BAB II : BENTUK PELINDUNGAN KELUARGA PMI BERDASARKAN
B. Dasar Hukum Pelindungan Keluarga PMI
2. Peraturan Perundang-undangan di Indonesia
Dalam tataran Hukum Indonesia, ketentuan tentang peraturan perundang-undangan diatur dalam UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang kemudian diubah dengan UU No. 15 Tahun 2019 tentang perubahan atas UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.
Berdasarkan Pasal 1 angka 12 UU No. 15 Tahun 2019, yang dimaksud dengan pengundangan adalah “Penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik
31
Indonesia, Berita Negara Republik Indonesia, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah, Tambahan Lembaran Daerah, atau Berita Daerah.
Adapun jenis dan hirarki peraturan perundang-undangan yang yang diatur dalam UU tersebut, yaitu terdiri atas:62
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang d. Peraturan Pemerintah
e. Peraturan Presiden
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Pergertian mengenai peraturan perundang-undangan tersebut kemudian dijelaskan dalam Pasal dalam Pasal 1 angka 3-8 UU UU No. 15 Tahun 2019, yaitu sebagai berikut:
-
Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden.-
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa.-
Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya.
62Undang-Undang Nomor 15 tahun 2019, Op.Cit., Pasal 7 ayat (1)
32
-
Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan perintah Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan.-
Peraturan Daerah Provinsi adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dengan persetujuan bersama Gubernur.-
Peraturan Daerah Kabupaten/Kota adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dengan persetujuan bersama Bupati/Walikota.Selain dari jenis peraturan di atas terdapat juga jenis peraturan perundang-undangan lain yang juga diakui dalam tatanan hukum Indonesia, yaitu peraturan yang ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Badan Pemeriksa Keuangan, Komisi Yudisial, Bank Indonesia, Menteri, badan, lembaga, atau komisi yang setingkat yang dibentuk dengan Undang-Undang atau Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota, Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat.63
Dalam prinsip hukum peraturan perundang-undangan, terdapat fictie hukum, yaitu apabila peraturan itu sudah diundangkan dalam Lembaran Negara dan Penjelasannya sudah dimuat dalam Tambahan Lembaran Negara, maka setiap
63Ibid, Pasal 7 ayat (1) Pasal 8 ayat (1)
33
orang dianggap sudah mengetahuinnya dan isi peraturan itu sudah berlaku dan mengikat umum.64
3. Asas-Asas Peraturan Perundang-undangan
Secara etimologi kata, asas dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Dasar (sesuatu yang menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat);
2. Dasar cita-cita (perkumpulan atau organisasi);
3. Hukum dasar.65
Menurut Syamsul Arifin, dkk. asas adalah sesuatu yang dijadikan sebagai alas, sebagai dasar, sebagai tumpuan, sebagai tempat untuk menyandarkan, untuk mengembalikan sesuatu hal yang hendak dijelaskan.66 Dari definisi tersebut jika dikaitkan dengan perundang-undangan maka yang dimaksud dengan asas peraturan perundang-undangan yaitu alas, dasar, tumpuan atau sandaran dalam pembentukan suatu peraturan perundang-undangan.
Pada umumnya terdapat berbagai asas-asas hukum umum atau prinsip hukum (general printciples of law) yang harus diperhatikan dan diperlukan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yaitu:67
1. Asas lex superiot derogate legi inferiori, yaitu peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya didahulukan berlakunya daripada peraturan perundang-undangan yang lebih rendah.
64Asri Wijayanti , Loc.Cit.
65https://kbbi.web.id, Diakses pada 20 Maret 2020
66Syamsul Arifin, Pengantar Falsafah Hukum, Cetakan Kelima, Cita Pustaka Media, Bandung, 2018, hal 110
67Hasyimzoem Yusnani, M Iwan satriawan, Ade Arif Firmansyah, dan Siti Khoiriyah, Hukum Pemerintahan Daerah, Jakarta, Rajawali Pers, 2017, hal 21
34
2. Asas lex specialis derogate legi generali, yaitu peraturan perundangan-undangan khusus didahulukan berlakunya daripada peraturan perundang-undangan yang umum.
3. Asas lex posterior derogate legi priori, peraturan perundang-undangan yang baru didahulukan berlakunya daripada yang terdahulu.
