• Tidak ada hasil yang ditemukan

Presiden dan Wakil Presiden RI Periode 1945–1967

Penyempurnaan Buku

BAB PEMILU UMUM

B. Sejarah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI

1. Presiden dan Wakil Presiden RI Periode 1945–1967

Sebelum merdeka, para pendiri bangsa yang berhimpun dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) telah memperdebatkan perihal corak kepemimpinan di negara baru Indonesia kelak. Berbagai gagasan tentang lembaga apa seharusnya yang memimpin negara Indonesia dinarasikan penulis dari tabel yang dibuat oleh A.B. Kusuma.17

Sepuluh orang yang terdiri dari Hoesein Djajadiningrat, Soepomo, Soebardjo, Singgih, Boentaran, Soetardjo, Sastromoeljono, Soewandi, A.A. Maramis, dan Soerachman mengusulkan agar negara Indonesia diperintah oleh suatu Dewan Pimpinan Negara yang terdiri dari tiga orang anggota. Para anggota tersebut dipilih dengan suara terbanyak oleh orang-orang terkemuka di seluruh Indonesia.

Sementara itu, anggota lain bernama Rooseno mengusulkan agar Pemimpin Besar dan Pemimpin Daerah ditunjuk oleh Balatentara Dai Nippon. Di samping itu, ada parlemen dan Majelis Penasihat. Ny. Soenario mengusulkan agar bentuk pemerintahan pegawai sekarang diteruskan dengan Wali Negeri sebagai Kepalanya, sebagai pengganti

Saikoo Sikikan, sedangkan Poerobojo berpendapat bahwa pemerintahan dipegang oleh Perdana Menteri dengan menteri-menterinya. Perdana Menteri ditetapkan oleh Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Menteri-menteri lainnya ditunjuk oleh Perdana Menteri.

Ada pula yang mengusulkan agar Indonesia berbentuk monarki konstitusional yang dipimpin oleh seorang Maharaja. Namun, pangkatnya tidak bersifat turun temurun. Usul ini disampaikan oleh Soekiman, sedangkan Ny. Maria Ulfah Santoso mengusulkan agar tiap-tiap putera Indonesia yang

17 Paparan berikut ini diolah penulis dari R.M. A.B. Kusuma, Lahirnya Undang-Undang Dasar 1945, Memuat Salinan Dokumen Otentik Badan Oentoek Menyelidiki Oesaha-Oesaha Persiapan Kemerdekaan, Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2004, hlm. 181–183.

cakap bisa dipilih sebagai kepala negara. Anggota bernama Aris mengusulkan agar Indonesia dipimpin oleh seorang Presiden dengan dibantu seorang Presiden Muda. Anggota lain, S. Tirtopratodjo, mengusulkan adanya Kepala Negara yang dipilih untuk masa jabatan lima tahun dan sewaktu-waktu dapat diberhentikan oleh Badan Perwakilan Rakyat.

Usulan terakhir ini tampaknya yang menginspirasi lahirnya Pasal 6 Ayat (2) dan Pasal 7 UUD 1945 (sebelum perubahan) sebagai berikut.

Pasal 6

(2) Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Per-musyawaratan Rakyat dengan suara yang terbanyak.

Pasal 7

Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali.

Namun, setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia belum memiliki perangkat penyelenggaraan negara apapun. Indonesia belum memiliki pemerintahan, bahkan tentara. Satu-satunya badan yang ada waktu itu hanyalah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk pada 9 Agustus 1945 sebagai kelanjutan dari BPUPK. PPKI dipimpin oleh Ir. Soekarno sebagai ketua dan Drs. Mohamad Hatta sebagai wakil ketua. Anggotanya terdiri atas 19 orang yang mewakili Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Sunda Kecil. Panitia inilah yang bekerja untuk merumuskan semua usaha pembentukan Indonesia sebagai sebuah negara merdeka, dalam hal ini, termasuk memilih pemimpin Indonesia.

