• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5. Pembahasan

Kegagalan berbagai pedesaan program pedesaan di masa lalu disebabkan antara lain karena penyusunan, pelaksanaan, dan evaluasi program-program pembangunan yang kurang melibatkan partisipasi masyarakat. Proses

pembangunan lebih mengedepankan paradigma politik sentralistik dan dominannya peranan negara pada arus utama kehidupan bermasyarakat. Terlalu besarnya dominasi negara selama ini yang menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk melakukan perubahan yang mendasar pada pemerintahan Desa. Proses perencanaan, pengambilan keputusan program pembangunan kerap kali dilakukan dengan sistem dari atas kebawah (top-down). Rencana program-program pembangunan di seragamkan dibuat di tingkat pusat (atas) dan dilakukan oleh pemerintah dan provinsi, kabupaten, sedangkan potensi setiap daerah berbeda-beda.

Sistem perencanaan pembangunan top down yang bersifat sentralistik ini menyebabkan mandulnya partisipasi masyarakat. Sejauh ini, partisipasi masyarakat masih terbatas pada keikutsertaan dalam pelaksanaan program-program kegiatan pemerintah, padahal partisipasi masyarakat tidak hanya diperlukan pada saat pelaksanaan tetapi juga mulai dari tahap perencanaan bahkan pengambilan keputusan. Kelahiran Undang-Undang Nomar 32 tahun 2004 yang labih dikenal dengan Undang-Undang pemerintah Daerah memberikan kesempatan kepada masyarakat Desa untuk mengatur dan mengurus rumah tanggahnya sendiri, dengan persyaratan yang diamatkan dalam Undang-Undang tersebut, yakni diselanggarakan dengan memperlihatkan pronsip-prinsip demokrasi. Peran serta masyarakat, pemerataan, keadilan, serta memperlihatkan potensi dan keaneka ragaman daerah. Dimana dominasi negara berubah menjadi institusi lokal, untuk itu peran serta langsung masyarakat sengat diperlukan dan terus diperkuat dan diperluas. Dengan demikian istilah partisipasi tidak sekedar

menjadi retorika semata tetapi diaktualisasikan secara nyata dalam berbagai kegiatan dan pengambilan kebijakan pembangunan. Partisipasi dalam pembangunan dipandang sebagai sebuah metodologi yang mengantarkan pelaku-pelakunya untuk dapat memahami masalah-masalah yang dihadapi, sehingga dapat menganalisis dan mencari solusi dari masalah yang dihadapi tersebut, sehingga memberikan kerangka untuk pemantauan dan evaluasi pelaksanaan. Pemerintah Desa sebagai ujung tombak pembangunan yang mana keberadaan dari pemerintahan Desa berhubungan langsung dengan masyarakat.

Otonomi daerah merupakan suatu skema baru yang didalamnya termuat semangat melibatkan masyarakat, dengan menekankan bahwa kualitas otonomi daerah akan ditentukan oleh sejauh mana masyarakat, maka dengan sendirinya harus ditunjukan adanya saluran aspirasi masyarakat semenjak dini.

Pembangunan masyarakat Desa merupakan gerakan pembangunan yang didasarkan atas peran serta dan swadaya gotong royong masyarakat. Atas hal tersebut maka kesadaran, peran dan swadaya masyarakat perlu ditingkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan akan dirasakan sebagai suatu kewajiban bersama. Dengan partisipasi dan peran serta disini bukan berarti masyarakat itu hanya berfungsi untuk memberikan dukungan dan keikutsertaan dalam proses pembangunan, tetapi juga menikmati hasil-hasil pembangunan itu sendiri. Dengan demikian akan tercipta sense of beloging dan sense of responsibility dalam proses pembangunan menunju tercapainya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam masyarakat Desa, pembangunan partisipatif merupakan sebuah instrumen yang sangat penting. Sebab pembangunan partisipatif merupakan salah satu dari serangkain perencanaan tersebut adalah tahap awal yang sangat menentukan bagi keberhasilan proses pembangunan khususnya di Desa.

