• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Agama Katolik di Sekolah a. Pengertian Pendidikan Agama Katolik

NILAI-NILAI EKOLOGIS DAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

A. Nilai-Nilai Ekologis 1. Nilai

2. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah a. Pengertian Pendidikan Agama Katolik

Pendidikan Agama Katolik merupakan suatu usaha yang dilakukan secara terencana dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk

beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai ajaran iman Katolik. Usaha ini dilakukan dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama (Komkat, 2017:9-10).

Menurut Heryatno (2008:22), Pendidikan Agama Katolik merupakan proses pendidikan iman untuk membantu peserta didik agar semakin beriman kepada Yesus Kristus sehingga nilai-nilai kerajaan Allah semakin terwujud di tengah-tengah hidupnya. Pendidikan iman ini diperoleh peserta didik melalui Gereja, sekolah, keluarga dan kelompok jemaat lainnya.

Heryatno menegaskan kembali pendapat Mangunwijaya (2008:15) bahwa hakikat dasar Pendidikan Agama Katolik, bukan pengajaran agama melainkan komunikasi pengalaman beriman. Agama berkaitan dengan ritus, kebiasaan, dan lambang-lambang lahiriah sebagai jalan manusia menuju kesatuannya dengan Tuhan. Sedangkan iman berkaitan dengan kemendalaman hati yang membuat orang beramal, berbelas kasih, merasa rindu dan ingin dekat pada Tuhan.

Pendidikan Agama Katolik merupakan komunikasi iman. Sebagai komunikasi iman PAK perlu menekankan hal-hal bersifat praktis atau tindakan bukan teoritis. Karena komunikasi iman itu dimulai dari pengalaman penghayatan iman kita sehari-hari yang kemudian direfleksikan menuju pada penghayatan iman yang baru. Maka dengan komunikasi iman, kita saling memperkaya dan memperkembangkan satu dengan yang lain.

Pendidikan Agama Katolik tidak hanya berhenti pada pengajaran agama tetapi sampai pada proses pendewasaan iman, peneguhan pengharapan dan perwujudan cinta kasih. Komunikasi iman ini akan terjadi, apabila suasana

pembelajaran dapat saling menghargai, peduli dan memberi peluang bagi masing-masing pribadi untuk mengungkapkan pengalaman imannya sehingga saling meneguhkan, mengembangkan iman agar semakin mendalam demi terwujudnya kerajaan Allah di dunia (Heryatno, 2008:16).

Pendidikan Agama Katolik harus bervisi spritual. Menurut Heryatno (2008:14), “Bervisi spritual berarti Pendidikan Agama Katolik secara konsisten terus menerus memperkembangkan kedalaman hidup peserta didik, memperkembangkan jati diri atau inti hidup mereka”. Dalam Pendidikan Agama Katolik ditekankan bukan hanya pengetahuan melainkan interioritas hidup dan perkembangan jiwa peserta didik. Pendidikan agama Katolik merupakan suatu proses pendidikan yang diupayakan untuk menanamkan nilai-nilai hidup kepada peserta didik sehingga semakin mendewasakan imannya dan mampu mewujudkan iman dalam persaudaraan dan dalam kebersamaan dengan orang lain.

b. Tujuan Pendidikan Agama Katolik

Pendidikan Agama Katolik bertujuan untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan membangun sikap hidup yang semakin beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka pendekatan kateketis atau proses komunikasi iman sangat diperlukan dalam Pendidikan Agama Katolik. Pendekatan kateketis meliputi kemampuan untuk memahami, menginternalisasi, dan menghayati iman yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari (Komkat, 2017:10).

Heryatno (2008:25) mengatakan bahwa tujuan utama Pendidikan Agama Katolik adalah demi terwujudnya kerajaan Allah. Terwujudnya kerajaan Allah

merupakan visi dasar atau arah seluruh kegiatan pendidikan di dalam iman atau Pendidikan Agama Katolik. Terwujudnya nilai-nilai kerajaan Allah menjadi sumber acuan bagi kita untuk merumuskan arah, visi dan tujuan pendidikan di dalam iman. Maka PAK berorientasi pada terwujudnya nilai-nilai kerajaan Allah yang dijadikan sebagai sumber inspirasi untuk memberdayakan pendidik dan peserta didik di dalam proses pendidikan.

