BAB VI PEMBAHASAN PENELITIAN
B. Pembahasan Penelitian
1.Gambaran Kepatuhan Pekerja dalam Melaksanakan Prosedur Kerja
Kepatuhan adalah bagaimana pekerja yang bersangkutan mematuhi atau menjalani peraturan yang berlaku berkaitan dengan keselamatan kerja. Adanya peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan maka pekerja wajib menjalankan peraturan tersebut. Pekerja yang mematuhi peraturan tersebut dikatakan patuh atau baik, sebaliknya jika pekerja tersebut tidak mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan maka pekerja dikatakan tidak patuh atau tidak baik.
Berdasarkan hasil analisis univariat menunjukkan sebagian besar pekerja di PT SIM R4, Plant Tambun II tahun 2010 yang menjadi responden dalam penelitian ini yang patuh melaksanakan prosedur kerja sebanyak 56,9% sedangkan sebesar 43,1% yang tidak patuh melaksanakan prosedur kerja (tabel 5.1).
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Hayati (2004) bahwa jumlah pekerja di bagian Welding PT Krama Yudha Ratu Motor yang memiliki kepatuhan baik lebih besar dari yang memiliki kepatuhan buruk yaitu 60,39%. Hasil penelitian lain yang juga sama, yaitu Riyadi (2005) menyatakan bahwa terdapat 56% pekerja di PT Peni Cilegon yang patuh terhadap prosedur operasi, jumlah tersebut lebih besar dibanding dengan pekerja yang kurang patuh yakni 44%. Adanya kesamaan hasil dengan penelitian ini dapat dimungkinkan karena adanya peraturan berupa prosedur kerja (SOP) pada masing-masing perusahaan yang dipatuhi oleh pekerja. Dengan demikian pada umumnya pekerja sudah patuh melaksanakan prosedur kerja (SOP). Hal ini sesuai dengan pendapat dari Meriam–Webster dalam Salim (2006) yang menyatakan
bahwa pada dasarnya kepatuhan sebagai tindakan atau proses untuk menurut atas perintah, keinginan, atau paksaan terhadap sesuatu aturan.
Pada penelitian ini juga ditemukan bahwa terdapat 43,1% responden yang tidak patuh. Bentuk ketidakpatuhan pekerja di PT SIM antara lain pekerja tidak menggunakan APD secara lengkap selama proses kerja, mengoperasikan alat angkut dengan melebihi muatan atau kapasitas dari alat, memperbaiki alat kerja yang mengalami gangguan secara manual, dan tergesa-gesa dalam menyelesaikan pekerjaan. Bentuk ketidakpatuhan ini berisiko terjadinya kecelakaan kerja. Jika dihubungkan dengan teori menurut Geller (2000) bahwa kepatuhan (complying) prosedur operasi merupakan perilaku keselamatan spesifik terhadap objek lingkungan kerja. Kepatuhan mengikuti prosedur operasi memiliki peran penting dalam menciptakan keselamatan di tempat kerja, bentuk ketidakpatuhan terhadap prosedur kerja atau operasi, menurut Geller antara lain berupa menjalankan mesin atau peralatan tanpa wewenang, mengabaikan peringatan dan keamanan, kesalahan, kecepatan pada saat mengoperasikan peralatan, tidak menggunakan APD dan memperbaiki peralatan yang sedang bergerak.
Selain itu berdasarkan observasi ditemukan bahwa di lapangan pada umumnya pekerja sudah memahami prosedur kerja yang diterapkan di perusahaan, dan menerapkannya saat proses kerja berlangsung namun terkadang karena target produksi yang tinggi mengharuskan mereka untuk bekerja cepat, mengakibatkan pekerja melalaikan prosedur kerja.
Jika ketidakpatuhan pekerja dihubungkan dengan faktor eksternal (lingkungan kerja) maka terdapat beberapa faktor eksternal yaitu pelatihan, pengawasana,
ketersediaan SOP serta sanksi dan penghargaan. Meskipun tidak dianalisis hubungannya dengan kepatuhan, namun gambaran dari faktor eksternal ini dapat diuraikan sebagai berikut
PT SIM telah melakukan pelatihan yang ditujukan kepada pekerja, namun biasanya pelatihan diberikan langsung kepada supervisor dan kepala kelompok. Selanjutnya supervisor dan kepala kelompok menyampaikan kepada pekerja di masing-masing unit produksi. Pelatihan yang diberikan mengenai keselamatan kerja termasuk didalamnya tentang prosedur kerja
Pengawasan yang dilakukan di PT SIM dilakukan oleh pengawas atau supervisor pada tiap kelompok kerja di masing-masing unit produksi dan hasilnya dilaporkan kepada pihak manajemen. Namun biasanya pengawasan tidak dilakukan selama proses kerja berlangsung, hanya pada waktu-waktu tertentu (biasanya pada pagi dan sore). Selanjutnya untuk inspeksi mendadak atau lebih dikenal dengan “genba” dilakukan dengan rentang waktu agak lama antara pelaksanaan genba satu dengan genba selanjutnya.