Hal ini memungkinkan Desa menjadi penyedia tenaga kerja terbesar dan sisi lain menjadi basis massa yang kerap dimobilisasi demi kepentingan politik. Dari sisi sumber daya alam, Desa merupakan pensuplai utama sumber bahan makan penduduk kota-kota besar oleh karena itu, pada fase ini sudah selaknya perencanaan pembangunan di Desa merupakan sebuah hasil proses musyawarah yang senantiasa memperhatikan aspirasi masyarakat secara utuh. Dengan demikian Desa semakin dituntut kesiapannya dalam hal merumusankan kebijakan Desa, merencanakan pembangunan Desa yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Demikian juga dalam mengembangkan atau menciptakan kondisi yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kreativitas dan inovasi masyarakat dalam mengelola dan menggali pontesi yang ada, sehingga tercipta Desa yang otonom yaitu Desa yang mampu memenuhi kepentingan dan kebutuhan yang diperlukan. Masyarakat sebagai obyek pembangunan berarti masyarakat terkena langsung atas kebijakan dan kegiatan pembangunan. Dalam hal ini perlu masyarakat ikut dilibatkan baik dari segi formulasi kebijakan maupun aplikasi kebijakan tersebut, sebab merekalah yang dianggap lebih tahu tentang kondisi lingkungannya. Partisipasi masyarakat merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam rangka mensinergikan antara keinginan penguasa dengan

keinginan rakyat. Dengan demikian, pelaksanaan pembangunan di Desa benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat serta berjalan secara efektif dan efisien.

Namun demikian, terkait dengan proses pembangunan Desa, belum terlihat secara utuh implementasi pembangunan yang partisipatif yang menjadi amanat-baik yuridis maupun sosiologi- dari pelaksanaan otonomi daerah. Secara umum ditentukan bahwa selama ini partisipasi masyarakat Desa relatif lemah, baik dalam proses pembuatan kebijakan lokal Desa maupun untuk mengatur aktifitasnya sendiri.

Keikutsertaan masyarakat dalam penyusunan agenda pembangunan masih terlihat sesuatu yang asing bagi masyarakat, sehingga dalam pembangunan partisipatif masyarakat kecendurungan apatis/enggan melibatkan diri, masyarakat lebih tertarik kepada masalah-masalah yang secara langsung terkait dengan kebutuhan sehari-hari seperti pemenuhan makan, tempat tinggal dan lain-lain, sementara keterlibatan dalam hal-hal politik dan pemerintahan masih belum terbangun dari masyarakat Desa. Berkaitan dengan ini menemukan bahwa permasalahan kita bukan pada rendahnya kualitas dan kuantitas tingkat partisipasi masyarakat tetapi terletak pada ketertutupan mekanisme politik bagi keterlibatan warga negara dalam menuntut akuntabilitas dan keterbukaan.

Jika kita lihat ke belakang, bahwa pola perencanaan berjenjang dari bawah ke atas (partisipatif) ternyata tidak banyak menjanjikan aspirasi murni warga Desa bisa didengar. Kita mengenal proses musrenbangdeas (musyawarah perencanaan pembangunan Desa), dilanjutkan dengan musrenbang di tingkat kecamatan, lalu diikuti rapat koordinas pembangunan di tingkat kabupaten hingga provinsi.

Keterlibatan masyarakat Desa dalam proses perencanaan itu selesai ditingkat kecamatan, sehingga implementasi pola tersebut dapat dokritis mengandung banyak kelemahan. Misalnya partisipasi masyarakat sebagai selaku penerima manfaat sangat lemah, hasil berbagai forum koordinasi ditingkat lebih, mekanisme pembangunan mulai dari musrenbangdes hanya bersifat mencatat kebutuhan masyarakat ketimbang sebagai proses pembangunan yang partisipatif. Proses tersebut akhirnya menjadi prose birokratis yang sangat panjang dan lama sehingga masyarakat tidak mendapat kepastian kapan kebutuhannya akan terwujud. Musrenbangdes dalam perjalanannya selama ini belum dapat diandalkan sebagai wadah yang berperang penting di Desa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat yang ada di Kelurahan Andowia tidak semua ikut terlibat dalam proses pembangunan, maka dari itu keberhasilan suatu pembangunan partisipatif ini tidak terlepas dari adanya partisipasi dari setiap warga masyarakat, hal ini baik sebagai kesatuan sistem maupun sebagai individual. Dimana merupakan bagian yang sangat terintergrasi, dan sangat penting dalam suatu proses pembangunan, karena secara prinsip pembangunan partisipatif guna untuk mewujudkan masyarkat atau penduduk Desa sejahteraa.

