• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga I

BAB V PEMBAHASAN PAPARAN DATA DAN TEMUAN

5.2.1 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga I

Berikut ini dijabarkan hasil temuan penelitian untuk keluarga I secara berturut- turut mulai dari pergeseran kata sapaan umum, kata sapaan adat menurut kaum, kata sapaan agama, dan kata sapaan jabatan.

5.2.1.1 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Umum

Dari data yang diperoleh (Lihat Lampiran 2) dapat dianalisis sebagai berikut. Kata sapaan umum ayah dan ibu hampir sama kecuali untuk panggilan terhadap ibunya ibu; tetapi kata panggilan ini keduanya baik inyiak maupun nenek merupakan kata sapaan dalam BMA. Sementara pada anak terjadi pergeseran kata sapaan dari 19 (sembilan belas) kata sapaan umum yang mengalami pergeseran adalah sebanyak 12 kata sapaan atau 63,16 persen. Sementara kata sapaan seperti panggilan terhadap (1) ibu dari amak menjadi mama begitu juga dengan kata sapaan terhadap (2) ayah dari abak menjadi papa mengalami pergeseran sesuai dengan teori Fishman hal ini disebabkan karena kata sapaan yang sekarang digunakan lebih prestise. Untuk kata panggilan terhadap (3) kakak dan adik perempuan ayah anak menyapa dengan mami; karena anak menggunakan kata sapaan yang sama dengan sepupu-sepupunya. Hal ini memang tak dapat dijelaskan dengan menggunakan teori Fishman. Sementara kata sapaan terhadap (4) kakak laki-laki anak menyapa dengan abang –terjadinya pergeseran ini juga berdasarkan teori Fishman yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu disebabkan karena faktor urbanisasi – berpindahnya dari tempat asalnya ke tempat yang baru mengakibatkan panggilannya pun mengalami pergeseran. Di samping itu ternyata anak dalam Keluarga I ini tidak mengetahui kata sapaan umum sebanyak 8 kata sapaan, dan hal inilah yang menjadi penyebab tingginya kata sapaan umum yang tidak diketahuinya, yaitu untuk kata sapaan terhadap (5) adik laki-laki kandung, (6) adik kandung perempuan; (7) istri, (8) suami, (9) anak kandung laki-laki,

(10) anak kandung perempuan, (11) cucu kandung laki-laki, dan (12) cucu kandung perempuan. Pergeseran kata sapaan (5) dan (6) karena yang bersangkutan tidak memilikinya, dan untuk (7), (8), (9), (10), (11), dan (12) karena sebagaimana diketahui informan belum menikah, jadi yang bersangkutan belum menggunakan kata sapaan ini.

5.2.1.2 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Adat Menurut Kaum

Dari data yang ditampilkan (Lihat Lampiran 2) ketidaktahuan anak terhadap kata sapaan adat ini (terjadi pergeseran 100 persen) semakin mempertegas teori Fishman yang digunakan dalam penelitian ini bahwa terjadinya hal itu karena peralihan antargenerasi; anak karena usianya masih muda belum mempelajari adat- istiadat daerah asalnya. Biasanya dengan pertambahan usia yang bersangkutan akan mempelajarinya juga. Tetapi untuk ayah dan ibu kata sapaan adat ini telah dipahami dan dipraktikkan dalam kehidupannya sehari-hari.

5.2.1.3 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Agama

Dari sebelas (11) kata sapaan agama yang mengalami pergeseran adalah sebanyak lima (5) atau sebesar 45,46 persen. Ini artinya bahwa anak hanya mengetahui kata sapaan agama ini lebih kurang separuhnya saja. Faktor urbanisasi menyebabkan anak tidak mengetahui kata sapaan agama dalam bahasa ibunya, disamping itu dari data yang diperoleh anak ini pun jarang pulang kampung. Ini sesuai dengan teori Fishman salah satu penyebab terjadinya pergeseran bahasa karena faktor

urbanisasi. Sementara kata sapaan agama untuk kedua orang tua anak ini tidak mengalami pergeseran atau masih sama dengan ketika mereka berada di kampungnya. Ini juga semakin memperkuat teori Fishman yang lainnya bahwa terjadinya pergeseran bahasa terjadi karena faktor antargenerasi.

