• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan pada Masa Perubahan Ketiga

MENGENAI PEMILIHAN ANGGOTA MPR, DPR, DPRD, DAN DPD

BAB VIIA Pasal 22D

3. Pembahasan pada Masa Perubahan Ketiga

Pembahasan mengenai pemilihan anggota DPD dan MPR dilanjutkan pada masa Perubahan Ketiga. Pada tahap ini telah ada materi rancangan perubahan yang menjadi acuan pembahasan sebagaimana terlampir dalam Tap MPR No. IX/ MPR/2000.

Pembahasan mengenai hal itu mulai dilakukan pada Rapat PAH I BP MPR ke-12, 29 Maret 2001. Rapat tersebut mengagendakan dengar pendapat dengan Tim Ahli yang dipimpin oleh Ismail Suny. Rapat dipimpin oleh Jakob Tobing. Pada kesempatan itu, anggota Tim Ahli Bidang Politik, Nazaruddin Sjamsuddin mengatakan bahwa Tim Ahli tidak sepakat dengan rumusan BP MPR mengenai Pasal 2 Ayat (1). Berikut diungkapkan Nazaruddin.

Kemudian menyangkut Bab II Pasal 2, perumusan yang dibuat oleh Badan Pekerja itu kalau kita baca respon dari pada Tim secara letterlijk tulisannya tidak setuju, diganti dengan yang baru. Jadi, memang itu yang ditolak secara keseluruhannya. Walaupun di sana ada ide-ide yang kami sepakati sehingga usul kami adalah sebagai berikut, Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui Pemilihan Umum.

Saya ingin menggarisbawahi istilah dipilih melalui pemilihan umum, ini berarti tidak ada lagi anggota yang diangkat. Kemudian mengenai butir 2 atau Ayat (2) di sana, juga tidak dapat diterima oleh Tim Politik sehingga kami merumuskan Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah rapat gabungan antara DPR dan DPD yang berlangsung sedikitnya satu kali dalam lima tahun di

Ibukota Negara.227

Pada kesempatan berikutnya, Sutjipto dari F-UG menanyakan soal sistem pemilihan umum terkait dengan adanya lembaga DPD. Soetjipto mengatakan,

...kaitannya DPD dengan Pemilu. Jadi kalau memang di dalam sistem bikameral sudah ada DPD, apakah Pemilunya itu sistemnya apa yang paling cocok? apakah sistem distrik atau proposional atau sistem distrik campuran proposional begitu? Karena di beberapa negara yang tempo hari yang jelas itu di Korea. Di sana sistem distrik tetapi setiap mereka dapat tiga kursi itu mereka dapat tambahan satu kursi yang proposional, jadi yang pastinya distrik tetapi ada tambahan begitu...228

Jawaban atas pertanyaan itu dikemukakan pada Rapat PAH I BP MPR ke-13 pada 24 April 2001. Anggota Tim Ahli yang memberikan jawaban pertama adalah Afan Gafar. Ia menguraikan keterkaitan antara sistem pemilu dan keberadaan MPR. Penjelasan Afan Gafar dalam rapat ke-13 sebagaimana yang termaktub dalam Risalah Rapat PAH I BP MPR ke-13, 24 April 2001, adalah sebagai berikut.

Mengenai keberadaan MPR RI, kalau kita mengadopsi sistem bikameral untuk lembaga legislatif di Indonesia ini maka kita harus mempertimbangkan yang menyangkut makna representasi. Ada lembaga perwakilan yang mereprentasi penduduk secara langsung dengan mekanisme pemilihan umum yang menggunakan sistem simple majority, single ballot, atau dikenal sistem distrik. Satu distrik pemilihan adalah jumlah penduduk yang terdaftar dibagi dengan jumlah kursi di DPR.

Jadi, kalau penduduk kita 220 juta, kita ada lima kursi. 500 kursi ada di DPR maka satu distrik adalah 228.000.000 dibagi dengan 500 kursi, itu besaran distrik. Karena distribusi penduduk kita itu tidak merata, antar satu wilayah pemerintahan dengan wilayah lainnya maka muncul pemikiran untuk memberikan tempat bagi perwakilan yang menampung aspirasi daerah maka dipikirkan lembaga

227 Sekretariat Jenderal MPR RI, Risalah Perubahan Undang-Undang Dasar Negara

Repubik Indonesia Tahun 1945 (1999-2002) Tahun Sidang 2001 Buku Satu (Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 2008), hlm. 342-343.

perwakilan daerah dan antara satu daerah dengan daerah lainnya, jumlah wakilnya sama. Sebagai contoh di Amerika Serikat, untuk setiap negara bagian diwakili oleh dua orang anggota Senat yang dipilih melalui sistem distrik dengan wilayah negara bagian secara keseluruhan merupakan satu distrik.

