• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Pada bagian ini sebuah data yang telah disajikan akan dianalisis sesuai dengan fokus kajian penelitian. Data tersebut diperoleh dengan melakukan studi pustaka, penyebaran kuesioner, dan wawancara terhadap fenomena yang berkaitan

dengan akuntabilitas pelayanan kesehatan masyarakat pada program BPJS persalinan, serta melakukan studi dokumentasi. Data tersebut dapat dianalisis dengan mengamati beberapa indikator sebagai berikut :

a. Akuntabilitas Pelayanan Kesehatan Masyarakat Pada Program BPJS Persalinan

Pertanggungjawaban pegawai terhadap pelayanan BPJS di puskesmas Batangtoru dirasakan perlu diperbaiki lagi, dalam hal pelayanan dan ketetapan waktu kedatangan para pegawainya, ketepatan waktu pegawai untuk datang setiap hari akan memperlihatkan akuntabilitas yang baik dari pegawai dalam mengedepankan pelayanan terhadap masyarakat dalam program BPJS persalinan.

Agar tercapainya kinerja pelayanan publik yang baik diperlukan data dari para responden disini diambil dari pasien BPJS persalinan yang melakukan pemeriksaan dan melahirkan di Puskesmas Batangtoru dan Kepala Puskesmas Batangtoru, menurut dr. Rudi ( 39 Tahun) selaku bidang kepala puskesmas Batangtoru mengatakan :

“Pelayanan yang baik merupakan tujuan utama dari Puskesmas Batangtoru ini, dan selama program BPJS persalinan ini dilaksanakan pasien cukup mendapatkan pertolongan melahirkan, dan pemeriksaan dengan cukup baik, disetiap tahun kami selalu mengadakan perbaikan dalam melayani pasien, baik pasien BPJS persalinan ataupun pasien lainnya”. (Wawancara, 27 Februari 2017)

Dari penjelasan dr. Rudi diatas, jelas sudah kalau pelayanan BPJS persalinan sudah berjalan dengan baik, namun ada kekurangan dalam pelayanan,

namun mereka mencoba untuk selalu melakukan perbaikan dalam segala bidang untuk memberikan pelayanan kepada pasien secara lebih baik lagi.

b. Akuntabilitas Kinerja Publik Dilihat Berdasarkan Proses

Dari hasil data yang dihasilkan dapat disimpulkan bahwa dipandang dari sudut akuntabilitas kinerja publik berdasarkan proses adalah cukup baik kinerja yang dilakukan berdasarkan proses.

Hal ini dapat dilihat cukup tercapainya kinerja publik berdasarkan proses, dalam hal tentang ada tidaknya kejadian pasien yang terlantar karena terlambat dirujuk dijawab tidak pernah ada oleh 85% responden atau 17 orang dari 20 orang pasien yang dijadikan responden dalam penelitian ini, sedang yang menjawab beberapa 15 % atau 3 orang dan yang menjawab tidak pernah ada pasien yang terlantarkan karena terlambat di rujuk adalah dikarenakan tidak ada pasien yang diterlantarkan oleh Puskesmas Batangtoru ini, hanya saja proses rujukan terkadang berjalan dengan lambat, serta transportasi untuk menuju rumah sakit tidak gratis, seperti yang dikemukakan dr. Rudi ( 39 tahun) selaku Bidan Kepala Puskesmas Batangtoru:

“Puskesmas melayani rujukan sampai kerumah sakit di Padangsidempuan, namun dalam hal transportasi puskesmas tidak menanggung, jika ingin menggunakan puskesmas keliling, maka pasien harus membayar Rp. 100.000 atau diperbolehkan menggunakan transportasi umum yang lain, atau transportasi pribadi.” (Wawancara, 27 februari 2017)

Pasien yang ingin menggunakan puskesmas keliling harus membayar Rp. 100.000,00, dalam hal ini dirasa kurang memadai, dikarenakan pasien yang biasanya menggunakan program BPJS persalinan adalah tergolong orang yang

kurang mampu, namun transportasi memang dipungut oleh pihak puskesmas dikarenakan transportasi adalah biaya diluar tanggungan yang dirancangkan pemerintah dalam program BPJS persalinan.

