Minimum
Muhamad Reza Setya Dermawan 1, Abdul Aziz, M.Pd.2
1Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung
2Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung
Pendahuluan
Membaca merupakan kunci untuk mempelajari segala ilmu pengetahuan, termasuk informasi dan petunjuk sehari-hari yang berdampak besar bagi kehidupan. Ketika menerima resep obat, dibutuhkan kemampuan untuk memahami petunjuk pemakaian yang diberikan oleh dokter. Jika salah, tentu akibatnya bisa fatal. Kemampuan membaca yang baik tidak sekadar bisa lancar membaca, tetapi juga bisa memahami isi teks yang dibaca. Teks yang dibaca pun tidak hanya katakata, tetapi juga bisa berupa simbol, angka, atau grafik.
Membaca penuh pemahaman juga akan menumbuhkan empati. Untuk memahami isi bacaan, kita berusaha untuk membayangkan dan memosisikan diri pada situasi seperti yang ada di dalam teks bacaan. Dengan begitu, kita mengasah diri untuk berempati dengan kondisi-kondisi di luar diri yang tidak kita alami. Membaca juga akan mengembangkan minat kita pada hal-hal baru.
Semakin beragam jenis bacaan yang dibaca, memungkinkan kita untuk mengenal sesuatu yang belum pernah kita ketahui. Hal ini tentu akan memperluas pandangan dan membuka lebih banyak pilihan baik dalam hidup.
Berkaitan erat dengan membaca, kemampuan menulis pun penting untuk
ABSTRAK
Untuk menunjang tercapainya tujuan Asesmem Kompetensi Minimum itu sendiri KKN Tematik UPI memiliki program Literasi Baca tulis untuk melatih kemampuan siswa dalam Asesmen Kompetensi Minimum. Beberapa kegiatan pelaksanaan program literasi Baca Tulis untuk menunjang Asesmen Kompetensi Minumin antara lain, pendampingan kegiatan belajar mengajar, pendampingan orang tua dengan memberikan tips untuk meningkatkan minat belajar anak, mengebangkan media pembelajaran dengan menggunakan media video, dan latihan soal untuk pelatihan pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum.
Artikel ini akan membahas pemanfaatan Program Literasi Baca Tulis untuk menunjang kemampuan siswa dalam menghadapi Asesmen Kompetensi Minimum, dengan adanya program ini siswa diharapkan mendapatkan hasil yang maksimal dalam ujian Asesmen Kompetensi Minumum.
Kata Kunci: Program Literasi Baca Tulis, Asesmen Kompetensi Minimum, pendampingan pembelajaran.
dimiliki dan dikembangkan. Membaca dan menulis berkorelasi positif dengan kemampuan berbahasa dan penguasaan kosakata. Masukan kata-kata dan gagasan didapat melalui membaca, sedangkan keluarannya disalurkan melalui tulisan. Seseorang yang terbiasa membaca dan menulis bisa menemukan kata atau istilah yang tepat untuk mengungkapkan suatu hal. Kemampuan seperti inilah yang membuat komunikasi berjalan dengan baik. Untuk dapat menyerap informasi dari bacaan atau meramu ide menjadi tulisan diperlukan fokus yang baik. Dengan begitu, membiasakan diri untuk melakukan aktivitas membaca dan menulis akan meningkatkan daya konsentrasi. Kinerja otak menjadi lebih maksimal. Di samping itu, imajinasi dan kreativitas pun akan tumbuh karena semakin banyak wawasan yang didapat dan semakin tajam cara berpikir yang terbentuk. Membaca dan menulis juga bisa dijadikan sarana hiburan yang dapat menurunkan tingkat stres. Kualitas hidup dapat menjadi lebih baik dengan adanya kemampuan baca-tulis. Tanpa literasi baca-tulis yang baik, kehidupan kita akan terbatas, bahkan berhadapan dengan banyak kendala. Oleh karena itu, literasi baca-tulis perlu dikenalkan, ditanamkan, dan dibiasakan kepada masyarakat Indonesia, khususnya oleh para pemangku pendidikan.
Literasi yang dalam bahasa inggrisnya literacy berasal dari bahasa Latin yaitu litera (huruf) sering diartikan sebagai keaksaraan. Jika dilihat dari makna hurufiah literasi berarti kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis.
Seringkali orang yang bisa membaca dan menulis disebut literat, sedangkan orang yang tidak bisa membaca dan menulis disebut iliterat atau buta aksara.
Kern (2000: 3) menjelaskan literasi sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Selain itu literasi juga memiliki kesamaan arti dengan belajar dan memahami sumber bacaan. Romdhoni (2013: 90) menyatakan bahwa literasi merupakan peristiwa sosial yang melibatkan keterampilan-keterampilan tertentu, yang diperlukan untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi dalam bentuk tulisan. Hal ini sejalan dengan pendapat Kern (2000: 16) yang mendefinisikan : “literasi secara lebih komprehensif sebagai berikut: Literacy is the use of socially, historically, and culturally-situased practices of creating and interpreting meaning through texts. It entails at least a tacit awareness of the relationship beetween textual conventions and their contexts of use and, ideally, the ability to reflect critically on those relationships. Because it is purposesensitive, literacy is dynamic-not static-and variable across and within discourse communities and cultures. It draws on a wide range of cognitive abilities, on knowledge of written an spoken language, on knowledge of genres, and on cultural knowledge. (Literasi adalah penggunaan praktik-praktik situasi sosial, dan historis, dan situasi kebudayaan untuk menciptakan dan menginterpretasikan makna melalui teks. Literasi memerlukan setidaknya sebuah kepekaan yang tak terucap tentang hubungan-hubungan antar konvensi-konvensi tekstual dan konteks penggunaannya serta idealnya kemampuan untuk berefleksi secara kritis tentang hubungan-hubungan itu. Karena peka dengan maksud/tujuan, literasi itu bersifat dinamis-tidak statis- dan dapat bervariasi diantara dan didalam komunitas dan kebudayaan. Literasi memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan,
pengetahuan tentang genre, dan pengetahuan kebudayaan).” Berdasarkan pendapat-pendapat di atas pada dasarnya dapat dijelaskan bahwa literasi merupakan peristiwa sosial yang dilengkapi keterampilan-keterampilan untuk menciptakan dan menginterprestasikan makna melalui teks. Literasi memerlukan serangkaian kemampuan untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi dalam bentuk tulisan. Lalu senada dengan itu Iriantara (2009: 5) menjelaskan bahwa kini literasi bukan hanya berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis teks saja, karena kini “teks” sudah diperluas maknanya sehingga mencakup juga “teks” dalam bentuk visual, audiovisual dan dimensi-dimensi kompiterisasi, sehingga di dalam “teks” tersebut secara bersama-sama muncul unsur-unsur kognitif, afektif, dan intuitif.
Litersi baca tulis bisa disebut sebagai pondasi segala jenis literasi. Literasi baca tulis bahkan disebut sebagai awal mula literasi itu sendiri, meskipun dari waktu ke waktu makna tersebut memiliki perubahan sesuai zaman. Awal mulanya literasi baca tulis sering diartikan tidak buta huruf dan buta atau melek aksara. Kemudian dipahami sabagai pemahaman atas informasi. Tidak jarang literasi baca tulis selama ini identik dengan aktivitas membaca dan menulis, lebih lanjut literasi baca tulis diartikan sebagai kemampuan komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat ataupun literasi baca tulis dianggap kemahiran berwacana. Dalam deklarasi praha pada 2003 mengartikan literasi baca tulis juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi baca-tulis juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya (UNESCO, 2003). Deklarasi UNESCO tersebut juga menyebutkan bahwa literasi baca-tulis terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi bermacam-macam persoalan. Kemampuan-kemampuan tersebut perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi, dan hal tersebut merupakan bagian dari hak dasar manusia yang menyangkut pembelajaran sepanjang hayat.
Sejalan dengan itu, Forum Ekonomi Dunia 2015 dan 2016 mengartikan literasi tulis sebagai pengetahuan tulis, kemampuan memahami baca-tulis, dan kemampuan menggunakan bahasa tulis. Senada dengan itu, dalam Peta Jalan GLN, literasi baca-tulis diartikan sebagai pengetahuan dan kemampuan membaca dan menulis, mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis, serta kemampuan menganalisis, menanggapi, dan menggunakan bahasa. Jadi, literasi baca-tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial. Di tengah banjir bandang informasi melalui pelbagai media, baik media massa cetak, audiovisual, maupun media sosial, kemampuan literasi baca-tulis tersebut sangat penting. Dengan kemampuan literasi baca-tulis yang memadai dan
terombang-ambing oleh berbagai informasi yang beraneka ragam yang datang secara bertubi-tubi kepada kita. Di samping itu, dengan kemampuan literasi baca-tulis yang baik, kita bisa meraih kemajuan dan keberhasilan. Tidak mengherankan, UNESCO menyatakan bahwa kemampuan literasi baca-tulis merupakan titik pusat kemajuan. Vision Paper UNESCO (2004) menegaskan bahwa kemampuan literasi baca-tulis telah menjadi prasyarat partisipasi bagi pelbagai kegiatan sosial, kultural, politis, dan ekonomis pada zaman modern.
Kemudian Global Monitoring Report Education for All (EFA) 2007: Literacy for All menyimpulkan bahwa kemampuan literasi baca-tulis berfungsi sangat mendasar bagi kehidupan modern karena–seperti diungkapkan oleh Koichiro Matsuura, Direktur Umum UNESCO–kemampuan literasi bacatulis adalah langkah pertama yang sangat berarti untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Indonesia sendiri menepati ranking ke 63 dari 70 negara ynag berkaitan dengan tingkat literasi, hal ini berdasarkan survei yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Oraganization for economic co-operatio and Development (OECD). Literasi sendiri adalah kedalaman pengetahuan seseorang terhadap suatu subjek ilmu pengetahuan.
Stigma yang mengakibatkan indonesia menjadi rendah daya saingnya, rendah indeks pembangunan SDM-nya, rendah inovasi dan rendah income perkapitalnya, dikarenakan bangsa Indonesia hanya berkutat pada sisi hilir. Sisi hilir yang dimaksud takni masyarakat yang dihakimi rendah budaya bacanya.
Sebagai solusi yang ditempuh untuk mengurangi rendahnya budaya membaca dengan membiasakan anak usia dini hingga remaja untuk membiasakan membaca buku. Dengan kebiasan tersebut lambat laun membaca menjadi suatu kebiasaan, anak usia dini adalah anak-anak yang berada pada usia yang memiliki tumbuh kembang yang relatif cepat.
Sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan indeks literasi nasional, pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menyelengarakan kegiatan Gerakan Literasi Nasional yang lahir dari sinkronisasi dari program literasi yang sudah berjalan. GLN atau Gerakan Literasi Nasional sendiri bertujuan untuk menyinergikan semua potensi serta memperluas keterlibatan publik dalam pengembangan budaya literasi. Pemerintah melalui Kemendikbud menerapkan kebijakan untuk mengubah Ujian Nasional (UN) dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), penerapan kebijakan ini sebagai perubahan paradigma evaluasi pendidikan dengan tujuan mendorong perbaikan mutu pembelajaran dan hasil belajar siswa, dengan mengukur kemampuan menggunakan bahasa, dan kemampuan bernalar dengan numerasi, kedua aspek tersebut sebagai syarat kontribusi siswa dalam kehidupan masyarakat. Untuk menunjang tercapainya tujuan Asesmem Kompetensi Minimum itu sendiri KKN Tematik UPI memiliki program Literasi Baca tulis untuk melatih kemampuan siswa dalam Asesmen Kompetensi Minimum. Beberapa kegiatan pelaksanaan program literasi Baca Tulis untuk menunjang Asesmen Kompetensi Minumin antara lain, pendampingan kegiatan belajar mengajar, pendampingan orang tua dengan memberikan tips untuk meningkatkan minat belajar anak,
mengebangkan media pembelajaran dengan menggunakan media video, dan latihan soal untuk pelatihan pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum.
Materi dan bahan ajar dikhususkan untuk menunjang kemampuan Asesmen Kompetensi Minimum siswa, sehingga diharapkan siswa mendapatkan hasil optimal dalam pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum. Adapun kegiatan pendampingan siswa dalam melaksanakan simulasi Asesmen Kompetensi Minimum, dalam kegiatan ini siswa dibimbing bagaimana caranya menggunakan komputer, menjawab soal dan prosedur saat mengikuti kegiatan Asesmen Kompetensi Minimum.
Berdasarkan penjelasan diatas maka penulisan artikel ini bertujuan untuk menggali seberapa manfaatnya Kegiatan KKN Tematik Program Literasi Baca Tulis bagi siswa kelas 5 SD untuk pelatihan Asesmen Kompetensi Minimum.
Penulisan artikel ini juga memperkaya kajian tentang Literasi Baca Tulis itu sendiri.
Metode
Arifin (2012) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif kualitatif merupakan proses penelitian yang dilakukan secara wajar dan natural tanpa adanya manipulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendesripsikan menggambarkan, memahami dan menjelaskan fenomena yang unik secara mendalam sehingga terciptalah teori yang dibangun berdasarkan data yang diperoleh ketika penelitian berlangsung. Maka dari itu, metode ini digunakan unutk mendapatkan data-data mengenai apa yang ada di lapangan kemudian ditarik kesimpulan.
Langkah-langkah penelitian ini dimulai dengan observasi yang ada di lapangan, penelitian ini dilakukan di SD Negeri Cisalak 1 dengan melakukan wawancara kepada siswa dan orang tua siswa kelas 5 SD Cisalak 1. Kemudian penelitian dilanjutkan dengan mengikuti proses simulasi pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum.
Wawancara dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai respon pelatihan Asesmen Kompetensi Minimum yang dilaksanakan dalam jangka waktu 3 minggu, dari hasil wawancara tersebut menghasilkan kesimpulan yang diambil dari jawaban-jawaban siswa dan orang tua siswa mengenai Pemanfaatan Program Literasi Baca Tulis bagi Siswa Kelas 5 SD untuk Pelatihan Asesment Kompetensi Minimum.
Hasil dan Pembahasan
Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitras diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat. erdapat dua kompetensi mendasar yang diukur AKM: literasi membaca dan literasi matematika (numerasi). Baik pada literasi membaca dan numerasi, kompetensi yang dinilai mencakup keterampilan berpikir logis-sistematis, keterampilan bernalar menggunakan konsep serta pengetahuan yang telah dipelajari, serta keterampilan memilah serta mengolah informasi. AKM menyajikan
masalah-murid menggunakan kompetensi literasi membaca dan numerasi yang dimilikinya. AKM dimaksudkan untuk mengukur kompetensi secara mendalam, tidak sekedar penguasaan konten. Literasi membaca didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga indonesia dan warga dunia dan untuk dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat.
Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas bahwa SD Negeri Cisalak 1 khusunya siswa kelas 5 akan mengikuti pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum, sebagai penggati Ujian Nasional (UN). Asesmen Kompetensi Minimum itu sendiri terdapat tiga level dengan tingkat kesulitan yang berbeda, maka persiapan yang akan dilakukan oleh pihak SD Negeri Cisalak 1 adalah mengikuti simulasi pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum, dan mengikuti latihan soal dengan panduan kisi-kisi yang telah diberikan. Dalam program Literasi Baca Tulis penulis berdiskusi dengan guru kelas 5, bu Ariani mengenai materi dan kisi-kisi yang akan dipelajari oleh siswa.
Dalam pelaksanaan Program Kegiatan Baca Tulis dilakukan dengan pembelajaran luring maupun daring, SD Negeri Cisalak 1 sendiri sudah melakukan pembelajaran secara luring secara bergantian. Kelas 5 sendiri mendapatkan jadwal pembelajaran luring pada minggu ke-2 dalam pelaksanaan program KKN. Minggu pertama pelatihan Asesmen Kompetensi Minimum dilakukan secara daring melalui Whatsapp Group, siswa dan orang tua siswa kelas 5 dibuatkan Grup khusus untuk membahas Asesmen Kompetensi Minimum. Pelatihan dimulai dengan memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan Asesmen Kompetensi, kisi-kisi soal Asesmen Kompetensi Minimum dan pemberian materi untuk orang tua siswa mengenai pendampingan pembelajaran untuk siswa. Untuk minggu ke-2 pembelajaran dilaksanakan secara luring, pelatihan asesmen dilakukan dengan pemberian latihan soal secara bertahap dan pembahasan kisi-kisi soal Asesmen Kompetensi Minimum. Siswa menggunakan komputer untuk melaksanakan latihan soal, hal ini untuk membiasakan siswa menggunakan komputer dikarenakan pelaksanakan Asesmen Kompetensi Minimum berbasis CBT. Berikutnya didapatkan hasil dari beberapa latihan soal yang telah diberikan;
Gambar 1. Hasil latihan Asesmen Kompetensi Minimum
Dengan hasil tersebut selanjutnya dilakukan wawancara dengan siswa mengenai pelaksanaan latihan Asesmen Kompetensi Minimum. Menurut hasil wawancara dalam pelaksanaan latihan, siswa memberikan kesan positif karena soal-soal yang diberikan sesuai dengan kisi-sisi, adapun siswa mudah memahami sehingga mendapatkan nilai yang memuaskan. Langkah berikutnya Program Literasi Baca tulis dilanjutkan dengan pendampingan siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, siswa diberikan materi dan juga bahan bacaan untuk membiasakan siswa membaca buku.
