• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.7 Pemahaman Masyarakat terhadap Pemanfaatan Sumber Daya Hutan

pemahaman masyarakat terhadap fungsi hutan dalam kaitannya dengan sumber daya hutan yang lestari. Sebagai masyarakat yang tinggal di sekitar hutan dan memanfaatkan hutan langsung maupun tidak langsung maka perlu diketahui seberapa besar pemahaman mereka terhadap keberadaan hutan. Pemahaman tersebut mengacu pada apakah dengan tingkat pemanfaatan masyarakat terhadap hasil hutan yag cukup tinggi diikuti dengan tingkat pemahaman dan pengetahuan mereka mengenai sumber daya hutan yang lestari.

Pemahaman responden dikaji dari beberapa aspek yaitu bagaimana pemahaman responden tentang pemanfaatan hasil hutan, tentang sumber daya hutan sebagai salah satu sumber pendapatan, perkembangan kondisi dan kerusakan hutan, ladang berpindah, dan tentang kelestarian hutan. Kriteria tingkat pemahaman responden terhadap sumber daya hutan dibuat berdasarkan interval skala Likert dan nilai skala Likert tersebut dimasukkan sesuai tingkat pemahamannya berdasarkan tabel di bawah ini.

Tabel 34 Tingkat pemahaman berdasarkan interval nilai tanggapan

No Interval nilai tanggapan Tingkat pemahaman

1 1 $ 1,67 Rendah

2 1,67 $ 2,33 Sedang

1. Pemahaman responden tentang pemanfaatan hasil hutan

Keanekaragaman hayati yang terkandung dalam sumber daya hutan terdiri dari flora dan fauna yang memiliki nilai dan kegunaan tertentu. Selain multi fungsi, hutan juga dipandang sebagai multi komoditi yaitu berupa barang dan jasa. Adapun komoditas hutan berupa barang yaitu manfaat yang dapat dirasakan secara langsung berupa hasil hutan kayu (HHK) dan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Sedangkan, komoditas jasa adalah manfaat yang dirasakan secara tidak langsung. Disamping itu, hutan juga merupakan penyangga sistem kehidupan yang terdiri dari unit$unit sumber daya yang saling berpengaruh.

Tabel 35 Pemahaman responden mengenai pemanfaatan hasil hutan

No Pernyataan

Distribusi Pemahaman (%) Mamahak Teboq Lutan TS R S TS R S 1 Hutan dapat memberikan manfaat

0,00 6,67 93,33 3,33 13,33 83,33 berupa manfaat langsung maupun tidak

langsung

2 Hutan dapat memberikan hasil hutan 3,33 6,67 93,33 0,00 3,33 96,67 bukan kayu

3 Hutan berfungsi sebagai penyedia air 0,00 3,33 96,67 3,33 3,33 93,33 4 Hutan merupakan sumber obat$obatan 3,33 3,33 93,33 0,00 0,00 100,00 5 Hutan merupakan sumber kayu bakar 13,33 0,00 86,67 0,00 0,00 100,00

0 ! 6 # ! . 4 $6 $ * 4 !6 ! .

Sebanyak 93,3% responden Desa Mamahak Teboq dan 83,3% responden Desa Lutan menyatakan bahwa hutan dapat memberikan manfaat langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan wawancara diperoleh bahwa pemahaman masyarakat terhadap pemanfaatan hasil hutan sudah tinggi. Hal ini terlihat dari sebanyak 93,3% responden Desa Mamahak Teboq dan 96,67% responden Desa Lutan menyatakan bahwa hutan mampu memberikan hasil hutan bukan kayu dan sumber obat$obatan. Hal ini karena sebagian besar responden memanfaatkan HHBK sebagai salah satu sumber pendapatan mereka dan mereka juga sering kali mengambil tumbuhan obat dari hutan sebagai obat tradisional. Sementara 96,6% responden Desa Mamahak Teboq dan 93,33% responden Desa Lutan menyatakan bahwa hutan merupakan salah satu sumber penyedia air. Pendapat tersebut nyata

sekali dilihat dari masyarakat di kedua desa menggunakan akses sungai sebagai sarana transportasi mereka.

