• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. USULAN KEGIATAN REKOLEKSI PEMAHAMAN

H. Pemikiran Dasar

I. Pengembangan Langkah-langkah

3. Pembahasan Materi

2. Sharing Pengalaman

Para peserta diajak untuk menggali makna spiritualitas pelayanan di dalam kehidupannya sehari-hari, diawali dengan sharing pengalaman tentang sejauh mana umat katolik lingkungan Santo Barnabas Jogodayoh telah menghidupi dan terlibat dalam melakukan sebuah pelayanan, yang dengan dipandu beberapa pertanyaan:

• Apa yang bapak ibu ketahui tentang spiritualitas pelayanan?

• Apa makna pelayanan bagi bapak ibu dalam kehidupan sehari-hari?

3. Pembahasan Materi a. Pengertian Spiritualitas

“Spiritualitas adalah sebuah istilah yang menandakan ‘kerohanian’ atau ‘hidup rohani’. Kata ini menekankan suatu segi kebersamaan, bila dibandingkan dengan kata yang lebih tua, yaitu “kesalehan” yang menandakan hubungan orang perorangan dengan Allah” (Heuken, 2002:11). Namun selain itu juga kata ‘spiritualitas’ dapat dan sering ditekankan pada aneka bentuk kehidupan rohani. Makna ‘rohani’ sendiri ialah suatu kesanggupan untuk berhubungan dengan Tuhan atau menyadari kehadiran dari Yang-Ilahi dalam lingkup hidup kita. Oleh karena itu spiritualitas dapat disebut sebagai cara mengamalkan seluruh

kehidupan sebagai seorang yang beriman dan berusaha merancang menjalankan hidup ini.

Spiritualitas juga dapat diartikan suatu hidup yang berdasarkan atau menurut roh. Spiritualitas adalah hidup yang didasarkan pada pengaruh dan bimbingan Allah. Dengan Spiritualitas, manusia bermaksud membuat diri dan hidupnya dibentuk sesuai dengan cita-cita Allah. Namun karena spiritualitas sangat terasa umum dan abstrak, agar penghayatannya menjadi konkret dan jelas, maka dalam praktek spiritualitas diwujudkan dengan mengikuti jejak atau hidup tokoh-tokoh agama entah para pendiri agama atau para pengikut agama yang dapat diteladani (Hardjana, 2005:64).

Menurut Anne Hommes, MSW berpendapat bahwa:

Ciri khas spiritualitas adalah ibarat sebuah kompas etis ataupun kecerdasan moral. Tingkat intelegensi dapat mengukur prestasi seseorang, apakah orang itu akan berhasil dalam pendidikan dan kehidupannya atau tidak, namun ini lebih berorientasi kepada kesuksesan pribadi. Sedangkan sukses dalam spiritualitas lebih menunjuk perhatian kepada sesama.

Dua kata muncul berhubungan dengan istilah spiritualitas, yaitu kepercayaan dan pengharapan yang menunjuk pada sebuah kepercayaan akan Allah dan cita-cita kehidupan menurut kehendak-Nya, dan sebuah pengharapan kepada masa depan yang diberkati-Nya.

Spiritualitas kepercayaan merupakan suatu pendekatan yang berbeda dari cara membantu orang lain. Spiritualitas ini bersifat khas, yaitu suara dari perspektif Alkitabiah dan percakapan iman. Sedangkan spiritualitas pengharapan sendiri ialah suatu dinamika di antara kehidupan yang bergerak maju dalam kepercayaan dan kehidupan yang bercermin pada pengharapan.

b. Spiritualitas Kristiani

Spiritualitas kristiani merupakan perjumpaan yang menghidupkan dengan Yesus Kristus dalam Roh. Dalam artian tersebut, spiritualitas kristiani dikaitkan tidak terlalu banyak dengan doktrin-doktrin Kekristenan sebagaimana dengan jalan-jalan dimana ajaran-ajaran tersebut membentuk kita sebagai individu-individu, yang merupakan bagian dari komunitas Kristiani yang hidup dalam dunia yang lebih luas.

Untuk mencapai sebuah perjumpaan yang menghidupkan dengan Yesus Kristus orang perlu semakin mempererat hubungannya dengan Tuhan. Misalkan dengan mendengarkan sabda-Nya dalam Injil dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi semua itu membutuhkan sebuah proses. Proses yang paling tepat dan baik ialah ‘doa’. Selain dengan ‘doa’ ‘hidup rohani’ merupakan suatu proses pula untuk mencapai sebuah perjumpaan dengan Tuhan.

