• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.5. Pembahasan Hasil Penelitian

5.5.1. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)

Struktur modal sangat penting bagi penentuan kemajuan perusahaan oleh karena itu dalam menentukan struktur modal, manajemen perusahaan harus mempertimbangkan faktor – faktor yang akan mempengaruhi struktur modal tersebut. Berdasarkan hasil uji statistik F yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa variabel independen yaitu profitabilitas (diproksi dengan ROA), pertumbuhan penjualan, struktur aset, likuiditas (diproksi dengan current ratio), operating leverage dan resiko bisnis secara simultan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (diproksi dengan DER) pada perusahaan consumer goods di BEI periode penelitian 2012-2015. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Asyik dan Zuliani (2014) bahwa profitabilitas, pertumbuhan penjualan, struktur aset dan tingkat pertumbuhan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap struktur modal dan hasil penelitian Marpaung (2010) bahwa pertumbuhan penjualan, profitabilitas dan leverage operasi secara

5.5.2. Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t)

5.5.2.1. Pengaruh Profitabilitas (Diproksi dengan ROA) Terhadap Struktur Modal (Diproksi dengan DER)

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial variabel profitabilitas (diproksi dengan ROA) terhadap struktur modal (diproksi dengan DER) menggunakan uji statistik t menunjukkan bahwa profitabilitas (diproksi dengan ROA) tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (diproksi dengan DER) pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di BEI periode tahun 2012-2015. Hal ini mengindikasikan bahwa profitabilitas (di proksi dengan ROA) tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap keputusan manajemen perusahaan dalam menentukan struktur modal (diproksi dengan DER) perusahaan tersebut.

Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan pernyataan Brigham dan Houston (2011)bahwa perusahaan dengan tingkat profitabilitas tinggi akan mempengaruhi manajemen perusahaan dalam menentukan keputusan pendanaannya. Perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi akan memungkinkan perusahaan tersebut membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan mereka dengan dana yang dihasilkan secara internal sehingga dalam hal ini perusahaan cenderung menggunakan hutang relatif kecil. Hasil penelitian ini konsisten dengan pernyataan Sulaiman (2013) bahwa tinggi ataupun rendahnya laba yang dihasilkan oleh perusahaan tidak bisa menjadi jaminan dalam menentukan struktur modal perusahaan. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan kondisi perekonomian pada perusahaan consumer goods karena laba yang

pada periode 2012-2015. Laba yang dihasilkan saat ini tidak bisa menjamin laba yang akan datang, bisa mengalami kenaikan bahkan penurunan laba. Bahkan tingkat return on asset perusahaan consumer goods periode 2012 – 2015 relatif rendah hanya sebesar 11,05% sehingga menyebabkan return on asset tidak mampu menjelaskan secara signifikan pengaruhnya terhadap debt to equity ratio.

Selain itu kemungkinan lain penyebab profitabilitas (diproksi dengan ROA) tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal (diproksi dengan DER) adalah perbedaan proporsi penggunaan laba perusahaan consumer goods 2012-2015.

Pada saat perusahaan memperoleh laba yang besar kemungkinan perusahaan lebih banyak membagikan laba kepada pemegang saham sebagai dividen. Hal ini konsisten dengan pernyataan Putri (2012) bahwa pembagian dividen dapat mengakibatkan proporsi laba ditahan perusahaan yang akan digunakan untuk pembiayaan investasi dimasa datang berkurang. Hal ini membuat perusahaan harus mencari sumber pendanaan lain untuk pembiayaan investasi perusahaan.

Alternatif pendanaan yang dapat digunakan perusahaan yaitu external financing dapat berasal dari hutang jangka panjang. Hasil penelitian ini konsisten dengan agency theory bahwa perusahaan akan meningkatkan dividen sebagai alternatif untuk mengurangi agency cost akibatnya dana internal perusahaan menjadi berkurang sehingga manajemen harus mencari pendanaan dari luar melalui hutang untuk membiayai kegiatan investasi perusahaan.

Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Asyik dan Zuliani (2014), Resino dan Wijaya (2014) serta Chen dan Chen (2011) bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Hasil penelitian ini

konsisten dengan penelitian Alnajjar (2015) dan Anita (2015) bahwa profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal.

5.5.2.2. Pengaruh Pertumbuhan Penjualan Terhadap Struktur Modal (Diproksi dengan DER)

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial variabel pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal menggunakan uji statistik t menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal (diproksi dengan DER) pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di BEI periode tahun 2012 - 2015. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan merupakan salah satu faktor penting yang diperhatikan oleh manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan untuk menentukan struktur modal.

