BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBEHASAN
B. Pembahasan Hasil Penelitian
IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang bertujuan memberikan bekal kepada siswa agar memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, memiliki rasa ingin tahu, dapat memecahkan masalah, dan memiliki keterampilan dalam kehidupan sosial (Permendiknas RI No 22 Tahun 2006:114). Dari hasil observasi menunjukkan bahwa pembelajaran IPS di kelas IV SD Negeri Bakulan masih didominasi oleh guru atau bersifat teacher centered, sehingga tujuan pembelajaran IPS seperti yang diharapkan belum bisa tercapai secara optimal. Hal tesebut juga berdampak pada hasil belajar IPS siswa yang masih rendah, yaitu berdasarkan hasil pre-test bahwa hanya terdapat 10 siswa dari 31 siswa atau sebesar 32,2% siswa yang dapat mencapai nilai KKM yaitu dengan nilai ≤72. Untuk itu perlu dilakukan tindakan penelitian untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV B SDN Bakulan Jetis Bantul. Tindakan yang dipilih peneliti yaitu dengan penerapan model SAVI (somatis-auditori-visual-intelektual) di dalam pembelajaran, karena salah satu keunggulan dari model SAVI adalah dapat mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran serta tingkat perkembangan anak akan memberikan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Model pembelajaran yang menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar, memberikan pengalaman, interaksi secara langsung serta menggunakan seluruh aktivitas pikiran dan intelektual akan lebih menarik untuk siswa. salah
118
satu model yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran adalah model SAVI (Somatis-Auditori-Visual-Intelektual) Dave Maier (2000: 90). Keunggulan dari Model SAVI sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran IPS sehingga diharapkan dengan Model SAVI dapat meningkatkan hasil belajar siswa tidak hanya pada hasil belajar aspek kognitif saja, namun juga pada hasil belajar aspek afektif dan psikomotor. Berikut ini dibahas hasil pelaksanaan tindakan dengan Model SAVI pada siswa kelas IV SDN Bakulan Jetis Bantul pada materi masalah-masalah sosial di sekitarnya yang dilaksanakan melalui dua siklus.
1. Siklus I
Siklus I terdiri dari dua kali pertemuan dengan materi masalah sosial di pedesaaan dan perkotaan pada pertemuan pertama serta masalah pendidikan pada pertemuan kedua. Pada setiap akhir pertemuan siswa diberikan post-test yang berupa 30 soal pilihan ganda tentang materi masalah sosial yang dipelajari untuk mengetahui hasil belajar siswa pada aspek kognitif setelah dilakukan tindakan.
Hasil post-test pada siklus I mengalami peningkatan dari hasil pre-test yang diberikan sebelum dilakukan tindakan di kelas IV Bakulan Jetis Bantul. Pada post-test siklus I menunjukkan bahwa terdapat 15 dari 31 siswa atau dengan persentase 48,4% dari jumlah seluruh siswa yang dapat mencapai KKM. Meskipun sudah mengalami peningkatan dari hasil belajar sebelum dilakukan tindakan, namun hasil belajar aspek kognitif pada siklus I belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan pada penelitian ini yaitu
119
sebesar 75% dari jumlah seluruh siswa dapat mencapai KKM dengan nilai ≥72.
Sedangkan kegiatan observasi digunakan untuk mengamati aktivitas siswa sebagai penilaian hasil belajar siswa pada aspek afektif dan aspek psikomotor. Pada hasil pengamatan aspek afektif menunjukkan bahwa terdapat 12 siswa atau 38.70% dari jumlah siswa masuk dalam kategori sangat baik, 10 siswa atau 32.25% dari jumlah siswa masuk dalam kategori Baik, dan terdapat 9 siswa atau 29.03% dari jumlah siswa masuk dalam kategori cukup. Berdasarkan data diatas hasil belajar aspek afektif mengalami peningkatan pada siklus I dibandingkan pada pembelajaran sebelum dilakukannya tindakan yaitu pembelajaran yang masih bersifat teacher centered. Terdapat 62,95% dari jumlah siswa sudah terlihat antuasias menerima pembelajaran IPS dengan model SAVI dan siswa tersebut sudah mulai aktif di dalam kegiatan pembelajaran. Namun hasil ini belum dapat mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu 75% dari jumlah siswa dapat mencapai skor dengan kategori minimal baik. Masih terdapat 9 siswa yang terlihat kurang antusias terhadap pembelajaran yang diberikan. Sedangkan pada saat kegiatan secara berkelompok 9 siswa tersebut tidak bersikap aktif dalam membantu kegiatan kelompok. Siswa hanya ramai sendiri atau mengganggu temannya yang lain. Hal ini dikarenakan siswa-siswa yang memiliki kemampuan kurang berkumpul dalam satu kelompok dan kurangnya bimbingan serta pengawasan dari guru sehingga selama kegiatan kelompok menjadi kurang terkontrol. Disamping itu disaat kegiatan
120
tanya jawab ada beberapa siswa yang kurang memiliki rasa percaya diri untuk menyampaikan pendapatnya.