4. Asas lex neminem cogit ade impossobilia, yaitu peraturan perundang-undangan yang tidak memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan atau disering disebut sebagai asas kepatutan.
5. Asas lex perfecta, yaitu peraturan perundang-undangan tidak saja melarang suatu tindakan tetapi juga menyatakan tindakan terlarang itu batal.
6. Asas non retroactive, yaitu peraturan perundang-undangan tidak dimaksukan untuk berlaku surut karena akan menimbulkan ketidakpastian hukum.
Berdasarkan ketentuan Pasal 5 UU No. 12 Tahun 2011, disebutkan bahwa dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus didasarkan pada asas pembentukan peraturan perundang-undangan, yaitu:
a. kejelasan tujuan;
b. kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat;
c. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan;
d. dapat dilaksanakan;
e. kedayagunaan dan kehasilgunaan;
f. kejelasan rumusan; dan g. keterbukaan.
35
Selanjutnya dalam ketentuan Pasal 6 ayat (1) UU No. 15 Tahun 2019, ditegaskan bahwa materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan asas:
a. pengayoman;
b. kemanusiaan;
c. kebangsaan;
d. kekeluargaan;
e. kenusantaraan;
f. bhinneka tunggal ika;
g. keadilan;
h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;
i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.
Menurut Asri Wijayanti, asas-asas yang tercantum dalam ketentuan Pasal 5 dan Pasal 6 UU No. 15 Tahun 2019 tidak lazim dikenal dalam ilmu teori hukum. Asas hukum adalah peraturan-peraturan hukum yang berlaku umum, dapat diuji oleh aturan-aturan pokok. Aturan-aturan pokok tersebut tidak perlu diuji ulang. Ini dikutip dari pendapat J.H.P. Bellefroid (2015) dalam bukunya yang menyatakan diatas aturan-aturan pokok tidak ada lagi aturan. Aturan-aturan pokok inilah yang disebut sebagai asas hukum.68
Asas pembentukan perturan perundang-undangan harus lahir dari asas negara berdasar hukum.69 Van der Vlies sebagaimana yang dikutip dalam tulisan Abdul Gani Abdullah, membahas asas pembentukan peraturan
68Asri Wijayanti, Op.Cit., hal 31
69Lihat Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945:
36
undangan dan menyebutnya sebagai “beginselen van behooorlijke regelgeving”
(asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik). Asas berkaitan dengan norma yang harus terwujud dalam perbuatan pemerintahan dan yang dapat dipaksakan berlakunya oleh hakim. Misalnya asas tentang perlakuan yang sama terhadap semua warga negara (gelijkheidsbeginsel).70
Abdul Gani Abdullah, menyatakan apabila dikaitkan dengan hukum administrasi, asas pembentukan peraturan perundang-undangan dapat dibedakan menajadi tiga, yaitu:71
a. Proses persiapan dan pembentukan keputusan atau asas formal (het process van voorbereiding en besluitvorming);
b. Asas yang berkaitan dengan motivasi dan pembentukan keputusan (de motivering en inrichting van het besluitvorming); dan
c. Asas isi keputusan atau asas material (de inhoud van het besluit).
Jika melihat asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan dalam ketentuan UU No. 15 Tahun 2019, asas peraturan perundang-undangan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu asas formal dan asas material. Asas formal terdiri dari 7 asas yang diatur dalam Pasal 5 huruf a sampai g, dan asas material terdiri dari 10 asas yang diatur dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a sampai j.
Tidak dicantumkannya asas alasan (motivasi) pembentukan peraturan perundang-undangan secara eksplisit dalam UU No. 15 Tahun 2019 dimaksudkan karena asas tersebut sudah inklusif dalam asas tentang kejelasan tujuan dalam Pasal 5 huruf a yang dalam penjelasannya disebutkan bahwa setiap pembentukan
70Abdul Gani Abdullah, Artikel Ilmiah, Pengantar Memahami Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, Jurnal Legislasi Indonesia, Vol. 1 No. 2. 2004, hal 5
71Ibid
37
peraturan perundang-udangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai.72
Dari penjelasan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang diatur dalam UU No. 15 Tahun 2019 sudah sesuai dalam konteks hukum administrasi. Namun untuk menjadi asas peraturan perundang-undangan yang baik (beginselen van behooorlijke regelgeving), Asas tersebut harus berkaitan dengan norma yang terwujud dalam perbuatan pemerintahan dan yang dapat dipaksakan berlakunya oleh hakim.
