HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.3.1. Pemaknaan Temuan Peneitian
Pembahasan dalam pemaknaan temuan penelitian ini didasarkan pada temuan hasil pengamatan mengenai keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil
belajar siswa pada pembelajaran PKn melalui penerapan model Team Assisted Individualization (TAI) dengan multimedia pada siswa kelas IV SDN Gunungpati 01 Kota Semarang.
4.3.1.1. Hasil Observasi Peningkatan Keterampilan Guru
Berdasarkan hasil pengamatan secara keseluruhan mengenai keterampilan
guru melalui penerapan model Team Assisted Individualization (TAI) dengan
multimedia pada pembelajaran PKn mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2. Secara lebih jelas, peningkatan keterampilan guru dapat dlihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.23
Hasil Observasi Peningkatan Keterampilan Guru pada Siklus 1 dan Siklus 2 No. Indikator yang diamati Siklus 1 Siklus 2
Pert I Pert II Pert I Pert II
1. Membuka pembelajaran 3 3 3 4
2. Menyampaikan materi
pembelajaran ( Teaching Group) 2 3 3 4
3.
Melakukan variasi dalam proses pembelajaran dan penggunaan multimedia (Placement Test, Teams)
3 3 4 4
4.
Membimbing siswa dalam berdiskusi dengan kelompoknya (Team Study)
2 3 4 4
5. Pengkondisian kelas selama
pembelajaran 3 3 3 3
6. Membimbing presentasi
kelompok (Student Creative) 3 4 4 4
7.
Memberikan penguatan kepada hasil pekerjaan siswa (Team Score and Team Recognition)
2 3 3 3
8. Menutup pelajaran ( Whole Class
units, Fact Test) 2 3 3 4
Jumlah total perolehan skor 20 25 27 30 Kategori Cukup Baik Sangat
Baik
Sangat Baik
Gam bar 4.10 : Diagram Hasil Observasi Peningkatan Keterampilan Guru Siklus I dan II
Berdasarkan tabel dan diagram hasil observasi keterampilan guru dalam
pembelajaran PKn melalui penerapan model Team Assisted Individualization
(TAI) dengan multimedia siklus 1 dan 2 menunjukkan bahwa:
a. Membuka pembelajaran
Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran siklus 1 pertemuan I skor yang diperoleh guru adalah 3, kemudian pada pertemuan II masih memperoleh skor 3. Dilanjutkan ke siklus 2 pertemuan I masih memperoleh 3 selanjutnya pada pertemuan II meningkat menjadi 4. Hal ini berdasarkan 4 deskriptor yang muncul yaitu guru melakukan apersepsi sesuai materi yang akan dipelajari, menyampaikan tujuan pembelajaran, memaparkan langkah-langkah pembelajaran dan memotivasi siswa.
Keterampilan membuka pelajaran merupakan salah satu kunci keberhasilan dari seluruh proses belajar mengajar yang akan dilalui siswa.
Jika pada awal pelajaran seorang guru tidak dapat menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa, maka proses belajar mengajar yang dinamis tidak dapat tercapai. Guru harus memberikan apersepsi yang tepat sebagai penghubung antara pengetahuan yang telah dimiliki siswa dengan materi yang hendak dipelajari. Selain itu guru harus memberikan acuan/struktur pelajaran seperti mengemukakan tujuan pembelajaran dan menyampaikan langkah-langkah pembelajaran seperti yang dilakukan pada siklus 1 dan siklus 2. Hal ini sesuai dengan pendapat Rusman (2011: 81) bahwa keterampilan membuka pelajaran merupakan pengondisian awal agar mental dan perhatian siswa terpusat pada materi yang akan diajarkan serta memiliki motivasi yang tinggi untuk terus mengikuti pembelajaran sampai selesai dengan semangat dan konsentrasi tinggi.
b. Menyampaikan materi pembelajaran ( Teaching Group)
Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran siklus 1 pertemuan I skor yang diperoleh guru adalah 2 dengan 2 deskriptor yang tampak. Kemudian pada siklus 1 pertemuan II dan siklus 2 pertemuan I skor yang diperoleh meningkat menjadi 3 dengan 3 deskriptor yang tampak. Dilanjutkan ke siklus 2 pertemuan II, meningkat menjadi 4 dengan 4 deskriptor tampak. Hal ini ditunjukkan dengan guru menyampaikan materi sesuai dengan indikator pembelajaran, menggunakan kalimat yang mudah dipahami dan jelas, menyampaikan materi pembelajaran secara sistematis dan memberikan pertanyaan berkaitan dengan materi yang telah dipelajari.
