BAB 5 Hasil Penelitian Dan pembahasan
2. Pembahasan
2.1 Karakteristik Demografi Responden
Berdasarkan hasil penelitian mayoritas responden berusia 6-8 tahun (53,1%). Hal ini sesuai dengan pernyataan Wong (2008), yang menyatakan periode usia pertengahan disebut dengan usia sekolah atau masa sekolah dengan rentang usia 6-12 tahun. Periode ini dimulai dengan masuknya anak kelingkungan sekolah yang memiliki dampak signifikan dalam perkembangan dan hubungan anak dengan orang lain. Pada usia sekolah secara umum aktivitas fisik semakin tinggi, sehingga anak sangat rentan untuk terkena penyakit yang bisa mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangannya. Apabila anak dalam kondisi sakit, maka orang tua akan segera membawa anak ke pelayanan kesehatan dan seringkali anak harus dirawat inap untuk proses penyembuhannya.
Berdasarkan jenis kelamin mayoritas responden berjenis kelamin laki- laki sebanyak 21 orang (65,6%). Hal ini dikarenakan jumlah pasien anak usia
berjenis kelamin laki-laki. Wong (2008), menyatakan anak perempuan pada umumnya lebih adaptif terhadap stresor dibandingkan dengan anak laki-laki, sehingga anak laki-laki lebih banyak yang dirawat di rumah sakit dibandingkan anak perempuan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Hurlock (2004), menyatakan jenis kelamin akan mempengaruhi aktifitas bermain anak. Anak laki-laki lebih banyak melakukan permainan yang menghabiskan energi dibandingkan anak perempuan, sehingga anak laki-laki lebih beresiko terkena penyakit atau cedera.
Berdasarkan riwayat pernah dirawat inap di rumah sakit mayoritas responden belum pernah dirawat di rumah sakit yaitu 19 orang (59,4). Berdasarkan pernyataan Supartini (2004), menyatakan reaksi anak terhadap hospitalisasi berbeda-beda, sesuai dengan tahapan usia perkembangan anak, pengalaman sebelumnya terhadap sakit, sistem pendukung yang tersedia dan kemampuan koping yang dimilikinya dan tidak ada hubungan antara pengalaman pernah dirawat dengan kecemasan anak.
Berdasarkan lama rawat inap mayoritas responden lama rawat inap tiga hari yaitu sebanyak 19 orang (59,4%). Hal ini dikarenakan anak belum mengenal lingkungan dan prosedur pengobatan yang akan dijalani. Pada anak yang baru masuk ke rumah sakit, awalnya sangat sulit berinteraksi dengan orang lain. Respon yang muncul yaitu anak cenderung menangis atau marah ketika didekati, bahkan tidak segan-segan ia merajuk kepada orang tuanya. Atas bantuan dari orang tua pasien yang selalu ada disamping klien, semua hambatan dapat teratasi dengan baik. Sebagian anak yang telah 4-5 hari
dirawat cenderung bisa berinteraksi dengan baik, bahkan ia berespon ketika kita membacakan cerita (Wong,2008).
2.2 Kecemasan Responden Sebelum Diberikan Terapi Bermain
Berdasarkan hasil penelitian sebelum diberikan terapi bermain diperoleh frekuensi tidak ada cemas sebanyak 6 orang (18,8%), dan ada cemas sebanyak 26 orang (81,2%). Kecemasan anak selama hospitalisasi terjadi karena adanya stresor berupa perpisahan dengan keluarga, kehilangan kendali, dan ketakutan akan perlukaan terhadap anggota tubuh (Hart dan Bossert,1994 dalam Wong 2008).