4. Peraturan Perundang-undangan Yang Menjadi Dasar Hukum Pelindungan Keluarga PMI
Dalam tata peraturan perundang-undangan Republik Indonesia melalui UU No. 15 Tahun 2019 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.
Pasal 2 UU tersebut menegaskan bahwa Pancasila merupakan sumber segala sumber hukum negara. Hal tersebut berarti menegaskan bahwa dalam politik hukum Indonesia, Pancasila berada pada tataran ideal yang tak terbantahkan.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, segala bentuk Keputusan dan/atau tindakan Administrasi Pemerintahan harus berdasarkan atas kedaulatan rakyat dan hukum yang merupakan refleksi dari Pancasila sebagai ideologi negara.
Secara yuridis normatif jaminan pelindungan keluarga PMI telah diatur dalam peraturan perundang-undangan baik ditingkat konstitusi, undang-undang maupun peraturan pelaksana. Berikut aturan yang mengatur pelindungan keluarga PMI.
72Ibid.
38 a. Konstitusi RI : UUD NRI Tahun 1945
Tujuan bernegara (statesidee) dengan jelas dinyatakan dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 (UUD 1945) yaitu : “memajukan kesejahteraan umum”
untuk mewujudkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Landasan ini merupakan dasar filosofis yang harus diwujudkan dalam penyelenggaraan negara di Indonesia.
Pada tataran konstitusional perlindungan Keluarga PMI telah terakomodir pada perubahan UUD 1945 yang kedua, yaitu penjabaran hak asasi manusia ke dalam Konstitusi Republik Indonesia. Politik hukum perlindungan keluarga PMI lebih khusus terletak pada:
- Pasal 28E ayat (3) UUD 1945: “setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan megeluarkan pendapat”.
- Pasal 28D ayat (1) UUD 1945; “setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum”.
- Pasal 28H ayat (3) UUD 1945; “setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat”.
- Pasal 34 ayat (2) UUD 1945; “negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan”.
Ketentuan-ketentuan dasar dalam UUD 1945 tersebut merupakan mandat dalam penyelenggara negara agar memperhatikan aspek pelindungan hak asasi
39
manusia dalam segala bentuknya, termasuk diantaranya mengupayakan pelindungan terhadap keluarga PMI.
b. Undang-Undang yang Berkaitan dengan Pelindungan Keluarga PMI Adapun aturan yang menjadi dasar hukum pelindungan keluarga PMI dalam tataran Undang-Undang, yaitu :
1) UU No. 6 Tahun 2012 Tentang Ratifikasi International Convention on The Protection of The Rights of All Migrant Workers and Members of Their Families
UU No 6 Tahun 2012 merupakan Undang-Undang Ratifikasi Konvensi Internasional yang mengatur tentang pelindungan keluarga PMI secara spesifik pertama kali. UU ini lahir pada 12 April 2012.
Ratifikasi Konvensi Internasional yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia tersebut didasari karena Indonesia sebagai salah satu negara pengirim Pekerja Migran terbesar di dunia. Pada periode 2016 sampai 2019 misalnya, Indonesia telah mengirim atau menempatkan PMI sebanyak 1.037.995 orang.73 Seperti pada tahun 2015, Indonesia menerima remitansi terbesar kedua setelah Filipina (di ASEAN), Indonesia menyumbangkan sekitar Rp 125,2 triliun, dengan mayoritas berasal dari uang yang dikirim para PMI di luar negeri. Namun walaupun demikian tingkat pelindungan dan keamanan bagi Pekerja Migran Indonesia dan Keluarganya tersebut masih tergolong rendah.74 Oleh karena itu
73 http://www.bnp2tki.go.id/statistik-detail/data-penempatan-dan-perlindungan-tki-periode-januari-tahun-2020, Diakses pada 2 Desember 2019
74www.migrantcare.net,Migrantcare. “Siaran Pers Migrant Care Memperingati Hari Buruh Migran Sedunia.”, 18 Desember 2014, Diakses 3 Januari 2020
40
ratifikasi ini diharapkan dapat menjadi momentum kebangkitan Indonesia dalam memberikan keamanan serta kenyamanan bagi pekerja migran Indonesia.
2) UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Konvensi ILO tentang Pekerja Migran mengatur tentang anggota keluarga Pekerja Migran yang identik dengan anak, mewajibkan negara, pemerintah, masyarakat dan keluarga untuk menjamin dan melindungi anak agar dapat hidup, tumbuh dan berkembang, serta berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, termasuk dalam hal ini anak dari PMI.
3) UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UUK) juga menjadi dasar pelindungan terhadap keluarga PMI. Walaupun UUK lahir sebelum dilakukannya ratifikasi terhadap Konvensi ILO 1990 tentang pekerja migran, namun terdapat pasal dalam UUK yang juga mengatur tentang pelindungan Keluarga PMI, yaitu Pasal 99 ayat (1), dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa
“Setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja”.
4) UU No. 18 Tahun 2017 Tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia UU No 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (UUPPMI) disahkan pada tanggal 22 November 2017 oleh Presiden Joko Widodo dan diundangkan pada tanggal yang sama dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 242 disertai dengan penjelasan UU No. 18 tahun 2017 dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6141,
41
menjadi dasar penggunaan istilah Pekerja Migran Indonesia setelah sebelumnya istilah yang digunakan yaitu Tenaga Kerja Indonesia, dan juga merupakan dasar pelindungan terhadap keluarga PMI.
Pasal 1 ayat (5) UU No 18 Tahun 2019 menyebutkan bahwa Pelindungan Pekerja Migran indonesia adalah segala upaya untuk melidungi kepentingan CPMI/PMI dan Keluarganya dalam mewujudkan terjaminya pemenuhan haknya dalam keseluruhan kegiatan sebelum bekerja, selama bekerja, dan sesudah bekerja dalam aspek hukum, ekonomi dan sosial.
c. Peraturan Pelaksana UU No. 18 Tahun 2017 Yang Berkaitan Dengan Pelindungan Keluarga PMI
UU No. 18 Tahun 2017 merupakan dasar bagi pelindungan keluarga PMI selain dari UU Ratifikasi Konvensi ILO 1990 tentang Pelindungan Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya yakni UU No. 6 Tahun 2012.
Dalam UU No. 18 Tahun 2017 diatur mengenai pelindungan Keluarga PMI yang meliputi pelindungan hukum, ekonomi, dan sosial. Namun kendati demikian, UU No. 18 Tahun 2017 hanya mengatur secara umum tentang pelindungan keluarga PMI dan pengaturan secara rinci UU No. 18 Tahun 2017 memerintahkan agar diatur dalam aturan pelaksana, baik berupa Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden (Pepres), Peraturan Menteri (Permen), dan Peraturan Badan.
Terdapat sebanyak 28 aturan pelaksana yang diamanatkan oleh Undang UU No. 18 Tahun 2017 Tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, jumlah tersebut kemudian akan disederhanakan (simplifikasi) menjadi 14 aturan
42
pelaksana. Alasan Simplifikasi itu, merujuk pada arahan presiden dan rujukan aturan yang sudah ada.75
Adapun penyederhanaan itu adalah sebagai berikut:
1. 11 (sebelas) Peraturan Pemerintah (PP) disimplifikasi menjadi 3(tiga) Peraturan Pemerintah. 3 (tiga) Peraturan Pemerintah itu antara lain mengatur tentang Pelindungan pra penempatan, masa penempatan dan purna penempatan, Tata cara penempatan melalui Badan dan Perusahaan Penempatan, serta Peraturan Pemerintah tentang Pelaut;
2. 2 (dua) Peraturan Presiden tetap, akan mengatur tentang Badan dan Atase Ketenagakerjaan;
3. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan akan disederhanakan menjadi 6 (enam) Permenaker;
4. 3( tiga) Peraturan Kepala Badan tetap.
Adapun aturan pelaksana yang diamanatkan oleh UU No. 18 Tahun 2017, yang berkaitan dengan pelindungan keluarga PMI diakomodir dalam beberapa peraturan, antara lain:
a. Pasal 28 UU No. 18 Tahun 2017 menyatakan ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian Pelindungan Setelah Bekerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 sampai dengan Pasal 27 diatur dengan Peraturan Pemerintah.
b. Pasal 23 UU No. 18 Tahun 2017 menyatakan ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian Pelindungan Selama Bekerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 diatur dengan Peraturan Pemerintah.
