• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELUANG PARIWISATA DAMAI DI BALI *

“Jangan berpikiran mie instan dalam mengelola Pariwisata Bali. Bangun pariwisata untuk Bali, Bukan Bali untuk pariwisata”

Adnyana Manuaba

D

ari segi sejarah keilmuan, pariwisata adalah ilmu yang relatif masih muda. Akan tetapi kajian terhadap objek ini kerap menarik perhatian dari berbagai kalangan untuk mengkaji pariwisata dari berbagai perspektif. Secara umum pandangan teoritis terhadap pariwisata dapat dipilah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama mengkritisi pariwisata sebagai penyebab malapetaka ekologi dan penyakit sosial masyarakat (patologi sosial). Kelompok kedua memposisikan pariwisata sebagai tambang emas yang akan mampu mensejahterakan masyarakat. Terakhir Kelompok ketiga adalah kelompok moderat, pariwisata diibaratkan seperti pisau bermata dua, satu sisi memberikan manfaat positif tetapi juga ada dampak negatif terhadap eksistensi masyarakat.

Lontaran kelompok pertama yang menganggap bahwa pariwisata sebagai biang keladi patologi masyarakat, diperkuat dengan pembuktian fenomena masyarakat, seperti cara berpakaian generasi muda yang cenderung meniru

western style, kecenderungan masyarakat yang mengangap

dunia malam (pub, diskotik, dan karaoke) sebagai tempat

* Pembahasan pada Bab II ini merupakan pengembangan dari artikel yang telah dimuat dalam I Nyoman Darma Putra dan I Gde Pitana (ed.).

Pem-berdayaan dan Hiperdemokrasi dalam Pembangunan Pariwisata

untuk menuangkan tekanan kehidupan. Rasa kolektivisme juga semakin memudar digantikan dengan karakter indi-vidualisme.

Fakta dalam bisnis pariwisata juga semakin menjadi, segala aset budaya dieksploitasi berlebihan. Modifikasi dan komoditisasi budaya tidak terbendung, walaupun telah dibentengi dengan kredo pariwisata budaya. Ironis, budaya kadangkala dianggap tidak bernilai, ketika budaya tidak mempunyai nilai ekonomi. Dengan dalih inovasi produk pariwisata, budaya luhur, seperti ritual besar “Upacara Panca Wali Krama” kena imbas komersialisasi. Upacara ini, difilmkan oleh orang asing, dijual yang menghasilkan limpahan uang. Upacara lainpun tidak terhindarkan, seperti perkawinan (manusa yadnya) dikemas menjadi paket wisata

“weeding ceremony package”.

Kerusakan lingkungan juga tidak dapat terhindar dari lindasan roda pariwisata. Wacana berkelanjutan,

global warming, produk pariwisata alternatif pun sebatas

retorika. Tanpa ada ketegasan dan kesungguhan untuk mengimplementasikannya. Pembangunan berwawasan lingkungan hanya dijadikan jargon propaganda politik demi meraih sebuah kekuasaan.

Bukti nyata kerusakan lingkungan DTW di Bali dijumpai pada abrasi pantai di Kuta. Luas pantai semakin sempit, akibat ketidakpatuhan investor dalam membangun fasilitas pariwisata. Alih fungsi lahan semakin deras, hamparan sawah semakin sempit, menjadi hamparan ruko. Villa kian

menjamur, menghabiskan lokasi–lokasi strategis terutama

kawasan konservasi maupun Jalur hijau.

Kekisruhan dalam aspek sosial akibat pariwisata dan arus globalisasi, juga mempengaruhi Bali. Pengaruh ini bukan membuat Bali tambah elok. Tetapi membuat Bali tambah rusak akibat dari tindakan anarkis terorisme berupa tragedi kemanusian Bom Kuta tahun 2002. Masyarakat Bali

menangis, marah dan dendam dengan tindakan keji tersebut. Akan tetapi sikap mampu dikendalikan dengan memberikan respon dengan tindakan kasih (humanis), damai dengan menyerahkan segala proses hukum kepada aparat yang berwenang untuk mengadilinya.

