• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Data dan Pembahasan

1. Uji Asumsi klasik a. Uji Normalitas

Uji Normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah

menggunakan uji Jarque Bera dengan melihat nilai probability. Jika

probability lebih besar dari nilai derajat α = 0.05, maka penelitian ini tidak ada permasalahan normalitas atau dengan kata lain data

terdistribusi normal. Sebaliknya, jika nilai probability lebih kecil dari nilai derajat kesalahan α = 0.05, maka dalam penelitian ini ada permasalahan normalitas atau dengan kata lain data tidak terdistribusi

normal.

Tabel 4.1

Sumber : output Eviews 6.0 yang diolah

Berdasarkan tabel 4.1 menggambarkan bahwa data dalam

penelitian ini berdistribusi normal. Terlihat dari nilai probability sebesar

0.079075 yang lebih besar dari derajat kepercayaan 0.05 (5%) sehingga

dapat dinyatakan signifikan. Menurut Winarno (23:2009) menyatakan

Probability bernilai lebih dari 0.05 (5%) maka data dapat dikatakan

hasil regresi tersebut sudah berdistribusi normal dan H0 diterima. Jika

sudah dikatakan normal, maka data tersebut menghasilkan estimasi

liniet tidak bias atau biasa disebut BLUE (Best Linier Unbiased

Estimator).

Menurut Nachrowi (2006:71) yang berarti model regresi tidak

mengandung masalah dan bisa dilanjutkan pada uji selanjutnya.

b. Uji Multikolinearitas 0 4 8 12 16 20 -2.0 -1.5 -1.0 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5 Series: Residuals Sample 1 52 Observations 52 Mean -5.70e-15 Median 0.238106 Maximum 1.328697 Minimum -1.799316 Std. Dev. 0.740553 Skewness -0.762779 Kurtosis 3.121859 Jarque-Bera 5.074716 Probability 0.079075

Uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya

hubungan (korelasi) yang signifikan diantara dua atau lebih variabel

independen dalam model regresi. Deteksi adanya multikolinearitas

dilakukan dengan menggunakan uji korelasi parsial antar variabel

independen.Dengan melihat nilai koefisien korelasi (r) antar variabel

independen dapat diputuskan apakah data terkena multikolinearitas atau

tidak, yaitu dengan menguji koefisien korelasi antar variabel

independen.Jika terjadi korelasi, maka terdapat multikolinearitas,

dimana model regresi yang baik adalah tidak terjadi multikolinearitas

antar variabel independen dengan variabel dependen. Hasil pengujian

multikolinearitas menggunakan uji korelasi (r) dapat dilihat sebagai

berikut :

Tabel 4.2

Hasil Uji Correlation Matrix

Sumber : output Eviews 6.0 yang diolah

Dari tabel 4.2 diatas dapat dilihat hasil analisis uji multikolinearitas

dengan Correlation Matrix menunjukkan bahwa korelasi antar variabel

NPF BOPO CAR LNSBIS

NPF 1.000000 0.393855 -0.321114 -0.535033 BOPO 0.393855 1.000000 -0.370231 -0.246047 CAR -0.321114 -0.370231 1.000000 0.412760 LNSBIS -0.535033 -0.246047 0.412760 1.000000

independen NPF dan BOPO maupun sebaliknya sebesar 0.393855,

antara NPF dan LNSBIS maupun sebaliknya sebesar - 0.535033, antara

NPF dan CAR maupun sebaliknya sebesar -0.321114, antara BOPO

dan LNSBIS maupun sebaliknya sebesar -0.246047, dan antara BOPO

dan CAR maupun sebaliknya sebesar -0.370231, dan antara LNSBIS

dan CAR maupun sebaliknya sebesar 0.412760.

Terlihat dari tabel 4.2 diatas nilai korelasi dari masing-masing

variabel independen dibawah atau lebih kecil dari 0.8 sehingga dapat

disimpulkan H0 diterima, bahwa data tersebut terbebas dari

multikolinieritas dan model Ordinary Least Square (OLS) yang

dilakukan dapat dikatakan terbebas dari gejala multikolinieritas.

Sehingga dapat dilanjutkan ke pengujian selanjutnya yaitu uji

Heteroskedastisitas.

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam

model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu

pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas

dan jika variance tidak konstan atau berubah-ubah disebut Denfan

Heterokedastisitas. Model regresi yang baik adalah Homoskedastisitas

Metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya

heteroskedastisitas pada penelitian ini adalah Uji White.

