Penyempurnaan Buku
BAB PEMILU UMUM
B. Sejarah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI
3. Presiden dan Wakil Presiden RI Periode 1998-2004
Setelah Presiden Soeharto menyatakan berhenti, sesuai dengan Pasal 8 UUD 1945, Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie melanjutkan sisa masa jabatan Presiden/Mandataris MPR 1998–2003. Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie dilantik di hadapan Pimpinan MA sebagai Presiden Republik Indonesia pada hari pengunduran diri Presiden
27 Saat itu terdapat dua orang calon Wakil Presiden yang diajukan oleh fraksi di MPR.
Dua calon itu ialah Letnan Jenderal (Purn) Sudharmono, S.H. yang didukung oleh Fraksi Karya Pembangunan, Fraksi ABRI, Fraksi Utusan Daerah dan Fraksi Demokrasi Indonesia; serta Dr. H. Jaelani Naro, S.H. yang didukung oleh Fraksi Persatuan Pembangunan. Namun, sehari sebelum pimpinan MPR mengumumkan calon yang memenuhi persyaratan, Fraksi Persatuan Pembangunan menarik kembali calonnya. Fraksi tersebut terbentur pada persyaratan bahwa seorang calon “harus mampu bekerja sama dengan Presiden terpilih” sebagaimana ketentuan dalam Tap MPR No. II/MPR/1973. Ibid, hlm. 363-364. Ulasan mengenai hal ini dapat dibaca dalam Gordon R. Hein, “Indonesia in 1988: Another Five Years for Soeharto,” Asian Survey, Vol. 29, No. 2, February 1988, hlm. 119-128.
Soeharto, tanggal 21 Mei 1998. Keesokan harinya, pada 22 Mei 1998 Presiden Habibie mengumumkan susunan kabinet baru yang diberi nama Kabinet Reformasi Pembangunan.
Salah satu tugas Pemerintahan Presiden BJ Habibie ialah melangsungkan pemilihan umum yang lebih demokratis. Tugas ini berhasil dilaksanakan pada 7 Juni 1999. MPR hasil Pemilu melangsungkan SU pada 1-21 Oktober 1999. Dalam SU kali ini, pada 20 Oktober 1999 dini hari MPR menolak pertanggungjawaban Presiden BJ Habibie. Akibat penolakan itu, Presiden BJ Habibie menolak untuk dicalonkan kembali sebagai Presiden Republik Indonesia.28
SU MPR 1999 mengagendakan pemilihan Presiden pada rapat paripurna ke-13, 20 Oktober 1999 pukul 11.30 WIB. Mekanisme pemilihan Presiden oleh MPR diatur dalam Ketetapan MPR No. VI/MPR/1999 tentangTata Cara Pencalonan dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada proses pencalonan, muncul tiga calon yang diajukan oleh fraksi di MPR. Ketiga calon yang lolos persyaratan itu adalah Megawati Soekarnoputri yang dicalonkan oleh Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, K.H. Abdurrahman Wahid yang dicalonkan oleh aliansi fraksi yang tergabung dalam Poros Tengah (Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Fraksi Reformasi, dan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan), dan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc yang dicalonkan oleh Fraksi Partai Bulan Bintang. Sebelum voting dimulai, Yusril Ihza Mahendra mengundurkan diri dari pencalonan.
Melalui mekanisme voting, K.H. Abdurrahman Wahid mengungguli perolehan suara Megawati Soekarnoputri dengan selisih 60 suara. Dengan hasil ini, K.H. Abdurrahman Wahid ditetapkan oleh MPR sebagai Presiden Republik Indonesia masa bakti 1999-2004 melalui Ketetapan MPR RI Nomor VII/ MPR/1999 tentang Pengangkatan Presiden Republik Indonesia. Berikut ini hasil perolehan suara pemilihan Presiden pada SU MPR, 20 Oktober 1999.29
28 Pada pagi hari pukul 08.30 WIB, Presiden BJ Habibie sendiri mengadakan jumpa pers di rumahnya dan ia menyatakan pengunduran dirinya dari pencalonan presiden.
