vii
PENGARUH KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA KELAS VI DALAM MENGIKUTI PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SD SANG TIMUR, SD JOANNES BOSCO, DAN SD PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA
Judul skripsi ini dipilih berdasarkan keingintahuan penulis akan sumbangan kompetensi pedagogik guru agama Katolik terhadap minat belajar siswa. Kajian ini diperlukan untuk memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di SD Sang Timur, SD Joannes Bosco dan SD Pangudi Luhur.
Kompetensi pedagogik guru pendidikan agama Katolik adalah kemampuan guru pendidikan agama Katolik yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam mengajar dan mendidik para peserta didik pada pelajaran pendidikan agama Katolik di sekolah agar menjadi pribadi yang sungguh Kristiani, dewasa dalam iman, utuh dan menyeluruh. Salah satu indikator untuk membawa peserta didik mencapai kepribadian yang utuh adalah mengetahui minat mereka pada pelajaran. Minat belajar adalah suatu perasaan lebih suka pada suatu obyek yang menarik perhatian peserta didik. Minat belajar ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, memahami peserta didik maupun pemanfaatan berbagai strategi mengajar dan media yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Berdasarkan pemikiran di atas dapat dirumuskan hipotesis penelitian yaitu, H0: Tidak ada pengaruh kompetensi pedagogik guru PAK terhadap minat belajar siswa kelas VI SD Sang Timur, SD Joannes Bosco dan SD Pangudi Luhur Yogyakarta. Ha: ada pengaruh kompetensi pedagogik guru PAK terhadap minat belajar siswa kelas VI SD Sang Timur, SD Joannes Bosco dan SD Pangudi Luhur Yogyakarta.
Jenis penelitian ini adalah kuantitatif berbentuk regresi. Populasi dari penelitian ini adalah para siswa kelas VI SD Sang Timur, SD Joannes Bosco dan SD Pangudi Luhur sebanyak 85 responden. Instrumen yang digunakan adalah skala Likert yang dikembangkan dalam 20 pernyataan mengenai kompetensi pedagogik guru PAK dan 20 pernyataan mengenai minat belajar siswa. Dari hasil uji validitas pada taraf signifikansi 5%, N 85 siswa dengan nilai kritis 0,213 terdapat 40 item valid. Sedangkan dari hasil uji reliabilitas diperoleh koefisien alpha sebesar 0,892 yang berarti reliabilitas instrumen cukup tinggi.
viii
THE INFLUENCE OF THE CATHOLIC RELIGION EDUCATION TEACHER’ COMPETENCES TOWARDS GRADE 6 STUDENTS’ LEARNING INTEREST IN
PARTICIPATING IN CATHOLIC RELIGION EDUCATION IN SANG TIMUR ELEMENTARY SCHOOL, JOANNES BOSCO ELEMENTARY SCHOOL AND PANGUDI
LUHUR ELEMENTARY SCHOOL, YOGYAKARTA
This title has been selected and itwas based on the curiosity of the writer which will contribute on pedagogical competence of the Catholic religion teachers towards students learning interest it is necessary to facilitate teachers to implement the Catholic Religion Education in Sang Timur Elementary School, Joannes Bosco Elementary School and Pangudi Luhur Elementary School.
Pedagogical competence of teachers of Catholic religion education is the ability of Catholic religious education teachers which includes knowledge, attitudes and skills in teaching and educating students in Catholic religious education classes at school in order to be truly Christian, mature in faith, and have integrity. One of the indicators to bring students to achieve persons who are interest personality is knowing their interest in the subject itself. Learning interest is an integral on an object interested to the learners. Learning interest is influenced by many factors, and one of them is the ability of teachers to coordinate and manage their methods of teaching students and to use a variety of teaching strategies or methods and to umderstand modern media.
Based on the above ideas the writer made a complete research and the result of this will be formulated in a hypothesis as follow, H0: There is no influence of teachers' pedagogical competence on Catholic religion education (PAK) on grade 6 students interest’ at Sang Timur Elementary School, Joannes Bosco Elementary School and Pangudi Luhur Elementary School, Yogyakarta. Ha: there is influence of pedagogical competence of Caholic religion teachers (PAK) on grade 6 students interest’ at the Sang Timur Elementary School, Joannes Bosco Elementary School and Pangudi Luhur Elementary Yogyakarta.
This research is a quantitative form of regression. The focus of this study and research were grade 6 students from 3 elementary schools as mentioned above. From each elementary school the writer got 85 respondents. The instrument used was a Likert scale that was developed in the 20 statements about teachers' pedagogical competence on Catholic religius education (PAK) and 20 statements on students’ interest. Validity of the test results at a significance level of 5%, N 85 students with the critical value of 0.213 there were 40 valid items. While the reliability test results obtained an alpha coefficient of 0.892 which means the reliability of the instrument is quite high.
The results showed that the mean value of pedagogical competence of Catholic religious education teachers is 66.1059 and mean student interest is 62.1259. Both mean quite good. From the results of simple linear regression test with significance level of 5%, the value of r2 of 0.648 (64.8%) which means that there is a positive effect of teachers' pedagogical competence on Catholic religius education (PAK) is (X) to grade 6 students interest’ (Y). Regression equation is Y= 7.432 + 0,828X. This means that any additional value pedagogical competence of Catholic religion teachers (PAK) 1 point, then the value increases student interest 7.432 + 0.828. Significance value of 0.000 means Ha accepted and H0 is rejected.
PENGARUH KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PENDIDIKAN
AGAMA KATOLIK TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA KELAS VI
DALAM MENGIKUTIPELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
DI SD SANG TIMUR, SD JOANNES BOSCO, DAN SD PANGUDI LUHUR
YOGYAKARTA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik
Oleh:
Maria Gabriela Kale NIM: 101124040
PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN
KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
iv
PERSEMBAHAN
Dari hati yang tulus, kupersembahkan skripsi ini kepada Hati Terkudus Tuhan Yesus, Guru dan Sahabatku, Pendamping dan Penolong Utama dalam penulisan
skripsi ini.
Bunda Maria Penolong Abadi yang selalu setia membimbing, menuntun, menopang dan menguatkanku dalam penulisan skripsi ini.
Kedua orangtuaku, bapak Philipus Meze dan ibu Philomena Maja pada usia perkawinan mereka yang ke-25 tahun, 17 April 2015.
Kedua adikku, Melkior Kaju dan Kristoforus Talo atas doa dan dukungan dalam penulisan skripsi ini.
Dominikus Duli Kalang, yang dengan cinta dan perhatiannya telah membantu dan mendukung selama penulisan skripsi ini.
Kepada para dosenku yang selalu setia membimbing dan menuntun saya selama studi di Universitas Sanata Dharma. Kepada kampusku, rumah keduaku tempat
aku merajut masa depan.
Kepada Tata Mia Kalang, para sahabatku Sr. Auxilia, CIJ, Fransisca Anida Dyan Kusuma, Veronica Dwi Lestari, Bernadetha Linda K., Franciska Arindika, Florentina Hastriyani, Anselina Mabin, Maria Vinsensia, Serviana Mea, Susana
v
MOTTO
Tuhan...
jika hidupku adalah salib, dan Salib adalah lambang kemenangan,
maka aku akan menjadikan hidupku sebagai sebuah kemenangan bagi-Mu,
hanya demi kemuliaan nama-Mu.
x
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Agung atas segala rahmat dan kasih karunia-Nya yang berlimpah, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul PENGARUH KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA KELAS VI DALAM MENGIKUTI PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SD SANG TIMUR, SD JOANNES BOSCO DAN SD PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA.
Skripsi ini disusun sebagai bentuk keikutsertaan penulis sebagai calon guru PAK akan perkembangan proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di masa mendatang. Tidak dapat dipungkiri bahwa guru PAK belum maksimal terutama dalam menguasai kompetensi pedagogik yang berakibat pada menurunnya minat belajar siswa terhadap pelajaran PAK. Maka melalui penguasaan kompetensi pedagogik seperti yang penulis paparkan, diharapkan guru PAK semakin mampu meningkatkan minat belajar peserta didik terhadap pelajaran PAK, serta tujuan PAK semakin dapat didekati dan dicapai secara maksimal.
xi
1. Bapak F.X. Dapiyanta, SFK.,M.Pd selaku dosen pembimbing akademik dan sebagai dosen pembimbing skripsi atas kesabaran, ketelitian dan kesetiaannya dalam membimbing penulis selama masa penulisan skripsi ini.
2. Romo, Dr. B.A. Rukiyanto, SJ, selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dan mendampingi penulis selama masa perkuliahan.
