1
SKRIPSI
Oleh :
RESY AYU LESTARI
NPM. 11360
AS1SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
PENGARUH SENAM HAMIL TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS
DAN KUANTITAS TIDUR IBU HAMIL TRIMESTER III DI
WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANGKUANG
TAHUN 2015
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan Pada Program Studi S.1 Keperawatan
OLEH :
RESY AYU LESTARI NPM.11360 AS1
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN
BANJARMASIN, 2015
PERNYATAAN ORISINALITAS PENELITIAN
Saya yang bertandatangan di bawah ini: Nama : Resy Ayu Lestari NPM : 11360AS1 Prodi : S.1 Keperawatan
JudulSkripsi : pengaruh senam hamil terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan tahun 2015
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi ini merupakan hasil karya cipta sendiri dan bukan flagiat, begitu pula hal yang terkait di dalamnya baik mengenai isinya, sumber yang dikutip/dirujuk, maupun teknik di dalam pembuatan dan penyusunan proposal skripsi ini.
Pernyataan ini akan saya pertanggung jawabkan sepenuhnya, apabila di kemudian hari terbukti bahwaskripsi ini bukan hasil karya cipta saya atau flagiat atau jiblakan maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 25 (2) dan pasal 70.
Dibuat di : Banjarmasin Pada tanggal : 02 Mei2015 Saya yang menyatakan,
Resy Ayu Lestari
Kutipan UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional:
Pasal 25 (2) : Lulusan Perguruan Tinggi yang karya ilmiahnya digunakan untuk memperoleh gelar akademik, profesi atau vokasi terbukti merupakan jiblakan akan di cabut gelarnya
Pasal 70 : Lulusan Perguruan Tinggi yang karya ilmiahnya digunakan untuk mendapatkan gelar akademik, profesi atau vokasi sebagai mana dimaksud dalam pasal 25 (2) terbukti merupakan jiblakan dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 200.000.000 (duaratus juta rupiah).
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
Saya yang bertandatangan di bawah ini: Nama : Resy Ayu Lestari NPM : 11360 AS1 Prodi : S.1 Keperawatan Jenis Karya : Proposal Skripsi
sebagai civitas akademika Stikes Muhamadiyah Banjarmasin, yang turut serta mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Stikes Muhammadiyah Banjarmasin Hak Bebas Royalti atas karya ilmiah saya yang berjudul:
”Pengaruh senam hamil terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III di wilayahkerjaPuskesmasBangkuangKecamatanKarau Kuala Kabupaten Barito Selatan tahun 2015”
Dengan adanya Hak Bebas Royalti ini maka, Stikes Muhammadiyah Banjarmasin mempunyai kebebasan secara penuh untuk menyimpan, melakukan editing, mengalihkan ke format/media yang berbeda, melakukan kelolaan berupa databaseserta melakukan publikasi tugas akhir saya ini dengan pertimbangan dengan tetap mencantumkan nama penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta dengan segala perangkat yang ada (bila diperlukan)
Pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Banjarmasin Pada tanggal : 02Mei2015 Saya yang menyatakan,
ResyAyu Lestari
PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
Skripsi, Agustus 2015 Resy Ayu Lestari NPM: 11360 A-S1
Pengaruh Senam Hamil Terhadap Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Tidur Pada Ibu Hamil Trimester III di Wilayah Kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015.
Abstrak
Gangguan tidur lebih banyak terjadi pada kehamilan trimester ketiga. Gangguan tidur pada ibu hamil yang tidak diatasi dapat berakibat buruk bagi ibu dan janin. Gangguan tidur pada ibu hamil dapat diatasi salah satunya dengan senam hamil. Penelitian untuk mengetahui adakah pengaruh senam hamil terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas tidur ibuhamil trimester III. Dengan metode penelitian quasi experiment pre-post test with control group. Teknik sampling dengan menggunakan teknik sampel jenuh.
Hasil penelitian didapat ρ = 0,011 (ρ < α = 0,05), sehingga secara statistik dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh senam hamil terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas tidur pada ibu hamil trimester III.
Hasil penelitian menunjukan adanya pengaruh senam hamil terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas tidur pada ibu hamil trimester III. Sehingga dapat disarankan pada ibu hamil untuk bisa melaksanakan senam hamil sebagai salah satu intervensi keperawatan dalam mengatasi gangguan kualitas dan kuantitas tidur.
Kata kunci: Senam Hamil, Kualitas dan Kuantitas Tidur. Daftar Rujukan: 27 (2004-2014)
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wataala atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat meyelesaikan skripsi berjudul “Pengaruh Senam Hamil Terhadap Kualitas dan Kuantitas Tidur Ibu Hamil Trimester III di Wilayah Kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan”. Penulisan ini dilakukan dalam rangka untuk menyelesaikan pendidikan dan mencapai gelar Sarjana Keperawatan pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna banyak kelemahan dan kekurangan sehubungan dengan keterbatasan dan kemampuan penulis, namun berkat bantuan, dorongan, bimbingan dan perhatian dari berbagai pihak, penelitian ini dapat diselesaikan. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak M. Syafwani.,S.Kep.,M.Kep.,Sp. Jiwa, selaku Pimpinan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin.
2. Bapak Solikin.,S.Kep.,M.Kep.,Sp.KMB, selaku Kepala Program Studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin. 3. Ibu Noor Amaliah, S.Kep.,Ns selaku Pembimbing Akademik (PA)yang telah
banyak membantu penulis dalam proses penulisan skripsi ini.
4. Ibu Wika Rispudiyani R,S.Kep.,Ns sebagai pembimbing sekaligus penguji yang telah menyediakan waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan bimbingan dan mengarahkan penulis dalam penulisan skripsi ini.
5. Ibu Ns.Rusmegawati,S.Kep.,M sebagai pembimbing sekalikus penguji yang telah menyediakan waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan bimbingan dan mengarahkan penulis dalam penulisan skripsi ini.
6. Ibu Hj. Ruslinawati selaku penguji yang telah menyediakan waktu, dan pikiran dalam mengarahkan penulis dalam penulisan skripsi ini.
7. Ibu Hj. Gumbahwati, S.Sos selaku Kepala Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan yang telah memberikan ijin melakukan penelitian pada kelompok intervensi.
8. Ibu Hj.hamdahwati,Amk selaku Kepala Poskesdes Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan yang telah memberikan ijin melakukan penelitian pada kelompok kontrol.
9. Responden yang telah dengan sukarela berpartisipasi dalam penelitian yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
10. Kedua orang tua dan keluarga besar yang telah memberikan kepercayaan dan terus memberikan dukungan material serta motivasi untuk tetap semangat menyelesaikan setiap proses yang penulis hadapi.
11. Rekan-rekan mahasiswa STIKES Muhammadiyah Banjarmasin Jurusan Ilmu Keperawatan Tahun 2011, atas segala bantuan serta kerjasamanya yang telah diberikan selama penulis mengikuti pendidikan dan penyusunan Skripsiini.
Akhir kata, penulis berharap semoga Allah SWT memberikan karuniaNya dan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu keperawatan.