Kompas, 21 Oktober 1999
Setelah pelantikan Abdurrahman Wahid sebagai presiden, keesokan harinya, 21 Oktober 1999, SU MPR mengagendakan pemilihan Wakil Presiden RI. Saat proses pencalonan, muncul empat orang kandidat yang diusulkan oleh sejumlah fraksi dan individu anggota MPR. Empat orang itu ialah Ir. H. Akbar Tandjung yang diusulkan oleh F-PG, Jenderal TNI Wiranto yang diusung oleh F-PDU dan 74 anggota MPR lain, Dr. H. Hamzah Haz yang dicalonkan oleh F-PPP dan Megawati Soekarnoputri yang dicalonkan oleh F-PDIP. Melalui proses lobi, Jenderal Wiranto dan Ir. Akbar Tandjung mengundurkan diri sehingga tersisa dua calon: Dr. H. Hamzah Haz dan Megawati Soekarnoputri. Melalui proses pemungutan suara, pada akhirnya Megawati Soekarnoputri berhasil unggul dan selanjutnya ditetapkan sebagai Wakil Presiden RI melalui Ketetapan MPR RI Nomor VIII/MPR/1999 tentang Pengangkatan Wakil Presiden Republik Indonesia.30
Sebelum usainya masa jabatan, Presiden Abdurrahman Wahid dimakzulkan oleh MPR. Proses pemakzulan tersebut dimulai dengan Memorandum I, II, dan III DPR yang selanjutnya disampaikan kepada MPR untuk menggelar sidang istimewa guna meminta pertanggungjawaban Presiden atas kasus Bruneigate dan Buloggate.
Dalam perkembangannya, Presiden menghidupkan kembali jabatan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) yang telah dihapuskan oleh Tap tersebut. Presiden memecat Kapolri Jenderal Polisi Surojo Bimantoro dan menetapkan Wakil Kapolri Komisaris Jenderal Pol. Chaeruddin Ismail sebagai Pjs. Kapolri dengan pangkat Jenderal. Pernyataan pelanggaran itu termaktub dalam Surat Keputusan Pimpinan MPR No. 18/Pim./2001, bertanggal 20 Juli 2001.
Pimpinan MPR selanjutnya mengirimkan surat undangan Sidang Istimewa kepada anggota MPR dengan No. MJ.950/68/2001, bertanggal 20 Juli 2001. Pada saat yang sama, Pimpinan MPR juga mengirimkan surat No. MJ.950/69/2001 kepada Presiden agar Presiden mempersiapkan
pertanggungjawaban di hadapan Sidang Istimewa MPR hari Senin, 23 Juli 2001 pada pukul 09.00 WIB.31 Presiden selanjutnya
membalas surat itu dengan mengirimkan surat No. R-55/ Pres/VII/2001, bertanggal 21 Juli 2001. Presiden berpendapat bahwa rencana penyelenggaraan Sidang Istimewa MPR oleh Pimpinan MPR melanggar Tap MPR No. II/MPR/2000 yang mempersyaratkan bahwa penyelenggaraan Sidang Istimewa harus diputuskan lewat Rapat Paripurna MPR yang dilaksanakan sekurang-kurangnya dua bulan sebelumnya.32
Sesuai dengan jadwal, pada 21 Juli 2001 MPR melakukan rapat paripurna. Rapat itu dihadiri oleh Ketua MPR beserta seluruh wakil-wakilnya dan sejumlah 601 orang anggota dari 686 anggota MPR. Dari jumlah itu, 592 anggota (dari sembilan fraksi di MPR) menyatakan setuju bahwa Rapat Paripurna saat itu ialah Sidang Istimewa MPR, lima anggota menolak dan empat anggota abstain. Fraksi yang tidak hadir karena menolak percepatan sidang istimewa ialah F-KB dan F-PDKB.33
Menghadapi perkembangan politik di MPR, Presiden Abdurrahman Wahid selaku Panglima Tertinggi Angkatan Perang pada pukul 1.10 WIB Senin dini hari tanggal 23 Juli 2001 mengeluarkan Maklumat Presiden Republik Indonesia, 22 Juli 2001 yang selanjutnya disebut Dekrit Presiden. Dekrit yang dibacakan oleh Juru Bicara Kepresidenan Yahya Cholil Staquf itu berisi tiga hal pokok: (a) pembekuan MPR dan DPR, (b) penyelenggaraan pemilu yang dipercepat hingga satu tahun, dan (c) pembekuan Partai Golkar. Dekrit itu dinyatakan bertentangan dengan hukum oleh Fatwa MA No. KMA 419/7/2001, tertanggal 23 Juli 2001. Fatwa ini menjadi dasar bagi Tap MPR No. I/MPR/2001 untuk menolak Maklumat Presiden RI, 23 Juli 2001.