3. Bapak L. Bambang Hendarto, M.Hum., yang telah memberi dukungan kepada penulis sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan.
4. Para dosen, petugas sekretariat dan staf perpustakaan serta seluruh karyawan IPPAK yang telah mendampingi, memberi kemudahan dan perhatian selama penulis belajar di IPPAK.
5. Kedua orangtuaku yang berbahagia, bapak Philipus Meze dan ibu Philomena Maja yang dengan segala doa, cinta kasih dan pengorbanannya mengantar penulis hingga pada jenjang pendidikan S1. Terimalah kasih dan doaku selalu.
6. Kedua adikku, Melkior Kaju dan Kristoforus Talo untuk segenap cinta dan dukungannya yang memampukan penulis untuk terus melangkah dan berkarya.
7. Dominikus Duli Kalang yang dengan penuh kesabaran, perhatian, cinta dan doa yang mendukung penulis untuk menyelesaikan penulisan karya agung ini.
xiii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL... ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xviii
DAFTAR SINGKATAN ... xx
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... ... 1
B. Rumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penulisan ... 10
D. Manfaat Penulisan ... 11
E. Metode Penulisan ... 12
xiv
BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS ... 14
A. Guru Pendidikan Agama Katolik ... 14
1. Pendidikan Agama Katolik ... 14
a. Pendidikan Agama Katolik Di Sekolah ... 14
b. Ruang Lingkup Materi PAK ... 16
c. Proses PAK Di Sekolah... 17
d. Tujuan PAK Di Sekolah ... 18
2. Guru PAK Di Sekolah ... 19
a. Guru PAK sebagai Pendidik Iman ... 21
b. Guru PAK sebagai Pewarta Iman ... 23
1)Spiritualitas Guru PAK ... 23
2) Kepribadian Guru PAK ... 26
3) Pengetahuan Guru PAK ... 27
4) Kemampuan Berkomunikasi Guru PAK ... 28
B. Kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik ... 31
1. Kompetensi Guru Secara Umum ... 31
a) Kompetensi Pedagogik Guru ... 33
b) Kompetensi Kepribadian ... 49
c) Kompetensi Profesional ... 52
d) Kompetensi Sosial ... 53
2. Kompetensi Pedagogik Guru PAK ... 55
xv
b)Kompetensi Pedagogik Guru PAK Menurut
Dokumen Gereja ... 63
C. Makna Belajar dan Minat Belajar... 72
1. Makna Belajar ... 72
2. Pengertian Minat ... 76
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar ... 78
4. Peranan Minat dalam Belajar ... 79
5. Minat Mengikuti PAK ... 80
D. Penelitian yang Relevan ... 80
E. Kerangka Pikir dan Hipotesis ... 82
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 84
A. Jenis Penelitian ... 84
B. Disain Penelitian ... 84
C. Tempat dan Waktu Penelitian ... 85
1. Tempat Penelitian ... 85
2. Waktu Penelitian ... 86
D. Populasi dan Sampel ... 86
E. Variabel Penelitian... 87
1)Identifikasi Variabel ... 87
2) Definisi Konseptual Variabel ... 88
3) Definisi Operasional Variabel ... 89
F.Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ... 89
1) Teknik Pengumpulan Data ... 89
xvi
3) Kisi-Kisi Penelitian ... . 91
4) Pengembangan Instrumen ... . 94
G. Uji Persyaratan Analisis ... 98
H. Uji Hipotesis ... 100
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 101
A. Hasil Penelitian ... 101
1. Uji Persyaratan Analisis ... 101
a. Uji Normalitas ... 102
b. Uji Linearitas... 106
c. Uji Homokedastisitas ... 118
2. Deskripsi Data ... 110
a. Kompetensi Pedagogik Guru PAK ... 110
b. Minat Belajar Siswa ... 121
B. Uji Hipotesis ... 129
C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 136
D. Refleksi Kateketis ... 143
1)Pengertian Katekese ... 143
2) Tujuan Katekese ... 143
3) Isi Katekese ... 145
4) Tugas dan Peranan Katekese ... 146
5) Aspek Kateketis dalam kompetensi Guru ... 146
6) Aspek Kateketis dalam Minat Belajar Siswa ... 150
xvii
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 153
A. Kesimpulan ... 153
B. Saran ... 156
DAFTAR PUSTAKA ... 158
LAMPIRAN ... 160
Lampiran 1 : Surat Permohonan Izin Penelitian ... (1)
Lampiran 2 : Instrumen Penelitian ... (4)
Lampiran 3 : Contoh Instrumen Penelitian ... (8)
Lampiran 4 : Hasil Analisis Variabel Kompetensi Pedagogik Guru PAK .... (12)
Lampiran 5 : Hasil Analisis Variabel Minat Belajar Siswa ... (16)
Lampiran 6 : Hasil Analisis SPSS ... (20)
Lampiran 7 : Keseluruhan Data Variabel X dan Y ... (22)
xviii
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Jumlah Responden ... 87
Tabel 2 Skor Alternatif Jawaban Variabel X dan Y ... 90
Tabel 3 Kisi-Kisi Instrumen Variabel Kompetensi Pedagogik Guru PAK ... 91
Tabel 4 Kisi-kisi instrumen Variabel Minat Belajar Siswa ... 92
Tabel 5 Reliability Statistics... 96
Tabel 6 Kriteria Kategori Variabel X... 97
Tabel 7 Kriteria Kategori Variabel Y... 98
Tabel 8 Test of Normality ... 103
Tabel 9 Anova ... 107
Tabel 10 Rangkuman Statistik Deskripsi Kompetensi Pedagogik Guru PAK .. 110
Tabel 11 Statistik Mengelola Proses Belajar-Mengajar ... 111
Tabel 12 Deskripsi Mengelola Proses Belajar-Mengajar... 112
Tabel 13 Statistik Memahami Perkembangan Peserta Didik ... 113
Tabel 14 Deskripsi Memahami Perkembangan Peserta Didik ... 114
Tabel 15 Statistik Memanfaatkan Strategi, model, media dan metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan IPTEK ... 116
Tabel 16 Deskripsi Memanfaatkan Strategi, model, media dan metode pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan IPTEK ... 117
Tabel 17 Statistik Mengevaluasi Proses Pembelajaran PAK ... 118
Tabel 18 Deskripsi Mengevaluasi Proses Pembelajaran PAK ... 119
Tabel 19 Rangkuman Statistik Minat Belajar Siswa pada PAK ... 121
Tabel 20 Statistik Rasa ingin tahu terhadap PAK ... 122
Tabel 21 Deskripsi Rasa ingin tahu terhadap PAK ... 123
Tabel 22 Statistik Senang Belajar PAK ... 125
Tabel 23 Deskripsi Senang Belajar PAK ... 126
Tabel 24 Statistik Mau belajar sesuatu yang baru dari PAK ... 127
Tabel 25 Deskripsi Mau belajar sesuatu yang baru dari PAK ... 128
xix
Tabel 27 Model Summary ... 130
Tabel 28 Anovab ... 132
Tabel 29 Coefficientsa ... 133
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG PENULISAN
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Konsep ini mengandung beberapa hal penting yaitu pertama, guru adalah tenaga pendidik yang profesional, artinya seorang guru adalah tenaga pengajar yang sungguh-sungguh menguasai bidang kerjanya yang diperoleh dengan menempuh berbagai jenjang pendidikan yang menunjang keahliannya. Kedua, tugas utama seorang guru adalah mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik lewat proses mengajarnya. Ketiga, guru merupakan salah satu komponen penentu keberhasilan dan peningkatan mutu pendidikan peserta didik melalui berbagai proses pengajaran yang dilaksanakan di sekolah, sebab guru merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan siswa sebagai subjek dan objek belajar.
penyelenggaraan pendidikan nasional selama ini cenderung menuruti garis petunjuk dari atas atau indoktrinasi. Segala sesuatu telah disiapkan dalam bentuk petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis sehingga tidak ada tempat untuk berpikir alternatif (Kompas, 10 Oktober 1998). Sejumlah tokoh pendidikan mengkritik secara tajam sistem pendidikan di Indonesia yang serba seragam, baik dalam kurikulum, ujian akhir, maupun kegiatan belajar mengajar di sekolah yang berakibat pada kurang optimalnya peran guru dalam merealisasikan kompetensi-kompetensi yang dimilikinya (Kompas, 26 Juni 1998).
