• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Pemanfaatan Hasil hutan Bukan Kayu

5.2.1 Pemanfaatan Hasil hutan Bukan Kayu Nabati

2 Karet 0 0,0 1 100,0 0 0,0 9 100,0 3 Madu 0 0,0 2 100,0 1 100,0 0 0,0 4 Daun biru 0 0,0 0 0,0 0 0,0 4 100,0 5 Daun kajang 0 0,0 0 0,0 0 0,0 2 100,0 6 Babi hutan 0 0,0 16 100,0 3 37,5 5 62,5 7 Rusa 1 5,6 17 94,4 1 14,3 6 85,7 8 Kijang 2 22,2 7 77,8 1 100,0 0 0,0 9 Kancil 2 40,0 3 60,0 1 50,0 1 50,0 10 Landak 0 0,0 1 100,0 0 0,0 0 0,0 11 Ayam hutan 0 0,0 2 100,0 0 0,0 0 0,0 12 Monyet 1 50,0 1 50,0 0 0,0 0 0,0 ! 0 1 " "

5.2.1 Pemanfaatan Hasil hutan Bukan Kayu Nabati 1. Rotan

Responden yang memanfaatkan hasil hutan bukan kayu berupa rotan di Desa Mamahak Teboq sebanyak 53,3%. Dari 53,3% pemanfaat rotan tersebut hanya 43,8% responden yang menjualnya sedangkan 56,3% lagi dimanfaatkan sendiri oleh responden untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga pada waktu dibutuhkan untuk membuat pijakan padi pada saat panen. Sedangkan responden Desa Lutan memanfaatkan rotan sebanyak 50%. Dari 50% tersebut 20% responden memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan sesaat saja pada saat panen atau keperluan lainnya sedangkan 80% lagi dijual baik pada pedagang pengumpul maupun dijual oleh mereka sendiri.

Jenis rotan yang dimanfaatkan di Desa Mamahak Teboq maupun Desa Lutan adalah rotan sega ( ), rotan pulut, rotan merah, dan rotan jepung. Rotan yang dijual adalah rotan mentah maupun rotan yang sudah diolah oleh pengrajin. Dari semua responden yang memanfaatkan rotan, 5% diantaranya telah membudidayakan rotan di lahan miliknya.

Responden di Desa Mamahak Teboq menjual rotan mentah dengan harga dari kisaran harga Rp 5000–Rp 8000 per kg dan biasanya dijual kepada pedagang pengumpul. Lain halnya di Desa Lutan, harga jual rotan mentah di desa ini dijual oleh responden dengan harga rata$rata Rp 1000/kg. Namun ada juga yang menjual dengan harga Rp 5000 bahkan Rp 15.000/kg. Perbedaan harga rotan ini dapat disebabkan karena sempitnya informasi mengenai harga rotan di desa tersebut, kualitas rotan yang dijual, dan dapat disebabkan alur pemasaran rotan. Responden ada yang langsung menjual kepada pedagang pengumpul dan ada yang juga menjual langsung ke kabupaten dengan membuat rakit. Perbedaan alur pemasaran ini menyebabkan terjadinya kesenjangan harga jual.

Alat yang digunakan untuk mengambil rotan adalah parang/mandau atau kapak. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke lokasi pengambilan rotan sekitar 1 $3 jam dengan mengendarai motor atau perahu mesin dan 1 hari dengan berjalan kaki. Sementara waktu yang dibutuhkan untuk pengambilan rotan dalam sekali pengambilan dibutuhkan 6 jam bahkan sampai 1 harian sehingga harus menginap di hutan. Penjualan rotan mentah dapat mencapai 50 kg–1 ton per bulan dan ada juga yang menjual hanya 60 batang/bulan. Namun penjualan ini tergantung pada permintaan pedagang pengumpul yang akan datang ke desa tersebut. Sehingga penjualan rotan mentah belum dilakukan secara berkesinanbungan.

Gambar 3 Rotan mentah yang dipungut dari hutan.

Selain menjual berupa rotan mentah, ada juga yang menjual rotan dalam bentuk kerajinan tangan yang dibentuk dengan kombinasi rotan, daun kajang, dan daun biru untuk membuat seraung dan tampi beras selain itu juga rotan dapat dijadikan tas seperti tas gendong, anjat,tikar, dan lanjung yang biasa dipakai oleh

masyarakat di desa tersebut. Harga per satuan lanjung Rp 50.000$ Rp 150.000 per lanjung, harga anjat Rp 50.000 –Rp 100.000 per anjat, dan harga seraung berkisar antara Rp 15.000$Rp 25.000.

