BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Pemanfaatan Hasil hutan Bukan Kayu
5.2.2 Pemanfaatan Hasil hutan Bukan Kayu Hewani
Responden yang memanfaatkan madu di Desa Mamahak Teboq memiliki persentase sebesar 6,7%. Dari persentase tersebut, 100% memanfaatkan hasil hutan bukan kayu berupa madu dengan tujuan untuk dijual dan sebagai salah satu sumber pendapatan. Sedangkan di Desa Lutan yang memanfaatkan madu hanya sebesar 3,3% dan tujuan pemanfaatannya hanya dikonsumsi sendiri.
Sesuai hasil wawancara dengan responden, potensi madu di dua desa tersebut sudah terbilang sedikit atau kuantitasnya sudah menurun. Menurut mereka, pohon Banggeris atau yang biasa disebut pohon Kempas 2
3 sebagai pohon madu sudah semakin langka sehingga ketersediaan madu juga semakin langka. Selain karena kelangkaannya, masyarakat juga tidak berani memanjat pohon Banggeris tersebut karena pohonnya sangat tinggi dan licin.
Gambar 7 Pohon Kempas ( ) sebagai sarang madu hutan. Pada umumnya madu bisa dipanen pada saat musim buah. Harga jual madu hutan yang dimanfaatkan responden adalah Rp 150.000/liter. Biasanya madu dapat diperoleh 5$10 liter/minggu jika sedang musimnya. Pengambilan madu dilakukan dengan memanjat pohon Banggeris dengan membuat tangga pijakan di batangnya. Mencari madu hutan bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk mendapatkannya, selain memanjat batang pohon yang licin pemanfaat madu juga harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk menemukan pohon banggeris tersebut. Waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulka madu juga dibutuhkan waktu 1 harian.
2. Satwa Liar
Sebagian besar responden di Desa Mamahak Teboq dan Desa Lutan memiliki pekerjaan utama (3,3%) atau pekerjaan sampingan (43,3%) sebagai pemburu satwa liar. Potensi hewan buruan di sekitar kawasan hutan tempat mereka tinggal masih terbilang banyak. Pemanfaatan hewan buruan sebagian untuk dikonsumsi dan atau dijual.
Beberapa jenis satwa liar yang diburu oleh responden di Desa Mamahak Teboq dan Desa Lutan, yaitu: Babi hutan (! ), Rusa sambar (
), Kijang (& #), Pelanduk/Kancil ( . ), Monyet beruk (& ), Ayam hutan ( ), dan Landak
raya (1 ). Semua jenis satwa liar ini masih ditemukan di kawasan hutan. Meski sebagian diantaranya sudah langka masyarakat masih sering berburu satwa liar tersebut sebagai alternatif sumber pemenuhan protein dan sumber pendapatan keluarga.
(a) Landak (b) Kijang
(c) Kancil/Pelanduk (d) Babi hutan
(e) Rusa sambar
Gambar 8 Jenis$jenis satwa liar yang dimanfaatkan dan diburu oleh masyarakat. Kegiatan berburu yang dilakukan oleh responden secara berkelompok oleh pemburu menggunakan anjing dan tombak. Biasanya dengan menggunakan cara
ini hasil yang didapat lebih cepat dan tidak memerlukan biaya yang banyak. Anjing yang dibawa ke dalam hutan bertujuan untuk mencium bau mangsa. Pada saat anjing telah menyalak itu menandakan bahwa hewan mangsa sudah terlihat olehnya, dengan begitu pemburu dapat menangkap hewan buruan dengan menggunakan tombak yang digunakan untuk melemahkan hewan buruan tersebut. Berburu dengan cara menggunakan anjing ini efisien dalam hal waktu tapi kurang efektif dilakukan pada semua jenis buruan. Jika menggunakan anjing, hewan buruan yang didapat terbatas hanya hewan berjenis babi hutan, rusa sambar (biasa disebut payau), dan kijang. Sementara hewan buruan lain agak susah memburunya apabila menggunakan anjing.
