BAB II BIOGRAFI ALI MUSTAFA YAQUB
B. Pembagian Hadis
Yang dimaksud dengan pembagian hadis di sini adalah pembagian hadis dilihat dari kualitasnya. Penulis mengutip dari pendapat al-Ghazâli yang menyepakati berbagai rumusan yang telah dibuat oleh jumhur ulama ahli hadis, bahwa setelah diadakan seleksi yang ketat terhadap hadis-hadis Nabi dari zaman ke zaman yang telah dilakukan oleh para ulama dari periode ke periode berikutnya, akhirnya hadis-hadis tersebut terkumpul dalam kitab-kitab hadis, yang dari segi kualitasnya terdiri dari hadis sahih, hasan, da’if dan mawdu’.9
7 Usman Sya’roni,
Otentisitas Hadis Menurut Ahli Hadis dan Kaum Sufi, (Jakarta:
Pustaka Firdaus, 2008), h. 5.
8 Ali Mustafa Yaqub,
Kritik Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), h. 33.
9Badri Khaeruman, Otentisitas Hadis; Studi Kritis Atas Kajian Hadis Kontemporer,
31
Istilah mutâwâtir dan ahâd pada awalnya lebih akrab dalam pembicaraan fuqahâ’ dan usûliyyûn.10 Imâm al-Syâfi’î (w.204 H) masih menggunakan istilah khabar ‘âmmah (berita umum) dan khabar khâsah (berita perorangan) dalam karya risalahnya. Ibnu Hibbân (w. 354 H) yang mengalami kampanye hadis ahâd oleh ulama Mu’tazilah semacam Abû ‘Ali al-Jubbâ’i (w. 303 H) dan sebelumnya oleh al-Nazâm (w. 223 H) serta Qasyâni, belum merasa perlu terlibat membahas kriteria mutawâtir dan ahâd. Ulama Muhaddîtsîn yang mulai bergabung membicarakannya adalah Imâm Hâkim (w. 405 H), kemudian Ibn Abd Barr (w. 463 H) dan Khâtib al-Baghdâdi (w. 463 H).11
Sementara pembagian hadis dilihat dari periwayatannya menurut pendapat al-Ghazali, sebagaimana yang dikemukakan oleh jumhur ulama ahli hadis, yang terbagi pada hadis mutawâtir dan ahâd,12 hadis-hadis ahâd walaupun sanad-nya sahîh-kehilangan validitas (ke-sahîh-annya) apabila terdapat padanya cacat-cacat tertentu yang diistilahkan dengan syadz atau ‘ilah qadihah. Misalnya, ia mengemukakan contoh bahwa Abû Hanîfah menolak hadis yang menyatakan bahwa “seorang muslim tidak boleh dibunuh sebagai hukuman atas perbuatannya membunuh seorang kafir”, walaupun hadis ini sahîh sanadnya.
Hal ini bertentangan dengan nas al-Qur’an tentang qisas yang tercantum dalam ayat 45 surat al-Maidah. Bahkan atas dasar ini, para pengikut
10 Ibn al-Salâh,
Muqaddimah Ibn Salâh fi ‘Ulûm al-Hadîts, h. 169.
11 Hasjim Abbas,
Kritik Matan Hadis, (Yogyakarta: Teras, 2004), h. 131.
12 Badri Khaeruman, Otentisitas Hadis; Studi Kritis Atas Kajian Hadis Kontemporer,
madzhab Hanafî mengutamakan penafsiran ayat al-Qur’an tersebut di atas hadis ahâd. Sedangkan para pengikut madzhab Maliki mengutamakan praktek penduduk kota Madinah di atas hadis ahâd seperti itu, dengan alasan bahwa praktek mereka memberikan petunjuk yang lebih dekat kepada sunnah nabawiyah ketimbang apa yang hanya dirawikan oleh perorangan.13
Prasarat minimal untuk memenuhi kriteria mutawâtir adalah jumlah banyak perawi berimbang pada generasi sahabat selaku saksi primer, generasi tâbi’în, dan tâbi’ al-tâbî’în selaku penyambung transmisi periwayatan, sehingga mereka mustahil bersepakat berbohong.14 Untuk generasi sesudahnya karena sudah membudaya proses belajar mengajar hadis memanfaatkan jasa (media) dokumen kitab, maka tak penting lagi pelacakan jumlah tersebut. Al-Suyûti menyatakan 10 orang untuk setiap generasi periwayat.15 Apabila sebuah hadis diriwayatkan oleh sembilan orang saja
dalam salah satu jenjang periwayatannya meskipun dalam jenjang yang lain jumlah itu mencapai seratus orang rawi misalnya, maka hadis tersebut tetap disebut hadis ahâd, karena persyaratan sepuluh orang itu tidak terpenuhi dalam semua jenjang.16
Sementara itu, ahâd secara kebahasaan berarti wâhid (satu). Dalam terminologi ilmu hadis, hadis ahâd adalah hadis yang diriwayatkan satu orang atau lebih dalam setiap jenjang (tabaqah) periwayatannya, dan jumlah itu
13 Badri Khaeruman,
Otentisitas Hadis; Studi Kritis Atas Kajian Hadis Kontemporer, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), h. 273.
