• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3 Pembahasan

4.3.1 Perkembangan Gaya Belajar Siswa

Kepemilikan gaya belajar siswa di kelas III SD Pius Bakti Utama Kutoarjo tidak terlepas dari penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Kesesuaian penyelenggaraan kegiatan belajar dengan gaya belajar siswa, dapat membawa dampak baik bagi proses belajar siswa. Siswa yang belajar sesuai dengan gaya belajarnya cenderung menunjukkan pembelajaran yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak sesuai gaya belajarnya (Widharyanto, 2017). Gaya belajar yang dimiliki oleh siswa dapat pula digunakan untuk mengidentifikasi potensi yang siswa miliki tentang suatu bidang (Zonash & Naqvi, 2011). Hal tersebut menunjukkan urgensi guru untuk memahami gaya belajar siswa, sebagai salah satu bentuk implementasi kompetensi pedagogik.

Berdasarkan dua bulan kegiatan belajar, terdapat 7 hari kegiatan belajar yang tidak memfasilitasi seluruh preferensi gaya belajar VARK. Kegiatan belajar selama 24 hari, dapat memfasilitasi seluruh preferensi gaya belajar VARK siswa di kelas III. Kegiatan belajar selama 24 hari dilakukan sesuai dengan karakteristik gaya belajar visual, auditori, read/write, dan kinestetik. Sedangkan selama 7 hari, guru tidak memfasilitasi seluruh gaya belajar VARK siswa. Kegiatan visual yang selalu diselenggarakan setiap harinya menjadi faktor penunjang kepemilikan gaya belajar visual yang mendominasi kelas. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan

bahwa gaya belajar terpengaruh pada kegiatan belajar yang diselenggarakan (Donkoh et al, 2015). Dalam konteks penelitian ini, dominasi kepemilikan gaya belajar visual siswa salah satunya terjadi lantaran guru yang senantiasa menyelenggarakan kegiatan belajar dengan melibatkan aspek visual.

Pola gaya belajar VARK yang dimiliki seseorang, dimungkinkan untuk berkembang. Gaya belajar VARK dimungkinkan untuk mengalami perubahan dengan adanya kurun waktu (Fleming & Charles, 2009). Fenomena perkembangan gaya belajar VARK ditemukan pada siswa kelas III di SD Pius Bakti Utama Kutoarjo. Perkembangan gaya belajar tersebut terjadi dalam kurun waktu dua bulan atau selama tiga puluh satu hari kegiatan belajar. Perkembangan gaya belajar siswa kelas III SD Pius Bakti Utama Kutoarjo terjadi pada 5 siswa, yang terdiri dari 2 siswa laki-laki dan 3 siswa perempuan.

Perkembangan gaya belajar terjadi dengan adanya penambahan preferensi gaya belajar dan perubahan susunan gaya belajar dominan. RD mengalami penambahan preferensi gaya belajar kinestetik [K] pada varian gaya belajar. WN yang menjadi siswa multimodal dengan penambahan preferensi read/write [R].

ES yang menjadi siswa multimodal dengan penambahan preferensi kinestetik [K].

KN mengalami perubahan posisi preferensi gaya belajar dengan read/write [R]

yang menjadi gaya belajar dominan menggantikan gaya belajar dominan visual [V]. AT menunjukkan penambahan preferensi gaya belajar read/write [R].

Masing-masing perkembangan gaya belajar siswa terjadi lantaran beberapa faktor yang menjadi latar belakang.

4.3.2 Faktor-faktor yang Memengaruhi Perkembangan Gaya Belajar Siswa Perkembangan gaya belajar VARK RD terjadi lantaran adanya proses kegiatan belajar yang terjadi di lingkungan sekitar dalam bentuk kegiatan membantu orang tua dan kebiasaan belajar mandiri. Kegiatan membantu orang tua dilakukan dengan membantu praktik langsung melayani toko dengan tugas menerima uang, dan mengelompokkan uang berdasarkan nilai pecahannya.

Kemandirian belajar turut membentuk kebiasaan belajar RD yang dilakukan dengan praktik/uji-coba mandiri. Siswa beradaptasi terhadap lingkungannya yang membawa dampak pada perkembangan gaya belajar siswa. Gaya belajar berkembang karena adaptasi seseorang terhadap lingkungannya (Sabagh, 2021).

Kegiatan RD ketika di rumah yang menuntut kegiatan dengan praktik secara langsung memunculkan preferensi gaya belajar kinestetik.

Perkembangan gaya belajar VARK WN terjadi lantaran adanya kebiasaan baru WN dalam belajar di rumah yang dikondisikan oleh orang tua. Orang tua WN berperan dalam mengkoordinasi proses belajar siswa ketika di rumah.

