BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Pembahasan
Pembahasan hasil penelitian yang diuraikan adalah tentang gambaran distribusi kualitas dan kuantitas tidur sebelum senam hamil pada kelompok intervensi, gambaran distribusi kualitas dan kuantitas tidur sebelum senam hamil pada kelompok kontrol, gambaran distribusi kualitas dan kuantitas tidur sesudah senam hamil pada kelompok intervensi, gambaran distribusi kualitas dan kuantitas tidur sesudah senam hamil pada kelompok kontrol, dan membedakan kualitas dan kuantitas tidur sebelum dan sesudah diberikan senam hamil pada kelompok intervensi dengan kualitas dan kuantitas tidur sebelum dan sesudah tidak diberikan senam hamil pada kelompok kontrol serta bagaimana pengaruh senam hamil terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas tidur pada ibu hamil trimester III.
4.4.1 Gambaran Kualitas dan Kuantitas Tidur sebelum Senam Hamil pada Kelompok Intervensi
Kualitas dan kuantitas tidur pada tabel 4.6 sebelum intervensi pada kelompok intervensi terlihat sebagian besar ibu hamil berada pada kategori kualitas dan kuantitas tidur yang tidak baik yakni 14 orang (93,3%) dan berada pada kategori kualitas dan kuantitas tidur baik berjumlah 1 orang (6,7%) dari 15 orang responden. Hasil ini didapatkan berdasarkan pretest berbentuk kuesioner yang dibagikan kepada responden untuk kelompok intervensi, rata-rata responden hanya mencapai 1,07 (tidak baik). Pada saat pre-test responden
terlihat lesu, kehitaman daerah sekitar mata, dan tidak dapat berkonsentrasi penuh.
Hidayat (2008) menyatakan bahwa, evaluasi terhadap masalah kebutuhan tidur dan istirahat dapat dinilai dari hilangnya klinis gangguan tidur dan penyimpangan pada pasien, antara lain timbulnya perasaan segar, tidak gelisah, lesu, dan apatis, hilangnya kehitaman di daerah sekitar mata, memulai menghilangnya kelopak mata yang bengkak, tidak adanya konjungtiva merah, mata perih, pasien sudah dapat berkonsentrasi penuh serta tidak ditemukan gangguan proses berpikir dan berbicara.
4.4.1 Gambaran Kualitas dan Kuantitas Tidur sebelum Senam Hamil pada Kelompok Kontrol
Kualitas dan kuantitas tidur pada tabel 4.7 sebelum dilaksanakan senam hamil pada kelompok kontrol, terlihat bahwa sebagian besar ibu hamil berada pada kategori kualitas dan kuantitas tidur yang tidak baik yakni 13 orang (86,7%), dan kuantitas tidur baik 2 orang (13,3%) dari 15 orang responden. Hasil ini didapatkan berdasarkan pretest berbentuk kuesioner yang dibagikan kepada responden untuk kelompok intervensi , rata-rata responden hanya mencapai 1,07 (tidak baik). Pada saat pre-test responden terlihat lesu, kehitaman daerah sekitar mata, dan tidak dapat berkonsentrasi penuh. Pada responden yang mengalami kualitas dan kuantitas tidur baik tidak terlihat kehitaman pada daerah sekitar mata dan tampak segar.
Hidayat (2008) menyatakan bahwa, evaluasi terhadap masalah kebutuhan tidur dan istirahat dapat dinilai dari hilangnya klinis gangguan tidur dan penyimpangan pada pasien, antara lain timbulnya perasaan segar, tidak gelisah, lesu, dan apatis, hilangnya kehitaman di daerah sekitar mata, memulai menghilangnya kelopak mata yang bengkak, tidak adanya konjungtiva merah, mata perih, pasien sudah
dapat berkonsentrasi penuh serta tidak ditemukan gangguan proses berpikir dan berbicara.