5.2.1.4 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Jabatan

Pada bagian ini kalau diperhatikan anak mengikuti pola menyapa seperti ibunya, tetapi dengan menggunakan bahasa yang lebih sopan. Dan bila dianalisis lebih lanjut secara umum terjadi pergeseran untuk kata sapaan jabatan ini (mengalami pergeseran 100 persen) disesuaikan dengan kata sapaan yang berlaku di lingkungannya. Jadi dalam hal ini berlaku teori Fishman terjadinya pergeseran kata sapaan karena urbanisasi.

5.2.2 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga II 5.2.2.1 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Umum

Dari data yang diperoleh (Lihat Lampiran 2) dapat dianalisis sebagai berikut: kata sapaan umum ayah dan ibu hampir sama kecuali untuk panggilan terhadap ibu dan ayah; tetapi kata panggilan ini keduanya baik amai maupun amak; apak dan ayah merupakan kata sapaan dalam BMA. Sementara pada anak terjadi pergeseran kata sapaan sebanyak 10 (sepuluh) atau 54,63 persen dari 19 (sembilan belas) kata sapaan yang anak gunakan, yaitu pergeseran untuk kata sapaan terhadap (1) ibu dan (2) ayah kandung – anak menyapa dengan mama dan papa. Hal ini sesuai dengan teori Fishman, yaitu bergesernya kata sapaan ini karena kata sapaan yang anak gunakan

sekarang lebih prestise. Dan ternyata anak dalam Keluarga II ini tidak mengetahui kata sapaan umum atau terjadi pergeseran kata sapaan lainnya sebanyak 8 kata sapaan, dan hal inilah yang menjadi penyebab tingginya kata sapaan umum yang tidak diketahuinya, yaitu untuk kata sapaan terhadap (3) kakak laki-laki kandung, (4) adik laki-laki kandung, (5) istri, (6) suami, (7) anak kandung laki-laki, (8) anak kandung perempuan, (9) cucu kandung laki-laki, dan (10) cucu kandung perempuan. Pergeseran kata sapaan (3) dan (4) karena yang bersangkutan tidak memilikinya, dan untuk (4), (5), (6), (7), (8), (9), dan (10) karena sebagaimana diketahui informan belum menikah, jadi yang bersangkutan belum menggunakan kata sapaan ini.

5.2.2.2 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Adat Menurut Kaum

Dari data yang ditampilkan pada Lampiran 2 ketidaktahuan anak terhadap kata sapaan adat ini semakin mempertegas teori Fishman yang digunakan dalam penelitian ini bahwa terjadinya hal itu karena peralihan antar- generasi (terjadi pergeseran 100 persen); anak karena usianya masih muda belum mempelajari adat-istiadat daerah asalnya. Selain itu dari data yang diperoleh diketahui anak ini tidak pernah pulang kampung. Biasanya dengan pertambahan usia yang bersangkutan akan mempelajari adat-istiadat daerah asalnya.

5.2.2.3 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Agama

Dari sebelas (11) kata sapaan agama yang mengalami pergeseran adalah sebanyak dua (2) atau sebesar lebih kurang 19 (sembilan belas) persen. Ini artinya bahwa kata sapaan agama anak hanya berbeda untuk dua kata sapaan saja dengan

orang tuanya. Faktor urbanisasi menyebabkan anak tidak mengetahui kata sapaan agama dalam bahasa ibunya, disamping itu dari data yang diperoleh anak ini pun tidak pernah pulang kampung. Ini sesuai dengan teori Fishman salah satu penyebab terjadinya pergeseran bahasa karena faktor urbanisasi. Sementara kata sapaan agama untuk kedua orang tua anak ini tidak mengalami pergeseran atau masih sama dengan ketika mereka berada di kampungnya. Ini juga semakin memperkuat teori Fishman yang lainnya bahwa terjadinya pergeseran bahasa terjadi karena faktor antargenerasi.