Sementara itu, ketersediaan SOP di masing-masing unit produksi cukup tersedia. SOP diletakkan pada tempat yang mudah dijangkau oleh pekerja, petunjuk pengoperasian mesin berada pada masing-masing alat kerja yang digunakan. SOP yang digunakan pada umumnya menggunakan gambar dan skema untuk memudahkan pekerja dalam memahami proses kerja yang akan dilakukannya. Namun masih terdapat SOP yang belum diperbaharui, tidak ada SOP yang ditempatkan di bagian kecil dari unit produksi, tetapi penempatannya digabung dan diperuntukkan kepada sub-sub kelompok kerja.
Sanksi dan penghargaan yang diterapkan di PT SIM lebih ditekankan kepada hasil kinerja dari pekerja, sehingga kepatuhan pekerja terhadap SOP hanya bagian dari kinerja keseluruhan. Untuk sanksi, biasanya jika pekerja telah melanggar peraturan dengan kategori berat. Mengenai prosedur kerja, jika terdapat pekerja yang tidak mematuhinya akan menerima teguran langsung dari kepala unit.
Islam sebagai agama yang mayoritas dianut oleh penduduk Indonesia juga mengatur tentang kepatuhan terhadap peraturan yang ada. Dengan memberikan kebebasan hak kepada setiap orang namun bertanggung jawab atas tugas-tugasnya. Adanya perintah untuk taat dan patuh kepada pemimpin (ulul amri). Dalam hal ini berkaitan dengan kepatuhan antara pekerja terhadap prosedur kerja yang merupakan aturan dalam bekerja di perusahaan tersebut. Setiap pekerja dianjurkan agar dapat melakukan pekerjaan dengan tunduk terhadap peraturan yang berlaku untuk kebaikan dirinya dan orang disekitarnya. (Hasan, 2000).
2. Gambaran Pengetahuan Tentang Prosedur Kerja
Pengetahuan tentang prosedur kerja merupakan hal yang diketahui oleh pekerja mengenai prosedur kerja yang diterapkan di masing-masing unit produksi. Pengetahuan tentang prosedur kerja merupakan salah satu faktor yang dapat berhubungan dengan kepatuhan. Karena perilaku yang didasari atas pengetahuan yang cukup akan bersifat lebih langgeng daripada perilaku tanpa didasari pengetahuan.
Berdasarkan analisis univariat dari penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar (72,5%) responden memiliki pengetahuan tinggi tentang prosedur kerja dan sisanya 27,5% memiliki pengetahuan rendah (tabel 5.2 ). Melihat hasil yang diperoleh tersebut
menunjukkan bahwa sebagian besar responden dapat menjawab dengan benar pertanyaan yang diberikan tentang prosedur kerja.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Hayati (2004) bahwa jumlah pekerja yang memiliki pengetahuan buruk justru lebih besar yakni 67,3% dibanding dengan pekerja yang memiliki pengetahuan baik, yaitu sebanyak 33,7%. Penelitian lain yang juga tidak sama dengan hasil penelitian ini, yaitu Riyadi (2005) diperoleh hasil bahwa antara pekerja yang memiliki pengetahuan tinggi dan rendah memiliki jumlah yang seimbang yakni masing-masing 50%. Adanya perbedaaan hasil penelitian yang diperoleh dimungkinkan karena pengambilan sampel dan tempat penelitian yang berbeda, serta instrument penelitian yang berbeda. Karena menurut Meliono (2007) pengetahuan individu merupakan segala informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang, namun berbeda antara individu yang satu dengan yang lainnya
Berdasarkan wawancara dengan pekerja diperoleh informasi bahwa pada umumnya mereka merasa sudah memiliki pengetahuan tentang prosedur kerja yang tinggi, karena sebagian besar pekerja sudah cukup lama bekerja di unit kerja tersebut, sehingga mereka memiliki pengalaman kerja yang cukup. Namun jika pengetahuan yang dimiliki oleh pekerja hanya menjadi hal yang diketahui saja tanpa mengaplikasikannya secara maksimal maka pengetahuan yang dimiliki hanya sebatas diketahui dan dipahami saja belum sampai pada tahap perilaku (kepatuhan).
