IMPLEMENTASI
NILAI-NILAI EKOLOGIS MELALUI
PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
KELAS XII DI SMA STELLA DUCE I
YOGYAKARTA
S K R I P S I
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik
Oleh:
Desilva Abuk
NIM: 171124007
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEAGAMAAN KATOLIK
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2021
ii S K R I P S I
IMPLEMENTASI
NILAI-NILAI EKOLOGIS MELALUI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
KELAS XII DI SMA STELLA DUCE I YOGYAKARTA
Oleh:
Desilva Abuk
NIM: 171124007
Telah disetujui oleh:
Pembimbing
iii S K R I P S I IMPLEMENTASI
NILAI-NILAI EKOLOGIS MELALUI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
KELAS XII DI SMA STELLA DUCE I YOGYAKARTA
Dipersiapkan dan ditulis oleh Desilva Abuk
NIM: 171124007
Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Pada 12 Juli 2021
dan dinyatakan memenuhi syarat
SUSUNAN PANITIA PENGUJI
Nama Tanda tangan
Ketua : Dr. B. Agus Rukiyanto, S.J Sekretaris : F.X. Dapiyanta, SFK., M.Pd
Anggota : 1. Drs. F.X. Heryatno W.W., S.J., M.Ed 2. P. Banyu Dewa HS, S.Ag., M.Si
3. Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd
Yogyakarta, 12 Juli 2021 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma Dekan,
iv
PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan dengan penuh cinta kepada Kongregasi Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus.
v MOTTO
“Yang menabur dengan bercucuran air mata akan menuai dengan bersorak-sorai” (Mzm 126:5)
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 12 Juli 2021 Penulis
Desilva Abuk
vii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Universitas Sanata Dharma; Nama : Desilva Abuk
NIM : 171124007
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, penulis memberi wewenang bagi Perpustakaan Universitas Sanata Dharma, karya ilmiah penulis yang berjudul IMPLEMENTASI NILAI-NILAI EKOLOGIS MELALUI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK KELAS XII DI SMA STELLA DUCE 1 YOGYAKARTA.
Dengan demikian penulis memberikan kepada pihak Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolah data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu izin maupun memberikan royalti kepada penulis, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini penulis buat dengan sebenarnya.
Yogyakarta, 12 Juli 2021 Yang menyatakan
viii ABSTRAK
Judul skripsi ini adalah IMPLEMENTASI NILAI-NILAI EKOLOGIS MELALUI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK KELAS XII DI SMA STELLA DUCE 1 YOGYAKARTA. Judul ini dipilih berdasarkan keingintahuan penulis tentang implementasi nilai-nilai ekologis serta dampaknya bagi peserta didik melalui Pendidikan Agama Katolik. Nilai-nilai ekologis merupakan suatu tindakan atau pola perilaku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan hidup yang diwujudkan melalui sikap peduli dan menghargai alam ciptaan. Pada dasarnya hidup manusia tergantung pada lingkungan alam demikian pula sebaliknya. Namun dalam kenyataan, manusia cenderung merusak alam. Menyikapi persoalan ini, perlu ada usaha yang konkret dan berkelanjutan. Maka Pendidikan Agama Katolik menjadi salah satu sarana pembinaan untuk menanamkan nilai-nilai ekologis kepada peserta didik. Secara spesifik, dalam Pendidikan Agama Katolik kelas XII terdapat tema-tema lingkungan hidup sebagai fokus pembelajaran bagi peserta didik agar mereka mengetahui persoalan bumi yang kini semakin rusak akibat ulah manusia sekaligus menyadarkan mereka untuk terlibat menjaga dan melestarikan lingkungan hidup sebagai rumah bersama seperti seruan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’. Sekolah SMA Stella Duce 1 Yogyakarta juga melakukan berbagai upaya untuk membantu peserta didik agar semakin menyadari diri sebagai bagian dari lingkungan hidup yang patut dijaga dan dipelihara kelestariannya. Persoalan pokok dalam skripsi ini ialah ingin mengetahui bagaimana dampak implementasi nilai-nilai ekologis yang dilakukan peserta didik melalui Pendidikan Agama Katolik. Untuk mengkaji persoalan ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskripsi analitis dengan teknik wawancara kepada peserta didik kelas XII SMA Stella Duce 1 Yogyakarta. Berdasarkan hasil wawancara ditemukan bahwa implementasi nilai-nilai ekologis melalui Pendidikan Agama Katolik berdampak positif bagi peserta didik. Dampak positif yang dirasakan peserta didik yaitu mulai tumbuh kesadaran, niat, dan komitmen sebagai bentuk pertobatan diri untuk melestarikan lingkungan di sekitar mereka. Harapannya, peserta didik menjadi penggerak perubahan pola hidup bagi generasi penerus dalam melestarikan lingkungan. Kata-kata kunci: Pendidikan Agama Katolik, nilai, ekologis, pembentukan diri, Ensiklik Laudato Si’.
ix
ABSTRACT
The title of the thesis is IMPLEMENTATION OF ECOLOGICAL VALUES
THROUGH CATHOLIC RELIGIOUS EDUCATION IN CLASS XII OF STELLA DUCE 1 SENIOR HIGH SCHOOL YOGYAKARTA. This title was
chosen based on the researcher’s curiosity about the implementation of ecological values and their impact on students through Catholic Religious Education. Ecological values are an action or pattern of human behavior in relation to the environment which is manifested through an attitude of caring and respect for the created nature. Basically human life depends on the natural environment and vice versa. But in reality, humans tend to destroy nature. In response to this problem, the concrete and sustainable effort is needed. Thus, Catholic Religious Education is one of the means of fostering to instill ecological values in students. Specifically, in Catholic Religious Education of class XII there are environmental themes as a learning focus for students so that they know the problems of the earth which are now increasingly being damaged by human activities as well as make them aware to be involved in protecting and preserving the environment as our home, as Pope Francis stated in the Encyclical Laudato Si'. Stella Duce 1 High School Yogyakarta also makes various efforts to help students become more aware of themselves as part of the environment that should be preserved and preserved. The main problem of this research is wanting to know how the impact of the implementation of ecological values is carried out by students through Catholic Religious Education. To examine this issue, the author uses a qualitative research method of analytical description with interview techniques to the XII grade students of Stella Duce 1 Senior High School of Yogyakarta. Based on the results of the interview, it was found that the implementation of ecological values through Catholic Religious Education had a positive impact on students. The positive impact felt by students is that they begin to grow awareness, intention, and commitment as a form of self-repentance to preserve the environment around them. The hope is that students will become an activator of lifestyle changes for the next generation in preserving the environment.
Keywords: Catholic Religious Education, values, ecology, self formation,
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan atas rahmat dan berkat-Nya yang melimpah kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan skripsi dengan judul IMPLEMENTASI NILAI-NILAI EKOLOGIS MELALUI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK KELAS XII DI SMA STELLA DUCE 1 YOGYAKARTA.
Skripsi ini ditulis berdasarkan keprihatinan penulis terhadap lingkungan yang semakin tercemar oleh sampah plastik. Penggunaan sampah plastik dari hari ke hari terus meningkat disebabkan oleh kurangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekitar. Oleh karena itu, penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk membantu masyarakat khususnya generasi penerus agar menyadari pentingnya kesadaran melestarikan lingkungan hidup.
Dalam Pendidikan Agama Katolik kelas XII terdapat tema-tema ekologi yang menjadi sarana untuk membina karakter peserta didik agar memiliki kesadaran untuk peduli terhadap lingkungan sekitar. Enam gerakan yang diterapkan di Sekolah SMA Stella Duce 1 Yogyakarta juga menjadi sarana agar seluruh warga sekolah baik guru maupun peserta didik semakin peduli terhadap lingkungan. Selain itu, skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
xi
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. B. Agus Rukiyanto, S.J selaku Kaprodi PENDIKKAT yang telah memberikan dukungan, perhatian, kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi dengan lancar.
2. Drs. F.X. Heryatno Wono Wulung, S.J., M.Ed selaku dosen pembimbing utama, yang telah memberikan perhatian, meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing dan membantu penulis dengan penuh kesabaran, pengertian, ketulusan hati serta memberi masukan dan kritikan yang memotivasi penulis untuk tetap semangat menyelesaikan skripsi ini dari awal sampai akhir.
3. P. Banyu Dewa HS, S.Ag., M.Si selaku dosen penguji II sekaligus dosen pembimbing akademik yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
4. Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd selaku dosen penguji III yang selalu menyemangati dan memotivasi penulis agar dapat menyelesaikan skripsi ini. 5. Segenap staf dosen prodi PENDIKKAT Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma yang telah mendidik, membimbing dan mendampingi penulis selama menjalankan studi.
