BAB II : BENTUK PELINDUNGAN KELUARGA PMI BERDASARKAN
C. Bentuk Pelindungan Keluarga PMI
1. Pelindungan Hukum
Indonesia sebagai negara hukum memiliki kewajiban memberikan pelindungan hukum bagi setiap Warga Negara Indonesia, termasuk diantaranya yaitu pelindungan terhadap PMI dan keluarganya yang berada di Luar Negeri.
76Imam Soepomo, Hukum Perburuhan-Bidang Hubungan Kerja, Djambatan, Djakarta, 1987, hal 43
46
Bentuk pelindungan hukum dibagi menjadi dua, yaitu: 77
a. Pelindungan hukum preventif, yaitu pelindungan yang diberikan oleh pemerintah yang bertujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran.
b. Perlindungan hukum represif, yaitu perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.
Pelindungan yang diberikan oleh negara kepada CPMI/PMI mencakup: 78 1) Pelindungan sebelum bekerja yaitu pelindungan sejak pendaftaran sampai
keberangkatan.
2) Pelindungan selama bekerja yaitu pelindungan selama PMI dan anggota Keluarganya berada di Luar Negeri.
3) Pelindungan setelah bekerja yaitu pelindungan sejak Pekerja Migran Indonesia dan anggota keluarganya tiba di debarkasi di Indonesia hingga kembali ke daerah asal.
Bentuk Pelindungan Hukum bagi CPMI/PMI, Meliputi:79
1) Pekerja Migran Indonesia hanya dapat bekerja ke negara tujuan penempatan yang:
a. mempunyai peraturan perundang-undangan yang melindungi tenaga kerja asing;
b. telah memiliki perjanjian tertulis antara pemerintah negara tujuan penempatan dan Pemerintah Republik Indonesia; dan/atau
77https://www.dosenpendidikan.co.id/preventif-dan-represif/, Diakses pada 10 Maret 2020
78Undang-Undang Nomor. 18 Tahun 2017, Loc.Cit., Pasal 1 angka 6,7, dan 8
79Ibid, Pasal 32 dan 33
47
c. memiliki sistem Jaminan Sosial dan/atau asuransi yang melindungi pekerja asing.
2) Pemerintah Pusat dapat menghentikan dan/atau melarang penempatan PMI untuk negara tertentu atau jabatan tertentu di luar negeri dengan alasan :
1. pertimbangan keamanan;
2. pelindungan hak asasi manusia;
3. pemerataan kesempatan kerja; dan/atau
4. kepentingan ketersediaan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan nasional.
3) Dalam menghentikan dan/atau melarang penempatan Pekerja Migran Indonesia, Pemerintah Pusat memperhatikan saran dan pertimbangan Perwakilan Republik Indonesia, Kementerian/lembaga, Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia, dan masyarakat.
4) Penetapan negara tertentu atau jabatan tertentu ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.
5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penghentian dan pelarangan penempatan Pekerja Migran Indonesia diatur dengan Peraturan Menteri.
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memberikan pelindungan hukum terhadap Pekerja Migran Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang¬undangan, hukum negara tujuan penempatan, serta hukum dan kebiasaan internasional.
48 2. Pelindungan Sosial
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya wajib melakukan pelindungan sosial bagi Calon Pekerja Migran Indonesia dan/atau Pekerja Migran Indonesia melalui:80
a. peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan kerja melalui standardisasi kompetensi pelatihan kerja;
b. peningkatan peran lembaga akreditasi dan sertifikasi;
c. penyediaan tenaga pendidik dan pelatih yang kompeten;
d. reintegrasi sosial melalui layanan peningkatan keterampilan, baik terhadap Pekerja Migran Indonesia maupun keluarganya;
e. kebijakan pelindungan kepada perempuan dan anak; dan
f. penyediaan pusat Pelindungan Pekerja Migran Indonesia di negara tujuan penempatan.
Selain dari yang disebutkan di atas, terdapat satu bentuk pelindungan sosial yang diatur dalam Pasal 29 UU No. 18 Tahun 2017 yaitu jaminan sosial.
