• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ZONA AMAN TEATER SERIBOE DJENDELA 2008-2017

4.2 Pemantapan

Setelah banyak perubahan pada 2007 akhir, beberapa hambatan dan masalah pertumbuhan dapat di atasi dengan adanya sedikit pembenahan. Tahun 2007 ini TSD belum bisa lepas dari elemen tradisional yang dihadirkan di beberapa pementasan, bahkan beberapa naskah masih bergenre tradisional. Walaupun demikian TSD tetap mencoba hal-hal baru, seperti mengikuti perlombaan dan bekerjasama dengan penggiat teater luar.

Pada awal tahun 2008 TSD memiliki kegiatan pergantian pengurus dan pementasan. Pergantian pengurus di awal tahun ini Aloysius Danu Fratomo harus digantikan oleh J.F. Sikant Layang (lurah kesembilan, mahasiswa satra inggris angkatan 2005).

Banyak ide yang muncul mengenai materi pementasan anak baru, dan guna menampung ide itu akhirnya di adakan “Pesta Pentas”. Karena pesta bagi anak teater itu sendiri ialah sebuah pementasan. Setiap kelompok akan tampil di hari yang berbeda secara berturut- turut, dan membawakan bentuk pementasan yang ditentukan oleh sutradaranya masing masing. Pentas yang dilakukan di hall selatan kampus paingan USD ini tidak membuat TSD puas begitu saja, seperti apa yang dikatakan Artantya Krispradipta (lurah kesepuluh, mahasiswa sastra inggris angkatan 2008):

“Ditahun 2008 beberapa anggota TSD mengadakan sebuah perbincangan mengenai akan diadakanya sebuah pementasan ber skala besar berbentuk pantomim. Dan

48 diawal tahun 2009 ini pementasan tersebut terealisasikan dengan diadakannya pentas “Kemana Waktu Aku Ingin Bermain” part 1.”39

Pentas ini bercerita tentang seorang anak kecil yang bernama Nene yang memiliki 5 orang teman. Nene sendiri tiba-tiba saja muncul kedalam dunia tanpa memiliki orang tua. Dia juga memilki kemampuan khusus yakni tidak bisa bertambah tua. Masa kecilnya dihabiskan untuk bermain dengan teman temannya.

Seiring berjalannya waktu teman-temannya mulai sibuk sendiri, di mana saat sekolah mereka sibuk akan tugas sekolah mereka dan semasa kerja mereka sibuk akan pekerjaan mereka masing masing untuk bisa hidup. Nene tetap menjadi anak kecil yang selalu mengajak mereka untuk bermain, akan tetapi saat itu dia hanya melihat teman-temannya menjadi robot yang dengan mudah dikendalikan oleh keadaan, dan lupa untuk bermain lagi dengannya.

Pementasan “KWAIB” yang diadakan pada 14 sampai 15 Mei 2009 ini terinspirasi dari Novel Momo40, yang diadaptasi dan dirangkai jalan ceritanya.

Pementasan kali ini tidak memiliki naskah, karena dalam pantomim sangat jarang terdapat naskah cetak sebagai panduannya. Cerita yang ingin dihadirkan merupakan cerita yang absurd, karena terdapat hal yang tidak sesuai dengan logika manusia pada umunya. Akan tetapi TSD tetap menghadirkan masalah umum yang berkaitan dengan kehidupan, yang kemudian dikolaborasikan dengan keliaran pikiran.

39 Wawancara, Artantya Krispradipta, 19 Juni 2018; Yogyakarta.

40 Novel ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia yang berjudul sama.

Michael Ende, Momo, Penghemat Waktu, Jakarta: Gramedia, 2004

49 Expo 2009 kali ini mahasiswa dibebaskan memilih ruangan mana yang mereka masuki. Sistem expo yang seperti ini akan membuat TSD menjadi kualahan dalam menghadapi mahasiswa baru, karena tidak adanya pengaturan sirkulasi untuk masuk dan keluarnya mahasiswa baru kedalam ruangan TSD. Jika setiap beberapa menit ada mahasiswa masuk dan melihat TSD, maka pertunjukan tidak akan berakhir karena selalu ada mahasiswa yang menonton. Mahasiswa baru tidak dapat disalahkan, mereka hanya menuruti sistem yang sudah dibuat oleh panitia. Maka seharusnya panitia expo melakukan survei yang lebih, agar tidak ada salah satu pihak yang dirugikan.