Sebanyak 86,67% responden Desa Mamahak Teboq dan 100% responden Desa Lutan menyatakan bahwa hutan merupakan sumber kayu bakar. Dari hasil wawancara semua responden menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar. Kayu bakar diambil baik dari hutan, sisa$sisa kayu yang tidak dimanfaatkan lagi oleh perusahaan, serta dari kayu bakar yang mengapung yang terbawa arus sungai. Meskipun telah ada bantuan kompor gas dari pemerintah pada kedua desa, namun mereka masih tetap menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar utama untuk memasak sedangkan kompor gas subsidi yang diberikan digunakan hanya sebagai sampingan saja. Alasan masyarakat menggunakan kayu bakar sebagai sumber energi disebabkan karena kayu mudah diperoleh dan murah bahkan dapat dikatakn gratis. Jenis$jenis kayu bakar yang biasa dimanfaatkan oleh responden, yaitu: kayu laban, andikara, sentop, dan kayu semut (jati hutan).

Jawaban responden mengenai beberapa pertanyaan pemanfaatan sumber daya hutan menurut skala Likert tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman responden tergolong tinggi. Hal ini karena sebagian besar responden memanfaatkan sumber daya hutan secara langsung maupun tidak langsung berupa air, kayu bakar HHBK dan lain$lain.

2. Pemahaman responden tentang sumber daya hutan sebagai salah satu sumber pendapatan

Secara garis besar terdapat dua sumber pendapatan rumah tangga di pedesaan yaitu dari sektor pertanian dan sektor non pertanian. Besarnya pendapatan dari sektor pertanian diperoleh dari usaha tani baik sebagai pemilik maupun sebagai buruh tani sedangkan pendapatan dari sektor non pertanian berasal dari berburu satwa liar, pemanfaatan rotan dan HHBK lainnya, karyawan, pedagang, dan lainnya di sektor non pertanian.

Tabel 36 Pemahaman responden tentang SDH sebagai salah satu sumber pendapatan

No Pernyataan

Distribusi Pemahaman (%) Mamahak Teboq Lutan TS R S TS R S 1 Hasil sumber daya hutan merupakan 3,33 3,33 93,33 10,00 0,00 90,00

sumber pendapatan

2 Penjualan sumber daya hutan sebagai 20,00 6,67 73,33 13,33 10,00 76,67 pendapatan keluarga untuk ditabung

3 Perusahaan memberikan pelatihan 53,33 6,67 76,67 46,67 10,00 43,33 agar dapat mengolah SDH menjadi

barang yang memiliki harga jual yang tinggi

4 Perlu adanya usaha pengembangan 0,00 0,00 100,00 6,67 3,33 90,00

HHBK untuk meningkatkan jumlah

pendapatan

0 ! 6 # ! . 4 $6 $ * 4 !6 ! .

Sebanyak 93,33% responden Desa Mamahak Teboq dan 90% responden di Desa Lutan menyatakan bahwa hasil sumber daya hutan merupakan sumber pendapatan khususnya hasil hutan bukan kayu. Hal ini terbukti dari kontribusi sumber daya hutan yang dimanfaatkan sangat besar terhadap pendapatan total rumah tangga. Penjualan sumber daya hutan dapat digunakan sebagai pendapatan keluarga untuk ditabung. Sebesar 73,33% responden Desa Mamahak Teboq dan 76,67% responden di Desa Lutan menjawab setuju atas pernyataan tersebut. Namun, sebanyak 20% menjawab tidak setuju dengan alasan setiap pendapatan yang mereka peroleh tidak pernah disisihkan untuk ditabung. Hal ini karena setiap memperoleh pendapatan akan selalu habis untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka setiap harinya. Untuk meningkatkan jumlah pendapatannya, sebanyak 100% responden Desa Mamahak Teboq dan 90% responden di Desa Lutan setuju perlu diadakannya usaha pengembangan HHBK.

Menurut Sumadiwangsa (2006), pengelolaan hutan bagi masyarakat sekitar hutan mutlak diperlukan sebagai sumber pangan, bahan obat, bahan bangunan dan lainnya bagi masyarakat yang hidup di kawasan hutan. Bagi masyarakat yang hidup dan tinggal di dalam maupun di sekitar hutan, hutan adalah jaringan pengaman ekonomi ketika menghadapi gagal panen atau tidak ada pekerjaan lain.

