• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Sebelum menganut paham ateisme, subjek merupakan seorang teis yang cukup taat. Menurut Cliteur (2009), teis merupakan seseorang yang menyatakan adanya kehadiran sang pencipta. Sejak SD subjek percaya bahwa sang pencipta itu ada, hal ini juga tidak bisa dipungkiri bahwasannya dia meyakini itu karena pola asuh dan pengajaran orang tuanya yang mengajarkan dia untuk taat dan beriman kepada sang pencipta. Pada usia ini subjek selalu melaksanakan ibadah dengan rasa bangga. Subjek merupakan seorang teis yang beragama Islam. Islam merupakan agama terbesar di Indonesia. Berdasarkan survey yang dilakukan pew research center tahun 2010, sebanyak 87,2% penduduk Indonesia menganut agama Islam (Richard Susilo, 2015. Tribunnews.com).

Subjek menganut agama Islam dari masa anak-anak hingga remaja. tetapi semenjak masuk masa remaja dimana pada saat itu subjek duduk dibangku SMP, subjek mulai penasaran terhadap konsep ketuhanan dan pandangan agama. Pada masa inilah subjek memasuki tahapan awal menuju ateis yaitu detachment. Menurut Krueger (2013), tahapan ini merupakan tahapan awal dimana individu mengalami dua gejala, pertama dan yang paling penting, secara emosional,

53

memberikan alasan mengenai keraguannya atau mengidentifikasi keraguan terhadap suatu kepercayaan. Pada tahapan ini, subjek masih menanamkan ide atau ajaran agama Islam, hanya saja dia mulai ragu dengan Islam itu. Subjek tidak mempunyai alasan mengapa dirinya ragu, hanya saja dia mulai berpikir darimana Tuhan berasal, bagaimana Tuhan menciptakan bumi dll. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang membuat subjek penasaran akan Tuhan. Akan tetapi subjek masih percaya akan kehadiran Tuhan, sehingga subjek berusaha menghilangkan pikiran buruknya tentang Tuhan. Akan tetapi pertanyaan-pertanyaan yang membuat dirinya ragu akan Tuhan tak bisa ia hilangkan, justru membuat subjek semakin penasaran dan mencari jawaban atas pertanyaan yang dia miliki tersebut.

Subjek mencari jawabannya dari berbagai sumber, seperti buku, artikel, berdiskusi kepada orang lain dll. Dari berbagai sumber ini, subjek memiliki berbagai macam pandangan tentang Tuhan dan agama sehingga membuat subjek semakin bingung dan semakin ragu terhadap Tuhan. Hal ini menunjukkan subjek memasuki tahapan kedua yang dipaparkan oleh Krueger yaitu doubt. Pada tahap ini individu menentukan apa yang membuat mereka tidak nyaman atau tidak puas terhadap agama. Individu juga dapat menunjukkan kejadian yang spesifik dalam hidup mereka atau informasi yang akurat untuk menjelaskan keraguan mereka. Pada tahap ini kebanyakan berfokus pada logika dan alasan tanpa mengutamakan emosi.

Keraguan subjek yang semakin dalam didasari oleh berbagai macam faktor, yaitu pandangan ilmu pengetahuan dan pandangan agama. Thompson (2014) mengungkapkan ada 5 penyebab seseorang beralih dari percaya menjadi ateis, diantaranya: (1) orang tua dan cara asuh; (2) perkembangan sains; (3) intimidasi

secara intelektual; (4) kejahatan, rasa sakit dan penderitaan; (5) kemunafikan, ketidakadilan dan tindakan buruk oleh orang beragama. Pada masa ini, subjek mulai mengenal internet. Internet merupakan salah satu bentuk perkembangan sains yang nyata. Dengan internet, subjek bisa mendapatkan informasi apapun dengan mudah.

Internet sangat mempengaruhi subjek dalam membentuk pandangan baru terhadap Tuhan dan agama. Dari internet, subjek mencari literatur yang membahas mengenai konsep Tuhan dan agama, mencari seseorang yang sepaham dengannya melalui media sosial, membaca berita yang berkaitan dengan tindakan buruk kaum beragama. informasi-informasi baru yang diterima subjek berhasil mengganti informasi yang ada tentang agama dan Tuhan. Hal ini menyebabkan subjek terintimidasi secara intelektual. Tidak hanya dari internet, subjek sering berdiskusi dan bertanya kepada orang-orang yang dia rasa ahli dan tahu jawaban mengenai keraguannya. Akan tetapi subjek tidak menemukan jawaban yang dapat memuaskan dirinya sehingga keraguannya semakin dalam.

