• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Kemitraan

Sentra produksi manggis terbesar di Indonesia berada di Provinsi Jawa Barat. Sebagian besar produksi manggis berasal dari Kabupaten Purwakarta, Subang, Bogor dan Tasikmalaya. Melihat begitu besarnya potensi pengembangan kawasan manggis di Provinsi Jawa Barat maka pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pemasaran dan Pengolahan Hasil Pertanian memfokuskan pengembangan manggis secara terintegrasi di kawasan Kabupaten Purwakarta, Subang, Bogor, dan Tasikmalaya, yang akan digunakan sebagai pengembangan kawasan laboratorium manggis dan sekaligus sebagai kawasan percontohan yang bertujuan untuk meningkatkan volume ekspor manggis, meningkatkan mutu dan daya saing manggis, dan meningkatkan pengelolahan agribisinis manggis di kawasan Kabupaten Purwakarta, Subang, Bogor, dan Tasikmalaya.

25 Dalam rangka peningkatan ekspor manggis terutama di empat kabupaten kawasan manggis di Provinsi Jawa Barat tersebut dilakukan melalui penguatan kelembagaan untuk meningkatkan kemitraan antara petani, pedagang, dan eksportir agar para pelaku agribisnis manggis yang memiliki tujuan sama dalam meningkatkan mutu manggis. Pada tahun 2008, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pemasaran dan Pengolahan Hasil Pertanian mengadakan pertemuan dengan petani dan pedagang di Tasikmalaya serta mengundang eksportir yaitu, PT Agung Mustika Selaras. Pertemuan ini bertujuan untuk mengindentifikasi berbagai masalah dalam pengembangan manggis dan mendapatkan masukan yang akan digunakan sebagai dasar dalam menentukan pola kemitraan antara petani, pedagang, dan eksportir yang disesuaikan dengan kondisi daerah dan lebih spesifik di masing-masing kabupaten.

Pertemuan di Tasikmalaya kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan di Kabupaten Bogor untuk membahas secara lebih spesifik dengan PT Agung Mustika Selaras di Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Desa ini terpilih karena merupakan desa penghasil manggis terbesar di Kabupaten Bogor. Pertemuan di Bogor ini diikuti oleh Koperasi Bina Usaha Al-Ihsan (KBU Al-Ihsan) yang dihadiri oleh 50 orang dari anggota KBU Al-Ihsan, yang juga merupakan petani manggis. Dari hasil pertemuan ini maka dapat disimpulkan beberapa butir kesepakatan yang ditetapkan yaitu sebagai berikut :

1. Kemitraan yang ada pada KBU Al-Ihsan adalah pola kemitraan tahap pemula (sederhana) karena peranan kelompok tani /petani hanya sebatas sebagai tenaga kerja.

2. Menetapkan enam poin kesepakatan yang akan dituangkan dalam pola kemitraan yaitu : melakukan pemeliharan tanaman melalui pemberian pupuk agar buah manggis yang dihasilkan menjadi seragam, melaksanakan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada tanaman manggis upaya untuk pengendalian Organisme Penganggu Tanaman (OPT) seperti (burik buah, cedawan akar, hama babi hutan), mengusulkan pelepasan varietas manggis Desa Karacak sebagai komoditas unggulan nasional, menyediakan sarana produksi berupa pupuk kandang untuk anggota KBU Al-Ihsan, melakukan kerjasama dalam pemasaran manggis dari anggota KBU Al-Ihsan dengan PT Agung Mustika Selaras, dan pembentukan kas KBU Al-Ihsan dari anggota yang diambil dari hasil panen manggis.

Bila dilihat dari lima pola kemitraan agribisnis berdasarkan tulisan Sumardjo et al. (2004), yaitu pola kemitraan inti plasma, pola kemitraan subkontrak, pola kemitraan dagang umum, pola kemitraan keagenan, dan pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis (KOA), kemitraan antara petani manggis di Desa Karacak Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor dengan PT Agung Mustika Selaras, paling sesuai kedalam pola kemitraan inti plasma dibandingkan dengan keempat pola kemitraan agribisnis lainnya.