Kedua, guru merupakan salah satu komponen penentu keberhasilan dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu Komarudin Hidayat berpendapat bahwa “yang
paling menentukan keberhasilan sebuah sekolah adalah kualitas guru. Guru yangmenguasai materi bidang studi, guru masuk kelas dengan antusias dan cinta, serta kreatif dalam menerapkan dan menggali metode yang cocok untuk kondisi kelasnya” (Kompas, 6 Desember 2005:7). Maka dari itu kemajuan pendidikan ada pada kualitas guru, yang kemudian akan berandil besar pada kemajuan bangsa. Sebaliknya rendahnya kualitas guru akan mengakibatkan keterpurukan mutu pendidikan dan akan menjadi bumerang besar bagi bangsa.
Selatan memiliki sistem pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang, Taiwan, India, Cina dan Malaysia. Indonesia menduduki urutan ke-12 di bawah Vietnam. (Suparno, 2002:9).
Masalah-masalah dalam dunia pendidikan timbul dari berbagai faktor. Faktor pertama adalah pemerintah. Dalam menyikapi masalah kependidikan, pemerintah telah berupaya memperbaiki mutu pendidikan yang masih rendah dengan mengeluarkan Undang-undang No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan membentuk BSNP (Badan Standarisasi Nasional Pendidikan, Kompas 6 Desember 2005:7). Namun upaya standarisasi ujian dan kelulusan secara nasional justru menimbulkan masalah karena tingkat pendidikan di tanah air amat beragam. Penetapan standarisasi ujian nasional untuk peningkatan mutu pendidikan tersebut melahirkan berbagai pandangan dan bahkan penolakan terhadap Ujian Nasional (UN) sendiri. Menurut Udin S.Winataputra, Dekan FIKIP UT, pendidikan yang serba seragam itu perlu dikaji ulang karena tidak sesuai dengan kemampuan manusia yang tidak seragam dan keadaan daerah yang tidak sama. Sementara Abdul Hadi, seorang sastrawan, berpendapat bahwa “pendidikan yang serba seragam itu tidak perlu. Pendidikan harus menghargai
keberagaman, termasuk kurikulum.” Selain itu keterbatasan kemampuan dan
wawasan pengajar serta perbedaan fasilitas pendidikan di pusat dan di daerah telah menyebabkan hasil kegiatan belajar pun berbeda (Kompas, 22 Oktober 2005:12).
Mereka banyak melupakan hal-hal yang mengembangkan rasa, kepekaan hati, imajinasi, unsur sosial: solidaritas dan keterlibatan. Bila peserta didik tidak memperoleh nilai yang tinggi dikatakan tidak akan memiliki masa depan yang cerah. Keadaan ini semakin sulit dibenahi oleh karena suasana kreatif dan bebas berpikir tidak dikondisikan di sekolah. Dari pihak siswa, tidak ada usaha bertanya, atau menantang pelajaran. Prestasi peserta didik terbatas pada memproduksi informasi yang telah didapat. Akibatnya peserta didik tidak termotivasi belajar mandiri. Proses semacam ini bukan merupakan cara untuk membantu peserta dalam mengembangkan diri, membebaskan diri dan menjadi dirinya sendiri sehingga dapat berpikir secara kritis dan kreatif.
Oleh karena itu, H.Moh.Ansyar (Kompas 3/4-1998) mengatakan bahwa “Proses belajar-mengajar di sekolah dari pendidikan dasar hingga sekolah menengah umum di Indonesia, belum menciptakan cara belajar yang bermakna. Kurikulum hanya dilihat sebagai substansi pengetahuan, tidak sebagai proses untuk mengetahui, sehingga yang dihasilkan dunia pendidikan hanya jago hafal”. Selanjutnya dikatakan: “Kurikulum kita berpusat pada deposito pengetahuan dan
mengabaikan perhatian pada upaya belajar sendiri. Proses belajar-mengajar yang berwarna indoktrinasi dan otoriter yang mengakibatkan tertanamnya sikap bahwa materi yang diajarkan dalam buku teks seolah-olah merupakan suatu kebenaran tanpa syarat. Guru di sini bukan sebagai tenaga pendidik tetapi hanya sebagai pemberi informasi.
kemaksimalan peran dan fungsi setiap komponen pendidikan yang terlibat di dalamnya. Salah satu komponen yang berpengaruh di antaranya adalah guru sebagai pengelola dan pelaksana pendidikan itu sendiri. Itu berarti bahwa guru memiliki peran dan pengaruh yang besar dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Guru dalam konteks pendidikan mempunyai peran yang besar dan strategis. Hal ini disebabkan karena guru menjadi “garda depan” yang langsung berhadapan dengan peserta didik dalam proses pelaksanaan pendidikan dalam mentransformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus mendidik pribadi-pribadi manusia dengan nilai-nilai konstruktif (Janawi, 2012:10). Untuk melaksanakan tugasnya secara baik, guru perlu menguasai berbagai kompetensi terutama kompetensi pedagogik dan kompetensi profesionalnya di samping kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian yang juga penting.
kompetensi ini merupakan jenis kompetensi yang sangat melekat pada diri seorang guru dan memiliki daya pengaruh yang sangat besar terhadap keberlangsungan proses pendidikan.
Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Berdasarkan pengelompokkan kompetensi pedagogik ini, maka seorang guru memiliki tugas yang sangat berat. Realita membuktikan bahwa dalam menjalankan tugas itu tidak semua guru dapat menjalankan tugas pengajaran dengan baik sehingga dapat meningkatkan minat dan daya serap siswa. Oleh karena itu, guru dituntut untuk aktif, kreatif, inovatif, dan tidak menunggu. Guru harus memiliki ide dan kritis dengan situasi yang ada, bergerak dinamis dan peka terhadap perkembangan zaman (Suparno, 2004:vii) Upaya meningkatkan kompetensi pedagogik guru dimaksud agar guru dapat mengetahui kompetensi dirinya sehingga kemampuan yang dimiliki dapat diterapkan dalam gaya mengajar yang mampu mempengaruhi dan mmperkembangkan siswa dalam belajar. Untuk mencapai kemahiran dan keterampilan mengajar yang profesional, maka diharapkan guru mampu menghasilkan siswayang berkualitas sehingga dapat memasuki dunia kerja yang penuh kompetensi.
yang diikutinya. Strategi, pendekatan, dan model pembelajaran yang lama perlu diubah agar proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Materi pelajaran yang dirasa sulit dan abstrak perlu dikemas dan disajikan dengan menyesuaikan pada tingkat kemampuan siswa untuk menerima pelajaran. Kita dapat melihat contoh kenyataan di dalam kelas ketika guru menjelaskan materi, siswa ribut dan asyik ngobrol dengan temannya, atau sering keluar kelas dengan alasan pergi ke toilet, dan lain sebagainya, kita dapat menarik kesimpulan bahwa materi dan metode penyajian mata pelajaran atau strategi guru tidak lagi diminati dan menarik perhatian siswa. Materi yang disajikan jauh dari pengalaman hidup harian siswa, metode penyajian klasikal yang membuat siswa tidak tertarik dan merasa jenuh.
Pada umumnya, proses pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah masih berjalan secara klasikal. Seorang guru harus menghadapi sejumlah besar siswa dalam waktu, dengan materi dan metode yang sama (Suryobroto, 1986:141). Dalam sistem klasikal tidak mudah bagi guru untuk memperhatikan perbedaan (keunikan setiap siswa) secara lebih cermat. Oleh karena itu seorang guru sebaiknya berusaha menemukan perbedaan siswanya seawal mungkin sehingga dapat menindaklanjutinya dengan cepat dan tepat, sehingga dalam proses pembelajaran siswa memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk aktif berpartisipasi karena mereka tahu bahwa guru mereka mempertimbangkan kebutuhan mereka sebagai individu. Patut disadari bahwa siswa adalah seorang pribadi yang memiliki keunikan dan kekhasan baik yang berasal dari diri sendiri maupun latar belakangnya. Peserta didik sebagai seorang individu berbeda dalam banyak hal. Sisi ini sebenarnya yang harus mendapat perhatian dari para guru. Pengakuan penghargaan terhadap perbedaan-perbedaan individual anak ini tentunya akan membawa konsekuensi lebih lanjut yaitu bahwa pendidikan harus memperhatikan perbedaan-perbedaan itu dan mengembangkan sejauh mungkin apa yang dimiliki oleh anak itu (Suryobroto, 1986:143).