6. Sr. Yetty CB selaku Kepala Sekolah SMA Stella Duce 1 Yogyakarta yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di SMA Stella Duce 1 Yogyakarta.
xii
7. Suster Provinsial beserta staf Dewan Pimpinan Provinsi Kongregasi Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus yang telah memberi kepercayaan kepada penulis untuk menjalankan perutusan studi di PENDIKKAT.
8. Sr. Maria Yose CB Selaku Kepala Kantor Yayasan Tarakanita yang memberikan dukungannya kepada penulis dalam mengembangkan diri melalui perutusan studi.
9. Sr. Felisita CB selaku Kepala Kantor Wilayah Yayasan Tarakanita Yogyakarta yang memberikan kepercayaan serta dukungan kepada penulis selama menjalankan perutusan studi.
10. Sr. Mariati CB selaku Pimpinan Komunitas dan segenap anggota komunitas Syantikara yang telah memberikan dukungan, perhatian, serta doa-doanya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari dengan sepenuh hati bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan saran, kritik dari para pembaca demi perbaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya dalam bidang pendidikan.
Yogyakarta, 12 Juli 2021 Penulis
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR SINGKATAN ... xvii
DAFTAR TABEL ... xviii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 8 C. Tujuan Penulisan ... 8 D. Manfaat Penulisan ... 8 E. Metode Penulisan ... 9 F. Sistematika Penulisan ... 9
BAB II. NILAI-NILAI EKOLOGIS DAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK ... 11 A. Nilai-nilai Ekologis ... 11 1. Nilai ... 11 a. Pengertian Nilai ... 11 b. Macam-macam Nilai ... 12 2. Ekologi ... 14 a. Pengertian Ekologi ... 14
xiv
b. Ekologi menurut Kitab Suci ... 15
c. Ekologi menurut Laudato Si ... 17
d. Pertobatan Ekologis ... 20
B. Pendidikan Agama Katolik ... 21
1. Pendidikan pada Umumnya ... 21
a. Pengertian Pendidikan pada Umumnya ... 21
b. Tujuan Pendidikan ... 22
2. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah ... 23
a. Pengertian Pendidikan Agama Katolik ... 23
b. Tujuan Pendidikan Agama Katolik ... 25
c. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Katolik ... 27
d. Pendekatan Pendidikan Agama Katolik ... 28
e. Nilai-nilai Ekologis yang Diharapkan Didalami Melalui Pendidikan Agama Katolik ... 28
BAB III. METODE PENELITIAN NILAI-NILAI EKOLOGIS MELALUI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK ... 33
A. Latar Belakang Penelitian ... 33
B. Tujuan Penelitian ... 34
C. Jenis Penelitian ... 34
D. Desain Penelitian ... 35
E. Teknik Pengumpulan Data ... 35
F. Responden Penelitian ... 37
G. Tempat dan Waktu Penelitian ... 38
H. Fokus Penelitian ... 38
I. Instrumen Penelitian ... 39
K. Teknik Analisis Data ... 40
L. Teknik Keabsahan Data ... 41
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN IMPLEMENTASI NILAI-NILAI EKOLOGIS MELALUI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK ... 42
xv
B. Laporan Hasil Penelitian ... 42
1. Hasil Studi Dokumen ... 42
2. Hasil Observasi Terhadap Lingkungan Sekolah SMA Stella Duce 1 Yogyakarta ... 47
3. Hasil Wawancara ... 50
a. Profil Responden ... 50
b. Hasil Wawancara dengan Responden ... 51
c. Wawancara dengan Peserta Didik kelas XII ... 52
1) Gambaran Nilai-nilai Ekologis melalui Pendidikan Agama Katolik ... 52
2) Pelaksanaan Peserta Didik dalam Melestarikan Lingkungan ... 55
3) Faktor yang Mendukung dan Menghambat Pelestarian Lingkungan ... 57
4. Validasi Data ... 59
a. Pelaksanaan Nilai-nilai Ekologis melalui Pendidikan Agama Katolik ... 59
b. Pelaksanaaan Peserta Didik dalam Melestarikan Lingkungan ... 62
c. Faktor yang Mendukung dan Menghambat Pelestarian Lingkungan ... 64
C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 66
D. Simpulan Hasil Penelitian ... 70
E. Keterbatasan Penelitian ... 71
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 72
A. Kesimpulan ... 72
B. Saran ... 73
DAFTAR PUSTAKA ... 75
LAMPIRAN Lampiran 1: Surat Permohonan Ijin Penelitian ... (1)
Lampiran 2: Surat Pernyataan Selesai Penelitian ... (2)
Lampiran 3: Lingkungan Sekolah SMA Stella Duce 1 Yogyakarta ... (3)
xvi
Lampiran 5: Foto Wawancara Online Peserta Didik dan Guru ... (7)
Lampiran 6: Pertanyaan Wawancara Peserta didik dan Guru dan Kepala Sekolah ... (8)
Lampiran 7: Transkrip Hasil Wawancara dengan Peserta Didik ... (9)
Responden 1 ... (9) Responden 2 ... (11) Responden 3 ... (13) Responden 4 ... (15) Responden 5 ... (17) Responden 6 ... (19) Responden 7 ... (21) Responden 8 ... (22) Responden 9 ... (24) Responden 10 ... (26) Responden 11 ... (28) Responden 12 ... (30) Responden 13 ... (32) Responden 14 ... (34) Responden 15 ... (36) Responden 16 ... (37) Responden 17 ... (39) Responden 18 ... (41) Responden 19 ... (42) Responden 20 ... (44)
Lampiran 8: Transkrip Hasil Wawancara dengan Guru Agama Katolik, Wali Kelas dan Kepala Sekolah ... (46)
Responden 1 ... (46)
Responden 2 ... (48)
xvii
DAFTAR SINGKATAN
A. Singkatan Kitab Suci Mzm : Mazmur
Kej : Kejadian
B. Singkatan Dokumen Gereja
LS : Laudato Si’, Ensiklik Paus Fransiskus tentang Merawat Rumah Kita Bersama, 24 Mei 2015.
C. Singkatan-Singkatan Lain
PSBB : Pembatasan Sosial Berskala Besar BLH : Badan Lingkungan Hidup
PKT : Pendidikan Karakter Tarakanita
PAK : Pendidikan Agama Katolik
KPKC : Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan
UU : Undang-Undang
AKP : Akademi Komunitas Perikanan
KLHK : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan KWI : Konferensi Waligereja Indonesia
PJJ : Pendidikan Jarak Jauh USD : Universitas Sanata Dharma PENDIKKAT : Pendidikan Keagamaan Katolik
xviii
DAFTAR TABEL
Tabel 1: Kisi-kisi Penelitian ... 38
Tabel 2: Pedoman Wawancara Peserta Didik Kelas XII ... 39
Tabel 3: Pedoman Wawancara Wali Kelas dan Guru Agama ... 40
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia dan lingkungan alam merupakan dua komponen yang saling berhubungan dan tidak dilepaspisahkan. Keduanya saling berinteraksi dan bersifat resiprokal. Sifat resiprokal merupakan suatu hubungan timbal balik antara manusia dengan alam dalam menjaga, memelihara, merawat satu sama lain sehingga terciptalah keharmonisan di dalamnya. Santo Fransiskus Assisi menyebut lingkungan alam sebagai “Saudari dan ibu yang berbagi hidup dengan kita, menumbuhkan buah-buahan, bunga dan rerumputan” (LS 1). Hal ini menegaskan bahwa lingkungan alam adalah saudari kita yang harus dijaga dan dipelihara. Kitab Kejadian 1 dan 2 menceritakan bahwa Allah menciptakan bumi dan segala isinya dengan baik untuk keberlangsungan hidup manusia. Oleh karenanya manusia harus menjaga dan melestarikan alam ciptaan dengan baik pula.