Hasil penelitian menunjukkan pengaruh positif maksudnya adalah bahwa semakin besar pertumbuhan penjualan maka perusahaan cenderung menggunakan hutang semakin besar sehingga hal ini akan mengakibatkan persentase struktur modal (diproksi dengan DER) perusahaan semakin besar pula. Demikian juga sebaliknya, semakin kecil pertumbuhan penjualan maka perusahaan cenderung menggunakan hutang semakin kecil sehingga hal ini akan mengakibatkan persentase struktur modal (diproksi dengan DER) perusahaan semakin kecil.

Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan penjualan yang meningkatcenderung membutuhkan dana yang lebih besar untuk bisa menyesuaikan dengan semakin banyaknya volume penjualan. Dalam hal kondisi seperti ini, perusahaan akan membutuhkan dana untuk membiayai seluruh operasionalnya. Perusahaan yang

penambahan aset guna mendukung pertumbuhan penjualan sehingga perusahaan memilih menggunakan dana eksternal melalui hutang yang lebih banyak. Hasil penelitian ini konsisten dengan pernyataan Brigham dan Houston (2011) bahwa perusahaan dengan penjualan yang relatif stabil dapat lebih aman memperoleh lebih banyak pinjaman dan menanggung beban tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya tidak stabil karena kebutuhan dana yang digunakan untuk pembiayaan penjualan semakin besar.

Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Marpaung (2010), Chen dan Chen (2011) bahwa pertumbuhan penjualan berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal. Namun hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Resino dan Wijaya (2014), Asyik dan Zuliani (2014) bahwa pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh signfikan terhadap struktur modal.

5.5.2.3. Pengaruh Struktur Aset Terhadap Struktur Modal( Diproksi dengan DER)

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial variabel struktur aset terhadap struktur modal menggunakan uji statistik t menunjukkan bahwa struktur aset berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal (diproksi dengan DER) pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di BEI 2012-2015. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur aset merupakan salah satu faktor penting yang diperhatikan oleh manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan untuk menentukan struktur modal.

Hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang negatif maksudnya adalah semakin besar komposisi aset tetap terhadap keseluruhan aset perusahaan maka

akanmengakibatkan persentase struktur modal (diproksi dengan DER) perusahaan semakin kecil pula. Demikian juga sebaliknya, semakin kecil komposisi aset tetap terhadap keseluruhan aset perusahaan maka perusahaan cenderung menggunakan hutang semakin besar sehingga hal ini akan mengakibatkan persentase struktur modal (diproksi dengan DER) perusahaan semakin besar. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan trade off theory bahwa aset berwujud biasanya memberikan jaminan nilai relatif tinggi terhadap aset tidak berwujud yang menunjukkan bahwa aset-aset tersebut mendukung lebih banyak perolehan hutang untuk memperbesar struktur modal perusahaan. Hasil penelitian ini konsisten dengan pecking order theory bahwa perusahaan lebih menyukai internal financing. Dalam pandangan pecking order theory, perusahaan sebaiknya menggunakan dana internal sebanyak mungkin untuk mendanai proyek baru.

Ketika perusahaan mempunyai aset tetap dalam jumlah yang lebih besar, penilaian asetnya menjadi lebih rendah (Rahman, 2013). Dengan demikian, perusahaan akan mengurangi penggunaan hutang ketika aset tetap meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa manajemen perusahaan menggunakan porsi aset tetap sebagai salah satu faktor yang diperhatikan perusahaan dalam menentukan kebijakan penggunaan hutang. Hal ini terkait dengan kecenderungan bahwa manajemen perusahaan akan berhati-hati dalam menggunakan pendanaan eksternal melalui hutang agar kewajiban perusahaan atas hutang tersebut semakin kecil.

Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Saputri dan Margaretha (2014) bahwa struktur aset berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal. Namun hasil penelitian ini tidak konsisten dengan

hasilpenelitian Asyik dan Zuliani (2014), Chen dan Chen (2011) bahwa struktur aset tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal.

5.5.2.4. Pengaruh Likuiditas (Diproksi dengan Current Ratio) Terhadap Struktur Modal (Diproksi dengan DER)

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial variabel likuiditas (diproksi dengan current ratio) terhadap struktur modal menggunakan uji statistik t menunjukkan bahwa likuiditas (diproksi dengan current ratio) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal (diproksi dengan DER) pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di BEI periode tahun 2012 - 2015.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa likuiditas (diproksi dengan current ratio) merupakan salah satu faktor penting yang diperhatikan oleh manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan untuk menentukan struktur modal.

Hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang negatif maksudnya adalah semakin besar current ratio perusahaan maka perusahaan cenderung menggunakan hutang semakin kecil sehingga hal ini akan mengakibatkan persentase struktur modal (diproksi dengan DER) perusahaan semakin kecil pula.

Demikian juga sebaliknya, semakin kecil current ratio perusahaan maka perusahaan cenderung menggunakan hutang semakin besar sehingga hal ini akan mengakibatkan persentase struktur modal (diproksi dengan DER) perusahaan semakin besar. Hasil penelitian ini konsisten dengan pecking order theory bahwa perusahaan yang mempunyai tingkat likuiditas lebih tinggi cenderung tidak menggunakan pembiayaan perusahaan dari hutang. Perusahaan dengan likuiditas tinggi mempunyai dana internal yang besar sehingga perusahaan tersebut akan memilih menggunakan dana internalnya terlebih dahulu untuk membiayai

investasinya sebelum menggunakan pembiayaan eksternal melalui hutang ataupun penerbitan saham baru.

Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Kajananthan dan Achchuthan (2013), Resino dan Wijaya (2014), Damitri (2013) menunjukkan bahwa likuiditas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal.

Namun hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Hardanti dan Gunawan (2010) bahwa likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal.

5.5.2.5. Pengaruh Operating Leverage Terhadap Struktur Modal (Diproksi dengan DER)

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial variabel operating leverage terhadap struktur modal menggunakan uji statistik t menunjukkan bahwa operating leverage berpengaruh positif dan signifikan terhadap struktur modal pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di BEI periode tahun 2012 -2015.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa operating leverage merupakan salah satu faktor penting yang diperhatikan oleh manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan untuk menentukan struktur modal.

Hasil penelitian menunjukkan pengaruh positif maksudnya adalah bahwa apabila semakin besar degree of leverage maka perusahaan cenderung menggunakan hutang semakin besar sehingga hal ini akan mengakibatkan persentase struktur modal (diproksi dengan DER) perusahaan semakin besar pula.

Demikian juga sebaliknya, semakin kecil degree of leverage maka perusahaan cenderung menggunakan hutang semakin kecil sehingga hal ini akan mengakibatkan persentase struktur modal (diproksi dengan DER) perusahaan

dan Houston (2011) bahwa operating leverage merupakan salah satu yang mempengaruhi resiko bisnis, semakin besar operating leverageperusahaan semakin besar resiko bisnis perusahaan, dengan kebijakan mempertahankan struktur modal maka perusahaan bisa meminimalisir akan penggunaan hutang yang terkait dengan resiko yang akan dialami oleh perusahaan sehingga semakin tinggi tingkat operating leverage maka akan semakin rendah tingkat hutang dan juga struktur modal perusahaan tersebut. Hasil penelitian ini konsisten dengan pernyataan Liestyasih (2015) bahwa semakin tinggi tingkat operating leverage maka kemungkinan perusahaan untuk mendapatkan laba yang tinggi semakin besar serta menandakan bahwa semakin sensitif laba terhadap perubahan penjualan. Dalam upaya mendapatkan laba lebih tinggi perusahaan berusaha meningkatkan penjualan dengan berbagai cara. Industri consumer goods diwajibkan melakukan revitalisasi mesin-mesin guna meningkatkan produktivitas, kualitas dan efisiensi produk agar meningkatkan kemampuan bersaing. Hal tersebut mengakibatkan perusahaan akan menggunakan sumber dana eksternal melalui hutang dalam pembiayaan investasi tersebut sehingga struktur modalnya (diproksi dengan DER) menjadi lebih tinggi.

Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil peneltian Abimanyu dan Wirasedana (2015) bahwa operating leverage berpengaruh signifikan terhadap struktur modal. Namun hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Marpaung (2010) bahwa operating leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal.

5.5.2.6. Pengaruh Resiko Bisnis Terhadap Struktur Modal (Diproksi dengan DER)

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial variabel resiko bisnis terhadap struktur modal menggunakan uji statistik t menunjukkan bahwa resiko bisnis tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di BEI perioe tahun 2012 - 2015. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa besar kecilnya resiko bisnis suatu perusahaan ternyata tidak mempengaruhi secara signifikan struktur modalnya.

Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan trade off theory bahwa perusahaan dengan resiko bisnis besar harus menggunakan lebih kecil utang dibanding perusahaan yang mempunyai resiko bisnis kecil karena semakin besar resiko bisnis, penggunaan hutang yang semakin besar akan meningkatkan beban bunga sehingga akan semakin mempersulit keuangan perusahaan. Hal ini konsisten dengan pernyataan Hardanti dan Gunawan (2010) bahwa perusahaan dengan tingkat resiko lebih tinggi, dalam menentukan struktur modalnya belum tentu lebih memilih pendanaan internal daripada external, demikian pula sebaliknya dengan tingkat resiko perusahaan yang lebih rendah dalam menentukan struktur modalnya belum tentu akan lebih memilih pendanaan dari hutang untuk membiayai aktivitas operasi maupun investasinya. Hal ini dikarenakan perusahaan harus menyesuaikan kondisi perusahaan yang dihadapkan pada suatu keputusan yang mengharuskan perusahaan untuk menggunakan hutang karena kebutuhan dana perusahaan untuk melakukan perkembangan unit usaha maupun keterbatasan dana mengharuskan perusahaan untuk menggunakan pendanaan eksternal melalui hutang.

Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Hardanti dan Gunawan (2010) bahwa resiko bisnis tidak berpengaruh signifikan terhadap

struktur modal. Namun hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian Alnajjar (2015) bahwa resiko bisnis berpengaruh signifikan terhadap struktur modal.

5.5.3 Hasil Uji residual (Ukuran Perusahaan bukan merupakan Variabel Moderating)

Hasil penelitian dari model regresi II dan uji residual untuk analisis regresi moderasi yang digunakan untuk menjawab hipotesis dua menunjukkan bahwa ukuran perusahaan bukan variabel pemoderasi, berarti bahwa terdapat ketidakkecocokan (lack of fit) antara varibel independen dengan variabel pemoderasi. Hal ini menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan tidak dapat memoderasi hubungan antara profitabilitas (diproksi dengan ROA), pertumbuhan penjualan, struktur aset, likuiditas (diproksi dengan current ratio), operating leverage dan resiko bisnis dengan struktur modal (diproksi dengan DER) pada perusahaan consumer goods yang terdaftar di BEI periode tahun 2012 – 2015.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam penentuan struktur modal perusahaan tidak bergantung kepada ukuran perusahaan, artinya penentuan struktur modal perusahaan dapat dilakukan dengan optimal baik pada perusahaan besar ataupun perusahaan kecil, hal ini disebabkan karena perusahaan harus menyesuaikan kondisi perusahaan yang dihadapkan pada suatu keputusan yang mengharuskan perusahaan untuk menggunakan pendanaan internal maupun eksternal. Meskipun ukuran perusahaan lebih besar, kondisi debt to equity ratio dan rasio keuangan cenderung mengalami fluktuasi (Data debt to equity ratio perusahaan consumer goods di BEI 2012-2015). Dengan demikian ukuran perusahaan tidak selalu berpengaruh terhadap struktur modal. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan

perusahaan merupakan variabel moderating dan pengaruhnya signifikan.

Perbedaan hasil penelitian ini terdapat pada perbedaan objek penelitian Chen dan Chen (2011) yakni pada Electronic Company yang dimana dalam hal ini kaitannya dengan perusahaan elektronik identik dengan perkembangan teknologi.

Besarnya suatu perusahaan elektronik mempengaruhi para investor dan kreditur untuk mendanai perusahaan. Hal ini berkaitan pula dengan semakin besarnya ukuran perusahaan elektronik maka kecenderungan perkembangan teknologi terhadap produk-produk yang dihasilkan juga semakin canggih umumnya dalam waktu yang relatif cepat dan hal ini akan sangat mempengaruhi perusahaan untuk menggunakaan pendanaan hutang dalam struktur modalnya guna memenuhi pembiayaan operasional perusahaan dalam memperluas unit bisnisnya. Sedangkan perusahaan consumer goods lebih cenderung kepada kepuasan konsumen atas produk – produk yang dihasilkan perusahaan baik dari sudut pandang biaya maupun kualitas produk tersebut sehingga dalam hal ini ukuran perusahaan tidak selalu mempengaruhi perusahaan dalam menggunakan pendanaan eksternal melalui hutang untuk struktur modalnya. Hal ini konsisten dengan pernyataan Rahman (2013) bahwa perusahaan besar yang mempunyai akses lebih mudah ke pasar modal dibandingkan dengan perusahaan kecil belum tentu dapat memperoleh dana dengan mudah. Hal ini disebabkan karena para investor dan kreditur akan membeli saham atau memberikan pinjaman tidak hanya mempertimbangkan besar-kecilnya perusahaan, tetapi juga memperhatikan faktor-faktor lain, seperti prospek perusahaan, sifat manajemen perusahaan saat ini dan lain sebagainya.

BAB VI

Dokumen terkait