Banjarmasin, Agustus2015
Penulis
DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
PERNYATAAN ORISINALITAS PENELITIAN ... iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... v
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR SKEMA ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 5 1.3 Tujuan Penelitian ... 6 1.4 Manfaat Penelitian ... 7 1.5 Penelitian Terkait ... 8
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1Konsep Kehamilan ... 9
2.2Konsep Senam Hamil ... 14
2.3 Konsep Tidur ... 23
2.4 Kerangka Teori ... 32
2.5 Kerangka Konsep ... 35
2.6 Hipotesis ... 36
BAB 3 METODE PENELITIAN ... 38
3.1 Desain Penelitian ... 38
3.2 Definisi Operasional ... 40
3.3 Populasi, Sampel dan Sampling ... 41
3.4 Tempat dan Waktu Penelitian... 42
3.5 Alat Pengumpul Data ... 42
3.6 Teknik Pengumpulan Data ... 47
3.7 Teknik Analisa Data... 49
3.8 Prinsip Etika Penelitian ... 53
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 57
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 57
4.2 Analisa Univariat ... 59
4.3 Analisa Bivariat ... 65
4.4 Pembahasan ... 69
4.5 Keterbatasan Penelitian ... 75
4.6 Implikasi Hasil Penelitian dalam Keperawatan ... 76
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 77
5.1 Kesimpulan ... 77
5.2 Saran ... 77 DAFTAR RUJUKAN
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 3.1 Definisi Operasional ... 40
Tabel 3.2 Kisi-Kisi Kuesioner Penelitian ... 44
Tabel 3.3 Variabel dan Cara Uji Bivariat ... 53
Tabel 4.1 Desa yang ada di wilayah Kecamatan Karau Kuala ... 58
Tabel 4.2 Jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Bangkuang ... 58
Tabel 4.3 Distribusi Karakteristik Umur Kelompok Intervensi dan Kontrol ... 60
Tabel 4.4 Distribusi Karakteristik Jumlah Anak Responden Kelompok Intervensi dan Kontrol ... 60
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Terakhir Responden Kelompok Intervensi dan Kontrol ... 61
Tabel 4.6 Distribusi kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil sebelum dilaksanakan senam hamil pada kelompok intervensi (01) .... 62
Tabel 4.7 Distribusi kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil sebelum Dilaksanakansenam hamil pada kelompok Kontrol (03) ... 62
Tabel 4.8 Distribusi kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil sesudah dilaksanakan senam hamil pada kelompok intervensi (02) .... 63
Tabel 4.9 Distribusi Kualitas Dan Kuantitas Tidur Ibu Hamil Sesudah Tidak Dilaksanakan Senam Hamil Pada Kelompok Kontrol (04). ... 64
Tabel 4.10 Kesetaraan Jumlah Anak dan Tingkat Pendidikan Ibu Hamil 65 Tabel 4.11 Kesetaraan karakteristik Umur Kelompok Intervensi dan Kontrol ... 66
Tabel 4.12 Kesetaraan Kualitas dan Kuantitas Tidur Sebelum Senam Hamil pada Kelompok Intervensi dan Kontrol (01-03) ... 67
Tabel 4.13 Uji Perbedaan Kualitas dan kuantitas tidur pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah senam hamil (01-02) ... 67
Tabel 4.14 Uji Perbedaan Kualitas dan kuantitas tidur pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah tidak dilaksanakan senam hamil (03-04) ... 68
Tabel 4.15 Uji perbedaan Kualitas dan Kuantitas Tidur Sesudah Senam Hamil pada Kelompok Intervensi dan Kontrol (02-04) ... 69
DAFTAR GAMBAR
Hal
Gambar 2.1 Gerakan Inti Senam Hamil (a) ... 20
Gambar 2.2 Gerakan Inti Senam Hamil (b) ... 21
Gambar 2.3 Gerakan Inti Senam Hamil (c)... 21
Gambar 2.4 Gerakan Inti Senam Hamil (d) ... 21
Gambar 2.5 Gerakan Inti Senam Hamil (e)... 22
Gambar 2.6 Gerakan Inti Senam Hamil (f) ... 22
Gambar 2.7 Gerakan Inti Senam Hamil (g) ... 23
Gambar 4.1 Pencapaian Rata-Rata Kualitas Dan Kuantitas Tidur Sesudah Senam Hamil Pada Kelompok Intervensi.... ... 64
DAFTAR SKEMA
Hal
Skema 2.1 Siklus Tidur ... 28
Skema 2.2 Kerangka Teori ... 35
Skema 2.3 Kerangka Konsep ... 37
Skema 3.1 Desain Penelitian ... 39
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Penelitian
Lampiran 2 Persetujuan Pelaksanaan Studi Pendahuluan Lampiran 3 Surat Permohonan Bimbingan Skripsi Lampiran 4 Keterangan Lulus UjiEtik
Lampiran 5 Permohonan Ijin Penelitian
a. Kepada Kepala Puskesmas Bangkuang b. Kepada Kepala Puskesmas Babai Lampiran 6 Persetujuan Pelaksanaan Penelitian
a. Puskesmas Bangkuang Kec. Karau Kuala Kab. Barito Selatan b. Poskesdes Bangkuang Kec. Karau Kuala Kab. Barito Selatan Lampiran 7 PenjelasanPenelitian
Lampiran 8 Lembar Permohonan Menjadi Responden Lampiran 9 Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 10 Instrumen Pengukuran Kualitas dan Kuantitas Tidur Lampiran 11 Pedoman Senam Hamil
Lampiran 12 Data Kualitas dan Kuantitas Tidur Lampiran 13 Lembar Konsultasi
1
Bab ini menyampaikan latar belakang penelitian, rumusan masalah, pernyataan penelitan, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian serta keaslian penelitian. Uraian ini diperlukan sebagai dasar dalam melaksanakan penelitian.
1.1. Latar Belakang
Tidur merupakan aktivitas yang dilakukan setiap hari dan juga salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Teori Hirarki Maslow tentang kebutuhan, menyatakan bahwa tidur merupakan salah satu kebutuhan fisiologis yang memiliki prioritas tertinggi dalam hirarki Maslow. Tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua manusia untuk dapat berfungsi secara optimal baik yang sehat maupun yang sakit, dimana kualitas dan kuantitas tidur beragam diantara orang-orang dari semua kelompok usia (Hidayat, 2008).
Evaluasi terhadap masalah kebutuhan tidur dan istirahat dapat dinilai. Evaluasi tanda dari hilangnya klinis gangguan tidur dan penyimpangan pada pasien, antara lain timbulnya perasaan segar, tidak gelisah, lesu, dan apatis, hilangnya kehitaman di daerah sekitar mata, memulai menghilangnya kelopak mata yang bengkak, tidak adanya konjungtiva merah, mata perih, pasien sudah dapat berkonsentrasi penuh serta tidak ditemukan gangguan proses berpikir, bicara, dan lain-lain (Hidayat, 2008).
Banyak orang dewasa yang mengalami gangguan tidur. Nurmiati (2007) menyatakan setiap tahun 20%-40%, orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah yang serius. Prevalensi gangguan kualitas tidur semakin tahun cenderung meningkat, hal ini juga sesuai peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Data International of
Sleep Disorder menyebutkan bahwa prevalensi penyebab gangguan tidur yaitu sindroma kaki gelisah (5%-15%), ketergantungan alkohol (10%), sindroma terlambat tidur (5%-10%), depresi (65%). Di Indonesia US Census Bureu International Data Base tahun 2004, menyatakan bahwa sekitar 28 juta orang dari total penduduk 238 juta atau sekitar 10% menderita gangguan tidur.
Gangguan tidur juga dialami oleh sebagian besar ibu hamil, hal ini disebabkan oleh perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan yang mempunyai dampak yang bersifat patologis bagi wanita hamil sehingga menimbulkan berbagai keluhan-keluhan yang mempengaruhi tidur. Perubahan fisiologis ini dimulai pada saat terjadi proses nidasi yang oleh beberapa tubuh wanita direspon sebagai benda asing. Wanita yang hamil muda akan merasa mual, muntah, meriang dan lemas. Rasa mual dan muntah ini akan berkurang sampai trimester pertama berakhir. Pada trimester kedua tubuh sudah mulai beradaptasi dan rasa mual dan muntah sudah mulai berkurang. Akan tetapi pada trimester ketiga, keluhan yang diakibatkan oleh pembesaran perut, peningkatan anatomis dan peningkatan hormonal akan menyebabkan munculnya keluhan-keluhan pada ibu hamil (Venkata & Venkateshiah 2009).
Salah satu keluhan ibu hamil adalah gangguan tidur yang sering dialami wanita hamil, walaupun kehamilannya normal. Santiago, et al, (2001 dalam Wahyuni & Ni’mah, 2013) menyatakan keluhan-keluhan yang dialami pada ibu hamil trimester III diantaranya adalah nyeri punggung bawah, sesak napas, varises, hemorhoid, gangguan tidur, nyeri pelvis dan lain-lain. Sharma dan Franco (2004), menyatakan bahwa 97% wanita hamil pada trimester ketiga mengalami gangguan tidur. Gangguan tidur pada wanita hamil bisa berupa penurunan presentase gelombang tidur yang lamban dan tidur REM yang mungkin meningkat pada stadium satu. Gangguan tidur pada wanita hamil terjadi pada trimester pertama, trimester kedua dan juga
trimester ketiga. Gangguan tidur lebih banyak dikeluhkan pada trimester ketiga (Field et al, 2006).
Gangguan tidur lebih banyak terjadi pada kehamilan trimester ketiga. Grace et al, (2004, dalam Wahyuni & Ni’mah 2013), menyatakan ibu hamil trimester tiga memiliki gangguan tidur lebih tinggi, karena adanya kecemasan dan ketidaknyamanan seperti nyeri pinggang, banyak buang air kecil, spontan bangun dari tidur, gerakan janin, nyeri ulu hati (hurtburn), kram pada tungkai, kelelahan dan kesulitan memulai tidur atau sulit tidur sampai pagi. Field et al, (2007, dalam Wahyuni & Ni’mah, 2013) menyatakan gangguan tidur menimbulkan depresi dan stres yang berpengaruh pada janin yang dikandungnya. Stres ringan menyebabkan janin mengalami peningkatan denyut jantung, tetapi stres yang berat dan lama akan membuat janin menjadi hiperaktif. Akibat lanjut dari gangguan tidur ini adalah depresi dan bayi yang dilahirkan memiliki sedikit waktu tidur yang dalam.