Kekijian teroris teryata tidak usai, dengan kelemahan pengamanan kembali tragedi terjadi Bom di Kuta dan Jimbaran. Masyarakat Bali semakin geram. Tindakan yang mengarah pada konflik SARA hampir terjadi. Isu-isu provokasi untuk menyudutkan, menghakimi salah satu kelompok penyebab. Apatis dengan kelompok pendatang, Bali hanya dijadikan korban mengais rezeki, tanpa pernah berpartisipasi menjaganya. Akan tetapi semua hal tersebut kembali patut diapresiasi respon masyarakat Bali, ternyata masih bersikap harmonis dalam mengatasi segala persoalan. Jangan Bali yang sudah retak, dihancurkan oleh masyarakat Bali sendiri dengan tindakan anarkis.

Bertalian dengan berbagai pandangan perspektif pariwisata, kelompok kedua ternyata memandang lain bila dibandingkan dengan pandangan kelompok pertama. Pariwisata masih menyisakan harapan, bahwa pariwisata bukan sebagai penghacur melainkan dapat menjadi katalisator perdamaian.

Wisata Damai: Akulturasi dan Multikultur

Bila dikaitkan dengan pariwisata, budaya Bali merupakan daya tarik utama bagi wisatawan untuk datang ke Bali. (Ardika, 2003). Semasih budaya ini bisa dipertahankan, pariwisata akan tetap berjalan. Sebaliknya tatkala identitas budaya hilang, tidak bisa dijamin pariwisata akan tetap utuh seperti sekarang ini. Dengan analogi begitu pentingnya eksistensi budaya dalam mempertahankan pariwisata, mengisyaratkan bahwa pariwisata perlu dikelola dengan baik, terutama dalam memanfaatkan unsur budaya sebagai DTW.

Budaya Bali yang bernafaskan Agama Hindu bukanlah sesuatu yang murni sebagai Budaya Bali secara seutuhnya, akan tetapi merupakan sebuah evolusi dari terjalinnya ketersinggungan budaya yang datang dari luar dan kemudian berpadu dengan budaya asli Bali. Pengaruh budaya lain yang masuk ke Bali, seperti Budha, Hindu, Jawa, Cina, Islam, Barat (Santosa: 2001)

Dalam perspektif pariwisata damai terhadap keterbukaan Budaya Bali dalam menerima budaya luar, banyak hal yang bisa digali untuk dijadikan DTW. Terlebih masyarakat Bali terbukti konsisten dalam melestarikan budayanya. Ada beberapa hasil akuturasi budaya Bali yang bisa dijadikan produk pariwisata. Salah satunya adalah Taman Soekasada Ujung di Kabupaten Karangasem. Taman ini didirikan pada masa pemerintahan Raja I Gusti Bagus Jelantik, yang diresmikan pada tahun 1921. Taman Soekasada adalah hasil kreasi dari rasa dan karsa penciptaan oleh leluhur Bali yang hidup dimasa lalu. Menurut Rozi (2011) Taman Ujung adalah kreativitas seni yang bercerita tentang kedamaian dan keindahan dengan ekspresi bertemunya dua budaya, yaitu Bali dan Barat yang mempunyai daya tarik tinggi untuk dikunjungi.

Contoh lain yang bisa dikembangkan untuk mendu-kung pariwisata damai adalah akuturasi budaya Bali dan Cina. Akulturasi ini terpatri rapi adalah pada histori Pura Dalem “Balingkang” Kintamani, Bangli. Nama Balingkang diyakini berasal dari kata-kata “BALI + ING (Permaisuri pertama) KANG (Putri Kang-permaisuri kedua)”. Sampai kini, kisah cinta Raja Sri Jaya Pangus kepada Putri Kang Cing Wie, diwujudkan masyarakat Bali berupa simbol kesenian ‘Barong Landung’. Harmonisnya budaya Bali dan Cina ini, juga dijumpai di Pura Batur ada Pemujaan masyarakat Cina (Pura Konco) dan di Pura Besakih ada Pura Ratu Gede Ngurah Subandar.