Pada hari yang sama, MPR mengeluarkan Ketetapan No. II/MPR/2001 tentang Pertanggungjawaban Presiden RI K.H. Abdurrahman Wahid yang di antaranya berisi pemberhentian K.H. Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Selanjutnya,
31 Ibid, 21 Juli 2001.
32 Ibid, 22 Juli 2001.
MPR juga mengeluarkan Ketetapan No. III/MPR/2001 tentang Penetapan Wakil Presiden RI Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden RI menggantikan K.H. Abdurrahman Wahid. Megawati akan melanjutkan masa jabatan Presiden Abdurrahman Wahid hingga 2004. Pada sore hari pukul 17.20 WIB, Megawati Soekarnoputri dilantik sebagai Presiden RI yang baru dalam Rapat Paripurna keempat Sidang Istimewa MPR. 34
Setelah pelantikan Megawati Soekarnoputri, tugas MPR adalah memilih Wakil Presiden. Terdapat lima orang calon resmi yang diusulkan oleh fraksi dan anggota MPR secara perorangan, masing-masing adalah Ir. Akbar Tandjung yang dicalonkan oleh F-PG, Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono yang dicalonkan F-KKI dan sekitar 80 anggota MPR, Dr. Hamzah Haz yang dicalonkan oleh F-PPP dan Fraksi Reformasi, Ir. Siswono Yudohusodo yang dicalonkan oleh sekitar 78 anggota MPR, dan Jenderal (Purn) Agum Gumelar yang dicalonkan oleh F-PDU. Pemilihan wakil presiden dalam Sidang Paripurna kelima MPR kali ini berlangsung hingga tiga putaran. Sesuai dengan Tap MPR No. VI/MPR/1999 tiga peraih suara terbesar akan maju pada putaran berikutnya hingga didapatkan pemenang mutlak. Dua putaran pertama dilakukan pada 25 Juli 2001 di mana Dr. Hamzah Haz unggul atas calon lainnya.
Pada putaran kedua didapatkan dua calon yang memperoleh suara terbesar dan akan dipertarungkan dalam putaran ketiga; keduanya ialah Dr. Hamzah Haz dan Ir. Akbar Tandjung. Pada pemilihan putaran ketiga yang berlangsung pada 26 Juli 2001, Dr. Hamzah Haz berhasil unggul dengan perolehan 340 suara, sementara Ir. Akbar Tandjung mendapatkan 237 suara dari 610 anggota MPR yang hadir.35
Dengan hasil pemilihan itu, Dr. Hamzah Haz ditetapkan oleh MPR sebagai Wakil Presiden RI melalui Ketetapan MPR No. IV/MPR/2001. Presiden Megawati Soekarnoputri dan Wakil Presiden Hamzah Haz memegang jabatannya hingga tahun 2004.
34 Ibid, 23 Juli 2001