Gangguan tidur pada ibu hamil yang tidak diatasi dapat berakibat buruk bagi ibu dan janin. Hidayat (2008) menyatakan seseorang yang mengalami gangguan tidur akan menjadi gelisah, lesu, pusing dan mengalami perasaan tidak segar saat bangun dari tidur serta sulit untuk berkonsentrasi. Williams (2006), melakukan riset tentang pola tidur pada ibu hamil menyatakan bahwa pada ibu hamil trimester ketiga yang tidur < 6 jam/hari mengalami peningkatan tekanan darah sekitar 3,72 mmHg sehingga beresiko preeklamsia. Shanti (2010), menyatakan bahwa pada ibu hamil yang kurang tidur dapat menyebabkan badan kurang fit dan mudah lelah yang dapat mengakibatkan kontraksi rahim, dimana pada trimester pertama hal tersebut dapat menyebabkan abortus dan pada trimester ke II dan ke III dapat menyebabkan persalinan prematur.
Gangguan tidur pada ibu hamil dapat diatasi dengan beberapa upaya. Upaya-upaya untuk mengatasi gangguan tidur pada ibu hamil antara lain dengan olahraga, mengonsumsi obat-obatan yang aman bagi ibu hamil, hipnoterapi, edukasi tidur (sleeping education) dan latihan relaksasi (Hegard, 2010). Olahraga yang diperuntukkan bagi ibu hamil adalah olahraga yang aman bagi kehamilannya. Olahraga ini bisa bersifat individual seperti jalan-jalan pagi hari atau olahraga yang bersifat kelompok seperti senam hamil. Jenis olahraga yang paling sesuai untuk ibu hamil adalah senam hamil.
Senam hamil adalah terapi latihan gerak terstruktur untuk mempersiapkan ibu hamil, secara fisik atau mental, pada persalinan cepat, aman dan spontan. Dengan mengikuti senam hamil secara teratur dan intensif, ibu hamil dapat menjaga kesehatan tubuh dan janin yang dikandung secara optimal ( Maryunani & Sukaryati, 2011).
Data dari Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan pada tanggal 7 Oktober 2014 didapatkan jumlah ibu hamil trimester III yaitu 15 orang. Wawancara dengan 4 orang ibu hamil yang berkunjung ke pelayanan kesehatan ini didapatkan, bahwa mereka mengalami gangguan tidur yakni waktu tidur yang pendek karena sulit memulai tidur sehingga sering pusing saat bangun tidur dan mereka belum pernah melakukan senam hamil.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti pada tanggal 10 Januari 2015 di Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala terhadap 4 orang ibu hamil trimester III, dilakukan dengan cara memberikan perlakuan pada 2 orang ibu hamil trimester III yakni melakukan gerakan senam hamil yang terdiri dari pemanasan, latihan inti, latihan pernafasan dan pendinginan, dengan durasi waktu ± 20 menit. Pada 2 orang ibu hamil trimester III lainnya tidak diberi perlakuan didapatkan hasil positif terjadi
peningkatan kualitas dan kuantitas tidur pada 2 orang ibu hamil trimester III yang melakukan senam hamil, dan tidak ada perubahan kualitas dan kuantitas tidur pada 2 orang ibu hamil trimester III yang tidak senam hamil.
Olahraga secara teratur sangat baik untuk memperlancar peredaran darah, dan biasanya kantuk lebih cepat datang saat tubuh lelah. Latihan beberapa menit sebelum waktu tidur membuat tubuh mendingin dan mempertahankan suatu keadaan kelelahan yang meningkatkan relaksasi (Potter & Perry, 2005). Selain itu, secara fisiologis latihan relaksasi pada senam hamil ini akan menimbulkan efek relaks yang melibatkan syaraf parasimpatis dalam sistem syaraf pusat. Dimana salah satu fungsi syaraf parasimpatis ini adalah menurunkan produksi hormone adrenalin atau epinefrin (hormone stress) dan meningkatkan skresi hormone noradrenalin atau norepinefrin (hormone relaks) sehingga terjadi penurunan kecemasan serta ketegangan pada ibu hamil yang mengakibatkan ibu hamil menjadi lebih relaks dan tenang (Wulandari, 2006). Dengan demikian ibu hamil dapat tidur dengan mudah dan nyaman.
Penelitian-penelitian telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur. Peningkatan kualitas dan kuantitas tidur melalui senam hamil belum dilakukan. Data-data tersebut menarik minat Penulis untuk melakukan penelitian tentang pengaruh senam hamil terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III Di Wilayah Kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Pernyataan Masalah
Fenomena banyaknya jumlah ibu hamil trimester III yang mengalami masalah tidur dan belum pernah melakukan senam hamil.
Perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan mempunyai dampak yang bersifat patologis bagi wanita hamil. Santiago, et al, (2001 dalam Wahyuni & Ni’mah, 2013) menyatakan keluhan-keluhan yang dialami pada ibu hamil trimester III diantaranya adalah nyeri punggung bawah, sesak napas, varises, hemorhoid, gangguan tidur, nyeri pelvis dan lain-lain. Salah satu keluhan ibu hamil adalah gangguan tidur yang bisa berupa kesulitan memulai tidur atau sulit tidur sampai pagi. Akibat lanjut dari gangguan tidur ini adalah depresi dan bayi yang dilahirkan memiliki sedikit waktu tidur yang dalam, tekanan darah ibu hamil meningkat sehingga resiko preeklamsia hingga dapat mengakibatkan persalinan prematur ( Field, at al 2007: Williams, 2006; Shanti, 2010). Upaya-upaya untuk mengatasi gangguan tidur pada ibu hamil antara lain dengan olahraga, mengkonsumsi obat-obatan yang aman bagi ibu hamil, hipnoterapi, edukasi tidur (sleeping education) dan latihan relaksasi (Hegard, Hanke K, 2010). Olahraga yang aman untuk ibu hamil dapat berupa jalan-jalan pagi dan senam hamil. Jenis olahraga yang paling sesuai untuk ibu hamil adalah senam hamil. 1.2.2 Pertanyaan Penelitian
Apakah ada pengaruh senam hamil terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau-Kuala Kabupaten Barito Selatan ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam hamil terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito selatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini untuk :
a. Mengidentifikasi kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III sebelum dilakukan senam hamil pada kelompok intervensi di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan.
b. Mengidentifikasi kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III setelah dilakukan senam hamil pada kelompok intervensi di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan.
c. Mengidentifikasi kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III sebelum dilakukan senam hamil pada kelompok kontrol di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan.
d. Mengidentifikasi kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III setelah dilakukan senam hamil pada kelompok kelompok kontrol di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan.
e. Menganalisis pengaruh senam hamil terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini memberikan manfaat bagi ilmu keperawatan, ibu hamil dan pelayanan Puskesmas.
1.4.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi dalam perkembangan ilmu keperawatan khususnya dalam pemberian asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan gangguan tidur.
1.4.2 Manfaat Praktis a. Bagi Ibu Hamil
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada ibu hamil tentang pentingnya memenuhi kebutuhan tidur dan senam hamil untuk mencapai kualitas dan kuantitas tidur yang diharapkan. Sehingga dapat dijadikan tindakan mandiri bagi ibu hamil yang mengalami gangguan tidur.
b. Bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi puskesmas dalam pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan prenatalcare program senam hamil.
1.5 Penelitian Terkait
Hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini antara lain: a. Penelitian yang dilakukan oleh Susahana (2009) dengan judul
“pengaruh senam hamil terhadap lamanya proses persalinan di Klinik Bidan Praktek Swasta Ny. Endang Purwati Am.Keb Mergansang Yogyakarta”. Metode penelitian ini dengan menggunakan penelitian eksperimen, dokumentasi dengan rancangan case-control. Populasi penelitian berjumlah 150 responden dan subjek penelitian bejumlah 60. 30 responden diberikan senam hamil dan 30 responden tidak senam hamil. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hipotesa diterima dan ada pengaruh antara senam hamil terhadap lamanya proses persalinan.
b. Penelitian yang dilakukan oleh Syafitri (2010) dengan judul “pengaruh pemberian aktivitas Rom terhadap perubahan kualitas tidur pada pasien Diabetes Melitus di Ruang Mawar RSUD NTB”. Metode penelitian ini dengan menggunakan penelitian eksperimen, dengan rancangan case-control. Pada 6 orang responden. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hipotesa diterima dan ada pengaruh pemberian
aktivitas ROM terhadap perubahan kualitas tidur dari yang tidak baik menjadi baik.
c. Penelitian yang dilakukan oleh Ema Mawardah (2013) dengan judul “Hubungan dukungan suami dengan keikutsertaan ibu hamil dalam melakukan senam hamil di Puskesmas Alalak Selatan Banjarmasin”. Metode penelitian analitik, dengan rancangan cross sectional. Hasil penelitian Ha diterima artinya ada hubungan antara dukungan suami dengan keikutsertaan suami dalam melakukan senam hamil.
d. Penelitian yang dilakukan oleh Layinatun Ni’mah (2011) dengan judul “pengaruh Senam Hamil Terhadap Kuantitas Tidur bu hamil Pada Trimester III di RS PKU Muhammadiyah Surakarta dan Klinik Bersalin Annur Keranganyar selama 4 minggu. Metode penelitian ini Eksperimen dengan pendekatan quasi eksperimen dengan desain pre and post test with control group. Hasil penelitian Ha diterima artinya ada pengaruh pemberian senam hamil terhadap peningkatan kuantitas tidur pada ibu hamil trimester III.