5.2.2.4 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Jabatan

Dari data yang ditampilkan pada Lampiran 2 kata sapaan jabatan dalam keluarga kedua ini telah mengalami pergeseran, kecuali untuk kata sapaan kepada camat dan lurah yang digunakan oleh ayah. Jadi pergeseran kata sapaan jabatan pada anak dalam keluarga ini adalah sebesar 100 persen. Hal ini terjadi sesuai dengan teori Fishman yang dipakai dalam penelitian ini, yaitu faktor urbanisasi. Keluarga ini telah lama bermuukim di Medan dan tidak pernah pulang kampung; sehingga yang digunakan adalah kata sapaan jabatan yang berlaku di lingkungannya sekarang ini.

5.2.3 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga III 5.2.3.1 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Umum

Berdasarkan data pada Lampiran 2 dapat dianalisis sebagai berikut: kata sapaan umum yang dipakai oleh anak dalam keluarga ini hanya empat (4) dari sembilan belas (19) yang ditanyakan dan dari hasil wawancara secara tidak langsung anak dalam

keluarga ini tidak memiliki baik adik laki-laki maupun perempuan. Dan dari pihak ibunya -- ibu anak ini memanggil kakak dan adik perempuan dari pihak ibunya dengan umi. Ini artinya dari pihak ibu pun telah terjadi pergeseran kata sapaan. Sementara kata sapaan yang tidak diketahuinya adalah sebanyak 7 (tujuh) kata sapaan. Jadi terjadi pergeseran sebanyak 12 (dua belas) kata sapaan atau 63,16 persen, yaitu (1) pergeseran kata sapaan terhadap suami, anak menyapa dengan mas karena suaminya berasal dari suku Jawa.; (2) pergeseran kata sapaan terhadap adik perempuan ibu dari etek menjadi tante + nama kecil. Hal ini sesuai dengan teori Fishman bahwa kata sapaan ini lebih prestise daripada kata sapaan dalam bahasa ibunya etek.; (3) pergeseran kata sapaan ayah kandung dari abak, apa, menjadi papa. Hal ini sesuai dengan teori Fishman bahwa kata sapaan ini lebih prestise daripada kata sapaan dalam bahasa ibunya abak maupun apa; (4) pergeseran kata sapaan kakak dan adik perempuan ayah dari etek menjadi tante + nama kecil. Hal ini sesuai dengan teori Fishman bahwa kata sapaan ini lebih prestise daripada kata sapaan dalam bahasa ibunya etek; dan (5) pergeseran kata sapaan kakak laki-laki kandung dari memanggil nama ataupun uda menjadi abang + nama kecil. Hal ini sesuai dengan teori Fishman bahwa kata sapaan ini bergeser karena faktor urbanisasi. Dan 7 (tujuh) kata sapaan yang tidak diketahui informan, yaitu untuk kata sapaan (6) kakak dan adik laki-laki ibu, (7) adik laki-laki kandung, (8) adik kandung perempuan; (9) istri- karena yang bersangkutan wanita, (10) anak kandung perempuan, (11) cucu kandung laki-laki, dan (12) cucu kandung perempuan. Pergeseran kata sapaan (6), (7), dan (8), karena

yang bersangkutan tidak memilikinya, dan untuk (10), (11), dan (12) karena yang bersangkutan belum memilikinya.

5.2.3.2 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Adat Menurut Kaum

Dari data yang ditampilkan pada Lampiran 2 ketidaktahuan anak terhadap kata sapaan adat ini semakin mempertegas teori Fishman yang digunakan dalam penelitian ini bahwa terjadinya hal itu karena peralihan antargenerasi (terjadi pergeseran 100 persen); anak karena usianya masih muda belum mempelajari adat-istiadat daerah asalnya. Selain itu dari data yang diperoleh diketahui anak ini tidak pernah pulang kampung. Biasanya dengan pertambahan usia yang bersangkutan akan mempelajari adat-istiadat daerah asalnya.