Namun dalam kenyataan, manusia menggunakan dan menyalahgunakan kekayaan alam yang diberikan Tuhan dengan semena-mena. Karena manusia masih memandang dirinya sebagai pusat atas segala ciptaan dan ciptaan lain dipandang sebagai obyek yang dapat dieksploitasi untuk memuaskan keinginannya. Penyalahgunaan alam ciptaan membawa dampak bencana bagi hidup manusia. Misalnya; penebangan hutan berdampak pada rusaknya lingkungan hidup sehingga menimbulkan bencana alam seperti banjir, tanah longsor, terjadi kekeringan yang berkepanjangan. Kebiasaan membuang sampah
sembarangan juga mencemari tanah, air dan udara (Madya Utama, 2019:7-9). Peristiwa ini menunjukkan bahwa krisis alam semakin mengglobal dan melanda semua makhluk hidup di bumi. Alexander Sonny Keraf (2010:26) mengatakan bahwa
Krisis dan bencana kerusakan lingkungan hidup tidak hanya berpengaruh secara lokal namun juga secara global. Dikatakan global, karena krisis dan bencana itu melanda seluruh makhluk di bumi ini. Krisis dan bencana lingkungan hidup global itu meliputi kerusakan lingkungan hidup (hutan, terumbu karang, lahan, lapisan ozon), pencemaran lingkungan hidup (udara, air, laut, darat), kepunahan berbagai sumber daya alam dan lingkungan hidup (keanekaragaman hayati, mata air, sumber daya alam), kekacauan iklim global, dan masalah sosial terkait dampak lingkungan hidup. Semua itu mengancam kehidupan manusia.
Dampak dari krisis dan bencana kerusakan lingkungan hidup ini dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari- hari. Masalah pembuangan sampah sembarangan mendominasi pencemaran lingkungan hidup di negara kita. Membludaknya sampah plastik begitu memprihatinkan, bukannya menyusut dari hari ke hari melainkan semakin menggunung dan meningkat. Paus Fransiskus mengatakan bahwa masyarakat memperlakukan bumi sebagai sebuah tempat pembuangan sampah terbesar (LS 21).
Sampah menjadi masalah yang meresahkan masyarakat. Berdasarkan data dari Eko Prasetyo (2020:1), setiap tahun sampah membludak di beberapa daerah khususnya di DKI Jakarta. Selama PSBB, sampah plastik di Jakarta menjadi meningkat. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih. Pada periode 1-15 Maret 2020 sampah yang dihasilkan rata-rata 9.300 ton per hari. Namun setelah adanya seruan untuk beraktivitas di rumah pada 16 Maret - 9 April 2020 jumlah sampah mencapai sekitar 8.400 ton per hari dan
periode 10 April - 4 Juni turun menjadi 6.300 ton per hari. Terlihat dari data ini diambil kesimpulan bahwa pembuangan sampah mengalami pengurangan. Namun komposisi penggunaan plastik meningkat.
Maraknya penggunaan plastik dan kebiasaan membuang sampah sembarangan menyebabkan pula hewan yang berada di laut tercemar limbah dan mati terkapar. Seekor Paus dengan panjang 9,5 meter ditemukan mati membusuk setelah terdampar di perairan Desa Kapota, Kecamatan Wangiwangi Selatan Sulawesi Tenggara. Saleh Hanan, Yayasan Wakatobi mengatakan, sejumlah mahasiswa dari Akademi Komunitas Perikanan dan Kelautan Wakatobi sudah mengambil sampel plastik dari perut mamalia raksasa itu untuk diteliti dan menemukan banyak sampah yang telah dimakan paus seperti botol, penutup galon, sandal, botol parfum, bungkus mi instan, gelas minuman, tali rafia, karung
terpal, kantong kresek dan lain sebagainya (Kiki Andi Pati, Kompas, 2018:20).
Temuan data di atas menunjukkan bahwa keadaan lingkungan di Indonesia sangat memprihatinkan. Begitu banyak sampah plastik yang dihasilkan. Masyarakat Indonesia juga belum memiliki kebiasaan mengolah sampah dengan benar. Hal ini dikatakan oleh Awi Tristanto (2016:18) bahwa mengabaikan mengolah sampah merupakan kesalahan cara pandang manusia terhadap keadaan alam Indonesia. Cara pandang ini bersumber dari etika antroposentrisme yang memandang manusia sebagai pusat dari alam semesta dan hanya manusia yang mempunyai nilai dan berharga pada dirinya sendiri sedangkan alam dan segala isinya yang lain hanya sekadar sarana atau alat untuk memenuhi kepentingan manusia. Oleh karena itu, manusia semakin menghalalkan segala cara untuk
kepentingan pribadinya, sehingga bumi kita pun semakin menjerit oleh segala kerusakan yang kita timpakan padanya dengan tidak bertanggung jawab (LS 2).
Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya menyikapi kerusakan lingkungan alam ini khususnya pengurangan sampah plastik melalui himbauan publik yang didasarkan pada Undang-undang Nomor 18, Tahun 2008 tentang pengendalian sampah yang mengharuskan masyarakat untuk mengurangi dan mengolah sampah plastik dalam kesehariannya (Lukas Awi Tristanto, 2016:19). Upaya ini juga dapat dilakukan oleh beberapa perusahaan yang tergerak untuk mendaur ulang sampah plastik kemudian dijual kembali tidak hanya di Indonesia tetapi diekspor keluar Negeri (Pamela, ajaib.co.id, 2020).
Hadir juga produk evoware (evolution ware) yang diciptakan oleh David Christian seorang pemuda anak bangsa kelahiran Bandung yang terinspirasi untuk mengurangi sampah dengan membuat Edible Cups yakni gelas yang bisa dimakan, terbuat dari rumput laut. Produk evoware merupakan usaha produksi makanan yang ramah lingkungan (Anwar, Fahrul: 2020, Youngster.id). Harapannya agar masyarakat semakin sadar untuk mengurangi penggunaan plastik serta meningkatkan kepedulian dan cinta akan lingkungan sekitar.
Pendidikan menjadi salah satu terobosan yang dapat dijangkau masyarakat untuk memperoleh edukasi mengenai lingkungan. Paus Fransiskus mengajak agar pendidikan ekologi terjadi dalam berbagai konteks mulai dari keluarga, media komunikasi hingga katekese (LS 213). Pendidikan ekologi diharapkan tidak hanya sebatas memberikan informasi namun perlu menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik agar masyarakat peduli terhadap lingkungan (LS 211).
Dalam rangka menanggapi keprihatinan tersebut, SMA Stella Duce I Yogyakarta dapat menerapkan enam pedoman gerakan pembiasaan berwawasan PKT (Pendidikan Karakter Tarakanita) sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Enam pedoman gerakan pembiasaan tersebut adalah sebagai berikut; “pertama gerakan pantang plastik dan styrofoam. Setiap hari Jumat sekolah mengadakan hari bebas sampah. Hari bebas sampah ini diberlakukan di sekolah SMA Stella Duce I dengan tidak menyediakan kotak sampah. Gerakan ini diterapkan agar mengurangi penggunaan sampah pribadi, menanamkan kebiasaan berbelanja dengan membawa tas belanja dari rumah. Kedua galon kejujuran. Galon kejujuran ini diletakkan di setiap selasar ruang kelas. Satu (1 buah) galon untuk 2 kelas. Air yang digunakan adalah air mineral merk Aqua untuk menjaga standar yang baik. Gerakan ini untuk menanamkan kejujuran dan pembiasaan membawa botol minum sendiri.
Ketiga pengelolaan sampah/komposting, sekolah memiliki mesin pencacah daun untuk dijadikan kompos. Keempat peduli lingkungan hidup seperti penghijauan; terdapat tanaman-tanaman dalam pot di sepanjang selasar, pemeliharaan tanaman apotek hidup bekerjasama dengan kegiatan ekstrakurikuler pramuka lingkungan, bebas rokok, penghematan listrik. Kelima koin Carolus, koin 5 roti dan 2 ikan dilakukan setiap Jumat pertama. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu mereka yang terkena bencana, atau yang membutuhkan bantuan. Keenam bebas dari narkoba dan rokok. Dari pembiasaan enam pedoman gerakan PKT tersebut terdapat tiga gerakan yang terkait langsung dengan lingkungan yakni pantang plastik dan styrofoam, pengolahan sampah dan
cinta lingkungan. Sekolah memprioritaskan gerakan pantang plastik dan styrofoam menjadi gerakan bersama yang dilakukan setiap hari agar seluruh
warga sekolah semakin peduli terhadap lingkungan sekitar dengan mengurangi penggunaan plastik dan tidak menciptakan sampah pribadi yang berlebihan” (Yosef, Sigit, Yustina, et al., 2012:11-34).
Dalam Pendidikan Karakter Tarakanita di SMA Stella Duce 1 terdapat nilai-nilai Cc5 yang juga menjadi sarana untuk menyadarkan peserta didik agar peduli terhadap lingkungan alam dan sesama. Nilai-nilai Cc5 tersebut adalah compassion (celebration, competence, conviction, creativity, community) dan
KPKC (Keadilan Perdamaian Keutuhan Ciptaan). Nilai-nilai Pendidikan Karakter Tarakanita ini bersumber dari pengalaman iman pendiri Kongregasi CB akan kasih Allah yang tanpa syarat dan berbelarasa yang dialami dalam hidupnya sehingga dapat menggerakkan hatinya untuk berbelarasa terhadap sesama yang menderita. Maka dalam karya pendidikan, spritualitas Kongregasi ini dapat diwariskan kepada guru dan peserta didik melalui nilai-nilai PKT agar mereka juga mengalami kasih Allah yang tanpa syarat dan berbelarasa dalam hidupnya.