Guru menjelaskan materi pembelajaran sesuai dengan indikator sehingga siswa paham dan mengerti dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Hal ini sesuai pendapat Djamarah (2010,130-138) pengertian menjelaskan disini adalah pemberian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan sebab akibat, antara yang sudah dialami dan yang belum dialami, antara generalisasi dengan konsep, antara konsep dengan data, atau sebaliknya. Keberhasilan guru menjelaskan ditentukan oleh tingkat pemahaman yang ditentukan anak didik.
c. Melakukan variasi dalam proses pembelajaran dan penggunaan multimedia
(Placement Test, Teams)
Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran, indikator ini pada siklus 1 pertemuan I dan pertemuan II skor yang diperoleh guru adalah 3. Dilanjutkan ke siklus 2 pertemuan I dan II, meningkat menjadi 4 dengan 4 deskriptor tampak. Peningkatan skor dari setiap pertemuan dapat tercapai oleh guru karena guru telah melakukan refleksi untuk meningkatkan keterampilan melakukan variasi dalam proses pembelajaran selain itu guru jua mendapat masukan dari guru kolaborator. Pada indikator ini guru telah membentuk kelompok heterogen yang terdiri dari laki-laki dan perempuan berdasarkan hasil pre-test, menggunakan media sesuai dengan tujuan pembelajaran dan materi pelajaran. Selain itu guru telah menggunakan variasi tulisan, gambar, animasi, audio dan video dalam multimedia yang ditayangkan serta menggunakan variasi posisi mengajar antara lain duduk di depan, berkeliling atau berdiri di belakang.
Salah satu keterampilan guru yang harus dikuasai dengan baik adalah keterampilan menggunakan variasi. Dalam proses pembelajaran, tidak jarang rutinitas yang dilakukan guru membuat siswa jenuh dan bosan sehingga guru harus pandai-pandai menggunakan seni mengajar agar tercipta suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Anitah (2009: 7.38) bahwa variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton, dapat berwujud perubahan-perubahan atau perbedaan-perbedaan yang sengaja diciptakan/dibuat untuk kesan yang unik. Tujuan diadakannya variasi di dalam kegiatan pembelajaran adalah untuk menghilangkan kebosanan, meningkatkan minat siswa dan keingintahuan siswa, melayani gaya belajar siswa yang beragam, serta meningkatkan kadar keaktifan siswa. Komponen keterampilan mengadakan variasi dibagi menjadi 3 yaitu variasi dalam gaya mengajar, variasi pola interaksi dan kegiatan, serta variasi penggunaan alat bantu pengajaran/media pembelajaran.
Berdasarkan observasi, guru juga menggunakan variasi penggunaan alat bantu/media pembelajaran. Dimana guru menampilkan media yang dapat dilihat dan didengar dengan jelas, sehingga multimedia yang digunakan dapat menarik perhatian siswa hal itu sesuai dengan pendapat Oblinger (dalam Munir, 2012: 2) yang mendefinisikan multimedia adalah penyatuan dua atau lebih media komunikasi seperti teks, grafik, animasi, audio dan video yang menghasilkan satu presentasi yang menarik.
Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran siklus 1 pertemuan I, guru mendapat skor 2 kemudian pada pertemuan II skor yang diperoleh guru adalah #. Dilanjutkan ke siklus 2 pertemuan I dan pertemuan II skor yang diperoleh guru meningkat menjadi 4. Hal ini ditunjukkan dengan guru telah mengatur tempat duduk siswa esuai degan format kelompok yang sudah ditetapkan, menjelaskan langkah-langkah diskusi secara jelas mengenai apa yang harus dilakukan siswa dalam kegiatan diskusi. Selain itu guru telah memberikan kesempatan siswa berpartisipasi dengan mengeluarkan ide, tanggapan dalam berdiskusi kelompok serta menindaklanjuti hasil diskusi dengan membantu membuat rangkuman hasil diskusi.
Pada keterampilan ini mengalami kenaikan yang signifikan pada setiap siklusnya karena guru melakukan perbaikan setiap pembelajarannya agar guru mampu membimbing siswa dan menjadi fasilitator yag mengarahkan siswa bekerja dalam kelompoknya. Hal ini sesuai dengan pendapat Rusman (2011: 89) bahwa keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memfasilitasi sistem pembelajaran yang dibutuhkan oleh siswa secara kelompok. Untuk itu keterampilan guru harus dilatih dan dikembangkan, sehingga guru memiliki kemampuan untuk melayani siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran kelompok kecil.