Pandangan ilmu pengetahuan yang selalu memberikan logika serta sudut pandang yang dapat diterima akal sehat membuat subjek makin kehilangan keimanannya. Segala bentuk teori dan fenomena alam yang terjadi mampu dijelaskan dari sudut pandang ilmu pengetahuan yang memberikan bukti nyata dan data yang jelas. Pandangan agama tidak demikian. Agama punya patokan dan acuan yaitu kitab. Pandangan kitab suci inilah yang membuat agama seolah pasif dan tidak bisa memberi jawaban dari sudut pandang yang berbeda. Soedewo P.K (2007) dalam bukanya mengutip sebuah ayat Al-Quran surat Al’Ankabuut ayat 49. Soedewo menafsirkan ayat tersebut sebagai sebuah penjelasan bahwasannya

55

apa yang terjadi atau ilmu pengetahuan yang berkembang sekarang ini sebenarnya sudah ada dan dijelaskan oleh kitab yang diturunkan Tuhan. Bagi orang beragama khususnya Islam pasti meyakini dan setuju dengan pendapat diatas, tetapi tidak halnya dengan penganut ateis seperti subjek. Dia tidak sepakat dengan pandangan mutlak yang disampaikan oleh kitab. Dia melihat kebenaran itu sebagai suatu kesombongan yang tidak bisa diganggu gugat. Hal ini kembali dikarenakan subjek telah sangat setuju dengan ilmu pengetahuan dan tidak mananamkan lagi ide agama Islam yang pernah dianutnya.

Tidak hanya itu, aksi terorisme yang diberitakan oleh media masa, tindakan brutal yang dilakukan ormas Islam di Indonesia dan tindakan buruk orang beragama lainnya juga salah satu yang menjadi faktor keraguannya terhadap ajaran Islam. Pada tahap ini dia masih percaya akan kehadiran Tuhan, hanya saja dia ragu terhadap ajaran agama Islam. Dia merasa apa benar Tuhan memerintahkan umatnya saling menghancurkan. Hal-hal yang demikian yang membuat subjek semakin ragu bahkan tidak menjalankan ibadah seperti yang dijalankan orang Islam pada umumnya. George H. Smith (2003) menyatakan bahwa seorang individu yang menganut paham ateis pada usia tengah (midle age) dikarenakan kekecewaannya terhadap agama yang ada.

Karena subjek semakin ragu dan semakin sering membaca artikel yang sepaham dengan dia, subjek mulai memisahkan diri dari Islam dan tidak mengakui Islam lagi. Subjek mulai memisahkan diri dari agama pada saat memasuki masa SMA. Terpisahnya subjek dari agamanya merupakan tahapan dimana subjek memasuki tahapan ketiga yang dijabarkan Krueger, yaitu dissiciation. Pada tahap ini individu memisahkan diri dari agama yang dianutnya

sebelumnya. Mereka menolak kepercayaan dan kebiasaan yang dilakukan agama itu.

Bagi dirinya yang sudah terpisah dari Islam, dia merasa legah secara mental. Baginya ajaran agama hanyalah sesuatu yang mengekang dan memaksa. Menurutnya, tidak harus beragama untuk menjadi manusia yang lebih baik. Semenjak memisahkan diri dari agamanya, subjek menjalankan hidup dengan cara yang humanis. Dalam sumarlin adam (2015), humanisme berarti sebuah pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkannya. Dalam paradigma humanis, manusia memiliki fitrah-fitrah tertentu yang dapat dioptimalkan.

Bagi subjek, hidup secara humanis berarti lebih memandang manusia sebagai manusia. Berbuat baik sesama manusia. Saling menolong dan tidak merugikan orang lain. Subjek percaya setiap manusia pada dasarnya memiliki kebaikan didalam dirinya, tanpa harus beragama manusia juga bisa berbuat baik.