Beriman pada kasih Allah yang tanpa syarat dan berbelarasa dapat diwujudkan melalui nilai Cc5 yang diuraikan sebagai berikut; compassion dapat diwujudkan melalui sikap peduli, solider, rela berbagi dengan mereka yang lemah, miskin, menderita tanpa membeda-bedakan. Compassion menjadi daya penggerak utama untuk mewujudkan nilai-nilai c5 yakni celebration; diwujudkan melalui sikap syukur, rendah hati, tabah dan penuh harapan. Competence diwujudkan melalui sikap mandiri. Conviction diwujudkan melalui sikap tahan menanggung
segala penderitaan dengan gembira dan optimis. Creativity diwujudkan melalui sikap mampu bereksplorasi, berani menghadapi kegagalan, tekun dalam belajar. Community diwujudkan melalui sikap saling menghargai, kerja sama, tolong
menolong. KPKC diwujudkan melalui sikap adil, peduli, menghargai sesama dan alam ciptaan (Luisa, Astrid, Sudaryono, et al., 2012:16-28).
Pendidikan Agama Katolik merupakan proses pendidikan iman untuk membantu peserta didik agar semakin beriman kepada Yesus Kristus sehingga nilai-nilai kerajaan Allah semakin terwujud di tengah-tengah hidupnya. Pendidikan iman ini diperoleh peserta didik melalui Gereja, sekolah, keluarga dan kelompok jemaat lainnya (Heryatno, 2008:22). Secara spesifik dalam kurikulum 2004 Pendidikan Agama Katolik kelas XII terdapat tema-tema lingkungan yakni lingkungan yang indah dan harmonis serta perusakan dan pelestarian lingkungan hidup yang menjadi sarana pembinaan iman untuk menanamkan sekaligus membiasakan peserta didik untuk menerapkan nilai-nilai ekologis dalam lingkup keluarga, sekolah dan masyarakat sebagai bentuk perwujudan iman kepada Allah sebagai Sang Pencipta alam semesta (Komkat, 2004: 67-97).
Berdasarkan latar belakang di atas penulis memberi judul skripsi Implementasi Nilai-nilai Ekologis melalui Pendidikan Agama Katolik Kelas XII di SMA Stella Duce 1 Yogyakarta.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah dikemukakan di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana nilai-nilai ekologis diimplementasikan oleh siswi-siswi kelas XII SMA Stella Duce 1 Yogyakarta melalui Pendidikan Agama Katolik? 2. Bagaimana dampak implementasi nilai-nilai ekologis bagi siswi-siswi
kelas XII di SMA Stella Duce 1 Yogyakarta? C. Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam tulisan ini antara lain:
1. Mengetahui bagaimana nilai-nilai ekologis diimplementasikan melalui Pendidikan Agama Katolik kelas XII di SMA Stella Duce 1 Yogyakarta. 2. Mengetahui dampak nilai-nilai ekologis bagi siswi-siswi kelas XII di SMA
Stella Duce 1 Yogyakarta. D. Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dalam penulisan ini antara lain: 1. Bagi Penulis
Melalui tulisan ini, penulis menyadari pentingnya menjaga dan merawat kelestarian lingkungan alam. Maka penulis ingin menginspirasi dan menjadi penggerak perubahan bagi orang lain di sekitar untuk tidak membuang sampah sembarangan, memilah sampah dengan benar, mengurangi penggunaan plastik.
2. Bagi Sekolah
Sebagai sumbangan gagasan agar melalui Pendidikan Agama Katolik di SMA Stella Duce 1 Yogyakarta dapat meningkatkan cinta akan lingkungan. Mendorong para pemimpin unit karya, para guru dan orang tua untuk terus mengupayakan dan meningkatkan cinta lingkungan (ekologi) kepada peserta didik sehingga dapat berdampak positif dalam kehidupan sehari hari baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.
E. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskripsi analitis. Deskripsi analitis adalah suatu metode yang digunakan untuk mendeskripsikan kegiatan atau situasi lapangan yang diteliti kemudian dianalisis dan disimpulkan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Untuk validasi data, penulis menggunakan metode triangulasi sumber yakni mendapat data dari sumber yang berbeda dengan teknik yang sama (Sugiyono, 2019:397-431). F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan dalam penulisan ini sebagai berikut:
Bab I: Dalam bab ini penulis memaparkan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan Penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II: Dalam bab ini penulis menyampaikan kajian pustaka yang berisi tentang nilai-nilai ekologis meliputi pengertian nilai, macam-macam nilai, pengertian ekologi, ekologi dalam Kitab Suci, ekologi dalam Laudato Si’,
pertobatan ekologis. Pendidikan Agama Katolik meliputi pengertian pendidikan pada umumnya, tujuan pendidikan, pengertian Pendidikan Agama Katolik, tujuan Pendidikan Agama Katolik, ruang lingkup Pendidikan Agama Katolik, pendekatan Pendidikan Agama Katolik, nilai-nilai ekologis yang diharapkan didalami melalui Pendidikan Agama Katolik.
Bab III: Dalam bab ini penulis menjelaskan metode penelitian meliputi latar belakang penelitian, tujuan penelitian, jenis penelitian, desain penelitian, instrumen pengumpulan data, responden penelitian, tempat dan waktu penelitian, fokus penelitian, instrumen penelitian, teknik analisis data dan teknik keabsahan data.
Bab IV: Dalam bab ini penulis membahas mengenai laporan hasil penelitian implementasi nilai-nilai ekologis dan dampaknya bagi siswi-siswi kelas XII SMA Stella Duce 1 Yogyakarta meliputi laporan hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian, kesimpulan hasil penelitian dan keterbatasan penelitian.
Bab V: Bab ini berisi kesimpulan dan saran dari penulis sehubungan dengan “Implementasi Nilai-nilai Ekologis melalui Pendidikan Agama Katolik kelas XII di SMA Stella Duce 1 Yogyakarta”.
BAB II
NILAI-NILAI EKOLOGIS DAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
Dalam bab pendahuluan, penulis telah membahas latar belakang penulisan skripsi mengenai nilai-nilai ekologis berdasarkan realitas yang terjadi dalam kehidupan manusia khususnya melalui Pendidikan Agama Katolik kelas XII di SMA Stella Duce 1 Yogyakarta. Selain itu, penulis telah memaparkan rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.
Dalam Bab II ini, penulis akan menguraikan dan membahas secara konseptual nilai-nilai ekologis dan Pendidikan Agama Katolik. Uraian tentang nilai-nilai ekologis meliputi pengertian nilai, macam-macam nilai, pengertian ekologi, ekologi dalam Kitab Suci, ekologi dalam Laudato Si, pertobatan ekologi. Uraian tentang Pendidikan Agama Katolik meliputi pengertian pendidikan pada umumnya, tujuan pendidikan, pengertian Pendidikan Agama Katolik, tujuan Pendidikan Agama Katolik, ruang lingkup Pendidikan Agama Katolik, pendekatan Pendidikan Agama Katolik, dan point terakhir tentang nilai-nilai ekologis yang diharapkan didalami melalui Pendidikan Agama Katolik.
A. Nilai-Nilai Ekologis 1. Nilai
a. Pengertian Nilai
Nilai adalah suatu pengertian yang mengarah pada hal-hal yang berharga dan bermakna dalam kehidupan manusia. Nilai dianggap baik, layak, pantas, benar, penting, dan dikehendaki oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, hal-hal yang dianggap tidak pantas, buruk, salah dan tidak indah disebut sebagai sesuatu yang tidak bernilai (Zakky, 2020:1).
Nilai adalah hakikat suatu hal yang mempengaruhi kualitas manusia yang pantas dikejar dan diperjuangkan secara terus menerus. Untuk memperoleh kualitas hidup, manusia perlu memperjuangkan nilai dalam hidupnya. Dalam hal ini, nilai berkaitan erat dengan “kebaikan”. Hal ini dapat dipahami karena kebaikan merupakan bagian dari nilai yang perlu diperjuangkan untuk berelasi dengan sesama (Mardiatmadja, 1986:54).