Dalam ajaran Islam dianjurkan supaya setiap muslim yang memiliki pengetahuan agar diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk menghindari hilangnya (lupa) akan ilmu pengetahuan tersebut (Yunus,2003).
3.Gambaran Motivasi Pekerja
Motivasi merupakan salah satu penggerak perilaku (kepatuhan) dan hubungan antar manusia dalam perusahaan. Berdasarkan hasil analisis univariat diketahui bahwa responden yang memiliki motivasi tinggi dengan responden yang memiliki motivasi rendah untuk patuh melaksanakan prosedur kerja memiliki jumlah yang sama yakni masing-masing 51 responden (50%) (tabel 5.3).
Hasil penelitian ini mendekati dengan penelitian sebelumnya oleh Hayati (2004) yang memperoleh hasil bahwa jumlah pekerja yang memiliki motivasi baik, lebih banyak yakni 53,4% dibanding dengan pekerja yang memiliki motivasi buruk (47,6%). Penelitian lain yang juga mendekati hasilnya, oleh Riyadi (2005) diperoleh hasil bahwa pekerja yang memiliki motivasi tinggi cenderung lebih banyak yakni 52 % dan 48% memiliki motivasi rendah. Hasil penelitian yang diperoleh mendekati hasil penelitian-penelitian sebelumnya, hal ini dimungkinkan karena pengambilan sampel dan tempat penelitian yang berbeda, serta instrument penelitian yang berbeda pula. Perbedaan tingkat motivasi tersebut dimungkinkan karena motivasi digambarkan sebagai segala sesuatu yang dapat bertindak sebagai pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan, sehingga motivasi setiap individu berbeda-beda sesuai dengan keinginan dan kebutuhan dari masing-masing individu tersebut (Saleh,2006)
Berdasarkan wawancara dengan perwakilan dari kepala kelompok dan supervisor diperoleh hasil bahwa pada umumnya pekerja sudah memiliki motivasi yang tinggi dalam bekerja sesuai dengan prosedur kerja. Namun biasanya motivasi pekerja tersebut berubah karena dipengaruhi oleh faktor kesejahteraan yang diberikan dari perusahaan
baik berupa imbalan maupun penghargaan sesuai dengan kinerja mereka. Hal ini sesuai dengan pendapat Saleh (2006) bahwa motivasi ada dua jenis, yaitu motivasi berdasarkan sikap dan berdasarkan imbalan. Motivasi berdasarkan sikap merupakan proses individu tersebut untuk berpikir dan merasa keyakinan diri mereka, kepemimpinan mereka terhadap kehidupan (positif atau negatif). Sedangkan motivasi berdasarkan imbalan adalah ketika seseorang meraup imbalan dan suatu hadiah yang keduanya dipadukan akan sangat efektif bagi sebuah organisasi. Dalam hal ini imbalan memiliki keterkaitan dengan motivasi seseorang.
Selain itu faktor pengawasan juga mendorong untuk meningkatkan motivasi pekerja dalam melaksanakan prosedur kerja. Karena dalam hal ini pekerja merasa diperhatikan dan dipantau secara bekala untuk mendapatkan hasil yang baik.
Pandangan Islam mengenai motivasi kerja lebih menekankan bahwa seseorang diperbolehkan melakukan aktivitas yang baik untuk dirinya, agamanya, dan orang-orang disekitarnya. (Syamsuri, 2003).
4.Gambaran Sikap Pekerja
Sikap merupakan salah satu faktor yang dapat berhubungan dengan kepatuhan dalam melaksanakan prosedur kerja. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jumlah responden yang memiliki sikap positif maupun negatif hampir sama, yakni responden yang memiliki sikap positif sebanyak 49% dan responden memiliki sikap negatif sedikit lebih besar yakni sebesar 51% (tabel 5.4).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Hayati (2004) bahwa jumlah pekerja yang memiliki sikap buruk (negatif) lebih banyak yaitu 54,4%
dibanding dengan pekerja yang memiliki sikap baik (positif) sebanyak 46,6%. Namun berbeda dengan penelitian Riyadi (2005) yang menyatakan bahwa pekerja dengan sikap baik (positif) lebih besar yaitu 70% dibandingkan dengan pekerja yang memiliki sikap kurang (negatif) sebanyak 30%.