Kalau memang sistem ini diadopsi oleh Konstitusi yang baru ini maka bagaimana dengan keberadaan MPR? Kami dari Tim Politik mengambil posisi, bahwa dengan adanya DPR dan DPD atau apapun namanya nanti maka MPR harus mengalami perubahan, baik yang menyangkut fungsi ataupun juga yang menyangkut kedudukan dan tanggung jawabnya. Tim Politik berpendapat “Bahwa MPR hanyalah merupakan joint session dimana DPR dan DPD melakukan rapat bersama, akan tetapi MPR tersebut bukan atau tidak merupakan lembaga legislatif, sehingga tidak mempunyai kekuasaan untuk melakukan legislasi ataupun fungsi-fungsi lain dari lembaga perwakilan rakyat”.

Joint session tersebut dapat diadakan satu tahun sekali, misalnya ketika Presiden menyampaikan rencana program-programnya untuk tahun itu, atau ketika tamu istimewa atau pemimpin yang secara khusus diundang untuk tampil dalam joint session itu. Sebagai contoh, misalnya Jenderal Douglas Mc. Arthur pernah tampil dan memberikan pidato di hadapan kongres. Jadi, MPR itu dapat berupa kongres di Amerika yang terdiri dari Senat yang jumlahnya 100 orang dan House of Representative yang jumlahnya 435 orang. Senat masa kerjanya enam tahun dan diwakili masing-masing negara bagian, sedangkan House of Representative masa kerjanya dua tahun dan mewakili distrik dan ditentukan atas jumlah penduduk.

Karena pada saat sekarang ini anggota kongres negara bagian lagi melakukan kegiatan re-districting. Jadi mengatur kembali besaran distrik karena adanya mobilisasi penduduk yang meningkat, karena perubahan penduduk antara satu negara bagian dengan negara bagian lain terjadi maka perlu ada perubahan jumlah anggota dari masing-masing House of Representative maka diadakan re-districting. Cuma, memang ada kelemahannya.

Di Amerika ada yang namanya praktek Jerry Mandring. Praktek Jerry Mandring adalah kesengajaan-kesengajaan untuk membuat suatu distrik dengan tujuan-tujuan

tertentu agar supaya terjamin wakil dari satu partai politik untuk terpilih di sebuah kongres. Misalnya, di sebuah daerah mayoritasnya orang hitam, walaupun penduduknya terpisah-pisah ke dalam beberapa kabupaten ataupun kota, kebetulan dibuat re-districting agar supaya diarahkan orang-orang hitam itu bisa tergabung dalam satu distrik, ini praktek Jerry Mandring yang banyak dipersoalkan di Amerika. Apakah kita nanti juga akan ke situ? Nanti akan kita lihat bagaimana KPU akan melakukan itu.229

Pada Rapat PAH I BP MPR ke-14, 10 Mei 2001, Maswadi Rauf mengatakan bahwa usulan Tim Ahli mengenai Pasal 22C tidak sama dengan rumusan BP MPR, yakni,

Ayat (1). “Anggota Dewan Perwakilan Daerah di setiap provinsi dipilih secara langsung melalui Pemilu”.

Ayat (2). “Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari setiap provinsi jumlahnya sama”.230

Pada 5 Juli, PAH I mengadakan rapat yang ke-20 yang membahas Bab II tentang MPR. Rapat dipimpin oleh Wakil Ketua PAH I Slamet Efendy Yusuf. Asnawi Latief dari F-PDU mengusulkan agar Bab II diberi judul Kekuasaan Legislatif seperti usulan Tim Ahli. Namun Asnawi mengusulkan bunyi Pasal 2 Ayat (1) merupakan gabungan antara usulan Tim Ahli dan BP MPR sehingga terdapat kata yang dipilih melalui pemilihan umum.