Pengertian di atas menunjukkan bahwa nilai lebih merujuk pada kualitas hidup manusia. Setiap orang yang ingin hidup baik, perlu memperjuangkan dan mengusahakan nilai-nilai dalam hidupnya. Nilai-nilai tersebut perlu dikembangkan dalam kehidupan nyata sehingga berbuah bagi kesejahteraan banyak orang. Misalnya, ketika nilai kejujuran ditanamkan dalam dunia pendidikan, maka pendidik perlu mengarahkan dan membimbing peserta didik agar menghidupi kejujuran dalam hidupnya. Pendidik menjadi aktor utama dalam mendidik peserta didik agar nilai yang ditanamkan di bangku sekolah dapat terwujud di dalam hidupnya di tengah masyarakat.
b. Macam-Macam Nilai
Menilik dari manfaatnya, Paul Suparno (2015:29) mengatakan bahwa nilai yang dimiliki oleh seseorang dapat mempengaruhi tingkah laku, cara berpikir, cara bertindak, yang membentuk pribadinya lebih bermakna. Dalam hal ini, Paul Suparno (2015:35-38) menegaskan kembali pendapatnya dengan mengutip isi pusat kurikulum 2013 bahwa nilai pendidikan budaya dan karakter
bangsa sangat penting diterapkan di kalangan peserta didik di sekolah, untuk menumbuh-kembangkan nilai-nilai yang dimiliki. Tujuannya adalah untuk membentuk pribadi peserta didik menjadi lebih berkualitas.
Paul Suparno mengharapkan, supaya pendidik menjadi teladan bagi para peserta didik dalam mewujudkan nilai-nilai agar karakter mereka dapat dibentuk secara maksimal. Macam-macam nilai karakter yang perlu diperjuangkan dan diusahakan menurut pusat kurikulum 2013 sebagai berikut;
1) Nilai religius merupakan sikap dan perilaku dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran dan hidup rukun terhadap setiap pemeluk agama lain.
2) Nilai kejujuran merupakan sikap yang didasarkan pada kemampuan untuk mengekspresikan kenyataan dan keyakinan pribadi sebaik mungkin melalui perkataan dan perbuatan.
3) Nilai toleransi merupakan suatu nilai yang merujuk pada sikap dan perbuatan yang menghargai semua agama, budaya, ras, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4) Nilai disiplin merupakan tindakan seseorang yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada aturan tertentu.
5) Nilai peduli lingkungan merupakan suatu nilai yang termanefestasi dalam kepedulian untuk melestarikan lingkungan.
Dari berbagai macam nilai yang dibeberkan di atas menjadi jelas bahwa manusia mesti menjunjung tinggi nilai-nilai dalam hidupnya. Bahwasannya untuk hidup baik, manusia perlu menanamkan nilai-nilai tersebut dalam hidupnya.
Dengan berpegang pada nilai-nilai, maka akan mendorong manusia untuk berperilaku baik, benar, dan pantas. Manusia semakin berkembang menjadi pribadi yang bernilai, berharga bahkan bermakna karena mampu membedakan dan menerapkan yang bernilai dalam kehidupannya (Mardiatmadja, 1986:21). 2. Ekologi
a. Pengertian Ekologi
Menurut Otto Soemarwoto (1983:14), istilah ekologi diperkenalkan pada tahun 1869 oleh Ernest Haeckel. Ekologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu oikos berarti tempat dan logos berarti ilmu. Jadi, ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Dalam ekologi terjadi proses keseimbangan antara organisme hidup, di setiap lingkungannya yang anggota-anggotanya saling berproses dan terkoneksi satu dengan yang lain.
Ekologi merupakan ilmu yang berkaitan antara organisme dengan lingkungannya, baik lingkungan abiotik maupun biotik. Lingkungan biotik terdiri dari manusia, tumbuhan dan hewan sedangkan lingkungan abiotik seperti tanah, air, dan udara. Kedua komponen ini saling terkait satu sama lain dan harus dipertahankan agar kondisinya tetap stabil dan seimbang. Jika terjadi perubahan dari salah satu komponen ini akan mempengaruhi komponen yang lainnya. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan satu kesatuan yang utuh (Ramli & Dewi, 2009:10).
b. Ekologi Menurut Kitab Suci
Pada bagian ini dibahas beberapa teks Kitab Suci yang berkaitan dengan ekologi. Dalam Kitab Kejadian 1 dan 2 dijelaskan tentang bagaimana dunia diciptakan oleh Allah. Pada waktu itu “bumi belum berbentuk dan kosong” (Kej 1:1) dan Allah menciptakan bumi dan segala isinya. Allah melihat bahwa karya ciptaan-Nya itu “semuanya baik adanya” (Kej 1:25). Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, dan Allah melihat bahwa ciptaan-Nya ini “sungguh amat baik” (Kej 1:31). Kisah penciptaan tersebut menggambarkan kasih Allah yang begitu besar terhadap makhluk ciptaan-Nya. Manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang berakal budi memiliki peran yang istimewa dari semua ciptaan lain. Dengan demikian, manusia sebagai aktor utama perlu menjalin hubungan baik dengan Tuhan, sesama, dan alam untuk menjaga keharmonisan satu dengan yang lain.
Dalam Kej 2:15 dikatakan bahwa “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Kata “mengusahakan dan memelihara” menunjukkan kedudukan manusia yang istimewa karena diberi kepercayaan dan tanggungjawab sebagai pemelihara yang bertugas menjaga dan merawat seluruh ciptaan. Demi keutuhan ciptaan, manusia dan alam saling mempengaruhi satu sama lain dan menjalin kerjasama yang menciptakan keharmonisan di dalamnya, sehingga kedua belah pihak manusia dan alam serta seluruh makhluk ciptaan hidup dengan cara yang saling menguntungkan. Dalam hal ini, manusia sebagai penjaga dan pemelihara kebun Allah serta bertanggung jawab kepada Allah atas apa yang dipercayakan
kepadanya. Kelestarian alam ciptaan ada di bawah kuasa dan tangan manusia sebagai penjaga dan pemelihara. Dengan demikian, manusia dan alam tetap menjalin keutuhan ciptaan di dalamnya.
Namun dalam kenyataan hidup, manusia menciderai kepercayaan yang diberikan Allah kepadanya sebagai pemelihara ciptaan. Dalam hal ini, manusia merasa diri bukan lagi sebagai pemelihara tetapi bertindak sebagai penguasa ciptaan. Manusia jatuh ke dalam jurang keserakahan, ketamakan, dan kesombongan. Dengan tindakan yang demikian, manusia sendiri merusak relasi harmonis antara Tuhan, sesama, dan alam. Kerusakan relasi keutuhan ciptaan ini membuat Allah menyesal atas apa yang sudah diciptakan-Nya. “Allah menyesal telah menciptakan manusia di bumi dan akan menghapuskan manusia dari muka bumi serta alam ciptaan lainnya” (Kej 5:6-7). Inilah akibat dari keserakahan manusia yang ingin menguasai alam ciptaan secara sewenang-wenang, maka Allah bertindak memusnahkan manusia dari muka bumi.
Akibat dari keserakahan manusia, Allah menurunkan air bah untuk memusnahkan manusia dari muka bumi. Allah menurunkan air bah selama empat puluh hari empat puluh malam (Kej 7:4). Dengan peristiwa air bah, Allah berjanji untuk memulihkan manusia dengan memilih Nuh sebagai orang yang taat dan percaya kepada Allah. Allah menginginkan dan mengharapkan manusia untuk bertobat dan memulai hidup baru. Hal ini tertuang dalam Kejadian 8:21 bahwa : “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat sejak kecilnya, dan aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Ku-lakukan”. Kutipan ini menunjukkan betapa
besar kasih Allah kepada manusia. Ia menyelamatkan manusia dari dosa dengan memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat.
Karya keselamatan Allah ini, tidak hanya berhenti sampai kisah air bah melainkan terus terlaksana dalam diri Yesus Kristus. Peter C. Aman (2013:65) mengutip Kolose 1:15.20 bahwa “Yesus menjadi yang sulung dari segala yang diciptakan, di dalam Dialah, telah diciptakan segala sesuatu dan melalui Dialah, Ia memperdamaikan segala sesuatu baik di Surga maupun di bumi”. Artinya bahwa Yesus datang sebagai pepulih atas segala yang sudah dirusakkan oleh manusia. Yesus datang untuk memperdamaikan kembali hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam ciptaan. Yesus datang membawa pertobatan supaya manusia menjalin kembali keharmonisan dan keutuhan seluruh ciptaan Allah. Dengan demikian Yesus adalah puncak dan kesempurnaan seluruh kepenuhan ciptaan Allah demi kebaikan seluruh ciptaan.
c. Ekologi menurut Laudato Si
Laudato Si berarti “Terpujilah Tuhan” berasal dari Kidung Santo
Fransiskus Assisi yang memuji Allah dan seluruh ciptaan-Nya. Melalui ungkapan syukur ini, Santo Fransiskus Assisi menyuarakan agar manusia memiliki kesadaran akan hubungan persaudaraan dengan makhluk hidup lainnya. Paus Fransiskus dalam Laudato Si mengundang seluruh umat manusia yang berkehendak baik untuk membangun dialog bersama. Tujuannya adalah memberi perhatian kepada situasi dunia untuk bersama-sama mengatasi kerusakan lingkungan yang semakin mengglobal (LS 3). Artinya Paus ingin membangun
kerjasama yang solid bersama umat manusia untuk melestarikan alam sebagaimana adanya.