Anak – anak mengatakan tentang ketakutan mereka pada saat di rawat di rumah sakit. Anak-anak tersebut menunjukkan bahwa jauh dari keluarga memiliki peringkat yang lebih tinggi dari pada ketakutan lainnya yang muncul akibat hospitalisasi. Dimana anak usia sekolah membutuhkan dan menginginkan dukungan orang tua (Hart & Bossert,1994;Wilson & Yorker,1997 dalam Wong 2008). Hasil observasi yang dilakukan di RSUD Kraton Pekalongan selama tahun 2007, jumlah anak yang dirawat di Ruang Anak rata-rata perhari 30 orang dari 33 kapasitas tempat tidur yang tersedia. Jumlah tersebut hampir 50 % (15 orang) menunjukkan respon gelisah, cengeng, regresi, sulit makan, sulit tidur, dan tidak kooperatif, terutama pada kelompok usia 6-8 tahun (Pratiwi 2012)
2.3 Kecemasan Responden Setelah Diberikan Terapi Bermain
Berdasarkan hasil penelitian setelah diberikan terapi bermain diperoleh frekuensi tidak ada cemas sebanyak 28 orang (87,5%), dan ada cemas sebanyak 4 orang (12,5%).. Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh kesenangan atau kepuasan. Bermain merupakan media yang baik untuk mengekspresikan perasaan, keinginan, fantasi, dan ide-ide selama anak dirawat di rumah sakit. Hal ini sesuai dengan pendapat Sacharin (1996) dalam Utaminingsih (2006), permainan merupakan cara yang baik untuk menjalin hubungan antara perawat dan anak. Pada saat melakukan permainan akan terjalin komunikasi, perawat dapat melakukan pendekatan-pendekatan pada anak. Hal ini dapat mengubah persepsi negatif anak terhadap perawat. Perawat tidak hanya diidentifikasi sebagai seseorang yang menimbulkan sakit saja, tetapi perawat juga dapat melakukan hal-hal yang menyengakan anak. Hubungan yang dekat antara perawat dan anak akan membuat anak lebih menerima kehadiran perawat.
2.4 Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Kecemasan Akibat Hospitalisasi Pada Anak Usia Sekolah Yang di Rawat Di RSUD Dr. Pirngadi Medan. Berdasarkan analisa data uji statistik wilcoxon dengan tingkat kepercayaan 95% (α= 0,05) diperoleh skor Z sebesar -4,491. Dari hasil analisa diperoleh negative ranks 12,50, Positive ranks 287,50. Oleh karena jumlah rangking negatif lebih kecil dibandingkan rangking positif maka nilai T yang digunakan adalah rangking negatif (12,50). Berdasarkan hasil uji ini,
didapatkan nilai p value adalah 0,000 dengan demikian p value < α (0,000<0,05). Hal ini dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara terapi bermain dengan teknik bercerita terhadap kecamasan anak.
Permainan adalah aspek yang paling penting dalam kehidupan seorang anak dan merupakan suatu cara yang paling efektif untuk menghadapi dan mengatasi kecemasan. Permainan dalam lingkup rumah sakit adalah pekerjaan anak yang memberikan peluang untuk mengungkapkan ekspresi emosional anak (Suparto, 2002).
Menurut Yaakub (2009), manfaat bercerita ditinjau dari beberapa aspek yaitu untuk membantu pembentukan pribadi dan moral anak, menyalurkan imajinasi dan fantasi, memacu kemampuan verbal anak, merangsang minat menulis anak, merangsang minat baca anak, membuka cakrawala pengetahuan anak sedangkan menurut Ranakusumah (2009), manfaat bercerita adalah memperluas wawasan dan cara berfikir anak sebab dalam bercerita anak mendapatkan tambahan pengalaman yang bisa menjadi hal baru baginya. Dengan kata lain berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa terapi bermin dengan teknik bercerita dapat mengalihkan pikiran anak dengan fantasi-fantasi dan imajinasinya tentang cerita yang didengarkannya sehingga dia melupakan rasa cemasnya selama dirawat dirumah sakit.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terapi bermain dengan teknik bercerita memiliki pengaruh yang signifikan untuk menurunkan respon
kecemasan anak akibat hospitalisasi. Hal ini sejalan dengan penelitian sejenis tentang terapi bermain. Menurut penelitian Pratiwi (2012) dengan 28 responden menggunakan hospital story, terdapat pengaruh yang signifikan antara terapi bermain hospital story terhadap kecemasan anak. Menurut Eqlima (2011) dengan 13 responden diperoleh hasil terdapat pengaruh yang signifikan pada pemberian terapi bermain dengan teknik bercerita terhadap kecemasan akibat hospitalisasi pada anak usia prasekolah. Penelitian Utaminingsih (2006) di RSU Gresik dengan 24 responden, diperoleh hasil bahwa terapi bermain (games) sangat efektif untuk meningkatkan tingkat adaptasi psikologis anak usia sekolah yang dirawat di rumah sakit tersebut.
3. Keterbatasan Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti masih memiliki beberapa keterbatasan. Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah:
3.1 Desain penelitian yang digunakan tanpa kelompok kontrol, sehingga peneliti hanya bisa membandingkan hasil dari pre test dan post test.
3.2 Faktor pengaruh yang tidak bisa dikendalikan oleh peneliti: partisipasi orangtua dan keadaan umum anak saat pelaksanaan penelitian.