pendidikan harus berpusat pada pribadi manusia. Oleh karena itu, pendidikan iman harus sungguh bersifat manusiawi dan sekaligus ilahi sehingga diharapkan dapat memperkembangkan nilai-nilai kemanusiaan, artinya memanusiakan manusia dan memperjuangkan budaya kehidupan (budaya pro life). Hal ini berarti, pendidikan sedapat mungkin memberdayakan peserta didik agar dapat mencapai kepenuhan dan kesempurnaan hidup seperti yang dikehendaki Allah sendiri (bdk. Yoh. 10:10b). Kepenuhan hidup berarti segala kerinduan terpenuhi, mereka bahagia karena dapat dengan bebas menumbuhkembangkan seluruh aspek hidupnya secara utuh dan menyeluruh. Pendidikan agama di sekolah hendaknya dilaksanakan untuk memberdayakan peserta didik agar mereka dapat memperkembangkan head (kepala: intelek, pemikiran, akal budi, kehendak, keyakinan, pengakuan iman), heart (hati: nilai estetis, perasaan, afeksi, kesadaran) dan hand (tangan yang bergerak melakukan tindakan, keterampilan, komitmen, solidaritas).Intinya adalah mendorong siswa untuk menemukan makna atas materi yang dipelajarinya (Groome, 2003:11-14). Oleh karena itu penulis merasa perlu mengkaji sejauh mana penguasaan kompetensi pedagogik itu dapat menarik minat siswa dalam mengikuti PAK yang dipaparkan dalam skripsi dengan judul:
PENGARUH KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PENDIDIKAN
AGAMA KATOLIK TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA DALAM
MENGIKUTI PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI SD
JOANNES BOSCO, SD SANG TIMUR, DAN SD PANGUDI LUHUR
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang penulisan di atas ada beberapa permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana kompetensi pedagogik guru pendidikan agama Katolik kelas VI di SD Sang Timur, SD Joannes Bosco dan SD Pangudi Luhur Yogyakarta?
2. Bagaimana minat belajar siswa kelas VI SD Sang Timur, SD Joannes Bosco dan SD Pangudi Luhur Yogyakarta pada mata pelajaran pendidikan agama Katolik?
3.Seberapa besar pengaruh kompetensi pedagogik guru pendidikan agama Katolik terhadap minat belajar siswa kelas VI dalam mengikuti pelajaran pendidikan agama Katolik di SD Sang Timur, SD Joannes Bosco dan SD Pangudi Luhur Yogyakarta?
C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah:
1. Menguraikan pengertian kompetensi pedagogik guru PAK dan minat belajar siswa kelas VI dalam mengikuti PAK di SD Sang Timur, SD Joannes Bosco dan SD Pangudi Luhur Yogyakarta.
3. Mengetahui seberapa besar pengaruh kompetensi pedagogik guru PAK terhadap minat belajar siswa kelas VI dalam mengikuti PAK di SD Sang Timur, SD Joannes Bosco dan SD Pangudi Luhur Yogyakarta.
D. MANFAAT PENULISAN
Penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat: 1. Bagi Guru Pendidikan Agama Katolik
Memberikan sumbangan gagasan dan menambah pemahaman tentang minat belajar para siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di SD Sang Timur, SD Joannes Bosco dan SD Pangudi Luhur Yogyakarta yang dipengaruhi oleh kompetensi pedagogik guru. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi sumbangan bagi guru Pendidikan Agama Katolik di SD Sang Timur, SD Joannes Bosco dan SD Pangudi Luhur Yogyakarta untuk meningkatkan kompetensi pedagogiknya, sehingga dapat menarik minat siswa dalam pembelajaran PAK.
2. Bagi Lembaga Pendidikan Agama Katolik Prodi IPPAK
3. Bagi Penulis
Membantu penulis untuk semakin memahami kompetensi pedagogik sehingga dapat mengembangkan diri untuk menjadi seorang guru yang sungguh-sungguh profesional dalam proses pembelajaran PAK.
4. Bagi Universitas Sanata Dharma
Sebagai tambahan sumber bacaan perpustakaan Universitas Sanata Dharma, sebagai acuan bagi penelitian lebih lanjut.
E. METODE PENULISAN
Dalam menulis skripsi ini penulis menggunakan metode analisis deskriptif. Metode analisis deskriptif adalah usaha penulis menganalisis buku-buku sebagai sumber bahan, dan membahasakan kembali gagasan secara deskriptif dalam bentuk tulisan. Hal yang sama penulis lakukan dalam menggali konteks pembahasan permasalahan seputar pengaruh kompetensi pedagogik guru terhadap minat belajar PAK siswa. Untuk mengetahui proses pembelajaran PAK, penulis melakukan penelitian sederhana dengan metode penelitian regresi sederhana terhadap siswa kelas VI SD Joannes Bosco, SD Sang Timur, dan SD Pangudi Luhur. Hasil penelitian akan dijadikan dasar dalam mengembangkan profesionalitas guru di sekolah.
G. SISTEMATIKA PENULISAN
SISWA DALAM MENGIKUTI PELAJARAN PAK DI SD JOANNES BOSCO, SD SANG TIMUR, DAN SD PANGUDI LUHUR YOGYAKARTA. Judul tersebut akan diuraikan dalam lima bab sebagai beikut:
Bab I adalah pendahuluan. Pada bab yang pertama ini penulis menguraikan mengenai latar belakang, rumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II penulis akan menguraikan kajian pustaka dan hipotesis tentang hal ikhwal kompetensi pedagogik yang harus dimiliki guru pada umumnya, kompetensi pedagogik guru pendidikan agama Katolik, Pendidikan Agama Katolik, dan minat belajar siswa dalam mengikuti pelajaran PAK sebagai landasan teori dalam penulisan skripsi ini.
Bab III penulis memaparkan mengenai metodologi penelitian yang mencakup jenis penelitian, desain penelitian tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel penelitian, variabel penelitian, instrumen penelitian, pengembangan instrumen, uji persyaratan analisis serta uji hipotesis.
Bab IV penulis memaparkan hasil penelitian yang mendeskripsikan hasil penelitian, uji hipotesis, pembahasan hasil penelitian, dan refleksi kateketis serta keterbatasan dalam penelitian.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
Fokus pembahasan bab kedua ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama penulis membahas mengenai kompetensi pedagogik guru PAK yang terdiri dari Guru PAK, PAK, kompetensi guru, kompetensi pedagogik, dan kompetensi pedagogik guru PAK. Sedangkan bagian kedua membahas mengenai minat siswa dalam mengikuti PAK yang terdiri dari minat belajar, dan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran PAK.
A. Guru Pendidikan Agama Katolik
1. Pendidikan Agama Katolik
a. Pendidikan Agama Katolik Di Sekolah
Berkenaan dengan pendidikan agama Katolik, negara mengaturnya dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional bahwa negara dan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Mahaesa serta berakhlak mulia, dan Gereja mewujudkannya dalam rangka pewartaan Injil. Semua itu demi membantu orangtua selaku pendidik pertama dan utama putera-puteri mereka. Muara dari semua pemikiran itu ialah peserta didik (Dapiyanta, 2008:1).
iman antara guru dan para siswa dan antar sesama siswa melalui proses pembelajaran berdasar pendekatan tertentu dengan bantuan materi, metode, dan media, yang bertitik tolak dari keadaan awal tertentu menuju tujuan tertentu dalam pembelajaran pendidikan agama Katolik. Melalui kesaksian hidup yang terjadi diharapkan baik guru maupun siswa dapat saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna. Tekanan utamanya terletak pada penghayatan iman, namun pengetahuan tidak dilupakan. Untuk itulah pembelajaran di kelas diadakan.
b. Ruang Lingkup Materi Pendidikan Agama Katolik
Ruang lingkup materi pembelajaran pendidikan agama Katolik mencakup empat aspek, yakni:
1) Pribadi peserta didik
Dalam aspek peserta didik, dibahas tentang bagaimana peserta didik memahami diri mereka sebagai makhluk ciptaan Allah, sebagai pria dan wanita yang diciptakan untuk saling mengasihi, menjaga, dan menghargai satu sama lain. Sebagai makhluk Allah yang paling mulia, manusia diciptakan berbeda dari makhluk lainnya yang ada di muka bumi ini. Meskipun demikian, pria dan wanita memiliki kemampuan dan keterbatasan, kelebihan dan kekurangan dalam dirinya sehingga peserta didik diharapkan dapat saling menghargai dalam berelasi dengan sesama, dan ikut ambil bagian dalam merawat dan melestarikan alam sekitar.
2) Yesus Kristus
3) Gereja
Dalam aspek Gereja dibahas tentang makna Gereja, bagaimana mewujudkan kehidupan menggereja dalam realitas hidup sehari-hari. Gereja hadir di dunia melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah kepala Gerejanya. Iman tidak hanya dihayati ketika sedang mengikuti perayaan ekaristi atau perayaan misa kudus, namun lebih dari itu bahwa iman yang nyata adalah ketika diwujudkan dalam pikiran, perkataan, dan tindakan dalam hidup manusia sehari-hari. Oleh karena itu iman diharapkan tidak hanya menjadi buah bibir, tetapi benar-benar menjadi dasar hidup peserta didik dan guru PAK itu sendiri.
