BAB IV PEMIKIRAN ALI MUSTAFA YAQUB DALAM
A. Tekstual
Tekstualis (zâhiri) adalah orang-orang yang hanya berpegang kepada nas-nas secara harfiah, tanpa mendalami maksud kandungan serta tujuannya. Kelompok tekstualis menolak mempertimbangkan alasan, motivasi, dan latar belakang hukum, dan menyamaratakan antara adat dan ibadah dalam satu rangkaian.4
Jamal al-Din al-Qasimî dan Yusuf al-Qardawi menilai bahwa hal ini dilatarbelakangi oleh dua hal, yaitu motivasi cinta (adab kepada Rasulullah Saw) dan motivasi ibadah.
Pertama, Motivasi cinta (adab kepada Rasulullah saw) seperti yang ditunjukkan oleh sebagian sahabat sejak Rasulullah saw masih hidup. Ibnu Umar merupakan potret utama dalam hal ini. Ketika Rasulullah saw pernah turun dari punggung untanya pada suatu hari dan melakukan salat dua rakaat, maka Ibnu Umar melakukannya ketika ia melewati tempat itu.5 Kesetiaannya yang tinggi dalam mengikuti jejak langkah Rasulullah saw ini telah mengundang pujian dari Ummu al-Mukminîn ‘Āisyah ra, “Tak seorangpun mengikuti jejak langkah Rasulullah saw di tempat-tempat pemberhentiannya, sebagai yang dilakukan oleh Ibnu Umar.”6
4 Yûsuf al-Qardâwi,
Membedah Islam Ekstrim. h. 54.
5 Khalid Muhammad Khalid,
Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah. Penerjemah Mahyudin Syaf, dkk. (Bandung: CV. Diponegoro, 2002), h. 121.
6 Khâlid Muhammad Khâlid,
Kedua, Motivasi Ibadah, misalnya seorang muslim yang memendekkan pakaiannya (sarung, baju gamis dan celana) karena ingin mengikuti sunnah, menjauhkan diri dari tuduhan melakukan kesombongan, atau menghindari perbedaan pendapat, maka ia mendapat pahala. Tetapi dengan syarat ia tidak boleh memaksa orang lain melakukan seperti dirinya sendiri. Dan juga tidak boleh bertindak keterlaluan dalam mengkritik orang lain yang tidak melakukannya, karena adanya pendapat mujtahid lain yang berbeda, dan setiap mujtahid akan mendapat pahala atas ijtihadnya.7
Namun Muhammad Abduh seorang tokoh revivalis modern berpandangan bahwa tidak semua ucapan dan perbuatan Nabi saw memiliki kandungan hukum. Hanya para ahli fiqh tradisionalis ekstrim dari madzhab Zahiri dan sebagian pengikut Hanbali yang menyerukan bahwa mengikuti Nabi saw dalam setiap hal sebagai kewajiban.8 Mereka juga terikat pada makna harfiah teks al-Qur’an dan hadis.9 Ahmad bin Hanbal pendiri madzhab Hanbali10 (w. 241 H).
7 Yûsuf al-Qardâwi,
Kaifa Nata’amal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyyah Ma’âlim Wa
Dawâbit (Virginia: al-Ma’had al-Ali al-Fikr al-Islâmi,1990),h. 108.
8 Daniel W. Brown, Menyoal Relevansi Sunnah dalam Islam Modern, Penerjemah
Jaziar Radianti, (Bandung: Mizan, 2000), h. 33.
9 Daniel W. Brown,
Menyoal Relevansi Sunnah dalam Islam Modern, h. 151.
10 Ahmad bin Hanbal memiliki nama lengkap Abû Abdillah ibn Muhammad ibn
Hanbal ibn Hilal al-Syaibani. Keluarganya pindah dari Marwa ke Baghdad pada waktu ibunya mengandung Imam Ahmad. Ia lahir pada bulan Rabi’ al-Awwal tahun 164 H di Baghdad dalam keadaan yatim. Imam Ahmad belajar hadis secara dikte kepada para guru-gurunya di Bagdad selama 7 tahun yaitu sejak berumur 15 tahun sampai umur 22 tahun. Setelah itu, ia pergi ke Kûfah, Basrah, Makkah, Madinah, Yaman, Syam dan Jazirah Arab untuk menuntut ilmu. Lihat Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, h. 5. Ahmad bin Hanbal mempunyai kitab koleksi hadis yang memuat 40.000 hadis. Ia menulisnya berdasarkan musnad (kumpulan hadis) para sahabat dan menyusunnya berdasarkan tema-tema hadis. Namun Imâm Ahmad menyusunnya tidak berdasarkan urutan huruf hijaiyah atau huruf
mu’jam, melainkan berdsarkan hal-hal yang bermacam-macam, di antaranya; keistimewaan
para sahabat, daerah tempat tinggal sahabat, suku atau kabilah sahabat, dan lain sebagainya. Lihat Mahmûd al-Tahhan, Usul al-Takhrij wa al-Dirasah al-Asanid, (Riyâd: Maktabah al-Ma’arif, (1417 H/1996 M), h. 42.