Pada Pasal tersebut dijelaskan bahwa “Dalam upaya Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Pemerintah Pusat menyelenggarakan Jaminan Sosial bagi Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya”. Selaras dengan itu, UU Ketenagakerjaan yakni UU No. 13 Tahun 2003, dalam Pasal 99 ayat (1) juga menegaskan bahwa
“Setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja”.
Jaminan Sosial yaitu suatu bentuk pelindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak.81
80Ibid, Pasal 34
49
Penyelenggaraan program Jaminan Sosial bagi Pekerja Migran Indonesia dan Keluarganya merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional,82lebih lanjut tentang jaminan sosial pekerja migran diatur dalam peraturan pelaksana dari pasal 29 UU No 18 Tahun 2017 yaitu Permenaker No. 18 Tahun 2018 tentang Jaminan Sosial PMI. Adapun program jaminan sosial yang diselenggarakan oleh BPJS sesuai dengan yang diatur dalam Permenaker No. 18 Tahun 2018, yaitu:
a. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK);
b. Jaminan Kematian (JKM); dan c. Jaminan Hari Tua (JHT).
CPMI/PMI yang ingin bekerja di luar negeri wajib terdaftar terlebih dahulu dalam program JKK dan JKM, sedangkan khusus untuk program JHT dapat diikuti oleh CPMI/PMI secara sukarela.
Pelindungan terhadap CPM/PMI dimulai sejak sebelum bekerja, setelah bekerja, dan setelah bekerja dengan ketentuan mengenai jangka waktu sebagai berikut:83
1) Jangka waktu pelindungan sebelum bekerja paling lama 5 (lima) bulan.
2) Dalam hal Calon Pekerja Migran Indonesia belum berangkat ke negara tujuan penempatan melebihi jangka waktu 5 (lima) bulan, Calon Pekerja Migran Indonesia melakukan pendaftaran pelindungan sebelum bekerja dengan membayar kembali iuran.
3) Jangka waktu pelindungan selama bekerja paling lama 25 (dua puluh lima) bulan dengan rincian sebagai berikut:
81Lihat Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
82Undang-Undang Nomor. 18 Tahun 2017, Op.Cit.,Pasal 29
83Lihat Pasal 11 Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 18 Tahun 2018 Jaminan Sosial Pekerja Migran Indonesia
50
a. Paling lama 24 (dua puluh empat) bulan di negara tujuan penempatan; dan b. Paling lama 1 (satu) bulan pada saat persiapan kepulangan di negara tujuan
penempatan.
4) Pekerja Migran Indonesia perseorangan mendapatkan tambahan pelindungan selama bekerja paling lama 1 (satu) bulan setelah pendaftaran dan pembayaran iuran sampai dengan Pekerja Migran Indonesia berangkat ke negara tujuan penempatan, dalam bentuk manfaat program JKM.
5) Dalam hal Pekerja Migran Indonesia perseorangan belum berangkat ke negara tujuan penempatan setelah melewati 1 (satu) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), segala risiko menjadi tanggung jawab Pekerja Migran Indonesia yang bersangkutan.
6) Jangka waktu pelindungan setelah bekerja paling lama 1 (satu) bulan.
Manfaat program jaminan sosial PMI bagi Keluarganya : a. Program JKK :
Manfaat Program JKK bagi keluarga CPMI/PMI yang terjadi baik sebelum bekerja, selama bekerja, dan setelah bekerja, yaitu:
1) Dalam hal Kecelakaan Kerja menyebabkan Calon Pekerja Migran Indonesia atau Pekerja Migran Indonesia meninggal dunia, manfaat program JKK dibayarkan kepada ahli waris. Ahli waris sebagaimana dimaksud meliputi:84 a) janda, duda, atau anak;
b) dalam hal janda, duda, atau anak tidak ada, manfaat program JKK diberikan sesuai urutan sebagai berikut:
84Ibid, Pasal 31 ayat 1
51
1. keturunan sedarah CPMI/PMI menurut garis lurus ke atas dan ke bawah sampai derajat kedua;
2. saudara kandung;
3. mertua;
4. pihak yang ditunjuk dalam wasiatnya oleh Peserta; atau
5. dalam hal tidak ada pihak yang ditunjuk dalam wasiat Peserta, santunan kematian diserahkan ke dana jaminan sosial.