4) Kemasyarakatan
Dalam aspek kemasyarakatan dibahas secara mendalam tentang hidup bersama dalam masyarakat sesuai dengan firman/sabda Tuhan, ajaran Yesus dan ajaran Gereja. Perintah utama Yesus adalah kasih. Kasih yang dihayati oleh orang Kristiani adalah kasih yang diwujudkan kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun, sehingga misi pewartaan Yesus yang adalah menghadirkan Kerajaan Allah di dunia sungguh-sungguh akan terwujud.
c. Proses PAK di Sekolah
hati. Dalam memproses PAK itu sendiri, guru diharapkan dapat membangun komunikasi, keakraban, dan keterlibatan aktif siswa sehingga apa yang menjadi kebutuhan dalam belajar dan minat siswa dalam PAK dapat terjawab dan terpenuhi.
Segi lain dalam proses PAK ialah bahwa pendidikan agama Katolik lebih-lebih mengembangkan perspektifnya (iman) dari pada objek kehidupannya. Ini berarti mengembangkan kemampuan refleksi dan relasi dengan Yesus yang adalah tujuan dan pusat pengalaman iman yang dialami dan dihayati oleh guru maupun peserta didik dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik di sekolah, keluarga, lingkungan bermain, maupun dalam hidup bermasyarakat.
Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru PAK harus terbuka pada aspek proses dalam PAK yang berkaitan dengan pendekatan yang bermanfaat dalam pembelajaran. Artinya guru tidak terpancang pada satu pendekatan saja, melainkan mencari dan menemukan sedemikian rupa pendekatan yang mendukung proses pembelajaran PAK. Beberapa contoh pendekatan seperti pendekatan belajar keterampilam bersikap iman, pendekatan mempertanggungjawaban iman dan sebagaimana, dapat menjadi acuan bagi guru dalam mengelola pelajaran agama Katolik (Komkat KWI, 1989, 106-119).
d. Tujuan PAK di Sekolah
pergulatan iman (internalisasi), dan memperkaya penghayatan iman dalam pelbagai bentuk serta memperkembangkan relasi dalam dialog dengan orang yang beragama lain. Dengan pengetahuan, orang dapat menghayati imannya. Sedangkan secara sempit arah pendidikan agama Katolik di Indonesia dirumuskan membantu anak menggulati hidupnya dari sudut pandang Kristen. Dengan itu ia memperkembangkan pengetahuan dan penghayatan iman dalam kehidupannya (Dapiyanta, 2008:23).
2. Guru PAK Di Sekolah
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
demikian guru agama Katolik memiliki hak dan kewajiban layaknya profesi guru pada umumnya.
Guru PAK di sekolah adalah seorang yang memiliki pekerjaan utama sebagai seorang pengajar/pendidik iman. Ia mengajar dan menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan agama Katolik. Dalam hal ini guru agama tidak hanya menyampaikan tentang pengetahuan agama saja tetapi juga menjadi saksi Kristus di lingkungan sekolah (Setyakarjana, 1997:69).
Guru PAK di sekolah adalah orang beriman kristiani yang dipanggil secara khusus dan diutus oleh Allah serta mendapat penugasan dari Gereja melalui missio canonicadari Gereja terutama ikut ambil bagian dalam karya pewartaan Gereja untuk memperkenalkan, menumbuhkan dan mengembangkan iman peserta didik di sekolah dan dalam komunitas basis, baik teritorial maupun kategorial. Dalam mengemban tugas pewartaan itu seorang guru PAK di sekolah berperan sebagai: penafsir, pewarta, pendamping, penggerak, fasilitator, dan pemberdaya yang profesional (Komkat KWI, 2005:133).
memahami isi perayaan liturgi. Tugas ketiga, mengisahkan sejarah suci dengan memperkenalkan harta kekayaan iman Gereja. Tugas keempat, mengajarkan katekismus.
Dalam menjalankan tugasnya, selain sebagai seorang tenaga pendidik, guru PAK di sekolah adalah seorang pewarta Sabda Allah. Oleh karena itu, dalam pribadi seorang guru PAK harus ada iman, pengharapan, dan cinta kasih. Iman seorang guru PAK (1997:173) dapat dipupuk melalui: (a) pembiasaan diri berkontemplasi, (b) memiliki cita rasa biblis, (c) Memiliki cita rasa liturgis, (d) memiliki cita rasa teologis. Pengharapan seorang guru PAK dihasilkan dari; (a) perjuangannya di hadapan Allah, (b) bergulat dengan diri sendiri. Cinta kasih seorang guru PAK bertujuan pada mengusahakan kemuliaan Allah dengan jalan memperkenalkan Allah yang mengutusnya. Ia mewartakan sabda Allah kepada manusia yang merupakan hasil dari; (a) refleksi atas iman guru PAK sendiri, (b) refleksi atas pengharapan guru PAK, (c) refleksi atas cinta kasih guru PAK.
Identitas dan kekhasan peran guru PAK di sekolah dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Guru PAK Sebagai Pendidik Iman
Kristus sebagai pusat dan dasar seluruh proses pembelajaran agama dan memperkenalkan Kristus kepada para peserta didik. Selain itu, guru PAK juga membimbing peserta didik menuju kepada pertobatan sejati yang berarti menjalin relasi yang mendalam dengan Kristus sendiri.
Sebagai seorang pendidik iman, maka segala upaya yang dilaksanakan dalam proses mencapai tujuan PAK haruslah bermuara pada iman, yakni mengantar orang untuk sampai kepada iman akan Allah yang telah mewahyukan diri kepada manusia. Jawaban atas wahyu ini secara konkret mesti terwujud dalam bentuk penyerahan diri manusia secara menyeluruh dan bebas kepada Allah Pewahyu: “Supaya iman ini ada, perlu uluran tangan dan bantuan rahmat Allah serta pertolongan batin Roh Kudus, yang menggerakkan dan mengarahkan hati kepada Allah, membuka mata budi serta memberikan kepada semua orang kenikmatan dalam menyetujui dan mengimani kebenaran” (DV No.5).
b.Guru PAK sebagai Pewarta Iman
Sebagai pendidik iman para peserta didik, guru PAK di sekolah memiliki tanggung jawab membina iman peserta didik di sekolah. Seorang pembina iman harus memiliki kualifikasi atau kemampuan dengan beberapa syarat mutlak yaitu: pengetahuan, pemahaman, pengalaman iman yang memadai serta kemampuan untuk mengkomunikasikan iman tersebut kepada para peserta didik atau orang-orang yang dijumpainya (Setyakarjana, 1997:69). Selain sebagai pendidik iman, aspek lain yang lebih mendasar ialah guru PAK di sekolah adalah orang beriman yang dipanggil secara khusus dan diutus Allah serta mendapat penugasan dari Gereja untuk mewartakan Injil. Karena itu, guru PAK sendiri mesti memiliki disposisi batin atau komitmen tetap sebagai seorang pewarta Injil atau saksi Kristus. Ada empat pilar penting yang menentukan efektivitas pewartaan Injil guru PAK di sekolah, yakni spiritualitas, kepribadian, pengetahuan, dan kemampuan berkomunikasi.
1) Spiritualitas Guru PAK
pewarta Injil-Nya. Panggilan ini dihayati dengan penuh kegembiraan bahkan menjadi sumber kegembiraan itu sendiri. Ia juga seorang yang rela berkorban, mencintai tugas, mau berkontemplasi dan bersaksi, memiliki daya pikat dan daya tahan, bersemangat dalam mencari dan terus mencari pengetahuan (enrichment) melalui proses pembelajaran tanpa henti agar menjadi pribadi yang berwawasan luas (Komkat KWI, 2005:152). Di satu pihak hal ini merupakan konsekuensi logis dari orientasi PAK sebagai proses pendidikan dan pembinaan sikap kristiani. Di lain pihak pendidikan iman kristiani mengisyaratkan pentingnya sikap-sikap dasar yang perlu dimiliki oleh guru PAK, yakni: setia kepada Allah dan setia kepada manusia.