Kemampuan pegawai dalam memeriksa pasien dilihat dengan keterampilan tenaga medis dalam memeriksa pasien, ketelitian tenaga medis dalam memeriksa pasien, sikap pegawai terhadap pasien. Dalam hal kemampuan pegawai dalam memeriksa pasien 25% responden atau 5 orang pasien menjawab baik, dan 75% responden menjawab cukup baik dan tidak ada yang menjawab kurang baik, seperti yang di ungkapkan oleh Ibu Rizki Laila (23 tahun) :

“Menurut saya dokter memeriksa saya dengan baik dan ramah, tidak kasar dan asal-asalan, hanya biasa saja, tidak ada yang istimewa atau diperlakukan secara istimewa.”(Wawancara, 27 Februari 2017)

Sikap pegawai merupakan hal yang menjadi faktor utama dalam pemeriksaan kepada pasien, ramah tidaknya pegawai dapat memberi pengaruh besar terhadap kondisi pasien yang datang berobat. Menurut responden yang diwawancarai 60% responden atau 12 orang mengatakan ramah dan 40% atau 8 orang mengatakan biasa saja, seperti yang diungkapkan Ibu Miswati (33 tahun): “ Pegawai disini ramah hanya pada orang yang dikenal saja, kalau tidak kenal tidak terlalu ramah, bidannya juga ramah agar ada pasien diluar puskesmas yang berobat, sehingga bidan mendapatkan pendapatan diluar gaji mereka. “(Wawancara, 27 Februari 2017)

Dari hasil wawancara di atas dapat dilihat jika pegawai hanya ingin beramah tamah saja dengan pasien yang mereka kenal, jika tidak kenal sikap mereka biasa saja, dilihat dari bidan yang ada, mereka seperti berlomba-lomba

agar banyak pasien yang datang kepada mereka, misalnya datang ke klinik bidan, atau memeriksa pasien dirumah. Hal ini sebenarnya kurang baik karena tugas bidan sebenarnya adalah memeriksa pasien tanpa mencari keuntungan untuk mereka sendiri.

Ketepatan waktu kedatangan pegawai menjadi faktor penting dalam kepuasan pasien, kedisiplinan pegawai dalam menjalankan tugasnya harus dilakukan, seperti misalnya puskesmas buka pukul 09.00 semestinya pegawai sudah datang sebelum pukul 09.00, responden yang menjawab tidak berjumlah 40% atau 8 orang, yang menjawab ya 25% atau 5 orang dan yang menjawab tidak tahu ada 35% atau 7 orang. Seperti yang di ungkapkan ibu Annum (30 tahun) : “ Saya tidak terlalu tau , apakah pegawai disini datang tepat pada waktunya atau tidak, karena saya juga berobat datangnya siang, jadi tidak terlalu paham tentang hal seperti itu.”(Wawancara, 28 Februari 2017)

BPJS persalinan adalah program pemerintah yang membantu ibu dalam melahirkan bayi, di Puskesmas Batangtoru ini, melayani pasien rawat inap, dan dalam pertanyaan tentang apakah puskesmas melayani proses melahirkan lewat dari jam kerja yang menjawab tidak. Seperti diungkapkan Ibu Rizki Laila (21 Tahun) :

“Setahu saya pegawai di Puskesmas ini melakukan jadwal piket dihari libur, maka dari itu, puskesmas ini melayani pasien melahirkan juga di luar kerja.”(Wawancara, 27 februari 2017)

Dari pertanyaan dengan ibu Rizki Laila tersebut, jelas kalau puskesmas melayani pasien melahirkan lewat dari jam kerja, hal ini dikatakan baik, dilihat

dari Puskesmas Batangtoru adalah puskesmas yang melayani pasien rawat inap, dengan jadwal piket bergantian antar pegawai puskesmas.