Selain menggunakan anjing dan tombak, para pemburu juga dapat menggunakan jerat tali untuk mendapatkan hewan buruannya. Jerat yang dipasang terbuat dari tali tambang yang dibuat melingkar dan ditancapkan di atas tanah dan kemudian dikaitkan ke batang kayu yang melengkung. Jumlah jerat yang dipasang bisa mencapai 30$700 jerat. Jerat dapat dipasang sekaligus maupun secara bertahap. Rata$rata jerat yang dipasang tersebut akan diperiksa 3 hari sekali. Adanya selang waktu 3 hari ini dilakukan agar jejak kaki manusia tidak tercium oleh hewan yang diburu sehingga hewan yang menjadi target buruannya bisa terjerat. Jika beruntung, pembuat jerat akan memperoleh hasil dan hasil tersebut tidak selalu sama jumlahnya pada sekali pengambilan yaitu antara 1$5 ekor per minggu. Kadang kala, para pemburu tidak mendapatkan hasil buruan meski sudah menunggu hingga 3 hari atau lebih.
Alat yang digunakan untuk berburu selain yang telah disebutkan di atas adalah senapan angin. Senapan angin biasanya digunakan untuk memburu hewan liar seperti kancil dan landak. Alat ini digunakan karena hewan tersebut jarang ditemukan pada jerat yang dipasang. Hewan tersebut biasanya diburu pada saat malam hari karena menurut wawancara, kancil beraktifitas pada malam hari. Biasanya satwa liar yang terperangkap pada jerat adalah satwa yang berukuran besar seperti pada babi hutan, rusa, kijang, ayam hutan, dan lain$lain.
Frekwensi berburu pada setiap responden berbeda$beda. Beberapa responden ada yang berburu dengan teratur setiap 2 kali seminggu, ada yang sebulan sekali dan ada juga yang berburu pada saat dibutuhkan (jarang berburu). Persentase jumlah pemanfaatan setiap jenis satwa liar telah disajikan kembali pada Tabel 29.
Tabel 29 Persentase pemanfaatan satwa liar oleh responden
No Jenis Satwa liar Nama latin Mamahak Desa Teboq
Desa
Lutan responden Total
1 Babi hutan ! 14 46,7 8 26,7 22 36,7 2 Rusa Sambar 14 46,7 7 23,3 21 35,0 3 Kijang & # 10 33,3 1 3,3 11 18,3 4 Kancil . 5 16,7 2 6,7 7 11,7 5 Landak 1 1 3,3 0 0,0 1 1,7 6 Ayam hutan 2 6,7 0 0,0 2 3,3 7 Monyet B. & 2 6,7 0 0,0 2 3,3 ! 0 1 " "
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase terbesar jenis satwa liar yang dimanfaatkan oleh responden di Desa Mamahak Teboq maupun Desa Lutan adalah Babi hutan sebesar 36,7%. Banyaknya responden yang memburu hewan ini karena selain untuk dikonsumsi sendiri, mereka menganggap bahwa babi hutan adalah salah satu hama yang merusak dan menyerang tanaman padi di ladang masyarakat. Selain babi hutan, monyet yang memiliki persentase 3,3% juga dianggap sebagai hama padi mereka. Sehingga, untuk mehindari gagal panen yang dapat terjadi masyarakat memasang jerat selain di dalam hutan juga di sekitar ladang$ladang milik mereka.
Satwa liar yang juga diburu oleh responden, yaitu: rusa (35%), kijang (18,3%), kancil (11,7%), landak (1,7%), dan ayam hutan (3,3%). Sesuai hasil
wawancara dengan responden, semua satwa ini masih cukup banyak dan berlimpah di kawasan hutan hanya saja kendalanya, jenis satwa liar seperti rusa dan kijang keberadaannya sudah mulai berkurang dan lebih susah mendapatkannya dibanding satwa lain. Hal ini mungkin disebabkan karena semakin berkurangnya potensi satwa liar ini karena sudah sering diburu, jumlah jerat yang semakin banyak didalam hutan, dan jumlah penduduk yang semakin banyak berburu. Sedangkan babi hutan keberadaannya masih melimpah karena menurut responden babi hutan cepat berkembang biak karena sekali beranak bisa mencapai 4$5 ekor pada musim beranak.
