• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Implementasi Penilaian Berdasarkan Kurikulum 2013 Ditinjau dari Status Kepegawaian

Permendikbud nomor 66 tahun 2013 penilaian yang baik dalam kurikulum 2013 mempersyaratkan penggunaan penilaian yang autentik (authentic assesment). Kurikulum 2013 menekankan bahwa penilaian autentik lebih mampu untuk memberikan informasi kemampuan peserta didik secara valid. Dalam mengaplikasikan penilaian autentik maka di perlukan juga pembelajaran autentik dan belajar autentik.

Penilaian yang diterapkan oleh pendidik berdasarkan prinsip-prinsip yang meliputi objektif, terpadu, ekonomis, transparan, akuntabel, serta edukatif. sedangkan teknik yang digunakan dalam penilaian kompetensi sikap adalah observasi, penilaian diri, penilaian antar peserta didik dan jurnal. Penilaian kompetensi pengetahuan yaitu instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Terakhir, untuk penilaian kompetensi keterampilan yaitu penilaian otentik, penilaian diri, penilaian projek ulangan harian, pembelajaran dalam bentuk ulangan atau penugasan, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester dan ujian tingkat kompetensi.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pertama dapat diketahui tidak ada perbedaan dalam mengimplementasikan penilaian berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari status kepegawaian. Maksud dari pernyataan sebelumnya bahwa guru dengan status kepegawaian (GTT, Yayasan, PNS) memiliki kesamaan dalam mengimplementasikan penilaian berdasarkan kurikulum 2013. Kesimpulan tersebut diperoleh dari perhitungan Anova yang menunjukkan nilai sig sebesar 0,545 lebih besar dari α = 0,05 dan Fhitung sebesar 0,612 lebih kecil dari Ftabel sebesar 3,15. Deskripsi data untuk status kepegawaian guru menunjukkan bahwa sebagian besar guru yang menjadi responden memiliki status kepegawaian sebagai PNS sebanyak 36 guru, 16 guru yang memiliki status kepegawaian sebagai Yayasan dan sisanya sebagai GTT. Pada hipotesis ini, guru PNS menjadi data yang mayoritas.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa implementasi penilaian berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari status kepegawaian tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Dalam perumusan hipotesis penulis mengemukakan bahwa ada perbedaan dalam implementasi penilaian berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari status kepegawaian. Dikarenakan, berdasarkan latar belakang masalah dan kerangka berpikir diketahui bahwa dalam penerapannya kurikulum 2013 banyak mengalami kendala. Pelatihan yang kurang serta informasi mengenai penerapan kurikulum 2013 menyebabkan

guru-guru baik dari PNS, Yayasan maupun GTT kurang mampu untuk menerapkan kurikulum 2013 dengan maksimal. Bahkan guru PNS yang seharusnya lebih mampu untuk mengimplementasikan penilaian dikarenakan memiliki jam kerja yang lebih dan seringnya mengikuti pelatihan dari pemerintah, pun sama dengan dengan guru yayasan dan GTT. Meskipun tidak ada perbedaan baik guru PNS, Yayasan dan GTT, responden telah memberikan poin positif dalam mengimplementasikan penilaian berdasarkan kurikulum 2013. Sebab dalam mengisi kuesioner yang telah diberikan, responden secara keseluruhan lebih condong sudah mengimplementasikan penilaian berdasarkan kurikulum 2013 dengan sangat baik.

2. Implementasi Penilaian Berdasarkan Kurikulum 2013 Ditinjau dari Masa Kerja

Permendikbud nomor 66 tahun 2013 penilaian yang baik dalam kurikulum 2013 mempersyaratkan penggunaan penilaian yang autentik (authentic assesment). Kurikulum 2013 menekankan bahwa penilaian autentik lebih mampu untuk memberikan informasi kemampuan peserta didik secara valid. Dalam mengaplikasikan penilaian autentik maka di perlukan juga pembelajaran autentik dan belajar autentik.