Kedisiplinan pegawai dalam bekerja dan tanggung jawab pegawai dalam melayani pasien akan terlihat dalam keinginannya berada pada puskesmas pada jam kerja yang telah ditentukan oleh pihak puskesmas, 40 % responden atau 8 orang mengatakan berada ditempat pada jadwal pelayanan, dan 60 % atau 12 orang mengatakan kadang-kadang berada ditempat selama jadwal pelayanan, seperti yang diungkapkan ibu Miswati (33 Tahun) :

“ Pegawai disini memiliki banyak keperluan diluar puskesmas ini, seperti membantu pasien lain diklinik, atau dirumah bersalin lain, maka mereka terkadang tidak ada disini ketika banyak pasien, jadi diganti dengan pegawai atau bidan yang lain.”(Wawancara, 27 Februari 2017)

Dari pernyataan ibu Mismawati diatas terlihat kalau pegawai atau bidan puskesmas masih menerima pekerjaan diluar dari jadwal jam kerja puskesmas yang telah ditentukan, pegawai yang membantu pasien diluar puskesmas sebenarnya boleh-boleh saja tapi akan lebih baik jika dilakukan diluar jam kerjanya, sehingga tidak menganggu pelayanan terhadap pasien di Puskesmas Batangtoru ini.

Kecepattanggapan atau respon pegawai terhadap pasien dilihat dari keinginan mereka untuk menangani pasien disini 15% atau 3 orang menjawab cepat, 75% atau 15 oramg menjawab biasa saja, dan 10% atau 2 orang mengatakan lambat, seperti yang dikemukakan ibu Nur Alam (34 Tahun) :

“Mereka menangani pasien terlalu santai, seharusnya mereka harus cepat, karena ini masalah nyawa orang.”(Wawancara, 1 Maret 2017)

Hal seperti ini memang sudah biasa kita lihat di puskesmas, karena terkadang jiwa menolong pegawai puskesmas belum ada, dan mereka terkadang merasa hal tersebut bukan termasuk dalam masalah mereka. Maka dari itu mereka merespon pasien biasa saja, hanya sekedar menjalankan tugas saja.

Dalam pertanyaan setahu saudara apakah ada pasien yang terlantar dan tidak mendapat perhatian dari puskesmas, 85% atau 17 orang mengatakan tidak ada, dan 15% responden atau 3 orang mengatakan beberapa, seperti diungkapkan Ibu Yuni (28 tahun) “

“Mungkin kalau dibilang menelantarkan sih tidak, hanya kadang-kadang pegawai disini terlalu lama dalam menangani pasien, padahal pasien itu sudah menahan rasa sakit, tapi mereka mengerjakan semua dengan santai sekali.”(Wawancara, 1 Maret 2017)

Dari pernyataan Ibu Yuni tadi juga jelas kalau kedisplinan pegawai dipuskesmas ini masih belum bisa dikatakan baik, karena mereka menjalankan semua pekerjaan secara santai, lambat dalam menangani pasien.

Kelengkapan peralatan merupakan hal yang paling utama disetiap puskesmas, bahkan rumah sakit sekalipun, jika kelengkapan peralatan kurang maka pemeriksaan terhadap pasien bisa tertunda, dalam hal kelengkapan peralatan di Puskesmas 40% atau 8 orang responden mengatakan lengkap, 50% atau 10 responden mengatakan cukup lengkap dan 10% atau 2 orang mengatakan kurang lengkap.

BPJS persalinan dibuat pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi, dalam pernyataan diatas 60% atau 12 responden mengatakan dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi, 35% atau 7 responden mengatakan

kadang-kadang dan 5% atau 1 orang mengatakan tidak berperan aktif dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Hal ini seperti diungkapkan dr. Rudi, selaku kepala puskesmas Batangtoru :

“ Kalau masalah menurunkan angka kematian ibu dan bayi, sudah cukup baik dengan adanya program BPJS persalinan ini, semua ibu bisa melahirkan bayinya secara gratis, pemeriksaan kandungan secara gratis , bayi yang lahir juga diberikan perawatan selama 28 hari setelah kelahiran.”(Wawancara, 1 Maret 2017)

Dari pernyataan dr. Rudi, maka program BPJS sudah berjalan dengan baik, karena memang benar menurunkan angka kematian Ibu dan Bayi, dikarenakan Ibu-ibu sekarang lebih memilih melahirkan dipuskesmas atau rumah sakir daripada di dukun beranak, karena gratis.