Adanya kesamaan dan perbedaaan hasil penelitian yang diperoleh dapat dimungkinkan karena pengambilan sampel dan tempat penelitian yang berbeda, serta cara pengambilan data yang berbeda pula. Menurut Mar’at (1981) sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari sesorang terhadap suatu stimulus atau objek tertentu, yang dapat berbeda pada tiap individu.
Berdasarkan wawancara dengan perwakilan dari kepala kelompok dan supervisor, pada umumnya pekerja memiliki sikap positif mengenai kepatuhan dalam melaksanakan prosedur kerja, namun masih ada pekerja yang memiliki sikap negatif. Yang mana pekerja masih mengganggap bahwa prosedur kerja dengan memperhatikan keselamatan kerja tersebut merupakan aturan yang menyulitkan dan menghambat pekerja dalam menyelesaikan pekerjaan.
Pandangan dalam Islam bahwa manusia dapat memiliki sikap positif terhadap objek jika melaksanakan suatu hal sesuai dengan objek tersebut, namun jika memiliki sikap yang negatif maka cenderung akan meninggalkan hal yang ada dari objek tersebut. Sebagai contoh dari sikap positif adalah sikap kerja keras yang wajib ditunjukkan oleh setiap orang khususnya muslim. (Yunus,2003).
5.Gambaran Lama Kerja
Lama kerja merupakan salah satu faktor yang dapat berhubungan kepatuhan. Lama kerja adalah lamanya seseorang bekerja atau mempunyai pengalaman di bidang pekerjaannya. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebagian besar responden telah lama bekerja di bagian masing-masing, dengan lama kerja lebih dari 5 tahun sebanyak 69,6 %. Sedangkan responden yang termasuk kurang lama (<5 tahun) sejumlah 30,4 %.
Menurut keterangan dari kepala kelompok di masing-masing unit produksi pada umumnya di PT SIM ini lebih banyak pekerja yang memiliki masa kerja lebih dari 5 tahun dan sudah menjadi pekerja tetap.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Riyadi (2005) bahwa jumlah pekerja dengan masa kerja lama (>5 tahun) cenderung lebih banyak yakni 60% dibanding dengan pekerja yang kurang lama bekerja. Penelitian lain dengan hasil yang sama juga dilakukan oleh Utomy (2007) diketahui bahwa pekerja dengan kategori lama bekerja cenderung lebih banyak yaitu 56%, dibanding dengan kurang lama bekerja. Adanya kesamaan hasil ini dapat dimungkinkan karena perusahaan tempat penelitian sama-sama telah lama berdiri sehingga cenderung memiliki pekerja yang sudah tetap dan masa kerja yang lama.
6.Analisis Hubungan antara Pengetahuan tentang Prosedur Kerja dengan Kepatuhan Melaksanakan Prosedur Kerja
Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui pengetahuan tentang prosedur kerja tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan kepatuhan P value 0,643 (Pvalue > 0,05). Hal ini dapat dimungkinkan karena responden yang memiliki
pengetahuan rendah justru lebih banyak yang patuh melaksanakan prosedur kerja yaitu 57,1% (tabel 5.6). Sehingga dapat dikatakan bahwa responden yang memiliki pengetahuan tinggi belum tentu menjadi patuh melaksanakan prosedur kerja, demikian sebaliknya. Karena pengetahuan memiliki nilai P value > 0,25 sehingga variabel tersebut tidak dimasukkan ke dalam kandidat model pada analisis multivariat.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hayati (2004) bahwa hasil penelitiannya menyatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kepatuhan pekerja terhadap prosedur kerja (SOP) pada pekerja bagian Welding PT Krama Yudha Ratu Motor tahun 2004. Kemudian sejalan pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Riyadi (2005) bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan kepatuhan terhadap prosedur operasi di PT. Peni Cilegon Tahun 2005.
Tidak adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang prosedur kerja dengan kepatuhan dalam melaksanakan prosedur kerja, menyimpulkan bahwa pengetahuan bukan termasuk faktor yang berhubungan dengan kepatuhan dalam melaksanakan prosedur kerja. Hal ini dapat disebabkan karena responden kurang mengetahui, kurangnya pemahaman, aplikasi yang rendah, analisis yang terburu-buru serta evaluasi yang minim terhadap prosedur kerja. (Notoadmojdo, 2007).