Yesus bersabda: “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengarkan bunyinya. Tetapi, engkau tidak tahu dari mana datang atau kemana perginya. Demikianlah setiap orang lahir dari Roh” (Yoh, 3:8).

Spiritualitas Kristiani sangatlah tidak lepas dari kehidupan sehari-hari. Dimana kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan melalui sesama kita dan lingkungan alam sekitar kita. Namun semua kembali lagi pada pribadi masing-masing orang, apakah orang tersebut mampu dan peka untuk menyadari perjumpaannya dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari ataupun tidak sama sekali? Iman kitalah yang mampu menyadarkan kita sendiri. Berbicara tentang spiritualitas kristiani tentu tidak akan lepas pula dari iman. Hanya pribadi

masing-masing orang sendiri yang mampu mengukur imannya. Spiritualitas kristiani slalu menekankan pada tindakan konkret, tindakan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari untuk slalu berbagi dan hidup harmoni dengan sesama. Sedangkan Andar Ismail berpendapat bahwa:

Spiritualitas adalah kualitas hidup seseorang sebagai hasil dari kedalaman pemahamannya tentang Allah secara utuh. Spiritualitas juga adalah gaya hidup sehari-hari yang merupakan buah dari hubungan kita dengan Yesus, kedekatan atau keakraban hubungan kita dengan Yesus secara transenden yang ditampakkan dalam sikap hidup kita terhadap orang-orang yang adalah imanensi atau perwujudan kehadiran Yesus.

Spiritualitas kristiani atau spiritualitas katolik memiliki beberapa ciri-ciri diantaranya:

a. Berpusat pada Kristus

Kristus lah yang menciptakan hidup spiritual, sebab di dalam Dia, Tuhan menyatakan diri-Nya oleh kuasa roh kudus. Oleh karena itu spiritualitas tergantung dari semua pengajaran Kristus.

b. Melalui Kristus menuju kesatuan dengan Allah Tritunggal

Karena Kristus adalah pribadi kedua di dalam kesatuan Tritunggal Maha Kudus, maka jika kita bersatu dengan Kristus, maka kita akan bersatu dengan Allah Tritunggal.

c. Keikutsertaan di dalam misteri Paska Kristus (salib, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga), melalui rahmat Tuhan, iman, kasih, dan nilai-nilai kristiani lainnya. Singkatnya, spiritualitas katolik tak terlepas dari salib Kristus, penderitaan dan kesadaran diri akan dosa-dosa kita yang membawa kita kepada kebangkitan di dalam Dia. Karena misi keselamatan Kristus diperoleh melalui salib, maka sebagai pengikutNya, kita pun selayaknya mengambil bagian dalam penderitaan itu, terutama dengan kesediaan untuk terus menerus bertobat dan mau menanggung penderitaan demi keselamatan sesama, dan dengan demikian kita dapat mengambil bagian di dalam kemulianNya. Jika kita hanya mau mengambil bagian dalam ‘kemuliaan’ tanpa mau mengambi bagian dalam ‘penderitaan’ yang diizinkan oleh Tuhan untuk terjadi di dalam kehidupan kita, maka kita tidak menerapkan Injil dengan seutuhnya.

d. Berdasarkan kesaksian kasih Tuhan

Kitab Suci bukan hanya wahyu Tuhan, tapi juga pernyataan akan pengalaman manusia di dalam wahyu Tuhan itu. Apa yang dialami oleh Adam dan Hawa, Nabi Abraham, Ayub, Bunda Maria, Rasul Petrus dan Paulus, dapat dialami oleh kita semua.

e. Disertai kesadaran akan dosa dan belas kasihan Tuhan

Spiritualitas katolik berlandaskan atas keyakinan kasih Tuhan di atas segalanya yang mampu mengubah segala sesuatu. Pada saat Tuhan mengasihi kita, dan jika kita membuang segala dosa yang menghalangi kita untuk menerima kasihNya, dan dengan iman dan doa, maka kita dapat sungguh diubah, dikuduskan dan dimampukan berbuat baik. f. Mengarah pada kehidupan kekal yang dijanjikan oleh Allah g. Melihat Bunda Maria sebagai contoh teladan

Spiritualitas katolik menerima segala kebijaksanaan Tuhan yang selalu menggunakan peran pengantara, yaitu Musa, para nabi, Yohanes pembaptis, dan terutama Bunda Maria untuk menyelenggarakan karya keselamatan-Nya. Karya Tuhan yang ajaib juga nampak dalam mukjizat keperawanan Maria, Allah menganugerahkan rahmat yang tiada batasnya, yaitu kelahiran Yesus Kristus, penyelamat kita di dunia. h. Mengacu pada gereja-Nya, gereja katolik