Di Nusa Penida akulturasi budaya Bali dan Cina juga bisa ditemukan pada Pura Giri Putri ada pemujaan Dewi Kwan Im. Di kawasan pariwisata Kuta akulturasi ini, terwujud melalui keberadaan Wihara sebagai tempat suci Agama Budha. Menurut Pitana dkk (2000) keberadaan Wihara di Kuta mengindikasikan bahwa Kuta terdiri dari multi etnis dan multi budaya. Gambaran ini menandakan sesungguhnya Bali memiliki kearifan lokal tinggi. Potensi ini perlu terus digali hingga pandangan universal dan aset multikultur, nyata dapat diterjemahkan dan dijewantahkan dalam produk pariwisata. Apabila potensi ini mampu diinterpretasi dan dikomunikasikan dengan baik oleh duta pariwisata, maka Bali akan memiliki daya tarik wisata baru yaitu pariwisata damai melalui harmonisasi kehidupan masyarakat dalam peraduan kebudayaan yang berbeda.

Interaksi Hindu dan Islam yang bisa dikemas DTW adalah harmonisasi interaksi masyarakat Pegayaman Kabupaten Singaraja. Fakta terjalinnya akulturasi budaya di daerah ini adalah sebutan nama masyarakat muslim mengadopsi tradisi nama-nama Bali, seperti Wayan Imam Muhajir, Ketut Syahruwadi Abbas dll.

Dalam konteks sebutan komunitas diantara dua budaya tersebut, komunitas Bali disebut Nyama Bali dan Komunitas Muslim disebut Nyama Slam. Kata Nyama bisa diartikan sebagai saudara, kebersamaan dan keakraban dalam interaksi antara Bali dan Islam di Desa pegayaman. Selain itu pada sisi kesenian, masyarakat Pegayaman juga melestarikan tradisi Bordah dan Hadras. Kesenian yang menggunakan busana tradisi Bali dengan bentuk pertunjukan mirip dengan kesenian joged. Keunikan lain, yang menandakan adanya akulturasi adalah pada saat Idul Fitri masyarakat Pegayaman meniru tradisi Bali. Ada rangkaian upacara penapean,

Islam tersebut.

Menurut Widharma (2009) pluralisme/keaneka-ragaman masyarakat Bali adalah cara strategis untuk mengelola kekuatan produktif dalam mencapai kemajuan bersama. Proses-proses sosial ini harus terus dilakukan dalam memelihara dan merajut jalinan pluralisme hingga menjadi tatanan sosial yang mapan di dalam masyarakat.

Dalam melihat ilustrasi proses akulturasi dan multi kultur, Bali mempunyai potensi dan peluang tinggi untuk mengembangkan pariwisata damai. Produk pariwisata damai perlu digarap apik untuk menggali kearifan lokal terutama yang berkaitan dengan tatanan sosial dalam multi kultur dan akulturasi di Bali. Apabila potensi bisa dikembangkan sebagai DTW baru, hal ini akan memberikan corak lain, bila dibandingkan dengan produk pariwisata yang telah ada selama ini. Disamping itu wisatawan akan mempunyai pengalaman dan pengetahuan baru tentang Bali, bahwa Bali memang memiliki budaya yang harmonis dan tepat sebagai pulau Kedamaian.

Wisata Damai: Filosofis Masyarakat Bali

Filosofis masyarakat Bali dipegang teguh sebagai nilai dasar dalam dinamika pembangunan masyarakat. Dalam kaitan ini pariwisata juga sebagai bagian integral dari kebudayaan Bali perlu utuh mengaplikasikan filosofis (nilai budaya) dalam pariwisata. Apabila nilai filosofis Bali mampu dinternalisasi dalam keseharian masyarakat, maka tujuan mengembangkan pariwisata yang selamat, yaitu pariwisata damai niscaya akan terwujud.

Dalam upaya mengeksplorasi peluang pariwisata damai dengan kaitan filosofis masyarakat Bali. Maka ada beberapa nilai yang perlu dijadikan payung dan sekaligus menjadi pondasi dalam pembangunan pariwisata, yaitu Pertama filosofi Tri Hita Karana. Konsep Tri Hita Karana

bersifat universal yang bisa diterapkan pada seluruh elemen kepariwisataan. Substansi Tri Hita Karana adalah hubungan harmonis dengan Tuhan (Parahyangan), Manusia (Pawongan), dan Lingkungan (Pelemahan). Tatkala segala pembangunan pariwisata berbasis pada Tri Hita Karana, pariwisata damai akan mudah dicapai yang tentu akan memberikan lebih banyak manfaat positifnya kepada masyarakat Bali.