47
Sementara itu, tokoh-tokoh madzhab lain berpendapat adanya kebutuhan akan langkah penafsiran antara tradisi dan penerapan hukumnya.11
Imam al-Syafi’i (204 H) misalnya, walaupun ia cenderung tekstualis, akan tetapi dia masih mentolelir dinamika penakwilan terhadap hadis-hadis yang memang berpotensi pada pemaknaan yang lebih dari satu.12 Selain itu, dua corak pemikiran al-Syâfi’î, Qaul Qadîm ketika ia tinggal di Bagdad dan Qaul Jadîd ketika ia tinggal di Mesir menunjukkan bahwa ia sangat memperhatikan konteks secara serius.13 Adapun Abû Hanîfah (w. 150 H) lebih dikenal sebagai tokoh madrasah Ahl Ra’y (aliran Rasional) walaupun ia juga seorang ahli hadis,14 sehingga madzhab Hanafi seperti diutarakan Muhammad al-Ghazâli
lebih dekat dengan rada keadilan dan protokol tentang hak asasi manusia.15
Berdasarkan karakteristik setiap tokoh tersebut, Farûq Abû Zaid menyebut kelompok pertama sebagai al-muhafizûn (kaum ortodoks), sedang kelompok
11 Daniel W. Brown,
Menyoal Relevansi Sunnah dalam Islam Modern, h. 33.
12 Muhammad Jamâl al-Din al-Qâsimi,
Qawâid Tahdits min Funun Mustalah
al-hadîts, (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, t.t.), h. 305.
13 Misalnya, menurut
Qaul Qadim orang yang salat sementara pakaiannya terkena
najis beberapa waktu sebelum salat maka salatnya tidak sah kecuali ia orang bodoh atau lupa. Menurut Qaul Jadid salatnya tidak sah apabila ia bodoh atau lupa. Muhyi Dîn bin Syarf al-Nawâwi, al-Majmû’, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1417 H/1996 M), juz 3, h. 139.
14 Menurut Imâm Yahya bin Ma’în (w. 233 H), Abû Hanîfah adalah seorang yang
tsiqah (dapat diandalkan hadisnya). Ia tidak mau meriwayatkan hadis kecuali yang ia hafal saja. Di antara orang yang menulis hadis darinya adalah ‘Abdullah bin al-Mubârak, Abû Yûsuf, dan Muhammad bin Hasan al-Syaibani. Salah satu kitab hadis karya Abû Hanîfah adalah kitab Musnad al-Imâm al-A’zam Abî Hanîfah. Lihat Muhammad Abd al-Rahman bin Abd al-Rahîm al-Mubârakfûri Abû al-A’la, Tuhfah al-Ahwadzi, (Beirut: Dâr Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H/1990 M), h. 13. Muhammad Mustafa al-A’zami, Hadis Nabawi dan Sejarah
Kodifikasinya, Penerjemah Ali Mustafa Yaqub, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), h. 425.
Menurut Mustafa al-A’zamî pendapat yang mengatakan bahwa orang Iraq lebih mementingkan ra’yu dari pada hadis adalah tidak tepat Karena pernyataan eksplisit ulama Iraq menyebutkan “lâ hujjata Fi Ahadin ma’a al-Nabiy shallallahu ‘alaihi wasallam” / “Tidak ada orang yang memilki otoritas jika dipersandingkan dengan Nabi saw”. Muhammad Mustafa al-A’zami , Menguji Keaslian Hadis-Hadis Hukum; Sanggahan atas The Origins Of
Muhammadan Jurisprudence Joseph Schacht, penerjemah Asrofi, (Jakarta: Pustaka Firdaus,
2004), h. 97.