Bagi banyak keluarga, berjualan hasil hutan dan hasil wanatani (agroforest) merupakan sumber pendapatan utama untuk dapat membiayai kehidupan, sarana produksi, sekolah dan kesehatan.

Jawaban responden mengenai beberapa pertanyaan tentang sumber daya hutan sebagai sumber pendapatan menurut skala Likert tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman terhadap sumber daya hutan sebagai salah satu sumber pendapatan responden tergolong tinggi. Hal ini karena sebagian besar responden memperoleh pendapatan mereka dengan memanfaatkan hasil dari sumber daya hutan.

3. Pemahaman responden tentang kerusakan dan kondisi hutan

Kebanyakan komunitas yang hidup dan bergantung dengan keberadaan hutan tidak menyebabkan deforestasi, karena umumnya, komoditi yang dipungut hanya sekedar memenuhi kebutuhan. Kerusakan hutan dapat terjadi apabila sumber daya hutan dimanfaatkan tanpa diikuti dengan pemeliharaannya.

Tabel 37 Pemahaman Responden tentang kerusakan dan kondisi hutan

No Pernyataan

Distribusi Pemahaman (%) Mamahak Teboq Lutan TS R S TS R S 1 Keadaan hutan semakin rusak tahun 13,33 0,00 86,67 0,00 6,67 93,33

dibanding sebelumnya

2 Persediaan SDH yang Anda 16,67 6,67 76,67 3,33 6,67 90,00 manfaatkan semakin berkurang di

hutan

3 Perambahan hutan merupakan salah 3,33 0,00 96,67 10,00 3,33 86,67 satu faktor terjadinya kerusakan

hutan

4 Pemanfaatan hasil hutan yang terus$ 13,33 10,00 76,67 10,00 0,00 90,00 Menerus dapat mempengaruhi

ketersediaan hasil hutan tersebut

5 Ketersediaan kayu di hutan semakin 6,67 0,00 93,33 0,00 10,00 90,00 Terbatas

6 Luas hutan di daerah anda semakin 23,33 3,33 73,33 0,00 20,00 80,00 Berkurang

0 ! 6 # ! . 4 $6 $ * 4 !6 ! .

Sebanyak 86,67% responden Desa Mamahak Teboq dan 93,33% responden Desa Lutan mengatakan bahwa keadaan hutan semakin rusak dibanding tahun

sebelumnya. Alasan mereka setuju dengan pernyataan tersebut karena hutan di sekitar tempat tinggal mereka dirasakan semakin rusak dengan keberadaan pemegang hak pengusaahaan hutan (IUPHHK). Sesuai hasil wawancara pada responden, adanya kegiatan penebangan dan pembukaan hutan untuk penyaradan kayu mengakibatkan menurunnya potensi sumber daya hutan yang mereka manfaatkan termasuk HHBK berupa satwa liar. Menurut mereka, habitat saywa liar telah terganggu dengan adanya aktifitas perusahaan, sehingga menurunkan hasil buruan dari jenis satwa liar. Selain menurunkan potensi HHBK, aktifitas perusahaan juga berdampak negatif terhadap kelestarian sumber daya hutan.

Gambar 10 (a) Kerusakan hutan akibat pembukaan jalan sarad (b)Kerusakan hutan akibat penebangan pohon.

Semakin banyak hutan yang rusak maka semakin banyak juga komoditi HHBK yang hilang. Persediaan sumber daya hutan yang dimanfaatkan akan semakin berkurang di hutan. Sebanyak 76,67% responden Desa Mamahak Teboq dan 90% responden Desa Lutan setuju dengan pernyataan tersebut dengan alasan bahwa HHBK yang biasanya mereka manfaatkan yang dulu cukup berlimpah kini semakin berkurang keberadaannya dan bahkan ada yang sudah langka. Hal ini menyulitkan mereka dalam memanfaatkan sumber daya yang mereka butuhkan. Namun terdapat 3,33% responden tidak setuju persediaan sumber daya hutan semakin berkurang di hutan dengan alasan persediaan SDH yang mereka manfaatkan akan selalu berkesinambungan. Apabila ada yang dimanfaatkan maka akan berkembang biak lagi sehingga tidak akan pernah habis.