Besaran santunan JKK yang akan diterima oleh ahli waris apabila CPMI/PMI meninggal dunia yaitu sebesar Rp 85.000.000.00; (delapan puluh lima juta rupiah).
2) Beasiswa pendidikan atau pelatihan kerja bagi 2 (dua) orang anak Peserta, bagi Peserta yang mengalami Cacat Total Tetap akibat Kecelakaan Kerja atau meninggal akibat Kecelakaan Kerja, yang dibayarkan secara tahunan dan besarannya ditentukan berdasarkan tingkat pendidikan anak Peserta,85 dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Pembayaran klaim beasiswa pendidikan atau pelatihan kerja diberikan berdasarkan pengajuan yang dilakukan setiap tahun.
b) Tingkat pendidikan:
TK/SD/Sederajat sebesar Rp 1.200.000,00 (satu juta dua ratus ribu rupiah) pertahun;
SLTP/Sederajat sebesar Rp 1.800.000,00 (satu juta delapan ratus ribu rupiah) pertahun;
85Ibid, Pasal 16 ayat 2 huruf h dan 17 ayat 4 huruf h
52
SLTA/Sederajat sebesar Rp 2.400.000,00 (dua juta empat ratus ribu rupiah) pertahun;
Perguruan Tinggi sebesar Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah) pertahun.
c) Pelatihan kerja disetarakan dengan santunan beasiswa pendidikan setingkat Perguruan Tinggi.
d) Beasiswa pendidikan atau pelatihan kerja diberikan sampai dengan anak peserta berusia 23 (dua puluh tiga) tahun/menikah/bekerja.
e) Apabila beasiswa pendidikan atau pelatihan kerja tidak diajukan ahli waris pada setiap tahunnya, maka rapel beasiswa dapat diberikan hanya dalam satu tahun sebelumnya dan tahun berjalan.
b. Program JKM :
Apabila CPMI/PMI meninggal dunia dalam masa kepesertaan aktif pada saat sebelum bekerja, selama bekerja atau sesudah bekerja maka BPJS akan memberikan santunan kepada keluarga/ahli waris86, dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Manfaat program JKM sebelum bekerja dan setelah bekerja:
a. santunan kematian sebesar Rp 16.200.000,00 (enam belas juta dua ratus ribu rupiah);
b. santunan berkala sebesar 24 × Rp 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah) = Rp4.800.000,00 (empat juta delapan ratus ribu rupiah) yang dibayar sekaligus;
c. biaya pemakaman sebesar Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah).
86Ibid, Pasal 19
53 2) Manfaat program JKM selama bekerja:87
Pemberian santunan berupa uang, meliputi:
a. santunan kematian;
b. santunan berkala;
c. biaya pemakaman; dan
d. beasiswa pendidikan atau pelatihan kerja bagi 2 (dua) orang anak peserta.
Besaran santunan yang diberikan terdiri atas:
a. santunan kematian, berkala, dan biaya pemakaman Rp 85.000.000,00 (delapan puluh lima juta rupiah) yang dibayar sekaligus; dan
b. beasiswa pendidikan atau pelatihan kerja bagi 2 (dua) orang anak peserta dibayarkan secara tahunan dan besarannya ditentukan berdasarkan tingkat pendidikan anak Peserta. Dengan ketentuan sebagai berikut:
a) Pembayaran klaim beasiswa pendidikan atau pelatihan kerja diberikan berdasarkan pengajuan yang dilakukan setiap tahun.