Pada sidang pertamanya tanggal 18 Agustus 1945, PPKI menambah lagi anggotanya sebanyak enam orang, sehingga seluruhnya menjadi 27 orang. Sidang pertama ini memuat agenda pokok pengesahan UUD 1945 yang rancangannya telah dirumuskan oleh BPUPK. Agenda pengesahan ini dibagi

ke dalam tiga sesi, yakni pengesahan Pembukaan UUD 1945, Batang Tubuh UUD 1945, dan Aturan Peralihan UUD 1945. Pada saat sesi pengesahan Aturan Peralihan, Ketua PPKI Soekarno menawarkan pembahasan terlebih dahulu Rancangan Pasal III Aturan Peralihan yang berbunyi sebagai berikut.

Untuk pertama kali Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Setelah pasal tersebut disetujui, anggota Otto Iskandardinata mengajukan sebagai berikut.

Berhubung dengan keadaan waktu, saya harap supaya pemilihan presiden ini diselenggarakan dengan aklamasi dan saya majukan sebagai calon, yaitu Bung Karno sendiri. (Tepuk tangan).18

Semua anggota pun secara aklamasi menyetujui pemilihan Ir. Soekarno sebagai Presiden. Selanjutnya anggota Oto Iskandardinata juga mengajukan Mohammad Hatta sebagai calon Wakil Presiden.

Pun untuk pemilihan Wakil Kepala Negara Indonesia saya usulkan cara yang baru ini dijalankan. Dan saya usulkan Bung Hatta menjadi Wakil Kepala Negara Indonesia. (Tepuk tangan).19

Selanjutnya, secara aklamasi juga, Mohamad Hatta dipilih oleh anggota PPKI sebagai Wakil Presiden. Sejak saat itu, Negara Republik Indonesia telah memiliki Presiden dan Wakil Presiden baru.

Sebagai sebuah negara baru, sistem politik dan pemerintahan Indonesia belumlah stabil. Pada masa-masa awal (1945–1949), Indonesia harus mengalami periode revolusi isik dalam rangka mengusir invasi penjajah Inggris dan Belanda. Di akhir tahun 1948, sebagai akibat dari agresi militer kedua yang dilakukan oleh Belanda, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohamad Hatta ditahan oleh Belanda. Atas penahanan itu, Soekarno-Hatta kemudian mengirimkan telegram berbunyi sebagai berikut.

18 Ibid., hlm. 492 19 Ibid., hlm. 493

Kami, Presiden Repoeblik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggoe tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas ibu kota Yogyakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjibannja lagi, kami mengoeasakan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara, menteri kemakmoeran RI oentoek membentoek Pemerintahan Daroerat di Soematera.20

Telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi saat itu, tetapi ternyata pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil inisiatif yang sama. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok, Bukittinggi, 19 Desember 1948, Sjafruddin mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government). Gubernur Sumatra Mr T.M. Hasan menyetujui usul itu “demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara.”21

Setelah itu, berdirilah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra Barat yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara. Meskipun menggantikan kedudukan Presiden, istilah yang digunakan untuk pimpinannya adalah “Ketua”. Sjafruddin menjadi Ketua PDRI dan memiliki kabinet yang terdiri atas sejumlah menteri. Sjafruddin menyerahkan mandatnya kepada Presiden Soekarno pada 13 Juli 1949 di Jogjakarta.22

Persoalan kepresidenan RI juga terjadi setelah penandatanganan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Belanda pada 27 Desember 1949. Sesuai dengan amanat KMB, terjadi perubahan bentuk negara Indonesia dari negara kesatuan menjadi negara federal dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS terdiri atas 16 negara bagian di mana Republik Indonesia adalah salah satu di antaranya. Karena

20 Mestika Zed, Somewhere in The Jungle, Pemerintah Darurat Republik Indonesia Sebuah

Mata Rantai Sejarah Yang Terlupakan, (Jakarta: Pustaka Utama Graiti, 1997).

21 Asvi Warman Adam, ”Konsekuensi dari Urutan Presiden”, Kompas, 10 Agustus

2006.

22 George Mc. Turnan Kahin, Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, Terjemahan Nin

Bakdi Soemanto, (Solo-Jakarta: Sebelas Maret University Press dan Sinar Harapan, 1995), hlm. 542.