Ketelitian pegawai dalam memeriksa pasien sangat penting dan harus dilakukan dengan cermat dan benar, karena kalau sampai salah akan membahayakan untuk pasien dan bayi yang dikandungannya, 20 % atau 4 responden menjawab baik, 70% atau 14 orang mengatakan cukup baik, dan 10% atau 2 orang mengatakan kurang baik, seperti yang diungkapkan Ibu maimunah (36 Tahun) :

“ Kalau pasien itu memeriksa kehamilan atau ingin melahirkan, diperiksa dulu apakah ada penyakit malaria atau hipertensi atau penyakit-penyakit komplikasi yang akan menggangu bayi dalam perutnya, jika ada akan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Padangsidempuan atau Rumah Sakit TNI Padangsidempuan.”(Wawancara, 01 Maret 2017)

Ketelitian pegawai dalam memeriksa pasien sudah cukup baik dikarenakan pegawai sudah ingin memeriksa apakah ada penyakit komplikasi dari Ibu yang mengandung, karena jika pegawai tidak memeriksa keadaan ibunya dahulu maka akan sangat membahayakan untuk si bayi yang dikandungnya, mungkin bisa meninggal salah satuya atau mungkin bisa meninggal kedua-duanya.

Kedisiplinan pegawai di Puskesmas Batangtoru ini diungkapkan oleh 80% atau 16 responden adalah cukup bagus, dan 20% atau 4 orang mengatakan bagus dan tidak ada responden yang mengatakan tidak bagus.

c. Akuntabilitas Biaya Pelayanan Dipungut Sesuai Dengan Peraturan Perundang-Undangan

BPJS persalinan adalah program pemerintah yang memberikan kebebas biayaan pemeriksaan, melahirkan dan nifas kepada setiap ibu hamil, baik ibu hamil tersebut tergolong orang kaya atau orang miskin. Dalam pertanyaan apakah saudara pernah dipungut biaya ketika mengurus surat-surat di Puskesmas Batangtoru 100% atau 20 orang responden menyatakan kalau kepengurusan surat-surat BPJS adalah gratis, hanya membutuhkan kartu BPJS, KTP dan Kartu Keluarga saja, seperti diungkapkan oleh dr. Rudi selaku Kepala Puskesmas Batangtoru ( 39 Tahun):

“ Semua orang yang ingin menggunakan program BPJS persalinan, tinggal memberikan kartu BPJS kesehatan, KTP si Ibu dan Kartu Keluarga, nanti langsung gratis, dengan ketentuan, pemeriksaan kehamilan 4 kali, melahirkan nipas 4 kali kunjungan, dan bayi selama 28 hari.”(Wawancara, 27 februari 2017)

Pelayanan BPJS persalinan yang gratis disebutkan oleh 100% atau 20 orang responden dengan jawaban gratis, tidak ada pasien yang menjawab bayar atau dipungut biaya, seperti diungkapkan Ibu Yuni (28 tahun) :

“ Biaya persalinan gratis, namun diluar dari persalinan dan segala sesuatu yang tidak masuk kedalam persalinan itu ditanggung sendiri, seperti saya yang mau dirujuk kerumah sakit, biaya transportasinya harus saya tanggung sendiri.”(Wawancara,01 Maret 2017)

Dalam pernyataan ibu Yuni diatas, disebutkan bahwa pemerintah hanya menanggung segala permasalahan yang berhubungan dengan si Ibu dan kandungannya, selain itu, puskesmas dan pemerintah tidak menanggung dan otomatis harus ditanggung sendiri oleh pasien yang bersangkutan.