Setelah melakukan pementasan besar dan expo kemudian pertengahan tahun 2009 TSD mengadakan raga. Raga mulai menganut sistem baru, dengan pergantian setiap dua tahun sekali. Dalam Raga yang dilakukan di Sermo ini terpilihlah salah satu perempuan anggota TSD, akan tetapi calon ini mundur dan akhirnya terpilihlah Artantya Krispradipta sebagai luruh yang menjabat selama 2009-2011. Agenda utama yang merupakan rapat tentu tidak dilupakan, tujuan dari rapat tersebut menjadi TSD yang lebih baik ditahun selanjutnya.

Tahun 2010 ini merupakan angin segar untuk TSD, karena di tahun ini TSD mendapat bagian untuk pengesahan inventaris. Inventaris merupakan hal penting bagi setiap UKM, karena dari sana mereka mendapat barang apa saja yang mereka butuhkan. Barang-barang yang bertambah jumlahnya maupun barang baru yang didapat yakni karpet, pengeras suara, teater light nova, backdrop, dan lampu.

Inventaris ini bisa berjalan karena bergantinya wakil rektor tiga, hal ini

50 menunjukkan bahwa jabatan yang membawahi kegiatan mahasiswa sangat mempengaruhi perkembangan TSD serta UKM lainnya.

Di awal tahun ini juga ada pementasan TSD yang masuk dalam pementasan besar berjudul “Pasar Pahing”, pementasan ini menggunakan anggota baru angkatan 2010 untuk ikut peran serta dalamnya. Akan tetapi bukan sebagai orang yang memegang tanggung jawab besar, melainkan hanya sebagai orang pembantu.

“Pasar Pahing” sendiri bercerita tentang kekisruhan sebuah pasar yang didalam pasar tersebut terdapat sebuah bangunan yang merupakan bagian dari salah satu candi. Yang menjadi permasalahanya ialah ketika pasar tersebut ingin digusur, maka mana yang harus diselamatkan?. Bangunan candi sendiri merupakan budaya sedangkan pasar dengan segala yang ada didalamnya juga budaya yang diciptakan turun temurun. Maka rakyatpun akhirnya melawan penggusuran, ternyata rakyat juga benci dengan pak dukuh yang sudah melakukan perjanjian dengan pihak penggusur bahwa pasar itu pasti akan rubuh. Didalam pasar ini sendiri terdapat beberapa pedagang seperti penjual baju, ikan, buku, jamu hingga rental PS. Akhir dari ceritanya anak pak dukuh tersebut dikabarkan meninggal.

“Pasar Pahing” merupakan pentas untuk mempresentasikan latihan yang sudah didapat, akan tetapi dalam prosesnya anggota TSD berpikir bahwa pementasan ini akan dibawakan secara lebih besar. Pementasan yang dilakukan di aula USD tersebut dilirik oleh UKM karawitan, mereka tertarik untuk ikut membawakanya. Sehingga pada pentas selanjutnya diadakan oleh TSD dan Karawitan, karena panitianya berasal dari kedua UKM ini.

51 Setelah mengalami proses latihan yang cukup padat maka terciptalah pementasan besar yang berjudul “Lapak Tilas” dan dibawakan saat FTJ (Festival Teater Jogja) di gedung Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Naskah yang dibawakan sama dengan apa yang dibawakan di “Pasar Pahing”, akan tetapi hanya berganti peran saja untuk para aktor. Akhir atau penutup di “Lapak Tilas” juga berbeda dengan dirobohkanya pasar tersebut.

Banyaknya pementasan yang ada di tahun ini tidak membuat TSD lupa akan regenerasi angkatan, hal ini membuat pengurus mengambil keputusan untuk menyewa seorang fasilitator. Alasan lain yang mendorong diambilnya keputusan ini ialah, banyaknya para senior yang berpotensi menjadi fasilitator disibukkan oleh pentas, maka disewalah fasilitator untuk melatih anggota baru.

Kesibukkan pementasan ini juga mengakibatkan PAB 2010 harus mundur ke pertengahan tahun 2011. Sedangkan dipertengahan tahun 2011 tersebut tetap menjalankan expo, hal ini tentunya akan membuat adanya kemunduran PAB yang signifikan terus berkelanjutan setiap tahunnya.

Pentas Anak Baru (PAB) untuk angkatan 2010 di adakan di tahun ini, dan menunjuk sutradara yang berasal dari angkatan mereka sendiri. Pentas ini berbentuk realis surealis, karena berupa drama dan penubuhan yang saling mendukung antara satu dan yang lainnya. Dalam PAB kali ini terdapat hal yang unik dan juga menarik, yakni bertema gender. Pementasan yang diperankan oleh laki-laki berjudul “Sewu Siti”, dan pementasan kedua yang berjudul “Sang Suami” yang diperankan oleh perempuan angkatan 2010. Tema ini tentu membuat ketertarikan penonton semakin

52 kuat, tak hanya itu saja melainkan pesan yang ingin disampaikan oleh TSD tentunya akan lebih jelas.