Saudara Pimpinan. Hal kedua dalam Bab II, kami setuju perubahan judul, yaitu Kekuasaan Legislatif yang diusulkan Tim. Jadi judul baru ini menurut hemat kami menunjukkan tugas dan wewenang dalam pembagian kekuasaan negara, ialah Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. Sedangkan Pasal 2 Ayat (1), rumusannya menggabungkan dari usulan Tim dengan rancangan hasil BP Majelis. Sehingga bunyinya sebagai berikut: “Kekuasaan Legislatif dilakukan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang terdiri atas Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui PemilihanUmum”.231

229 Ibid., hlm. 389-390.

230 Ibid., hlm. 469. 231 Ibid., hlm. 748.

Sementara itu, Soedijarto dari F-UG mengusulkan rumusan Bab II Pasal 2 tanpa adanya frasa pemilihan umum, sebagai berikut.

Selanjutnya mengenai Bab II tentang MPR, Majelis Pemusyawaratan Rakyat. Adanya lembaga tertinggi negara dalam sistem kenegaraan Republik Indonesia merupakan suatu yang khas Indonesia. Para pendiri republik nampak sadar dan sengaja tidak memilih salah satu dari berbagai model penyelenggaraan negara yang telah ada dan berkembang di dunia barat, baik sistem Presidensial ala Amerika maupun Amerika Latin, sistem demokrasi parlementer seperti Eropa Barat atau sistem demokrasi rakyat seperti Uni Soviet melainkan mengembangkan model tersendiri yaitu adanya lembaga negara yang dapat mewakili seluruh rakyat Indonesia bukan hanya mewakili partai politik pemenang pemilu seperti yang berlaku dikebanyakan sistem parlementer atau Presidensiil, tapi meliputi seluruh unsur masyarakat bangsa Indonesia baik partai maupun golongan-golongan masyarakat yang aspirasinya tidak tertampung dalam partai politik. Di sini kami mengingat, mensitir seorang ahli sosiologi politik yang mengatakan bahwa democracy required

institution with support conlict and disagreement as well

as those with system legitimaty and consensus dengan kata lain keberadaan lembaga tertinggi negara MPR nampaknya dirancang oleh para pendiri republik sebagai lembaga yang dapat mendukung stabilnya sistem politik melalui peranannya sebagai lembaga negara yang dapat menjadi lembaga yang mampu menyelesaikan atau mengakhiri konlik antara DPR dengan Pemerintah untuk mencapai konsensus dan menjamin kesinambungannya serta legitimasi penyelenggaraan negara.

Mungkin tidak terbayangkan andai kata sekarang tidak ada MPR, Presidennya seperti sekarang kira-kira yang menyelesaikan siapa, atas dasar itu F-UG tetap bertahan pada Bab II Pasal 2 usul BP MPR dengan sedikit perubahan, ini karena fraksi ingin Utusan Golongan tetap dimasukkan disitu, Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas Anggota DPR dan DPD yang anggotanya dipilih secara demokratis ditambah utusan golongan dalam masyarakat, terutama setelah mengikuti pekembangan bahwa ada asosiasi

masyarakat sipil yang tidak pernah menganggap partai itu dapat mewakili mereka.232

Afandi dari F-TNI/Polri pun menginginkan agar Utusan Golongan tetap dipertahankan dalam MPR.

2. Berkenaan dengan Lembaga MPR.

a. Dalam usulan perubahan oleh Tim Ahli, judul Bab II MPR diubah menjadi BAB II Legislatif, MPR hanya merupakan sidang Gabungan DPR dan DPD. b. Sedangkan Pasal 2 Ayat (1) lampiran Tap IX

menyatakan bahwa MPR terdiri atas Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui Pemilihan Umum ditambah dengan utusan masyarakat tertentu yang karena tugas dan fungsinya tidak menggunakan hak pilihnya.

c. Dalam Tap Nomor VII/MPR/2000 Pasal 5 Ayat (4) untuk TNI dan Pasal 10 Ayat (2) untuk Polri dinyatakan bahwa Anggota TNI dan Polri tidak menggunakan hak memilih dan dipilih, keikutsertaan TNI/Polri dalam menentukan arah kebijakan nasional disalurkan melalui MPR paling lama sampai dengan tahun 2009.

d. Fraksi TNI/Polri berpendapat bahwa judul Bab II tetap seperti semula yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat, tetapi tugas-tugasnya sependapat kalau diadakan penyesuaian dengan kesepakatan materi pasal-pasal selanjutnya. Rumusan dari keanggotaan MPR harus sudah menampung substansi Pasal 5 Ayat (4) dan Pasal 10 Ayat (2) Tap MPR Nomor VII/MPR/2000.233

Pada Rapat PAH I BP MPR ke-25, 6 September 2001, pimpinan rapat Jakob Tobing menyampaikan pengantar sebagai berikut.