Setelah terpisah dari agamanya, kini subjek mulai mencari-cari tempat dan orang-orang yang memiliki pandangan yang sama terhadap dirinya. Melalui media sosial facebook subjek menemukan sebuah komunitas ateis dan membuat subjek tertarik membaca dan mengetahuinya lebih dalam. Kemudian subjek bergabung dengan salah satu komunitas bernama ABAM (anda bertanya ateis menjawab). Ini merupakan tahap keempat yang dilalui subjek menurut Krueger, yaitu transision. Pada tahap ini individu mencoba untuk mencari identitas alternatif yang menjembatani jarak antara identitas agama dan yang tidak. Fase transisi dapat membantu individu untuk mendapatkan identitas barunya. Pada

57

akhir tahap ini, individu akan menyadari identitas mana yang sesuai dengan dirinya.

Pada saat bergabung, subjek belum menjadi seorang ateis. Tetapi berbagai macam pandangan yang diberikan membuat subjek kembali terintimidasi secara intelektual dan berfikir bahwasannya ateis merupakan paham atau pemikiran yang selama ini dicarinya. Logika-logika yang diberikan oleh orang-orang ateis yang mengarah kepada ketiadaan Tuhan membuat keimanan subjek semakin goyah. Subjek memandang positif orang-orang yang berada di komunitas tersebut. Subjek merasa nyaman karena memiliki pandangan serta asumsi yang sama.

Setelah melewati masa transisi, pada akhirnya subjek memasuki tahap terakhir yang disampaikan oleh Krueger yaitu declaration. Pada tahap ini individu tidak lagi mempercayai bentuk atau kebiasaan agama manapun. Mereka meninggalkan kepercayaannya untuk mejalankan hidup dengan cara pandang duniawi. Akhirnya mereka mengenali bahwa mereka tidak lagi percaya pada yang kuasa. Mereka menemukan identitas yang sesuai yang dapat menggambarkan kepercayaan mereka.

Ateis menjadi sebuah paham yang subjek pilih pada saat masuk kuliah. Dia tidak lagi menanamkan ide agama manapun bahkan dia tidak lagi percaya dengan kehadiran Tuhan. Subjek sudah mengakui dirinya sebagai seorang ateis. Le Poidevin (dalam Cliteur, 2009) mengatakan bahwa Ateis adalah orang yang menolak keberadaan pencipta semesta, bukan semata-mata hanya hidup tanpa mengacu pada pencipta tetapi juga memiliki kesadaran dan posisi yang tegas. Mereka mengangap bahwa kepercayaan pada Tuhan adalah irasional sehingga harus ditolak.

Setelah mengakui dirinya sebagai ateis, kini subjek merasakan hal positif, yaitu merasa lebih legah karena dia menganggap selama ini Tuhan dan agama telah membelenggu diri subjek. Dia menganggap kini dirinya tidak lagi terikat oleh ajaran agama yang memaksa. Selama ini dia merasa ada sosok yang harus disembah padahal wujudnya saja tidak dia ketahui. Dan sekarang subjek merasa lebih legah dan bebas melakukan sesuatu bukan karna ada yang ditakuti dan memerintah, tetapi karena pemikiran dan perasaan subjek sendiri.

Menjadi seorang ateis bukan tanpa hambatan. Cliteur (2009) menjelaskan bahwa pada abad ke-18 dan ke-19, penganut ateis di kritik karena pandangan mereka yang akan merusak moral dan menghilang makna dari hidup. Subjek pun juga dianggap demikian oleh sebagian kalangan, terutama orang-orang yang sangat taat dalam menjalankan agama. Selain mendapat tentangan dari orang beragama, subjek akan kesulitan berada dilingkungan baru dan dilingkungan keluarga. Subjek tidak dapat terbuka secara jelas mengenai pahamnya dan hanya bisa berpura-pura beragama. dalam pemilihan pasangan hidup nantinya juga merupakan hambatan yang dialami subjek karena paham yang dianut subjek.