Hal ini dikarenakan pelaksanaan kemitraan antara petani manggis di Desa Karacak Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor dengan PT Agung Mustika Selaras sesuai dengan gambaran pola kemitraan inti plasma, yaitu petani manggis mendapaatkan sarana produksi berupa pupuk kandang dan adanya bimbingan unutk melaksanakan pengendalian hama tanaman dimana tujuannya untuk meningkatkan produktifitas manggis agar menjadi komoditass unggulan nasional.

26

Namun, perusahaan mitra tidak menyediakan lahan karena petani sudah memiliki lahan sendiri untuk memproduksi buah manggis.

Petani mitra sebagai plasma sedangkan PT. Agung Mustika Selaras sebagai inti plasma. Menurut Hernanto (1996) mengenai pola inti plasma, perusahaan inti menyediakan lahan, sarana produksi, bimbingan teknis, manajemen, menampung, mengolah dan memasarkan hasil produksi, di samping itu perusahaan inti tetap memproduksi kebutuhan perusahaan sedangkan kelompok mitra berusaha memenuhi kebutuhan perusahaan sesuai dengan persyaratan yang telah disepakati sehingga hasil yang diciptakan harus mempunyai daya kompetitif dan nilai jual yang tinggi.

Dengan teori menurut hernanto (1996) tersebut, pola kemitraan yang terjalin antara petani manggis di desa karacak dengan PT. Agung Mustika Selaras memiliki beberapa persamaan pola kemitraan yaitu perusahaan inti memberikan sarana produksi berupa pupuk kandang kepada plasma, memberikan bimbingan teknis dalam pemeliharan pohon manggis dan pencegahan hama tanaman, mengolah dalam arti melakukan sortiran, dan juga memasarkan buah manggis untuk diekspor keluar negeri, serta menjadi buah manggis desa karacak mempunyai daya kompetitif dna nilai jual yang tinggi dan hal ini sesuai dengan kesepakatan yang terjalin yaitu untuk mengusulkan buah manggis desa karacak menjadi komoditi unggulan nasional. Namun dalam hal ini, petani plasma sudah memiliki lahan pertanian sendiri sehingga inti tidak perlu menyediakan lahan lagi.

Dengan melihat poin kesepakatan yang terjalin diantara PT. Agung Mustika Selaras dan petani manggis karacak, mekanisme kemitraan yang terjalin cenderung sesuai dengan pola kemitraan inti plasma dibandingkan pola kemitraan yang lainnya seperti pola kemitraan subkontrak merupakan pola kemitraan dimana mitra usahanya yang memproduksi kebutuhan yang diperlukan perusahaan sebagai bagian dari komponen produksinya, pola kemitraan dagang umum yang merupakan pola kemitraan yang bertujuan hanya untuk pemasaran tanpa adanya bimbingan teknis dan pemberian sarana produksi, pola kemitraan keagenan yang merupakan pola kemitraan dimana mitra usaha diberi hak khusus untuk memasarkankan barang dan jasa dari perusahaan mitranya dan hal ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan pola kemitraan di desa karacak, dan terakhir pola kemitran kerjasama operasional agribisnis dimana didalam pola kemitraan ini terjadi bagi hasil antara perusahaan mitra dn kelompok mitra dan hal ini tidak terjadi pada pola kemitraan di desa karacak.

Bila dilihat dari kegiatan produksi manggis di Desa karacak, petani manggis jarang menggunakan pupuk kandang bahkan untuk tahun 2012 petani sama sekali tidak menggunakan pupuk kadang untuk memelihara pohon manggis karena pohon manggisnya dibiarkan tumbuh dengan liar. Anggota KBU Al-Ihsan yang merupakan petani mitra hanya bergabung dalam kelompok mitra (KBU Al-Ihsan) untuk mengumpulkan manggis yang sudah dipetik kemudian dikumpulkan di KBU Al-Ihsan dan menjualnya kepada perusahaan mitra (PT Agung Mustika Selaras). Selanjutnya perusahaan mitra menjualnya kepada konsumen.