15 Muhammad al-Ghazâli, Studi Kritis Atas Hadis Nabi saw; Antara Pemahaman
kedua sebagai al-mujaddidûn (kaum pembaharu).16 Adapun pada masa
kontemporer ini, tradisi pemahaman tekstual dilanjutkan oleh Salafi.17
Sementara Ali Mustafa Yaqub memiliki pandangan bahwa pada dasarnya hadis harus dipahami secara tekstual. Namun apabila pemahaman tekstual ini dinilai tidak mungkin dilakukan, maka pemahaman kontekstual boleh digunakan.18
Walaupun terlihat ada perbedaan tentang posibilitas pemahaman kontekstual antara Ali Mustafa Yaqub dan tokoh-tokoh hadis kontemporer lain, namun mereka memiliki pandangan yang sama tentang beberapa tema hadis-hadis yang harus dipahami secara tekstual. Tema-tema hadis tersebut dalam hal ini, yaitu perkara ghaib (al-Umûr al-Ghaibiyyah) dan Ibadah Murni (al-Ibâdah al-Mahdah).19
16 Farûq Abû Zaid,
al-Syari’ât al-Islâmiyyah bain al-Muhâfizin wa mujaddidîn, (Kairo: Dâr al-Ma’mun, 1978), h. 5.
17 Salafi adalah gerakan yang bertujuan untuk memurnikan kembali ajaran agama
Islam berdasarkan pemahaman kaum salaf al-Sâlih yaitu orang-oramg terdahulu yang saleh dan mendapatkan petunjuk dalam urusan agama Islam. Nama salafi (wahhabi) disandarkan kepada Muhammad bin Abdul Wahhâb yang melakukan usaha untuk memurnikan kembali ajaran Islam dari budaya bid’ah dan takhayul yang dianggapnya telah meracuni umat Islam pada saat itu. Gerakan ini mulai pada abad 18 M (1744 M) di daerah Nejed dan Hijaz yang dikenal sekarang sebagai Arab Saudi. Selain dinamakan Wahhabi kelompok ini menamakan dirinya salafi. Inti ajaran salafi (wahhabi) adalah mengamalkan ajaran agama berdasarkan al-Qur’an dan hadis serta bertumpu pada pemahaman salaf al-Shâlih tanpa terikat dengan salah satu madzhab. Mereka mengambil ajaran-ajaran yang berada dalam madzhab tersebut yang sesuai dengan al-Qur’an dan hadis. Terutama hadis yang derajatnya baik dan tidak ada pertentangan di dalamnya. Lihat Muhammad Tijani, Madzhab Alternatif, Perbandingan
Syi’ah Sunnah (Cianjur: Titian Cahaya, 2005).
18 Ali Mustafa Yaqub, Haji Pengabdi Setan, h. 152; menurut Ali Mustafa
pemahaman tekstual (textual) hadis dapat diartikan sebagai pemahaman terhadap makna hadis seperti apa adanya (lafziyyah). Lihat Ali Mustafa Yaqub, Haji Pengabdi Setan (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006), h. 152.
19
Tabligh al-Risalah (hal-hal yang termasuk wahyu kerasulan) berdasarkan firman
Allah swt. ِبﺎَﻘِﻌْﻟا ُﺪﯾِﺪَﺷ َﮫﱠﻠﻟا ﱠنِإ َﮫﱠﻠﻟا اﻮُﻘﱠﺗاَو اﻮُﮭَﺘْﻧﺎَﻓ ُﮫْﻨَﻋ ْﻢُﻛﺎَﮭَﻧ ﺎَﻣَو ُهوُﺬُﺨَﻓ ُلﻮُﺳﱠﺮﻟا ُﻢُﻛﺎَﺗَآ ﺎَﻣَو / “Apa yang diberikan
Rasul maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (QS.
Al-Hasyr/59: 7) di antaranya adalah informasi tentang akhirat, kehidupan alam ghaib, syariat, aturan ibadah, dan akhlak umum. Fungsi Nabi dalam hal ini di antaranya adalah merinci hal-hal global, seperti akhlak terpuji dan tercela. Lihat Muhammad Jamal al-Din al-Qâsimi,
Qawâid al-Tahdits Min Funûn Musthalah al-hadits, (Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, t.t.), h.