Tidak semua orang dapat menerima pandangan ateis. Sejak dulu hingga sekarang paham ateis terus ditentang karena dianggap dapat merusak moral. Zuckerman (2009) melakukan sebuah studi yang memiliki hasil bahwa ateisme secara positif berhubungan dengan kesejahteraan sosial. Ateisme berkorelasi positif dengan pendidikan tinggi dan kemampuan verbal yang baik, rendahnya prasangka (prejudice), etnosentrisme, rasisme, homofobia, tingginya dukungan terhadap kesetaraan gender, dan pengasuhan anak yang mempromosikan pemikiran yang bebas bukan melalui hukuman fisik. Hal tersebut menunjukkan

59

sebenarnya belum tentu pemahaman ateis dapat merusak moral manusia. Hambatan-hambatan seperti itulah yang menjadi sebuah tantangan yang harus dilewati subjek dalam menjalani hidup sebagai seorang ateis.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan diuraikan kesimpulan dan saran-saran sehubungan dengan hasil yang diperoleh dari penelitian ini. Pada bagian pertama akan dijabarkan kesimpulan dari penelitian ini dan pada bagian akhir akan dikemukakan saran- saran baik yang bersifat praktis maupun metodologis yang mungkin dapat berguna bagi penelitian yang akan datang dengan topik yang sama.

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisa data yang telah dilakukan pada bagian sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sbujek melalui 5 tahapan proses menuju ateis yang telah dijabarkan oleh Krueger. Pada tahap detachment, subjek mengalami keraguan terhadap eksistensi Tuhan dan agama. Pada tahap ini, subjek mulai mempertanyakan asal Tuhan, bagaimana bumi tercipta dan sebagainya. Akan tetapi dia tidak tahu mengapa dia mulai ragu. Keraguannya muncul semata-mata hanya karena rasa penasaran subjek terhadap Tuhan. Tidak ada alasan yang pasti yang dapat menjelaskan keraguannya. Subjek juga berusaha menghilangkan pikiran buruknya mengenai Tuhan.

Pada tahap kedua yaitu doubt, keraguan subjek terhadap Tuhan semakin dalam, terutama terhadap pandangan agama. Banyak hal yang mempengaruhi subjek, salah satunya pandangan dan perkembangan sains atau ilmu pengetahuan. Bagi subjek, ilmu pengetahuan memberikan pandangan yang logis dapat dapat diterima dengan mudah oleh akal sehat. Berbeda dengan agama, ilmu

61 ini tercipta. Ilmu pengetahuan dapat menjelaskan sebab yang mengakibatkan sesuatu tercipta. Bagi subjek, pandangan agama tidak seperti itu, agama hanya menyuruh umat manusia untuk percaya atau beriman bahwa sesungguhnya Tuhan yang menciptakan tanpa ada proses atau suatu alasan secara konkrit kenapa bumi bisa tercipta.

Selain pandangan dan perkembangan ilmu pengetahuan, kekecewaannya terhadap tindakan dan perilaku buruk orang beragama juga mempengaruhi dan membuat keraguan subjek semakin dalam. Menurut subjek, orang beragama seharusnya bisa berperilaku secara baik, tanpa adanya perbedaan pendapat yang menyebabkan konflik tercipta. Peperangan, bom bunuh diri, dan lain sebagainya merupakan suatu fenomena nyata yang dilihat subjek sebagai suatu tindakan buruk yang dilakukan orang beragama. Dengan adanya faktor-faktor tersebut membuat subjek semakin ragu terhadap agama dan Tuhan. Subjek mulai tidak menjalankan ritual agama yang selama ini dilakukannya sebagai seorang muslim.

Pada tahap ketiga yaitu dissociation, subjek mulai memisahkan diri dari agama yang dianutnya sebelumnya. Walaupun subjek masih percaya bahwa Tuhan itu ada, tetapi tidak satupun ide agama yang dia tanamkan pada dirinya. Subjek merasa terbebas dan tidak terikat lagi oleh agama manapun. Selama menganut agama, subjek merasa terkekang terhadap agama tersebut, subjek merasa melakukan sesuatu karena ada yang menyuruhnya untuk itu. Pada tahap ini subjek tidak merasakan lagi hal yang demikian. Subjek melakukan sesuatu berdasarkan apa yang dia pikirkan dan dia rasakan. Bagi subjek, melakukan sesuatu atau berbuat baik tidak harus ada yang menyuruh untuk melakukan itu.