Perbedaan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah variabel bebas yakni senam hamil, variabel terikat yakni kualitas dan kuantitas tidur, subjeknya adalah ibu hamil trimester III, waktu, tempat dan tahun penelitian. Selama ini belum ada penelitian tersebut di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan teori-teori yang berkaitan dengan variabel yang diteliti yaitu konsep kehamilan, konsep senam hamil, konsep kualitas dan kuantitas tidur. Teori-teori tersebut diperlukan untuk menjadi dasar teori penelitian yang akan dilakukan. Bab ini juga memuat kerangka teori penelitian, kerangka konsep dan hipotesis penelitian. Kerangka teori menjelaskan secara singkat konsep teori yang mendasari penelitian, adapun kerangka konsep penelitian membantu peneliti dalam menghubungkan hasil penelitian dengan teori, serta hipotesis penelitian merupakan pernyataan sementara peneliti yang di uji kebenarannya.
2.1 Konsep Kehamilan
2.1.1 Pengertian Kehamilan
Fauziah & Sutejo (2012) mendefinisikan kehamilan sebagai persatuan antara sebuah telur dan sperma, yang menandai awalnya suatu kehamilan, dan peristiwa ini merupakan hal yang terpisah tetapi merupakan peristiwa rangkaian kejadian yang mengelilinginya seperti pembentukan gamet (telur dan sperma), ovulasi, penggabungan gamet dan implantasi embrio di dalam uterus. Bila semua proses ini ini berlangsung baik, maka proses perkembangan janin dapat dimulai. Kehamilan adalah dikandungnya janin hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma. Janin akan membuat tubuh ibu hamil mengalami perubahan fisik maupun psikis. Perubahan fisik yang menonjol ialah pembesaran rahim, payudara, mengitamnya kulit di area tertentu, melunaknya alat kelamin dan mengendurnya sendi panggul. Secara alamiah perubahan tersebut dimaksudkan untuk memberi kesempatan, tempat dan jaminan bagi janin untuk tumbuh dan berkembang sampai saat lahir (Kushartanti, 2004).
Hanifa (2005) menyatakan kehamilan adalah proses berkembangnya embrio dalam uterus sejak terjadi fertilisasi hingga dilahirkan. masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu) atau 9 bulan 7 hari.
Kehamilan adalah dikandungnya janin (embrio) hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma dalam uterus sejak terjadi fertilisasi hingga dilahirkan yang terjadi selama 40 minggu sejak waktu menstruasi terakhir.
2.1.2 Periode Gestasi
Fauziah & Sutejo (2012) menyatakan, ditinjau dari perkembangan janin yang mempunyai tahapan perkembangan yang berbeda-beda dalam tiap bulannya, maka kehamilan dibagi dalam tiga periode yang disebut trimester.
2.1.2.1 Trimester Pertama
Waktu trimester pertama adalah tiga bulan pertama dihitung setelah haid pertama hari terakhir. Pada trimester pertama ini system organ penting tubuh janin mulai dibentuk namun belum terjadi pembesaran yang jelas pada organ uterus. Segera setelah konsepsi, progesterone dan esterogen dalam tubuh meningkat sehingga dapat menyebabkan terjadinya morning sickness, kelemahan dan keletihan.
2.1.2.2 Trimester Kedua
Waktu trimester kedua dimulai dari bulan 4 sampai bulan ke-6 kehamilan, beberapa sistem organ melanjutkan perkembangan dasar, sementara kemampuan fungsional organ lainnya disempurnakan. Pada bulan ke-6 rata-rata sistem organ sudah lengkap dan dapat berfungsi, namun belum berfungsi dengan sempurna.
2.1.2.3 Trimester Ketiga
Selama 3 bulan terakhir merupakan trimester ketiga dalam kehamilan. Perut semakin membesar dan berat badan ibu akan meningkat antara 3,2 kg sampai 3,4 kg menandakan janin bertambah besar dan sudah terbentuk sempurna. Pada akhir masa trimester ketiga janin yang normal mampu untuk membuat peralihan dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin, sehingga janin yang akan dilahirkan telah dapat hidup.
2.1.3 Perubahan Fisik Selama Kehamilan
Hampir seluruh tubuh wanita hamil mengalami perubahan, terutama pada sistem reproduksi, selain itu organ lainnya juga mengalami perubahan, kebanyakan perubahan ini kembali normal setelah persalinan dan perubahan ini dapat mengganggu pola istirahat tidur. 2.1.3.1 Sistem Reproduksi
Ukuran uterus normal pada wanita sebesar telur ayam, ukuran uterus semakin membesar bersamaan dengan pertumbuhan janin dengan kapasitas uterus lebih dari 4000 cc, sehingga perut ibu hamil juga mengalami pembesaran yang nyata.
2.1.3.2 Sistem Kardiovaskuler
Selama kehamilan, jumlah darah yang dipompa oleh jantung setiap menitnya meningkat hingga ± 30%. Peningkatan ini mulai terjadi pada kehamilan 6 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan 32 minggu.
2.1.3.3 Sistem Pernafasan
Sekitar 60% wanita hamil mengalami sesak nafas, hal tersebut terjadi karena usus yang tertekan ke arah diafragma akibat dari pembesaran rahim, sehingga mengubah bentuk toraks namun tidak mengurangi kapasitas paru. Frekuensi pernafasan meningkat untuk mendapatkan lebih banyak oksigen.
2.1.3.4 Sistem Perkemihan
Pada awal kehamilan suplai darah ke kandung kemih akan meningkat sehingga kerja ginjal sedikit berat dan menyebabkan frekuensi berkemih mengalami peningkatan, tetapi tidak seperti pada trimester ketiga, dimana frekuensi berkemih akan lebih sering, hal ini karena penekanan uterus pada vesika urinaria. 2.1.3.5 Sistem Pencernaan
Sistem gastrointestinal akan terpengaruh karena meningkatnya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Perubahan pada sistem pencernaan ini dapat menyebabkan morning sickness pada awal kehamilan, selain itu juga dapat menyebabkan heartburn dan konstipasi karena penurunan motilitas pada lambung dan usus sehingga memerlukan waktu yang lama untuk menyerap cairan.
2.1.3.6 Hormon
Kehamilan mempengaruhi hampir semua hormon dalam tubuh. Plasenta menghasilkan sejumlah hormon untuk membantu tubuh dalam mempertahankan kehamilan. Hormon utama yang dihasilkan oleh plasenta adalah HCG, yang berperan untuk mencegah ovulasi dan merangsang pembentukan hormon estrogen dan progesteron oleh ovarium untuk mempertahankan kehamilan. Plasenta juga menghasilkan hormon yang menyebabkan kelenjar tiroid menjadi lebih aktif. Kelenjar tiroid yang lebih aktif menyebabkan denyut jantung yang cepat, jantung berdebar-debar (palpitasi), keringat berlebihan dan perubahan suasana hati.