Tabel 4.3

Hasil Uji White Heteroskedasticity Test Heteroskedasticity Test: White

F-statistic 0.591157 Prob. F(4,47) 0.6707

Obs*R-squared 2.490867 Prob. Chi-Square(4) 0.6463

Scaled explained SS 2.158868 Prob. Chi-Square(4) 0.7066

Sumber : output Eviews 6.0 yang diolah

Dari tabel 4.3 diatas diketahui bahwa nilai Obs*R2 sebesar

2.490867 dan Probabilitas Chi-Square sebesar 0.6463 yang lebih besar

dari tingkat kepercayaan sebesar 0.05 (5%) sehingga dapat disimpulkan

bahwa data tersebut tidak bersifat heteroskedastisitas atau H0 diterima.

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi untuk mengetahui apakah dalam model regresi ada

korelasi antara kesalahan pada periode waktu yang lain. Untuk

mendeteksi masalah autokorelasi digunakan uji Langrange Multiplier

(LM-Test). Uji ini sangat berguna untuk mengidentifikasi masalah

autokorelasi tidak hanya pada derajat pertama (first order) tetapi juga

Uji autokorelasi dapat dilihat dari nilai probabilitas Chi-Square.Jika

probabilitas Chi-Square lebih besar dari tingkat signifikan 5% maka

tidak terdapat autokorelasi dan sebaliknya jika probabilitas Chi-Square

lebih kecil dari 5% maka terdapat autokorelasi.

Tabel 4.4

Hasil Uji Langrange Multiple Test Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:

F-statistic 2.242666 Prob. F(34,13) 0.0606

Obs*R-squared 44.42582 Prob. Chi-Square(34) 0.1087

Sumber : output Eviews 6.0 yang diolah

Berdasarkan tabel 4.3, menunjukan bahwa Obs*R-squared sebesar

44.42582. Nilai probabilitas Chi-Square adalah 0.1087 yang berarti nilainya lebih besar dari α = 5% yaitu (0.05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model tidak ada masalah heteroskedastisitas.

Hal ini menginformasikan model OLS yang diajukan dapat dikatakan

terbebas dari heteroskedastisitas sehingga bisa dilanjutkan kepengujian

selanjutnya.

Hasil pengolahan data atau hasil estimasi yang dilakukan dengan

menggunakan program aplikasi komputer Eviews 6 dengan menggunakan

metode regresi linier berganda atau Ordinary Least Square (OLS) yang

ditampilkan pada tabel berikut :

Tabel 4.5

Hasil Regresi Metode Ordinary Least Square (OLS) Dependent Variable: LNLABA

Method: Least Squares Date: 05/31/14 Time: 06:39 Sample: 1 52

Included observations: 52

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

NPF -29.05347 11.92446 -2.436460 0.0187

BOPO -8.338904 3.756054 -2.220123 0.0313

CAR -7.980407 6.004527 -1.329065 0.1902

LNSBIS 0.046531 0.352222 0.132108 0.8955

C 34.84170 10.52434 3.310582 0.0018

R-squared 0.284784 Mean dependent var 27.47153

Adjusted R-squared 0.223915 S.D. dependent var 0.875665 S.E. of regression 0.771423 Akaike info criterion 2.410051 Sum squared resid 27.96937 Schwarz criterion 2.597670 Log likelihood -57.66132 Hannan-Quinn criter. 2.481980 F-statistic 4.678614 Durbin-Watson stat 0.826272 Prob(F-statistic) 0.002920

Sumber : output Eviews 6.0 yang diolah

Dari tabel 4.5 diatas, maka dapat disusun persamaan regresi linier berganda

sebagai berikut :

LNLABA = 34.84170 - 29.05347 NPF – 8.338904 BOPO -7.980407 CAR + 0.046531 LNSBIS

1) Jika segala sesuatu variabel independen dianggap konstan atau

bernilai nol, artinya variabel independen tidak terjadi kenaikan atau

penurunan maka besarnya nilai laba adalah sebesar 34.84170 persen

2) Nilai koefisien regresi non performing financing (NPF) sebesar -

29.05347 persen yang berarti setiap peningkatan NPF sebesar 1

persen maka akan menurunkan laba sebesar 29.05347 persen.

3) Nilai koefisien regresi biaya operasional terhadap pendapatan

operasional (BOPO) sebesar – 8.338904 persen yang berarti setiap peningkatan BOPO sebesar 1 persen maka akan menurunkan laba

sebesar 8.338904 persen.