Pada pengamatan aspek psikomotor digunakan peneliti untuk mendapatkan hasil belajar siswa yang berupa keterampilan siswa dalam pembentukan dan menjaga kelompok investigasi, keterampilan siswa dalam berkonstribusi dalam kelompok investigasi, dan keterampilan siswa dalam berkomunikasi. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat 1 siswa atau 3,57% dari jumlah siswa masuk dalam kategori baik, 18 siswa atau 64,29% dari jumlah siswa masuk dalam kategori cukup, dan masih terdapat 9 siswa atau 32,14% dari jumlah siswa masuk dalam kategori kurang. Meskipun mengalami peningkatan dari sebelum dilakukan tindakan, namun hasil belajar siswa aspek psikomotor pada siklus I ini belum dapat mencapai kriteria keberhasilan yang ditentukan yaitu sebanyak 75% dari jumlah siswa atau lebih mendapatkan skor minimal dengan kategori cukup. Berdasarkan hasil yang dipeorleh di atas masih terdapat 9 siswa yang memiliki jumlah skor dengan kategori kurang. Hal ini dikarenakan 9 siswa tersebut disaat pembelajaran masih pasif, ramai sendiri saat kegiatan berkelompok, dan kurang memiliki keterampilan dalam berkomunikasi baik dengan guru, dengan teman sekelompok ataupun dengan teman kelompok lain.
Pada pengamatan aspek psikomotor digunakan peneliti untuk mendapatkan hasil belajar siswa yang berupa keterampilan siswa dalam berkonstribusi dalam kelompok, dan keterampilan siswa dalam
121
berkomunikasi. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat 21 siswa atau 67,74% dari jumlah siswa masuk dalam kategori baik dan 10 siswa atau 32,26% dari jumlah siswa masuk dalam kategori cukup. hasil belajar siswa aspek psikomotor pada siklus I ini belum dapat mencapai kriteria keberhasilan yang ditentukan yaitu sebanyak 75% dari jumlah siswa atau lebih mendapatkan skor minimal dengan kategori baik. Berdasarkan hasil yang dipeorleh di atas masih terdapat 10 siswa yang memiliki jumlah skor dengan kategori cukup. Hal ini dikarenakan 9 siswa tersebut disaat pembelajaran masih pasif, ramai sendiri saat kegiatan berkelompok, dan kurang memiliki keterampilan dalam berkomunikasi baik dengan guru, dengan teman sekelompok ataupun dengan teman kelompok lain.
2. Siklus II
Pelaksanaan tindakan siklus II merupakan tindak lanjut dari siklus I. Adapun materi yang digunakan pada siklus II merupakan lanjutan dari siklus I. Pada pertemuan pertama membahas tentang masalah kemiskinan dan pada pertemuan kedua membahas tentang masalah kejahatan. Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan oleh peneliti dan guru di akhir siklus I ditemukan beberapa faktor penyebab kurang tercapainya indikator keberhasilan untuk hasil belajar aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Maka di siklus II dilakukan tindakan perbaikan di antaranya adalah guru melakukan seluruh aktivitas sesuai fase pembelajaran dalam model SAVI, pemberian reward secara verbal kepada siswa yang mendapatkan hasil belajar terbaik dengan ketiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, dan menggunakan
122
sumber belajar berupa video untuk menarik minat siswa dalam menganalisis masalah-masalah sosial yang terjadi disekitarnya serta menambahkan permainan berupa kuis dengan cara mengedarkan tongkat dan siswa yang mendapatkan tongkat tersebut mendapatkan pertanyaan dari guru. Pada pertemuan dua siklus II siswa dituntut untuk aktif secara berkelompok dengan membuat soal yang akan dilempar kepada perwakilan kelompok yang berada di depan. Kegiatan pembelajaran tersebut ditambahkan dalam perbaikan siklus II sehingga siswa aktif. Hal ini sesuai dengan karakteristik dari model SAVI menurut Dave Maier (2000: 90) menyatakan bahwa pembelajaran dengan model SAVI adalah pembelajaran yang menggabungakan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan pengunaan semua indera yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran.