b) Tingkat pendidikan:
TK/SD/Sederajat sebesar Rp 1.200.000,00 (satu juta dua ratus ribu rupiah) pertahun;
SLTP/Sederajat sebesar Rp 1.800.000,00 (satu juta delapan ratus ribu rupiah) pertahun;
SLTA/Sederajat sebesar Rp 2.400.000,00 (dua juta empat ratus ribu rupiah) pertahun;
87Ibid, Pasal 21
54
Perguruan Tinggi sebesar Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah) pertahun.
c) Pelatihan kerja disetarakan dengan santunan beasiswa pendidikan setingkat Perguruan Tinggi.
d) Beasiswa pendidikan atau pelatihan kerja diberikan sampai dengan anak peserta berusia 23 (dua puluh tiga) tahun/menikah/bekerja.
e) Apabila beasiswa pendidikan atau pelatihan kerja tidak diajukan ahli waris pada setiap tahunnya, maka rapel beasiswa dapat diberikan hanya dalam satu tahun sebelumnya dan tahun berjalan.
Dari keseluruhan ketentuan yang diatur dalam Permenaker No 18 Tahun 2018, yang menjadi subjek dari penyelenggaraan jaminan sosial yaitu terbatas bagi CPMI/PMI saja, baik yang ditempatkan oleh Pelaksana Penempatan atau perseorangan.88 Berbeda dengan yang diatur dalam Pasal 29 UU No 18 Tahun 2017 dan Pasal 99 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003, bahwa penyelenggaraan jaminan sosial seharusnya diberikan kepada pekerja migran indonesia dan keluarganya. Namun, tidak terdapat satu pasal pun dalam Permenaker tersebut yang mengatur tentang jaminan sosial bagi keluarga PMI.
Terdapat disharmoni antara yang diatur dalam UUPPMI dan UUK dengan Permenaker No. 18 Tahun 2018 tentang Jaminan Sosial PMI. Dalam UUPPMI dan UUK ditegaskan bahwa keluarga PMI merupakan bagian dari subjek jaminan sosial ketenagakerjaan. Berbeda dengan UU PPMI, dimana Keluarga PMI hanya sebagai penerima manfaat jaminan sosial yang akan diterima apabila PMI cacat total atau meninggal dunia.
88Ibid, Pasal 5
55
Dari penjelasan tentang pelindungan Keluarga PMI di atas, baik dalam aspek hukum, ekonomi, sosial, dan jaminan sosial terlihat bahwa pelindungan yang dimaksud hanya terfokus pada CPMI/PMI. Padahal apabila kembali merujuk pada Pasal 1 angka 5 UU No. 18 Tahun 2017 disebutkan bahwa pelindungan PMI adalah segala upaya untuk melindungi kepentingan CPMI/PMI dan keluarganya dalam mewujudkan terjaminnya pemenuhan haknya dalam keseluruhan kegiatan sebelum bekerja, selama bekerja, dan setelah bekerja dalam aspek hukum, ekonomi, dan sosial.
3. Pelindungan Ekonomi
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya wajib melakukan pelindungan ekonomi bagi Calon Pekerja Migran Indonesia dan/atau Pekerja Migran Indonesia melalui:89
a. pengelolaan remitansi dengan melibatkan lembaga perbankan atau lembaga keuangan nonbank dalam negeri dan negara tujuan penempatan;
b. edukasi keuangan agar Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya dapat mengelola hasil remitansinya; dan
c. edukasi kewirausahaan.
Demikian pengaturan tentang pelindungan sosial yang diatur dalam UU No. 18 Tahun 2017, adapun dalam Pasal 35 dinyatakan ketentuan lebih lanjut mengenai pelindungan hukum, pelindungan sosial, dan pelindungan ekonomi bagi Calon Pekerja Migran Indonesia dan/atau Pekerja Migran Indonesia diatur dengan
89Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017, Op.Cit., Pasal 35
56
Peraturan Pemerintah. Namun dua tahun sejak UU ini diundangkan, peraturan pelaksana berupa Peraturan Pemerintah tentang pelindungan hukum, ekonomi, dan sosial PMI belum juga dikeluarkan.