Perusahaan mitra yaitu PT. Agung Mustika Selaras hanya menjalin kemitraan dengan kelompok mitra yaitu Koperasi Bina Usaha Al-Ihsan sedangkan anggota koperasi yaitu petani mitra bertujuan untuk mengumpulkan hasil panen manggis kepada KBU Al-Ihsan dan akhirnya KBU Al-Ihsan akan menjual kepada perusahaan mitra. Dalam hal ini, dibutuhkan komitmen dan loyalitas petani mitra

27 yang merupakan anggota koperasi untuk tetap mengumpulkan buah manggis kepada KBU Al-Ihsan dan akan dijual kepada PT. Agung Mustika Selaras. Komitmen dan loyalitas didalam menjalin kemitraan sangat berperan penting agar terciptanya suatu jaminan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas.

PT. Agung Mustika Selaras tidak menjalin kesepakatan dalam hal

Punishment ketika ada petani mitra yang menjual buah manggis kepada pihak lain karena PT. Agung Mustika Selaras hanya berhubungan dengan KBU Al-Ihsan, dimana PT. Agung Mustika Selaras tidak menentukan banyaknya buah manggis yang harus disediakan KBU Al-Ihsan namun menerima berapa pun jumlah yang disediakan oleh KBU Al-Ihsan. Buah yang akan diterima PT. Agung Mustika Selaras adalah buah manggis yang memenuhi kualifikasi untuk buah ekspor. Kelompok mitra yang diwadahi oleh KBU Al-Ihsan ini harus memiliki tujuan yang sama sesama petani mitra yang merupakan anggota koperasi sehingga dasar untuk menjalankan organisasi akan semakin kuat dan akan mencegah anggota koperasi yang akan menjual buah manggis kepada pihak lain karena sudah menganggap KBU Al-Ihsan suatu rumah yang harus dibangun secara bersama- sama.

Tiap musim panen manggis yaitu pada bulan Januari-Maret, PT Agung Mustika Selaras dan KBU Al-Ihsan tidak menjalin kesepakatan berapa jumlah buah manggis yang harus disediakan oleh petani manggis. KBU Al-Ihsan hanya menampung semua manggis yang telah dikumpulkan oleh masing-masing petani manggis. Petani manggis mengumpulkan ke KBU Al-Ihsan kemudian harga jual yang diterima oleh petani dibedakan berdasarkan tingkatan kualitas buah manggis yaitu kualitas SP-I, kualitas SP-II, kualitas SP-III, dan kualitas Barang Sisa (BS).

Pengelompokan dari tingkatan kualitas tersebut dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk, warna kelopak buah, warna buah, tekstur buah, dan varietasnya. Hal inilah yang akan mempengaruhi harga jual manggis. Pihak eksportir hanya menerima buah manggis dengan kualitas SP-I sampai kualiatas SP-III. Dan dilain sisi, 70 persen buah manggis yang ada di KBU Al-Ihsan merupakan kualitas buruk dan 30 persen di ekspor koperasi yaitu kepada PT Agung Mustika Selaras3. Rasa buah manggis di masing-masing kualitas sebenarnya tidak berbeda jauh, hanya saja faktor luar buah seperti keadaan kulit buah yang buruk membuat pihak eksportir tidak menerima buah dengan kualitas buruk. Buah dengan kualitas buruk akan dijual ke pasar induk oleh KBU Al-Ihsan.

Penentuan harga yang diambil oleh koperasi ditentukan berdasarkan PT Agung Mustika Selaras yang merupakan pasar utama buah manggis untuk diekspor. Koperasi tidak pernah mematok harga buah manggis manggis untuk perusahaan tersebut. Harga yang diberikan perusahaan kepada koperasi pun tidak menentu setiap harinya, kadang perusahaan membeli dengan harga yang tinggi dan kadang juga dengan harga yang rendah. Tahun 2012 harga jual manggis dengan kualitas SP-I perusahaan membeli dengan harga Rp 14.000 per kilogram, kualitas SP-II dengan harga Rp 7000 per kilogram, dan SP-III dengan harga Rp 4000 per kilogram. Namun, berbeda dengan buah manggis kualitas BS, koperasi hanya menjual kepada pasar induk maupun para pedagang dengan harga Rp 2000 per kilogram.