Dalam pertanyaan apakah biaya yang dipungut di puskesmas ini cukup murah, 100% atau 20 orang responden menjawab ya dan tidak ada yang menjawab tidak, hal ini di ungkapkan oleh Ibu Mismawati (33 tahun) :

“Kalau menurut saya cukup murah, jika ingin mengurus surat sakit yang tidak berhubungan dengan kehamilan bayarnya Cuma Rp 2000,00, obatnya juga murah-murah, tidak sampai ratusan ribu.”(Wawancara, 27 Ferbruari 2017)

Ungkapan dari Ibu Mismawati tersebut dapat dikatakan memang benar, pemeriksaan penyakit diluar kehamilan memang bayar, namun masih bisa dijangkau oleh masyarakat disekitar puskesmas Batangtoru, karena tergolong murah.

Masalah biaya dan transparansi di puskesmas Batangtoru juga bisa dikatakan sangan tranparan dan terbuka seperti yang dikatakan oleh dr. Rudi selaku kepala Puskesmas Batangtoru :

“Puskesmas Batangtoru sangat terbuka dan transparan kepada masyarakat tentang biaya-biaya yang harus dikeluarkan BPJS persalinan atau pun diluar BPJS persalinan, jika tidak mempunyai kartu BPJS persalinan terpaksa masyarakat membayar persalinan seperti umumnya membayar melakukan persalinan biasanya masyarakat yang tak punya kartu BPJS membayar sekitar Rp. 800.000,00”. (Wawancara, 27 Februari 2017)

d. Akuntabilitas Produk Pelayanan Publik, Persyaratan, Teknis Dan Administratif

Dalam pertanyaan apakah puskesmas Batangtoru dapat menjangkau seluruh masyarakat disini, 20% atau 4 orang mengatakan ya, 50% atau 10 orang mengatakan kadang-kadang dan 30% atau 6 orang mengatakan tidak dapat menjangkau. Hal ini seperti diungkapkan Ibu Nur Alam (34 tahun):

“Puskesmas Batangtoru ini kan diperuntukkan untuk kecamatan Batangtoru, jadi orang-orang yang berobat disini orang-orang disekitar sini saja, kalau yang jauh berobatnya di PUSTU, POSKESDES, kalau tutup baru mereka datang kesini.”(Wawancara, 01 Maret 2017)

Keberadaan Puskesmas Batangtoru yang diperuntukkan kecamatan Batangtoru memang kurang efektif karena kebanyakan dari daerah tersebut tinggal jauh dari daerah puskesmas, maka dari itu, harus ada fasilitas kesehatan lain seperti Rumah Bidan, POSKESDES, PUSTU.

Penguasaan pelayanan persalinan dan pemeriksaa pasien BPJS Persalinan sangat dibutuhkan dan diharuskan untuk pegawai puskesmas disini, dikarenakan hal ini menyangkut pelayanan terhadap pasien, diungkapkan oleh 70% atau 14 responden yang mengatakan ya dapat menguasai, 30% atau 6 responden

mengatakan kadang-kadang dan tidak ada yang menjawab tidak menguasai, seperti diungkapkan Ibu Rizki Laila (21 tahun) :

“Kalau persalinan dilakukan secara normal, bidan dipuskesmas ini sudah sangat ahli dalam melakukan persalinan normal, tapi kalau persalinan secara Caesar puskesmas langsung merujuk ke Rumah Sakit, dikarenakan ketidakmampuan peralatan yang ada di puskemas, untuk membantu persalinan cesar”.(Wawancara, 27 Februari 2017)

Di puskesmas Batangtoru hanya membantu persalinan secara normal saja, tanpa ada masalah pada ibu dan masalah pada bayi, jika ada masalah pada bayi dan ibu maka puskesmas langsung merujuk ke Rumah Sakit, karena puskesmas tidak ingin mengambil resiko tinggi untuk menolong persalinan dengan resiko yang tinggi.