Masyarakat juga menyadari bahwa perambahan hutan merupakan salah satu terjadinya kerusakan hutan, sebanyak 96,67% responden Desa Mamahak Teboq dan 86,67% responden Desa Lutan setuju dengan pernyataan tersebut. Jawaban

responden mengenai beberapa pertanyaan tentang sumber daya hutan sebagai sumber pendapatan menurut skala Likert tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman responden terhadap kerusakan hutan tergolong tinggi.

Luas hutan semakin lama semakin berkurang karena banyaknya terjadi degradasi dan deforestasi yang merupakan bukti lemahnya konsep pengelolaan hutan di Indonesia. Sampai tahun 2009 kerusakan hutan Indonesia telah merambah ke hutan lindung dan hutan konservasi secara serius. Kualitas kehidupan masyarakat terasa semakin menurun dengan nuansa ketertinggalan. Sebanyak 73,33% responden Desa Mamahak Teboq dan 80% Desa Lutan menyatakan bahwa luas hutan di daerah tempat tinggal mereka semakin berkurang. Tapi ada juga beberapa orang responden yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut dengan alasan perusahaan telah menerapkan program penanaman bibit pohon di lahan kosong. Hanya beberapa responden yang mengetahui informasi tersebut.

Eksploitasi hutan yang terus menerus tanpa diikuti pemeliharaan tentu akan sangat berpengaruh terhadap ketersediaan kayu di hutan. Sebanyak 76,67% responden Desa Mamahak Teboq dan 90% Desa Lutan memahami bahwa pemanfaatan hasil hutan yang terus menerus dapat mempengaruhi ketersediaan hasil hutan tersebut. Responden banyak yang menilai bahwa hasil hutan yang biasa mereka manfaatkan banyak mengalami penurunan kuantitas, terutama satwa buruan sebagai sumber protein andalan mereka dan sumber pemenuhan kebutuhan sehari$hari mereka untuk dijual. Namun ada beberapa responden yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut dengan alasan meski hasil hutan dimanfaatkan secara terus$menerus hasil hutan tersebut akan kembali tumbuh dengan sendirinya. Sebanyak 93,33% responden Desa Mamahak Teboq dan 90% Desa Lutan menyatakan bahwa ketersediaan kayu di hutan semakin terbatas. Mereka setuju dengan pernyataan tersebut dengan alasan bahwa mereka semakin kesulitan untuk mendapatkan dan memanfaatkan kayu dari hutan.

Dari beberapa pertanyaan tentang perkembangan kondisi hutan menurut skala Likert adalah tinggi. Sebagian besar responden menjawab setuju dari setiap pertanyaan sehingga memiliki tingkat pemahamn yang tinggi.

4. Pemahaman responden tentang ladang berpindah

Perambahan hutan yang tak terkendali berupa konversi hutan menjadi lahan pertanian merupakan salah satu faktor terjadinya kerusakan hutan. Sistem ladang berpindah biasanya dilakukan oleh masyarakat pedesaan yang bersinggungan langsung dengan pemanfaatan hutan. Sistem ladang berpindah merupakan tradisi yang sudah ada sejak dulu yang telah turun temurun.

Tabel 38 Pemahaman responden tentang ladang berpindah

No Pernyataan

Distribusi pemahaman (%) Mamahak Teboq Lutan TS R S TS R S 1 Sistem ladang berpindah merupakan 0,00 3,33 96,67 10,00 0,00 90,00

tradisi yang sudah ada sejak dulu

2 Sistem ladang berpindah dapat 20,00 0,00 80,00 16,67 3,33 80,00 merusak hutan

3 Pertanian yang menggunakan sistem 16,67 0,00 83,33 13,33 3,33 83,33 ladang berpindah merupakan sistem

yang kurang baik

4 Sistem ladang berpindah rawan terjadi 16,67 0,00 83,33 43,33 3,33 53,33 konflik sosial antar masyarakat

0 ! 6 # ! . 4 $6 $ * 4 !6 ! .