3

28

Pembayaran yang dilakukan PT Agung Mustika Selaras langsung diberikan kepada KBU Al-Ihsan di setiap PT Agung Mustika Selaras datang untuk membeli buah manggis. Kemudian KBU Al-Ihsan membagi hasil jual buah manggis kepada petani yang membutuhkan biaya pada hari itu sesuai dengan jumlah buah manggis yang dikumpulkan petani kepada KBU Al-Ihsan. Pembayaran secara keseluruhan biasanya diberikan setelah musim panen selesai. Buah manggis dengan kualitas BS yang tidak diterima PT Agung Mustika Selaras akan dijual kepada pasar induk dan harga jualnya akan diberikan kepada masing-masing petani setelah musim panen selesai. Petani manggis yang memberikan hasil panennya dicatat oleh sekretasis KBU Al-Ihsan agar petani mengetahui berapa jumlah manggis yang dihasilkan masing-masing petani dan berapa biaya yang akan petani terima setelah musim panen berakhir.

Motivasi Bermitra

Berdasarkan wawancara dengan petani manggis yang bermitra, 100 persen petani manggis bermitra dengan alasan utama adalah untuk alasan pemasaran. Pasar yang terjamin dan harga yang ditawarkan juga cukup tinggi yang bertujuan untuk meningkatkan keuntungan bagi petani. Namun, ada juga petani yang bermitra karena alasan keluarga yaitu sebanyak 21,7 persen. Hal ini terjadi karena ketua KBU Al-Ihsan merupakan keluarga petani sehingga mereka menjualnya ke KBU Al-Ihsan. Petani yang bermitra juga sebenarnya mendapatkan bantuan pupuk namun jarang digunakan karena petani manggis di Desa Karacak membiarkan pohon manggis tumbuh sendiri tanpa dipelihara dengan baik.

Kemitraan yang ideal adalah kemitraan antara usaha menengah atau usaha besar yang kuat di kelasnya dengan pengusaha kecil yang kuat bidangna yang didasari oleh kesejajaran kedudukan atau mempunyai derajat yang sama bagi kedua pihak yang bermitra, tidak ada pihak yang dirugikan dalam kemitraan dengan tujuan bersama untuk meningkatkan keuntungan atau pendapatan melalui pengembangan usahanya, tanpa saling mengekspolitasi satu sama lain serta tumbuh berkembangnya rasa saling percaya di antara kedua belah pihak yang bermitra.

Motivasi petani menjalin kemitraan pada dasarnya ingin mendapatkan kepastian pasar dan jaminan harga yang pasti dan perusahaan mitra yaitu PT. Agung Mustika Selaras ingin mendapatkan kualiatas buah manggis yang baik untuk diekspor. Dengan motivasi ekonomi tersebut maka prinsip kemitraan dapat didasarkan atas saling memperkuat dan saling memerlukan antara perusahaan mitra dengan petani mitra.

Kegagalan yang terjadi pada kemitraan usaha sering disebabkan oleh karena fondasi dari kemitraan yang kurang kuat dan hanya didasari rasa belas kasihan semata atau atas dasar paksaan pihak lain, bukan atas kebutuhan untuk maju dan berkembang bersama dari pihak-pihak yang bermitra sehingga dalam hal ini diperlukan motivasi yang kuat sehingga tercipta suatu sikap saling percaya diantara kedua belah pihak yang bermitra dan akhirnya kemitraan akan menjadi saling menguntungkan dan berkelanjutan.