57 BAB III
STANDAR PELINDUNGAN KELUARGA PEKERJA MIGRAN INDONESIA YANG DICANANGKAN OLEH ILO
A. Latar Belakang Lahirnya Konvensi ILO 1990
Konvensi internasional tentang Pelindungan Hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (International Convention on the Protection of the Rigthts of All Worker and Members of Their Families) ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (Majelis Umum PBB) pada tanggal 18 Desember 1990 melalui Resolusi PBB No. 45/158, dan terbuka untuk ditandatangani oleh seluruh Negara Anggota PBB.
Kemudian pada tanggal 22 September 2004, Menteri Luar Negeri atas nama Pemerintah Indonesia telah menandatangani Konvensi Migran, setelah tertunda dari jadwal Rencana Aksi Nasional (RAN) HAM 1998-2003, maka Konvensi Internasional tentang Pelindungan Hak Para Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang No 6. Tahun 2012 Tentang Pengesahan International Convention on the Protection of the Rigthts of All Worker and Members of Their Families (Konvensi Internasional Mengenai Perlindungan Hak-Hak Seluruh Pekerja Migran Dan Anggota Keluargnya) tanggal 2 Mei 2012.
Konvensi Pekerja Migran lahir karena dorongan kuat negara-negara asal pekerja migran dalam upaya memberikan pelindungan lebih kepada pekerja migran secara spesifik mencakup pula anggota keluarganya, selain pelindungan HAM yang sudah ada dalam Instrumen Internasional HAM lainnya. Konvensi ini
58
juga lahir akibat ketidakpuasan negara-negara pekerja migran terhadap berbagai upaya melalui International Labour Organization (ILO) yang pada saat itu dinilai kurang memadai dalam melindungi hak-hak pekerja migran dan anggota keluarganya. Bahkan lebih dari itu, negara-negara asal pekerja migran juga menilai bahwa ILO pada saat itu secara struktur lebih menguntungkan negara-negara maju.90
Negara pendukung utama pada tahap awal formulasi Konvensi ini adalah Maroko dan Meksiko yang merupakan negara-negara asal pekerja migran yang sangat berkepentingan dalam melindungi hak-hak warga negarnya yang bekerja di luar negeri. Upaya kedua negara tersebut berhasil mendorong pengesahan Resolusi Majelis Umum PBB No. 34/172 pada tahun 1979 yang kemudian membentuk sebuah Open-Ended Working Group (OEWG) yang bertugas menyusun draft Konvensi Pekerja Migran. Sejak awal, upaya penyusunan draft Konvensi Pekerja Migran telah menimbulkan pertentangan, terlebih mayoritas negara maju menginginkan agar isu pekerja migran hanya dibahas dalam kerangka ILO.91
Namun akhirnya, kelompok gabungan negar-negara Mediterania dan Skandinavia (MESKA) seperti Spanyol, Italia, dan Norwegia, juga ikut mengambil peran penting dalam pembahasan pada OEWG tersebut. Keterlibatan kelompok MESKA tersebut utamanya dilandasi motivasi untuk memerangi imigrasi tak-reguler dengan mencegah penerimaan pekerja-pekerja migran yang
90Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Tentang Pengesahan Internasional Covention On The Protection Of The Rights Of All Migrant Workers And Members Of Their Families, hal 2-3
91Ibid.
59
tidak mempunyai dokumen, dan pada saat yang sama tetap memandang status legalitas mereka.92
Konvensi Pekerja Migran mulai berlaku efektif (entry into force) sejak taggal 1 Juli 2003 setelah diratifikasi oleh 20 negara pada bulan Maret 2003 dan merupakan perjanjian dengan kekuatan hukum mengikat. Hingga saat ini, Konvensi Pekerja Migran telah diratifikasi oleh 55 negara.93
Hal mendasar yang diatur dalam Konvensi ini adalah bahwa setiap orang yang memenuhi kualifikasi sebagai pekerja migran sesuai dengan ketentuan-ketentuannya, berhak untuk menikmati hak asasi manusia apapun status hukumnya. Prinsip dasar dari Konvensi Migran adalah non-diskriminasi bagi seluruh pekerja migran dan anggota keluarganya disetiap Negara Pihak.
