• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Keterampilan sosial merupakan kemampuan seorang individu untuk memenuhi tugas perkembangan dalam bidang sosial tersebut yang terlihat dari aktivitas individu dalam berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Shapiro (1997: 173) juga menjelaskan bahwa keterampilan sosial adalah kemampuan seseorang untuk bergaul dengan orang lain agar dapat ikut serta secara efektif dalam dunia sosial serta anak belajar mengenali, menafsirkan dan bereaksi secara tepat terhadap situasi-situasi sosial. Hambatan pendengaran yang di alami seseorang mempengaruhi berbagai aspek dalam kehidupannya termasuk kemampuan siswa untuk mempelajari tentang proses interaksi di lingkungan sekitar yang menyebabkan kurangnya keterampilan yang di miliki siswa dalam bidang sosialnya. Penelitian yang dilaksanakan ini mengambil sebagian kecil dari bentuk interaksi tersebut dengan mengamati keterampilan sosial siswa yang tampak pada interaksi siswa di sekolah dengan siswa lainnya, khususnya pada interaksi di kelas. Hal ini dikarenakan si dalam kelas terjadi proses interaksi siswa yang satu dengan siswa yang lain sekaligus melibatkan kegiatan pembelajaran. Peneliti juga menggunakan metode pembelajaran kolaboratif yang mengharuskan siswa

untuk berinteraksi dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, hal tersebut senada dengan pendapat yang di sampaikan oleh Gunawan (dalam Hosnan, 2014: 310) yang menyatakan bahwa collaboratif learning bukan hanya sekedar bekerja sama dalam suatu kelompok, tetapi lebih kepada suatu proses pembelajaran yang melibatkan proses komunikasi secara utuh dan adil di dalam kelas. Oleh karena itu peneliti melaksananakan penelitian untuk meningkatkan keterampilan sosial anak tunarungu yang dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas dengan menggunakan metode pembelajaran kolaboratif.

Setelah dilaksanakannya kegiatan pengumpulan data mengenai peningkatan keterampilan sosial siswa tunarungu dengan menggunakan metode pembelajaran kolaboratif tersebut, di peroleh skor-skor yang berasal dari intrumen tes yang di laksanakan sebelum di berikannya tindakan pembelajaran kolaboratif dan setelah dilaksankannya pembelajaran kolaboratif. Skor-skor tersebut kemudian di olah menjadi nilai yang berupa presentase pencapaian keterampilan sosial siswa yang menunjukkan besarnya peningkatan keterampilan sosial yang di alami siswa. Berikut ini adalah data perolehan nilai siswa siswi kelas IV Sekolah Dasar di SLB Negeri 2 Bantul:

Tabel 4.6. Perolehan Nilai Keterampilan Sosial Sebelum Hingga Akhir Pemberian Tindakan

No Subjek Nilai pre test (%) Nilai post test I (%) Nilai post test II (%) Perubahan (post test II - pre test) 1 ACR 53,3 56,7 76,7 + 23,4 2 VAP 53,3 60,0 73,3 + 20 3 YNM 33,3 43,3 63,3 + 30 4 WH 70 76,7 83,3 + 13,3

Dari tabel tersebut terlihat perubahan nilai yang menunjukkan perubahan prilaku siswa dalam berhubungan dengan siswa lainnya. Pada hasil test setelah dilaksanakannya tindakan siklus I, terlihat peningkatan yang keterampilan sosial siswa setelah dilaksanakannya pembelajaran kolaboratif, namun perubahan tersebut tidak terlalu besar dan nilai sebagian siswa yaitu ACR dan YNM belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah di tentukan sebelumnya yaitu perolehan nilai 60% dari nilai maksimal tes keterampilan sosial tersebut. Rendahnya peningkatan yang di alami oleh semua siswa dapat disebabkan karena siswa belum terbiasa dengan pembelajaran secara bersama dimana siswa hanya dapat menyelesaikan tugasnya apabila siswa lain juga menyelesaikan tugas bagiannya, selain itu dapat juga di sebabkan karena cara pengajaran peneliti yang masih canggung sehingga sulit dipahami oleh siswa.