e. Pengkondisian kelas selama pembelajaran
Berdasrkan hasil observasi pada siklus 1 pertemuan I dan pertemuan II skor yang diperoleh guru adalah 3. Dilanjutkan ke siklus 2 pada pertemuan I
dan pertemuan II yang juga mendapat skor 3. Guru belum mampu mendapat skor maksimal 4 dikarenakan masih ada deskriptor yang tidak tampak, baik pada siklus 1 maupun siklus 2. Adapun deskriptor yang tidak tampak pada siklus 1 da siklus 2 adalah menjauhkan benda-benda yang mengganggu konsentrasi dikarenakan terkadang guru tidak memperhatikan benda-benda yang disimpan di laci meja siswa dan dapat mengganggu konsentrasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Peningkatan skor tersebut dapat diraih guru karena guru melakukan refleksi selain itu guru juga sudah mengelola kegiatan pembelajaran sesuai alokasi waktu yang sudah ditentukan, menegur siswa yang membuat keributan saat pembelajaran berlangsung, serta menangani masalah yang timbul.
Pada indikator ini, secara umum guru telah mengelola kelas dengan baik karena guru telah memberikan reaksi terhadap gangguan yang muncul saat pembelajaran berlangsung agar tercipta kondisi belajar yang optimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Anitah (2009: 8.36) bahwa keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, serta keterampilan guru untuk mengembalikan kondisi belajar yang terganggu ke arah kondisi belajar yang optimal. Pendapat ini menekankan pada kemampuan guru dalam mencegah terjadinya gangguan sehingga kondisi belajar yang optimal dapat tercipta dan terpelihara, sert menangani gangguan yang muncul sehingga keondisi belajar yang terganggu dapat dikembalikan ke kondisi optimal.
Berdasrkan hasil observasi pada siklus 1 pertemuan I guru memperoleh skor 3, kemudian pada pertemuan II guru memperoleh skor 4. Dilanjutkan ke siklus 2 pada pertemuan I dan II, semua deskriptor tampak sehingga guru memperoleh skor 4. Guru sudah memberikan petunjuk jalannya diskusi, mendorong terjadinya interaksi antar siswa dengan cara meminta siswa memberikan masing-masing pendapatnya, memberikan kesempatan pada semua kelompok. Guru sudah memberikan pengauatan saat ada kelompok yang presentasi. Pada indikator keterampilan ini secara umum guru memperoleh kategori sangat baik.
Hal ini sesuai pendapat Menurut Djamarah (2010:157-163) bahwa diskusi kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok individu dalam suatu interaksi tatap muka secara kooperatif untuk tujuan membagi informasi, membuat keputusan, dan memecahkan masalah. Sehingga dalam hal ini diharapkan siswa mampu membagi informasi yang berupa jawaban dari permasalahan yang mereka selesaikan kepada teman kelompok lain.
g. Memberikan penguatan kepada hasil pekerjaan siswa (Team Score and Team
Recognition)
Berdasarkan hasil observasi pada siklus 1 pertemuan I guru memperoleh skor 2, pada pertemuan II guru mendapat skor 3. Dilanjutkan ke siklus 2 pertemuan I dan II guru memperoleh skor 3, namun guru belum mampu memperoleh skor maksimal dikarenakan ada 1 deskriptor yang tidak tampak yaitu memberi penguatan dengan segera (tidak ditunda-tunda)
dikarenakan guru memberi penguatan setelah semua siswa menjawab pertanyaan.
Guru yang baik harus selalu memberikan penguatan, baik dalam bentuk verbal maupun non verbal kepada siswa atas perbuatan yang baik maupun hasil pekerjaan siswa. Penguatan diberikan disertai dengan kehangatan sikap guru sebagai tanda persetujuan guru atau respon positif terhadap perilaku maupun hasil kerja siswa sehingga timbul motivasi siswa untuk meningkatkan prestasi yang telah dicapai. Hal ini sesuai dengan
pendapat Rusman (2011: 84) yang menyatakan bahwa reinforcement
(penguatan) berarti juga respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatka kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Tindaan tersebut dimaksudkan untuk memberikan ganjaran atau memebrsarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi pembelajaran.
h. Menutup pelajaran ( Whole Class units, Fact Test)
Berdasrkan hasil observasi, pada siklus 1 pertemuan I guru mendapat skor 2. Selanjutnya pada pertemuan II meningkat dengan perolehan skor 3, dilanjutkan pada siklus 2 pertemuan I skor yang diperoleh adalah 3. Selanjutnya meningkat dengan skor 4 pada siklus 2 pertemuan II. Secara keseluruhan guru sudah mampu menutup pelajaran dengan sangat baik dengan cara bersama-sama siswa membuat simpulan, melakukan penilaian/evaluasi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan, memberikan umpan balik terhadap proses pembelajaran serta memberikan tindak lanjut.