Sebanyak 80% responden Desa Mamahak Teboq dan 90% responden Desa Lutan memahami bahwa sistem ladang berpindah dapat merusak hutan. Meski masyarakat memahami bahwa dengan membakar hutan dapat berdampak negatif terhadap hutan dan meskipun mereka menyadari bahwa dengan sistem ladang berpindah dapat merusak hutan tapi mereka tetap saja melakukan aktivitas tersebut dengan alasan mereka tidak ada pilihan lain dan mereka mengkonversi hutan menjadi lahan pertanian untuk mengklaim lahan tersebut menjadi hak milik mereka. Aktifitas perladangan berpindah yang terjadi di hutan$hutan yang merupakan daerah tangkapan air seperti yang ada di hulu Sungai Muring, sempadan Sungai Pariq dan Sungai Benturak.

Ladang berpindah merupakan sistem yang sudah mereka lakukan turun temurun karena dengan sistem tersebut mereka dapat meperoleh hasil panen yang mampu mencukupi kebutuhan pangan mereka. Masyarakat mengolah lahan tanpa menggunakan pupuk sehingga apabila tanah yang diolah dimanfaatkan pada rotasi

berikutnya tidak akan memperoleh hasil panen yang memuaskan bahkan dapat terjadi gagal panen.

(a) Hutan berubah menjadi ladang padi (b) Kerusakan hutan akibat perlada$ dan berada di kawasan hutan produksi. ngan berpindah.

(c) Pembukaan hutan menjadi kebun. (d) Pembukaan hutan dengan cara

membakar hutan untuk dijadikan

perladangan.

Gambar 11 Kerusakan hutan akibat perladangan berpindah.

Kegiatan perladangan berpindah berkembang pada areal yang kaya lahan dan kekurangan tenaga kerja. Waktu yang dibutuhkan untuk membuka ladang cukup lama dan terdiri dari beberapa tahapan kegiatan. Kegiatan$kegiatan tersebut adalah memeriksa tanah (menebas) pada bulan April$Juni, kegiatan mencincang pada bulan Juli, kegiatan membakar dan menugal/tanam pada bulan Agustus$ Oktober, kegiatan merumput pada bulan November$Desember dan panen pada bulan Februari sampai Maret.

Biasanya petani harus berusaha lebih bekerja keras meningkatkan produktivitas tenaga kerja manusia daripada mengintensifkan produksi lahan per unit. Terlihat dari tahapan$tahapan kegiatan yang harus dilakukan untuk membuka hutan untuk membuat ladang mereka. Sebanyak 83,33% responden di kedua desa setuju bahwa sistem ladang berpindah merupakan sistem yang kurang efektif. Hal ini karena selain membutuhkan waktu yang cukup lama, mereka juga harus mengeluarkan biaya yang sangat besar dalam pembukaan lahan.

Meskipun panen telah berakhir, ladang yang telah dimanfaatkan tidak ditinggalkan begitu saja. Beberapa dari mereka kembali menanami ladangnya dengan berbagai jenis tanaman buah$buahan, sayur$sayuran bahkan tanaman keras seperti sengon dan karet. Namun, ada juga beberapa dari mereka membiarkan bekas ladang tersebut menjadi belukar sehingga hutan tumbuh kembali (masa bera lahan).

Menurut Carol dan Richard (1997), meski terdapat dampak negatif ladang berpindah terhadap kerusakan hutan terdapat juga dampak positifnya terhadap kelestarian hutan yaitu masa bera mempunyai fungsi ekologi yang penting dalam melestarikan kesuburan tanah dan kualitas serta ketersediaan air, mengurangi rumput, hama, dan masalah penyakit.

Sebanyak 83,33% responden Desa Mamahak Teboq dan 53,33% Desa Lutan menyatakan bahwa sistem ladang berpindah rawan terjadi konflik sosial antar masyarakat. Namun terdapat beberapa responden yang tidak setuju dengan hal tersebut karena menurut mereka apabila pembukaan lahan dilakukan dengan baik dan diketahui oleh tetangga yang memiliki ladang berdekatan dengan kawasan yang akan dibuka akan mengindari konflik. Jawaban responden mengenai beberapa pertanyaan tentang ladang berpindah menurut skala Likert tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman responden terhadap kerusakan hutan akibat ladang berpindah tergolong tinggi.