Menurut Green (1980) dalam Notoatmodjo (2007) perilaku yang didasari atas pengetahuan yang cukup, dalam hal ini sesuai dengan tingkatan domain kognitif dari pengetahuan maka akan bersifat lebih langgeng, sebaliknya jika tidak didasari pengetahuan yang cukup maka pengetahuan tidak selalu menyebabkan terjadinya
perubahan perilaku (kepatuhan). Sehingga pengetahuan tidak selamanya muncul atau diwujudkan dalam bentuk perilaku (kepatuhan).
Berdasarkan hasil wawancara dengan pekerja, sebagian besar merasa sudah memiliki pengetahuan tentang prosedur kerja yang tinggi, karena pada umumnya pekerja sudah cukup lama bekerja di bagian tersebut. Dimana pengetahuan tentang prosedur kerja ini mencakup prosedur kerja secara umum dan pada tiap unit produksi. Walaupun demikian masih terdapat juga pekerja yang cenderung merasa pengetahuan mereka rendah, namun sudah patuh melaksanakan prosedur kerja. Sehingga pengetahuan tinggi tidak dapat digunakan sebagai ukuran untuk selalu patuh, karena kemungkinan besar hanya sebatas pengetahuan saja belum sampai pada tahap aplikasi. Untuk melakukan sesuatu seseorang terlebih dahulu tahu mengenai arti dan manfaatnya berperilaku patuh tersebut. Pengaruh pengetahuan ini bisa menghentikan suatu tindakan tergantung dari apa yang akan dilakukannya apakah dapat memberikan manfaat atau tidak. Dengan demikian meskipun tingkat pengetahuan tentang prosedur kerja sudah tinggi akan tetapi untuk sampai pada kepatuhan dalam melaksanakan prosedur kerja secara kompleks belum terwujud dengan maksimal, karena pengetahuan yang ada tidak menjadi perhatian dan mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh belum maksimal.
7.Analisis Hubungan antara Motivasi Pekerja dengan Kepatuhan Melaksanakan Prosedur Kerja
Berdasarkan hasil uji statistik dengan chi square diketahui motivasi dengan kepatuhan dalam melaksanakan prosedur kerja memiliki hubungan bermakna diperoleh hasil P value 0,046 (P value < 0,05). Berdasarkan perhitungan risk estimate diperoleh OR=2,250 (95% CI; 1,010-5,012), artinya responden yang memiliki motivasi tinggi
berpeluang sebesar 2,250 kali untuk patuh dibanding dengan responden yang memiliki motivasi rendah terhadap kepatuhan melaksanakan prosedur kerja. Hal ini dimungkinkan karena responden yang memiliki motivasi tinggi sebanyak 66,7% yang patuh, sedangkan yang memiliki motivasi rendah lebih banyak yang tidak patuh melaksanakan prosedur kerja, yakni sebanyak 52,9% (tabel 5.7). Berdasarkan hasil analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regretions) diketahui bahwa motivasi termasuk faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan pekerja dalam melaksanakan prosedur kerja. Sehingga dapat dikatakan bahwa responden yang memiliki motivasi tinggi dapat menjadi patuh melaksanakan prosedur kerja.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Riyadi (2005) diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara motivasi dengan kepatuhan terhadap prosedur operasi, dengan P value sebesar 0,001. Kemudian penelitian lain yang juga sama yaitu Apiati (2009) menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan perilaku. Responden yang tingkat motivasinya rendah cenderung lebih sering tidak patuh terhadap prosedur, sebaliknya responden dengan tingkat motivasi tinggi cenderung jarang melanggar prosedur kerja yang ada.
Menurut Sahab (1996) motivasi merupakan sesuatu yang ada dalam diri seseorang, yang mendorong orang tersebut untuk bersikap dan bertindak dalam mencapai tujuan tertentu. Motivasi merupakan salah satu penggerak perilaku dan hubungan antar manusia dalam perusahaan. Motivasi menentukan hubungan manusia dengan sistem secara keseluruhan, berkaitan dengan pengetahuan pekerja, kepercayaannya, keterampilan, prosedur kerja, hubungan dengan pekerja lainnya, penyeliaan, lingkungan
kerja, kebijakan perusahaan. Motivasi tersebut yang mendorong pekerja sehingga mau dan rela untuk mengarahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan, tenaga dan waktunya untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur kerja yang ditetapkan perusahaan.
