• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabel 3.5 Siswa Madrasah Ibtidaiyah Kota Salatiga Tahun Pelajaran 2007/2008

C. Pemahaman Guru Terhadap Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Guru adalah figur seorang pemimpin. Guru adalah sosok arsitektur yang membentuk jiw a dan watak anak didik, yang mempunyai kekuasaan dan membentuk dan membangun kepribadian anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

Profesi atau jabatan guru sebagai pendidik formal di sekolah sebenarnya tidaklah ringan karena dalam menjalankan profesi dituntut dengan tugas, peranan dan tanggung jawab yang tinggi dengan berbagai persyaratan yang meliputi fisik, psikis, mental, moral dan intelektual.

Dengan berbagai persyaratan tersebut seorang guru seharusnya adalah seorang profesional karena ia memiliki kepandaian khusus untuk menjalankan profesinya (kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai pendidik), terikat pada standar teknis keguruan, dan kode etik profesi guru.

Seiring dengan digulirkan kurikulum baru 2006 yang disebut juga sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, guru juga dituntut pemahamannya terhadap kurikulum baru ini, salah satunya adalah pengetahuan terhadap hakikat KTSP itu sendiri. Seperti pada saat peneliti mengadakan wawancara di Madrasah Ibtidaiyah asas Islam Kalibening dengan seorang guru ZA, memaparkan bahwa

“KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Jadi disini sekolah/guru diberi keleluasaan penuh untuk mengembangkan kurikulumnya sendiri dengan tetap memperhatikan potensi sekolah dan potensi daerah sekitar. Guru juga diberi keleluasaan penuh memilih bahan ajar dan peserta didik diharapkan dapat mengembangkan potensi sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minat. ” (01 /W/ZA/16-02-2009/C W)

Senada dengan ZA, MY sebagai guru yang sekaligus merangkap Kepala Sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Kutowinangun dan EW guru di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Kauman Kidul juga menuturkan tentang pemahamannya mengenai KTSP yang

“merupakan kurikulum tingkat satuan pendidikan dimana setiap sekolah diberi keluasaan dalam mengembangkan silabus, RPP, berdasarkan standar-standar yang telah ditetapkan”

Begitu pula dengan AG, kepala sekolah yang masih juga merangkap sebagai guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kecandran, mengungkapkan

“KTSP adalah kurikulum yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan anak dan disesuaikan dengan budaya, lingkungan dan situasi yang ada di sekolah.”(04/W/AG/04-03-2009/CW)

Sebagai kurikulum terbaru dalam peijalanan pendidikan di Indonesia, KTSP memiliki perbedaan dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, seperti penuturan ZA,

“Perbedaan yang paling mendasar adalah aspek pengembangan kurikulum, mungkin ini merupakan salah satu efek domino dari perubahan tata pemerintahan yang dahulu bersifat sentralistik menjadi desentralistik yang juga merambah ke sektor pendidikan.

Jadi intinya, kurikulum sebelum KTSP bersifat sentralistik artinya seluruh pengembangan kurikulum berada di pusat dan daerah hanya kebagian pengembangan kurikulum lokal tetapi untuk KTSP ini sejalan dengan era otonomi daerah, pusat hanya mengembangkan

kompetensi sebagai standar sedangkan elaborasi kompetensi

diserahkan daerah atau sekolah dalam bentuk silabus. Kemudian dilihat dari pendekatan pembelajaran, kurikulum sebelum KTSP sebagian besar berbasis konten/isi sehingga peserta didik dipandang sebagai kertas putih yang perlu ditulisi dengan ilmu pengetahuan tetapi untuk KTSP pendekatannya berbasis kompetensi sehingga peserta didik berada dalam proses berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, ada optimalisasi potensi bawaan peserta didik.” (01/W/ZA/16-02-2009/C W)

Ditambahkan pula oleh MY mengenai perbedaan KTSP dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya,

“kurikulum dahulu itu lebih menekankan pada penilaian hasil dan cenderung bersifat kognitif dan guru itu seakan-akan menjadi super power didalam kelas, sedangkan KTSP itu penekanannya lebih kepada proses bukan saja bersifat kognitif, aspek afektif dan psikomotorik/ skill juga menjadi aspek yang diutamakan, sedangkan dalam proses

pembelajaran dikelas guru dan siswa sama-sama aktif belajar bersama seperti teman sebaya.”( 02/W/MY/23-02-2009/CW)

Demikian pula oleh AG, menuturkan

ada beberapa perbedaan kurikulum yang sekarang dengan kurikulum yang dulu-dulu itu selain dari penyusunannya, media pembelajarannya, pada saat kegiatan belajar mengajar metode pengajarannya pun sudah berbeda, dulu obyek materinya sangat luas dan harus sudah selesai dalam kurun waktu satu catur wulan, sedangkan sekarang lebih ditekankan pada sedalam mana siswa menguasainya.’’(04/W/AG/04- 03-2009/CW)

Berbeda dengan EW yang menjadi guru di kelas bawah, dimana materi pembelajaran yang digunakan lebih kepada tematik, mengungkapkan

“kalau kurikulum yang terdahulu itu terpancang oleh kurikulum yang sudah jadi dari pusat, sedangkan sekarang pengembangannya lebih kepada guru itu sendiri, apalagi saya yang mengajar kelas 3, menggunakan model themathic dimana satu tema bisa dijadikan untuk beberapa mata pelajaran.”( 03/W/SL/23-02-2009/C W)

Sedangkan dalam penyusunannya ZA, MY, EW, AG sebagai guru dan SL sebagai kepala sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Kauman Kidul sepakat saat ini belum bisa sepenuhnya dari sekolah menyusun semua komponen kurikulum ini secara mandiri, KTSP disusun oleh tim yang terdiri atas guru, konselor, kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota. Di dalam kegiatan ini tim penyusun melibatkan komite sekolah, dan nara sumber serta pihak lain yang terkait. Dalam hal ini pihak yang dimaksud adalah Dinas Pendidikan dan Departemen Agama Kota Salatiga, mereka mengungkapkan

“saat ini penyusunannya masih dilakukan bersama-sama, antara sekolah satu dan yang lain saling bergabung melalui kegiatan rutin KKG (Kelompok Keija Guru) setiap 2 minggu sekali, dan beberapa pelajaran tertentu seperti Bahasa Inggris, Bahasa Jawa (Muatan Lokal) satu bulan sekali.”

Serupa dengan pendapat para guru di atas, AG dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kecandran menambahkan ada sedikit perbedaan dalam

penyusunan kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Negeri, karena kegiatan KKG (Kelompok Kerja Guru) yang berlangsung tidak menjadi satu dengan Madrasah Ibtidaiyah Swasta yang lain, namun kegiatan penyusunan kurikulum melalui kegiatan KKG (Kelompok K eija Guru) ini menjadi satu/ bergabung dengan SD di kota Salatiga

D. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan