HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Pemanfaatan Sumberdaya Hutan .1 Getah Karet .1 Getah Karet
Getah karet merupakan salah satu sumberdaya hutan yang paling banyak dimanfaatakan oleh masyarakat Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga. Masyarakat dari kedua Dusun tersebut memanfaatkan getah karet dari hasil budidaya tanaman karet. Jarak tanam yang digunakan untuk budidaya karet di Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga adalah 4 x 6 m2.
Kegiatan masyarakat di Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga dalam melakukan budidaya getah karet adalah sama, yaitu dengan mengambil anakan karet di dalam hutan atau membeli anakan karet dengan harga antara Rp 200 sampai dengan Rp 1.000/bibit untuk ditanam di kebun mereka. Pada umumnya masyarakat dari Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga memanfaatkan getah karet untuk dijual. Harga getah karet di Dusun Nusa Bakti berkisar antara Rp 13.000 - Rp 14.000/kg. Sedangkan harga getah karet di Dusun Natai Bunga berkisar antara Rp 13.000 - Rp 16.000/kg . Harga getah karet di Dusun Natai Bunga relatif lebih tinggi dibandingakan di Dusun Nusa Bakti. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti alur pemasaran di Dusun Natai Bunga yang efisien dan kualitas getah karet yang lebih baik di bandingkan di dusun Nusa Bakti.
Biaya awal yang dibutuhkan untuk memproduksi getah karet oleh masyarakat di dusun Natai Bunga adalah parang dengan harga Rp 50.000, sepatu Rp 100.000, pisau Rp 5.000-Rp 45.000, cuka Rp 12.000, pecungkil Rp 5.000, dan alat pembasmi rumput Rp 91.000/liter. Selain itu, biaya makanan dan minuman yang dibutuhkan untuk pengambilan getah karet ke lokasi adalah Rp 10.000/orang/ambil.
Sedangkan, biaya awal yang yang dibutuhkan untuk memproduksi getah karet oleh masyarakat di dusun Nusa Bakti adalah parang dengan harga Rp 70.000, sepatu Rp 100.000, pisau Rp 15.000-Rp 40.000, kapak Rp 45.000-Rp 60.000, pengait Rp 15.000, dan bahan pembasmi rumput Rp 55.000- Rp 70.000/liter. Biaya makan yang dibutuhkan untuk mengambil getah karet adalah Rp 10.000/orang/ambil.
Alur pemasaran suatu produk merupakan kunci untuk mencapai kepuasan baik di tingkat penjual maupun di tingkat pembeli. Apabila kepuasan di tingkat
penjual dan pembeli terjadi, hal ini berarti keuntungan yang diharapkan oleh penjual dan pembeli adalah maksimal. Alur pemasaran getah karet di Dusun Nusa Bakti dibagi menjadi dua bagian seperti terlihat di Gambar 5 sebagai berikut.
Gambar 5 Alur pemasaran getah karet di Dusun Nusa Bakti.
Alur pemasaran getah karet di Dusun Nusa Bakti bertujuan untuk memasok kebutuhan bahan baku di pabrik pengolahan getah karet Kabupaten Sintang ataupun Provinsi Kalimantan Barat.
Alur pemasaran getah karet yang pertama melalui empat lembaga pemasaran (petani-pengumpul Serawai-pengumpul Nanga Pinoh-pabrik Pontianak), sedangkan yang kedua melalui tiga lembaga pemasaran (petani-pengumupul Serawai-Pabrik Sintang). Dari hal tersebut, dapat dilihat bahwa alur pemasaran yang kedua lebih efisien dibandingkan alur pemasaran yang pertama.
Selain itu harga yang diperoleh petani untuk saluran pemasaran kedua lebih besar yaitu Rp 14.000 dibandingkan Rp 13.000 pada saluran pemasaran yang pertama.
Alur pemasaran getah karet di Dusun Natai Bunga bertujuan untuk memasok kebutuhan bahan baku di pabrik pengolahan getah karet di Pontianak.
Dari sisi potensi pasar, usaha getah karet di Dusun Nusa Bakti cukup baik untuk dikembangkan. Hal ini dikarenakan masyarakat di Dusun tersebut sudah mempunyai pasar untuk menjual hasil getah karet mereka. Masyarakat di Dusun Nusa Bakti cukup puas dengan harga jual getah karet yang berkisar antara Rp 13.000 - Rp 14.000/kg. Alur pemasaran di Dusun Natai Bunga terdiri dari tiga saluran dan dapat dilihat pada Gambar 6.
Petani Pengumpul Serawai
Pengumpul Nanga Pinoh
1. Pabrik Pontianak
2. Pabrik Sintang
Gambar 6 Alur pemasaran getah karet di Dusun Natai Bunga.
Seperti terlihat pada gambar di atas, alur pemasaran getah karet di Dusun Natai Bunga terdiri dari tiga saluran pemasaran. Alur pemasaran pertama terdiri dari lima lembaga pemasaran (petani-pengumpul Natai Bunga-pengumpul Menukung-pengumpul Nanga Pinoh-pabrik Pontianak) dengan harga getah karet di tingkat petani adalah Rp 13.000/kg. Alur pemasaran kedua terdiri dari empat lembaga pemasaran (petani-pengumpul Menukung-pengumpul Nanga Pinoh-pabrik Pontianak) dengan harga getah karet di tingkat petani adalah Rp 14.000/kg.
Alur pemasaran getah karet ketiga terdiri dari empat lembaga pemasaran (petani-pengumpul Sei Sampuk-(petani-pengumpul Nanga Pinoh-pabrik Pontianak) dengan harga getah karet di tingkat petani Rp 15.000/Kg. Alur pemasaran kedua merupakan saluran yang memberikan keuntungan tertinggi bagi petani getah karet di Dusun Natai Bunga.
Ada beberapa perbedaan antara sistem pemasaran di Dusun Nusa Bakti dengan Dusun Natai Bunga, seperti :
1. Alur pemasaran getah karet di Dusun Nusa Bakti lebih pendek dibandingkan di Dusun Natai Bunga.
2. Saluran pemasaran di Dusun Nusa Bakti ada dua sedangkan saluran pemasaran di Dusun Natai Bunga ada tiga.
3. Harga getah karet per kilogram di Dusun Natai Bunga lebih tinggi dibandingkan di Dusun Nusa Bakti.
Alur pemasaran getah karet yang lebih pendek di Dusun Nusa Bakti dapat mengakibatkan pemasaran berjalan dengan efektif dan efisien karena tidak banyak lembaga pemasaran yang terlibat. Hal ini dapat membuat harga di tingkat
dibandingkan di Dusun Natai Bunga, sehingga konsumen yang alur pemasaran getah karetnya dari dusun Nusa Bakti akan lebih puas.
Saluran pemasaran di Dusun Nusa Bakti yang lebih sedikit dibandingkan di Dusun Natai Bunga akan mengakibatkan lebih sedikitnya pula pilihan petani di Dusun Nusa Bakti untuk memilih saluran pemasaran yang paling menguntungkan mereka dibandingkan dengan petani di dusun Natai Bunga. Hal ini dapat mengakibatkan kepuasan yang diperoleh oleh petani di dusun Natai Bunga seharusnya lebih tinggi dibandingkan dengan petani di Dusun Nusa Bakti.
Menurut hasil penelitian Sudibjo (1999) Kenaikan harga karet di tingkat petani di Desa Sepunggur menurut data dari KUD Usaha Karya terjadi pada pertengahan tahun 1998 hingga mencapai rata-rata Rp 2.600 sampai dengan Rp 2.700/kg dari rata-rata Rp 1.400- Rp 1.500/kg di awal tahun 1998. Pada bulan Februari-Maret 1999, harga karet di tingkat petani di Desa Sepunggur kembali merosot hingga Rp 1.600 sampai dengan Rp 1.700/kg. Harga karet tersebut akan berbeda-beda antar desa/kecamatan tergantung dari tengkulak dan jarak desa ke tempat tengkulak-tengkulak tersebut.
Di bawah ini akan disajikan Gambar 7 yang berupa pemasaran getah karet di Desa Sepunggur menurut hasil penelitian Sudibjo (1999).
Gambar 7 Alur pemasaran getah karet di Desa Sepunggur.
Harga getah karet per kilogram di Dusun Natai Bunga yang lebih tinggi dibandingkan di Dusun Nusa Bakti dapat mengakibatkan kepuasan yang lebih tinggi pula bagi petani di Dusun Natai Bunga dibandingkan di Dusun Nusa Bakti.
5.2.2 Tengkawang
Biji tengkawang merupakan hasil hutan yang berbuah setiap 5 tahun sekali.
Biji tengkawang dihasilkan dari pohon meranti yang umumnya mempunyai
Petani Karet
KUD Tengkulak Desa
Tengkulak Kecamatan/Desa
Pabrik
banyak cabang dan berdaun lebat. Masyarakat Dusun Natai Bunga dan Nusa Bakti biasa menyebut pohon penghasil biji tengkawang dengan pohon tengkawang.
Masyarakat di Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga memanfaatkan biji tengkawang untuk dijual ataupun dikonsumsi.
Biji tengkawang yang masyarakat peroleh berasal dari pohon meranti yang turun temurun bijinya dimanfaatkan oleh masyarakat di Dusun Nusa bakti dan Natai Bunga. Pemanfaatan biji tengkawang di kedua dusun tersebut didasarkan pada sistem kekeluargaan, yaitu setiap orang boleh mengambil biji tengkawang di area milik orang lain dengan izin dari pemiliknya. Sedangkan, pohon tengkawang yang tumbuh alami di hutan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara bersama-sama.
Masyarakat Dusun Nusa Bakti memanfaatakan biji tengkawang terakhir pada tahun 2009. Biaya yang dibutuhkan setiap orang adalah Rp 33.000/ambil meliputi makan, minum dan rokok. Biaya yang dibutuhkan setiap orang di Dusun Natai Bunga untuk memanfaatkan biji tengkawang adalah Rp 22.000 meliputi makan, minum dan rokok.
Biji tengkawang yang dijual oleh masyarakat di Dusun Nusa Bakti dijual dengan harga Rp 3.000 - Rp 4.000/ kg. Biji tengkawang tersebut diolah dengan cara dibuang bagian kepala biji tengkawang, setelah itu biji-biji tersebut ditaruh di keranjang dan ditutup. Selanjutnya biji tengkawang tersebut dipanggang di atas bara kayu sampai kering selama dua hari. Setelah biji tengkawang itu kering, selanjutnya biji tersebut dibuang kulitnya dan siap untuk dijual.
Masyarakat Dusun Natai Bunga menjual biji tengkawang yang telah mereka olah dengan harga Rp 3.000 - Rp 5.000/kg. Cara pengolahan biji tengkawang pada masyarakat Dusun Natai Bunga sama dengan masyarakat di Dusun Nusa Bakti.
Harga per kilogram biji tengkawang yang telah diolah oleh masyarakat Dusun Nusa Bakti dijual dengan harga yang lebih mahal daripada yang dijual oleh masyarakat di Dusun Natai Bunga. Perbedaan harga tersebut diakibatkan karena perbedaan alur pemasaran diantara kedua dusun tersebut. Hal ini mengakibatkan keuntungan yang lebih besar terhadap penjual tengkawang di Dusun Nusa Bakti dibandingkan di Dusun Natai Bunga.
Terdapat dua alur pemasaran biji tengkawang di Dusun Nusa Bakti yang masing-masing bertujuan untuk memasok kebutuhan bahan baku pada pabrik di Pontianak dan luar negeri seperti Malaysia. Alur pemasaran biji tengkawang di Dusun Nusa Bakti dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8 Alur pemasaran biji tengkawang di Dusun Nusa Bakti.
Alur pemasaran pertama di Dusun Nusa Bakti terdiri dari empat lembaga pemasaran (petani-pengumpul Serawai-pengumpul Nanga Pinoh-pabrik Malaysia). Selain itu, saluran pemasaran kedua terdiri dari empat lembaga pemasaran sebelum sampai ke konsumen (petani-pengumpul Serawai-pengumpul Nangan Pinoh-pabrik Pontianak).
Alur pemasaran biji tengkawang pada saluran pertama bertujuan untuk memasok kebutuhan pabrik di luar negeri. Hal ini dapat diakibatkan oleh kualitas biji tengkawang yang lebih baik untuk kualitas ekspor sehingga harga per kilogram biji tengkawang akan lebih mahal.
Menurut hasil wawancara, biji tengkawang yang mereka jual tersebut nantinya akan diolah untuk keperluan membuat bahan farmasi, kosmetik, dan minyak tengkawang.
Masyarakat Dusun Natai Bunga mempunyai tiga alur pemasaran biji tengkawang yang bertujuan untuk memasok kebutuhan biji tengkawang untuk pabrik di pontianak. Alur pemasaran biji tengkawang tersebut dapat dilihat pada Gambar 9.
Petani Pengumpul
Serawai
Pengumpul Nanga Pinoh
1.Pabrik Malaysia
2. Pabrik Pontianak
Gambar 9 Alur pemasaran biji tengkawang di Dusun Natai Bunga.
Alur pemasaran biji tengkawang pertama (petani-pengumpul di Desa-pengumpul di Serawai-pabrik Pontianak) hampir sama dengan alur pemasaran kedua (petani-pengumpul di Desa-pengumpul di Menukung-pabrik Pontianak).
Perbedaan dari kedua alur pemasaran tersebut terletak di lembaga pemasaran tingkat tiga dari setiap saluran pemasaran. Pada alur pemasaran pertama, lembaga pemasaran tingkat dua (pengumpul di Desa) selanjutnya menjual biji tengkawang ke Kecamatan Serawai. Sedangkan, pada alur pemasaran kedua, lembaga pemasaran tingkat dua (pengumpul di Desa) selanjutnya menjual biji tengkawang ke Kecamatan Menukung dan untuk selanjutnya dijual ke pabrik di Pontianak.
Perbedaan saluran pemasaran di lembaga tingkat tiga pada alur pemasaran pertama dan kedua dapat disebabkan karena pertimbangan jarak yang lebih menguntungkan bagi mereka. Selain itu, hal tersebut juga dapat disebabkan oleh perhitungan peluang keuntungan apabila dijual di Kecamatan Serawai ataupun di Kecamatan Menukung.
Perbedaan juga terjadi pada alur pemasaran satu dan dua dengan alur pemasaran tiga. Hal ini dapat dilihat di lembaga tingkat dua dari masing-masing saluran pemasaran. Pada lembaga pemasaran tingkat dua di alur pemasaran satu dan dua, petani menjual biji tengkawang ke pengumpul tingkat desa. Sedangkan, pada lembaga tingkat dua di alur pemasaran ketiga, petani menjual biji tengkawang ke pengumpul tingkat Kecamatan.
Orang-orang yang berada pada alur pemasaran ketiga bertujuan untuk mendapat keuntungan yang lebih banyak karena dapat menjual biji tengkawang
Petani Pengumpul di
langsung ke tingkat kecamatan daripada orang-orang yang berada pada alur pemasaran satu dan dua yang menjual biji tengkawang ke tingkat desa. Tujuan tersebut dapat dilihat dari harga biji tengkawang pada alur pemasaran satu dan dua adalah Rp 3.000/kg - Rp 4.000/kg. Sedangkan, harga biji tengkawang pada alur pemasaran ketiga adalah Rp 5.000/kg. Pohon tengkawang di wilayah hutan CV.
Pangkar Begili termasuk ke dalam jenis kayu yang dilindungi. Masyarakat Dusun Nusa Bakti atapun Natai Bunga sangat menjaga kelestarian pohon tengkawang karena mereka ingin bahwa manfaat yang diperoleh dari pohon tengkawang saat ini dapat juga dimanfaatkan oleh generasi-generasi selanjutnya.
5.2.3 Rotan
Rotan merupakan sumberdaya hutan yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga. Masyarakat di Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga memanfaatkan rotan biasanya hanya sekali setahun untuk dibuat tengkalang, menakin, dan bakul.
Tengkalang adalah alat yang digunakan untuk mengangkut barang bawaan yang digendong di belakang pundak. Bakul adalah alat yang digunakan untuk menyuci beras oleh masyarakat. Masyarakat Dusun Nusa Bakti kadang menjual hasil olahan rotan yang berupa tengkalang tersebut seharga Rp 10.000/tengkalang.
Karena tidak ada kegunaan yang sangat mendesak bagi masyarakat dalam memanfaatkaan rotan selain untuk tengkalang, menakin, dan bakul serta tidak adanya pasar sehingga mereka jarang memanfaatkannya.
Biaya pengambilan rotan ke lokasi bagi masyarakat Dusun Nusa Bakti adalah Rp 10.000/orang/ambil. Biaya ini merupakan biaya makan untuk satu orang yang terdiri dari nasi, lauk pauk, dan air. Biaya pengambilan rotan ke lokasi bagi masyarakat Dusun Natai Bunga adalah Rp 10.000/orang/ambil. Biaya ini merupakan biaya makan untuk satu orang yang terdiri dari makan dan minum
Lokasi pengambilan rotan pada masyarakat Dusun Nusa Bakti terletak pada wilayah konsesi CV. Pangkar Begili tepatnya di km 4, 5, 6, 7, 9, 10, dan 13.
Waktu yang digunakan masyarakat Dusun Nusa Bakti dalam mengambil rotan adalah berkisar antara pagi sampai dengan sore. Lokasi pengambilan rotan pada masyarakat Dusun Natai Bunga adalah di hutan, Bukit Alat, Bukit Punggur, Bukit Bunyau, dan Sungai Keruap di km 6. Sedangkan waktu yang digunakan
masyarakat Dusun Natai Bunga untuk mengambil rotan adalah dari pagi sampai dengan sore.
5.2.4 Kayu Bakar
Kayu bakar merupakan sumberdaya hutan yang sering digunakan oleh masyarakat di Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga. Kayu yang biasa digunakan oleh kedua masyarakat Dusun tersebut adalah kayu-kayu yang sudah mati.
Masyarakat di Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga biasa menggunakan kayu bakar tersebut untuk memasak.
Kayu bakar jarang diperjualbelikan oleh masyarakat di Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga. Masyarakat di Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga akan menjual kayu bakar jika ada yang memesan dengan harga Rp 5.000/ikat.
Biaya pengambilan kayu bakar ke lokasi oleh masyarakat di Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga adalah Rp 10.000/orang. Biaya tersebut adalah biaya makan dan minum selama ke lokasi.
Lokasi pengambilan kayu bakar oleh masyarakat di Dusun Nusa Bakti adalah di km 1, 2 dan 3 di wilayah pengelolaan CV. Pangkar Begili. Selain itu, masyarakat juga biasa memperoleh kayu bakar di bekas ladang, kebun karet, ataupun pinggir Sungai Melawi. Sedangkan, lokasi pengambilan kayu bakar oleh masyarakat di Dusun Natai Bunga adalah di Bukit Bunyau, Bukit Alat, Bukit Punggur, Sungai Keruap dan hutan.
Waktu pengambilan kayu bakar oleh masyarakat Dusun Nusa Bakti adalah pukul 07.00 – 18.00 WIB. Sedangkan, waktu yang digunakan oleh masyarakat di Dusun Natai Bunga adalah pukul 06.00 – 19.00 WIB. Waktu yang digunakan oleh masyarakat Dusun Natai Bunga lebih lama dibandingkan dengan masyarkat Dusun Nusa Bakti. Hal ini dapat disebabkan oleh loksai pengambilan kayu bakar oleh Masyarakat di Dusun Natai Bunga lebih jauh dari lokasi pengambilan masyarakat di Dusun Nusa Bakti.
5.2.5 Damar
Getah damar merupakan salah satu sumberdaya hutan yang jarang dimanfaatkan oleh masyarakat Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga. Pada masyarakat di Dusun Nusa Bakti, mereka memanfaatkan getah damar untuk
menambal perahu. Sedangkan pada masyarakat di Dusun Natai Bunga, getah damar digunakan untuk menambal perahu dan dijual. Masyarakat Dusun Natai Bunga dapat menjual getah damar yang mereka manfaatkan disebabkan karena adanya pasar yang menampung hasil getah mereka. Biaya pengambilan getah damar oleh masyarakat di Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga adalah Rp 10.000/orang. Biaya tersebut adalah biaya makan dan minum di lokasi pengambialn getah damar. Di bawah ini adalah gambar alur pemasaran getah damar di Dusun Natai Bunga.
Gambar 10 Alur pemasaran getah damar di Dusun natai Bunga.
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa alur pemasaran getah damar di Dusun Natai Bunga mempunyai empat lembaga pemasaran. Getah damar yang sampai ke konsumen menurut produsen digunakan untuk menambal perahu mereka yang bocor. Karena jarangnya permintaan pasar terhadap getah damar di Dusun Natai Bunga maka usaha getah damar kurang berkembang.
Pemanfaatan getah damar oleh responden di Dusun Nusa Bakti biasanya setiap setahun sekali yang digunakan untuk keperluan menambal perahu yang bocor. Waktu yang digunakan responden untuk mengambil getah damar adalah pagi dan siang. Lokasi tempat pengambilan getah damar yang dilakukan oleh responden di Dusun Nusa Bakti adalah di km 5 dan 6 dalam wilayah pengusahaan hutan CV. Pangkar Begili. Sedangkan, pemanfaatan getah damar oleh responden di Dusun Natai Bunga dilakukan setiap seminggu sekali yang digunakan untuk keperluan penjualan dan penambalan perahu. Lokasi responden Dusun Natai Bunga untuk mengambil getah damar adalah di daerah Bukit Bunyau. Waktu yang digunakan responden untuk mengambil getah damar adalah pagi, siang, dan sore.
Frekuensi pengambilan getah damar yang dilakukan oleh responden di Dusun Natai Bunga lebih tinggi dibandingkan dengan responden di Dusun Nusa bakti. Hal ini disebabkan karena responden di Dusun Natai Bunga selain memanfaatkan getah damar untuk dikonsumsi juga dimanfaatkan untuk aktivitas
Produsen Pengumpul
Menukung
Pengumpul
Pinoh Konsumen
jual beli sedangkan responden di Dusun Nusa Bakti memanfaatkan getah damar hanya untuk dikonsumsi.
5.2.6 Bambu
Bambu merupakan salah satu sumberdaya hutan yang jarang digunakan oleh masyarakat Dusun Nusa Bakti. Dari 30 responden yang diwawancarai, hanya dua orang yang memanfaatkan bambu. Bambu dimanfaatkan untuk bahan membangun pondok di ladang. Sedangkan, dari 30 responden di Dusun Natai Bunga hanya tiga orang yang memanfaatkan bambu. Fungsi dari bambu di Dusun Natai Bunga sama dengan fungsi bambu di Dusun Nusa Bakti.
Masyarakat di Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga tidak membutuhkan biaya untuk memanfaatkan bambu karena mereka tidak membawa bekal ke lokasi.
Lokasi yang digunakan oleh responden di Dusun Nusa Bakti untuk memperoleh bambu adalah di km 1 dan 2 dalam wilayah pengusahaan hutan CV. Pangkar Begili. Sedangkan, waktu yang digunakan oleh responden di Dusun Nusa Bakti untuk mengambil bambu adalah pagi. Lokasi yang digunakan oleh responden di Dusun Natai Bunga untuk memperoleh bambu adalah di wilayah pengelolaan hutan CV. Pangkar Begili. Sedangkan, waktu yang digunakan responden di Dusun Natai Bunga untuk mengambil bambu adalah pagi.
Waktu yang digunakan oleh responden di Dusun Nusa Bakti dan Natai Bunga adalah pagi. Hal ini dilakukan karena lokasi adanya bambu cukup sulit untuk ditemukan, sehingga mereka berangkat lebih awal agar dapat memperoleh bambu yang mereka butuhkan.
5.2.7 Ginseng
Ginseng merupakan salah satu sumberdaya hutan yang dimanfaatkan oleh responden di Dusun Nusa Bakti. Jumlah pemanfaat ginseng dari 30 responden di Dusun Nusa Bakti adalah lima orang. Sedangkan, pemanfaat ginseng di Dusun Natai Bunga tidak ada. Ginseng dimanfaatkan oleh responden di Dusun Nusa Bakti untuk penambah stamina.
Biaya pengambilan ginseng ke lokasi yang dibutuhkan oleh responden di Dusun Nusa Bakti adalah Rp 5.000/orang/ambil. Biaya tersebut terdiri dari makan dan minum.
Lokasi pengambilan ginseng oleh responden di Dusun Nusa Bakti adalah di km 3, 5, dan 10 di wilayah pengusahaan hutan CV. Pangkar Begili. Sedangkan waktu yang digunakan responden untuk mengambil ginseng adalah dari pagi hingga sore.
5.2.8 Pasak Bumi
Pasak bumi adalah salah satu sumberdaya hutan yang dimanfaatakan oleh masyarakat di Dusun Nusa Bakti tetapi tidak dimanfaatakan oleh masyarakat di Dusun Natai Bunga. Masyarakat di Dusun Natai Bunga tidak memanfaatkan pasak bumi karena mereka biasanya membelinya jika membutuhkan. Responden di Dusun Nusa Bakti memanfaatkan pasak bumi untuk meningkatkan stamina tubuh.
Biaya pengambilan pasak bumi ke lokasi adalah 5.000/orang/ambil. Lokasi tempat pengambilan pasak bumi oleh responden di Dusun Nusa Bakti adalah di km 3, 5 dan 10 di wilayah pengusahaan hutan CV. Pangkar Begili. Waktu yang digunakan responden untuk mengambil pasak bumi adalah pagi sampai dengan sore.
Biaya pengambilan pasak bumi ke lokasi adalah 5.000/orang/ambil. Lokasi tempat pengambilan pasak bumi oleh responden di Dusun Nusa Bakti adalah di km 3, 5 dan 10 di wilayah pengusahaan hutan CV. Pangkar Begili. Waktu yang digunakan responden untuk mengambil pasak bumi adalah pagi sampai dengan sore.