Pembukaan Konvensi Migran dijelaskan bahwa Konvensi memperhatikan standar Internasional tentang Pekerja dan Konvensi Perbudakan. Selain itu Konvensi Migran juga mengacu pada Konvensi Menentang Diskriminasi Dalam Pendidikan; Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Ras; Konvensi Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik;
Konvensi Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya; Cara Berperilaku Bagi Petugas Penegak Hukum; Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan; Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat; Konvensi Hak Anak; dan Deklarasi Kongres PBB Keempat tentang Pencegahan Kejahatan dan Pembinaan Pelaku Kejahatan.
92Ibid.
93Sampai Maret 2020, http://treaties.un.org/Pages/ViewDetails.aspx?src=TRE ATY&mt dsg_no=IV-13&chapter=4&lang=en, Diakses pada 13 Maret 2019
60 B. Materi Pokok dalam Konvensi ILO 1990
Konvensi Migrasi (Konvensi ILO 1990) terdiri dari 9 bagian dan 93 pasal.
Secara garis besar, 9 bagian dari 93 pasal tersebut dapat dikategorikan dalam 7 bagian besar sebagai berikut :
1) Defenisi Ruang Lingkup Pekerja Migran (Bagian I)
Defenisi dan ruang lingkup dari Konvensi Migran terdapat dalam Bagian I Pasal 1-6. Ruang lingkup pekerja Konvensi Migran diatur dalam Pasal 1 ayat (1), yaitu Konvensi ini berlaku, kecuali jika ditentukan lain sebaliknya pada semua pekerja migran dan anggota keluarganya tanpa pembedaan apapun seperti jenis kelamin, ras, warna kulit, bahasa, agama atau kepercayaan, pendapat politik atau lainnya, kebangsaan, asal-usul etnis atau sosial, kewarganegaraan, usia, kedudukan ekonomi, kekayaan, status perkawinan, status kelahiran dan status lainnya. Kemudian Pasal 1 ayat (2) menyebutkan Konvensi ini akan berlaku selama seluruh proses pekerja migran dan anggota keluarganya, yang terdiri dari persiapan untuk migrasi, pemberangkatan, transit dan seluruh masa tinggal dan pekerjaan yang dibayar di dalam Negara tempat bekerja, dan juga kembalinya ke Negara asal atau Negara temnpatnya bertempat tinggal.
Pasal 2 mendefinisikan pekerja migran sebagai seseorang yang akan tengah atau telah melakukan pekerjaan yang dibayar dalam suatu negara dimana ia bukan menjadi warga negara. Konvensi ini mengkategorisasi pekerja migran menjadi pekerja frontir, pekerja musiman, pelaut, pekerja instalasi lepas pantai, pekerja keliling, pekerja proyek, pekerja dengan pekerjaan tertentu, dan pekerja mandiri. Berikut pengertian dari kategorisasi pekerja migran :
61
a. Pekerja frontir adalah pekerja migran yang mempertahankan kediamannya sehari-hari di Negara tetangga ke tempat mana ia biasanya pulang setiap hari atau setidaknya sekali seminggu;
b. Pekerja musiman adalah pekerja migran yang pekerjaannya tergantung pada kondisi musiman, dan dilakukan hanya dalam sebagian waktu dalam setahun;
c. Pelaut, termasuk nelayan adalah pekerja migran yang dipekerjakan di atas kapal yang didaftarkan dalam suatu negara dimana ia bukan warga negara;
d. Pekerja pada instalasi lepas pantai adalah pekerja migran yang dipekerjakan pada suatu instalasi lepas pantai yang berada di wilayah hukum suatu negara dimana ia bukan warga negara;
e. Pekerja keliling adalah pekerja migran yang harus bepergian ke negara atau negara-negara lain untuk waktu singkat sehubungan dengan sifat pekerjaannya, sedang ia bertempat tinggal sehari-hari di suatu negara;