2.1.4 Keluhan Ibu Hamil pada Trimester Ketiga
Kushartanti (2004) menyatakan, mengingat adanya perubahan secara fisiologis dan anatomis, ibu hamil akan merasakan ketidaknyamanan. Berbeda dalam kondisi normal, ibu hamil akan mengeluhkan hal-hal berikut :
a. Mudah terengah-engah terutama dirasakan apabila rahim telah membesar sehingga mendesak sekat rongga dada dan mengganggu kembang kempisnya paru. Keadaan ini diperberat oleh meningkatnya kebutuhan oksigen dan meningkatnya progesteron. Senam kebugaran akan mengurangi keluhan ini, demikian pula dengan gerakan lengan yang bisa mengembangkan rongga rusuk dan melonggarkan pernafasan.
b. Mudah lelah, keluhan ini dipicu oleh meningkatnya kebutuhan aliran darah yang kurang diimbangi oleh ketersediaan darah. Volume darah ibu hamil meningkat 30-50% dan frekuensi denyut jantung meningkat 20%. Peningkatan volume darah ini akan mengakibatkan pembesaran pembuluh darah, sehingga sering timbul keluhan varises, ambien dan bengkak pada kaki. Gerakan senam hamil dapat meningkatkan sirkulasi darah sehingga dapat mengurangi keluhan ini.
c. Mual dan muntah, keluhan ini disebabkan karena adanya perubahan aktivitas hormon yang menurunkan peristaltik usus dan tertumpahnya asam lambung ke ujung atas lambung. Penurunan peristaltik usus ini juga memperlambat proses pencernaan sehingga mengakibatkan konstipasi. Gerakan senam hamil akan meningkatkan peristaltik usus. Disamping itu makan dengan porsi kecil tapi sering juga dapat membantu.
d. Nyeri punggung dan pinggang, keluhan ini disebabkan oleh adanya perubahan postur tubuh yang membantu tulang belakang bagian bawah cenderung melengkung ke depan. Lengkungan ini disebabkan karena membesarnya perut. Selain itu keluhan ini juga dipicu oleh hormon relaksin yang mengendurkan persendian di panggul. Senam hamil untuk otot-otot punggung, perut dan panggul dapat memperbaiki postur dan mengurangi keluhan ini.
e. Tidak bisa tidur (insomnia), keluhan ini biasanya terjadi pada akhir kehamilan, karena pada saat itu terjadi penumpukkan keluhan seperti susah bernafas, nyeri punggung, kejang kaki, dan lain-lain. Latihan senam dengan relaksasi atau penenangan dan pengaturan nafas dapat membantu ibu hamil mengatasi keluhan ini.
2.2 Konsep Senam Hamil
2.2.1 Pengertian Senam Hamil
Senam hamil merupakan suatu metode yang penting untuk mempertahankan atau memperbaiki keseimbangan fisik ibu hamil dan merupakan terapi latihan yang diberikan pada ibu hamil dengan tujuan mencapai persalinan yang cepat, mudah dan aman, Senam hamil minimal dilakukan 3 kali selama masa kehamilan dan dilakukan 1-3 kali dalam seminggu dengan lama waktu 1 jam sampai 1 jam 30 menit dalam satu kali pertemuan (Maryunani & Sukaryati, 2011).
Senam hamil adalah program kebugaran yang diperuntukkan bagi ibu hamil. Oleh karena itu senam hamil memiliki prinsip-prinsip gerakan khusus yang disesuaikan dengan kondisi ibu hamil. Latihan-latihan pada senam hamil dirancang khusus untuk menyehatkan dan membugarkan ibu hamil, mengurangi keluhan yang timbul selama kehamilan, serta mempersiapkan fisik dan psikis ibu dalam menghadapi persalinan. Melakukan senam hamil minimal 3 kali dalam masa kehamilannya agar mendapatkan hasil yang optimal (Widyanti & Proverawati, 2010). Senam hamil adalah program kebugaran bagi ibu hamil dalam rangka mengencangkan sistem tubuh dan menyiapkan otot-otot yang diperlukan sebagai tambahan yang harus dialami selama kehamilan (Fauziah & Sutejo, 2012).
2.2.2 Manfaat dan Tujuan Senam Hamil
Manfaat dan tujuan senam hamil (Maryunani & Sukaryati, 2011), antara lain :
a. Menyesuaikan tubuh agar lebih baik dalam menyangga beban kehamilan.
b. Memperkuat otot untuk menopang tekanan tambahan. c. Membangun daya tahan tubuh.
d. Memperbaiki sirkulasi dan respirasi.
e. Menyesuaikan dengan adanya pertumbuhan berat badan dan perubahan keseimbangan.
f. Meredakan ketegangan dan membantu relaks. g. Membentuk kebiasaan bernafas yang baik.
h. Memperoleh kepercayaan dan sikap mental yang baik.
2.2.3 Kontraindikasi Senam Hamil
Maryunani & Sukaryati (2011), menyatakan ada kriteria ibu hamil yang tidak diperkenankan untuk mengikuti latihan senam hamil tersebut adalah ibu hamil dengan :
a. Preeklamsi
b. Ketuban Pecah Dini (KPD)
c. Perdarahan trimester II & trimester III d. Kemungkinan lahir prematur
e. Incopeten Cervix f. Diabetes melitus g. Anemia h. Thyroid i. Aritmia, palpitasi j. Riwayat perdarahan
k. Penurunan atau kenaikan BB berlebihan.
2.2.4 Petunjuk Senam Hamil
Petunjuk senam hamil (Maryunani & Sukaryati, 2011) meliputi: a. Konsultasi/pemeriksaan kesehatan
b. Mulai umur kehamilan 28 minggu c. Ruangan nyaman, pakaian yang sesuai
d. Sesuaikan intensitas senam, bertahap, batas kemampuan e. Minum
f. Lakukan senam hamil maksimal 3x seminggu atau teratur g. Lakukan pemanasan dan pendinginan
h. Jangan menahan nafas selama latihan i. Hentikan bila timbul keluhan.
2.2.5 Pedoman Keselamatan (patient safety) untuk Senam Hamil
Pedoman untuk ibu hamil yang seharusnya diperhatikan dalam pelaksanaan senam hamil (Maryunani & Sukaryati, 2011), antara lain :
a. Boleh melanjutkan semua bentuk senam dalam kehamilan yang sudah terbiasa dilakukan oleh seorang wanita.
b. Minum yang cukup sebelum, selama, dan setelah melakukan senam adalah sangat penting, dimana ibu hamil hendaknya mengkonsumsi 1 sampai 2 liter air dalam sehari.
c. Senam aerobik pada bagian kaki terbatas sampai 20-30 menit bagi ibu hamil yang kurang fit, dan 30-45 menit bagi ibu hamil yang merasa lebih fit.
d. Hindari senam jika sudah terjadi perdarahan, ancaman persalinan prematur, servik yang tidak kuat (kompeten), pertumbuhan janin intrauterine terhambat dan demam.
e. Senam ringan hingga sedang dan teratur, lebih disukai kegiatan senam secara aktif sesekali.
f. Hindari senam terlentang dengan kaki lurus, melompat atau menyentak, pengangkatan kaki secara lurus dan sit-up (duduk) penuh.
g. Jangan mengangkat otot hingga melampaui resistensi maksimum oleh karena efek hormonal dari kehamilan atas relaksasi ligamen. h. Warning-up (pemanasan) dan cooling down (pendinginan) harus
secara berangsur-angsur, dimana sebelum memulai senam hamil lakukan dulu gerakan pemanasan sehingga peredaran darah dalam tubuh akan meningkat dan oksigen yang diangkut ke otot-otot dan jaringan tubuh bertambah banyak, serta dapat mengurangi terjadinya kejang, karena telah disiapkan sebelumnya untuk melakukan gerakan yang lebih aktif. Begitu juga setelah senam, lakukan gerakan pendinginan.
i. Bangkit dari lantai hendaknya dilakukan secara berangsur-angsur untuk menghindari hipotensi.
2.2.6 Tanda Peringatan untuk Menghentikan Senam Hamil
Maryunani & Sukaryati (2011) menyatakan bila mengalami salah satu tanda-tanda di bawah ini, maka sebaiknya senam dihentikan segera : a. Perdarahan vagina
b. Sakit perut dan dada
c. Bengkak mendadak pada tangan, muka dan kaki d. Sakit kepala berat dan menetap
e. Pusing-pusing, sakit kepala ringan f. Aktivitas janin menurun
g. Merah pada kaki, terasa sakit
h. Rasa linu pada daerah pangkal paha dan pinggul i. Rasa perih dan panas saat BAK
j. Iritasi pada liang senggama k. Suhu mulut melebihi 380C l. Mual-mual atau muntah m. Kontraksi otot rahim n. Jantung berdebar o. Sesak nafas
2.2.7 Persiapan Fisik Sebelum Senam Hamil
Tujuan utama persiapan fisik dari senam hamil (Maryunani & Sukaryati, 2011), sebagai berikut :
a. Mencegah terjadinya deformitasi (cacat) kaki dan memelihara fungsi kaki untuk dapat menahan berat badan yang semakin meningkat, nyeri kaki, varises, bengkak, dan lain-lain.
b. Melatih alat pernafasan untuk memberikan ketenangan dan mencukupi kebutuhan zat asam oleh tubuh. Dalam hal ini berarti juga untuk melatih dan menguasai teknik pernafasan yang berperan penting dalam kehamilan dan proses persalinan.
c. Memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut, otot-otot dasar panggul dan lain-lain.
d. Melatih otot-otot sikap, agar sikap dapat bertahan dengan bertambah berat kehamilan dan agar mencapai refleks sikap baik.
e. Agar dapat menguasai kontraksi dan relaksasi otot perut, otot-otot dasar panggul dan otot-otot-otot-otot paha bagian dalam.
f. Memperoleh relaksasi yang sempurna dengan latihan kontraksi dan relaksasi tersebut, sehingga tercapai kelemasan pada otot-otot tubuh. g. Mendukung ketenangan fisik.