Selanjutnya, Heryatno (2008:23-24) mengatakan bahwa tujuan Pendidikan Agama Katolik bersifat holistik. Bersifat holistik artinya pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan hidup peserta didik yang mencakup segi kognitif, afeksi dan praksis. Pendidikan Agama Katolik juga bersifat konatif. Bersifat konatif artinya tujuan pendidikan di dalam iman, sudah diolah dan dipertimbangkan dengan matang sehingga diyakini kebenarannya dan mendorong semua pihak supaya semakin setia serta konsisten mewujudkannya di dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Dengan kata lain, pendidikan holistik menyatukan segi pemahaman, kesadaran, afeksi, kehendak yang kuat dengan tindakan konkret sebagai perwujudan diri orang Kristiani yang setia menghayati imannya. Pendidikan iman yang bersifat konatif yaitu membantu peserta didik untuk memiliki kesadaran kritis yang reflektif dan mampu berpikir dewasa sehingga mendorong mereka untuk menjadi lebih peka pada sesama serta memiliki pandangan yang inklusif dan berwawasan secara luas.

c. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Katolik

Komkat (2017:10) mengungkapkan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Katolik mencakup empat aspek yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Keempat aspek yang dibahas secara lebih mendalam sesuai tingkat kemampuan pemahaman peserta didik adalah:

1) Pribadi peserta didik; aspek ini membahas tentang pemahaman diri sebagai pria dan wanita yang memiliki kemampuan dan keterbatasan, kelebihan dan kekurangan dalam berelasi dengan sesama serta lingkungan sekitarnya sesuai dengan ajaran iman Katolik.

2) Yesus Kristus; aspek ini membahas tentang pribadi Yesus Kristus sebagaimana diwartakan dalam Kitab Suci agar peserta didik semakin dapat meneladani-Nya dan mampu mewartakan kerajaan Allah di tengah dunia. 3) Gereja; aspek ini membahas tentang makna Gereja yang mengajak peserta

didik dapat melibatkan diri dalam kehidupan menggereja sebagai bentuk perwujudan imannya kepada Yesus Kristus.

4) Kemasyarakatan; aspek ini membahas tentang hidup bersama dalam masyarakat yang mengajak peserta didik untuk mewujudkan imannya di tengah masyarakat.

Keterkaitan antara keempat aspek ini menunjukkan bahwa peserta didik dapat menerima diri sebagai citra Allah baik laki-laki maupun perempuan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Hal ini memampukan peserta didik, semakin beriman dan meneladan pribadi Yesus Kristus dalam hidupnya.

Dengan demikian peserta didik semakin terpanggil untuk mewujudkan imannya demi kerajaan Allah dalam hidup menggereja dan bermasyarakat.

d. Pendekatan Pendidikan Agama Katolik

Dalam Pendidikan Agama Katolik, pendekatan kateketis (proses komunikasi iman) menjadi sangat penting. Hal ini dikarenakan pendekatan kateketis menekankan proses pengetahuan yang menyentuh pengalaman hidup peserta didik yang diproses melalui refleksi dalam terang Kitab Suci, sehingga menemukan nilai-nilai baru untuk diterapkan dalam hidupnya. Maka proses ini mengandung unsur pemahaman iman, pergumulan iman dan penghayatan iman (Komkat, 2017:12).

Selanjutnya, Heryatno mengungkapkan kembali pendapat Groome (2008:61) bahwa pendekatan Shared Christian Praxis merupakan suatu pendekatan pendidikan iman yang menekankan pentingnya partisipasi aktif para peserta. Partisipasi aktif para peserta yang dimaksudkan di sini adalah peran peserta dalam mengungkapkan dan merefleksikan pengalaman hidupnya secara mendalam, serta menemukan nilai-nilai baru dalam terang Kitab Suci yang meneguhkan, sehingga dalam kehidupannya mampu mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah masyarakat.

e. Nilai-nilai Ekologis yang Diharapkan Didalami Melalui Pendidikan Agama Katolik.

Menurut Heryatno (2008:24), Pendidikan Agama Katolik tidak hanya menambah wawasan keagamaan tetapi mengasah keterampilan beragama dan mewujudkan sikap beragama. Sikap beragama yang utuh dan seimbang mencakup

hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam. Hal ini menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Katolik mencakup segi kognitif, afektif dan psikomotorik.

Pendidikan Agama Katolik berkaitan erat dengan budi pekerti yang memuat nilai-nilai moral. Penanaman nilai-nilai moral kepada peserta didik dapat membentuk sikap dan tindakannya menjadi pribadi yang peduli, menghormati, menghargai sesama dan lingkungan sekitarnya. Dalam kurikulum 2004 Pendidikan Agama Katolik kelas XII terdapat dua tema pembelajaran mengenai lingkungan hidup yang menjadi sarana pembinaan iman agar peserta didik semakin melestarikan lingkungan hidup. Tema-tema tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Lingkungan hidup yang indah dan harmonis

Tema ini mengajak peserta didik agar menyadari bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala keteraturannya untuk saling menunjang antara tanah, matahari, udara, flora, fauna dan manusia. Matahari dan udara membantu flora sebagai produsen menghasilkan energi. Selanjutnya flora dikonsumsi oleh fauna. Tahap selanjutnya manusia akan mengkonsumsi fauna dan menghasilkan kotoran yang akan digunakan sebagai humus (Komkat, 2004:67).