Hendani (2018:11) mengatakan bahwa melalui seruan Paus tersebut, umat Katolik semakin ditantang untuk sungguh mendengarkan dan berpartisipasi dalam menanggapi persoalan lingkungan bersama umat manusia sedunia. Lebih lanjut Hendani mengungkapkan kembali pendapat Berry yang menyebut usaha bersama sebagai The Great Work (Tugas besar) yakni karya bersama membangun suatu relasi yang saling mengembangkan antara manusia dan bumi. Hal ini senada dengan Paus Fransiskus yang menyerukan pertobatan ekologis global (LS 5), agar manusia menghormati, memiliki kepedulian terhadap sesama dan alam lingkungan dengan kembali memulihkan relasi yang harmonis.
Untuk membangun hubungan antara alam dan manusia diperlukan suatu edukasi yang memadai agar manusia memahami alam sebagai sesuatu yang tidak terpisah dari kehidupannya (LS 139). Paus Fransiskus dalam hal ini menegaskan bahwa pendidikan menjadi salah satu cara untuk memberi kesadaran kepada manusia agar memiliki kepekaan mengenai etika lingkungan. Maka pendidik harus mampu mengembangkan jalur-jalur pedagogis mengenai etika lingkungan sehingga dapat membantu orang bertumbuh secara efektif dalam solidaritas dan tanggungjawab dalam perawatan bumi (LS 210).
Bentuk edukasi yang perlu ditindaklanjuti menurut Paus dalam pendidikan ekologis terlaksana dalam beberapa konteks yakni sekolah, keluarga, media komunikasi, katekese dan lain-lain (LS 213). Pendidikan tidak hanya sebatas memberi informasi secara formal, tetapi harus sampai pada menumbuhkan
kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui tindakan kecil sehari-hari yang mendorong orang untuk menjadikannya sebagai suatu gaya hidup baru dalam pelestarian lingkungan, seperti: menghindari penggunaan sampah plastik dan kertas, pemilihan sampah, memasak secukupnya untuk makan, mematikan lampu yang tidak perlu, menanam pohon, (LS 211).
Hendani (2018:95-96) menegaskan kembali seruan Paus Fransiskus bahwa pendidikan ekologis sedikit demi sedikit mulai digaungkan dengan lebih mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baik berupa tindakan dan perubahan pola hidup. Pendidikan ekologis diharapkan lebih menekankan pentingnya pendidikan sejak awal.
Untuk melaksanakan pendidikan ekologi sejak awal, disadari pentingnya pendidikan keluarga untuk menumbuhkembangkan kebiasaan awal dalam mencintai dan melestarikan lingkungan hidup. Keluarga adalah tempat pembinaan integral untuk mematangkan, mendewasakan pribadi, dalam berbagai aspek kehidupannya. Aspek-aspek itu ditanamkan melalui pembiasaan nilai-nilai etika dan moral yang baik secara sederhana seperti: membiasakan anak meminta izin apabila bepergian, atau tidak mengambil barang yang bukan haknya, mengucapkan terima kasih atas apa yang diterima, meminta maaf jika melakukan kesalahan (LS 213). Proses pembiasaan karakter seperti ini dalam keluarga, menjadi jaminan bahwa anak akan semakin berkembang menuju hidup yang berkualitas. Maka keluarga perlu menjadi dasar pijakan penanaman nilai-nilai hidup. Keluarga perlu menjadi seminari kecil sebelum anak mengenal dunia luar.
Hal di atas dimengerti bahwa kebiasaan baik yang ditanamkan dalam lingkup keluarga menjadi motivasi untuk membangun kepribadian secara utuh sejak dini. Dengan cara ini maka perkembangan anak menjadi baik yakni menghargai, menghormati, dan membangun kesadaran diri sebagai manusia ekologis yang penuh kasih.
d. Pertobatan Ekologis
Kerusakan alam dewasa ini tak dapat kita pungkiri. Manusia seringkali tidak menyadari bahwa segala bentuk tindakan yang merusak alam adalah perbuatan dosa. Oleh karena itu manusia cenderung merusak alam dengan semena-mena dan dampaknya juga terasa di mana-mana termasuk manusia pun menderita. Maka untuk memulihkan kembali kerusakan alam yang terjadi, manusia perlu menyadari akan kesalahan yang dilakukan terhadap alam ciptaan. Di sini manusia dipanggil secara individu untuk bertobat. Sikap tobat yang dimaksud adalah tobat ekologis. Melalui pertobatan ekologis setiap pribadi disadarkan untuk kembali menumbuhkan dan memulihkan alam yang telah rusak. Maka, gerakan pertobatan ekologis perlu menjadi gerakan bersama untuk memperbaiki relasi antara manusia dengan Allah pencipta-Nya, manusia dengan alam dan manusia dengan manusia (LS 8).
Hendani menegaskan kembali pendapat Berry (2018:97) bahwa pertobatan ekologis merupakan suatu penyesalan diri akibat kekeliruan dalam memperlakukan ciptaan dengan semena-mena. Pertobatan membawa perubahan bagi pola hidup manusia. Manusia yang seringkali memandang dirinya sebagai pusat dari segala ciptaan, perlu menyadari bahwa ciptaan lain perlu jaga
kelestariannya. Karena keduanya adalah sama-sama ciptaan Tuhan yang saling membutuhkan satu dengan yang lain. Pulihnya hubungan manusia dengan alam ciptaan juga membawa perubahan bagi relasi manusia dengan sesama dan manusia dengan Tuhan. Manusia membiarkan dirinya berjumpa dengan Tuhan sehingga membawa perubahan pola hidup bagi manusia dalam hubungan dengan dunia sekitar (LS 217). Manusia menjadi bertobat karena sadar bahwa dirinya adalah makhluk ekologis yang dipanggil untuk mengambil bagian dalam karya Allah dengan menjaga keutuhan ciptaan-Nya (Lukas Awi Tristanto, 2016:28). B. Pendidikan Agama Katolik
1. Pendidikan pada umumnya
a. Pengertian Pendidikan pada Umumnya
Pendidikan merupakan proses untuk mengembangkan berbagai macam potensi yang ada dalam diri manusia seperti kemampuan akademis, relasional, bakat-bakat dan talenta. Menurut Paul Suparno (2015:32), pendidikan merupakan suatu usaha membantu siswa untuk memiliki karakter agar semakin berkembang dan maju. Selanjutnya dikatakan bahwa proses pendidikan perlu menggunakan banyak metode dan pendekatan karakter sehingga peserta didik semakin berkembang dan semakin baik.
Driyarkara dalam Mardiatmadja (1986:52) mengatakan bahwa pendidikan sebagai pemanusiaan manusia muda. Pendidikan harus membantu agar seseorang secara tahu dan mau bertindak sebagai manusia yang semakin manusiawi untuk mengubah kepribadiannya dari yang tidak baik menjadi baik.
Menurut Sastrapratedja (2001:11), pendidikan merupakan proses untuk membangun dalam diri peserta didik power to (kekuatan untuk melakukan), power with (kekuatan bersama), power within (kekuatan dari dalam).
Membangun power within menjadi sangat penting karena merupakan kekuatan spiritual yang memberdayakan manusia untuk semakin manusiawi.
Berdasarkan pengertian di atas pendidikan merupakan proses untuk mengembangkan kemampuan intelektual serta membina kepribadian manusia secara jasmani dan rohani. Dengan demikian manusia semakin berkembang menjadi manusia yang semakin manusiawi karena dapat menggunakan akal budinya dengan cerdas untuk mengembangkan sikap dan tindakannya dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
b. Tujuan Pendidikan
Mardiatmadja (1986:52) menyampaikan pendapat Driyarkara bahwa tujuan dari pendidikan adalah mengembangkan potensi dan mencerdaskan setiap individu dengan lebih baik. Maka tujuan pendidikan harus membantu peserta didik untuk semakin berkembang secara manusiawi. Dengan demikian peserta didik akan mampu hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Selanjutnya, Mardiatmadja (1986:51) menegaskan kembali pendapat Driyarkara dengan mengutip GHBN 1983 bahwa tujuan pendidikan meliputi empat bidang yang harus diusahakan dan dikembangkan yakni pengembangan kepribadian, pengembangan warga negara, pengembangan kebudayaan, dan pengembangan bangsa. Maka dalam hal ini, perlu diusahakan segi kognitif, afektif dan konatif (psikomotorik) agar budi peserta didik lebih berkembang,
sikap hatinya semakin tumbuh seimbang, dan kehendak dalam tingkah lakunya semakin baik dan semakin manusiawi.