5.2.3.3 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Agama

Dari 11 kata sapaan agama yang ditanyakan kepada anak dalam keluarga III ini yang mengalami pergeseran adalah sebanyak 9 kata sapaan atau 82 persen, yaitu untuk kata sapaan terhadap (1) orang yang menjaga mesjid atau surau, (2) orang yang membaca doa, (3) orang yang tahu tentang agama dalam penyelenggaraan mayat, (4) petugas agama yang mengawinkan orang, (5) orang yang mengetahui ajaran agama (ulama), (6) orang yang bertugas sebagai tukang azan (muadzin) di mesjid atau surau, (7) orang yang memimpin shalat di mesjid atau surau, (8) orang yang memberi khotbah Jum’at, dan (9) alim ulama yang telah dekat dengan masyarakat setempat yang sering memberikan pengajian agama. Dan bila diperhatikan penyebab pergeseran

ini karena pengaruh lingkungan tempat anak bermukim (faktor urbanisasi), dan dari hasil wawancara mendalam diketahui anak ini tak pernah pulang kampung .

5.2.3.4 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Jabatan

Berdasarkan data yang diperoleh ternyata anak dalam keluarga ini mengalami pergeseran kata sapaan jabatan sebesar 100 persen. Semua kata sapaan yang digunakan telah mengalami pergeseran. Hal ini disebabkan karena faktor lingkungan. Anak ini menyapa sesuai dengan lingkungan dimana tempat dia bermukim. Dari hasil wawancara yang mendalam diketahui anak ini tidak pernah pulang kampung. Jadi faktor urbanisasi penyebab utama pergeseran kata sapaan jabatan ini.

5.2.4 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga IV 5.2.4.1 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Umum

Berdasarkan data yang diperoleh (Lihat Lampiran 2) dapat dianalisis sebagai berikut: kata sapaan umum yang dipakai oleh anak dalam keluarga ini hanya delapan (8) dari sembilan belas (19) yang ditanyakan dan dari hasil wawancara secara tidak langsung anak tidak mempunyai saudara perempuan baik kakak mau pun adik; juga tak memiliki adik laki-laki. Dan dari pihak ibunya - ibu anak ini tidak memiliki kakak perempuan dan juga kakak dan adik laki-laki. Jadi dari 19 (sembilan belas) kata sapaan yang ditanyakan yang mengalami pergeseran adalah sebanyak 17 (tujuh belas) kata sapaan atau 90 persen, yaitu (1) pergeseran kata sapaan terhadap ibu kandung, anak menyapa dengan mama. Hal ini sesuai dengan teori Fishman bahwa

kata sapaan ini lebih prestise daripada kata sapaan dalam bahasa ibunya emak ataupun amak; (2) pergeseran kata sapaan terhadap adik perempuan ibu dari etek menjadi tante + nama kecil. Hal ini sesuai dengan teori Fishman bahwa kata sapaan ini lebih prestise daripada kata sapaan dalam bahasa ibunya etek.; (3) pergeseran kata sapaan ayah kandung dari abak, apa, menjadi papa. Hal ini sesuai dengan teori Fishman bahwa kata sapaan ini lebih prestise daripada kata sapaan dalam bahasa ibunya abak maupun apa; (4) pergeseran kata sapaan kakak dan adik perempuan ayah dari etek menjadi tante + nama kecil. Hal ini sesuai dengan teori Fishman bahwa kata sapaan ini lebih prestise daripada kata sapaan dalam bahasa ibunya etek; (5) pergeseran kata sapaan kakak laki-laki kandung dari memanggil nama. ataupun uda menjadi abang + nama kecil. Hal ini sesuai dengan teori Fishman bahwa kata sapaan ini bergeser karena faktor urbanisasi; (6) pergeseran kata sapaan ayah kandung ibu maupun ayah dari inyiak menjadi kakek. Hal ini terjadi sesuai dengan teori Fishman bahwa kata sapaan ini bergeser karena faktor urbanisasi. Sementara kata sapaan antan merupakan kata sapaan dalam BMA juga. Dan bila ditelusuri lebih lanjut dari data isian kuesioner diketahui keluarga ini sering berpindah tempat (melakukan urbanisasi). Begitu pun untuk data ayah dan ibu – ada hal yang menarik; baik ayah dan ibu dalam Keluarga IV ini menyapa kepada istri atau pun suami dengan mama dan papa; kepada anak laki-lakinya dengan abang; dan anak perempuannya dengan adek. Dari hasil wawancara mendalam diketahui hal itu memang secara sengaja dilakukan baik oleh ayah maupun ibu dalam keluarga ini untuk mengajarkan kepada anak-anaknya agar