Dengan setia kepada Allah, guru PAK dalam tugasnya senantiasa perlu meneladani Kristus, sang Guru Sejati dalam mengemban tugas perutusan-Nya (Yoh 5:36; 4:34; 9:4). Di samping setia kepada Allah, guru PAK harus setia juga pada panggilan, yakni ikut serta dalam karya Allah sebab sekarang pun Allah masih bekerja (Yoh 5:17). Penghayatan ini akan menumbuhkan pengharapan bahwa, daya kerja rahmat Allah akan bekerja dalam diri anak didik yang akan mempengaruhi semua aspek kehidupannya.
Komisi Kateketik KWI (2005:134-135) dengan jelas menyebut beberapa aspek spiritualitas, terutama menyangkut spiritualitas kenabian:
a). Memiliki relasi erat dengan Allah Tritunggal dan mampu menafsirkan kehendak-Nya bagi Gereja dan dunia.
c). Mencintai tugasnya sebagai panggilan khusus, memiliki kegembiraan dalam menjalankan panggilan dan perutusan.
d). Memiliki daya pikat, keteladanan dan daya juang.
e). Mau belajar terus-menerus dan terbuka terhadap perkembangan zaman yang cepat berubah.
2) Kepribadian Guru PAK
Menjadi guru PAK di sekolah adalah suatu panggilan yang istimewa dan kudus. seorang guru PAK adalah perantara untuk menyampaikan firman Tuhan kepada semua makhluk. Dengan kata lain ia harus mewartakan firman Tuhan kepada setiap peserta didik dan membimbing mereka untuk melaksanakan kehendak Allah. Kepribadian guru PAK di sekolah merupakan pilar yang menentukan kredibilitas pewartaan tersebut. Allah sendiri, melalui pewahyuan-Nya, telah menyatakan diri berpihak dan bersatu dengan manusia. Demikian juga, guru PAK dalam pewartaannya perlu juga berpihak pada manusia (peserta didik). Untuk itu, hidup dan kepribadian guru PAK di sekolah sendiri mesti konsisten dengan apa yang diwartakan. Dan sebelum, meminta peserta didik untuk melaksanakan isi pewahyuan Allah, guru PAK haruslah terlebih dahulu memberikan teladan. Oleh karena itu guru PAK di sekolah harus memiliki kepribadian yang matang dan peka sehingga peserta didik bisa dan lebih mudah menerima dan menjalankan isi pewartaannya.
sekolah, terutama menyangkut kematangan pribadi amat diperlukan. Kepribadian yang baik dan matang akan membuat pewartaan Injil lebih dipercaya, dan dengan demikian mempermudah misi Gereja yang lebih luas (Komkat KWI, 1997:43).
Selain itu guru PAK di sekolah sebagai tenaga profesional juga dituntut untuk memiliki kriteria kepribadian sebagaimana yang dimiliki oleh tenaga guru profesional pada umumnya. Oleh karena itu, guru PAK perlu dipersiapkan melalui proses pembinaan dan pendidikan secara formal. Terbentuknya kepribadian seorang guru PAK bagaimanapun akan dipengaruhi oleh seberapa intens pembinaan dan pendidikan yang dialami, terutama yang berkaitan dengan kepribadian seorang guru.
3) Pengetahuan Guru PAK
Kepentingan pelayanan dalam Gereja oleh bantuan para katekis/guru agama diketahui secara resmi semasa Konsili Vatikan II (1962-1965). Salah satu dokumen Vatikan II yang menekankan pentingnya pelayanan katekis adalah dekrit tentang tugas pastoral para uskup dalam Gereja “Christus Dominus”.
Dokumen ini menegaskan bahwa hendaklah para uskup mengusahakan, supaya para katekis/guru agama disiapkan dengan baik untuk tugas mereka, sehingga mereka mengenal ajaran Gereja dengan jelas, baik secara teoritis maupun praktis mempelajari kaidah-kaidah psikologi dan pedagogi (CD, art.14).
pengetahuan yang dimiliki diharapkan orang dapat mempertanggungjawabkan imannya. Guru PAK di sekolah bertugas membantu siswa agar memiliki pengetahuan tentang iman yang cukup. Oleh karena itu guru PAK dituntut memiliki pengetahuan yang luas (Komkat KWI, 2005:134-135). Lebih dari itu guru PAK di sekolah selayaknya belajar terus-menerus untuk menambah pengetahuan baik pengetahuan umum maupun pengetahuan keagamaan, terutama hal-hal yang aktual.
Pengetahuan yang memadai dan sikap peka perkembangan zaman (up to date) yang dimiliki akan menunjang tugas panggilannya sebagai guru PAK di sekolah. Selain bidang agama, beberapa bidang pengetahuan lain yang relevan diantaranya, ilmu-ilmu gerejawi (Kateketik, Pastoral, Teologi, Moral, Kitab Suci, Hukum Gereja, Liturgi) dan ilmu-ilmu manusia/human sciences (Sosiologi, Psikologi, Pedagogi).
4) Kemampuan Berkomunikasi Guru PAK
baik akan membawa dampak yang baik pula bagi perkembangan iman peserta didik. Karena itu guru PAK harus mampu mengumpulkan, menyatukan dan mengarahkan peserta didik sehingga sampai pada suatu tindakan nyata. Guru PAK di sekolah sendiri harus mampu mengungkapkan diri, berbicara dan mendengarkan. Kemampuan berkomunikasi berkaitan juga dengan kemampuan menciptakan suasana yang akan memudahkan peserta didik mengungkapkan diri dan mendengarkan pengalaman iman orang lain.
Selain keterampilan berkomunikasi, guru PAK di sekolah juga harus memiliki keterampilan berefleksi. Keterampilan ini dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Mengkaji dan mencermati dinamika pengalamannya untuk menemukan nilai-nilai manusiawi yang bermakna dari pengalaman/peristiwa hidup sehari-hari, (2) mampu membandingkan serta mengkonfrontasikan pengalaman hidup dengan Kitab Suci, ajaran gereja serta tradisi Kristiani serta Tradisi iman Kristiani, (3) menggumuli atau menginternalisasi nilai-nilai Kristiani tersebut sebagai suatu mentalitas/sikap dasar dalam kehidupan konkrit (Kristianto, 2004).
Keterampilan berkomunikasi juga ditekankan oleh Komisi Kateketik KWI (2005:134-135) yang menegaskan bahwa pentingnya katekis termasuk guru PAK di sekolah memilikinya. Dengan keterampilan ini, maka diharapkan guru PAK disekolah dapat menyajikan pelajaran agama menjadi menarik/menyenangkan, efektif dan membuat pelajaran agama bermakna bagi hidup siswa. Beberapa hal penting yang perlu dimiliki guru PAK di sekolah adalah sebagai berikut:
b) Keterampilan berefleksi c) Keterampilan menganalisa
d) Keterampilan menggeluti tanda-tanda zaman dalam terang Kitab Suci
e) Keterampilan menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi program katektik dan pastoral
f) Keterampilan dalam kepemimpinan dan menajemen.
Dari beberapa uraian tentang spiritualitas, kepribadian, pengetahuan, dan komunikasi, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa guru PAK di sekolah diharapkan:
a) Memiliki cinta berkobar untuk mewartakan Injil Yesus Kristus kepada semua orang.
b) Memiliki cinta berkobar kepada umat beriman, khususunya jemaat yang dilayaninya.
c) Memiliki wawasan tentang ajaran Gereja yang memadai secara sistematis, dan setia kepada Kitab Suci, ajaran dan Tradisi Gereja.
d) Memiliki keterampilan dalam menyampaikan pewartaan iman dan pendampingan jemaat.
B. Kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik
1) Kompetensi Guru secara Umum
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, menyatakan yang dimaksud dengan kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya. Konsep ini berarti dalam melaksanakan proses pembelajaran, diharapkan guru nantinya tidak hanya menghasilkan lulusan siswa yang memiliki pengetahuan sebanyak-banyaknya, tetapi juga lulusan yang memiliki serangkaian keterampilan serta berbagai sikap dan nilai penting, yang tidak hanya berguna untuk melanjutkan pendidikan tetapi juga (terutama) untuk hidup dan bekerja di masyarakat.
Lefrancois (dalam Asmani, 2009:37) mengatakan bahwa kompetensi merupakan kapasitas untuk melakukan sesuatu yang dihasilkan dari proses belajar. Selama proses belajar, stimulus akan bergabung dengan isi memori dan menyebabkan terjadinya perubahan kapasitas untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian dapat diartikan bahwa kompetensi adalah sesuatu yang berlangsung lama yang menyebabkan individu mampu melakukan kinerja tertentu.
akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Selanjutnya Majid mengungkapkan bahwa standar kompetensi guru adalah suatu ukuran yang ditetapkan atau dipersyaratkan dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan berperilaku layaknya seorang guru untuk menduduki jabatan fungsional sesuai dengan bidang tugas, kualifikasi, dan jenjang pendidikan.