75http://sbmi.or.id/2018/04/sus-hindarno-aturan-turunan-uu-ppmi-disederhanakan-menja di-15-regulasi/, Diakses pada 22 Maret 2020
43
c. Pasal 20 UU No. 18 Tahun 2017 menyatakan ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian Pelindungan Sebelum Bekerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 sampai dengan Pasal 19 diatur dengan Peraturan Pemerintah.
d. Pasal 29 ayat (5) UU No. 18 Tahun 2017 menyatakan ketentuan lebih lanjut mengenai Jaminan Sosial bagi Pekerja Migran Indonesia secara khusus diatur dengan Peraturan Menteri.
e. Pasal 36 UU No. 18 Tahun 2017 menyatakan ketentuan lebih lanjut mengenai pelindungan hukum, pelindungan sosial, dan pelindungan ekonomi bagi Calon Pekerja Migran Indonesia dan/ atau Pekerja Migran Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 sampai dengan Pasal 35 diatur dengan Peraturan Pemerintah.
f. Pasal 43 UU No. 18 Tahun 2017 menyatakan ketentuan lebih lanjut mengenai tugas dan tanggung jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Aturan pelaksana yang diamanatkan tersebut akan disederhakan menjadi:
1. Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara Pelindungan PMI sebelum, selama, dan sesudah bekerja;
2. Peraturan Pemerintah tentang Pelindungan Hukum, Pelindungan Sosial, dan Pelindungan Ekonomi bagi CPMI/PMI;
3. Peraturan Pemerintah Tugas dan Tanggung Jawab Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
4. Peraturan Menteri tentang Jaminan Sosial bagi PMI.
Dari keseluruhan peraturan pelaksana tersebut yang berkaitan dengan pelindungan keluarga PMI, yaitu terdiri dari 3 (tiga) PP dan 1 (satu) Permen.
44
Hingga November 2019 belum ada satu pun dari tiga PP diatas yang dikeluarkan.
Hanya Permen tentang Jaminan Sosial PMI yang sudah dikeluarkan pada tahun 2018 yaitu Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) No. 18 Tahun 2018 tentang Jaminan Sosial PMI. Padahal apabila merujuk pada ketentuan UU No. 18 Tahun 2017 Pasal 90 menyatakan bahwa semua Peraturan Pelaksanaan dari UU No. 18 Tahun 2017 harus ditetapkan paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan. Sedang UU No. 18 Tahun 2017 diundangkan pada 22 November 2017, seharusnya aturan pelaksana termasuk 3 PP tersebut di atas harus sudah dikeluakan oleh Pemerintah. Namun nyatanya tidak hingga Juli 2020 tepatnya 3 tahun setelah UUPPMI diundangkan hanya Peraturan Menteri tentang Jaminan Sosial Pekerja Migran Indonesia yang baru dikeluarkan.
C. Bentuk Pelindungan Keluarga PMI
UUPPMI yakni UU No 18 Tahun 2017 mengatur tentang pelindungan keluarga PMI. ini tercantum dalam Pasal 3 UUPPMI yang menyatakan bahwa pelindungan PMI bertujuan untuk:
a. menjamin pemenuhan dan penegakan hak asasi manusia sebagai warga negara dan Pekerja Migran Indonesia; dan
b. menjamin pelindungan hukum, ekonomi, dan sosial Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya.
Selanjutnya dalam Pasal 1 angka 5 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Pelindungan PMI adalah segala upaya untuk melindungi kepentingan Calon Pekerja Migran Indonesia dan/atau Pekerja Migran Indonesia dan Keluarganya dalam mewujudkan terjaminnya pemenuhan haknya dalam
45
keseluruhan kegiatan sebelum bekerja, selama bekerja, dan setelah bekerja dalam aspek hukum, ekonomi, dan sosial.
Dari rumusan pasal tersebut dapat dipahami bahwa terdapat 3 (tiga) bentuk pelindungan yang diberikan kepada PMI dan Keluarga PMI, meliputi pelindungan dalam aspek hukum, ekonomi, dan sosial.
Soepomo dan Asikin memberikan pengertian tentang pelindungan teknis, sosial, dan ekonomi, sebagai berikut:76
1. Pelindungan teknis yaitu, perlindungan dalam bentuk keamanan dan keselamatan kerja;
2. Pelindungan sosial yaitu, pelindungan dalam bentuk jaminan kesehatan, dan kebebasan berserikat dan pelindungan hak untuk berorganisasi.