…kami masuk pada pembahasan Bab 2 ini yang menyangkut hal-hal yang luas termasuk juga masalah siapa, apa sebetulnya MPR itu, siapa yang menjadi anggota MPR, apa saja kekuasaannya, apakah kita akan memakai sistem pemilihan Presiden oleh MPR, apakah sistem pemilihan

232 Ibid., hlm. 751. 233 Ibid., hlm. 763.

Presiden langsung, dengan segala kait mengkaitnya. Kami undang rekan-rekan untuk berbicara dan kami mohon, kami diberi keleluasaan untuk bisa mendistribusikan pembicara secara lebih merata begitu…234

Selanjutnya Theo L. Sambuaga dari F-PG mengajukan pandangan sebagai berikut.

Mengenai substansinya, secara keseluruhan kami dapat sampaikan di sini bahwa meskipun terdapat masukan-masukan juga yang banyak dan cukup signiikan termasuk dari Tim Ahli, tetapi secara kesuluruhan kami masih berpendapat bahwa rumusan yang ada, yang kita siapkan melalui Badan Pekerja TAP IX, lampiran TAP IX tersebut, masih tetap dapat relevan untuk dapat dipertahankan. Dalam hubungan ini khusus menyangkut Pasal 2, kami juga secara eksplisit tetap melihat bahwa Pasal 2, baik Ayat (1), Ayat (2), dan Ayat (3) tetap dapat dipertahankan seperti apa yang kita rumuskan dalam lampiran Tap IX tersebut. 235

Soedijarto dari F-UG mengajukan rumusan mengenai Pasal 2 Ayat (1), sebagai berikut.

...Ayat (1)-nya menjadi demikian: “Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum ditambah dengan Utusan Golongan menurut aturan yang ditetapkan undang-undang”. Ini merupakan satu hal yang menurut saya, kita tidak pernah menyadari dan mensyukuri betapa keberadaan MPR kemarin bisa menyelesaikan masalah politik di negara ini sehingga dapat selesai dengan sangat baik. Karena itu kalau Pasal 2 Ayat (1) berbunyi demikian maka Pasal 2 Ayat (2) tetap, Pasal 2 Ayat (3) tetap, dan Pasal 3 pun tetap. Inilah pendirian dari F-UG dan kami memang ingin seperti yang saya sampaikan pada waktu ketemu dengan Tim Ahli, tidak semua Undang-Undang Dasar konsisten memberikan bab...236

Sedangkan Afandi dari F-TNI/Polri mengatakan sebagai berikut.

234 Sekretariat Jenderal MPR RI, Risalah Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Repubik Indonesia Tahun 1945 (1999-2002) Tahun Sidang 2001 Buku Dua (Jakarta: Sekretariat Jenderal MPR RI, 2008), hlm. 176-177.

235 Ibid., hlm. 177.

Kemudian untuk Pasal 2 Ayat (1), kami masih sependapat dengan apa yang disiapkan oleh Badan Pekerja yang telah lalu, Tap Nomor IX/MPR/2000, Pasal 1 saya ulangi, Ayat (1), Ayat (2) maupun Ayat (3). Kemudian untuk hal-hal lain keterkaitan dengan yang lain kami belum menyampaikan...

Lukman Hakim Saifuddin dari F-PPP menghendaki agar seluruh Anggota MPR yang hakekatnya terdiri dari anggota DPR dan DPD itu seluruhnya harus dipilih melalui pemilu. Mengenai hal ini, Lukman beralasan,

Jadi MPR itu apa saja komponennya? Lalu yang kedua bagaimana rekrutmen keanggotaannya? Jadi kami termasuk yang menghendaki bahwa seluruh anggota MPR yang hakekatnya terdiri dari DPR dan DPD itu seluruhnya harus dipilih melalui pemilu. Jadi kalau tadi Utusan Golongan atau dalam hal ini Pak Soedijarto mengatakan konteksnya representasi. Seringkali kan bicara tentang representasi banyak teori mengatakan bahwa representasi itu bisa didekati dengan pendekatan orang, individual, orang-per orang yang nanti kemudian akan berdasarkan wilayah atau daerah, berdasarkan ras atau suku, berdasarkan jenis kelamin dan lain sebagainya. Intinya orang. Tapi juga representasi itu menurut saya lebih penting representasi gagasan atau ide. Jadi itu yang sebenarnya lebih mendasar, lebih signiikan dalam menjelaskan bagaimana keterwakilan itu bisa terealisir. Jadi kaitannya dengan keanggotaan memang ini harus seluruhnya dipilih dalam pemilu.237