(a) (b) (c)

Gambar 4 Pemanfaatan rotan; (a) Lanjung; (b) Anjat ukuran sedang; (c) Anjat ukuran besar.

(a) (b)

Gambar 5 Pemanfaatan rotan yang dikombinasikan dengan daun Kajang dan daun biru; (a) Seraung; (b) Tas gendong dan Tampi beras.

Hasil wawancara pada responden, kendala yang mereka hadapai dalam pemungutan rotan yaitu sebagian besar dari mereka mengeluh dengan harga rotan yang semakin rendah. Harga rotan mentah terkadang tidak sesuai dengan tenaga dan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengumpulkannya. Selain menuju lokasi pengambilan rotan sangat jauh, waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkannya juga dibutuhkan waktu yang lama. Hal ini membuat sebagian mereka tidak mau lagi mengumpulkan dan menjual rotan dan apabila mereka mengambil rotan tersebut hanya digunakan untuk kepentingan mereka saja. Selain itu, pedagang pengumpul (tengkulang) yang datang untuk mengumpulkan rotan tidak menentu

sehingga terkadang mereka harus menjualnya ke kabupaten. Sistem pengangkutan terkendala pada saat menjual ke kabupaten yang apabila sungai meluap rakit rotan akan hanyut.

Keterbatasan modal, pengetahuan dan keterampilan untuk diversifikasi usaha serta kebutuhan untuk mendapatkan hasil yang lebih cepat membuat masyarakat memanfaatkan potensi hutan secara langsung dan menjualnya tanpa proses pengolahan. Padahal sebenarnya, pengembangan pengrajin rotan di Desa Lutan sudah pernah dilakukan namun karena kendala tersebut saat ini sudah tidak aktif lagi. Padahal jika pemanfaatan sumber daya hutan dilakukan secara langsung maka dapat mengakibatkan peningkatan eksploitasi terhadap hutan. sebaliknya, jika proses pengolahan seperti membuat kerajinan mampu menyerap tenaga kerja dan mampu mengurangu eksploitasi hutan besar$besaran.

2. Karet

Persentase rata$rata responden yang menanami lahan kebunnya dengan jenis tanaman karet di Desa Mamahak Teboq maupun Desa Lutan sebesar 66,7%. Sebagian dari tanaman karet tersebut sudah dapat dipanen, namun sebagian lagi masih baru ditanam sehingga belum bisa dipanen. Bagian tanaman karet yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah getah karet. Dari 66,7% responden yang menanam karet, hanya 15% saja yang sampai saat ini yang dapat memanen getah karet yang ditanamnya. Hal ini karena sebagian besar karet yang dimiliki masih belum cukup umur untuk dipanen. Semua getah karet yang dihasilkan oleh responden diambil untuk dijual kepada pedagang pengumpul dan tidak ada satupun yang memanfaatkannya sendiri.

Responden yang memanfaatkan getah karet di Desa Mamahak Teboq hanya ada 2 orang saja (3,3%) dengan harga jual getah karet Rp 9.000/kg, sedangkan responden yang memanfaatkan getah karet di Desa Lutan sebanyak 8 orang (26,7%) dengan harga jual Rp 11.000$Rp 15.000/kg. Terdapat kesenjangan harga antara 2 desa ini. Hal ini mungkin disebabkan oleh pedagang pengumpul berbeda sehingga harga yang diberikan juga berbeda.

Gambar 6 Pemanfaatan getah karet; (a) Lahan masyarakat yang ditananami Karet; (b) Getah karet yang ditores.

Perbedaan yang nyata tentang pemanfaatan getah karet antara Desa Mamahak Teboq dan Desa Lutan sangat jelas terlihat dari jumlah responden yang memanfaatkannya. Dari penelusuran informasi yang didapat dari PT. RATAH TIMBER, di Desa Lutan telah dilakukan penanaman kembali lahan kosong milik masyarakat dengan jenis tanaman karet yang merupakan bagian dari program bina desa perusahaan. Pihak perusahaan memfasilitasi kegiatan ini dan menyediakan bibit tanaman karet sementara penanaman karet di Desa Mamahak Teboq masih dalam tahap rencana (sosialisasi) saja namun sudah ada nota kesepahaman (MoU) oleh perusahaan dengan Desa Mamahak Teboq.

