• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Laporan Hasil dan Pembahasan Penelitian

4. Pembahasan Hasil Penelitian Wawancara dan Kuesioner

kehidupan yang terjadi dengan klasifikasi (13,95%) dari 43 responden menyatakan menyalahkan diri dan teman, sikap dalam menghadapi kesulitan atau masalah kehidupan yang terjadi dengan klasifikasi (53,48%) dari 43 responden menyatakan tenang dan berusaha mencari jalan keluar.

4. Pembahasan Hasil Penelitian Wawancara dan Kuesioner

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka pada bagian ini penulis akan memaparkan beberapa hal pokok berkaitan dengan hasil penelitian yang telah diolah di atas berkaitan dengan penelitian yang dilaksanakan terhadap kaum muda di Asrama St. Ignasius de Loyola Dili-Timor Leste adalah sebagai berikut :

a. Pembinaan Iman yang dilaksanakan di asrama St. Ignasius de Loyola Dili Timor Leste

Pembinaan iman merupakan suatu usaha yang dilaksanakan dalam rangka mengembangkan iman seseorang. Kaitannya dengan pembinaan iman kaum muda, supaya iman mereka menjadi lebih berkembang dan lebih hidup.

Oleh karena itu berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara dan kuesioner sebagaimana sudah dilaporkan pada tabel di atas, penulis menyimpulkan mengenai pelaksanaan pembinaan iman di asrama St. Ignasius de Loyola Dili Timor Leste berkaitan denagan tujuan pembinaan iman di asrama, pada umumnya kaum mudah belum memiliki pengetahuan yang lebih luas dan pemahaman tentang pembinaan iman itu sendiri. Akan tetapi dilihat dari perwujudan dalam hidup keseharian di Asrama mereka mampu dan menyadari tugas dan tanggung jawab

 

mereka dalam mengikuti kegiatan harian dan menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik.

Tema, tujuan dan materi pembinaan iman yang diberikan di Asrama menjawab kebutuhan peserta. Masih terkesan kaku, tidak menarik dan membosankan. Hal ini karena para pendamping yang tidak profesional sehingga tidak kreatif dalam persiapan maupun penyajian.

Model, metode dan sarana yang digunakan dalam pembinaan iman pun sangat tidak menarik. Tidak ada fasilitas yang mendukung dan para pembina hadir bukan sebagai fasilitator tetapi sebagai seorang guru yang merasa diri paling tahu dan paling benar. Tidak ada dialog atau komunikasi timbal-balik, yang ada hanyalah transfer ilmu.

Manfaat yang mereka peroleh hanya sebatas mendapatkan banyak teman, menjadi lebih disiplin karena peraturan dan menjadi lebih berani sedikit untuk berkespresi walaupun hanya memimpin doa bersama.

Berkaitan dengan faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pembinaan iman di Asrama St. Ignasius de Loyola-Dili Timor Leste, responden mengungkapkan bahwa dukungan mereka peroleh dari sesama dengan adanya pesaudaraan; selain itu peraturan yang ada di asrama juga dilihat sebagai hal yang mendukung meskipun kadang peraturan menjadi sangat mengikat kebebasan mereka. Hambatan lebih banyak datang dari dalam diri mereka sendiri berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan kurang baik yang mereka bawa dari rumah atau keluarga.

Menyadari bahwa pembinaan iman selama ini terkesan kaku dan tidak menjawab kebutuhan mereka, maka peserta mempunyai harapan ke depan dalam hal

 

kegiatan pembinaan iman adalah: metode dan model pembinaan iman yang dikemas denga lebih menarik, pembina perlu menyiapkan materi yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan peserta, perlu adanya kegiatan pembinaan iman seperti rekoleksi dan retret berkala yang sungguh-sungguh direncanakan dengan matang oleh para pembina asrama.

b. Pembinaan Iman Sebagai Upaya Pembentukan Pribadi yang Utuh

Berdasarkan data yang telah diperoleh dari wawancara dan kuesioner mengenai pembinaan iman sebagai upaya pembentukan pribadi yang utuh dalam hal sikap menerima dan mengerjakan tugas yaitu antusias dan semangat untuk menyalesaikan karena kesadaran diri untuk belajar bertanggung jawab, tatapi ada juga sebagain responden karena takut dihukum. Dengan adanya kegiatan harian dan peraturan yang berlaku di Asrama membantu seorang untuk belajar hidup teratur, mengarahkan, menghargai waktu dan melatih kedisiplinan.

Hal ini dapat dilihat bahwa kaum muda sudah memiliki kesadaran dan tanggungjawab untuk memperkembangkan iman dan menjadi pribadi yang utuh akan tetapi belum sepenuhnya menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Kenyataan menunjukkan bahwa masih ada yang menyelesaikan tugas di Asrama karena takut ada aturan dan hukuman. Maka salah satu upaya pembentukan pribadi yang utuh ialah sebagai orang muda dalam menjalani hidup di tengah masyarakat baik di Asrama maupun di luar Asrama harus menjadi pribadi yang terbuka untuk menerima perubahan.

 

Oleh karena dengan mengikuti kegiatan harian di Asrama dapat membantu seseorang untuk menyelesaikan tugas yang diberikan dengan tanggungjawab, menyesuaikan diri dengan situasi dan keadaan di Asrama. Dan mau menjalani semua itu bukan karena aturan yang berlaku namun karena ada kemauan dan kesadaran untuk melakukan semua yang berlaku di Asrama demi mengembangkan diri dan belajar untuk menghargai waktu misalnya bangun tepat waktu, belajar tepat waktu dan berdoa bersama karena itu semua menjadi kekuatan untuk membangun relasi yang baik dengan Tuhan dan sesama. Selain itu membantu seorang untuk motivasi diri, disiplin, kerjasama, tanggung jawab dan semakin dewasa. Maka pembinaan diberikan meningkatkan kesadaran kaum muda untuk memperbaharui kehidupan yang dulunya di luar kurang terbiasa hidup teratur dan berdoa bersama dengan membaca Kitab Suci dan merenungkan setelah menjalani hidup di Asrama dapat mempelajari kebiasaan yang baik sehingga dapat bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang utuh secara moral, intelektual dan spiritual.

Berdasarkan data yang diperoleh sebagian dari 43 kaum muda yang tinggal di Asrama memiliki pengetahuan dan kesadaran betapa pentingnya pengampunan dan menerima kekurangan serta kelebihan orang lain karena pengampunan merupakan cara yang baik untuk memperbaiki relasi dengan Allah lewat sesama sedangkan kekurangan dan kelebihan adalah sikap yang terpuji karena semua itu merupakan anugerah yang diberikan Tuhan. Namun sebagian belum memahami akan pentingnya pengampunan dan masih egois mementingkan diri dengan sulit menerima kekurangan dan kelebihan orang lain serta dalam menghadapi persmasalahan masih cenderung pasrah pada keadaan dan kadang menyalahkan orang lain.

 

Dengan demikian bahwa setelah penelitian yang telah terlaksana diharapkan kaum muda menyadari akan tugas dan tanggungjawab serta terbuka untuk belajar dari orang lain demi meperkembangkan iman dan semakin merasa ada perubahan baru dalam diri untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu pembinaan iman sebagai upaya membantu kaum muda sehingga mereka sungguh-sungguh memahami, menemukan nilai-nilai dan memaknai dalam hidup sehari-hari serta menjadi modal dan pegangan bagi mereka.