Pembahasan kemudian dilanjutkan pada Rapat PAH I ke-26, 10 September 2001. Rapat tersebut dipimpin oleh Jakob Tobing. Harun Kamil dari F-UG mengawali perdebatan ini dengan mengatakan bahwa jika MPR adalah penjelmaan seluruh rakyat Indonesia, maka ia juga harus mewakili berbagai golongan masyarakat. Ia menjelaskan,

...tentang masalah lembaga MPR tadi. Karena merupakan penjelmaan seluruh rakyat Indonesia, seluruh golongan itu harus atau seluruh wakil rakyat terwakili. Kalau kita misalnya, DPR lewat kepada partai politik ada pemilihan, kemudian lewat daerah juga ada namanya apa DPD. Kami tetap berpendapat bahwa Utusan Golongan itu

tetap mendapat tempat. Mereka yang dipandang perlu mengisi atau mengoreksi terhadap sistem politik yang ada. Walaupun jumlahnya tidak menjadi signifikan. Katakanlah TNI/Polri juga berada di posisi situ. Siapa yang dianggap layak mewakili. Sehingga betul-betul terwakili dan penjelmaan seluruh rakyat. Dan ada yang diangkat itu nggak cuma di negara kita, di negara lain yang maju juga ada yang diangkat. Jadi bukan sesuatu tabu atau haram, kan begitu.238

Sementara itu, Patrialis Akbar dari F-Reformasi pada prinsipnya menginginkan agar MPR menjadi sebuah lembaga yang permanen. Oleh karena itu, ia sepakat dengan rumusan awal PAH I bahwa keanggotaan MPR terdiri dari DPR, DPD dan Utusan Masyarakat tertentu yang karena memang melaksanakan tugas dan fungsi ini tidak memiliki atau menggunakan hak untuk memilih. Berikut ini pendapatnya.

Kemudian selanjutnya pembahasan tentang masalah materi di dalam alternatif ini. Tentu ini juga jelas ada kaitannya dengan pembahasan dan merupakan konsekuensi logis dari pembahasan Pasal 2 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat yang di dalam konsep kita ini sesungguhnya Panitia Ad Hoc I dari awal telah menyepakati bahwa MPR ini terdiri dari DPR, DPD dan Utusan Masyarakat tertentu yang karena memang melaksanakan tugas dan fungsi tidak menggunakan hak untuk memilih. Kami memang setuju dengan konsep MPR seperti itu. Oleh karena itu kami memang berharap bahwa MPR ini adalah sebagai lembaga yang permanen...239

Soedijarto dari F-UG mengemukakan pendapat mengenai MPR sebagai lembaga permanen dan keberadaan Utusan Golongan sebagai berikut.

Pandangan kami memang berangkat dari keyakinan masih perlu dipertahankannya MPR sebagai lembaga, bukan sebagai hanya joint session saja. Karena kami beranggapan jiwa yang tertulis dalam Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 tentang agar MPR betul-betul merupakan penjelmaan seluruh rakyat, sebenarnya tidak hanya berangkat dari kondisi waktu itu tetapi sampai sekarangpun kita

238 Ibid., hlm. 232.

mengagumi beliau-beliau. Karena, kalau kita amati bahkan di Amerika yang ikut memilih itu hanya 50%. Berarti ada kelompok masyarakat yang tidak diwakili oleh partai politik, di manapun juga. Hanya bedanya di negara lain tidak mengenal mekanisme adanya anggota Majelis atau anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang tidak dipilih. Dan di negara lain juga mengenal ada anggota dewan yang tidak dipilih. Di Perancis Senatnya tidak dipilih, di Kanada juga tidak dipilih, di Jerman anggota Bundesrat itu dipilih oleh negara bagian.