Gereja merupakan sumber atau alat yang meneruskan rahmat Tuhan. Rahmat Tuhan ini kita peroleh melalui sakramen-sakramen ekaristi; dan juga melalui ketaatan kita pada para penerus Rasul Kristus yang telah dipilih olehNya. Gereja sebagai kesatuan (komuni) manusia dengan Tuhan, selalu memperjuangkan martabat manusia, dan memperhatikan kesatuannya dengan para orang kudus; sebab melalui kesatuan ini Allah dimuliakan (https://sanctustellamaris.blogspot.com, Ciri-Ciri Spiritualitas Kristiani, diakses pada tanggal 10 April 2018).

c. Spiritualitas Pelayanan

Spritualitas Pelayanan tidak jauh berbeda dengan spiritualitas kristiani sendiri. Dasar pengertian mengenai pelayanan gerejani terdapat dalam Perjanjian Baru, yang amat menekankan peranan Roh Kudus. Dasar teologis bagi adanya pelayanan-pelayanan itu sendiri ialah sifat dasar pengabdian Gereja terhadap umat atau masyarakat, atau untuk mengaktualkan “sakramental” mengongkritkan sikap Yesus pribadi, yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Pelayanan ialah suatu bentuk pengabdian tertentu yang diterima atau diakui dalam lingkup jemaat tertentu. Oleh karena itu, sifatnya lebih resmi. Namun tidak sedikit juga umat kristiani yang menjalankan pengabdian tanpa diakui secara eksplisit

dan formal. Tujuan setiap spiritualitas pelayanan kristiani ialah: membawa sesama memasuki persekutuan hidup dengan Tuhan. Dengan kata lain: pembinaan penghayatan iman dalam kenyataan sehari-hari.

Dalam ajaran kristiani yang dimaksudkan para pelayan ialah kita semua sebagai umat kristiani yang mengimani Yesus dan mengikut hidup Yesus dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai umat-Nya. Dan tidak boleh dilupakan pula bahwa spiritualitas pelayanan adalah kesaksian iman para pelaksana sendiri. Jika digolongkan, para pelayanan kristiani dapat dibagi menjadi 3 yaitu : Imam, awam, dan religius. Semua itu memiliki porsinya masing-masing dan aturan-aturan dalam menjadi pelayan terutama pelayan pembinaan iman.

Menurut C.S. Song seorang teolog Asia dari Taiwan dalam buku Heuken (2002) menyebutkan bahwa:

Spiritualitas sebagai totalitas keberadaan manusia yang menyatakan diri di dalam cara-cara hidup, model-model berpikir, pola tindakan dan tingkah laku serta sikap-sikap manusia di hadapan Sang Misteri yaitu Allah sendiri yang hadir di dunia kita dan mengarahkan kita kepada Yang Tertinggi melebihi segala yang tertinggi, Yang Terdalam di bawah yang segala yang terdalam dan kepada Sang Terang yang melebihi segala terang”. Dalam Injil kita mendengar totalitas kehidupan manusia itu lewat sabda Yesus, “Carilah dulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33).

“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:19-20). Begitulah Yesus bersabda kepada para rasul-Nya untuk melakukan suatu pelayanan.

Ada banyak berbagai bentuk pelayanan diantaranya: Kotbah, rekoleksi, retret, pendalaman Kitab Suci, diskusi tentang bermacam-macam soal, dan

sebagainya. Namun perlu digaris bawahi bahwa yang terpenting bukanlah semakin banyaknya jumlah kegiatan-kegiatannya yang juga meluas di lapisan kalangan umat. Akan tetapi perlu dinyatakan juga bahwa seberapa jauh sungguh tercapai pendalaman iman dan bukan sekedar penambahan pengetahuan saja.

Berbicara mengenai pelayanan tentu juga tidak akan lepas dari sebuah pengajaran atau katekese. Katekese ialah “pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, dan yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan kehidupan Kristen” (CT 18).

“Katekese erat sekali berkaitan dengan seluruh kehidupan Gereja. Bukan saja meluasnya lingkup geografis dan pertumbuhan jumlah anggotanya, melainkan terutama perkembangan rohaninya dan keselarasan hidupnya dengan rencana Allah secara hakiki tergantung pada katekese” (CT 13).

d. Makna Spiritualitas Kristiani

Makna spiritualitas adalah hidup Roh Allah dalam keseluruhan diri orang dalam hubungannya dengan sesama dan dunianya dalam situasi yang konkret. Selain itu spiritualitas juga memiliki makna suatu tanggapan manusia spiritual terhadap panggilan Roh Allah untuk ikut serta dalam karya Allah guna menyebarkan suatu kebaikan, keselamatan, dan kesejahtraan-Nya di dunia. Maka, hidup manusia spiritual diatur dalam dan dipengaruhi oleh inspirasi dan dorongan Roh Allah (Hardjana 2005:73).

