• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI EKOLOGIS MELALUI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Pada bagian ini, penulis akan memaparkan pembahasan dan mendeskripsikan hasil penelitian implementasi nilai-nilai ekologis melalui Pendidikan Agama Katolik kelas XII di SMA Stella Duce 1 Yogyakarta. Sebagaimana dalam bab dua penulis telah jelaskan bahwa nilai-nilai ekologis merupakan suatu tindakan atau pola perilaku manusia dalam hubungannya dengan alam ciptaan. Nilai-nilai ekologis ini terwujud dalam sikap peduli terhadap alam ciptaan. Berdasarkan hasil penelitian, informasi yang didapat penulis dari responden (R1-R20) bahwa dalam Pendidikan Agama Katolik terdapat nilai-nilai ekologis yang diajarkan sekaligus diwujudkan melalui tugas-tugas yang diberikan guru berupa bakti sosial, menanam tanaman, dan melanjutkan penerapan pembiasaan sekolah dengan meminimalisir penggunaan plastik di rumah dan refleksi untuk menemukan nilai-nilai yang bermakna bagi peserta didik. Melalui refleksi peserta didik mampu menemukan kehadiran Tuhan dibalik setiap peristiwa dan pengalaman sehingga mendorong mereka untuk bersyukur.

Responden (R1-R20) mengungkapkan bahwa mereka mulai membiasakan diri, membuang sampah pada tempatnya, meminimalisir plastik dengan cara membawa botol dan tempat makan sendiri, membawa tas kain jika berbelanja dan membersihkan kelas. Bahkan selama pandemi tinggal di rumah pun kebiasaan ini masih dilaksanakan dan direfleksikan. Kesadaran diri setiap pribadi menunjukkan bahwa tugas yang mereka laksanakan tidak hanya sebatas untuk menambah ilmu pengetahuan tetapi juga diaplikasikan dalam kehidupan setiap hari. Tentu ungkapan dan perwujudan ini merupakan ungkapan iman peserta didik yang

diwujudkan dalam tindakan mereka untuk peduli dan bersyukur kepada Tuhan atas lingkungan alam yang diberikan Tuhan. Paus Fransiskus mengatakan bahwa “Pendidikan tidak hanya sebatas memberi informasi secara formal, tetapi harus sampai pada menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui tindakan kecil sehari-hari yang mendorong orang untuk menjadikannya sebagai suatu gaya hidup baru dalam pelestarian lingkungan, seperti: menghindari penggunaan sampah plastik dan kertas, pemilihan sampah, memasak secukupnya untuk makan, mematikan lampu yang tidak perlu, menanam pohon” (LS 211).

Keterlibatan peserta didik dalam melestarikan lingkungan didukung oleh berbagai faktor yakni kesadaran dari diri sendiri, keluarga dan sekolah. Kalimat dominan yang diungkapkan responden bahwa faktor yang mendukung mereka adalah kesadaran dari diri sendiri. Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden bahwa mulai adanya kesadaran diri untuk melestarikan lingkungan dengan melakukan hal-hal yang telah diperoleh dari sekolah karena ikut merasakan keprihatinan lingkungan alam yang semakin rusak. “Merasakan bumi yang sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya” (LS 2). Faktor kesadaran diri inilah yang masing-masing responden alami. Patut disyukuri bahwa pembiasaan sekolah yang terus menerus dilaksanakan menggerakkan hati peserta didik untuk berproses dan membentuk karakter menjadi pribadi yang peduli, hidup sederhana, bertanggung jawab, disiplin dan berbagi. Meskipun demikian masih ada faktor yang menghambat untuk melestarikan lingkungan yakni terdapat beberapa peserta didik yang masih berusaha berproses menyesuaikan diri dengan pembiasaan sekolah. Peserta didik

yang masih berproses tetap dibina, diarahkan agar suatu saat nanti menjadi pribadi yang menghargai alam ciptaan dan memberi teladan bagi orang-orang di sekitar.

Penulis melihat bahwa usaha dan proses yang dilakukan peserta didik untuk terlibat melestarikan lingkungan merupakan suatu bentuk perwujudan iman menuju pada pertobatan ekologis. Pertobatan ekologis merupakan suatu penyesalan atas tindakan yang semena-mena terhadap alam yang diwujudkan melalui perubahan cara pandang dan pola hidup yang baru (Hendani, 2018:97). Mengubah kebiasaan atau pola hidup lama menjadi pola hidup baru merupakan salah satu bentuk pertobatan diri. Hal ini sesuai dengan ungkapkan R1-R20 bahwa mulai terbangun kesadaran diri untuk mengubah kebiasaan yang sering menggunakan plastik, berbelanja berlebihan, kurang peduli terhadap lingkungan dan sesama menjadi pribadi yang peduli, menghargai, bertanggungjawab, disiplin, hidup sederhana dan berbagi. Pertobatan diri terhadap lingkungan ini membuahkan nilai-nilai ekologis seperti yang telah diungkapkan R1-R20 bahwa adanya keprihatinan yang menggerakkan hati mereka untuk peduli dan berbelarasa pada sesama yang miskin dan juga lingkungan sekitarnya.

Mengubah pola hidup memang membutuhkan komitmen, harapan, niat dan usaha yang sungguh serius. Responden mengungkapkan bahwa awalnya sulit menerapkan gerakan rutin sekolah untuk mengurangi plastik namun akhirnya mereka mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik mau belajar berproses meninggalkan kebiasaan lama dan mulai hidup baru. Pernyataan ini diperjelas R16 bahwa pembiasaan dari sekolah

berdampak positif yang mengajarkannya untuk bersikap ugahari dan tahu bersyukur dan berterima kasih.

Menurut P1 bahwa faktor pendukung adanya pelestarian lingkungan hidup di sekolah karena adanya materi lingkungan yang terdapat dalam kurikulum pembelajaran Agama Katolik dan pelajaran pendidikan Karakter Tarakanita (PKT) tentang keutuhan ciptaan Tuhan. Sekolah sangat menekankan agar setiap mata pelajaran menyelipkan nilai-nilai Tarakanita yang menjadi kekhasan sekolah dan disesuaikan dengan konteks pengajaran yang disampaikan agar karakter peserta didik pun dapat dibentuk melalui nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai Tarakanita terangkum dalam Cc5 plus; Compassion (celebration, competence, conviction, creativity, community) dan KPKC (Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan)

yang mengajarkan dan menanamkan nilai belarasa, bersyukur, mandiri, kreatif, memiliki daya juang, berani menghadapi kegagalan, menghargai kebersamaan dan cinta akan lingkungan (Luisa, Astrid, Nasarius Sudaryono, et al., 2012:16-28).

Antara pelajaran PKT dan Pendidikan Agama Katolik saling berkesinambungan karena keduanya mengajarkan nilai-nilai religius dan budi pekerti. Nilai-nilai PKT diadopsi dari nilai-nilai religius atau Kristiani dalam pendidikan Agama Katolik yang disesuaikan dengan konteks pengajarannya. Paus Fransiskus dalam LS 211 mengatakan bahwa pendidikan harus sampai pada menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui tindakan kecil sehari-hari yang mendorong peserta didik untuk membangun kesadaran diri dan menjadikannya sebagai suatu gaya hidup baru. Maka Pendidikan Agama Katolik dan pelajaran PKT menjadi sarana penananam nilai yang membentuk karakter

bagi peserta didik agar semakin menjadi pribadi yang cerdas dan berintegritas sekaligus beriman.