BAB II MANDAILING NATAL DALAM CATATAN
D. Pembagian Harta Bersama
Harta bersama antara suami istri baru dapat dibagi apabila hubungan perkawinan itu sudah terputus. Hubungan perkawinan itu dapat terputus karena kematian, perceraian, dan juga putusan pengadilan.287 UndangUn dang No. 1 Tahun 1974 pada Pasal 37 dikatakan: “bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masingma sing.” Dalam penjelasan pasal tersebut dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “hukumnya masingmasing” ialah hukum agama, hukum adat dan hukum lainnya. Sekiranya penjelasan Pasal 37 UndangUndang No. 1 Tahun 1974 tersebut dihubungkan dengan ketentuan Pasal 96 dan 97 KHI, penerapan hukum Islam dalam soal pembagian harta bersama baik
286 R. Purwoto S., Renungan Hukum, (Jakarta: Pengurus Pusat Ikatan Hakim Indonesia, 1998), hlm. 449.
287 Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Hukum Kewarisan, Hukum Acara Peradilan
126
HUKUM PERKAWINAN MUSLIM: ANTARA FIKIH MUNAKAHAT DAN TEORI NEO-RECEPTIE IN COMPLEXU dalam cerai mati maupun cerai hidup sudah mendapatkan kepastian posi tif. Karena dalam cerai mati Pasal 96 ayat 1 menegaskan “separuh har ta bersama menjadi pasangan yang hidup lebih lama”. Status kematian salah satu pihak, baik suami maupun istri harus jelas terlebih dahulu agar penentuan tentang pembagian harta bersama menjadi jelas. Jika salah satu dari keduanya hilang maka harus ada ketentuan tentang kematian dirinya secara hukum melalui Pengadilan Agama.Hal ini diatur dalam KHI Pasal 96 ayat 2, “pembagian harta bersama bagi seorang suami atau istri yang istri atau suaminya hilang harus ditangguhkan sampai adanya kepastian matinya yang hakiki atau matinya secara hukum atas dasar putusan Pengadilan Agama”. Begitu juga dalam cerai hidup, Pasal 97 KHI menegaskan “janda atau duda cerai hidup masingmasing berhak seper dua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan. Artinya, dalam kasus cerai hidup, jika tidak ada perjanjian perkawinan maka pembagian harta bersamanya ditempuh berdasarkan ketentuan di dalamnya, yaitu masingmasing berhak mendapat seperdua dari harta bersama.288
Masalah penerapan pembagian harta bersama dalam cerai hidup, tidak begitu menimbulkan persoalan, karena pembagian dapat dilang sungkan secara tunai dan langsung antara suami istri, masingmasing mendapat setengah bagian. Lain halnya dalam pembagian harta bersama dalam keadaan cerai mati. Dalam masalah ini, bisa timbul berbagai ma salah yang memerlukan penerapan tersendiri.
1. Cerai Mati Tanpa Anak
Dalam hal cerai mati tanpa anak yang dilahirkan dalam perkawinan, penerapannya berdasarkan hukum adat dapat beberapa variasi. Misalnya, suami meninggal dunia tanpa anak, sehingga yang tinggal hanya janda. Dalam kasus yang seperti ini ada yang berpendapat bahwa harta bawaan suami maupun harta bersama jatuh menjadi warisan janda. Pen dapat yang seperti ini dapat dibaca dalam putusan Mahkamah Agung tanggal 2 November 1960 No. 302K/SIP/1960. Dalam putusan ini terdapat uraian pertimbangan yang menjelaskan:
288 Pendapat dan penerapan yang demikian juga telah merupakan yurisprudensi tetap dalam hukum adat. Sejak masa perang dunia kedua, sudah dipertahankan ketetapan hu kum yang memberi hak dan kedudukan yang sama antara suami istri terhadap harta bersa ma apabila perkawinan mereka pecah. Ambil contoh, putusan Mahkamah Agung tanggal 9 Desember 1959 No.424K/STP/1959, dalam putusan ini ditegaskan: “menurut yurisprudensi mahkamah agung dalam hal ini terjadi perceraian barang gonigini harus dibagi antara sua mi dan istri dengan masingmasing mendapat separuh bagian, Lihat: Abdul Manann,
Ane-ka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia, (JaAne-karta: KencanaPrenadaMedia Group,
127
BAB IV PERSPEKTIF KOMPILASI HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN HUKUM PERKAWINAN…