Filosofis lainnya yang merupakan bagian dari esensi Hindu, seperti yang dikemukkan oleh Arjana (1992), yaitu

Karma phala (percaya dengan hasil perbuatan), Tat Twan Asi

(semua Mahkluk Adalah Sam), Tri Kaya Parisuda (Manacika: berpikir yang baik, Wacika: Berkata yang baik dan kayika: berbuat yang baik). Satwam (Kebijaksanaan), Madurya (Ramah Tamah) dan Madarwa.

Bila dikaitakan dengan peluang pariwisata damai di Bali, nilai religiusitas Hindu dibutuhkan pada industri pariwisata. Sikap ramah (madurya) akan memberikan kesan positif kepada wisatawan. Sikap bijaksana dibutuhkan, dalam pembangunan Bali yang berorientasi masa depan, bukan kepentingan sesaat, (Prof Adanyana Manuaba : berpikiran Mie

Instan). Perilaku yang memperhatikan konsep Trikaya Parisuda

dan Tat Twam Asi, akan dapat menjalin komunikasi yang baik antarsesama manusia. Keselarasan dalam menjaga Bali bisa tumbuh. Keakraban dan kekeluargaan pun mengakar menjadi pola dasar dalam mempertahankan bahwa Bali adalah pulau sorga.

Selain itu nilai filosofis yang perlu dipegang agar Bali tetap selamat, berlanjut dan damai dalam pembangunan pariwisatanya. Menurut Wiana (1999) ada lima dasar pertimbangan, yaitu (1) Iksa (pandangan hidup yang baik), (2). Sakti (diterapkan sesuai dengan kemampuan atau tidak memberatkan penganutnya), (3) Desa (petunjuk atau patokan hidup kerohanian), (4) Kala (penerapan agama harus mempetimbangkan waktu), dan (5) tatwa (penerapan agama

harus sesuai dengan padangan masyarakat).

Berdasarkan kelima nilai filosofi di atas, untuk mem-bangun pariwisata sebagai kalasitator kedamaian, perlu memperhatikan kemampuan SDA dan SDM yang dimilikinya. Nilai ini lengkap mengisyaratkan segala bentuk pembangunan pariwisata harus berkiblat pada aspek daya dukung. Sebagai contoh Desa dan Kala mempunyai makna, dimanapun pada lingkaran Bali, serta merta harus perhatikan kearifan lokal setempat. Beda tempat dan beda waktu menyebabkan beda cara dalam pola pembangunan pariwisatanya.

Selanjutnya filosofis Bali dalam talian dengan menjaga lingkungan agar tetap asri, sosial budaya berjalan utuh dalam keharmonisan masyarakat. Dalam aspek ajaran agama Hindu, menurut Wiana (1999) ada beberapa yang mesti dipegang dalam pembangunan pariwisata yaitu : (1) Atma Kerti (menjaga kesucian atma) (2) Samudra Kerti (menjaga kelestarian laut dan sumber daya alam lainnya) (3) Wana kerti (menjaga kelestarian hutan), (4) Danu Kerti (melindungi sumber-sumber air), (5) Jagat Kerthi (menjaga sistem sosial yang berlandaskan Agama), dan (6) Mengupayakan kualitas manusia. Bilamana keenam nilai tersebut diterapkan dalam pengelolaan pariwisata Bali. Niscaya tidak akan ada lagi meragukan eksistensi pariwisata dan/atau menghakimi pariwisata sebagai penyebab malapetaka. Akan tetapi justru sebaliknya pariwisata sebagai alat menuju kesejahteraan dan wahana ekspresi dalam kebebasan manusia/masyarakat Bali.

Sesuai dengan teoru dinamika kebudayaan, tidak ada kebudayaan di dunia ini tanpa konflik. Begitu Pula di Bali, konflik sosial seperti bentrok warga, perebutan lahan dan perebutan perbatasan ikut mewarnai Bali di tengah kemajuan pembangunan pariwisatanya. Hasil temuan Windia (2010) ada 112 konflik yang terjadi di seluruh desa pakraman di Bali. Salah satu nilai tradisi Bali yang bisa dijadikan dasar sebagai solusi bila ada konflik sosial adalah tradisi

Mapidanda. Menurut Cantika (2010) mapindanda adalah

usaha untuk memulihkan kepada keadaan trepti, sukerta (tertib dan tentram) yakni adanya keseimbangan dari satyam (kebenaran), siwam (kesusilaan) dan sundaram (kebahagian). Adupun tujuannya adalah untuk mengembalikan kepada keadaan semula seperti sebelum adanya terjadinya ganguan yaitu mengembalikan kesucian, ketertiban dan ketentraman. Bentuk sanksi adat ini dapat diklasipikasikan menjadi 3 yaitu : artha dana (denda materi), jiwa danda (minta maaf) dan sangaskara danda (upakara penyucian). Apabila semua cara tersebut digali dengan baik dan diterapkan oleh manusia Bali, maka apapun bentuk tantangan dan ancaman Bali, pasti akan kembali menuju ke kebaliaanya yaitu kesukertaan (kedamian).