Pada tahap keempat yaitu transision, subjek mulai mencari orang-orang yang memiliki pandangan yang sama terhadap subjek. Pada tahap inilah subjek menemukan suatu komunitas online di media sosial facebook. Komunitas ini bernama ABAM (anda bertanya ateis menjawab). Ada pun komunitas lain yang dikunjungi subjek seperti AI (ateis indonesia). Pada komunitas ateis inilah subjek menemukan orang-orang yang memiliki pandangan sama terhadap dirinya mengenai Tuhan dan agama. Berbagai pertanyaan yang sama, asumsi yang sama, serta jawaban yang sama, subjek merasa bahwa inilah yang selama ini dicarinya. Subjek merasa nyaman didalamnya.

Pada tahap terakhir yaitu declaration, subjek mulai mengakui dan menyatakan dirinya sebagai seorang ateis. Bagi subjek Tuhan hanyalah sebuah pandangan semu, ide yang tidak masuk akal yang diciptakan manusia itu sendiri. Bagi subjek, segala sesuatu terjadi dan tercipta harus ada hal yang mendasarinya. Tuhan yang selama ini dia percayai, baginya yang sekarang hanyalah sebuah cerita dongeng, Tuhan itu tidak ada. Tetapi keputusannya menjadi seorang ateis bukan tanpa hambatan. Di Indonesia yang merupakan negara yang mayoritas beragama, menjadi seorang ateis akan sangat sulit diterima di masyarakat umum, terutama di lingkungan keluarga. Subjek belum berani menyatakan dirinya sebagai seorang ateis terhadap keluarganya. Subjek takut membuat kecewa keluarganya yang selama ini telah mendidik dan membesarkan dia. Bukan hanya itu, subjek juga dapat menjadi musuh bagi orang beragama yang sangat taat terhadap agama dan Tuhan. Selain itu juga, subjek akan merasa kesulitan dalam pemilihan pasangan hidup nantinya. Belum tentu seseorang mau menerimanya

63 lingkungan baru. Selama ini, sebagian besar teman-teman subjek sudah mengetahui dan dapat menerima pandangan subjek. Akan tetapi akan sulit bagi subjek jika dia berada di lingkungan baru, oleh karena itu subjek terus menggunakan topeng agama. Jika berada di lingkungan yang tidak mengenal subjek secara baik, subjek akan berpura-pura menjadi seorang muslim.

B. SARAN 1. Saran Metodologis

Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti topik yang sama diharapkan dapat mengeambil subjek yang memiliki background keluarga selain muslim. Agar dapat melihat pandangan ateis dan agama serta Tuhan dari sudut pandang yang berbeda.

Selain itu juga, pemilihan pasangan hidup bagi penganut paham ateisme juga dapat menjadi sebuah topik yang diteliti oleh peneliti selanjutnya yang tertarik dengan ateis

2. Saran Praktis

keluarga dan rekan-rekan subjek dapat memahami dan mengarahkan serta dapat menerima paham yang dianut subjek sebagai seorang yang sudah dewasa.

BAB II

LANDASAN TEORI

Karen Amstrong dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Tuhan” (2001), menjelaskan bahwa pada mulanya manusia memunculkan satu Tuhan yang merupakan penyebab pertama bagi segala sesuatu dan penguasa langit dan bumi. Dia tidak terwakili oleh gambaran apa pun dan tidak memiliki kuil atau pendeta yang mengabdi kepadanya. Dia terlalu luhur untuk ibadah manusia yang tidak memadai. Namun seiring perkembangan zaman yang terus berubah, kehadiran Tuhan mulai muncul dalam bentuk yang berbeda-beda, serta mulai terwakili oleh kehadiran agama dan kepercayaan yang berbeda-beda. Namun, perkembangan zaman pula yang mulai membuat sosok Tuhan mulai hilang dan pudar bagi manusia. Banyak orang yang bertanya, kemana perginya Tuhan? Dimana sosok Tuhan? Bahkan tidak sedikit pula yang meragukan kehadiran Tuhan dan beranggapan Tuhan memang tidak ada. Orang-orang yang tidak percaya dengan kehadiran inilah yang disebut dengan atheis.

Lantas bagaimana seseorang bisa menjadi tidak percaya Tuhan? Apakah mereka mencari Tuhan dan tidak menemukanNya, atau mereka secara empiris membuktikan bahwa Tuhan itu memang tidak ada? Pada BAB ini peneliti berusaha menjelaskan konsep ateis, proses menuju ateis, apa saja yang menyebabkan seseorang menjadi seorang ateis serta apa saja yang dihadapinya keika memutuskan menjadi seorang ateis.