Pada Minggu ke-3 dilaksanakan kegiatan simulasi pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum, kegiatan dilaksanakan dengan didampingi guru siswa kelas 5 berserta kepala sekolah. Pelaksanaan dilaksanakan pada pukul 11.00-12.00, siswa diberikan arahan mengenai proses pelaksanaan simulasi. Setelah menyelesaikan simulasi didapati hasil memuaskan, siswa dapat menjalani simulasi tanpa hambatan dan hasil yang memuaskan. Setelah pelaksanaan simulasi, dilakukan wawancara dengan orantua siswa mengenai program Literasi Baca Tulis. Sebagian besar orangtua memberikan apresiasi karena program ini dapat menunjang pelatihan Asesmen Kompetensi Minimum, selain itu dengan adanya program Literasi Baca Tulis dapat memberikan dampak bagi siswa itu sendiri, karena dapat membiasakan siswa untuk membaca yang dapat memberikan dampak positif untuk kedepannya.
Gambar 2. Pelaksanaan Simulasi
Hasil dari wawancara diserahkan kepada guru siswa kelas 5, bu Ariani.
Dari hasil wawancara tersebut penulis menemukan beberapa dampak positif dari kegiatan Literasi Baca Tulis untuk menunjang pelatihan Asesmen Kompetensi Minimum. Dengan pelaksanaan kegiatan Literasi Baca Tulis siswa mendapatkan materi pembelajaran untuk menunjang AKM, siswapun dapat melaksanakan latihan soal untuk melatih kemampuan siswa agar mendapatkan hasil yang maksimal, siswa dapat menjalani simulasi secara lancar tanpa hambatan dan mendapat hasil yang maksimal, orang tua siswa dapat mendampingi pembelajaran di rumah dengan menggunakan kisi-kisi yang telah diberikan dan orang tua dapat melatih kemampuan literasi siswa dengan membiasakan siswa untuk membaca buku. Dari pelaksanaan kegiatan Programn Literasi Baca tulis diharapkan memberikan dampak yang berkelanjutan setelah pelaksanaan ujian Asesmen Kompetensi Minimum, dengan harapan siswa mempunyai kebiasan membaca secara berkelanjutan.
Simpulan
Pelaksanaan program Literasi Baca Tulis ini selain untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa, juga untuk melatih kemampuan siswa dalam mengerjakan Asesmen Kompetensi Minimum. Program ini melibatkan siswa dan orangtua siswa kelas 5 SD Negeri Cisalak 1 berserta guru dan staff sekolah lainnya. Pelaksanaan dilakukan secara daring dan luring, dikarenakan SD Negeri Cisalak 1 telah melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka namun bergantian dengan tingkat yang lainnya. Untuk pelaksanaan pelatihan Asesmen Kompetensi Minimum diawali dengan pemberian kisi-kisi soal AKM, pemberian materi dan bahan ajar yang menunjang kegiatan program literasi baca tulis, pendampingan bagi orang tua siswa untuk pembelajaran di rumah, melakukan latihan soal AKM dan menjalankan simulasi pelaksanaan ujian Asesmen Kompetensi Minimum. Siswa dan orang tua siswa mendapati dampak
positif dari pelaksanaan kegiatan literasi baca tulis, khususnya dalam pelatihan Asesmen Kompetensi Minimum. Siswa dan orang tua memberikan apresiasi dalam kegaitan literasi baca tulis.