Berdasarkan hasil refleksi pelaksanaan siklus I tersebut, penelitian dilanjutkan pada pelaksanaan tindakan siklus II dengan memperbaiki beberapa aspek dari pelaksanaan penelitian tersebut diantaranya penggunaan kelompok yang lebih kecil dan kegiatan yang lebih banyak pada kegiatan komunikasi secara verbal. Setelah dilaksanakan perbaikan pada pelaksanaan pembelajan di kelas dan setelah dilaksanakannya pemberian tindakan siklus II, peneliti mengadakan tes pasca tindakan siklus II yang menghasilkan angka nilai seperti pada tabel diatas. Perubahan yang tampak pada nilai tes pasca pelaksanaan tindakan siklus II menunjukkan perubahan yang lebih besar dibandingkan dengan nilai tes pasca pelaksanaan tindakan siklus I dan nilai keterampilan sosial seluruh siswa telah mencapai atau melebihi KKM.

Peningkatan yang paling besar dari hasil Post test yang di bandingkan dengan hasil pre test dialami oleh YNM, siswa paling banyak mengalami peningkatan pada aspek keterampilan berkomunikasi dimana siswa memperoleh peningkatan skor pada item memberikan pendapat mengenai suatu masalah, memperhatikan ketika siswa lain sedang berbicara, memberi masukan terhadap pendapat teman, berbicara dengan suara yang keras dan jelas di hadapan teman-temannya. Dilihat dari perolehan skor tes keterampilan sosialpun siswa memperoleh skor akhir sebesar 63,3% dari skor 33,3% sebelum dilaksanakannya tindakan. Selama pelaksanaan tindakan, siswa mendengarkan petunjuk peneliti dan melaksanakannya tanpa protes,

Siswa ACR yang mengalami peningkatan sebesar 23,4% merupakan siswa aktif namun terkadang membantah perkataan dan petunjuk peneliti, namun prilaku siswa sangat baik selama proses pembelajaran berlangsung. Siswa mengalami peningkatan pada aspek-aspek seperti pada aspek keterampilan intrapersonal, innterpersonal pada item mengajak siswa lain untuk melaksanakan kegiatan bersama, aspek akademik pada keterampilan menerima pembagian tugas yang di berikan serta pada aspek berkomunikasi item memberikan pendapat tentang suatu masalah, memberi masukan terhadap pendapat teman, dan berbicara dengan pengucapan yang jelas. Siswa mengalami peningkatan pada dari 53,3% menjadi 76,7% setelah dilaksanakannya tindakan.

VAP merupakan siswa yang aktif dalam kegiatan yang bersifat fisik seperti kegiatan pembelajaran di luar kelas, namun siswa termasuk lemah pada kegiatan pembelajaran yang bersifat akademik dengan pelaksanaan menulis, diskusi dan berbicara di hadapan kelas. Siswa mengalami peningkatan pada aspek keterampilan intrapersonal, penerimaan teman sebaya pada item keterampilan bertanya pada teman mengenai hal yang kurang dipahami. Siswa mengalami peningkatn dari 53,3% berdasarkan tes keterampilan sosial sebelum dilaksanakannya tindakan menjadi 73,3% setelah dilaksanakannya tindakan.

Siswa yang mengalami peningkatan paling kecil adalah WH yaitu sebesar 13,3%. Siswa telah memiliki keterampilan sosial yang baik sejak awal pembelajaran dimana siswa selalu membantu peneliti menjelaskan suatu

hal kepada siswa lain atau membantu siswa lain menyelesaikan tugasnya, hal tersebut menyebabkan peneliti kurang memfokuskan untuk membantu siswa meningkatkan keterampilan sosialnya pada hal-hal yang masih kurang pada siswa. Siswa paling banyak mengalami peningkatan pada keterampilan berkomunikasi pada aspek memberi masukan terhadap pendapat teman dari sebelumnya dimana siswa hanya mengoreksi atau memperjelas pengucapan teman yang kurang mampu dimengerti orang lain tanpa merespon ucapan teman tersebut. Siswa mengalami peningkatan dari nilai sebelum dilaksanakannya tindakan yaitu sebesar 70% menjadi 83,3% setelah dilaksanakannya tindakan pembelajaran kolaboratif. Data hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa hipotesis dari penelitian ini terbukti positif dimana keterampilan sosial siswa kelas IV SD di SLB Negeri 2 Bantul dapat di tingkatkan dengan menggunakan metode pembelajaran kolaboratif.

Dokumen terkait