• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PELAKSANAAN, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan

1. Hasil Tes dan Profil Kemampuan Penyelesaian Soal

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 4. 3. 2, dapat dilihat bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa masih banyak yang tidak tuntas karena sebagian kecil (8 dari 21 siswa) tuntas dengan sebaran capaian nilai dari 75,00 sampai dengan 86,25. Sedangkan sebagian besar siswa yang lain (13 dari 21 siswa) tidak tuntas karena memperoleh nilai di bawah nilai ketuntasan minimal yaitu 75, dengan sebaran capaian nilai dari 32,50 sampai dengan 73,75. Hal ini sama dengan hasil analisis pada Tabel 4. 3. 4, yang melihat dari persentase capaian untuk setiap tahap pemecahan masalah dari 21 siswa yang mengikuti tes. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa untuk setiap tahap pemecahan masalah masih rendah, karena dari empat tahap pemecahan masalah menurut teori Polya masing-masing tidak ada yang mecapai

persentase rata-rata lebih dari atau sama dengan ketuntasan minimal, yaitu 75%. Untuk tahap memahami masalah yaitu 60%, tahap menyusun strategi sebesar 34%, tahap melaksanakan strategi penyelesaian sebesar 42%, dan tahap memeriksa kembali sebesar 39%. Jadi dari keempat tahap tersebut hanya tahap pertama yaitu tahap memahami masalah yang memperoleh persentase cukup tinggi, meskipun masih dibawah 75%. Salah satu penyebabnya adalah masalah nomor lima. Berdasarkan data yang diperoleh dapat dilihat bahwa masalah nomor lima memeperoleh persentase capaian sangat rendah. Persentase capaian untuk nomor lima sangat rendah karena hanya mencapai maksimal 5% untuk setiap tahap pemecahan masalah. Hal ini disebabkan karena menurut siswa permasalahan nomor lima belum pernah didapatkan sebelumnya, sehingga pada saat mengerjakan siswa mengalami kebingungan untuk memahami masalah dan menentukan langkah-langkah penyelesaian yang digunakan. Berdasarkan semua data yang diperoleh dapat dikatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa masih rendah.

Selain dari hasil tes peneliti juga melihat kemampuan pemecahan masalah siswa berdasarkan data hasil wawancara pada Tabel 4. 3. 5 sampai Tabel 4. 3. 8 terhadap beberapa siswa yang telah dipilih pada Tabel 4. 2. 4.

Kemampuan pemecahan masalah untuk setiap tahap sebagai berikut:

a. Memahami masalah

Pada tahap memahami masalah, berdasarkan hasil analisis pada Tabel 4. 3. 5, menunjukkan bahwa profil kemampuan siswa lebih cenderung

mengelompok, dari lima masalah yang diberikan pada tahap memahami masalah ini terdapat empat masalah yang sebagian besar (5 dari 6 siswa) konsisten tergolong dalam profil kemampuan pemecahan masalah yang menunjukkan bahwa siswa mampu menuliskan hal yang diketahui dan ditanyakan dengan lengkap dan benar, meskipun masih ada siswa yang belum mampu menuliskan hal yang diketahui dan ditanyakan dengan lengkap. Sedangkan untuk masalah nomor lima, semua siswa mampu menuliskan yang diketahui dan ditanyakan meskipun masih kurang lengkap. Hal ini disebabkan karena siswa mengalami kebingungan dalam membaca gambar. Siswa kesulitan dalam menafsirkan gambar terutama untuk unsur geometri yang tidak di paparkan secara eksplisit.

Maka dari itu dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam memecahkan masalah pada tahap memahami masalah sudah cukup tinggi.

b. Merencanakan strategi

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 4. 3. 6, menunjukkan bahwa profil kemampuan pemecahan masalah siswa lebih cenderung menyebar dibandingkan dengan tahap pertama yaitu tahap memahami masalah. Dari 6 subjek hanya 3 siswa yang menunjukkan kemampuan pemecahan masalah yang konsisten. Hal ini dapat dilihat bahwa 3 subjek (S12, S20, dan S19) tergolong dalam profil mampu menuliskan strategi dengan lengkap dan pernah menjumpai masalah sejenis sebelumnya dari 3 masalah atau lebih masalah yang diberikan.

Sedangkan kemampuan untuk subjek lain menyebar pada profil kemampuam lain. Dari lima masalah yang diberikan hanya masalah nomor 1 yang sebagian besar (5 dari 6 siswa) yang menunjukkan kemampuan yang diharapkan. Sedangkan untuk nomor lain (nomor soal 2, 3, 4, 5) profil kemampuan siswa menyebar bahkan untuk masalah nomor lima profil kemampuan pemecahan masalah siswa cenderung dibawah karena hampir semua siswa menuliskan strategi namun belum lengkap karena belum pernah menjumpai masalah sejenis sebelumnya sehingga siswa merasa kebingungan dalam menentukan langkah-langkah penyelesaian yang harus digunakan. Berdasarkan hasil yang telah dipaparkan dapat dikatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah pada tahap menyusun strategi masih rendah.

c. Melaksanakan Rencana Penyelesaian

Profil kemampuan pemecahan masalah pada tahap melaksanakan rencana penyelesaian berdasarkan Tabel 4. 3. 7 terlihat menyebar.