menyapa dengan kata-kata yang serupa. Dan kata sapaan ini bukan kata sapaan dari daerah asalnya. Jadi sesuai dengan teori Fishman pergeseran kata sapaan dalam keluarga ini terjadi karena faktor urbanisasi. Dan ternyata anak dalam Keluarga IV ini tidak mengetahui kata sapaan umum atau terjadi pergeseran kata sapaan lainnya sebanyak 11 kata sapaan, dan hal inilah yang menjadi penyebab tingginya kata sapaan umum yang tidak diketahuinya, yaitu untuk kata sapaan terhadap (7) kakak perempuan kandung, (8) adik laki-laki kandung, (9) kakak perempuan kandung, (11) adik perempuan kandung, (12) istri karena yang bersangkutan wanita jadi tidak menggunakan kata sapaan ini, (13) suami, (14) anak kandung laki-laki, (15) anak kandung perempuan, (16) cucu kandung laki-laki, dan (17) cucu kandung perempuan. Pergeseran kata sapaan (7), (8), (9), (10), dan (11) karena yang bersangkutan tidak memilikinya, dan untuk (13), (14), (15), (16), dan (17), karena sebagaimana diketahui informan belum menikah.

5.2.4.2 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Adat Menurut Kaum

Dari data yang ditampilkan di atas ketidaktahuan anak atau terjadi pergeseran sebesar 100 persen terhadap kata sapaan adat ini semakin mempertegas teori Fishman yang digunakan dalam penelitian ini bahwa terjadinya hal itu karena peralihan antargenerasi; anak karena usianya masih muda belum mempelajari adat-istiadat daerah asalnya. Biasanya dengan pertambahan usia yang bersangkutan akan mempelajarinya juga.

5.2.4.3 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Agama

Berdasarkan data yang diperoleh (Lihat Lampiran 2) dapat dianalisis sebagai berikut anak pada dasarnya mengetahui kata sapaan yang lazim digunakan dalam kata sapaan agama dan secara kebetulan kata sapaan agama tersebut sama dengan kata sapaan agama dari tempat asalnya. Jadi ada lima (5) kata sapaan agama yang tidak diketahui anak ini dalam bahasa ibunya atau bahasa lainnya atau sebesar 45,46 persen dari sebelas (11) kata sapaan agama yang ditanyakan. Walaupun anak ini sering pulang kampung tetapi karena usianya yang masih muda belum mengetahui secara mendalam perihal kata sapaan dalam agama ini. Sementara kedua orang tua dalam keluarga ketiga ini masih mengenal kata sapaan agama dalam bahasa ibunya walaupun keluarga ini telah lama urbanisasi. Dari data yang diperoleh diketahui keluarga ini sering pulang kampung. Jadi terjadinya ketidaktahuan anak perihal beberapa kata sapaan sesuai dengan teori Fishman karena faktor urbanisasi.