14 Wahbah al-Zuhaili,
Usûl Fiqh al-Islâmi, (Beirût: Dâr al-Fikr, 1986), juz 1, h. 452.
15 Al-Suyûti, Tadrîb al-Râwi, (al-Qahirah: Dar al-Hadis, 2002),h. 177. 16 Ali Mustafa Yaqub,
33
tidak mencapai jumlah periwayat yang ditentukan dalam hadis mutawâtir.17 Jelasnya, hadis ahâd itu diriwayatkan dari Nabi saw. oleh satu orang sahabat atau lebih, kemudian dari mereka hadis itu diriwayatkan oleh satu orang tâbi’i (murid sahabat) atau lebih, dan seterusnya. Namun jumlah mereka dalam setiap jenjang nya tidak mencapai jumlah yang ditentukan dalam hadis mutawâtir.
Imâm Ibn Hazm (w. 456 H) menegaskan, umat Islam secara keseluruhan, baik ahlussunnah, khawârij, syî’ah maupun qadâriyah menerima hadis ahâd sebagai hujjah. Baru pada awal abad kedua hijriyyah para ahli kalam dari kelompok Mu’tazilah berpendapat lain. Mereka menentang konsensus umat tadi dengan mengatakan bahwa hadis ahâd tidak sah dijadikan hujjah dalam agama.18
Bila ditelusuri mayoritas fuqaha’ dengan mengecualikan al-Jubbâ’i dari Mu’tazilah sepakat mengakui kehujjahan hadis ahâd. Persyaratan yang harus terpenuhi sangat bervariasi antara fuqaha’ berbagai madzhab. 1) Hanâbilah: mencukupkan dengan kesahihan sanad; 2) Syâfi’iyyah: mensyaratkan a). sanad harus sahîh, baik periwayat faqîh dan ‘âlim atau tidak. b). perawi harus hâfiz dan dâbit. c). hadisnya tidak kontradiksi dengan hadis lain yang sanadnya terdiri dari para pakar hadis; 3). Mâlikiyyah mensyaratkan: substansi hadis ahâd tersebut tidak bertentangan dengan praktek keagamaan warga Madinah;19 4). Hanâfiyyah mensyaratkan: bahwa prilaku perawi harus
17 Mahmûd Tahhân,
Taisîr Mustalah al-Hadîts, (Beirût: Dâr al-Fikr, 1986), h. 22.
18 Al-Suyûti,
Tadrîb al-Râwi, (al-Qahirah: Dar al-Hadis, 2002), h. 73.
19 Mustafa Sa’îd al-Khinn, Atsaru al-Ikhtilâf al-Qawâ’id al-Usûliyah, (Beirut:
sejalan dengan hadis yang ia riwayatkan, sebab penyimpangan mengindikasikan nasakh. Bila perawi bukan seorang faqîh dan cara pengungkapan hadis dengan penyaduran (riwayat bi al-Ma’na), substansi hadis tidak boleh menyalahi qiyas serta prinsip-prinsip syari’ah secara umum.20
Di dalam buku Otentisitas Hadis karya Badri Khaeruman disebutkan bahwa, al-Ghazali merinci lebih jauh penjelasan para ulama tentang syarat ke-sahih-an suatu hadis sebagai berikut:
1. Setiap perawi dalam sanad suatu hadis haruslah seorang yang dikenal sebagai penghafal yang cerdas dan teliti serta benar-benar memahami apa yang didengarnya. Kemudian ia meriwayatkannya setelah itu, tepat seperti aslinya.
2. Di samping kecerdasan yang dimilikinya, ia juga harus seorang yang mantap kepribadiannya dan bertakwa kepada Allah, serta menolak dengan tegas setiap pemalsuan atau penyimpangan.
3. Kedua sifat tersebut di atas (point 1 dan 2) harus dimilki oleh masing-masing perawi dalam seluruh rangkaian para perawi suatu hadis. Jika hal itu tidak terpenuhi pada diri seorang saja dari mereka, maka hadis tersebut tidak dianggap mencapai derajat sahîh.
4. Mengenai matn (materi) hadis itu sendiri, ia harus tidak bersifat syadz (yakni salah seorang perawinya bertentangan dalam periwayatannya dengan perawi lainnya yang dianggap lebih akurat dan lebih dapat dipercaya).
5. Hadis tersebut harus bersih dari ‘illah qadihah (yakni cacat yang diketahui oleh para ahli hadis, sedemikian sehingga mereka menolaknya).
Dengan demikian, al-Ghazali mengakui adanya hadis ahâd dan mutawâtir. Ini menunjukkan bahwa al-Ghazali mengakui adanya pembagian hadis, yakni bahwa hadis itu ada yang mutawâtir dan ada yang ahâd, jika dilihat dari segi periwayatannya. Sedangkan dilihat dari segi kualitasnya, tentu
20 Wahbah al-Zuhaili, Usûl Fiqh al-Islâmi, (Beirût: Dâr al-Fikr, 1986), juz 1, h.
35
saja al-Ghazali mengakui adanya hadis sahîh, hasan, da’if, dan bahkan hadis mawdu’.21