Ucapan Terima Kasih
Alhamdulilah, atas rahmat serta karunia allah SWT. Penulis dapat menyelesaikan artikel penelitian ini, tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada DPL pak Abdul Aziz, M. Pd, karena telah membimbing penulis dalam pelaksanaan KKN Tematik, penulis juga berterimakasih kepada pihak SD Negeri Cisalak 1, bu Ariani, bu Pipih dan Pak Deden karena telah membantu penulis program KKN Tematik literasi. Tak lupa juga terima kasih kepada siswa dan orang tua siswa yang telah mengizinkan untuk mendapampingi dan melaksanakan wawacara untuk penulisan artikel.
Semoga kebaikan-kebaikan yang diberikan kepada penulis menjadi pahala dan diberikan balasan yang setimpal oleh Allah SWT.
Referensi
Andiani, D., Hajizah, M. N., & Dahlan, J. A. (2021). Analisis Rancangan Assesmen Kompetensi Minimum (AKM) Numerasi Program Merdeka Belajar. MAJAMATH:
Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, 4(1), 80-90.
Arifin, Z. (2012). Penelitian pendidikan metode dan paradigma baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Arisma, O. A. (2012). Peningkatan Minat dan Kemampuan Membaca melalui Penerapan Program Jam Baca Sekolah di Kelas VII SMP Negeri 01 Puri. SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia-Fakultas Sastra UM.
Cahyanovianty, A. D., & Wahidin, W. (2021). Analisis Kemampan Numerasi Peserta Didik Kelas VIII dalam Menyelesaikan Soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 5(2), 1439-1448.
Harfiyani, A. (2018). Penguatan pendidikan karakter melalui budaya literasi dalam konteks pembelajaran abad 21 di Sekolah Dasar. In PROSIDING SEMINAR DAN DISKUSI PENDIDIKAN DASAR.
Hidayatulloh, M. K. Y., Susila, I. W., & Rijanto, T. (2020). 2013 Curriculum: Assessment of Minimum Competencies in Freedom Learning and education 4.0 Context. International Journal for Educational and Vocational Studies, 2(7).
Irhandayaningsih, A. (2019). Menanamkan Budaya Membaca pada Anak Usia Dini. Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi, 3(2), 109-118.
Pratiwi, T. A. (2016). Hubungan Minat Baca Dengan Hasil Belajar Siswa Kelas V SD (Doctoral dissertation, Universitas Negeri Semarang).
Romdhoni, A. (2013). Al Quran dan Literasi. Linus.
Sari, A., Daulay, S., Putri, Y. Y., & Epriani, P. (2021). Penghapusan Ujian Nasional Tahun 2021 Dalam Perspektif Guru SMA Di Kota Tebing Tinggi. In Prosiding Seminar Nasional Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (SemNas PBSI)-3 (pp. 213-220). FBS Sari, D. R., Lukman, E. N. A., & Muharram, M. R. W. (2021). Analisis Kemampuan Siswa
dalam Menyelesaikan Soal Geometri pada Asesmen Kompetensi Minimum-Numerasi Sekolah Dasar. FONDATIA, 5(2), 153-162.
Sari, N. A. M. Y. (2018). Hubungan Antara Kemampuan Literasi dengan Kompetensi Inti Pengetahuan Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SD Gugus Letkol Wisnu Denpasar Utara Tahun Pelajaran 2017/2018. Indonesian Journal Of Educational Research and
Sari, P. A. P. (2020). Hubungan Literasi Baca Tulis Dan Minat Membaca Dengan Hasil Belajar Bahasa Indonesia. Journal for Lesson and Learning Studies, 3(1), 141-152.
Tju, M., & Murniarti, E. (2021). ANALISIS PELATIHAN ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM. Jurnal Dinamika Pendidikan, 14(2), 110-116.Unimed Press.
Wulandari, F. A. (2020). Relevance Of National Literacy Movement, School Literacy Movement With Strengthening Character Education On MI Subject Matter (Study of MOEC Regulation Number 23 Year 2015 With Presidential Regulation No. 87 of 2017). AIUA Journal of Islamic Education, 2(1), 93-104.