“Menurut hukum adat diseluruh Indonesia, seorang janda perempuan merupa-kan ahli waris terhadap barang asal barang suami, dalam arti bahwa sekurang- kurangnya dari barang asal itu sebagian harus tetap ditangan janda sepanjang perlu untuk hidup secara pantas sampai ia meninggal atau kawin lagi, sedang di beberapa daerah di Indonesia di samping ketentuan itu mungkin dalam hal ba-rang-barang warisan amat banyak harganya, janda berhak atas bagian warisan
seperti seorang anak kandung.”289
Jika putusan di atas diuraikan secara lanjut, terdapat beberapa peng garisan hukum yang berkenaan dengan harta bersama. Pertama, dalam hal suami meninggal dunia tanpa keturunan, janda akan menguasai dan menikmati harta bersama selama ia masih hidup atau selama ia tidak kawin dengan lelaki lain, apabila harta bersama yang ditinggalkan hanya sedikit jika dia kawin dengan lakilaki, maka harta bersama dibagi dua. Setengah bagian untuk janda dan setengah bagian untuk ahli waris men diang suami.Terlepas dari putusan di atas, kita lebih setuju penerap an yang lebih bersifat tuntas, yaitu segera menyelesaikan pembagian har ta bersama antara janda dengan ahli waris mendiang suami. Cara yang demikian terasa lebih adil dan lebih sesuai dengan ajaran Islam yang menyuruh penyelesaian harta peninggalan sesegera mungkin pada saat harta peninggalan terbuka untuk dibagi.290
Uraian di atas, sekalipun masalah harta bersama yang hendak di terapkan dalam lingkungan peradilan bertitik tolak dan bersumber dari ‘urf atau hukum adat yang sudah berkembang di masyarakat dan praktik peradilan, dalam hal tersebut peradilan agama harus mampu dan bera ni mengadakan “modifikasi” ke arah yang lebih sesuai dengan maslahat dan jiwa hukum Islam. Khusus menghadapi kasus harta bersama yang tidak dikaruniai anak, apabila perkawinan pecah karena salah satu pihak meninggal dunia, maka harus segera dilakukan pembagian antara pihak yang masih utuh dengan ahli waris yang meninggal tanpa mempersoal kan pihak mana yang lebih dahulu meninggal.Misalnya, istri yang dahulu meninggal maka pembagiannya adalah setengah bagian menjadi bagian duda (suami) dan yang setengah lagi jatuh menjadi bagian ahli waris mendiang istri untuk dibagi waris menurut ketentuan fara’id.
2. Cerai Mati dan Ada Anak
Kasus cerai mati dengan meninggalkan keturunan, baik istri (janda) maupun anakanak dapat menuntut pembagian harta bersama. Hal ini dijelaskan dalam putusan Mahkamah Agung tanggal 8 Agustus 1959 No.
289 M. Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama, hlm. 280.
128
HUKUM PERKAWINAN MUSLIM: ANTARA FIKIH MUNAKAHAT DAN TEORI NEO-RECEPTIE IN COMPLEXU 258/SIP/1959, “jadi apabila suami meninggal dunia dengan meninggal kan janda keturunan (anak), menurut hukum baik anakanak atau se orang dari anak maupun janda, dapat menuntut pembagian harta bersa ma.”291
Pada umumnya masyarakat merasa tabu untuk segera membagi har ta bersama antara janda atau duda dengan anakanak mereka. Misalkan suami atau istri meninggal dunia jarang masyarakat langsung membagi harta bersama antara ayah atau ibu dengan anakanak. Harta bersama tetap dijadikan utuh dibawah kekuasaan ayah atau ibu. Padahal dari pe ngalaman dan pengamatan sudah banyak contoh tragis sebagai akibat kelakuan dalam pembagian harta bersama segera sesaat setalah suami atau istri meninggal dunia. Kemalangan yang akan diderita anakanak dibelakang hari akibat dari kekakuan tersebut, bisa terjadi apabila si ibu atau si ayah kawin lagi dengan lakilaki atau perempuan lain. Oleh kare na itu, sudah saatnya kita lebih bersifat prakmatis menghadapi kasus ini, jika pengadilan agama menghadapi kasus yang seperti ini, sekalipun anakanak yang ditinggalkan masih kecilkecil, seharusnya segera dila kukan pembagian. Tentukan barangbarang yang menjadi bagian anak anak, sekalipun pengawasan dan perwalian harta berada di tangan ibu atau ayah mereka yang penting, pembagian harta bersama harus dilaku kan guna memberi kepastian dan jaminan bagi anakanak dan hak mere ka atas bagian harta bersama peninggalan ibu atau ayah mereka.
