• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan hasil penangkaran sebagai jasa wisata .1 Objek wisata (atraksi wisata)

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.5 Pengelolaan Pemanfaatan Hasil

5.5.2 Pemanfaatan hasil penangkaran sebagai jasa wisata .1 Objek wisata (atraksi wisata)

Kegiatan pemeliharaan dan koleksi tiga jenis buaya di penangkaran buaya CV Surya Raya juga dijadikan sebagai objek wisata dengan tujuan untuk pendidikan, pengetahuan, sebagai tempat rekreasi atau hiburan, dan menambah pendapatan (ekonomi) baik bagi pihak penangkaran maupun masyarakat sekitar penangkaran. Jenis atraksi wisata yang ditawarkan di penangkaran ini antara lain melihat koleksi tiga jenis buaya yang ditangkarkan (buaya remaja dan indukan) pada puluhan kandang di areal penangkaran, memberi makan buaya, melihat buaya berebut makanan, suara deburan air karena kibasan ekor buaya yang akan membuat kejutan-kejutan ringan sewaktu pengunjung melalui lorong-lorong penangkaran, foto bersama dengan buaya, kuliner sate buaya, belanja produk yang dihasilkan dari buaya, melihat satwa lain yang ditangkarkan seperti gajah sumatera, monyet ekor panjang, musang, ular pyton, dan kura-kura, foto bersama gajah, keliling penangkaran dengan menunggang gajah, dan menikmati wisata budaya rumah Lamin yang merupakan rumah adat Kalimantan Timur (Gambar

66

29). Rumah lamin tersebut akan dimanfaatkan sebagai tempat pertunjukan budaya sehingga para pengunjung bisa mendapatkan hiburan selain melihat buaya.

Gambar 27 Kandang monyet ekor panjang, musang, kura-kura, dan ular yang ditangkarkan di penangkaran buaya CV Surya Raya.

Berdasarkan jenis atraksi wisata yang ditawarkan di penangkaran buaya CV Surya Raya, maka atraksi wisata tersebut termasuk dalam wisata minat khusus karena tidak semua pengunjung berminat terhadap jenis atraksi yang ditawarkan, dalam hal ini hanya pengunjung yang memiliki ketertarikan khusus terhadap kegiatan dan objek tersebut, misalnya kuliner sate buaya dan berbelanja produk yang dihasilkan dari buaya hanya untuk pengunjung yang memiliki hobi berwisata kuliner makanan ekstrim seperti sate buaya, hanya pengunjung yang memiliki tujuan untuk menyembuhkan penyakit tertentu, dan pengunjung kalangan menegah atas yang mengemari atau mampu membeli produk tertentu yang dihasilkan dari buaya. Selain itu pertimbangan terhadap jenis objek yang diliat atau dinikmati dapat mengalami gangguan (stres) apabila jumlah pengunjung tidak dibatasi, misalnya melihat koleksi jenis buaya, memberi makan buaya, dan foto bersama dengan buaya. Menurut Hall dan Weiler (1992) dalam Hendratno

(2002) wisata minat khusus merupakan suatu bentuk perjalanan wisata, ketika wisatawan mengunjungi suatu tempat karena memiliki minat atau tujuan khusus mengenai sesuatu jenis objek atau kegiatan yang dapat ditemui atau dilakukan di lokasi atau daerah tujuan wisata atau tempat yang menarik dari aspek lingkungan fisik, sosial, dan budayanya.

5.5.2.2 Pelayanan pengunjung

Pengunjung dapat menyaksikan atau bahkan memberi makan ikan dan ayam secara langsung kepada buaya-buaya yang terdapat di penangkaran ini. Hal yang dapat menarik perhatian pengunjung yaitu pada saat buaya-buaya tersebut berebut makanan. Pemberian makan buaya-buaya yang terdapat di penangkaran ini hanya dilakukan dua kali seminggu, biasanya jadwal pemberian makan setiap hari Senin dan Kamis. Jika pengunjung tidak sempat berkunjung pada jadwal saat buaya diberi makan oleh petugas, maka pengunjung dapat membeli ayam yang sengaja disediakan pengelola dengan harga Rp. 10.000,- per ekornya. Dengan demikian pengunjung dapat menyaksikan langsung perilaku makan buaya. Pengelola juga memberi kesempatan pengunjung yang ingin foto bersama buaya yaitu dengan membayar Rp. 15.000,- per sekali foto (Gambar 30). Pengunjung dapat membawa langsung foto hasil jepretan pengelola dengan menunggu lima menit saja. Untuk pengunjung yang ingin foto bersama buaya namun menggunakan kamera sendiri maka pengunjung cukup membayar Rp. 5.000,- per sekali foto.