Menurut M. Usman Najati dalam Saleh (2006) motivasi memiliki tiga komponen pokok, yaitu menggerakkan (motivasi menimbulkan kekuatan pada individu, membawa seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu), motivasi menyediakan suatu orientasi tujuan dan tingkah laku individu yang diarahkan terhadap sesuatu, menopang (motivasi digunakan untuk menjaga dan menopang tingkah laku).
Dengan demikian hasil penelitian yang menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara motivasi dengan kepatuhan dalam melaksanakan prosedur kerja sesuai dengan teori Gibson (1996) dalam Winardi (2004) bahwa motivasi merupakan salah satu faktor dalam individu/psikologis yang berhubungan dengan perilaku (kepatuhan).
Berdasarkan wawancara dengan perwakilan dari kepala kelompok dan supervisor diperoleh hasil bahwa pekerja pada umumnya sudah memiliki motivasi yang tinggi, hal ini dapat dilihat dari hasil kerja yang memuaskan dan tepat waktu. Namun pekerja dengan motivasi rendah juga cukup banyak. Karena motivasi kerja seharusnya didukung dengan perhatian dari perusahaan mengenai kesejahteraan pekerja dan kebutuhan akan pelatihan dan pengawasan yang terstruktur dengan baik. Dengan demikian pekerja akan merasa diperhatikan sehingga motivasi untuk bekerja sesuai dengan prosedur kerja akan terwujud dengan maksimal.
8.Analisis Hubungan antara Sikap Pekerja dengan Kepatuhan Melaksanakan Prosedur Kerja
Berdasarkan hasil uji statistik chi square diketahui bahwa sikap memiliki hubungan yang bermakna dengan kepatuhan terhadap prosedur kerja dengan P value 0,026 (P value < 0,05). Pada perhitungan risk estimate diperoleh hasil OR=2,479 (95% CI; 1,107-5,553), artinya responden yang memiliki sikap positif berpeluang 2,479 kali untuk dapat patuh melaksanakan prosedur kerja dibanding dengan responden yang memiliki sikap negatif. Dari hasil analisis bivariat diketahui bahwa responden yang memiliki sikap positif lebih banyak (68%) yang patuh melaksanakan prosedur kerja. Sedangkan yang memiliki sikap negatif lebih banyak yang tidak patuh sebesar 53,8% (tabel 5.8). Berdasarkan hasil analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik ganda (multiple logistic regretions) diketahui bahwa sikap juga berhubungan secara signifikan dengan perubahan tingkat kepatuhan tehadap prosedur kerja. Dan dari tiga variabel independen yang diduga berhubungan dengan kepatuhan tehadap prosedur kerja, ternyata setelah dianalisis diperoleh bahwa faktor sikap merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kepatuhan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan salah satu faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan pekerja dalam melaksanakan prosedur kerja.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hayati (2004) diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan antara sikap dengan kepatuhan terhadap SOP, yakni terdapat hubungan antara sikap yang buruk terhadap kepatuhan buruk pekerja, dengan p value sebesar 0,000.
Menurut Gibson dalam Winardi (2004) menyatakan bahwa variabel sikap tersebut merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku yang didalamnya merupakan kepatuhan terhadap prosedur kerja. Selain itu menurut Green (1980) variabel sikap merupakan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan dalam melaksanakan prosedur kerja.
Menurut Mar'at (1981) sikap merupakan produk dari proses sosialisasi dimana seseorang bereaksi sesuai dengan rangsang yang diterimanya. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari sesorang terhadap suatu stimulus atau objek tertentu yang berarti bahwa sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sehingga munculnya perilaku (kepatuhan) terlebih dahulu ditunjukkan dalam bentuk sikap terhadap objek.
Berdasarkan hasil wawancara, pekerja merasa sudah memiliki sikap yang positif (baik) karena sikap seseorang relatif konstan dan agak sukar berubah. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Adriyanto (1985) bahwa sikap terhadap objek, gagasan atau orang tertentu merupakan orientasi yang bersifat menetap. Seseorang dikatakan bersikap positif (baik) jika keyakinan dan pengetahuan yang mereka miliki dapat dipahami dengan baik. Tetapi ada juga pekerja yang merasa memiliki sikap negatif