49
1. Perkara Ghaib (al-Umûr al-Ghaibiyyah)
Yûsuf al-Qardâwi menegaskan bahwa semua hadis sahîh yang terkait dengan alam ghaib harus diyakini kebenarannya dan dipahami dengan tekstual. Tidak boleh ditolak, walaupun mustahil menurut akal dan ganjil menurut kebiasaan. Sikap terbaik adalah dengan mengatakan, “Kami beriman dan kami membenarkannya.”20
Dalam hal ini Yûsuf al-Qardâwi menyebutkan bahwa di antara fenomena Ghaib yang harus dipahami secara tekstual ada tiga hal. Pertama, kehidupan alam barzah seperti pertanyaan kubur, nikmat, dan azabnya. Kedua, kehidupan akhirat seperti kebangkitan, mahsyar, kondisi hari kiamat, syafa’at, timbangan, jembatan, surga, neraka dan lain-lain. Ketiga, hakekat Allah, Malaikat, Iblis, dan Jin.21
Adapun Ali Mustafa mencoba mendefinisikan terlebih dahulu alam ghaib berdasarkan kategorinya. Ia mengatakan bahwa ghaib itu ada dua macam, yaitu ghaib nisbi (relatif) dan ghaib haqîqî (mutlak). Ghaib nisbi (relatif) seperti kota New York bagi orang yang belum pernah berkunjung, namun bagi orang yang telah berkunjung tidak ghaib lagi. Sedangkan ghaib haqîqî (mutlak) adalah seperti datangnya hari kiamat, yang tidak diketahui oleh siapapun termasuk oleh Nabi Muhammad saw. Hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah ghaib, seperti hakikat Allah, malaikat, surga, neraka, dan lain-lain tidak layak untuk ditafsirkan secara kontekstual. Dalam
20 Yûsuf al-Qardâwi,
Kaifa Nata’amal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyyah Ma’âlim Wa
Dawâbit (Virginia: al-Ma’had al-Ali al-Fikr al-Islâmi,1990), h. 173-174.
21 Muhammad Rasyîd Ridâ, Tafsir al-Qur’an al-Hakim, (Beirût: Dâr al-Ma’rifah,
masalah ini cukup mengikuti petunjuk tekstual dari al-Qur’an dan hadis nabawi. Ali Mustafa menolak alasan sebagian orang yang masih mau melakukan interpretasi terhadap hal tersebut hanya karena ketidakmampuan untuk memahaminya. Ketidakpahaman manusia tidak dapat dijadikan argumen untuk menundukkan hadis-hadis itu kepada pemikiran manusia dengan mengontekstualkannya. 22
2. Ibadah Murni (al-‘Ibadah al-Mahdah)
Yûsuf al-Qardâwi mengemukakan bahwa masalah ibadah merupakan suatu kepastian yang harus ditaati oleh manusia tanpa memandang maksud-maksud dan kebaikan-kebaikan di dalamnya. Berlainan dengan apa yang berkaitan dengan masalah adat kebiasaan dan muamalah.23 Oleh karena itu,
tidak diperkenankan mengatakan bahwa infaq harta untuk fakir miskin lebih penting dari pada menunaikan ibadah haji yang pertama kali. Adapun dalam masalah-masalah selain ibadah yang murni (al-‘Ibadah al-Mahdah) seperti hal-hal yang berkaitan dengan adat kebiasaan dan muamalah antar manusia harus dengan memperhatikan sebab-sebabnya serta maksud-maksud yang terkandung di dalamnya.24
Di samping itu, al-Dahlawi menyebutkan bahwa sesuatu yang termasuk dalam kategori ibadah yang murni (al-‘Ibadah al-Mahdah) adalah aturan rinci pelaksanaan ibadah25 seperti hadis, “Salatlah kalian sebagaimana
22 Ali Mustafa Yaqub,
Fatwa-Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal, (Jakarta: Pustaka
Firdaus, 2008), h. 48.
23 Yûsuf al-Qardâwi,
Membedah Islam Ekstrim. h. 55.
24 Yûsuf al-Qardâwi, Membedah Islam Ekstrim. h. 55. 25 Jamâl al-Dîn al-Qâsimi,
51
kalian melihat aku salat”.26 Pemahaman terhadap petunjuk hadis tersebut tidak memberi peluang bagi kemunculan interpretasi yang melahirkan pengertian yang berbeda. Dalam ilmu al-Qur’an model redaksi kata seperti itu sering disebut dengan (muhkamât).27
Adapun teks yang berkaitan dengan ibadah-ibadah murni (al-‘Ibâdah al-Mahdah), yang berkaitan dengan hubungan personal antara khâliq dan makhluk-Nya menurut Ali Mustafa Yaqub juga tidak layak ditafsirkan secara kontekstual. Teks yang berkaitan dengan ibadah murni seperti cara salat, puasa, haji, dan lain-lain harus dipahami secara tekstual dan apa adanya, bahkan seseorang mesti tunduk kepada petunjuk tekstual semua jenis dan bentuk pelaksanaan ibadah murni baik dari al-Qur’an maupun hadis nabawi. Mengontekstualkan masalah-masalah tersebut, ungkap Ali Mustafa, malah akan menjadikan substansi teks tersebut kehilangan universalitasnya, karena masing-masing lingkungan atau negara dapat membuat aturan salat yang berbeda dengan negara lain karena perbedaan kondisi negara tersebut.28