5. Pemahaman responden tentang kelestarian hutan

Hutan sebagai salah satu sumber pendapatan dan devisa negara mendapat perhatian khusus terutama dalam pengelolaan dan pemanfaatannya sehingga diharapkan dapat dinikmati seoptimal mungkin dengan tetap mengacu pada pemanfaatan yang lestari. Pemanfaatan hutan yang kurang bijaksana dan mengabaikan aspek$aspek pemanfaatan hutan yang berkesinambungan dikhawatirkan akan dapat mengurangi fungsi hutan. Selain pemegang izin pengelolaan hutan sebagai komponen penentu pengelolaan hutan yang lestari, maka masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan yang melakukan aktifitas hidupnya paling bersinggungan dengan pemanfaatan hutan. Sehingga, untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang lestari akan dibutuhkan peranan masyarakat. Apabila tingkat pemahaman mereka terhadap kelestarian hutan semakin tinggi, maka semakin besar pula peluang mereka turut dalam memanfaatkan hutan secara bijaksana dan lestari.

Tabel 39 Pemahaman Responden tentang kelestarian hutan

No Pernyataan

Distribusi pemahaman (%) Mamahak Teboq Lutan TS R S TS R S 1 Hutan merupakan sumber penghidupan 0,00 6,67 93,33 0,00 3,33 96,67

bagi masyarakat

2 Keberadaan hutan sangat penting bagi 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 100,00 Masyarakat

3 Kelestarian hutan harus dijaga agar 0,00 0,00 100,00 0,00 3,33 96,67 tidak punah

4 Hutan dapat lestari jika dikelola 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 100,00 dengan baik

5 Adanya peraturan yang terkait dengan 3,33 6,67 90,00 10,00 10,00 80,00 pemanfaatan sumber daya hutan

0 ! 6 # ! . 4 $6 $ * 4 !6 ! .

Hutan merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat khususnya bagi mereka yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Menurut Moeliono % % (2009) masyarakat lokal bersifat pragmatis, mereka menyukai hutan dan bisa sangat nostalgis tentang masa lalu, tetapi juga akan memanfaatkan setiap peluang baru. Sebanyak 100% responden di Desa Mamahak Teboq maupun Desa Lutan beranggapan bahwa keberadaan hutan sangat penting bagi masyarakat karena

tanpa adanya hutan mereka akan mengalami hidup sulit dan hutan dapat lestari jika dikelola dengan baik. Sebanyak 96,67% responden di Desa Mamahak Teboq dan 100% responden di Desa Lutan mengatakan bahwa kelestarian hutan harus dijaga agar tidak punah. Hal tersebut dipahami karena masyarakat di dua desa penelitian masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap sumber daya hutan.

Hasil wawancara pada responden menyatakan bahwa tanpa adanya hutan mereka tidak akan bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Apabila hutan tidak dikelola dengan baik maka hutan dapat rusak dan HHBK yang biasa dimanfaatkan akan semakin berkurang ketersediaanya di hutan. Apabila hutan tidak dijaga kelestariannya otomatis mereka tidak akan mampu lagi memperoleh pendapatan dari hasil memanfaatkan sumber daya yang ada di dalam hutan.

Oleh karena responden setuju bahwa kelestarian hutan harus dijaga agar tidak punah, maka sebanyak 80% responden di Desa Mamahak Teboq dan 90% responden di Desa Lutan menyadari untuk menghindari kerusakan hutan pada sumber daya hutan perlu adanya peraturan yang terkait dengan pemanfaatan sumber daya hutan. Berbagai peraturan dan himbauan mengenai larangan berburu dan membuka hutan dengan membakar hutan untuk dijadikan ladang sudah ada berupa plang yang dibuat oleh PT. RATAH TIMBER. Namun, beberapa responden juga tidak setuju apabila ada peraturan dalam pemanfaatan sumber daya hutan.

Sebagian dari mereka berpendapat apabila ada peraturan tersebut maka mereka tidak akan bebas lagi mengambil dan memanfaatkan hasil hutan yang biasa mereka manfaatkan. Mereka khawatir proses dalam pengambilan hasil hutan akan semakin dipersulit. Mereka menyadari bahwa kegiatan berburu dan membakar hutan untuk dijadikan ladang telah melanggar hukum, akan tetapi aktifitas tersebut masih terus dilakukan karena kebutuhan yang harus dipenuhi mereka.

Jawaban responden mengenai beberapa pertanyaan tentang kelestarian sumber daya hutan menurut skala Likert tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman responden terhadap kelestarian hutan tergolong tinggi.

Dokumen terkait