Jadi itu tidak berarti itu tidak demokratis. Adanya anggota suatu lembaga non-eksekutif yang tidak dipilih tidak dengan sendirinya dianggap negara itu tidak demokratis. Contoh tadi kan ada di Kanada, ada di Jerman, ada di Perancis. Karena itu kami menganggp bahwa MPR itu perwujudan dan penjelmaan seluruh rakyat maka seyogyanya dan usul kami di samping DPR dan DPD yang dipilih. Ini kemajuan dari pemahaman tentang DPR dan Utusan Daerah, sedangkan Utusan Golongan itu tetap sebagai Utusan Golongan yang tidak ada maksud untuk masuk dalam DPR maupun DPD tetapi hanya pada MPR yang kekuasaannya mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar, yang menetapkan haluan daripada negara dalam garis besar, memilih dan menetapkan serta melantik Presiden dan Wakil Presiden.

Jadi bukan suatu keinginan agar terlibat dalam penyelenggaraan negara sehari-hari, seperti yang nanti akan diemban oleh DPR maupun DPD. Karena itu kami sekali lagi ingin mengusulkan tidak hanya seperti rumusan semula, karena tugas dan fungsinya tidak menggunakan hak pilihnya. Tapi ada kelompok masyarakat yang tidak mungkin dapat dipilih seperti pegawai negeri, seperti guru dan yang lain-lain itu. Itu tidak dipilih, tidak berhak dipilih. Dan kalau hanya untuk dipilih saja mau berhenti, mereka tidak mempunyai ambisi untuk duduk di DPR. Hanya untuk duduk di MPR.240

Anthonius Rahail dari F-KKI mengemukakan pendapat mengenai status MPR sebagai permanent body, serta keberadaan Utusan Golongan, sebagai berikut.

Yang ingin kami ketengahkan bahwa KKI melihat MPR sebagai suatu permanent body, kenapa? Karena tugas yang

tadi telah kami sepakati pada point pertama mengubah Undang-Undang Dasar 1945, ketika itu menjadi joint session yang barangkali mempunyai kekuatan yang sama tapi kami sampai sangat ini melihat bahwa permanent body ini perlu kita pertahankan, kenapa? Karena dengan demikian maka keanggotaan daripada lembaga tertinggi negara yang dari DPR, kemudian dari utusan-utusan yang tidak dipilih langsung merupakan kekuatan-kekuatan bangsa ini perlu ditampung di dalam lembaga tertinggi tersebut. Kalau kita tidak lakukan permanent body dan kembali kepada joint session barangkali lebih kepada anggota DPR dan DPD yang dipilih langsung rakyat. Dan kalau itu yang kita lakukan bagaimana kekuatan-kekuatan lain yang benar-benar tidak mungkin terwakili di dalam pemilihan umum, baik DPR maupun DPD. Itulah yang kami maksud dengan perlunya permanent body seperti yang tadi telah kami sampaikan. 241

Pada 10 September 2001 juga dilakukan Rapat Lobi PAH I BP MPR mengenai rumusan komposisi anggota MPR, yang dipimpin oleh Jakob Tobing. Pada kesempatan tersebut Frans F.H. Matrutty dari F-PDIP menyampaikan bahwa usulannya tentang nama Dewan Perutusan Daerah belum masuk sebagai alternatif, sebagai berikut.

Saya tidak melihat alternatif, tapi saya tadi mengusulkan, kalau bisa dipertimbangkan, Dewan Perwakilan Daerah itu menjadi Dewan Perutusan Daerah.242

Hal itu dijawab oleh Pimpinan Rapat sebagai berikut. Karena memang itu sudah dijelaskan tadi. Sudah dijelaskan dan Bapak tadi ada waktu disepakati nanti itu dibicarakan pada waktu sampai pada itu. Dan kalau itu memang disepakati begitu, memang kita di sini kalau tidak, ya tidak. Tapi supaya ini jangan menjadi side issue yang bisa lantas kita jadi tidak bisa dapat ini. Kita hemat waktu.243

Harjono dari F-PDIP menyampaikan usulan rumusan utusan masyarakat untuk menghindari Utusan Golongan, sebagai berikut.

241 Ibid., hlm. 265.

242 Risalah Rapat Lobi PAH I BP MP MPR, 10 September 2001, hlm. 2. 243 Ibid., hlm. 2.

Saya usul saja. Secara substansi tidak ada persoalan, tapi penggunaan kata Utusan Golongan menurut saya