5.2.4.4 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Jabatan

Dari data yang diperoleh (Lihat Lampiran 2) dapat dijelaskan sebagai berikut: kata sapaan jabatan baik pada ayah, ibu mau pun anak tidak banyak perbedaannya. Dari enam (6) kata sapaan jabatan yang mengalami pergeseran ada 2 (dua) atau 33,33 persen. Jadi untuk kata sapaan jabatan ini terjadinya pergeseran kata sapaan karena kata sapaan tersebut sama dengan kata sapaan yang ada di lingkungannya di sini. Dan bila diteliti lebih lanjut ternyata kata sapaan kedua orang tua dari keluarga ini telah mengalami pergeseran juga, sebagai contoh untuk kata sapaan jabatan nomor lima (5)

biasanya disapa dengan pak/bu doktor, tetapi bukan pak/bu dokter. Dari data kuesioner yang lainnya didapatkan informasi bahwa keluarga ini sering urbanisasi ke berbagai tempat. Jadi sesuai dengan teori Fishman faktor pergeseran kata sapaan jabatan pada keluarga ini karena faktor urbanisasi.

5.2.5 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga V 5.2.5.1 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Umum

Pergeseran kata sapaan umum anak dalam keluarga V ini terjadi sebanyak 6 dari 19 kata sapaan yang digunakannya atau terjadi pergeseran sebesar 31,58 persen, yaitu untuk kata sapaan terhadap (1) istri, (2) suami karena yang bersangkut pria, (3) anak kandung laki-laki, (4) anak kandung perempuan, (5) cucu kandung laki-laki, dan (6) cucu kandung perempuan. Pergeseran kata sapaan (1), (2), (3), (4), (5), dan (6) karena sebagaimana diketahui informan belum menikah.

5.2.5.2 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Adat Menurut Kaum

Dari data yang ditampilkan di atas pengetahuan anak terhadap kata sapaan adat ini mengalami sebesar 50 persen atau anak mengetahui 4 kata sapaan dalam adat dari 8 kata sapaan adat yang ditanyakan. Kata sapaan adat menurut kaum ini yang tidak diketahui oleh anak dalam keluarga V ini adalah untuk kata sapaan (1) terhadap menantu laki-laki, (2) bisan (orang tua ibu dan ayah) dari istri atau suami anak kandung, (3) mintuo (ibu dan ayah) kandung dari istri atau suami, dan (4) minantu (istri atau suami anak kandung). Hal ini semakin mempertegas teori Fishman yang digunakan dalam penelitian ini bahwa terjadinya hal itu karena peralihan antar

generasi; anak karena usianya masih muda belum mempelajari adat-istiadat daerah asalnya. Biasanya dengan pertambahan usia yang bersangkutan akan mempelajarinya juga. Tetapi untuk ayah dalam keluarga V ini kata sapaan adat ini telah dipahami dan dipraktikkan dalam kehidupannya sehari-hari. Ternyata ibu dalam keluarga ini memiliki pengetahuan yang sama dengan anaknya. Jadi dapat disimpulkan ketidaktahuan anak terhadap kata sapaan ini karena ibu dalam keluarga ini juga tidak mengetahui. Seperti yang telah diketahui bahwa sesungguhnya anak banyak belajar sesuatu dari ibunya, termasuk untuk bahasa ibunya.

5.2.5.3 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Agama

Dari sebelas (11) kata sapaan agama yang bergeser artinya kata sapaan tersebut tidak diketahui oleh generasi berikutnya dalam hal ini anak adalah 3 (tiga) atau sama juga 27,3 persen. Ini artinya bahwa anak mengetahui kata sapaan agama ini lebih dari separuhnya atau 72,7 persen. Hal ini disebabkan karena anak dalam keluarga V ini selama satu tahun belajar mengaji di kampung halamannya. Sementara kata sapaan agama untuk kedua orang tua ini tetap bertahan masih sama dengan ketika berada di kampungnya. Ini juga semakin memperkuat teori Fishman yang lainnya bahwa terjadinya pergeseran bahasa karena faktor antargenerasi.