2.2.8 Persiapan Mental Sebelum Senam Hamil
Persiapan mental sebelum melakukan senam hamil (Maryunani & Sukaryati, 2011) bertujuan :
a. Agar mencapai ketenangan mental b. Agar ibu hamil percaya pada diri sendiri
c. Agar ibu hamil tekun berlatih dirumah sehingga tujuan senam dapat tercapai
2.2.9 Keuntungan Senam Hamil
Keuntungan dari melakukan senam hamil adalah meningkatkan kepercayaan pengetahuan tentang kekuatan persalinan dapat dipersingkat dan rasa sakit dapat dikurangi (Maryunani & Sukaryati,2011).
2.2.10 Kerugian Senam Hamil
Hingga saat ini, tidak ada bukti yang menyatakan bahwa olahraga yang tepat memilki efek berbahaya bagi janin. Penelitian menunjukan bahwa tidak ada pengaruh dari olahraga terhadap kejadian abortus, kelainan janin, atau persalinan prematur (Maryunani & Sukaryati, 2011).
2.2.11 Gerakan-gerakan Senam Hamil
2.2.11.1 Gerakan pemanasan
a. Berdiri tegak letakkan kedua tangan di pinggang, jalan ditempat secara perlahan (2x8 hitungan).
b. Berdiri tegak, rentangkan kedua tangan, tekuk ke arah bahu lalu luruskan kembali (1x8 hitungan).
c. Berdiri tegak, rentangkan kedua tangan, tarik kedepan lurus, lipat ke depan dada, luruskan kembali ke depan rentangkan (1x8 hitungan).
d. Berdiri tegak, letakkan tangan sejajar dengan badan, putar bahu kedepan dan kebelakang (1x8 hitungan). e. Berdiri tegak, letakkan tangan sejajar dengan badan,
tarik bahu ke atas dan ke bawah (1x8 hitungan).
f. Berdiri tegak, letakkan tangan di pinggang, tekuk kepala ke depan dan ke belakang (1x8 hitungan).
g. Berdiri tegak, letakkan tangan dipinggang, tekuk kepala ke arah bahu kanan kemudian ke bahu kiri (1x8 hitungan).
h. Berdiri tegak, letakkan kedua tangan di pinggang, putar kepala ke samping, kebelakang dan ke depan. Lakukan pemutaran kepala secara bergantian berlawanan arah ke samping kedepan dan ke belakang (1x8 hitungan).
2.2.11.2 Gerakan Inti
a. Gerakan pertama yaitu posisi berdiri dan tangan di pinggang gerakan leher ke kanan dan ke kiri untuk meregangkan otot leher.
Gambar 2.1
b. Gerakan sederhana dengan melakukan latihan dasar kaki dan menggerakkan telapak kaki kedepan dan kebelakang guna membantu sirkulasi vena dan mencegah pembengkakan dikaki
.
Gambar 2.2
c. Tidur telentang dengan satu kaki lurus dan satu kaki ditekuk kemudian dorong kembali kedepan. Lakukan bergantian dengan kaki lainnya. Gunanya untuk latihan dasar panggul.
Gambar 2.3
d. Pada gerakan ini yaitu berbaring dengan posisi miring angkatlah kaki perlahan kemudian turunkan. Lakukan bergantian dengan kaki satunya. Gunanya untuk memperkuat otot paha
Gambar 2.4
e. Selanjutnya berbaring terlentang, kedua lutut dipegang dengan tangan, tarik nafas dan berlatih mengejan.
Gambar 2.5
f. Sikap merangkak, letakkan kepala diantara kedua tangan, lalu menoleh kesamping.selanjutnya turunkan badan sehingga dada menyentuh kasur. Bertahanlah pada posisi ini selama kurang lebih 1 menit. Gerakan ini sangat cocok untuk ibu yang bayinya masih belum masuk panggul.
Gambar 2.6
g. Gerakan yang ini anda bisa melibatkan suami dengan membantu memijat daerah pinggang, punggung dan bahu untuk melepaskan ketegangan dan memulihkan otot pinggang yang lelah.
Gambar 2.7 2.2.11.3 Gerakan Pendinginan
Maryunani & Sukaryati (2011), menyatakan tahap ini penting untuk dilakukan karena berfungsi sebagai relaksasi otot-otot tubuh pada ibu hamil. Adapun gerakan pendinginan terdiri dari :
a. Berbaring dengan mencari posisi yang nyaman, misal dengan bebaring miring. Tahan selam 10 detik.
b. Duduklah dengan bahu bersandar (rileks). Genggam tangan dan menekuk jari-jari tangan, lakukan selama 10 detik.
c. Duduk dengan bahu bersandar (rileks), tekuk jari-jari kaki, lepaskan. Lakukan selama 10 detik
d. Berbaring di atas matras dengan posisi terlentang, letakkan kedua tangan di atas perut, kemudian tarik nafas dalam-dalam dengan menarik perut, kemudian buang nafas tersebut melalui mulut secara perlahan dengan mengempiskan perut lakukan berulang selama 2 menit.
2.3 Konsep Tidur 2.3.1 Definisi Tidur
Tidur adalah suatu keadaan relatif tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masih menyatakan fase kegiatan otak dan badaniyah yang berbeda. Tidur adalah suatu keadaan yang berulang-ulang, perubahan status kesadaran yang terjadi selama proses tertentu. Jika orang memperoleh tidur yang cukup, mereka merasa tenaganya pulih. Beberapa ahli tidur
yakin bahwa perasaan tenaga yang pulih ini menunjukkan tidur memberikan waktu untuk perbaikan dan penyembuhan sistem tubuh periode keterjagaan yang berikutnya (Tarwanto & Wartonah, 2006;Potter & Perry, 2005).
2.3.2 Fisiologi Tidur
Pengaturan tidur dikarenakan adanya hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengaktifkan dan menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Salah satu aktivitas tidur ini diatur oleh system pengaktifan retikularis (RAS) yang merupakan system yang mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat termasuk pengaturan system kewaspadaan tidur. Pusat pengaturan system kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon dan bagian atas pons. Selain itu, reticular activating system (RAS) dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri dan perabaan juga dapat menerima stimulasi korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses pikir. Saat sadar merupakan hasil dari neuron dalam RAS yang mengeluarkan katekolamin seperti norepinefrin (Sleep Research Society, 1993 dalam Potter & Perry, 2005).
Tidur dapat dihasilkan dari pelepasan serotonin dari sel khusus yang berada di pons dan batang otak tengah, yaitu bulbar synchronizing regional (BSR), sedangkan bangun tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima dipusat otak sistem limbik. Dengan demikian, sistem batang otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS & BSR (Hidayat, 2008).
Ketika orang mencoba tertidur, mereka akan menutup mata dan berada dalam kondisi rileks, stimulus ke RAS menurun. Jika ruangan gelap dan tenang, maka aktivasi RAS semakin menurun. Pada beberapa bagian, BSR selanjutnya mengambil alih, yang menyebabkan tidur (Potter & Perry, 2005).
2.3.3 Klasifikasi Tidur
Terdapat berbagai tahapan dalam tidur, dari tidur yang sangat ringan sampai tidur yang sangat dalam. Para peneliti tidur juga membagi tidur dalam dua tipe yang secara keseluruhan berbeda, yang memiliki kualitas yang berbeda pula, yaitu:
2.3.3.1 Non Rapid Eye Movement (NREM)
Tahap tidur ini dapat juga disebut sebagai tidur gelombang lambat. Dinamakan tidur gelombang lambat karena pada tahap
ini gelombang otaknya sangat lambat, yang dapat dihubungkan dengan penurunan tonus, penurunan darah perifer dan fungsi-fungsi vegetatif tubuh lainnya. Selain itu, tekanan darah frekuensi pernafasan, dan kecepatan metabolisme basal akan berkurang10-30%. Ciri-ciri tidur NREM yaitu betul-betul istirahat penuh, tekanan darah menurun, frekuensi napas menurun, pergerakan bola mata melambat, mimpi berkurang, dan metabolisme menurun.