Dengan adanya perbaikan di siklus II ini, maka hasil belajar IPS yang diperoleh siswa pun bertambah optimal. Berdasarkan hasil post-test pada siklus II menunjukkan bahwa terdapat 26 siswa atau 83,9% dari jumlah seluruh siswa telah mendapatkan nilai yang mencapai KKM dan terdapat 5 siswa atau 16,1% dari jumlah seluruh siswa belum mencapai KKM. Hasil belajar aspek kognitif tersebut sudah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan pada penelitian ini yaitu sebanyak 75% dari jumlah siswa atau lebih dapat mencapai KKM yaitu dengan nilai ≥72.
Sedangkan untuk pengamatan hasil belajar aspek afektif menunjukkan bahwa terdapat 11 siswa atau 35,48% dari jumlah siswa mendapatkan skor hasil belajar afektif dengan kategori sangat baik, 16 siswa atau 51,62% dari
123
jumlah siswa mendapatkan skor dengan kategori baik, hanya terdapat 4 siswa atau 12,90% dengan kategori cukup. Berdasarkan hasil pengamatan, sebagian besar siswa sangat antusias mengikuti pembelajaran, terlibat aktif dalam pembelajaran, bertanggung jawab saat melakukan diskusi kelompok, dan sudah memiliki kepercayaan diri dalam menjawab pertanyaan atau mengungkap idenya.
Berdasarkan hasil pengamatan pada aspek psikomotor menunjukkan bahwa terdapat 1 siswa atau 3,22% dari jumlah seluruh siswa mendapatkan skor dengan kategori sangat baik, 27 siswa atau 87,09% dari jumlah siswa mendapatkan skor dengan kategori baik, dan masih terdapat 3 siswa atau 9,67% mendapatkan skor dengan kategori cukup. Di dalam pembelajaran IPS di siklus II keterampilan siswa dalam berkonstribusi dengan kelompok, dan keterampilan dalam berkomunikasi sudah diterapkan baik pada siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu hasil belajar IPS pada aspek psikomotor pada siklus II sudah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan pada penelitian ini, yaitu sebanyak 75% dari jumlah siswa mendapatkan skor minimal dengan kategori baik.
Dari data di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar yang diambil dari hasil belajar sebelum dilakukan tindakan, hasil belajar siklus I, dan hasil belajar pada siklus II. Untuk melihat gambaran lebih jelas peningkatan hasil belajar pada ketiga aspek tersebut telah disajikan pada histogram-histogram berikut ini.
124
Gambar 4. Histogram hasil belajar kognitif pre-test, siklusI, dan siklus II Pada histogram diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar aspek kognitif yaitu saat pre-test sebanyak 10 siswa atau 32,2% meningkat pada pos-test siklus I yaitu sebanyak 15 siswa atau 48,4% siswa dan mengalami peningkatan lagi pada post-test siklus II yaitu sebanyak 26 siswa atau 83,9% siswa yang dapat mencapai KKM. Tindakan penelitian berhenti di siklus II karena sudah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan, yaitu 75% dari jumlah siswa atau lebih dapat mencapai KKM dengan nilai ≤72
Untuk peningkatan hasil belajar pada aspek afektif dapat dilihat pada histogram dibawah ini.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Pre-test Post-test Siklus I Post-test Siklus II 32,2 48,4 83,9 67,7 51,6 16,1 Siswa Tuntas (%) Siswa tidak Tuntas (%)
125
Gambar 5. Histogram hasil belajar afektif pada siklus I dan II
Pada histogram diatas menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar aspek afektif pada siklus I dan siklus II. Pada siklus I hasil belajar aspek afektif menunjukkan bahwa terdapat 12 siswa atau 38,70% masuk dalam kategori sangat baik, terdapat 10 siswa atau 32,25% masuk dalam kategori baik dan 9 siswa atau 29,03% masuk dalam kategori cukup dan mengalami peningkatan di siklus II yaitu terdapat 11 siswa atau 35,48% masuk dalam kategori sangat baik, 16 siswa atau 51,62% masuk dalam kategori baik dan terdapat 4 siswa atau 12,90% masuk pada kategori cukup. Hal ini menunjukkan bahwa di siklus II hasil belajar aspek afektif sudah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu sebesar 75% dari jumlah siswa atau lebih dapat mencapai skor rata-rata minimal dengan kategori baik.