Dari tema di atas terlihat bahwa di antara unsur alam terdapat harmoni yang saling menunjang dan menghidupi serta ada hubungan timbal balik. Menyadari akan keharmonisan alam yang begitu indah, peserta didik diajak untuk terlibat melestarikan alam melalui sikap dan tindakannya. Misalnya menanam pohon, membuang dan mengolah sampah dengan baik, melindungi flora dan fauna. Sikap

dan tindakan peserta didik untuk melestarikan alam merupakan perwujudan iman mereka kepada Sang Pencipta.

2) Perusakan serta pelestarian lingkungan alam.

Kerusakan alam dapat mencemari tanah, air dan udara. Dampak kerusakan alam juga membuat manusia menderita. Agar bencana alam tersebut tidak terjadi, maka manusia harus berhenti mengeksploitasi lingkungan dan mulai melakukan pelestarian lingkungan hidup (Komkat, 2004:96).

Melalui tema ini peserta didik dapat mengetahui kerusakan lingkungan alam dan upaya untuk memulihkan kembali lingkungan alam. Peserta didik disadarkan bahwa untuk memulihkan kembali kerusakan lingkungan alam diperlukan suatu pertobatan ekologis. Pertobatan yang mendorong mereka untuk merubah pola hidup menjadi pribadi yang bersyukur, peduli terhadap lingkungan sebagai bentuk perwujudan iman kepada Tuhan yang menyelenggarakan alam semesta.

Pertobatan diri menjadi salah satu cara untuk mengembangkan iman. Pertobatan merupakan kekuatan dari dalam diri (power within) yang mengerakkan untuk melakukan (power to) dan bersama dengan orang lain (power with) melestarikan lingkungan alam. Dalam LS 216 Paus Fransiskus mengajak agar pertobatan personal diharapkan juga menjadi pertobatan komunal supaya membangun sikap bersama dalam melindungi alam dengan penuh syukur dan menyadari bahwa manusia dan makluk lainnya selalu berada dalam lingkaran persekutuan universal yang indah bersama dengan Sang Pencipta.

Kedua tema lingkungan di atas terdapat nilai-nilai ekologis. Nilai-nilai ekologis merupakan suatu tindakan atau pola hidup manusia dalam hubungannya

dengan lingkungan hidup yang diwujudkan melalui sikap peduli, berbagi, sederhana, tanggung jawab dan menghormati. Nilai-nilai ekologis dapat diuraikan sebagai berikut:

a) Peduli terhadap lingkungan

Peduli yang berkaitan dengan lingkungan dipahami sebagai sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Dalam LS 218 dikatakan bahwa manusia sadar akan segala yang telah dilakukannya terhadap alam, maka dengan rendah hati mengakui kesalahan, kejahatan atau kelalainnya dan bertobat dengan sepenuh hati dengan dunia. Bertobat berarti memperbaiki diri, mengadakan rekonsiliasi dengan dunia ciptaan dan Sang Pencipta alam semesta.

b) Sikap berbagi

Berbagi merupakan sikap memberi apa yang dimiliki kepada orang lain. Berbagi tidak hanya dilakukan kepada sesama manusia saja tetapi juga kepada lingkungan hidup dengan memberi perhatian dan melestarikannya.

c) Sikap hidup sederhana

Hidup sederhana merupakan sikap hidup apa adanya. Tidak berlebihan dalam makan, belanja serta menggunakan harta benda lainnya. Paus Fransiskus dalam seruannya mengajak manusia agar hidup sederhana, mengatasi budaya “membuang” tidak hanya menyangkut barang yang cepat disingkirkan menjadi sampah, melainkan termasuk membuang mereka yang dikucilkan (LS 22).

d) Tanggung jawab terhadap lingkungan alam

Tanggung jawab menunjukkan sikap dan perilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya untuk menjaga, merawat, dan melestarikan alam. Paus Fransiskus mengajak seluruh umat agar bertanggungjawab terhadap alam yang menjerit akibat kerusakan yang ditimpakan kepadanya (LS 2). Bertobat adalah salah satu jalan untuk kembali memulihkan alam ciptaan dan melestarikannya. e) Menghormati alam ciptaan

Menghormati alam merupakan sikap dan perilaku seseorang dalam menjaga dan merawat keindahan alam yang ada di dunia tanpa harus merusaknya. Dalam LS 5, Allah mempercayakan dunia kepada manusia untuk dilindungi dan memperbaikinya sebagai rumah kita bersama (LS 1).

BAB III

METODE PENELITIAN NILAI-NILAI EKOLOGIS MELALUI