Perubahan selama proses tidur gelombang lambat melalui elektroenchephalografi dengan memperlihatkan gelombang otak berada pada setiap tahap tidur, yaitu : pertama, kewaspadaan penuh dengan gelombang betha frekuensi tinggi dan bervoltase rendah; kedua, istirahat tenang yang diperlihatkan gelombang alpha; ketiga, tidur ringan karena terjadi perlambatan gelombang alpha sejenis tetha atau delta yang bervoltase rendah ; dan ke empat, tidur nyenyak karena gelombang lambat dengan gelombang delta bervoltase tinggi dengan kecepatan 1-2/detik. Tahapan tidur jenis gelombang lambat :
a. Tahap I
Tahap satu merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur dengan ciri rileks, masih sadar dengan lingkungan, merasa mengantuk, bola mata bergerak samping ke samping, frekuensi nadi dan nafas sedikit menurun, dapat bangun segera, tahap ini berlangsung selama 5 menit. b. Tahap II
Tahap II merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun dengan ciri mata pada umumnya menetap, denyut jantung dan frekuensi nafas menurun, temperatur tubuh menurun, metabolisme menurun, berlangsung pendek dan berakhir 10-15 menit.
c. Tahap III
Tahap III merupakan tahap tidur dengan ciri denyut nadi dan frekuensi nafas dan proses tubuh lainnya lambat, disebabkan oleh adanya dominasi system saraf parasimpatis dan sulit untuk bangun.
d. Tahap IV
Tahap ini merupakan tahap tidur dalam dengan ciri kecepatan jantung dan pernafasan menurun, jarang bergerak
dan sulit dibangunkan, gerakan bola mata cepat, sekresi lambung menurunkan, sertatonus otot menurun.
2.3.3.2 Rapid Eye Movement (REM)
Disebut juga sebagai tidur paradoks yang dapat berlangsung pada tidur malam selama 5-20 menit, dan rata-rata timbul 90 menit. Periode pertama terjadi selama 80-100 menit, akan tetapi apabila kondisi orang sangat lelah, maka awal tidur sangat cepat bahkan jenis tidur ini tidak ada.
Ciri dari tidur jenis ini adalah :
a. Biasanya disertai dengan mimpi aktif.
b. Lebih sulit dibangunkan selama tidur nyenyak gelombang lambat.
c. Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan, menunjukkan inhibisi kuat proyeksi spinal atas sistem pengaktifasi retrikularis.
d. Frekuensi jantung dan pernafasan menjadi tidak teratur. e. Pada otot perifer terjadi beberapa gerakan otot yang tidak
teratur.
f. Mata cepat menutup dan terbuka, nadi cepat dan irreguler, tekanan darah meningkat atau berfluktuasi, sekresi gaster meningkat, dan metabolisme meningkat.
g. Tidur ini penting untuk keseimbangan mental, emosi, juga berperan dalam belajar, memori, dan adaptasi.
Bangun
NREM I REM
NREM II NREM II NREM
II
NREM III NREM III
NREM IV
2.3.4 Fungsi dan Tujuan Tidur
Tidur dipercaya mengkontribusi pemulihan psikologis dan fisiologis (Potter & Perry, 2005). Tidur dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, kesehatan, mengurangi stres pada paru, kardiovaskuler, endokrin, dan lain-lain. Energi disimpan selama tidur, sehingga dapat diarahkan kembali pada fungsi seluler yang penting.
Secara umum terdapat dua efek fisiologis dari tidur, yaitu:
a. Efek pada saraf, yang diperkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan diantara berbagai susunan saraf.
b. Efek pada struktur tubuh, dengan memulihkan kesegaran dan fungsi dalam organ tubuh, karena selama tidur terjadi penurunan.
2.3.5 Tanda Klinis Gangguan Tidur
Tanda klien dengan gangguan klinis tidur (Hidayat, 2008) diantaranya: a. Hilangnya perasaan segar
b. Gelisah c. Lesu d. Apatis
e. Kehitaman daerah sekitar mata f. Kelopak mata bengkak
g. Konjungtiva mata merah h. Mata perih
i. Tidak dapat berkonsentrasi penuh j. Gangguan bicara dan proses pikir
2.3.6 Kebutuhan Tidur Normal
Kualitas dan kuantitas tidur beragam diantara orang-orang dari semua kelompok usia. Kurang lebih 20% waktu tidur dihabiskan yaitu waktu tidur REM, yang tetap konsisten sepanjang hidup. Dewasa muda yang sehat membutuhkan cukup tidur untuk berpartisipasi dalam kesibukan aktivitas sehari-hari. Akan tetapi ada hal yang umum untuk tuntutan gaya hidup yang mengganggu pola tidur. Stress pekerjaan, hubungan
keluarga, dan aktivitas sosial dapat mengarah pada insomnia (misalnya kesulitan memulai atau mempertahankan tidur) dan penggunaan medikasi untuk tidur. Penggunaan medikasi tersebut dapat mengganggu pola tidur dan memperburuk masalah insomnia (Potter & Perry, 2005).
Michelle William pada hasil risetnya, menyatakan secara umum ibu hamil membutuhkan tidur 7-8 jam setiap hari, kurang dari waktu tersebut akan berdampak pada kesehatannya. Dari hasil penelitiannya didapatkan bahwa kuantitas tidur tidak banyak berpengaruh pada kondisi kehamilan trimester pertama dan kedua kehamilan. Namun, di trimester ketiga terjadi peningkatan tekanan darah tinggi sekitar 3,72 mmHg lebih tinggi pada ibu hamil yang tidur kurang dari 7 jam setiap malam sehingga dapat menyebabkan resiko pre-eklamsia lebih tinggi. Kategori durasi tidur pada ibu hamil dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. 5-6 jam dikatakan kategori durasi tidur rendah, b. 7-8 jam kategori sedang,
c. 9-10 adalah kategori durasi tidur yang baik.
2.3.7 Faktor yang Mempengaruhi Tidur
Hidayat (2006) menyatakan kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya penyakit, lingkungan, latihan dan kelelahan, stres psikologis, medikasi, nutrisi, dan motivasi.
a. Penyakit
Sakit dapat mempengaruhi kebutuhan tidur seseorang. Banyak penyakit yang memperbesar kebutuhan tidur, misalnya penyakit yang disebabkan oleh infeksi sehingga memerlukan lebih banyak waktu tidur untuk mengatasi keletihan. Banyak juga keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur, bahkan tidak bisa tidur.
b. Lingkungan
Keadaan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seseorang dapat mempercepat terjadinya proses tidur.
c. Latihan dan Kelelahan
Keletihan akibat aktivitas fisik yang tinggi dapat memerlukan lebih banyak tidur untuk menjaga keseimbangan energi yang telah dikeluarkan. Hal tersebut terlihat pada seseorang yang telah melakukan aktivitas dan mencapai kelelahan. Maka, orang tersebut akan lebih cepat untuk dapat tidur karena tahap tidur gelombang lambatnya diperpendek.
d. Stres Psikologis
Kondisi psikologis dapat terjadi pada seseorang akibat ketegangan jiwa. Hal tersebut terlihat ketika seseorang yang memiliki masalah psikologi mengalami kegelisahan sehingga sulit untuk tidur.
e. Medikasi
Obat dapat juga mempengaruhi proses tidur. Beberapa jenis obat yang dapat mempengaruhi proses tidur adalah jenis obat golongan diuretik yang menyebabkan seseorang insomnia, anti depresan dapat menekan REM (Rapid Eye Movement), kafein dapat meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan untuk tidur, golongan beta bloker yang dapat berefek pada timbulnya insomnia.
f. Nutrisi
Terpenuhinya asupan nutrisi yang cukup dapat mempercepat terjadinya proses tidur, karena adanya trytophan yang merupakan asam amino dari protein yang dicerna. Demikian sebaliknya, kebutuhan gizi yang kurang dapat juga mempengaruhi proses tidur bahkan terkadang sulit untuk tidur.
g. Motivasi
Motivasi merupakan suatu dorongan atau keinginan untuk tidur, yang dapat mempengaruhi proses tidur. Selain itu adanya keinginan untuk menahan tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.
2.3.8 Kualitas dan Kuantitas Tidur
2.3.8.1 Kualitas Tidur
Kualitas tidur adalah kepuasan seseorang terhadap tidur, sehingga seseorang tersebut tidak memperlihatkan perasaan lelah, mudah terangsang dan gelisah, lesu dan apatis, kehitaman di sekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, mata perih, perhatian terpecah-pecah, sakit kepala dan sering menguap dan mengantuk. Seseorang dikatakan memenuhi kualitas tidur bila seseorang tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kekurangan tidur dan tidak mengalami masalah dalam tidurnya (Hidayat, 2008). Tanda-tanda kekurangan tidur dapat dibagi menjadi tanda fisik dan tanda psikologis.
a. Tanda Fisik
1) Ekspresi wajah (area gelap disekitar mata, bengkak di kelopak mata, konjungtiva kemerahan dan mata terlihat cekung).
2) Kantuk yang berlebihan (sering menguap). Tidak mampu berkonsentrasi (kurang perhatian).
3) Terlihat tanda-tanda keletihan seperti penglihatan kabur, mual dan pusing.
b. Tanda Psikologis
1) Menarik diri apatis dan respon menurun. 2) Merasa tidak enak badan, malas berbicara.