Kuliner sate buaya dan berbelanja produk yang dihasilkan dari buaya hanya untuk pengunjung yang memiliki hobi berwisata kuliner makanan ekstrim seperti sate buaya dan pengunjung kalangan menegah atas yang mengemari produk tertentu yang dihasilkan dari buaya. Pengelola menyediakan warung khusus yang

68

menyediakan sate buaya (Gambar 31). Pengunjung dapat merasakan langsung sate buaya yang baru dibakar dan dijual dengan harga Rp. 3.000,- per tusuknya. Berdasarkan wawancara dengan penjual sate buaya dan pengunjung yang membeli sate buaya, kebanyakan pelanggan atau pembeli yang datang percaya bahwa sate buaya memiliki khasiat menyembuhkan penyakit tertentu seperti dapat menyembuhkan penyakit kulit dan dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Pengunjung hanya dapat menikmati sate buaya pada akhir pekan atau hari libur saja. Warung tersebut juga menyediakan minuman dari tangkur buaya (Gambar 32). Pada minuman tersebut tangkur buaya direndam dalam arak putih yang ditambahkan dengan kuda laut, gingseng, dan saga. Minuman tersebut dijual dengan harga Rp. 10.000,- per seloqi (gelas kecil) dan Rp. 15.000,- per seloqi (gelas besar). Pengunjung juga dapat membeli olahan daging buaya lainnya seperti kerupuk buaya (matang dan mentah), abon buaya, dan dendeng buaya. Pengelola juga menyediakan daging buaya yang belum diolah (mentah) bagi pengunjung yang ingin mengolah sendiri daging buaya tersebut. Harga daging mentah Rp. 60.000,- per kg. Sebagian pengunjung meyakini olahan daging dan tangkur buaya tersebut dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan.

Pengunjung yang datang dapat langsung menuju loket untuk membeli karcis masuk dengan harga karcis masuk ke penangkaran ini sebesar Rp. 10.000,- per orang. Penangkaran ini dapat dikunjungi setiap hari Senin-Minggu, pukul 08.00-17.00 WITA.

Berdasarkan pengamatan, pihak penangkaran belum membatasi pengunjung (mengatur kuota tertentu dalam setiap sekali masuk) yang akan melihat buaya dan memasuki lorong-lorong kandang, padahal penggunaan penangkaran buaya Gambar 31 Warung sate buaya. Gambar 32 Minuman tangkur buaya.

sebagai tempat wisata tentunya memiliki dampak negatif terhadap satwa (buaya) itu sendiri. Sejauh ini, pengelola penangkaran telah memberikan peraturan bagi pengunjung yang akan mendatangi penangkaran tersebut antara lain tidak semua buaya dapat dilihat oleh pengunjung misalnya anakan buaya yang masih rentan terhadap keributan dan buaya yang akan berkembangbiak (kawin dan bertelur) harus bebas dari kegiatan yang dapat mengganggu aktifitasnya, maka pengelola meletakkan kandang tersebut pada bangunan tertutup dan tidak ada yang boleh melihat kecuali petugas penangkaran yang khusus menangani anakan buaya tersebut; petugas melakukan pengawasan terhadap pengunjung yang melihat buaya; memasang papan-papan peringatan di sekitar kandang agar pengunjung selalu memperhatikan keselamatan diri; dan pengunjung yang datang harus memenuhi kriteria atau syarat khusus yang dapat dibaca pada papan pengumuman yang telah di pajang.

5.5.2.3Fasilitas pendukung

Guna menunjang kegiatan wisata yang ditawarkan, diperlukan fasilitas pendukung. Fasilitas pendukung wisata yang terdapat di penangkaran buaya CV Surya Raya (Lampiran 6) antara lain loket, pendopo, halaman parkir, toko

souvenir, ruang informasi, etalase barang-barang berbentuk buaya warung sate buaya, papan interpretasi, papan peringatan, toilet, mushola, tempat sampah, warung-warung pedagang makanan dan minuman, serta sarana bermain anak-anak (jungkat-jungkit, ayunan, dan perosotan).

Hasil pengamatan terhadap fasilitas yang terdapat di penangkaran menunjukkan bahwa fasilitas yang ada masih layak dan masih dalam kondisi baik. Fasilitas yang disediakan juga sudah sesuai dengan kebutuhan pengunjung.

5.6 Restocking

Penangkaran buaya CV Surya Raya belum pernah melakukan restocking

terhadap buaya yang ditangkarkan, padahal restocking merupakan kewajiban bagi penangkar yang melakukan usaha penangkaran satwa yang dilindungi undang-undang. Berdasarkan Permenhut No. P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwaliar Bab X pasal 71 disebutkan bahwa untuk menjaga keseimbangan buaya di alam maka para peternak diwajibkan turut membina populasi buaya di habitat alamnya (restocking) terutama di daerah penangkapan

70

buaya yaitu dengan mengembalikan ± 10 % dari buaya yang akan dipotong setiap tahunnya ke habitat alamnya.

Hasil wawancara dengan pihak penangkaran menyebutkan bahwa belum pernah melakukan restocking dengan alasan masyarakat setempat tidak menyetujui dilakukannya restocking. Masyarakat beranggapan keberadaan buaya di alam menimbulkan keresahan yaitu dapat mengganggu aktifitas masyarakat yang tinggal di pedalaman Sungai Mahakam. Pihak penangkaran seharusnya melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang manfaat dan pentingnya menjaga keberadaan populasi buaya di alam. Salah satu kegiatannya yaitu Penangkaran Inti Rakyat (PIR) yang melibatkan masyarakat di sekitar lokasi sebagai penangkar plasma sehingga dapat memberikan dampak positif meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Selain itu, habitat untuk pelepasliaran buaya harus diperhatikan guna mendukung kelangsungan hidup buaya yaitu dengan memperhatikan keadaan lingkungan alami yang belum tercemar limbah dan kegiatan manusia.

5.7 Analisis Dampak Penangkaran terhadap Lingkungan Sekitar

Dokumen terkait