Untuk setiap nomor banyak siswa yang belum mampu menyelesaikan masalah dengan benar dan tidak sesuai dengan strategi yang telah direncanakan sebelumnya. Dari lima masalah yang diberikan sebagian kecil (2 dari 6 siswa) mampu menyelesaikan masalah dengan benar sesuai strategi yang direncanakan dan dapat menjelaskan pekerjaannya.

Untuk nomor lima tidak ada siswa yang mampu menyelesaikan masalah dengan benar. Hal ini disebabkan karena sebelumnya siswa belum pernah menjumpai masalah sejenis sehingga siswa kebingungan

dalam menentukan strategi dan menyelesaikan masalah yang diberikan.

Kurangnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah ini juga dipengaruhi oleh cara belajar siswa yang cenderung menghafal sehingga banyak kecenderungan untuk lupa cara atau langkah penyelesaian yang mengakibatkan proses penyelesaian juga salah.

Berdasarkan hasil yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa pada tahap melaksanakan rencana penyelesaian masih rendah karena dari 6 siswa hanya 2 siswa yang kemampuan pemecahan masalah pada tahap ini konsisten tergolong dalam profil kemampuan bahwa siswa mampu menyelesaikan masalah sesuai dengan strategi dan dapat menjelaskan pekerjaannya.

d. Memeriksa Kembali

Berdasarkan hasil analisis wawancara pada Tabel 4. 3. 8, kemampuan pemecahan masalah siswa pada tahap memeriksa kembali masih rendah karena dari 6 subjek hanya 1 subjek yang konsisten mampu menuliskan kesimpulan dengan benar dan memeriksa kembali pekerjaannya.

Sedangkan yang lain menyebar tergolong pada profil kemampuan lain.

Siswa tidak memeriksa kembali pekerjaannya karena siswa merasa bahwa jika mereka memeriksa kembali pekerjaannya mereka menjadi lebih pusing, maka mereka lebih memilih untuk tidak memeriksa kembali meskipun mereka merasa bahwa belum yakin dengan pekerjaannya. Maka, dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa pada tahap memeriksa kembali masih rendah.

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan di atas menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa baik secara keseluruhan ataupun kemampuan untuk setiap tahap pemecahan masalah masih rendah.

Sebagian besar kemampuan siswa masih berada pada tahap memahami masalah. Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Resmi Rianti yang menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan pemecahan masalah untuk masing-masing tahap pemecahan masalah masih rendah, siswa belum memuaskan dan masih rendah. Dari empat tahap pemecahan masalah, sebagian besar siswa mampu melaksanakan tahap pertama, yaitu memahami masalah.

2. Hambatan Siswa dalam Memecahkan Masalah

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 4. 3. 9, diperoleh data bahwa dalam proses pemecahan masalah matematika terkait masalah kehidupan sehari-hari yang dilakukan oleh siswa masih mengalami hambatan. Berikut merupakan hambatan yang dialami oleh siswa, yang telah diurutkan berdasarkan banyaknya siswa yang mengalami hambatan tersebut.

Hambatan tersebut yaitu, 1) siswa belum pernah mendapati pembahasan masalah sejenis sebelumnya (masalah nomor 5). Hal ini membuat siswa merasa kebingungan dalam mengerjakan dan menentukan cara serta langkah penyelesaian, 2) siswa kebingungan menentukan strategi atau langkah penyelesaian. Pada tahap ini masih ada siswa yang kebingungan untuk menentukan strategi penyelesaian karena tidak hafal cara atau rumus yang digunakan, dan ada yang menganggap bahwa strategi sama dengan

penyelesaian. 3) Siswa kesulitasn dalam mengoperasikan pembagian pecahan bilangan desimal, 4) siswa tidak hafal rumus, 5) siswa kebingungan dalam menentukan penggunaan luas atau keliling. Untuk model soal cerita yang berkaitan dengan masalah matematika dalam kehidupan sehari-hari, masih ada siswa yang kebingungan dan salah menggunakan konsep luas dan keliling. Dan 6) Siswa kebingungan dalam membaca gambar. Siswa kesulitan dalam menafsirkan gambar terutama untuk unsur geometri yang tidak di paparkan secara eksplisit

Berdasarkan hambatan-hambatan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa hambatan yang dialami siswa berkaitan dengan pengalaman siswa yang pernah diterima untuk menyelesaikan masalah, pemahaman siswa terhadap pengetahuan-pengetahuan yang diterima, dan semangat siswa dalam memecahkan masalah. Hambatan yang dialami siswa ini sesuai teori pada Bab II tentang hambatan pemecahan masalah yang terdiri dari 4 faktor, pengalaman awal, latar belakang pengetahuan konseptual, motivasi, dan kompleksitas (Tatag Yuli Eko Siswono, 2018:44).

Dokumen terkait