4.4.3 Kualitas dan Kuantitas Tidur Sesudah Senam Hamil pada Kelompok Intervensi
Kualitas dan kuantitas tidur tabel 4.8 sesudah dilaksanakan senam hamil pada kelompok intervensi didapatkan hasil kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil berbeda dari sebelumnya. Dari hasil post-test yang berbentuk kuesioner menunjukan bahwa sebagian besar terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas, yakni kualitas dan kuantitas baik 8 orang (53,3%), kualitas dan kuantitas tidur tidak baik 7 orang (46,7%) dari 15 orang responden. Keadaan responden saat post-test sebagian besar responden terlihat lebih segar dan tidak terlihat kehitaman disekitar mata, serta terlihat lebih siap menghadapi persalinan yang akan dijalani. Namun sebagian masih ada yang terlihat lesu dan kurang konsentrasi saat post-test.
Hidayat (2008) menyatakan bahwa, evaluasi terhadap masalah kebutuhan tidur dan istirahat dapat dinilai dari hilangnya klinis gangguan tidur dan penyimpangan pada pasien, antara lain timbulnya perasaan segar, tidak gelisah, lesu, dan apatis, hilangnya kehitaman di daerah sekitar mata, memulai menghilangnya kelopak mata yang bengkak, tidak adanya konjungtiva merah, mata perih, pasien sudah dapat berkonsentrasi penuh serta tidak ditemukan gangguan proses berpikir dan berbicara.
4.4.4 Kualitas dan Kuantitas Tidur Sesudah Tidak Dilaksanakan Senam Hamil pada Kelompok Kontrol
Kualitas dan kuantitas tidur tabel 4.9 sesudah dilaksanakan senam hamil pada kelompok kontrol didapatkan hasil kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Dari hasil post-test yang berbentuk kuesioner menunjukan bahwa hanya 1 orang
responden yang mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas tidur, sehingga di dapatkan hasil sesudah tidak dilaksanakan senam pada kelompok kontrol berada pada kategori kualitas dan kuantitas tidur baik yakni 3 orang (20%), kualitas dan kuantitas tidur yang tidak baik berjumlah 12 orang (80%), dari 15 orang responden. Keadaan responden saat post-test sebagian besar responden terlihat lesu dan masih terlihat kehitaman disekitar mata, serta terlihat cemas dalam menghadapi persalinan yang akan dijalani. Responden juga menyatakan bahwa waktu tidur masih kurang dari 7 jam.
4.4.5 Perbedaan Kualitas dan Kuantitas Tidur pada Kelompok Intervensi Sebelum dan Sesudah Dilaksanakan Senam Hamil
Uji perbedaan kualitas dan kuantitas tidur sebelum dan sesudah dilaksanakan senam hamil pada kelompok intervensi dalam penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon, didapatkan tingkat signifikan ρ (0,011) dengan tingkat kemaknaan α (0,05) oleh karena itu tingkat signifikan ρ (0,011) < α (0,05) maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara kualitas dan kuantitas tidur pada ibu hamil sebelum dan sesudah dilaksanakan senam hamil. Dalam hal ini perbedaannya adalah terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas tidur yang dapat dilihat dari hasil pre-test dan post-test yang dihitung dengan uji wilcoxon.
Hegard (2010) menyatakan bahwa gangguan tidur pada ibu hamil dapat diatasi dengan beberapa upaya. Upaya-upaya untuk mengatasi gangguan tidur pada ibu hamil antara lain dengan olahraga, mengonsumsi obat-obatan yang aman bagi ibu hamil, hipnoterapi, edukasi tidur (sleeping education) dan latihan relaksasi Olahraga yang diperuntukkan bagi ibu hamil adalah olahraga yang aman bagi kehamilannya. Olahraga ini bisa bersifat individual seperti jalan-jalan pagi hari atau olahraga yang bersifat kelompok seperti senam hamil.
Jenis olahraga yang paling sesuai untuk ibu hamil adalah senam hamil.
Senam hamil memiliki manfaat yang baik bagi ibu hamil (Maryunani & Sukaryati, 2011), antara lain:
a. Menyesuaikan tubuh agar ebih baik dalam menyangga beban kehamilan.
b. Memperkuat otot menopang tekanan tambahan. c. Membangun daya tahan tubuh
d. Memperbaiki sirkulasi dan respirasi.
e. Menyesuaikan dengan adanya pertumbuhan berat badan dan perubahan keseimbangan.
f. Membentuk kebiasaan bernafas yang baik.
g. Memperoleh kepercayaan dan sikap mental yang baik.
h. Meredakan ketegangan dan membantu relaks, sehingga ibu hamil dapat dengan tenang untuk memulai tidur.