Sedangkan untuk hasil belajar aspek psikomotor dapat dilihat pada histogram berikut ini.
0 10 20 30 40 50 60 Siklus I Siklus II 38,7 35,48 32,25 51,62 29,03 12,9 Sangat baik (%) Baik (%) Cukup (%) Kurang (%)
126
Gambar 6. Histogram hasil belajar psikomotor pada siklus I dan II
Berdasarkan histogram di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar aspek psikomotor pada siklus I dan siklus II. Pada siklus I hasil belajar aspek psikomotor menunjukkan bahwa terdapat 21 siswa atau 67,74% masuk dalam kategori baik dan terdapat 10 siswa atau 32,26% masuk dalam kategori cukup lalu mengalami peningkatan di siklus II yaitu terdapat 1 siswa atau 3,22% masuk dalam kategori sangat baik, terdapat 27 siswa atau 87,09% masuk dalam kategori baik dan terdapat 3 siswa atau 9,67% masuk dalam katagori cukup. Hal ini menunjukkan bahwa bahwa di siklus II hasil belajar aspek psikomotor sudah mencapai kriteria keberhasilan yang sudah ditetapkan yaitu sebanyak 75% dari jumlah siswa dapat mencapai skor rata-rata minimal dengan kategori cukup.
Namun terdapat temuan dari penelitian ini yaitu ada tiga siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, karena ketiga siswa tersebut mendapatkan hasil belajar yang belum mencapai kriteria keberhasilan dari sebelum
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Siklus I Siklus II 0 3,22 67,74 87,09 32,26 9,67 0 0 Sangat baik (%) Baik (%) Cukup (%) Kurang (%)
127
dilakukan tindakan hingga dilakukan tindakan pada siklus II. Guru melakukan model dan motivasi yang lebih agar ketiga siswa tersebut dapat mengikuti pembelajaran dan menyerap materi yang diberikan oleh guru sehingga akan meningkatkan hasil belajar.
Dari data di atas maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar diambil dari hasil belajar sebelum dilakukan tindakan, hasil belajar siklus I, dan hasil belajar siklus II. Jika dikaitkan dengan penelitian relevan dari Laredo Muliawan (2014: 99) dengan tujuan penelitian meningkatkan hasil belajar IPA dengan menerapkan model SAVI dan penelitian Toni Agus Ardie (2012: 67) dengan tujuan meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA dengan model SAVI, penelitian ini memiliki kesamaan dari kedua penelitian tersebut yaitu bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dengan mengunakan model SAVI. Namun juga terdapat perbedaan, yaitu di dalam penelitian ini hasil belajar yang ditingkatkan berupa hasil belajar pada mata pelajaran IPS dan hasil belajar yang ditingkatkan meliputi tiga aspek, diantaranya aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
Hasil belajar aspek kognitif, afektif, dan psikomotor dapat mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan di siklus II karena tidak terlepas dari peran serta guru. Seperti pendapat Dave Meier (2001: 305) kesuksesan guru dalam menerapkan model SAVI dengan mengasah kepedulian, kreativitas, dan keberanian siswa. Melihat hasil yang diperoleh dari siklus I dan siklus II yang mengalami peningkatan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan
128
model SAVI (somatis-auditori-visual-intelektual) dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada kelas IV