3) Daya ingat berkurang, bingung, timbul ilusi penglihatan dan pendengaran.
4) Kemampuan memberikan pertimbangan atau keputusan menurun.
2.3.8.2 Kuantitas Tidur
Hidayat (2008) menyatakan, kuantitas tidur adalah jumlah tidur seseorang pada siang dan malam hari yang biasanya dihitung dengan jumlah waktu (jam).
a. Neonatus sampai dengan 3 bulan. Tidur 16 jam/hari, 6-5 jam tidur siang dan 10-11 jam tidur malam.
b. Bayi, tidur 14 jam/hari, 2-4 jam tidur siang dan 10-11 jam tidur malam hari.
c. Todller, tidur 11-12 jam/hari, 1-3 jam tidur siang dan 9-10 jam tidur malam hari.
d. Prasekolah, tidur 11 jam/hari, 0-1 jam tidur siang dan11 jam tidur malam hari. Pada usia 5 tahun anak sudah tidak membutuhkan tidur siang.
e. Usia sekolah, tidur 10 jam/hari. f. Ibu hamil, 7-8 jam/hari.
g. Dewasa, tidur 7-8 jam/hari. h. Usia tua, tidur 6 jam/hari.
2.4 Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan struktur logis pemahaman yang mengarahkan peneliti pada konsep teori yang mendasari penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam hamil terhadap kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III.
Perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan mempunyai dampak yang bersifat patologis bagi wanita hamil. Santiago, et al, (2001 dalam Wahyuni & Ni’mah, 2013) menyatakan keluhan-keluhan yang dialami pada ibu hamil trimester III diantaranya adalah nyeri punggung bawah, sesak napas, varises, hemorhoid, gangguan tidur, nyeri pelvis dan lain-lain. Salah satu keluhan ibu hamil adalah gangguan tidur yang bisa berupa kesulitan memulai tidur atau sulit tidur sampai pagi. Akibat lanjut dari gangguan tidur ini adalah depresi dan bayi yang dilahirkan memiliki sedikit waktu tidur yang dalam, tekanan darah ibu meningkat sehingga resiko preeklamsia, gangguan tidur pada ibu hamil trimester III juga dapat mengakibatkan persalinan prematur (Field, at al 2007; Williams, 2006; Shanti, 2010). Upaya-upaya untuk mengatasi
gangguan tidur pada ibu hamil antara lain dengan olahraga, mengonsumsi obat-obatan yang aman bagi ibu hamil, hipnoterapi, edukasi tidur (sleeping education) dan latihan relaksasi (Hegard, Hanke K, 2010). Olahraga yang aman untuk ibu hamil dapat berupa jalan-jalan pagi dan senam hamil.
Senam hamil adalah program kebugaran yang diperuntukkan bagi ibu hamil dalam rangka mengencangkan sistem tubuh dan menyiapkan otot-otot yang diperlukan sebagai tambahan yang harus dialami selama kehamilan ( Fauziah & Sutejo, 2012). Secara fisiologis latihan relaksasi pada senam hamil akan menimbulkan efek relaks yang melibatkan syaraf parasimpatis dalam sistem syaraf pusat. Dimana salah satu fungsi syaraf parasimpatis ini adalah menurunkan produksi hormone adrenalin atau epinefrin (hormone stress) dan meningkatkan skresi hormone noradrenalin atau norepinefrin (hormone relaks) sehingga terjadi penurunan kecemasan serta ketegangan pada ibu hamil yang mengakibatkan ibu hamil menjadi lebih relaks dan tenang (Wulandari, 2006). Hubungan antara teori dapat dilihat pada skema 2.2 berikut :
Keterangan :
= Diteliti
= Tidak diteliti
Skema 2.2 Kerangka Teori
2.5 Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian ini berasal dari kerangka teori yang dijadikan suatu konsep dan pedoman bagi peneliti dalam proses penelitian. Kerangka konsep ini menjadi jembatan antara teori yang digunakan dan pelaksanaan penelitian. Kerangka konsep menguraikan variabel dependen dan variabel independen
Ibu hamil trimester III
Faktor-faktor yang mempengaruhi tidur, (Bobak, 2004) :
1. Kecemasan ( stres psikologis) 2. Nyeri punggung (ketidaknyamanan) 3. Poliuri
4. Gerakan janin 5. Nyeri ulu hati 6. Kram
7. Kelelahan & kesulitan memulai tidur 8. Lingkungan
Olahraga Hipnotherapy
Obat aman untuk ibu hamil
Edukasi Tidur
Jalan santai pagi hari
Senam Hamil adalah program kebugaran yang
diperuntukkan bagi ibu hamil dalam rangka mengencangkan sistem tubuh dan menyiapkan otot-otot yang diperlukan sebagai tambahan yang harus dialami selama kehamilan (Fauziah & Sutejo, 2012).
1. Kualitas tidur adalah kepuasaan seseorang terhadap tidurnya;
2. Kuantitas tidur adalah jumlah tidur seseorang pada siang dan malam hari yang biasanya dihitung dengan jumlah waktu (jam) ( Hidayat, 2008).
Kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III sebelum senam hamil
Kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III setelah senam hamil
Senam Hamil
2.5.1 Variabel Dependen
Variabel dependen merupakan variabel yang dapat berubah karena adanya variabel lain dalam penelitiaan. Variabel dependen (terikat) disebut juga variabel outcome, efek, atau hasil. Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi oleh/atau yang berubah karena perubahan variabel bebas (Sastroasmoro & Ismael, 2010; Sugiyono,2009).
Variabel dependen pada penelitian ini adalah kualitas tidur dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III. Variabel ini diukur dengan instrumen kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III sebelum dan setelah dilakukan intervensi senam hamil selama 1 bulan oleh peneliti.
2.5.2 Variabel Independen
Variabel independen merupakan variabel yang dapat mempengaruhi variabel lain dalam penelitian. Variabel indenpenden atau sering disebut variabel bebas, predictor, causa, atau resiko. Variabel independen adalah apabila variabel tersebut berubah dapat mengakibatkan perubahan pada variabel lain (Sastroasmoro & Ismael, 2010; Sugiyono, 2009)
Variabel independen dalam penelitian ini adalah senam hamil terhadap kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III yang dilaksanakan selama 4 kali intervensi dalam 1 bulan.
Kerangka konsep penelitian ini dapat dilihat pada skema 2.3 berikut : Variabel Independen
Skema 2.3 Kerangka Konsep Variabel Dependen
(Sebelum Intervensi)
Variabel Dependen (Setelah Intervensi)
2.6 Hipotesis
2.6.1 Hipotesis Mayor
Ada pengaruh senam hamil terhadap kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan.
2.6.2 Hipotesis Minor
a. Ada perbedaan kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah senam hamil di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito Selatan.
b. Tidak ada perbedaan kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah senam hamil di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito selatan.
c. Ada perbedaan kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III pada kelompok intervensi dan kontrol setelah dilaksanakan senam hamil di wilayah kerja Puskesmas Bangkuang Kecamatan Karau Kuala Kabupaten Barito selatan.
BAB 3
METODE PENELITIAN
Bab ini memaparkan metodologi penelitian yang digunakan, meliputi desain penelitian, definisi operasional, populasi dan sampel penelitian, tempat dan waktu penelitian dan etika penelitian. Selain itu juga memaparkan alat yang digunakan dalam pengumpulan data, dan proses serta analisis data yang dilakukan dalam penelitian.
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan desain quasi experiment pre-post test with control group merupakan desain penelitian dengan menguji pengaruh suatu metode kepada responden dengan instrumen yang diujikan sebelum dan sesudah eksperimen dilakukan terhadap responden. Penelitian dengan desain kuasi eksperimen digunakan untuk mengetahui pengaruh dan perlakuan pada subyek dan mengukur hasil (efek) intervensi (Burns & Grove, 1993; Polit & Hungler, 1999; Sastroasmoro & Ismael, 2010). Desain ini menggunakan dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Pre test dilakukan untuk mengetahui dan memastikan kesetaraan masing-masing kelompok sebelum dilakukan intervensi pada kelompok intervensi sebagai keadaan awal serta perbedaan setelah intervensi. Kelompok kontrol sebagai pembanding efek intervensi terhadap kelompok intervensi yang diberi intervensi senam hamil.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh senam hamil terhadap kualitas dan kuantitas tidur ibu hamil trimester III, dengan membandingkan kelompok intervensi yang mendapat senam hamil dengan kelompok kontrol yang tidak dilakukan senam hamil sehingga teridentifikasi pengaruh senam hamil terhadap kualitas dan kuantitas tidur ibu hamuil trimester III . Efek intervensi diukur dengan melakukan pre test sebelum dan post test setelah