Menurut Luisa, Astrid, Sudaryono, et al. (2012:12), tujuan pendidikan merupakan suatu perubahan perilaku yang membentuk pribadi utuh seseorang sehingga berkembang secara harmonis. Perkembangan pribadi menyangkut kemajuan intelektual, sosial, religiositas dan segala potensi-potensi yang dimiliki termasuk perkembangan kepribadian agar semakin dewasa dalam berperilaku dan bertindak.
Selanjutnya, Sastrapratedja (2001:11,14) menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi yang ada dalam diri peserta didik yakni intelektual, afektif, moral dan artistik agar dapat berinteraksi dengan sesama dan lingkungannya secara kreatif. Namun yang lebih penting dari tujuan pendidikan ini adalah membangun power-within yaitu kekuatan spritual yang ada dalam diri peserta didik sehingga semakin manusiawi dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur manusia seperti saling menghormati, menghargai, dan saling membantu sesama. Maka, tujuan pendidikan tidak hanya mengembangkan dan mencerdaskan intelektual peserta didik melainkan juga usaha bersama memperkembangkan nilai-nilai luhur dalam diri peserta didik agar menjadi dasar untuk diterapkan dalam kehidupannya.
2. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah a. Pengertian Pendidikan Agama Katolik
Pendidikan Agama Katolik merupakan suatu usaha yang dilakukan secara terencana dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik untuk
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai ajaran iman Katolik. Usaha ini dilakukan dengan tetap memperhatikan penghormatan terhadap agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama (Komkat, 2017:9-10).
Menurut Heryatno (2008:22), Pendidikan Agama Katolik merupakan proses pendidikan iman untuk membantu peserta didik agar semakin beriman kepada Yesus Kristus sehingga nilai-nilai kerajaan Allah semakin terwujud di tengah-tengah hidupnya. Pendidikan iman ini diperoleh peserta didik melalui Gereja, sekolah, keluarga dan kelompok jemaat lainnya.
Heryatno menegaskan kembali pendapat Mangunwijaya (2008:15) bahwa hakikat dasar Pendidikan Agama Katolik, bukan pengajaran agama melainkan komunikasi pengalaman beriman. Agama berkaitan dengan ritus, kebiasaan, dan lambang-lambang lahiriah sebagai jalan manusia menuju kesatuannya dengan Tuhan. Sedangkan iman berkaitan dengan kemendalaman hati yang membuat orang beramal, berbelas kasih, merasa rindu dan ingin dekat pada Tuhan.
Pendidikan Agama Katolik merupakan komunikasi iman. Sebagai komunikasi iman PAK perlu menekankan hal-hal bersifat praktis atau tindakan bukan teoritis. Karena komunikasi iman itu dimulai dari pengalaman penghayatan iman kita sehari-hari yang kemudian direfleksikan menuju pada penghayatan iman yang baru. Maka dengan komunikasi iman, kita saling memperkaya dan memperkembangkan satu dengan yang lain.
Pendidikan Agama Katolik tidak hanya berhenti pada pengajaran agama tetapi sampai pada proses pendewasaan iman, peneguhan pengharapan dan perwujudan cinta kasih. Komunikasi iman ini akan terjadi, apabila suasana
pembelajaran dapat saling menghargai, peduli dan memberi peluang bagi masing-masing pribadi untuk mengungkapkan pengalaman imannya sehingga saling meneguhkan, mengembangkan iman agar semakin mendalam demi terwujudnya kerajaan Allah di dunia (Heryatno, 2008:16).
Pendidikan Agama Katolik harus bervisi spritual. Menurut Heryatno (2008:14), “Bervisi spritual berarti Pendidikan Agama Katolik secara konsisten terus menerus memperkembangkan kedalaman hidup peserta didik, memperkembangkan jati diri atau inti hidup mereka”. Dalam Pendidikan Agama Katolik ditekankan bukan hanya pengetahuan melainkan interioritas hidup dan perkembangan jiwa peserta didik. Pendidikan agama Katolik merupakan suatu proses pendidikan yang diupayakan untuk menanamkan nilai-nilai hidup kepada peserta didik sehingga semakin mendewasakan imannya dan mampu mewujudkan iman dalam persaudaraan dan dalam kebersamaan dengan orang lain.
b. Tujuan Pendidikan Agama Katolik
Pendidikan Agama Katolik bertujuan untuk membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan membangun sikap hidup yang semakin beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka pendekatan kateketis atau proses komunikasi iman sangat diperlukan dalam Pendidikan Agama Katolik. Pendekatan kateketis meliputi kemampuan untuk memahami, menginternalisasi, dan menghayati iman yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari (Komkat, 2017:10).
Heryatno (2008:25) mengatakan bahwa tujuan utama Pendidikan Agama Katolik adalah demi terwujudnya kerajaan Allah. Terwujudnya kerajaan Allah
merupakan visi dasar atau arah seluruh kegiatan pendidikan di dalam iman atau Pendidikan Agama Katolik. Terwujudnya nilai-nilai kerajaan Allah menjadi sumber acuan bagi kita untuk merumuskan arah, visi dan tujuan pendidikan di dalam iman. Maka PAK berorientasi pada terwujudnya nilai-nilai kerajaan Allah yang dijadikan sebagai sumber inspirasi untuk memberdayakan pendidik dan peserta didik di dalam proses pendidikan.
Selanjutnya, Heryatno (2008:23-24) mengatakan bahwa tujuan Pendidikan Agama Katolik bersifat holistik. Bersifat holistik artinya pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan hidup peserta didik yang mencakup segi kognitif, afeksi dan praksis. Pendidikan Agama Katolik juga bersifat konatif. Bersifat konatif artinya tujuan pendidikan di dalam iman, sudah diolah dan dipertimbangkan dengan matang sehingga diyakini kebenarannya dan mendorong semua pihak supaya semakin setia serta konsisten mewujudkannya di dalam kenyataan hidup sehari-hari.
Dengan kata lain, pendidikan holistik menyatukan segi pemahaman, kesadaran, afeksi, kehendak yang kuat dengan tindakan konkret sebagai perwujudan diri orang Kristiani yang setia menghayati imannya. Pendidikan iman yang bersifat konatif yaitu membantu peserta didik untuk memiliki kesadaran kritis yang reflektif dan mampu berpikir dewasa sehingga mendorong mereka untuk menjadi lebih peka pada sesama serta memiliki pandangan yang inklusif dan berwawasan secara luas.
c. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Katolik
Komkat (2017:10) mengungkapkan bahwa ruang lingkup Pendidikan Agama Katolik mencakup empat aspek yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Keempat aspek yang dibahas secara lebih mendalam sesuai tingkat kemampuan pemahaman peserta didik adalah:
1) Pribadi peserta didik; aspek ini membahas tentang pemahaman diri sebagai pria dan wanita yang memiliki kemampuan dan keterbatasan, kelebihan dan kekurangan dalam berelasi dengan sesama serta lingkungan sekitarnya sesuai dengan ajaran iman Katolik.
2) Yesus Kristus; aspek ini membahas tentang pribadi Yesus Kristus sebagaimana diwartakan dalam Kitab Suci agar peserta didik semakin dapat meneladani-Nya dan mampu mewartakan kerajaan Allah di tengah dunia. 3) Gereja; aspek ini membahas tentang makna Gereja yang mengajak peserta
didik dapat melibatkan diri dalam kehidupan menggereja sebagai bentuk perwujudan imannya kepada Yesus Kristus.
4) Kemasyarakatan; aspek ini membahas tentang hidup bersama dalam masyarakat yang mengajak peserta didik untuk mewujudkan imannya di tengah masyarakat.
Keterkaitan antara keempat aspek ini menunjukkan bahwa peserta didik dapat menerima diri sebagai citra Allah baik laki-laki maupun perempuan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Hal ini memampukan peserta didik, semakin beriman dan meneladan pribadi Yesus Kristus dalam hidupnya.