Kompetensi menunjuk kepada performance dan perbuatan yang rasional untuk memenuhi spesifikasi tertentu dalam melaksanakan tugas-tugas kependidikan. Dikatakan rasional karena mempunyai arah dan tujuan. Performance merupakan perilaku nyata dalam arti tidak hanya diamati, tetapi juga meliputi perihal yang tidak tampak (Hamzah B. Uno, 2008: 61).
“Competence consists of one's possessing knowledge or expertise of a
particular subject. If a teacher is to be perceived as competent, he or she is perceived to know what he or she is talking about” (Teven & Hanson, 2004: 39). Menurut Teven & Hanson, kompetensi terdiri dari kepemilikan pengetahuan atau keahlian dari pelajaran tertentu. Jika guru dianggap berkompeten, dia dianggap mengetahui apa yang dia bicarakan.
teladan bagi siswa, mampu memberi nasehat dan petunjuk yang berguna, menguasai teknik-teknik memberikan bimbingan dan penyuluhan, mampu menyusun dan melaksanakan prosedur penilaian kemajuan belajar, dan sebagainya (Oemar Hamalik, 2008: 40).
a. Kompetensi Pedagogik Guru
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi pegagogik guru adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Mengelola pembelajaran mengandung arti bahwa guru yang memiliki kompetensi pedadogik dapat melaksanakan kegiatan belajar secara interaktif, efektif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik (Daryanto, 2009: 208).
hasil evaluasi dan penilaian untuk kepentingan pembelajaran, dan melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Secara rinci setiap sub-kompetensi dijabarkan menjadi indikator esensial, sebagai berikut:
1) Menguasai Karakteristik Peserta Didik
Menguasai karakteristik peserta didik berhubungan dengan kemampuan guru dalam memahami kondisi anak didik. Peserta didik dalam dunia pendidikan harus diposisikan subyek dalam proses pembelajaran. Diposisikan sebagai subyek berarti bahwa anak merupakan sosok individu yang membutuhkan perhatian dan sekaligus berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Setiap peserta didik memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda satu dengan yang lainnya baik dari segi minat, bakat, motivasi, dayas erap mengikuti pelajaran, tingkat perkembangan, tingkat inteligensi, dan perkembangan sosial tersendiri (Janawi, 2011: 66-67).
menjadi landasan mengapa guru harus menguasai teori-teori psikologi belajar dan psikologi pendidikan. Selain itu, dalam proses belajar mengajar, guru harus menempatkan peserta didik sebagai fokus perhatiannya sekaligus menjadi individu yang ikut berpartisipasi dalam proses pembelajaran (Janawi, 2011: 67).
2) Menguasai Teori dan Prinsip-prinsip Pembelajaran
Janawi (2011:68) menjelaskan bahwa tujuan mengajar ialah untuk mengadakan perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku anak. Dengan pengajaran, dapat membuat seorang anak menjadi orang lain, dalam hal apa yang ia lakukan dan yang dapat dicapainya. Perubahan ini biasanya disebabkan oleh orang yang berada di luar dirinya, seperti seorang guru.
Oleh karena peserta didik memiliki tahap perkembangan yang berbeda-beda, maka diharapkan guru dapat menggunakan pendekatan yang berbeda untuk setiap peserta didik. Di satu sisi guru harus memberikan perhatian kepada seluruh anak yang ada dalam proses pembelajaran di kelas, namun di sisi lain guru harus memberikan perhatian khusus kepada setiap anak sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu guru harus menguasai teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang dapat membantu guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan baik (Janawi, 69).
1) Asas Perhatian
Asas perhatian adalah asas membangkitkan perhatian peserta didik pada pelajaran yang disampaikan guru di kelas atau di luar kelas. Asas ini digunakan untuk membangkitkan minat belajar anak, karena tidak semua anak memiliki perhatian yang sama terhadap materi pelajaran yang sama. Dalam asas ini dikenal dua jenis perhatian, yakni perhatian yang dibangkitkan oleh guru disebut perhatian sengaja, dan perhatian yang timbul dari peserta didik disebut perhatian spontan.
Dasar dilakukannya perhatian terhadap peserta didik adalah dasar psikologis. Perhatian adalah suatu gejala kejiwaaan yang ada hubungannya dengan dorongan minat dan aktivitas itu sendiri. Kemudian perhatian adalah suatu keadaan, sikap untuk memusatkan kesadaran yang diarahkan pada suatu obyek tertentu yang disertai reaksi-reaksi organis yang selanjutnya dapat memungkinkan pengamatan secara tajam dan jelas terhadap obyek tersebut. Perhatian memungkinkan adanya kesan, tanggapan, pengertian, dan pendapat yang semakin tajam dan jelas (Janawi, 2011: 69-70).
2) Asas Aktivitas
berpikir sepanjang ia berbuat. Tanpa berbuat anak tidak berpikir, agar ia berpikir sendiri ia harus diberi kesempatan untuk berbuat sendiri.
Secara psikologis, segala pengetahuan harus diperoleh siswa dari pengamatan sendiri dan pengalamannya sendiri. Karena jiwa bersifat dinamis, memiliki energi sendiri dan dapat menjadi aktif yang didorong oleh kebutuhan-kebutuhan. Dalam hal ini peran guru adalah merangsang keaktifan dengan cara menyajikan bahan pelajaran, akan tetapi yang mengolah dan mencerna adalah peserta didik sendiri sesuai dengan minat, bakat dan latar belakang masing-masing. Hal ini sebabkan karena belajar adalah suatu proses di mana anak-anak harus aktif (Janawi, 2011: 70-71).
3) Asas Apersepsi
Asas apersepsi adalah asas yang digunakan guru ketika guru akan memulai proses pembelajaran. Apersepsi adalah proses pertautan gejala jiwa yang dialami sebagai proses kesadaran dengan kesan baru yang diterima. Dalam hal ini peran guru adalah menghubungkan materi yang akan diajarkan dengan pengetahuan peserta didik sebelumnnya.
4) Asas Peragaan
Asas peragaan adalah asas memperagakan. Asas ini selalu dikaitkan dengan media atau teknologi pendidikan baik dengan memanfaatkan miniatur dengan cara mendemonstrasikan gerak tangan, tubuh dan lainnya dalam proses pembelajaran. Agar peserta didik dapat mengerti dengan baik materi yang hendak disampaikan, maka materi pelajaran haruslah diperagakan sekonkrit mungkin bagi pengamatan mereka. Peragaan dapat dengan peragaan langsung maupun peragaan tak langsung. Peragaan langsung dapat ditampilkan dengan cara memperlihatkan sesuatu yang akan diperagakan, sedangkan peragaan tak langsung dengan cara menunjukkan benda-benda tiruan, misalnya gambar, film, dan lainnya. Melalui asas peragaan, pembelajaran akan berawal dari pengalaman dan pengamatan yang membutuhkan alat-alat indera (Janawi, 2011: 72).
5) Asas Ulangan
6) Asas Korelasi
Asas korelasi merupakan asas mengadakan hubungan dengan pelajaran lain. Guru dalam hal ini harus mampu menghubungkan pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lainnya. Misalnya pelajaran agama dengan pelajaran kewarganegaraan, pengetahuan sosial, dan sebagainya.
Secara psikologis, asosiasi dan apersepsi menggali kesadaran anak agar dapat membangkitkan minat belajar anak. Aplikasinya, pelajaran akan mudah diterima bila guru menghubungkan pelajaran dengan masalah-masalah pokok dalam kehidupan peserta didik sehari-hari.
7) Asas Konsentrasi
Asas konsentrasi adalah pemusatan pada pokok suatu permasalahan tertentu. Fokus tertentu mendorong munculnya perhatian pemusatan pada pokok masalah tertentu. Asas ini memiliki tiga tahap, yaitu tahap inisisasi, pengembangan, dan kulminasi. Pada tahap inisisasi, guru berusaha menstimulasi peserta didik melalui alat peraga untuk menarik perhatian peserta didik dan peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok. Tahap pengembangan, masing-masing kelompok mengumpulkan data sesuai dengan data yang ingin dikumpulkan, dan tahap kulminasi, masing-masing kelompok menyampaikan laporannya dan diberi kesempatan bagi setiap kelompok untuk menanggapinya (Janawi, 2011: 73).
8) Asas Individualisasi
mampu memberikan perhatian khusus terhadap peserta didik, karena pesera didik memiliki minat, bakat, dan irama perkembangan sendiri. Proses pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan keadaan sifat, bakat, minat, kemampuan peserta didik masing-masing.