13 A. Definisi Ateis

Pengertian ateis menurut Cliteur adalah seseorang yang menolak apa yang teis coba untuk buktikan. Teis adalah sebutan bagi mereka yang percaya pada tuhan (Cliteur,2009). Le Poidevin (dalam Cliteur, 2009) mengatakan bahwa Ateis adalah orang yang menolak keberadaan pencipta semesta, bukan semata-mata hanya hidup tanpa mengacu pada pencipta tetapi juga memilik kesadaran dan posisi yang tegas. Mereka mengangap bahwa kepercayaan pada Tuhan adalah irasional sehingga harus ditolak. Gora (1979) menyatakan bahwa Ateis menganut paham Ateisme yang mengutamakan kebebasan individu, memahami realita dengan membedakan iman dan kenyataan. Ateis menggunakan imajinasi dengan bebas untuk mendapatkan pengetahuan tidak langsung, membentuk opini, memformulasi teori, tetapi tetap membuka pikiran seluas-luasnya.

Berdasarkan pengertian yang telah dipaparkan sebelumnya, ateis adalah individu yang tidak memiliki kepercayaan terhadap Tuhan dalam bentuk apapun sehingga memahami realita berdasarkan akal mereka, melalui kenyataan yang terjadi, bukan berdasarkan iman kepada Tuhan dalam bentuk apapun.

B. Penyebab Seseorang Menjadi Ateis

Terdapat beberapa penyebab yang membuat seseorang beralih dari percaya menjadi tidak percaya (Ateis). Thompson (2014) dalam bukunya yang berjudul The Many Faces, Causes of Unbelief mengungkapkan beberapa penyebab tersebut, diantaranya:

1. Orangtua dan Cara Asuh

Individu tentu banyak berinteraksi secara sosial dengan orang lain, namun yang paling mempengaruhinya adalah melalui orangtua. Di masa kanak-kanak, pikiran anak merupakan sesuatu yang dapat menyerap apa saja yang diberikan oleh orangtuanya. Bila sedari dini anak diberikan disiplin, contoh panutan yang baik serta instruksi dalam hal keagamaan yang dapat menumbuhkan iman anak, tentu hal tersebut akan melekat pada diri anak dan ia akan melakukan dan mengimani agamanya dengan baik, sesuai ajaran orangtuanya. Namun, bila yang didapatkan anak adalah kurang diterapkannya kedisiplinan, kurangnya instruksi dan lemahnya contoh panutan dalam beragama, hingga rasa kecewa terhadap orangtua, hal tersebut dapat melemahkan iman anak sehingga anak menjadi tidak percaya, skeptis maupun menolak Tuhan.

2. Perkembangan Sains

Pada saat ini manusia hidup di era perkembangan sains dan ilmu pengetahuan yang semakin maju, mulai dari perkembangan sains dan ilmu pengetahuan yang semakin maju, mulai dari perkembangan alat komunikasi hingga transportasi. Penelitian-penelitian dalam kesehatan, pendidikan juga meningkat dengan pesat. Namun sayangnya, karena kemajuan yang begitu pesat, sains sangat dipuja dan dianggap sakral bagi sebagian orang sehingga menganggap bahwa hal baik yang mereka nikmati, seperti obat penyakit, transportasi merupakan hasil pemikiran manusia, bukan dari Tuhan. Hal tersebut

15 dikarenakan mereka mendapat sensasi kekuasaan, merasa bangga pada diri sendiri karena telah memiliki pengetahuan dan kemampuan yang semakin canggih yang berasal dari pikiran dan kerja keras mereka sehingga menolak pengajaran agama yang menekankan bahwa kebenaran mutlak adalah milik Tuhan.

3. Intimidasi Secara Intelektual

Saat ini banyak individu yang dulunya mengetahui apa yang mereka percaya dan memahami alasan mereka mempercayai hal tersebut, mulai bingung dan melemah imannya karena terintimidasi secara intelektual. Hal tersebut dikarenakan mereka mengalami disonansi kognitif ketika dihadapkan pada informasi baru yang berlawanan dengan keyakinan yang mereka anggap benar, misalnya

Dokumen terkait