Kesuksesan “Lapak Tilas” dan PAB tak hanya berhenti disitu, TSD kembali mengikuti FTJ yang diadakan setahun sekali tersebut. Di FTJ yang di laksanakan pada akhir tahun 2011 ini, TSD membawakan naskah yang berjudul “Tobong Kosong”. Pentas ini sendiri bercerita tentang ketoprak seperti yang dikatakan Laurensisus Dhion Pradapto (mahasiswa teknik informatika angkatan 2010) sebagai salah satu pemerannya

“Tobong Kosong sendiri bercerita tentang kehidupan para pemain ketoprak tobong yang hidupnya selalu berpindah pindah dan juga mengantungkan hidup mereka di sana. Perbedaan yang cukup signifikan dengan ketoprak dimasa sekarang ialah, jika ketoprak pada saat ini sudah terorganisir dengan baik bahkan memiliki kerjasama dengan perusahaan negri yang dapat menunjang kebutuhan seperti RRI dan TVRI.

Sedangkan ketoprak tobong hanya mengandalkan diri sendiri dan antusias yang diberikan masyrakat. Dalam pementasan muncul pertanyaan, bagaimana bisa ketoprak tobong masih bisa bertahan walaupun nanti pada akhirnya akan ditinggalakan oleh para penontonya, hingga para pengemarnya sendiri?. Intinya ketoprak akan kalah dengan daya tarik kamera”.41

Pementasan “Tobong Kosong” sendiri merupakan gambaran yang akan terjadi, jika TSD masih mempertahankan ketoprak. Walaupun dibawahi dengan instansi pendidikan, tetapi peminat dan penggemarnya tidak akan bertahan lama, karena sebagaian besar penontonnya adalah orang tua. Cara yang paling mudah dalam menyampaikan sesuatu dengan mengikuti perkembangan jaman, karena hal tersebut akan mudah dan cepat diterima dimasyrakat.

Anak Muda Bicara Teater dan teater milik Universitas Ahmad Dhalan juga mengikuti FTJ 2011. Uniknya dalam proses kali ini tempat pementasan disediakan

41 Wawancara, Laurensisus Dhion Pradapto, 7 Mei 2018; Yogyakarta.

53 bukan dari masing-masing peserta, melainkan peserta harus menyediakan tempat untuk peserta lain. Misalnya Anak Muda Bicara Teater menyediakan tempat untuk TSD, dan TSD menyediakan tempat utuk Teater Ahmaddhalan dan begitu seterusnya. Sehingga perlu adanya kordinasi yang jelas antar peserta, padahal mereka berlomba lomba menampilkan yang terbaik. Hal semacam ini juga membantu meningkatkan tali persaudaraan dan bisa bertukar pengalaman.

“Keunikan di FTJ 2011 tidak hanya berhenti disitu, ditambah lagi pemenang pada festival teater kali ini tidak ada. Dari dewan juri sendiri tidak dapat memutuskan siapa yang menjadi penampil terbaik, karena tidak ada yang sesuai dengan ekspetasi mereka, serta naskah yang dibawakan sangatlah berat. Walaupun demikian teater kampus tetap menjadi peserta yang aktif mengikuti FTJ, seperti apa yang dikatakan Agathon Hutama (pendamping TSD 2014 sampai sekarang, mahasiswa sastra inggris angkatan 2005):

“Ditahun 2011 mulai didominasi masuknya teater kampus dalam acara FTJ dan banyaknya anak muda yang baru masuk dalam dunia teater turut berperan dalam FTJ. Para senior atau orang yang dituakan dalam teater juga turut berperan membuat komunitas baru dan mengajak anak muda yang didominasi mahasiswa untuk masuk kedalamnya”.42

Di akhir tahun 2011 TSD juga turut serta dalam IDRF (Indonesia Dramatic Reading Festival) akan tetapi TSD hanya sebagian anggota, yang ikut hanya berjumlah 3 orang. Hal ini merupakan salah satu tindakan dari Lurah TSD, guna mendapat lebih banyak ilmu tidak terpagar dengan apa yang hanya mereka dapatkan di TSD.

42 Wawancara, Agathon Hutama, 26 April 2018; Yogyakarta.

54 Raga merupakan kegiatan diakhir tahun 2011 dengan tujuan pastinya pergantian kepengurusan. Dalam Raga yang diselenggarakan di Penting Sari kali ini Artantya Krispradipta harus lengser dari jabatannya sebagai lurah, digantikan oleh Febrianus Anggit Sudibyo (lurah kesebelas, mahasiswa akutansi angkatan 2009) dalam periode 2011 hingga 2013.

Dokumen terkait