4) Nilai koefisien regresi capital adequacy ratio (CAR) sebesar

--7.980407 persen yang berarti setiap peningkatan capital adequacy

ratio (CAR) 1 persen maka akan menurunkan laba sebesar 7.980407

persen.

5) Nilai koefisien regresi sertifikat bank indonesia syariah (LNSBIS)

sebesar 0.046531 persen yang berarti setiap peningkatan sertifikat

bank indonesia syariah 1 persen maka akan meningkatkan laba

sebesar 0.046531 persen.

Uji-t bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial (individu)

variabel-variabel independen (NPF, BOPO, CAR, dan SBIS) terhadap

variabel dependen yaitu LABA. Salah satu cara untuk melakukan uji-t

adalah dengan melihat nilai probabilitas pada tabel uji statistik t. Apabila nilai probabilitas lebih kecil dari tingkat signifikan α = 0.05 berarti variabel independen secara parsial (individu) mempengaruhi

variabel dependen.

Dari hasil tabel 4.5 bahwa didapatkan dari uji statistik t yang

dilakukan adalah sebagai berikut :

a) Pengaruh t-statistik untuk non performing financing (NPF) terhadap

laba.

Berdasarkan pada tabel 4.5 diperoleh hasil t-hitung sebesar

- 2.436460 dengan tingkat signifikan 0.0187. Karena tingkat

signifikan lebih kecil dari 0.05 maka secara parsial NPF berpengaruh

secara signifikan dan negatif terhadap laba.

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang berjudul “Faktor yang mempengaruhi laba Perbankan Syariah” oleh Sigit Setiawan dan Winarsih (2011) mengatakan bahwa non performing financing

terhadap laba bank syariah menghasilkan nilai signifikansi 0.001 >

0.05. Hasil regresi menunjukkan bahwa nilai yang diperoleh dari

koefisien sebesar -0.220951 dengan tingkat signifikansi 0.0008. Hal

yang signifikan dengan arah negatif. Dengan kata lain semakin kecil

NPF maka akan membawa dampak pada peningkatan Laba. Tingkat

kesehatan pembiayaan (NPF) ikut mempengaruhi pencapaian laba

bank (Suhada,2009). Apabila suatu bank kondisi NPF-nya tinggi

akan mengakibatkan kehilangan kesempatan untuk memperoleh

pendapatan dari pembiayaan yang diberikan, dan menambah biaya

pencadangan aktiva produktif. Semakin tinggi NPF akan menurunkan

profitabilitas bank. Hal ini menunjukkan ancaman bank dari kredit

bermasalah semakin besar atau kecil kemungkinan suatu bank dalam

kondisi sehat. Sebuah lembaga perbankan harus dapat meminimalisir

kredit bermasalah, sehingga kepercayaan masyarakat tetap terjaga.

b) Pengaruh t-statistik untuk biaya operasional terhadap pendapatan

operasional (BOPO) terhadap laba.

Hasil Regresi menunjukkan bahwa nilai yang diperoleh dari

koefisien sebesar - 2.220123 dengan tingkat signifikansi sebesar

0.0313. Hal ini berarti BOPO berpengaruh secara negatif dan

signifikan terhadap Laba dan menunjukkan bahwa menurunnya nilai

Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) akan

membuat Laba pada bank syariah meningkat. Hal ini menunjukkan

bahwa semakin tinggi tingkat beban pembiayaan bank maka laba

operasional yang menjadi tanggungan bank pada umunya akan

dibebankan pada pendapatan yang diperoleh dari alokasi

pembiayaan. Beban atau biaya kredit semakin tinggi akan

mengurangi permodalan dan laba yang dimiliki oleh bank.

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian sebelumnya yang berjudul “Analisis pengaruh suku bunga, inflasi, CAR, BOPO, NPF terhadap probabilitas bank syariah” yang dilakukan oleh Edhi Satriyo Wibowo dan Muhammad Syaichu (2013) yang menyatakan

bahwa BOPO berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap

laba bersih bank. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat

beban pembiayaan bank maka laba yang diperoleh bank akan

semakin kecil. Tingginya beban biaya operasional bank yang menjadi

tanggungan bank umumnya akan dibebankan pada pendapatan yang

diperoleh dari alokasi pembiayaan. Beban atau biaya kredit yang

semakin tinggi akan mengurangi permodalan dan laba yang dimiliki

bank.