5.2.5.4 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Jabatan

Pada bagian ini kalau diperhatikan anak mengikuti pola menyapa seperti ibunya. Dan bila dianalisis lebih lanjut secara umum terjadinya pergeseran kata sapaan jabatan ini disesuaikan dengan kata sapaan yang berlaku di lingkungannya. Jadi

dalam hal ini berlaku teori Fishman terjadinya pergeseran kata sapaan karena urbanisasi dan yang mengalami pergeseran adalah sebesar 83,33 persen.

5.2.6 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga VI 5.2.6.1 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Umum

Dari 19 kata sapaan yang ditanyakan kepada anak dalam Keluarga VI ini ternyata yang mengalami pergeseran ataupun tidak diketahuinya adalah sebanyak 4 kata sapaan atau 21 persen, yaitu untuk kata sapaan terhadap (1) kakak laki-laki kandung. Pergeseran kata sapaan (1) disebabkan karena faktor lingkungan; anak menyapa dengan abang terhadap kakak laki-lakikandung. Sementara 2 kata sapaan yang belum digunakannya karena yang bersangkutan belum memilikinya, yaitu untuk kata sapaan terhadap (2) cucu kandung laki-laki, dan (3) cucu kandung perempuan. Dan kata sapaan terhadap (4) istri yang bersangkutan tidak menggunakannya karena informan ini berjenis kelamin wanita.

5.2.6.2 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Adat Menurut Kaum

Anak dalam keluarga ini menggunakan kata sapaan adat menurut kaum yang berbeda dengan kedua orng tuanya sebanyak 3 (tiga) kata sapaan dari 8 (delapan) yang ditanyakan atau 37,5 persen, yaitu untuk (1) panggilan terhadap penghulu, (2) Mintuo (ibu dan ayah) kandung dari istri atau suami, dan (3) para pendatang yang menikah dengan wanita setempat. Tetapi bila diteliti lebih mendalam, ternyata baik kedua orang tua maupun anak dalam keluarga ini tidak mengalami pergeseran kata

sapaan tetapi anak dalam keluarga ini memakai varian yang berbeda. Dari hasil wawancara mendalam ternyata anak dalam keluarga ini cukup lama bermukim di kampung sekitar 20 tahun. Jadi sebenarnya tidak terjadi pergeseran kata sapaan atau 0 persen pergeseran kata sapaan adat menurut kaum dalam keluarga ini.

5.2.6.3 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Agama

Dari data yang ditampilkan untuk kata sapaan agama ini, ternyata perbendaharaan kata sapaan anak lebih lengkap dari kedua orang tuanya. Kedua orang tua dalam keluarga VI ini lupa untuk 2 kata sapaan, yaitu (1) terhadap orang yang menjaga mesjid atau surau, dan (2) terhadap orang yang membaca doa. Jadi anak dalam keluarga ini mengetahui semua kata sapaan agama atau terjadi pergeseran 0 persen.

5.2.6.4 Pembahasan Pergeseran Kata Sapaan Jabatan

Bila diperhatikan kata sapaan jabatan anak dalam keluarga ini telah mengalami pergeseran sebanyak 4 (empat) kata sapaan atau 66,67 persen dari 6 kata sapaan jabatan yang ditanyakan, 1 kata sapaan jabatan terhadap Ketua Lingkungan tidak diketahuinya, dan 1 kata sapaan terhadap lurah merupakan varian dari kata sapaan yang digunakan orang tua dalam keluarga ini. Pergeseran keempat kata sapaan tersebut bila diteliti lebih lanjut disebabkan oleh faktor urbanisasi. Anak dalam keluarga VI ini terpengaruh dengan kata sapaan yang digunakan di lingkungannya sekarang ini dimana dia bermukim. Ini sesuai dengan teori Fishman yang dirujuk dalam penelitian ini.

5.2.7 Pembahasan Hasil Temuan Penelitian untuk Keluarga VII

Dokumen terkait