Soekarno dan Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia. Muhammad Asaat ditunjuk sebagai pemangku sementara jabatan Presiden Republik Indonesia. Negara RIS hanya berumur 9 bulan karena pada 15 Agustus 1950 melebur kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tanggal itu pula Pejabat Presiden, Muhammad Asaat, mengembalikan mandat kepada Presiden Soekarno.23

Pada 17 Agustus 1950, Soekarno diambil sumpahnya kembali sebagai Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia di Yogyakarta. Sementara itu, sesuai dengan ketentuan Pasal 45 UUDS 1950, diadakanlah pemilihan Wakil Presiden oleh DPRS pada 14 Oktober 1950. Dalam pemilihan itu, Drs. Mohamad Hatta terpilih kembali sebagai Wakil Presiden mengungguli calon-calon yang lainnya. Dalam pemilihan itu, Hatta mendapatkan 113 suara, Ki Hajar Dewantara 19 suara, Sutan Sjahrir, Prof. Mr. Mohammad Yamin, dan Dr. Sukiman Wirjosandjojo masing-masing dua suara, serta Mr. Iwa Kusumasumantri, Boerhanuddin Harahap, dan Nerus Ginting masing-masing satu suara. Suara abstain berjumlah enam suara. Kemudian dengan Keputusan Presiden RI No. 27 Tahun 1950 tanggal 16 Oktober 1950, Mohamad Hatta ditetapkan sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.24

Duet Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI bertahan hingga tahun 1956. Pada 1 Desember 1956, akibat kekurangcocokan dengan sejumlah pendirian Presiden Soekarno, Mohamad Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden.25 Sejak saat itu, Soekarno

23 Asvi Warman Adam, loc.cit.

24 P.N.H. Simanjuntak, Kabinet-Kabinet Republik Indonesia Dari Awal Kemerdekaan Sampai Reformasi, (Jakarta: Djambatan, 2003), hlm. 111.

25 Niat pengunduran diri Hatta telah disampaikan sebelumnya dalam surat resmi yang ia kirimkan kepada DPR tanggal 20 dan 21 Juli 1956. Dalam surat tersebut, Hatta di antaranya mengungkapkan pendapat bahwa dalam sistem pemerintahan dengan kabinet parlementer, tidak perlu ada jabatan Wakil Presiden. Surat lengkap Hatta dapat dibaca dalam ibid, hlm. 173. Mengenai alasan ketidakcocokan dengan Presiden Soekarno dapat dibaca dalam Mavis Rose, ”Dari Dwitunggal Menjadi Dwitanggal” dalam Indonesia

Merdeka, Biograi Politik Mohammad Hatta, Terjemahan Hermawan Sulistiyo, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991), hlm. 287-313.

menjadi presiden tanpa didampingi seorang Wakil Presiden. Kekuasaan Presiden Soekarno menjadi semakin besar setelah keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang menjadi awal dari berlangsungnya Demokrasi Terpimpin. Pada 1963 Presiden Soekarno memasukkan para Ketua MPRS/DPR-GR ke dalam kabinet. Selanjutnya, pada Sidang Umum MPRS tanggal 15 sampai dengan 22 Mei 1963 MPRS mengeluarkan Ketetapan MPRS No.3/MPRS/1963 tentang Pengangkatan Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Bung Karno Menjadi Presiden Republik Indonesia Seumur Hidup.

Kekuasaan Presiden Soekarno mulai berakhir setelah berbagai keresahan politik dan krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan dekade 1960-an. Dimulai dengan peristiwa 30 September 1965 yang mengakibatkan terbunuhnya sejumlah petinggi militer, penerbitan Surat Perintah 11 Maret 1966 yang memberikan mandat kewenangan kepada Letnan Jenderal Soeharto hingga digelarnya Sidang Istimewa MPRS Tahun 1967 yang mencabut mandat kepresidenan Soekarno. Sidang Istimewa ini dilangsungkan mulai tanggal 7 sampai dengan 12 Maret 1967. Sidang ini menghasilkan Ketetapan MPRS No. XXXIII/MPRS/1967 yang mencabut kekuasaan pemerintahan negara dari Presiden Soekarno dan menarik kembali mandat MPRS dari Presiden Soekarno serta segala kekuasaan pemerintahan negara yang diatur dalam UUD 1945. Dengan Ketetapan itu juga, MPRS mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden hingga dipilihnya presiden oleh MPR hasil pemilihan umum.26