Artinya beban operasional harus ditekan seminimal mungkin,

serta mengefisienkan pendapatan operasional yang didapat antara lain

dari tabungan sehingga laba atau keuntungan yang diperoleh suatu

bank dapat kembali meningkat.

c) Pengaruh t-statistik untuk Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap

Laba.

Hasil regresi CAR menunjukkan bahwa nilai yang diperoleh

dari koefisien sebesar -1.329065 dengan tingkat signifikansi sebesar

0.1902. Hal ini berarti CAR berpengaruh secara negatif dan tidak

signifikan terhadap laba dan menunjukkan CAR yang tinggi tidak

menjamin peningkatan laba yang tinggi. Hasil penelitian ini

didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Dhian Dayinta

Pratiwi dan Kholiq Mahfud yang berjudul “Pengaruh CAR, BOPO,

NPF dan FDR Terhadap ROA Bank Umum Syariah” (2011) dalam

penelitiannya diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa CAR

berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap laba perbankan.

Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kondisi bank

syariah di Indonesia mulai mengarah ke arah yang baik setelah

terjadinya krisis ekonomi. Semakin efisien modal bank bank yang

digunakan untuk aktivitas operasionalnya mengakibatkan bank

mampu untuk meningkatkan labanya. Pihak manajemen bank sangat

perlu untuk memperhatikan besarnya CAR yang ideal, jangan terlalu

tinggi karena akan meningkatkan dana yang idle dan juga jangan

terlalu rendah karena akan dapat menyebabkan permasalahan bagi

sehingga dana pihak ketiga bank sangat dimungkinkan akan

mengalami penurunan yang drastis.

Tingkat CAR sangat mempengaruhi kepercayaan masyarakat

terhadap bank, dimana kepercayaan masyarakat merupakan modal

dasar bagi kelangsungan lembaga keuangan ini. Tingkat CAR yang

ideal akan sangat menguntungkan bagi bank dan dapat meningkatkan

kepercayaan masyarakat sebagai pemilik dana sehingga masyarakat

akan memiliki keinginan yang lebih untuk menyimpan dananya di

bank (Kartika Wahyu Sukarno dan Muhamad Syaichu 2006:53).

d) Pengaruh t-statistik untuk Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS)

terhadap Laba.

Berdasarkan pada tabel 4.5 diperoleh hasil t-hitung sebesar

0.352222 dengan tingkat signifikan 0.8955. Karena tingkat signifikan

lebih besar dari 0.05 maka secara parsial SBIS berpengaruh secara

positif dan tidak signifikan terhadap laba.

Hal ini didukung pula oleh penelitian Endri (2008) dengan

penelitiannya yang berjudul “Analisis pengaruh sertifikat bank indonesia, SWBI dan indikator kinerja keuangan Bank Syariah”. Hasil penelitian yang didapatkan dimana SWBI memiliki hubungan

yang positif terhadap laba bank syariah. Terdapatnya hubungan yang

bahwa semakin tinggi SWBI semakin tinggi pula laba yang diperoleh

oleh bank syariah.

b. Uji Fisher (Uji-F)

Uji-F bertujuan untuk mengetahui pengaruh semua variabel

independen (NPF, BOPO, CAR dan SBIS) secara simultan

(bersama-sama) terhadap variabel dependen yaitu Laba.

Berdasarkan tabel 4.5 diperoleh hasil F-statistik sebesar 4.678614

dengan nilai probabilitas (F-stat) sebesar 0.002920. Karena probabilitas

(F-stat) lebih kecil dari 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa NPF,

BOPO, CAR dan SBIS secara bersama-sama mempunyai pengaruh

secara signifikan terhadap Laba.

3. Uji Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi R2 yang digunakan dalam penelitian ini

adalah menggunakan nilai adjusted R2 pada saat mengevaluasi model

regresi terbaik. Dikarenakan dalam penelitian ini menggunakan lebih

darisatu variabel independen.

Berdasarkan hasil regresi pada tabel 4.5 dapat diketahui bahwa

nilai Adjusted R-Squared sebesar 0.223915, hal ini menunjukkan

bahwa variasi variabel dependen (laba) secara bersama-sama mampu

SBIS) sebesar 22.39 persen. Sedangkan sisanya sebesar 77.61 persen

dijelaskan oleh variabel lain diluar variabel yang diteliti.

Dokumen terkait