3. Pelindungan ekonomi yaitu, pelindungan dalam bentuk penghasilan yang cukup, termasuk apabila tidak mampu lagi bekerja di luar kehendaknya;
Aturan tentang pelindungan hukum, ekonomi, dan sosial CPMI/PMI diatur dalam bagian ketujuh Pasal 31-36 UU No. 18 Tahun 2017. Pembagiannya yaitu, Pasal 31-33 mengatur tentang pelindungan hukum, Pasal 34 tentang pelindungan sosial, dan Pasal 35 mengatur tentang pelindungan ekonomi. Berikut penjelasan mengenai pelindungan terhadap Keluarga PMI berdasarkan UU No. 18 Tahun 2017, yaitu:
1. Pelindungan Hukum
Indonesia sebagai negara hukum memiliki kewajiban memberikan pelindungan hukum bagi setiap Warga Negara Indonesia, termasuk diantaranya yaitu pelindungan terhadap PMI dan keluarganya yang berada di Luar Negeri.
76Imam Soepomo, Hukum Perburuhan-Bidang Hubungan Kerja, Djambatan, Djakarta, 1987, hal 43
46
Bentuk pelindungan hukum dibagi menjadi dua, yaitu: 77
a. Pelindungan hukum preventif, yaitu pelindungan yang diberikan oleh pemerintah yang bertujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran.
b. Perlindungan hukum represif, yaitu perlindungan akhir berupa sanksi seperti denda, penjara dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.
Pelindungan yang diberikan oleh negara kepada CPMI/PMI mencakup: 78 1) Pelindungan sebelum bekerja yaitu pelindungan sejak pendaftaran sampai
keberangkatan.
2) Pelindungan selama bekerja yaitu pelindungan selama PMI dan anggota Keluarganya berada di Luar Negeri.
3) Pelindungan setelah bekerja yaitu pelindungan sejak Pekerja Migran Indonesia dan anggota keluarganya tiba di debarkasi di Indonesia hingga kembali ke daerah asal.
Bentuk Pelindungan Hukum bagi CPMI/PMI, Meliputi:79
1) Pekerja Migran Indonesia hanya dapat bekerja ke negara tujuan penempatan yang:
a. mempunyai peraturan perundang-undangan yang melindungi tenaga kerja asing;
b. telah memiliki perjanjian tertulis antara pemerintah negara tujuan penempatan dan Pemerintah Republik Indonesia; dan/atau
77https://www.dosenpendidikan.co.id/preventif-dan-represif/, Diakses pada 10 Maret 2020
78Undang-Undang Nomor. 18 Tahun 2017, Loc.Cit., Pasal 1 angka 6,7, dan 8
79Ibid, Pasal 32 dan 33
47
c. memiliki sistem Jaminan Sosial dan/atau asuransi yang melindungi pekerja asing.
2) Pemerintah Pusat dapat menghentikan dan/atau melarang penempatan PMI untuk negara tertentu atau jabatan tertentu di luar negeri dengan alasan :
1. pertimbangan keamanan;
2. pelindungan hak asasi manusia;
3. pemerataan kesempatan kerja; dan/atau
4. kepentingan ketersediaan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan nasional.
3) Dalam menghentikan dan/atau melarang penempatan Pekerja Migran Indonesia, Pemerintah Pusat memperhatikan saran dan pertimbangan Perwakilan Republik Indonesia, Kementerian/lembaga, Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia, dan masyarakat.
4) Penetapan negara tertentu atau jabatan tertentu ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.
5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penghentian dan pelarangan penempatan Pekerja Migran Indonesia diatur dengan Peraturan Menteri.
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memberikan pelindungan hukum terhadap Pekerja Migran Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang¬undangan, hukum negara tujuan penempatan, serta hukum dan kebiasaan internasional.
48 2. Pelindungan Sosial
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya wajib melakukan pelindungan sosial bagi Calon Pekerja Migran Indonesia dan/atau Pekerja Migran Indonesia melalui:80
a. peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan kerja melalui standardisasi kompetensi pelatihan kerja;
b. peningkatan peran lembaga akreditasi dan sertifikasi;
c. penyediaan tenaga pendidik dan pelatih yang kompeten;
d. reintegrasi sosial melalui layanan peningkatan keterampilan, baik terhadap
d. reintegrasi sosial melalui layanan peningkatan keterampilan, baik terhadap