Bibit karet yang ditanam oleh responden ada yang berasal dari anakan alam yang dicari dari hutan, ada yang dibeli, dan ada juga dari perusahaan. Getah karet ditores dengan menggunakan pisau tores (lading tores) oleh responden. Penyadapan getah karet dilakukan oleh responden selama 6 hari kerja dan dilakukan setiap minggu. Hasil penyadapan getah karet dapat mencapai 10$35 kg/minggu. Sebelum dijual penyadap terlebih dahulu mengumpulkan getah karet sehingga pada saat dijual bisa mencapai 40$120 kg/bulan. Jika sudah terkumpul getah karet akan dikumpulkan kepada pedagang pengumpul dan akan dipasarkan ke kabupaten.

Tidak ada target pengumpulan getah karet oleh responden karena kendala iklim. Jika hari hujan maka penyadap tidak bisa menyadap karet dengan produktif. Harga getah karet yang lumayan tinggi membuat penyadap bersemangat untuk menyadap karet. Tidak sedikit masyarakat disana yang

menanami kebun yang mereka miliki dengan tanaman karet karena harganya lumayan tinggi.

Tumbuhan obat, sayur sayuran dan buah buahan

Jenis tumbuhan obat, sayur$sayuran dan buah$buahan yang sering dimanfaatkn oleh responden di desa Mamahak Teboq dan desa Lutan disajikan pada Tabel 28.

Tabel 28 Persentase pemanfaatan tumbuhan dari hutan

No. Jenis Sumber Desa Mamahak Teboq Desa Lutan

daya hutan N % N % 1 Pasak bumi 3 10,0 7 23,3 2 Akar kuning 2 6,7 5 16,7 3 Anggrek 1 3,3 0 0,0 4 Gingseng 0 0,0 2 6,7 5 Sarang semut 0 0,0 1 3,3 6 Jamur 0 0,0 5 16,7 ! 0 1 " "

Dari hasil tabulasi di atas menunjukkan tumbuhan obat masih dimanfaatkan oleh beberapa responden yang diambil dari hutan. sebanyak 10% responden Desa Mamahak Teboq masih memanfaatkan pasak bumi dan 23,3% responden Desa Lutan juga memanfaatkan jenis yang sama. Pasak bumi dimanfaatkan oleh responden untuk obat sakit malaria dan sakit pinggang. Selain pasak bumi, tumbuhan obat yang masih dimanfaatkan, yaitu: akar kuning, anggrek, gingseng, dan sarang semut. Persentase pemanfaatan oleh responden Desa Mamahak Teboq pada pemanfaatan pasak bumi dan akar kuning berturut$turut adalah 6,7%, dan 3,3% sedangkan responden Desa Lutan memanfaatkan akar kuning, gingseng, kayu sarang semut, yaitu masing$masing dengan persentase sebesar 16,7%, 6,7%, dan 3,3%. Tumbuhan akar kuning dimanfaatkan untuk obat sakit kuning, anggrek hutan dimanfaatkan untuk obat sakit demam, gingseng dimanfaatkan sebagi obat kuat, dan kayu sarang semut dapat digunakan untuk obat kanker. Responden Desa Lutan sebanyak 16,7% memanfaatkan jamur yang diambil dari batang kayu dengan jenis jamur kulat (nama daerah) dan jamur lung yang tumbuh di tanah pada saat musim dingin yang ada di hutan yang dimanfaatkan untuk disayur.

Dari hasil diskusi dengan beberapa responden, selain tumbuhan yang disebutkan di atas terdapat beberapa tumbuhan yang masih dimanfaatkan mereka dan berasal dari hutan. Tumbuhan yang masih dimanfaatkan yaitu cengkeh hutan, durian hutan, manggis hutan, mangga hutan, buah rotan yang dapat diambil pada musim panen, paku hati sebagai penawar racun, damar sebagai perekat pada perahu, bambu untuk menjemur padi dan menangkap ikan.

Tumbuhan obat, buah$buahan, jenis sayur dan yang lainnya hanya digunakan oleh responden pada saat dibutuhkan dan pada saat tumbuhan hutan tersebut sedang bermusim. Sehingga mereka memanfaatkannya hanya untuk dikonsumsi saja.

5.2.2 Pemanfaatan Hasil hutan Bukan Kayu Hewani

Dokumen terkait