Pelayanan Puskesmas yang dilakukan sesuai dengan keinginan pasien dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dari Puskesmas, pelayanan yang dilakukan oleh puskesmas sudah sesuai dengan keinginan pasien hal itu disebutkan dalam pernyataan dari 60% atau 12 responden menjawab sesuai dan tidak ada yang menjawab tidak sesuai dan 40% atau 8 orang menjawab tidak tahu.

Dalam prosedur pelayanan menjadi dasar dalam pelayanan terhadap pasien, dalam hal itu 75% atau 15 orang mengatakan ya, pihak puskesmas memberitahu prosedur pemeriksaan, dan 25% atau 5 orang mengatakan kadang-kadang saja diberitahu, seperti yang dikatakan Ibu Yuni (28 tahun) :

“ Saya diberitahu dalam prosedur pemeriksaan, apa yang dilakukan, dan selanjutnya dilakukan, jadi saya juga tahu apa yang akan mereka lakukan

terhadap saya dalam memeriksa, misalnya, saya akan disuntik, sebelumya diberitahu terlebih dahulu”.(Wawancara, 01 Maret 2017)

Dalam pernyataan diatas dapat dilihat kalau puskesmas telah memberitahukan prosedur pemeriksaan kepada pasien, diberitahu apa yang dilakukan, dan apa yang akan dilakukan bidan terhadap pasien.

Kepengurusan BPJS persalinan membutuhkan Kartu BPJS, KTP si Ibu dan Kartu Keluarga, tidak memerlukan surat-surat yang lain, seperti diungkapkan 100% atau 20 orang responden.

Hal ini dinyatakan lebih baik, jadi si ibu yang ingin melakukan pemeriksaan atau ingin melahirkan perlu menunjukkan kartu BPJS, dan perlu menunjukkan KTP dan Kartu keluarga, kemudian bisa melakukan pemeriksaan, melahirkan, perawatan nifas dan perawatan bayi sampai 28 hari kelahiran.

Dalam hal pengurusan prosedur surat-surat jampersal 60% atau 12 responden mengatakan biasa saja, 40% atau 8 orang mengatakan lambat dan tidak ada yang mengatakan cepat. Hal itu tidak lain dikarenakan kompetensi dari bidan dan pegawai kurang baik, kedisiplinan yang belum tertanam didalam diri pegawai menyebabkan semua prosedur yang ada tidak berjalan dengan cepat.

Dalam BPJS persalinan yang dilakukan puskesmas 80% atau 16 orang mengatakan cukup memuaskan dan 20% atau 4 orang mengatakan kurang memuaskan, seperti yang diungkapkan oleh Ibu Rizki Laila (21 tahun) :

“Pelayanan biasa saja, sama seperti saya berobat puskesmas lain, sama saja semuanya, pelayanan tidak cepat, tapi juga tidak lambat”.(Wawancara, 27 Februari 2017)

Dari pernyataan dari Ibu Elisa tadi jelas terlihat kalau pegawai melakukan pelayanan biasa saja, tidak dikatakan cepat, namun juga tidak lambat, akan lebih baik lagi jika puskesmas melakukan pelayanan dengan cepat, tangas dan memuaskan semua pasien, tidak hanya pasien BPJS persalinan saja, namun semua pasien Puskesmas Batangtoru.

Tabel 4.29 : Penjelasan Mengenai Akuntabilitas Pelayanan Kesehatan Pada Program BPJS Persalinan Di Puskesmas

No Indikator Akuntabilitas Hasil

1 Akuntabilitas Pelayanan Kesehatan Masyarakat Pada Program BPJS Persalinan

Cukup Baik

2 Akuntabilitas Kinerja Publik Dilihat Berdasarkan Proses

Cukup Baik

3 Akuntabilitas Biaya Pelayanan Dipungut Sesuai Dengan Peraturan

Perundang-Undangan

Baik

4 Akuntabilitas Produk Pelayanan Publik, Persyaratan Teknis Dan Administratif

Cukup Baik

C. Hambatan-Hambatan Yang Dihadapi Puskesmas Batangtoru Dalam

Dokumen terkait