“Percaya kepada Allah adalah percaya bahwa Roh Allah yang hidup dapat dan berkenan merasuk ke dalam pribadi manusia dan mengubahnya” (J.B. Phillips dalam buku Hardjana, 2005).

Dengan memaknai spiritualitas, manusia bermaksud membuat diri dan hidupnya dibentuk sesuai dengan semangat dan cita-cita Allah. Selain itu juga

dengan memaknai spiritualitas, orang beragama menjadi orang spiritual, yaitu orang yang menghayati Roh Allah dalam hidup nyata sehari-hari sesuai dengan panggilan dan peran hidupnya. Menyerap seluruh nilai spiritual dan mengarahkan diri serta hidup berdasarkan nilai-nilai spiritualitas dan pada akhirnya menciptakan suatu gaya hidup itulah yang disebut sebagai memaknai hidup spiritualitas.

“Hidup spiritual adalah karya Roh Allah dalam diri manusia” (Leon Joseph Suenens dalam buku Hardjana, 2005).

Ajaran-ajaran Yesus secara konkret sampai pada kita melalui wahyu kitab suci, ajaran Gereja, dan melalui spiritualitas kristiani membuat kita lebih dekat dengan Yesus. Untuk memaknai spiritualitas kita perlu membangun pribadi yang kokoh dengan cara kita bersahabat erat dengan Allah melalui pribadi Yesus. Pribadi yang kokoh adalah pribadi yang tercermin dalam kematangan intelektual, emosional, dan spiritual secara integral. “Manusia sesungguhnya diciptakan segambar-secitra dengan Allah. Kelahiran kita ke dunia adalah perkenaan hati Allah pada kita untuk menempuh peziarahan bersama-Nya selama di dunia ini” (Kej 1:26-28).

Makna rohani dari spiritualitas ialah suatu kesanggupan yang lebih untuk berhubungan dengan Allah atau menyadari kehadiran dari Yang-Ilahi dalam lingkup hidup kita. Manusia terpanggil untuk benar-benar mengenal Dia yang hadir dalam batinnya. Salah satu cara untuk menyatakan arti “mengenal” Tuhan Allah adalah merumuskan manusia sebagai pendengar sabda Tuhan. Sabda Tuhan bukan semacam kata dalam bahasa, melainkan Tuhan yang membuka-Diri atau

mengkomunikasikan kehendak-Nya kepada kita. Dan kita mampu menerima apa yang disampaikan itu. Tentang cara menerimanya, Yesus bersabda: “Angin bertiup kemana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya. Tetapi, engkau tidak tahu dari mana datang atau kemana perginya. Demikianlah setiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh, 3:8).

Berdoa merupakan usaha untuk mendengarkan dan menanggapi sabda atau kehadiran Tuhan. Tuhan pasti hadir dalam pribadi setiap orang. Doa tidak ‘membuat’ Tuhan hadir. Doa bukanlah suatu usaha kita saja. Doa mulai dengan kemauan kita untuk masuk ke dalam suatu hubungan khusus dengan Tuhan Allah atas undangan dan prakarsa ilahi. Doa ini dimulai dengan harapan pasti, bahwa Tuhan akan ber’sabda’ kepada kita dan bahwa kita sanggup men’dengar’kanNya atau mengalami kehadiran-Nya dengan sadar. Harapan inilah yang dimaksud dengan ‘percaya’(Heuken, 2002:14).

e. Makna Spiritualitas Pelayanan

Dengan hidup spiritualnya, orang spiritual berusaha untuk semakin hari semakin menyatu dengan Roh Allah, hidup mengambil bagian dari sifat-sifat Allah serta ikut serta bekerja bersama Allah mendatangkan kebaikan, keselamatan, dan kesejahteraan di dunia.

Orang spiritual, dengan demikian, tidak lalu menjadi Allah. Ia tetap menjadi manusia, dirinya sendiri. Ia tetap manusia unik dengan cara berpikir khas kepribadiannya, tetap seperti adanya. Namun, pengaruh Roh Allah pada dirinya amatlah kuat. Roh Allah mengarahkan dan mengendalikan seluruh dirinya dan sepak terjangnya. Ia menundukkan pemikiran, perasaan, kehendak, dan perilaku pada pengarahan Roh Allah, bukan pada insting, dorongan, kesenangan, kepentingan sesaat, atau pengaruh lingkungan dan desakan masyarakat (Hardjana, 2005:92).

Dokumen terkait