Keterlibatan orang tua dalam belajar, dalam bentuk pendampingan belajar, pengkondisian situasi belajar, hingga penanaman kebiasaan sehari-hari, merupakan salah satu aspek penentu keberhasilan belajar anak (Ceka & Rabije, 2016). Kebiasaan belajar baru WN adalah aktivitas belajar dengan membaca dan mengerjakan soal sejumlah 10 halaman setiap harinya. Kegiatan membaca teks sejumlah 10 halaman dapat menunjang kebiasaan membaca, serta mengerjakan soal secara tertulis dari 10 halaman dapat menunjang kebiasaan menulis, yang keduanya merupakan implementasi dari gaya belajar read/write [R]. Rutinitas belajar baru dapat membawa gaya belajar yang baru dalam diri seseorang (Kiblasan et al, 2016). Kebiasaan belajar baru WN ketika di rumah yang terjadi karena dikondisikan oleh orang tuanya, menyebabkan kemunculan preferensi read/write.

Perkembangan gaya belajar VARK ES terjadi karena peran nenek atau orang terdekat siswa dalam mengondisikan kegiatan baru siswa ketika di rumah.

Pendampingan seorang nenek bukan hanya dapat membantu mengembangkan aspek kognitif anak, namun ikut menunjukkan efektifitas ketika mengembangkan aspek motorik, serta sosio emosional anak (Chung, 2020). Dalam konteks ES, pendampingan seorang nenek membentuk lingkungan belajar baru bagi ES yakni kegiatan belajar membuat kerajinan tangan. Keterlibatan orang tua dalam belajar, dalam bentuk pendampingan belajar, pengkondisian situasi belajar, hingga penanaman kebiasaan sehari-hari, merupakan salah satu aspek penentu keberhasilan belajar anak (Ceka & Rabije, 2016). Nenek ES mengajari ES membuat kerajinan tangan secara rutin hingga kegiatan ini menjadi kegiatan baru yang dilakukan oleh ES. Rutinitas belajar baru dapat membawa gaya belajar yang baru dalam diri seseorang (Kiblasan et al, 2016). Pembuatan kerajinan tangan dengan praktik langsung menyebabkan penambahan preferensi kinestetik.

Perkembangan gaya belajar VARK KN terjadi karena kegiatan baru yang dilakukan oleh siswa karena meniru figur orang tua dan pengkondisian lingkungan belajar oleh orang tua. Kegiatan baru yang dilakukan KN adalah membaca sebuah buku cerita setiap hari. KN meniru kebiasaan orang tuanya yang gemar membaca buku ketika di rumah. Dalam hal menumbuhkan minat baca, seseorang perlu memiliki figur dengan hobi atau kegiatan sehari-hari membaca, yang secara tidak langsung dapat menumbuhkan minat membaca (Shohibah, 2017). Dalam kasus yang terjadi pada KN, figur tersebut adalah orang tuanya yang memiliki hobi membaca buku. Hal tersebut selaras dengan pernyataan bahwa gaya belajar dapat berkembang berdasarkan sosok/figur yang memengaruhinya (Donkoh et al, 2015). Proses meniru KN terhadap figur orang tuanya menyebabkan penambahan intensitas kegiatan membaca. Penambahan intensitas kegiatan membaca merupakan suatu rutinitas baru pada KN. Rutinitas belajar baru dapat membawa gaya belajar yang baru dalam diri seseorang (Kiblasan et al, 2016).Figur orang tua yang gemar membaca dan penambahan intensitas kegiatan membaca yang menjadi rutinitas baru, memunculkan preferensi gaya belajar read/write [R] sebagai pengganti gaya belajar dominan visual [V].

Perkembangan gaya belajar VARK AT terjadi karena pengalaman tidak menyenangkan yang dialami oleh siswa AT, yakni pengalaman mengikuti remidi dalam penilaian harian. Kekecewaan karena remidi dan ketakutan akan tidak naik kelas, menjadi trauma bagi AT. Kekecewaan akibat proses belajar pada siswa atau usia kanak-kanak, merupakan trauma tipe pertama atau masuk dalam kategori trauma ringan. (Adubasim & Chinelo, 2019). Trauma bukan hanya berdampak negatif dalam proses belajar siswa, melainkan membawa dampak positif yakni meningkatkan motivasi belajar seseorang (Frieze, 2015). Dalam konteks AT, trauma yang dialami karena remidial akibat tidak pernah membaca dan membuat catatan, memunculkan motivasi untuk membaca dan menulis catatan. Setelah mengalami remidi tersebut, AT menunjukkan perubahan perilaku dengan giat menulis dan membaca teks bacaan ketika di kelas. Pengalaman tidak menyenangkan AT, memberikan dampak positif sehingga mampu menjadi pemicu kemunculan varian gaya belajar read/write [R].

BAB V KESIMPULAN