• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Analisis Ekonomi

Dari hasil analisis regresi berganda menunjukkan dari keempat variabel

tersebut yaitu Non Performing Financing (NPF), Biaya Operasional Terhadap

Pendapatan Operasional (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Sertifikat

Bank Indonesia Syariah (SBIS) terhadap Laba perbankan syariah yang

berpengaruh signifikan ada variabel NPF dan BOPO. Dimana NPF Non

Performing Financing (NPF) tidak berpengaruh signifikan dan negatif terhadap

laba perbankan syariah. Ini artinya semakin tinggi tingkat non performing

financing (NPF) pada bank syariah maka akan menurunkan laba pada bank

syariah. Hal ini terjadi dikarenakan non performing financing atau kredit macet

yang tinggi maka akan memperbesar biaya, sehingga pada nantinya akan

berpotensi terhadap kerugian bank. Semakin tinggi rasio ini maka akan semakin

buruk kualitas pembiayaan bank yang menyebabkan jumlah pembiayaan non

lancar semakin besar dan karena itu bank syariah harus menanggung kerugian

dalam kegiatan operasionalnya sehingga berpengaruh terhadap penurunan laba

yang diperoleh bank syariah.

Sedangkan Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)

artinya bahwa menurunnya nilai Biaya Operasional terhadap Pendapatan

Operasional (BOPO) akan membuat Laba pada bank syariah meningkat. Hal ini

menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat beban pembiayaan bank maka laba

bank yang diperoleh bank semakin kecil. Tingginya beban biaya operasional

yang menjadi tanggungan bank pada umunya akan dibebankan pada pendapatan

yang diperoleh dari alokasi pembiayaan. Beban atau biaya kredit semakin tinggi

akan mengurangi permodalan dan laba yang dimiliki oleh bank.

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya yang berjudul “Analisis pengaruh suku bunga, inflasi, CAR, BOPO, NPF terhadap probabilitas bank syariah” yang dilakukan oleh Edhi Satriyo Wibowo dan Muhammad Syaichu (2013) yang menyatakan bahwa BOPO berpengaruh secara

negatif dan signifikan terhadap laba bersih bank. Hal ini menunjukkan bahwa

semakin tinggi tingkat beban pembiayaan bank maka laba yang diperoleh bank

akan semakin kecil. Tingginya beban biaya operasional bank yang menjadi

tanggungan bank umumnya akan dibebankan pada pendapatan yang diperoleh

dari alokasi pembiayaan. Beban atau biaya kredit yang semakin tinggi akan

mengurangi permodalan dan laba yang dimiliki bank.

Artinya beban operasional harus ditekan seminimal mungkin, serta

mengefisienkan pendapatan operasional yang didapat antara lain dari tabungan

sehingga laba atau keuntungan yang diperoleh suatu bank dapat kembali

Sedangkan Capital Adequacy Ratio (CAR) tidak berpengaruh signifikan

terhadap laba perbankan syariah. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa

besar kecilnya modal bank (CAR) bisa menyebabkan besar kecilnya keuntungan

bank. Bank yang memiliki modal besar namun tidak dapat menggunakan

modalnya itu secara efektif untuk menghasilkan laba, maka modal yang besar

pun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas bank. Selain itu

peraturan Bank Indonesia yang mensyaratkan CAR minimal 8% mengakibatkan

bank-bank selalu berusaha menjaga agar CAR yang dimiliki sesuai dengan

ketentuan.

Lebih daripada itu, jika dilihat kondisi empiris dari obyek penelitian maka

akan tampak bahwa sebagian besar bank syariah mempunyai CAR diatas 8%

bahkan sampai angka 20%. Hal ini karena adanya penambahan modal untuk

mengantisipasi perkembangan skala usaha yang berupa ekspansi kredit

(pembiayaan). Namun pada kenyataannya sampai saat ini bank belum dapat

melempar pembiayaan sesuai dengan yang diharapkan (Diah Aristya,2010).

Upaya untuk meningkatkan kinerja keuangan dengan angka CAR yang

tinggi perlu diimbangi dengan kemampuan bank dalam pengelolaaan modal

perbankan. Pengelolaan modal tersebut terkait dengan berbagai rencana bisnis

bank dalam memperkuat usahanya dalam persaingan bank syariah. Dalam hal ini

bank perlu menetapkan skala prioritas dalam menganani persaingan apakah

kapasitas penghimpunan dana nasabah. Dalam kaitannya dengan pemanfaatan

modal yang ada, bank syariah perlu melakukan pemetaan terhadap karakteristik

kegiatan ekonomi masyarakat sehingga modal yang ada dapat dialokasikan

sebagian untuk kegiatan bank yang prospektif mendatangkan keuntungan yang

besar.

Sedangkan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) tidak berpengaruh

signifikan terhadap laba perbankan syariah. Hal ini didukung pula oleh penelitian

Endri (2008) dengan penelitiannya yang berjudul “Analisis pengaruh sertifikat bank indonesia, SWBI dan indikator kinerja keuangan Bank Syariah”. Hasil penelitian yang didapatkan dimana SWBI memiliki hubungan yang positif

terhadap laba bank syariah. Terdapatnya hubungan yang positif antara SWBI

dengan laba bank syariah mengandung makna bahwa semakin tinggi SWBI

semakin tinggi pula laba yang diperoleh oleh bank syariah. Hal ini dikarenakan

kelebihan atas likuiditas dana yang tersedia untuk disalurkan pada nasabah yang

membutuhkan, dalam hal ini adalah pihak defisit unit. Atas sejumlah dana yang

ditanamkan bank syariah pada SBIS akan mendapatkan bonus yang merupakan

keuntungan bagi bank syariah. Dengan demikian semakin besar bonus yang

dihasilkan dari SBIS, maka akan semakin menarik bagi perbankan syariah untuk

menyimpan dananya di SBIS sehingga akan menurunkan jumlah pembiayaan

yang disalurkan oleh bank syariah, maka sertifikat bank indonesia syariah di

dilakukan Widyastuti dan Anwar (2009) dampak yang ditimbulkan akibat

instrumen moneter syariah yaitu SBIS akan menurunkan (perubahan)

pembiayaan. Dengan menempatkan kelebihan atas sejumlah dana pada instrumen

moneter syariah yaitu SBIS yang memiliki dampak dan resiko yang lebih minim

terhadap kinerja perbankan syariah bila dibandingkan dengan isntrumen moneter

syariah lainnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar tidak terdapat dana yang

menganggur (idle fund) sehingga dana pada perbankan syariah dapat tersalurkan

secara optimal.

Hanya saja bank syariah kurang dalam promosi yang dilakukan masih

sangat kurang, sehingga masih banyak masyarakat yang tidak mengerti

bagaimana mengakses sertifikat bank indonesia syariah. Aspek pendanaan

memang menjadi kendala utama dalam melakukan promosi di bank syariah,

minimnya anggaran promosi yang dimiliki menyebabkan kurang gencarnya

promosi yang dilakukan oleh bank syariah. Sementara anggaran promosi di bank

konvensional relatif lebih besar dibandingkan dengan di bank syariah, akhirnya

menyebabkan gaung perbankan syariah masih kalah dibandingkan dengan

BAB V

Dokumen terkait