29 Manfaat dan Kendala Dalam Kemitraan

Manfaat yang dirasakan responden mitra yaitu adanya kepastian pasar dan adanya kemudahan mendapatkan pupuk walaupun jarang digunakan. Seluruh responden merasakan adanya jaminan kepastian pasar. Petani juga pada awal bermitra dengan PT Agung Mustika Selaras mendapatkan bimbingan bagaimana memelihara tanaman manggis dengan baik. Namun, bimbingan yang dilakukan oleh PT Agung Mustika Selaras hanya dilakukan secara intensif pada saat pertama kali menjalin kerjasama. Respon petani pada saat awal kedatangan eksportir sangat antusias untuk mengikuti setia pengarahan yang dilakukan seperti, bagaimana memelihara pohon manggis yang di Desa Karacak dibiarkan tumbuh secara liar tanpa ada pengawasan khusus, pemberian pupuk dimana PT Agung Mustika Selaras memberikan pupuk, dan juga bagaimana cara mengatasi hama penyakin yang ada pada buah manggis.

Pengarahan yang dilakukan oleh PT Agung Mustika Selaras ternyata tidak menjawab masalah petani yang ingin pohon manggisnya berbuah lebat dan tidak terkena hama penyakit. Buah manggis yang dapat diekspor dengan kualitas yang bagus hanya sekitar 30 persen, dan kualiatas barang sisa lebih banyak yaitu sekitar 70 persen. Kehadiran PT Agung Mustika Selaras hanya berdampak pada perbedaan harga jual buah manggis dimana PT Agung Mustika Selaras melalui KBU Al-Ihsan melakukan sortiran terhadap buah manggis sehingga petani mendapatkan pendapatan yang lebih baik daripada menjual kepada tengkulak. Petani bertahan untuk menjual buah manggis kepada PT. Agung Mustika Selaras melalui KBU Al-Ihsan hanya karena harga jual manggis yang lebih tinggi dari yang lain.

Kesulitan yang dialami petani mitra yaitu harga jual buah manggis dengan kualitas barang sisa (BS) yang rendah. Dalam hal ini, pihak eksportir memang hanya menerima buah manggis dengan kualifikasi buah ekspor sehingga buah manggis dengan kualitas barang sisa tidak ditampung PT. Agung Mustika Selaras. Buah manggis dengan kualitas barang sisa hanya akan dijual ke pasar induk oleh KBU A-Ihsan sehingga harga yang didapat pun cukup rendah. Keadaan seperti ini dimana kualitas manggis petani desa karacak yang hanya mencapai 30 persen kualitas ekspor membuat petani mitra menjual hasil panennya kepada tengkulak yang tidak melakukan sortiran terhadap buah manggisnya yang bertujuan agar semua buah yang dimiliki petani habis terjual.

Ada juga petani mitra yang sudah menjual hasil panennya kepada tengkulak sebelum masa panen datang karena petani membutuhkan biaya. Petani melakukan hal tersebut karena pihak koperasi terkadang tidak memiliki modal atau mengalami keterbatasan modal dan hal ini dimanfaatkan oleh para tengkulak untuk membeli hasil panen para petani yang membutuhkan modal. Kegiatan ini disebut dengan sistem ijon dimana para tengkulak membeli buah manggis yang masih berbunga kemudian petani dan tengkulak bernegoisasi untuk menentukan harga buah manggis setiap pohon yang sudah berbunga dan pada musim panen tiba, pohon yang berbunga tadi sudah menjadi hak milik tengkulak semua buah di pohon itu.

Petani mitra yang menjual buah manggis ke pihak lain tidak mendapatkan

punishment dari PT. Agung Mustika Selaras dalam hal ini adalah perusahaan mitra karena PT. Agung Mustika Selaras hanya bekerja sama dengan KBU Al-

30

Ihsan, dimana tidak ada kesepakatan banyaknya pasokan yang harus disediakan oleh KBU Al-Ihsan, berapa pun jumlah manggis yang disediakan oleh KBU Al- Ihsan maka dengan sejumlah itu PT. Agung Mustika Selaras membeli buah

Dokumen terkait