Wisata Damai: Citra dan Branding Bali

Kotler (2000) mendefinisikan citra sebagai “seperangkat keyakinan, ide dan kesan yang dimiliki seseorang terhadap suatu objek” (Yusoff, 1995). suatu perusahaan akan jatuh atau mengalami kerugian jika citranya dipandang negatif oleh masyarakat. Bloemer, Ruyter dan Peeters (1998) pula menyimpulkan bahwa citra tidak memberi dampak langsung kepada loyalitas, namun menjadi variabel moderator antara kualitas dan loyalitas. Pandangan lain dari (Nuryanti, 1996), citra merupakan kesan untuk berfantasi terhadap destinasi yang akan dikunjunginya (Pitana, 2002). Image is the primary

product of the industry”.

Begitu pentingnya citra dalam industri pariwisata, maka Bali perlu merefleksi apa sesungguhnya citra bagi wisatawan saat ini. Apakah Bali aman? masih ramah? maupun pertanyaan lain yang mempertegas Bali seperti apakah Bali Kini. Bertolak dengan lontaran ide untuk mengembangkan pariwisata damai. Bali perlu dikelola lebih baik lagi. Bali perlu bangkit dari keterpurukan hingga akhirnya pada citra seperti Temuan Picard, dalam artikelnya Alex J Robinson dan Julian

Meaton (2005) yang mengatakan bahwa Bali adalah Pulau Dewata “The Island Of The Gods.”

Peningkatan citra yang baik, bukanlah perkara mudah. Seperti yang dikemukakkan oleh Manuaba (1999) untuk meningkatkan citra pariwisata perlu dibuat perencanaan pariwisata yang matang (effective planning). Begitu pentingnya citra dalam pariwisata, perlu kesungguhan seluruh stakeholder pariwisata dalam berbenah diri. Pemerintah harus gesit dan fokus membangun Bali, melalui mengembangkan produk-produk pariwisata yang berbasis pada kedamaian masyarakat. Pelaku pariwisata turut memiliki andil besar dalam membangun citra pariwisata, karena kontak personal dalam memberikan pelayanan tentu banyak dilakukan oleh komponen ini. Pelaku pariwisata jangan berorientasi pada keuntungan sesaat dan menghalalkan segala cara untuk meraup profit. Akan teapi perlu menyelamatkan pariwisata untuk kepentingan masa depan. Pertahankan identitas, meningkatkan kualitas produk maupun selalu berbenah diri untuk menciptakan produk yang lebih kompetitif. Masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan wisata damai ini, masyarakat diedukasi agar paham akan arti penting pariwisata melalui penerapan sadar wisata, menjaga sikap ramah, maupun keterlibatan secara penuh dan profesional dalam pengembagan destinasi Bali.

Branding merupakan strategi investasi jangka panjang

yang nantinya dapat memberikan manfaat yang besar bagi keberlangsungan suatu destinasi (Negara, 2008). Brand yang baik mengandung unsur-unsur : Speakable and Writeable, Spirit

of Brand, Internal Back-Up, Personality, dan Story of Glory.

Histori branding Bali dalam usaha menjual produk-produk pariwisata Bali telah mengalami beberapa kali perubahan. Sebagai contoh nyata pemerintah dalam me-masarkan Bali meluncurkan “Bali is My Life” sebagai brand guna memulihkan citra pariwisata yang telah tercemar.

Branding ini disosialisasi guna antisipasi terhadap citra Bali yang tidak baik saat itu misalnya : isu kesehatan dan keamanan.