9) Asas Sosialisasi
Asas sosialisasi adalah asas menciptakan atau menyesuaikan pada lingkungan sekitar. Sosialisasi dibutuhkan karena, selain peserta didik sebagai makhluk individu, mereka juga merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Dalam proses pembelajaran, peserta didik membutuhkan suasana hidup bersama, bekerja bersama, dan berinteraksi dengan sesamanya. Dalam hal ini, guru hendaknya membantu para siswa unutk mengembangkan sifat sosialnya melalui pembentukan kelompok sehingga suasana soail dapat tercipta.
10) Asas Evaluasi
Asas evaluasi merupakan asas pengadaan penilaian yang obyektif. Evaluasi dilakukan secara periodik dan menjadi feed back (umpan balik) dalam proses pembelajaran. Evaluasi dilakukan dengan cara yang bervariasi sesuai dengan tuntutan zaman dan evaluasi yang dibutuhkan. Evaluasi dapat berguna bagi guru, yakni sebagai dasar penilaian mengenai tingkat penguasaan peserta didik terhadap proses pembelajaran tertentu, dan juga bagi peserta didik yakni mereka dapat menilai kemampuannya sehingga dapat menilai dirinya.
oleh gurunya. Evaluasi dapat dilakukan dengan memberi tes (ujian) agar peserta didik mengetahui hasil belajarnya. Hasil penilaian perlu didokumentasikan demi kepentingan melihat sejauh mana tingkat perkembangan kemampuan anak (Janawi, 2011: 74-75).
3) Mengembangkan Kurikulum
Menurut Zamroni, salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah mempertimbangkan dua model, yaitu memperkuat hidden curriculum dan mengembangkan teknik refleksi diri (self-reflection) (Zamroni, 2000: 79). Hidden curriculum adalah proses penanaman nilai-nilai dan sifat-sifat pada diri peserta didik. Proses tersebut dilakukan melalui proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Oleh karena itu dalam hal ini guru hendaknya melakukan proses pembelajaran yang baik, menjadi panutan bagi peserta didik, dan rekan sejawat. Sedangkan self-reflection adalah suatu kegiatan untuk mengevaluasi proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan untuk memperoleh umpan balik (Janawi, 2011: 75-76).
harus mampu beradaptasi dengan dinamika perkembangan zaman, terutama tuntutan dan kebutuhan zaman (Janawi, 2011: 80).
Perubahan kurikulum selalu menimbulkan rumor di masyarakat bahwa “Ganti Menteri Pendidikan Ganti Kurikulum”. Bahkan perubahan kurikulum kadang-kadang cenderung menjadi konsumsi politis. Sebagai konsekuensinya perubahan kurikulum menuntut penyediaan anggaran yang cukup besar. Namun, bila perubahan kurikulum dilihat dari sudut pandang non-politis, pergantian kurikulum merupakan suatu hal yang biasa dan suatu kemutlakan dalam rangka merespon perkembangan masyarakat yang cepat.
4) Menyelenggarakan Pembelajaran yang Mendidik
Buber dalam Conny R. Semiawan (2002: 5) menyatakan bahwa paham psikologi kontemporer memahami belajar sebagai sebuah proses konstruktivisme. Belajar adalah mengkonstruksikan pengetahuan yang terjadi from within. Belajar dilakukan dengan proses dialog dan bercirikan pengalaman dua sisi (two sided experiences). Belajar tidak semata-mata mentransformasikan pengetahuan ke dalam kepala anak. Artinya, penekanan belajar tidak lagi pada kuantitas materi, melainkan pada upaya agar anak mampu menggunakan peralatan mentalnya (otaknya) secara efektif dan efisien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka, melainkan keterlibatan emosi dan kemampuan kreatif (Janawi, 2011: 85).
kehidupan afektif ada hubungan erat. Dalam struktur otak neuron sel otak yang menghubungkan dua kehidupan ini disebut extended amygdala. Penggunaan fungsi otak yang efektif dan efisien merupakan hasil dari proses interaktif yang dinamis dengan lingkungan. Ciri-cirinya mencakup segi fisik, mental dan emosional yang mengakibatkan integrasi yang terakselerasikan dari fungsi otak dan berakibat terhadap pemekaran kemampuan manusia secara optimal.
Secara makro (Semiawan 2002:6), pembelajaran ditinjau dari adanya analisis dua jalur dalam pendekatan sistemnya yang disebut analisis dua jalur (two road analysis). Jalur pertama (front-end: muka belakang) yaitu mencakup tiga komponen; target group analysis (siapa dan context analysis). Berkaitan dengan bagaimana upaya menyelaraskan sasaran dan relevansinya, analisis pekerjaan dapat dilakukan dari muka (front), ke belakang (end), atau sebalikya. Oleh karena itu untuk menyeimbangkan proses pembelajaran perlu dilakukan rancangan pembelajaran (instructional planning).
Faktanya menunjukkan bahwa permasalahan pendidikan dan persiapan guru menjadi pusat yang paling penting dan tantangan permasalahan yang paling serius. Muhammad Hamid (1980: 116) dalam tulisannya menyatakan bahwa “the
education and preparation of teachers’ is the central, most crucial and most challengging problem involved in the reconstruction of any educational system”.
Proses pembelajaran yang mendidik adalah proses yang selalu berorientasi pada pengembangan potensi anak. Kegiatan belajar mengajar tersebut menurut Masnur Muslich (2007: 48-50) menitikberatkan pada proses pemberdayaan potensi anak. Prinsip-prinsip yang perlu dipertahankan seperti: Pertama, kegiatan yang berpusat pada anak; kedua, belajar melalui berbuat; ketiga, mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial; dan keempat, belajar sepanjang hayat.
5) Memfasilitasi Pengembangan Potensi Peserta Didik
Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik berarti membantu pengembangan diri dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Conny R. Semiawan mengulas, bahwa manusia belajar, tumbuh dan berkembang dari pengalaman yang diperolehnya melalui kehidupan di mana ia berada (Semiawan, 2002: 10). Namun perkembangan manusia tidak dimulai dari perkembangan tabularasa, melainkan mengandung sumber daya yang memiliki kondisi sosial kultural, fisik dan biologis yang berbeda-beda, yang tidak dapat dilihat terlepas dari kondisi sosial, kultural, dan biologis dalam lingkungannya. Dengan kata lain dalam dunia persekolahan, guru dan sekolah memiliki peran penting dalam menumbuhkembangkan potensi anak.
mengantarkan anak agar tumbuh dan berkembang menuju kematangan, kemandirian, kedewasaan (Supriadi, 2005: 40).
6) Berkomunikasi Efektif, Empatik, dan Santun dengan Peserta Didik
Dalam proses pembelajaran, komunikasi dibutuhkan ketika seorang guru akan menyampaikan pesan (the body of materials) kepada anak didik. Levine dan Adelman dalam Deddy Mulyana mengartikan komunikasi sebagai “proses berbagi
makna melalui perilaku verbal dan nonverbal” (Mulyana, 2005: 3). Jalaludin Rakhmat (1991: 4-6), mengartikan komunikasi sebagai proses penyampaian energi dari alat indera ke otak. Pesan yang diberikan menjadi stimulus yang menimbulkan respon pada individu yang lain. komunikasi ditujukan untuk memberikan informasi, menghibur, atau mempengaruhi. Di samping itu, komunikasi merupakan peristiwa sosial – peristiwa yang terjadi ketika manusia berinteraksi dengan manusia yang lain.
budaya. Komunikasi juga terjadi melalui suatu proses, berdasarkan suatu tujuan, dan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu.
Menurut Bobbi de Porter dkk, ada empat prinsip komunikasi ampuh, yaitu timbulkan citra (munculkan kesan), arahkan fokus, inklusif, dan spesifik (De Porter, 2000: 117). Komunikasi dalam proses pembelajaran perlu mempertimbangkan bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk menimbulkan kesan pada anak. Ketika komunikasi telah menimbulkan kesan, maka perhatian siswa akan terfokus. Proses seperti inilah yang dimaksud dengan memindahkan energi.
Berkomunikasi efektif, empatik dan santun terhadap anak didik merupakan komunikasi yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran. Bahasa yang empatik dan santun membuat suasana pembelajaran lebih harmonis. Guru tidak diperbolehkan menggunakan bahasa yang tidak mendidik, karena guru sebagaimana diungkapkan sebelumnya adalah sosok yang digugu dan ditiru. Oleh karena itu guru harus menjadi teladan. Sebagai teladan, komuni