukumba. Dari 6 (enam) prinsip yang digunakan sebagai alat ukur, diketahui 4 (empat) prinsip diantaranya telah terlaksana secara maksimal, meskipun 2 (dua) prinsip lainnya masih belum terlaksana secara maksimal, karena menemui kendala-kendala yang cukup krusial di lapangan.

B. Saran

Terkait dengan masa depan pendanaan program yang telah berhenti semenjak masa penyelenggaran program berakhir, sangat diharapkan pihak SCF senantiasa untuk melakukan pendampingan dan mengintenalisasi masyarakat mengenai gagasan program mengenai integrasi kebijakan dan pengembangan hasil hutan, serta ekosistem sangatlah relevan dengan kebutuhan masyarakat dan kelestarian ekosistem lingkungan hidup di Desa kahayya.

DAFTAR PUSTAKA

Burhan, Z. (2016). Efektivitas Bantuan Pembangunan Internasional Dalam Program Sulawesi Agfor (Agroforestry & Forestry) Project Terhadap Pemberdayaan Hutan Desa Campaga Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Jurnal Wanua, 60-65.

CEPF. (2020, maret 2). About. Retrieved from Critical Ecosystem Partnership Fund: https://www.cepf.net/about

Chandra, W. (2016, Maret 8). CEPF Burung Indonesia Tawarkan Dana Konservasi Satwa Endemik Sulawesi. Apa Programnya? Retrieved from Mongabay:

https://www.mongabay.co.id/2016/03/08/cepf-burung-indonesia-tawarkan-dana-konservasi-satwa-endemik-sulawesi-apa-programnya/

Deepthi Wickremasinghe, M. G. (2018, agustus 7). "It’s About the Idea Hitting the Bull’s Eye": How Aid Effectiveness Can Catalyse the Scale-up of Health

Innovations. Retrieved from NCBI:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6077277/

Group, I. E. (2007). Critical Ecosystem Partnership Fund. Washington DC:

Independent Evaluation Group.

Harahap, Z. (2000). Pembangunan Berkelanjutan: Analisis Terhadap ULLAJ.

Pembangunan Berkelanjutan: Analisis Terhadap ULLAJ, 1.

Indonesia, B. (2014). HOTSPOT KERAGAMAN HAYATI WALLACEA. Indonesia:

Burung Indonesia.

International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).

1980. World conservation strategy: Living resource conservation for sustainable development. Gland: IUCN

Indonesia, B. (2016, Desember 27). Call for Letters of Inquiry No. 9 Investment in the wallacea Biodiversity hotspot request for proposals. Retrieved from Burung Indonesia: https://www.burung.org/2016/12/28/call-for-letters- of-inquiry-no-9-investment-in-the-wallacea-biodiversity-hotspot-request-for-proposals/

John Degnbol, M. P. (2003). Aid Understanding International Developement Cooperation. New York: Zed Books.

Kurniawan, A. (2017). Analisis Strategi pengelolaan dan pengembangan sektor perikanan tangkap di kabupaten Sumenep. fakultas ekonomi dan bisnis universitas Jember, 8.

Mahardika, D. (2017). ANALISIS BANTUAN LUAR NEGERI AUSTRALIA DI TIMOR LESTE (STUDI KASUS : AUSAID TAHUN 2011 – 2013). FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MALANG, 19.

Milne. (2012, juni 13). REDD di Kalimantan Sebuah Kegagalan Total. Retrieved from Mongabay: https://www.mongabay.co.id/2012/06/13/milne-redd-di-kalimantan-sebuah-kegagalan-total/

Mulyadi. (2019, Januari 1). Pengelolaan dan Perlindungan KBA KARAENG-LOMPOBATTANG. Retrieved from Sulawesi Community Foundation:

https://scf.or.id/event/pengelolaan-dan-perlindungan-kba-karaeng-lompobattang/

Nurka Cahyaningsih, G. P. (2006). Hutan Kemasyarakatan Kabupaten Lampung Barat Panduan cara memproses perijinan dan kiat sukses menghadapi evaluasi. Hutan Kemasyarakatan Kabupaten Lampung Barat Panduan cara memproses perijinan dan kiat sukses menghadapi evaluasi, 7.

Ordóñez, C & Duinker, 2010. Interpreting Sustainability for Urban Forests, Jurnal Canada Vol 2 tahun 2010 halaman 124-127

OECD. (2020, APRIL 5). Paris Declaration and Accra Agenda for Action. Retrieved

from OECD:

http://www.oecd.org/dac/effectiveness/parisdeclarationandaccraagenda foraction.htm

OECD, 2011. The Busan Partnership for Effective Development Co-operation http://www.oecd.org/dac/effectiveness/49650173.pdf

OECD, 2007. The Accra Agenda for Action (AAA) https://www.oecd.org/dac/effectiveness/45827311.pdf

Permenhut. (2014). PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA.

Indonesia: Kementrian Perhutanan.

S., C. N. (2015). TANGGUNG JAWAB NEGARA INDONESIA TERHADAP DEFORESTASI HUTAN BERDASARKAN KONVENSI PERSERIKATAN

BANGSA-BANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI. FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS BRAWIJAYA, 4-21.

Saptari, A. (2014). Prinsip-prinsip Pembangunan Berkelanjutan yang Berwawasan Lingkungan Hidup. Modul, 13.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Gambar 3 foto di lokasi penelitian

Gambar 2 foto bersama narasumber

Dokumen terkait