Dengan demikian peserta didik semakin terpanggil untuk mewujudkan imannya demi kerajaan Allah dalam hidup menggereja dan bermasyarakat.
d. Pendekatan Pendidikan Agama Katolik
Dalam Pendidikan Agama Katolik, pendekatan kateketis (proses komunikasi iman) menjadi sangat penting. Hal ini dikarenakan pendekatan kateketis menekankan proses pengetahuan yang menyentuh pengalaman hidup peserta didik yang diproses melalui refleksi dalam terang Kitab Suci, sehingga menemukan nilai-nilai baru untuk diterapkan dalam hidupnya. Maka proses ini mengandung unsur pemahaman iman, pergumulan iman dan penghayatan iman (Komkat, 2017:12).
Selanjutnya, Heryatno mengungkapkan kembali pendapat Groome (2008:61) bahwa pendekatan Shared Christian Praxis merupakan suatu pendekatan pendidikan iman yang menekankan pentingnya partisipasi aktif para peserta. Partisipasi aktif para peserta yang dimaksudkan di sini adalah peran peserta dalam mengungkapkan dan merefleksikan pengalaman hidupnya secara mendalam, serta menemukan nilai-nilai baru dalam terang Kitab Suci yang meneguhkan, sehingga dalam kehidupannya mampu mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah masyarakat.
e. Nilai-nilai Ekologis yang Diharapkan Didalami Melalui Pendidikan Agama Katolik.
Menurut Heryatno (2008:24), Pendidikan Agama Katolik tidak hanya menambah wawasan keagamaan tetapi mengasah keterampilan beragama dan mewujudkan sikap beragama. Sikap beragama yang utuh dan seimbang mencakup
hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam. Hal ini menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Katolik mencakup segi kognitif, afektif dan psikomotorik.
Pendidikan Agama Katolik berkaitan erat dengan budi pekerti yang memuat nilai-nilai moral. Penanaman nilai-nilai moral kepada peserta didik dapat membentuk sikap dan tindakannya menjadi pribadi yang peduli, menghormati, menghargai sesama dan lingkungan sekitarnya. Dalam kurikulum 2004 Pendidikan Agama Katolik kelas XII terdapat dua tema pembelajaran mengenai lingkungan hidup yang menjadi sarana pembinaan iman agar peserta didik semakin melestarikan lingkungan hidup. Tema-tema tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Lingkungan hidup yang indah dan harmonis
Tema ini mengajak peserta didik agar menyadari bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala keteraturannya untuk saling menunjang antara tanah, matahari, udara, flora, fauna dan manusia. Matahari dan udara membantu flora sebagai produsen menghasilkan energi. Selanjutnya flora dikonsumsi oleh fauna. Tahap selanjutnya manusia akan mengkonsumsi fauna dan menghasilkan kotoran yang akan digunakan sebagai humus (Komkat, 2004:67).
Dari tema di atas terlihat bahwa di antara unsur alam terdapat harmoni yang saling menunjang dan menghidupi serta ada hubungan timbal balik. Menyadari akan keharmonisan alam yang begitu indah, peserta didik diajak untuk terlibat melestarikan alam melalui sikap dan tindakannya. Misalnya menanam pohon, membuang dan mengolah sampah dengan baik, melindungi flora dan fauna. Sikap
dan tindakan peserta didik untuk melestarikan alam merupakan perwujudan iman mereka kepada Sang Pencipta.
2) Perusakan serta pelestarian lingkungan alam.
Kerusakan alam dapat mencemari tanah, air dan udara. Dampak kerusakan alam juga membuat manusia menderita. Agar bencana alam tersebut tidak terjadi, maka manusia harus berhenti mengeksploitasi lingkungan dan mulai melakukan pelestarian lingkungan hidup (Komkat, 2004:96).
Melalui tema ini peserta didik dapat mengetahui kerusakan lingkungan alam dan upaya untuk memulihkan kembali lingkungan alam. Peserta didik disadarkan bahwa untuk memulihkan kembali kerusakan lingkungan alam diperlukan suatu pertobatan ekologis. Pertobatan yang mendorong mereka untuk merubah pola hidup menjadi pribadi yang bersyukur, peduli terhadap lingkungan sebagai bentuk perwujudan iman kepada Tuhan yang menyelenggarakan alam semesta.
Pertobatan diri menjadi salah satu cara untuk mengembangkan iman. Pertobatan merupakan kekuatan dari dalam diri (power within) yang mengerakkan untuk melakukan (power to) dan bersama dengan orang lain (power with) melestarikan lingkungan alam. Dalam LS 216 Paus Fransiskus mengajak agar pertobatan personal diharapkan juga menjadi pertobatan komunal supaya membangun sikap bersama dalam melindungi alam dengan penuh syukur dan menyadari bahwa manusia dan makluk lainnya selalu berada dalam lingkaran persekutuan universal yang indah bersama dengan Sang Pencipta.
Kedua tema lingkungan di atas terdapat nilai-nilai ekologis. Nilai-nilai ekologis merupakan suatu tindakan atau pola hidup manusia dalam hubungannya
dengan lingkungan hidup yang diwujudkan melalui sikap peduli, berbagi, sederhana, tanggung jawab dan menghormati. Nilai-nilai ekologis dapat diuraikan sebagai berikut:
a) Peduli terhadap lingkungan
Peduli yang berkaitan dengan lingkungan dipahami sebagai sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Dalam LS 218 dikatakan bahwa manusia sadar akan segala yang telah dilakukannya terhadap alam, maka dengan rendah hati mengakui kesalahan, kejahatan atau kelalainnya dan bertobat dengan sepenuh hati dengan dunia. Bertobat berarti memperbaiki diri, mengadakan rekonsiliasi dengan dunia ciptaan dan Sang Pencipta alam semesta.
b) Sikap berbagi
Berbagi merupakan sikap memberi apa yang dimiliki kepada orang lain. Berbagi tidak hanya dilakukan kepada sesama manusia saja tetapi juga kepada lingkungan hidup dengan memberi perhatian dan melestarikannya.
c) Sikap hidup sederhana
Hidup sederhana merupakan sikap hidup apa adanya. Tidak berlebihan dalam makan, belanja serta menggunakan harta benda lainnya. Paus Fransiskus dalam seruannya mengajak manusia agar hidup sederhana, mengatasi budaya “membuang” tidak hanya menyangkut barang yang cepat disingkirkan menjadi sampah, melainkan termasuk membuang mereka yang dikucilkan (LS 22).
d) Tanggung jawab terhadap lingkungan alam
Tanggung jawab menunjukkan sikap dan perilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya untuk menjaga, merawat, dan melestarikan alam. Paus Fransiskus mengajak seluruh umat agar bertanggungjawab terhadap alam yang menjerit akibat kerusakan yang ditimpakan kepadanya (LS 2). Bertobat adalah salah satu jalan untuk kembali memulihkan alam ciptaan dan melestarikannya. e) Menghormati alam ciptaan
Menghormati alam merupakan sikap dan perilaku seseorang dalam menjaga dan merawat keindahan alam yang ada di dunia tanpa harus merusaknya. Dalam LS 5, Allah mempercayakan dunia kepada manusia untuk dilindungi dan memperbaikinya sebagai rumah kita bersama (LS 1).
BAB III
METODE PENELITIAN NILAI-NILAI EKOLOGIS MELALUI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
Dalam bab sebelumnya, penulis telah memaparkan penjelasan mengenai nilai-nilai ekologis melalui Pendidikan Agama Katolik. Pada bab ini, penulis akan menguraikan metode penelitian yang meliputi: latar belakang penelitian, tujuan penelitian, jenis penelitian, desain penelitian, teknik pengumpulan data, responden penelitian, tempat dan waktu penelitian, fokus penelitian, instrumen penelitian, teknik analisis data dan teknik keabsahan data.
A. Latar Belakang Penelitian
Manusia dan alam merupakan makhluk ciptaan yang saling membutuhkan. Keduanya saling berinteraksi dan menciptakan keharmonisan di dalamnya. Namun dalam kenyataan, manusia cenderung merusak alam seperti menebang pohon, membakar hutan, memproduksi dan membuang sampah secara tidak bertanggung jawab, dll. Hal ini terjadi karena manusia masih memandang dirinya sebagai pusat ciptaan dan alam semata-mata sebagai objek (Sony Keraf, 2010:79). Kerusakan alam, yang disebabkan oleh perilaku manusia ini, berdampak pada keutuhan kehidupan manusia dan ciptaan lainnya. Oleh karena itu, untuk memulihkan kembali keutuhan ciptaan, diperlukan pendekatan-pendekatan yang dapat membantu manusia agar menjadi sadar dan peduli pada lingkungan hidup. Pendidikan ekologis menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk menanamkan kesadaran dan kepedulian kepada peserta didik dalam memelihara dan melestarikan lingkungan sekitar (Esti Sumarah, 2019:32).