4.4.6 Perbedaan Kualitas dan Kuantitas Tidur pada Kelompok Kontrol Sebelum dan Sesudah Tidak Dilaksanakan Senam Hamil
Uji perbedaan kualitas dan kuantitas tidur sebelum dan sesudah tidak dilaksanakan senam hamil pada kelompok kontrol dalam penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon, didapatkan tingkat signifikan ρ (0,317) dengan tingkat kemaknaan α (0,05) oleh karena itu tingkat signifikan ρ (0,317) > α (0,05) maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara kualitas dan kuantitas tidur pada ibu hamil sebelum dan sesudah tidak dilaksanakan senam hamil. Dimana tidak terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas tidur pada ibu hamil trimester III sesudah tidak dilaksanakan senam hamil.
Gangguan tidur pada ibu hamil yang tidak diatasi dapat berakibat buruk bagi ibu dan janin. Field et al, (2007, dalam Wahyuni & Ni’mah, 2013) menyatakan gangguan tidur menimbulkan depresi dan stres yang berpengaruh pada janin yang dikandungnya. Stres ringan
menyebabkan janin mengalami peningkatan denyut jantung, tetapi stres yang berat dan lama akan membuat janin menjadi hiperaktif. Akibat lanjut dari gangguan tidur ini adalah depresi dan bayi yang dilahirkan memiliki sedikit waktu tidur yang dalam.
Hidayat (2008) menyatakan seseorang yang mengalami gangguan tidur akan menjadi gelisah, lesu, pusing dan mengalami perasaan tidak segar saat bangun dari tidur serta sulit untuk berkonsentrasi. Williams (2006), melakukan riset tentang pola tidur pada ibu hamil menyatakan bahwa pada ibu hamil trimester ketiga yang tidur < 6 jam/hari mengalami peningkatan tekanan darah sekitar 3,72 mmHg sehingga beresiko preeklamsia. Shanti (2010), menyatakan bahwa pada ibu hamil yang kurang tidur dapat menyebabkan badan kurang fit dan mudah lelah yang dapat mengakibatkan kontraksi rahim, dimana pada trimester pertama hal tersebut dapat menyebabkan abortus dan pada trimester ke II dan ke III dapat menyebabkan persalinan prematur.
4.4.7 Pengaruh Senam Hamil Terhadap peningkatan Kualitas dan Kuantitas Tidur
Untuk menguraikan pengaruh senam hamil terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas tidur pada penelitian ini menggunakan uji Mann Whitney didapat tingkat signifikansi ρ (0,028) < α (0,05) dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara kelompok intervensi yang melakukan senam hamil dan kelompok kontrol yang tidak melakukan senam hamil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh senam hamil terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas tidur pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang.
Potter & Perry (2005) menyatakan bahwa olahraga secara teratur sangat baik untuk memperlancar peredaran darah, dan biasanya
kantuk lebih cepat datang saat tubuh lelah. Latihan beberapa menit sebelum waktu tidur membuat tubuh mendingin dan mempertahankan suatu keadaan kelelahan yang meningkatkan relaksasi. Selain itu, Wulandari (2006) menyatakan bahwa secara fisiologis latihan relaksasi pada senam hamil akan menimbulkan efek relaks yang melibatkan syaraf parasimpatis dalam sistem syaraf pusat. Dimana salah satu fungsi syaraf parasimpatis ini adalah menurunkan produksi hormone adrenalin atau epinefrin (hormon stress) dan meningkatkan sekresi hormone noradrenalin atau norepinefrin (hormon relaks) sehingga terjadi penurunan kecemasan serta ketegangan pada ibu hamil yang mengakibatkan ibu hamil menjadi lebih relaks dan tenang untuk memulai tidur.
Senam hamil yang dilaksanakan dalam penelitian ini dapat membuktikan hipotesis penelitian bahwa ada pengaruh senam hamil terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas tidur pada ibu hamil trimester III. Senam hamil diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan dalam mengatasi masalah tidur yang dialami ibu hamil. Peningkatan kualitas dan kuantitas tidur diharapkan dapat mencegah terjadinya dampak patologis yang berakibat buruk bagi ibu dan janin.