Penilaian yang diterapkan oleh pendidik berdasarkan prinsip-prinsip yang meliputi objektif, terpadu, ekonomis, transparan, akuntabel, serta edukatif. sedangkan teknik yang digunakan dalam penilaian kompetensi sikap adalah observasi, penilaian diri, penilaian

antar peserta didik dan jurnal. Penilaian kompetensi pengetahuan yaitu instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Terakhir, untuk penilaian kompetensi keterampilan yaitu penilaian otentik, penilaian diri, penilaian projek ulangan harian, pembelajaran dalam bentuk ulangan atau penugasan, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester dan ujian tingkat kompetensi.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis kedua dapat diketahui tidak ada perbedaan dalam mengimplementasikan penilaian berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari masa kerja. Maksud dari pernyataan sebelumnya bahwa guru dengan masa kerja (<10 tahun, 10-20 tahun, >10-20 tahun) memiliki kesamaan dalam mengimplementasikan penilaian berdasarkan kurikulum 2013. Kesimpulan tersebut diperoleh dari perhitungan Anova yang menunjukkan nilai sig sebesar 0,661

lebih besar dari α = 0,05 dan Fhitung sebesar 0,416 lebih kecil dari Ftabel sebesar 3,15. Deskripsi data mengenai masa kerja menunjukkan bahwa sebagian besar guru yang menjadi responden memiliki masa kerja yang cukup lama (>20 tahun) sebanyak 33 guru, 16 guru yang memiliki pengalaman mengajar selama 10-20 tahun dan sisanya merupakan guru baru (<10 tahun). Pada hipotesis ini, guru dengan masa jabatan >20 tahun menjadi data yang mayoritas.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa implementasi penilaian berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari masa kerja tidak terdapat

perbedaan yang signifikan. Dalam perumusan hipotesis penulis mengemukakan bahwa ada perbedaan dalam implementasi penilaian berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari masa kerja. Dikarenakan, berdasarkan latar belakang masalah dan kerangka berpikir diketahui bahwa dalam penerapannya kurikulum 2013 banyak mengalami kendala. Pelatihan yang kurang serta informasi mengenai penerapan kurikulum 2013 menyebabkan guru-guru baik yang masa kerjanya <10 tahun, 10-20 tahun, dan >20 tahun kurang mampu untuk menerapkan kurikulum 2013 dengan maksimal. Guru yang masa kerjanya <10 tahun diharapkan lebih mampu dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 karena tuntutan zaman sekarang dengan teknologi yang sudah maju. Meskipun tidak ada perbedaan baik guru yang masa kerjanya <10 tahun, 10-20 tahun, dan >20 tahun, responden telah memberikan poin positif dalam mengimplementasikan penilaian berdasarkan kurikulum 2013. Sebab dalam mengisi kuesioner yang telah diberikan, responden secara keseluruhan lebih condong sudah mengimplementasikan penilaian berdasarkan kurikulum 2013 dengan sangat baik.

3. Implementasi Proses Pembelajaran Berdasarkan Kurikulum 2013 Ditinjau dari Status Kepegawaian

Permendikbud no 103 tahun 2014 memaparkan pengertian pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik, antar peserta didik dengan tenaga pendidik dan sumber belajar pada suatu

lingkungan belajar. Penelitian tentang proses pembelajaran didasarkan pada Sistem Pendidikan Nasional bahwa proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, menyenangkan, menantang, inspiratif, memotivasi peserta didik untuk berpartisipiasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemungkinan sesuai dengan bakat minat, kemampuan, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis ketiga dapat diketahui bahwa ada perbedaan mengimplementasikan proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari status kepegawaian. Maksud dari pernyataan sebelumnya bahwa guru dengan status kepegawaian (GTT, Yayasan, PNS) mempunyai cara yang berbeda dalam mengimplementasikan proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013. Kesimpulan tersebut diperoleh dari perhitungan Anova yang menunjukkan nilai sig sebesar 0,016 lebih kecil dari α = 0,05 dan Fhitung sebesar 4,469 lebih besar dari Ftabel sebesar 3,15. Di mana status kepegawaian GTT terhadap Yayasan memiliki perbedaan yang signifikan (mean difference) sebesar -0,795 dan GTT terhadap PNS sebesar -9,073. Deskripsi data mengenai status kepegawaian guru menunjukkan bahwa sebagian besar guru yang menjadi responden memiliki status kepegawaian sebagai PNS sebanyak 36 guru, 16 guru yang memiliki status kepegawaian sebagai Yayasan dan sisanya

sebagai GTT. Pada hipotesis ini, guru PNS menjadi data yang mayoritas.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa implementasi proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari status kepegawaian terdapat perbedaan yang signifikan. Dalam perumusan hipotesis penulis mengemukakan bahwa ada perbedaan dalam implementasi proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari status kepegawaian. Dikarenakan, berdasarkan latar belakang masalah dan kerangka berpikir diketahui bahwa dalam penerapannya kurikulum 2013 banyak mengalami kendala. Pelatihan yang kurang serta informasi mengenai penerapan kurikulum 2013 menyebabkan guru-guru baik dari PNS, Yayasan maupun GTT kurang mampu untuk menerapkan kurikulum 2013 dengan maksimal. Bahkan guru PNS yang seharusnya lebih mampu untuk mengimplementasikan penilaian dikarenakan memiliki jam kerja yang lebih dan seringnya mengikuti pelatihan dari pemerintah, pun sama dengan dengan guru yayasan dan GTT.