Oleh karena itu kesadaran dan partisipasi yang aktif dari masyarakat merupakan suatu keberhasilan dalam pembangunan tersebut, karena pencapaian target program pembangunan perlu ditujukkan pada kebijaksanaan pemerintah. Sehingga sehubungan dengan ini dapat kita kaitkan bahwa pembangunan partisipatif juga dapat ditentukan oleh besar kecilnya partisipatif masyarakat

dalam pelaksanaan pembangunan tersebut. Oleh karena itu partisipasi masyarakat dalam pembangunan yaitu partisipasi dalam perencanaan, partisipasi dalam pelaksanaan, partisipasi dalam pengawasan, dan partisipasi dalam evaluasi.

Partisipasi masyarakat dalam setiap proses pembangunan partisipatif merupakan masyarakat mutlak bagi tercapainya suatu pembangunan. Karena partisipasi masyarakat tersebut bagian dari usaha mereka untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi. Oleh sebab itu proses pembangunan yang ada dapat meringangankan beban dan akhirnya pembangunan tersebut dapat dirasakan secara adil dan sejehteraa.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pembangunan partisipatif ini tidak hanya merupakan usaha pemerintah semata atau pun masyarakat saja. Tetapi hal ini merupakan suatu kegiatan bersama yang mana hasilnya dapat memberikan suatu kemakmuran dan kesejahteraann bagi penduduk Desa maupun seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu keberhasilan pembangunan yang ada di Kelurahan Andowia, merupakan suatu cerminan keberhasilan dari pembangunan nasional.

Apabila pembangunan partisipatif telah dilaksankan di wilayah baik dari tingkat Desa atau pun Kelurahan, maka ini sudah jelaslah bahwa partisipasi masyarakat sangat diperlukan guna untuk tercapainya suatu keberhasilan pembangunan. Tetapi jika kita lihat peran serta partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan, tentunya ada faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan, dimana faktor yang mempengaruhinya yaitu faktor pendukung meliputi faktor kesadaran, adanya partisipasi masyarakat, dan adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat. Sedangkan faktor penghambat

meliputi rendahnya tingkat pendidikan, terbatasnya lapangan pekerjaan, tingkat pendapat rendah.

BAB 5 PENUTUP 5.1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Implementasi pembangunan di Kelurahan Andowia dari pernyataan informan yang ada dapat dikategorikan masih kurang baik. Karena masyarakat yang ikut terlibat dalam pembangunan partisipatif hanya sebagian kecil saja, baik itu terlibat dalam pembuatan keputusan atau mengikuti rapat, memberikan ide-ide dan memberikan saran-saran dalam pembangunan. Dalam hal ini dapat kita lihat masih kurangnya pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan partisipatif yang dilaksanakan selama ini padahal masyarakat Kelurahan Andowia pada umumnya telah mengerti dan memahami tentang pembangunan.

2. Selama ini Musrenbangdes hanyalah sebagai formalitas saja, keputusan-keputusan tentang program pembangunan tetap berasal dari pemerintah daerah yang jarang sekali memperhatikan hasil musrenbangdes itu sendiri sehingga otonomi daerah yang menekankan tentang kebebasan, kesempatan dan kewenangan luas bagi masyarakat dalam mengelolah pembangunan yang ada diwilayahnya faktanya hanya sebuah wacana saja dan proses implementasinya jauh dari harapan dan kenyataan. Pada dasarnya tidak semua masyarakat ikut terlibat berpartisipasi dalam pembangunan baik itu berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi.

68 68

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan yaitu:

a. Faktor pendukung yaitu merupakan faktor kesadaran dimana berasal dari dalam diri setiap warga masyarakat itu sendiri, misalnya adanya partisipasi masyarakat, serta adanya dukungan pemerintah dearah setempat.

b. Faktor penghambat yaitu faktor yang disebabkan oleh adanya perbedaan tingkat kesadaran dan tingkat pemahaman terhadap pembangunan partisipatif yang dimana dipengaruhi oleh rendahnya kualitas pendidikan, tingkat pendapat rendah serta terbatasnya lapangan pekerjaan.

Dokumen terkait