Branding Bali is My Life, diganti menjadi, “Santi, Santi, Santi”

. Penetapan branding ini untuk tujuan menggemakan Bali sebagai palau perdamaian. Tujuan ini selaras dengan temuan yang dipopulerkan oleh Hikman Powell dalam Windia (2010) “The Last Paradise” dan “Pulau Dewata” (The Island of The God). Julukan ini diberikan karena Bali memang kala itu, memiliki keindahan, keharmonisan budaya dan keramahan warganya.

Bila dipotret dalam bahasan peluang parawisata damai, kumpulan branding yang pernah disandang Bali, merupakan potensi besar untuk kembali patut direnungkan bersama. Sudahkan DTW di Bali berporos pada kedamaian masyarakat atas ciri keindahan alam, keramahan warga dan keharmonisan budaya. Lebih konkrit lagi, sudahkan branding Bali, mampu mendamaikan wisatawan yang menghabiskan banyak uang maupun mendamaikan masyarakat Bali secara luas. Pertanyaan ini menggelitik karena di tengah kemajuan pariwisata Bali yang hampir satu abad, masih menyisakan persoalan kemiskinan di beberapa daerah. Padahal penerimaan secara ekonomi telah besar dari sektor pariwisata.

Dalam usaha Bali menggali potensi pariwisata damai, makna kata branding perlu dijewantahkan lebih sederhana, hingga akhirnya mampu dipahami oleh seluruh komponen pariwisata Bali. Sebagai wujud nyata pengembangan pariwisata damai, misalnya: membangun sarana rekreasi bagi masyarakat lokal, menyisakan hasil pariwisata untuk masyarakat miskin, menjamin keselamatan dan kepuasan wisatawan, bijak dalam penggunaan sumber daya, maupun menjaga keberlanjutan dalam pengelolaan DTW. Di samping itu, produk wisata harus berbasis pada keunikan dan keberagaman budaya atau dengan kata lain tidak menjadikan Bali sebagai destinasi yang serba ada. Semuanya dibawa ke Bali dan di jual di Bali. Walaupun jelas bukan menjadi habitat

aslinya di Bali. Selain itu juga bisa diartikan bahwa pariwisata mampu memperkokoh jiwa persatuan dan kebersamaan, solidaritas dan menghargai nilai-nilai luhur maupun demokratis dalam membangun ekonomi melalui pariwisata.

Wisata Damai: Ground Zero dan Puja Mandala

Sebagai penghormatan atas korban Tragedi Bom Bali tahun 2002. Seluruh komponen sepakat mendirikan Monumen Ground Zero. Tujuan dasar didirikannya monumen ini adalah menciptakan taman spritual (Bali Peace Park). Secara makna substansi makna taman ini adalah untuk mengabadikan akan pentingnya nilai-nilai kamanusian (humanis), toleransi, kebebasan beragama, kebangsaan, budaya dan ras.

Di samping Monumen Ground Zero sebagai potensi untuk mengembangkan pariwisata damai. Puja Mandala Nusa Dua juga memiliki nilai histori dalam menciptakan keragaman budaya di Bali. Bangunan ini didirikan tahun 1994 atas bantuan PT. BTDC (Bali Tourism Development Centre). Pada tahun 1997 secara resmi diserahkan kepada menteri agama. Bangunan ini merupakan pertemuan kelima agama yang ada, yaitu Pura, Gereja Katolik, Gereja Protestan, Masjid, dan Wihara.

Dengan terpusatnya dalam satu lahan Puja Mandala dalam membangunan tempat suci bersama, terbukti adanya kesadaran dan ketersedian untuk hidup berdampingan dalam menjaga keajegan Bali. Sikap dan perilaku ini perlu dikomunikasikan dalam aspek pembangunan pariwisata damai. Bahwa Bali sebagai teladan untuk mengembangkan kebersamaan dalam interaksi antar komunitas, dan bisa hidup damai melalui pariwisata.

Dengan ulasan singkat sikap toleransi, melestarikan hasil akulturasi, menerapkan cara hidup sesuai filosofis masyarakat dan mampu menjaga citra diri dan citra Bali. Maka Bali akan selamat, Bali akan damai dengan katalisator pariwisata.

Kedamaian bisa diangkat sebagai potensi untuk membangun pariwisata damai. Masih banyak kearifan dan perspektif yang bisa dibangun untuk membangun Bali. Yang pada akhirnya menuju cita-cita bersama yaitu Bali yang damai

Dokumen terkait