3. Hak Asuh Anak (Hadanah)
Dalam kehidupan berumah tangga, tidak semua rumah tangga ber tahan selamalamanya, sering kita mendengar kasus perkawinan yang putus dikarenakan perceraian ataupun salah satu suami atau istri me ninggal dunia. Masyarakat Mandailing dikenal sebagai masyarakat yang religius dan taat kepada adat. Dalam kenyataan yang terjadi pada masya rakat Mandailing jika perkawinan putus akibat perceraian maka kewa jiban dalam memelihara anak tetap menjadi kewajiban bersama antara suami dan istri,292 akan tetapi jika salah satu suami istri menikah kembali ataupun salah satu suami atau istri meninggal dunia akan timbul perso alan siapakah yang paling berhak mengasuh anak, khususnya anak yang belum mumayiz.
Dalam hal ini Kompilasi Hukum Islam menjelaskan dalam Pasal 156: akibat perkawinan akibat perceraian adalah:
291 Ibid., hlm. 282.
292 Mahmud Batubara, Tokoh Masyarakat desa Hutabargot, wawancara pribadi, Huta bargot 8 Agustus 2014.
129
BAB IV PERSPEKTIF KOMPILASI HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN HUKUM PERKAWINAN…
(1) Anak yang belum mumayiz berhak mendapat hadanah dari ibunya kecuali bila ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan oleh: 1) Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu;
2) Ayah;
3) Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah; 4) Saudara perempuan dari anak yang bersangkutan;
5) Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ibu; 6) Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah. (2) Anak yang sudah mumayiz berhak memilih untuk mendapatkan hadanah
dari ayah atau ibu.
(3) Apabila pemegang hadanah tidak dapat menjamin keselamatan jas mani dan rohani anak meski pun biaya hadanah telah dicukupi ma ka atas per-mintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindah-kan hak hadanah kepada kepada kerabat lain yang mempunyai hak hada-nah pula.
(4) Semua biaya dan nafkah anak mengenai hadanah menjadi tanggung jawab ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak itu de-wasa dan dapat mengurus diri sendiri.
(5) Bilamana terjadi perselisihan mengenai hadanah anak Pengadilan Agama memberi putusan berdasarkan huruf (a), (b), (c), dan (d).
(6) Pengadilan juga dengan mengingat kemampuan ayahnya menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang tidak
turut padanya.293
Berdasarkan Pasal di atas dapat dipahami bahwa yang paling berhak atas hadanah adalah ibu. Dan jika ibu meninggal dunia atau tidak layak sebagai pemegang hadanah maka urutan selanjutnya adalah nenek dari pihak ibu.Antara Kompilasi Hukum Islam dan Literatur fikih menjadikan wanita sebagai pemegang hadanah yang paling utama. Hal ini senada dengan penjelasan Imam Syafii dalam kitabnya:
مث,اهمأا مث,ىلوأا مأ�لاف دلولا نع زانتف ءاسنلا نم ةبارق عمتجا اذإاو :ىعفاشلا لاق
ةدجلا مث,اهتاهمأا مث,اهمأا مث,بأ�لا مأا ةدجلا مث,ندعب ناو اهمأا تاهمأا,اهم مأا
مث,بأالل تخأ�لا مث,مأ�لاو بأالل تخأ�لا مث,اهتاهمأا مث,اهمأا مث,بأ�لا ىبأا دجلا مأا
ةمعلامث,ةلاخلا مث,مأالل تخأ�لا
Imam Syafi’i menjelaskan Apabila terdapat dari kalangan perempuan berselisih pendapat dalam menentukan hak asuh anak, maka yang paling berhak meng-asuh adalah ibunya, kemudian nenek (ibunya ibu), kemudian ibunya nenek, kemudian neneknya nenek sampai terus ke atas. Kemudian nenek (ibunya ayah), kemudian ibunya nenek dari pihak ayah, sampai terus ke atas. Kemudian ibunya kakek (dari pihak ayah), kemudian neneknya kekek dari pihak ayah sam-pai terus ke atas.Kemudian saudara kandungnya, kemudian saudara perem-293 Departemen Agama RI, Kompilasi Hukum Islam, hlm. 159.
130
HUKUM PERKAWINAN MUSLIM: ANTARA FIKIH MUNAKAHAT DAN TEORI NEO-RECEPTIE IN COMPLEXU
puan seayah, kemudian saudara perempuan seibu, kemudian tantenya, kemu-dian bibinya.294
Ulamaulama terdahulu sepakat bahwa dalam kepengurusan anak yang belum mumayiz yang ditinggal mati oleh ibunya adalah nenek dari ibu bukanlah ayah, penetapan wanita lebih diutamakan sebagai yang paling berhak memegang hadanah disebabkan wanita lebih kompeten dalam mengurus anak, seperti belaian, sentuhan, dan kasih sayang lah menjadikan wanita berhak dalam pengurusan anak. Dan hal yang de mikian kurang terpenuhi bagi anak jikalau bersama ayahnya.