4. Implementasi Proses Pembelajaran Berdasarkan Kurikulum 2013 Ditinjau dari Masa Kerja

Permendikbud Permendikbud no 103 tahun 2014 memaparkan pengertian pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik, antar peserta didik dengan tenaga pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Penelitian tentang proses pembelajaran

didasarkan pada Sistem Pendidikan Nasional bahwa proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, menyenangkan, menantang, inspiratif, memotivasi peserta didik untuk berpartisipiasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemungkinan sesuai dengan bakat minat, kemampuan, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis keempat dapat diketahui bahwa ada perbedaan mengimplementasikan proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari masa kerja. Maksud dari pernyataan sebelumnya bahwa guru dengan masa kerja (<10 tahun, 10-20 tahun, >10-20 tahun) mempunyai cara yang berbeda bagaimana mengimplementasikan proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013. Kesimpulan tersebut diperoleh dari perhitungan Anova yang menunjukkan nilai sig sebesar 0,106 lebih besar dari α = 0,05 dan Fhitung sebesar 2,328 lebih kecil dari Ftabel sebesar 3,15. Deskripsi data mengenai masa kerja menunjukkan bahwa sebagian besar guru yang menjadi responden memiliki masa kerja yang cukup lama (>20 tahun) sebanyak 33 guru, 16 guru yang memiliki pengalaman mengajar selama 10-20 tahun dan sisanya merupakan guru baru (<10 tahun). Pada hipotesis ini, guru dengan masa kerja >20 tahun menjadi data yang mayoritas.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa implementasi proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari masa kerja

tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Dalam perumusan hipotesis penulis mengemukakan bahwa ada perbedaan dalam implementasi proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari masa kerja. Dikarenakan, berdasarkan latar belakang masalah dan kerangka berpikir diketahui bahwa dalam penerapannya kurikulum 2013 banyak mengalami kendala. Pelatihan yang kurang serta informasi mengenai penerapan kurikulum 2013 menyebabkan guru-guru baik yang masa kerjanya <10 tahun, 10-20 tahun, dan >20 tahun kurang mampu untuk menerapkan kurikulum 2013 dengan maksimal. Guru yang masa kerjanya <10 tahun diharapkan lebih mampu dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 karena tuntutan zaman sekarang dengan teknologi yang sudah maju. Meskipun tidak ada perbedaan baik guru yang masa kerjanya <10 tahun, 10-20 tahun, dan >20 tahun, responden telah memberikan poin positif dalam mengimplementasikan proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013. Sebab dalam mengisi kuesioner yang telah diberikan, responden secara keseluruhan lebih condong sudah mengimplementasikan proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 dengan baik.

154 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada BAB IV sebelumnya mengenai implementasi penilaian dan proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 dengan responden guru Akuntansi di SMK Bidang Keahlian Bisnis dan Manajemen se-Kabupaten Sleman, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Tidak ada perbedaan dalam mengimplementasikan penilaian berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari status kepegawaian. Hal ini didasarkan pada uji Anova di mana nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,545 lebih besar dari α = 0,05 dan Fhitung sebesar 0,612 lebih kecil dari Ftabel sebesar 3,15.

2. Tidak ada perbedaan dalam mengimplementasikan penilaian berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari masa kerja. Hal ini didasarkan pada uji Anova di mana nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,661 lebih besar dari α = 0,05 dan Fhitung sebesar 0,416 lebih kecil dari Ftabel sebesar 3,15.

3. Ada perbedaan dalam mengimplementasikan proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari status kepegawaian. Hal ini didasarkan pada uji Anova di mana nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,016 lebih kecil dari α = 0,05 dan Fhitung sebesar 4,469 lebih

besar dari Ftabel sebesar 3,15. Perbedaan tersebut terletak pada mean

difference status kepegawaian GTT terhadap Yayasan sebesar -0,795

dan GTT terhadap PNS sebesar -9,073.

4. Tidak ada perbedaan dalam mengimplementasikan proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 ditinjau dari masa kerja. Hal ini didasarkan pada uji Anova di mana nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,106 lebih besar dari α = 0,05 dan Fhitung sebesar 2,328 lebih kecil dari Ftabel sebesar 3,15.

Dokumen terkait