Satwa liar hasil buruan yang dijual oleh responden beberapa diantaranya ada yang hanya dikonsumsi saja dan ada juga yang dijual. Persentase responden berdasarkan tujuan pemanfaatan dapat dilihat kembali pada Tabel 27. Satwa liar hasil buruan dijual kepada masyarakat setempat yang ada di desa tertentu tapi ada juga yang dijual ke luar desa. Seperti responden di Desa Mamahak Teboq, hasil buruannya ada yang dijual ke Desa Datah Bilang, Desa Tering, Desa Lutan, Kecamatan Long Hubung, Long Gelawang, dan Long Iram. Sedangkan responden di Desa Lutan lebh banyak menjual hasil buruannya di sekitar desa tersebut baik dijual olehnya sendiri maupun melaui tengkulak (pedagang pengumpul). Jika hasil buruan banyak maka responden akan menjualnya ke luar desa, tapi jika hasil buruan hanya sedikit cukup dijual di masyarakat desa tempat responden tinggal.
Hasil buruan satwa liar oleh pemburu dijual dengan harga yang berbeda$ beda antara desa yang satu dengan desa yang lain. Seperti rusa dijual dengan harga Rp 30.000/kg oleh seorang responden, namun responden yang lain ada juga yang menjual rusa dengan harga yang lebih rendah, yaitu: Rp 25.000/kg dan Rp 27.000/kg di Desa Mamahak Teboq maupun Desa Lutan. Perbedaan harga ini dapat terjadi karena pasar yang mereka tuju berbeda$beda. Tapi sebenarnya terdapat keputusan kampung yang dimusyawarahkan bersama untuk menentukan harga jual hasil buruannya tersebut seperti yang tertera di Tabel 30.
Menurut hasil wawancara, responden menganggap hutan merupakan tempat yang bernilai penting sebagai sumber satwa buruan. Salah satu lokasi perburu dan adalah lokasi tanaman padi dan singkong di ladang yang mereka miliki karena
dapat memikat binatang buruan hanya saja dampak negatifnya berpengaruh nyata terhadap hasil panen mereka.
Menurut Moira Moeliono % (2009) mengatakan bahwa spesies terpenting untuk meningkatkan perburuan adalah spesies tumbuhan buah (terutama jenis Dipterocarpaceae, oak, beringin, serta palem) yang bisa memikat satwa buruan. Mata air asin dan daerah berlumpur juga dianggap daerah terpenting yag disukai hewan. Hal ini memang sesuai dengan pernyataan beberapa responden bahwa hasil buruan akan banyak diperoleh pada saat musim buah karena hewan buruan akan berkeliaran pada saat musim buah tiba. Penebasan tumbuhan bawah bisa menurunkan nilai kesesuaian hutan sebagai tempat berburu untuk kebutuhan pangan serta mengurangi fungsi pelindung bagi berbagai jenis hewan.
Jenis satwa liar, antara lain: Kijang, Rusa Sambar, monyet beruk, Kancil, dan Landak yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber protein dan sumber pendapatan mereka merupakan jenis satwa liar yang dilindungi oleh negara. Monyet beruk merupakan jenis satwa liar yang termasuk dalam daftar IUCN yang tergolong - (rentan) dan termasuk dalam daftar spesies Apendix II dalam CITES, rusa juga termasuk dalam daftar spesies -
dalam IUCN dan jenis satwa liar yang dilindungi negara berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999, kijang dan landak raya jenis satwa liar yang dilindungi negara berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999, babi hutan berada pada daftar IUCN sebagai spesies - 4 kancil/pelanduk dalam daftar IUCN yang tergolong
(Informasi Kurang) dan dilindungi oleh negara berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 dan ayam hutan termasuk kedalam daftar IUCN yang tergolong 5
(Berisiko Rendah).Keterangan dapat dilihat padda 5 19.
Pemanfaatan masyarakat yang tinggi dan secara terus$menerus terhadap satwa liar yang termasuk dalam kategori rentan dan yang dilindungi oleh negara tersebut dapat berdampak negatif terhadap keberadaan satwa liar yang bisa mengakibatkan kepunahan. Berburu satwa liar yang dilakukan oleh masyarakat dilakukan tanpa adanya izin resmi dari perusahaan sehingga masyarakat pun dapat secara bebas melakukan pemburuan satwa liar. Oleh karena itu perusahaan telah membuat himbauan berupa plang dan poster untuk mencegah perburuan dan
pemanfaatan satwa liar yang dilindungi oleh negara. Namun meski demikian, masyarakat masih tetap melakukan perburuan terhadap satwa liar meski peraturan tentang perburuan satwa liar telah dibuat.