f. Pekerja proyek adalah pekerja migran yang diterima ke dalam suatu negara tempatnya bekerja untuk jangka waktu tertentu semata-mata untuk proyek tertentu yang dilaksanakan di negara tersebut oleh majikannya;
g. Pekerja dengan pekerjaan tertentu adalah pekerja migran yang :
1) Dikirim oleh majikannya untuk jangka waktu yang terbatas dan tertentu ke suatu negara tempatnya bekerja, untuk melaksanakan tugas dan pekerjaan tertentu;
2) Untuk jangka waktu yang terbatas dan tertentu melakukan pekerjaan yang memerlukan keahlian profesional, komersial, teknis atau keahlian khusus lainnya; atau
62
3) Untuk jangka waktu tertentu, atas permintaan majikannya dalam negara tempatnya bekerja, untuk melakukan pekerjaan yang bersifat sementara dan singkat, dan diminta untuk meninggalkan negara tempatnya bekerja, baik pada saat berakhirnya masa tinggalnya atau sebelumnya, apabila ia tidak lagi melakukan tugas atau kewajiban tertentu yang diperintahkan kepadanya.
h. Pekerja mandiri adalah pekerja migran yang melakukan pekerjaan yang dibayar yang bukan berada dalam perjanjian kerja, dan yang biasanya mencari nafkah melalui kegiatan ini seorang diri atau bersama anggota keluarganya, dan mengacu pada pekerja migran lainnya yang diakui sebagai pekerja mandiri menurut ketentuan legislatif di negara tempatnya bekerja atau menurut perjanjian bilateral dan multilateral.
Konvensi ini juga mengidentifikasikan pekerja migran dan anggota keluarganya yang dianggap terdaftar atau berada dalam situasi normal, maupun pekerja migran dan anggota keluarganya yang dianggap tidak terdaftar atau berada dalam situasi tidak biasa. Pekerja migran dan anggota keluarganya yang terdaftar atau berada dalam situasi normal adalah mereka yang diberi izin untuk masuk, bertempat tinggal dan melakukan pekerjaan yang dibayar dalam negara tempatnya bekerja, sesuai dengan hukum negara tersebut dan perjanjian-perjanjian internasional dimana negara tersebut menjadi pihak (Pasal 5 huruf a). Sedangkan pekerja migran dan anggota keluargnya yang tidak terdaftar atau berada dalam situasi tidak normal adalah mereka yang tidak memenuhi persyaratan-persyaratan sebagaimana disebut dalam Pasal 5 huruf a konvensi (Pasal 5 huruf b).
63
Pasal 3 merupakan pengecualian berlakunya Konvesi ini bagi pihak-pihak tertentu antara lain :
a. Orang-orang yang dikirim atau dipekerjakan oleh organisasi atau badan-badan internasional, atau orang-orang yang dikirim atau dipekerjakan oleh suatu negara di luar wilayahnya untuk menjalankan fungsi resmi, yang kedatangan dan statusnya diatur oleh hukum internsional yang umum atau oleh perjanjian atau konvensi internasional khusus;
b. Orang-orang yang dikirim atau dipekerjakan oleh suatu negara atas nama negara tersebut di luar wilayahnya, yang berpartisipasi dalam program-program pengembangan dan program-program-program-program kerjasama lainnya, yang kedatangan dan statusnya diatur dalam perjanjian dengan negara tempatnya bekerja, dan yang sesuai dengan perjanjian tersebut;
c. Orang-orang yang bertempat tinggal di negara yang berbeda dengan negara asalnya sebagai penanam modal;
d. Pengungsi atau orang tanpa kewarganegaraan, kecuali ketentuan dalam hal ini dicantumkan dalam ketentuan perundang-undangan nasional dari negara yang
d. Pengungsi atau orang tanpa kewarganegaraan, kecuali ketentuan dalam hal ini dicantumkan dalam ketentuan perundang-undangan nasional dari negara yang